Archive for June 27, 2012

An “Original” Esoteric Celtic Cross

Tentunya teman2 sudah sering mendengar dan mengetahui tebaran kartu tarot Celtic Cross. Well…..tebaran ini sudah sangat populer karena tebaran ini merupakan tebaran pertama yang dicantuman oleh A.E Waite dalam buku panduan deck RWS (Raider Waite Smith), yang notabene juga merupakan deck tarot pertama yang dicetak secara masal dan digunakan secara luas oleh publik.

Salah seorang sahabat saya bernama Hosea Aryo Bimo memberi informasi ke gw yang intinya Celtic Cross yang dipopulerkan oleh A.E Waite itu sudah mengalami berbagai tahap perubahan. Versi awal dari Celtic Cross sebenarnya jauh lebih sederhana dan memang ditujukan untuk evaluasi diri. Bahkan menurut sahabat saya yang juga punya banyak sumber literatur tersebut, ‘wujud awal’ tebaran Celtic Cross awalnya berasal dari tradisi Druid (green magick atau ilmu yang menjunjung tinggi alam, mirip dengan Kejawen kalau di Indonesia) dan digunakan untuk pembacaan Rune Stone. Well……memang seiring dengan waktu, Rune Stone dan Tarot Card seringkali saling melengkapi terutama dalam hal metode pembacaan.

Kita tinggalkan dulu untuk masalah detail antara Rune Stone dengan Tarot Card, yang akan gw bahas disini adalah bagaimana tebaran Celtic Cross yang versi awal, atau sering disebut sebagai Esoteric Celtic Cross.

Dari info yang gw dapetin dari buku Tarot Wisdom by Rachel Pollack, tebaran ini terinspirasi dari salah satu paragraf dari Talmundic Injuction againts improper question. Kalimatnya adalah sebagai berikut:

Four things you must not ask. What is above, what is Below, what came Before, and what will come After.

Banyak yang menginterpretasikan kalimat tersebut sebagai “saran” untuk fokus mengembangkan diri kita saat ini, hindari untuk memikirkan bagaimana cara masuk surga/ heaven (above), bagaimana seorang manusia tercipat (below), bagaimana manusia dilahirkan atau bagaimana past-life seseorang (before), dan bagaimana kehidupan setelah kematian….apakah ada kehidupan selanjutnya? (after).

Opini dan interpretasi pribadi gw sendiri, kalimat diatas memang wajar disarankan ke orang – orang awam di jaman itu. Berikut beberapa alasannya:

  • Manusia tidak perlu terlalu meributkan/ mendebatkan bagaimana sosok Atas (Above), Yang Maha Kuasa, Yang Maha Tinggi, atau apapun namanya karena dengan pikiran manusia yang terbatas, hanyalah menjadi sebatas opini dan kepercayaan manusia saja dan berpotensi adanya konflik yang tidak perlu. Well…..gw rasa ini sangat beralasan mengingat masih banyaknya konflik antar manusia karena alasan agama sehingga saran ini terasa sangat mengena.
  • Manusia tidak perlu membahas mengenai neraka, dunia kematian, dan hal2yang berkaitan dengan underworld atau apapun itu. Karena pikiran yang  fokus kesana justru membuat manusia mudah takut akan neraka dan mudah dikontrol oleh orang lain karena rasa takut tersebut. Sering mendengar ‘peringatan’ kalau tidak melakukan sesuatu maka bisa masuk neraka? Well….ketakutan seperti itulah yang menurut gw dicegah dalam anjuran diatas.
  • Manusia tidak perlu juga terlalu berfokus kepada past-life (Before)…maksudnya adalah gunakan past-life sebagai informasi namun hindari untuk terlalu berkutat disana. Sudah terbukti past-life memberi harga diri masa lampau yang sebenarnya harga diri yang semu. Selain itu, sikap menjadikan masa lalu sebagai pelajaran hidup yang berharga dan menghindari sikap selalu ‘melihat kebelakang’ juga merupakan saran yang populer di masyarakat saat ini.
  • Manusia juga tidak perlu terlalu fokus ke masa mendatang, bagaimana pas seseorang menjadi tua (after), bagaimana nasibnya saat dewasa, bagaimana karir masa mendatang, termasuk kemana dirinya setelah meninggal. Ini mirip dengan uraian sebelumnya, dimana terlalu berfokus ke masa depan justru menyita perhatian manusia itu sendiri untuk mengembangkan diri saat ini. Bahasa kasarnya, berharap masa depannya baik namun tidak diimbangi dengan aktifitas yang membangun saat ini.

Lepas dari benar/ salah, baik/tidak nya 4 pertanyaan tersebut, 4 pertanyaan ‘terlarang’ tersebut sebenarnya mewakili esensi dari Celtic Cross dari paragraf Talmundic Injuction. Dari sinilah dibuat tebaran Esoteric Celtic Cross yang membutuhkan 6 kartu dan formatnya adalah sebagai berikut:

—————-3——————–

5————–1——————-6

—————-2——————–

—————-4——————–

Untuk arti dari tiap posisi, setiap pakar pun memiliki interptretasi yang berbeda2. Ada yang mencoba menjawab arti posisi berdasarkan 4 ‘pertanyaan terlarang’ tersebut, namun ada juga yang membuat versi lebih halusnya dan digunakan sebagai bahan refleksi untuk diri sendiri. Arti ‘versi halus’ di tiap posisi adalah sebagai berikut:

  1. Apa saja yang menjadi esensi diri kamu saat ini?
  2. Bagaimana kamu mengekspresikan esensi tersebut dikehidupan kamu?
  3. Bagaimana hubungan kamu ke spirit/ higher-self ?
  4. Apa yang menjadi sumber/ faktor yang menjadikan diri kamu
  5. Apa yang telah membentuk diri kamu sampai saat ini?
  6. Apa yang tersedia/ terpampang didepan eksistensi diri kamu sendiri?

Dari makna posisi di tebaran Esoteric Celtic Cross diatas, sudah jelas tebaran ini bukan untuk digunakan untuk menjawab pertanyaan klien, melainkan lebih untuk evaluasi diri jangka panjang. Dengan demikian, tebaran ini bermanfaat sebagai salah satu sarana meditasi agar bawah sadar diri teman2 sendiri yang memberitahukan. Bahasa yang digunakan pun akan cenderung simbolis dan abstrak, sehingga bukan digunakan untuk memprediksi masa depan jangka pendek.

 

Pengembangan Esoteric Celtic Cross Untuk Penggunaan Konseling

Bentuk formasi diatas, meskipun esensinya sama, tetap bisa disesuaikan tergantung kegunaan yang ingin dicapai. Seperti yang gw bilang sebelumnya, tebaran ini tidak memiliki makna yang fix sehingga meskipun dibuat berdasarkan ‘4 pertanyaan terlarang’ tersebut, tetap ada tarot reader yang menyesuaikan makna tebaran tersebut menjadi lebih practical. Salah satu contoh makna yang disesuaikan yaitu:

  1. Mengenai diri sendiri
  2. Potensi diri yang ingin dicapai/ goal yang sedang dalam proses ingin dicapai
  3. Sisi higher-self diri kamu
  4. Sisi potensi diri yang terpendam (yang mendukung dalam pencapaian goal atau mendukung pengembangan potensi yang ingin diraih)
  5. Esensi pengalaman yang membentuk diri kamu
  6. Harapan/ rencana kamu di masa mendatang

Itulah versi penyesuaian untuk di kelompok tarot reader. Well….bagaimana kalau penyesuaiannya untuk psikolog dalam konseling?

Gw menemukan untuk pembacaan psikolog memiliki sedikit perbedaan terutama dalam proses pemilihan dan peletakan kartu. Ini disebabkan karena posisi psikolog lebih sebagai penerima informasi akan diri klien berikut masalah2nya, dan psikolog sendiri berperan sebagai konselor, dimana dalam penggunaan tarot, lebih sebagai membaca situasi sadar dan bawah sadar seseorang TANPA memberi solusi ataupun prediksi dengan kartu tarot. Ini disebabkan untuk solusi ke klien, seorang psikolog tetap mengacu kepada langkah – langkah yang diijinkan sesuai dengan standard kerja mereka sebagai psikolog itu sendiri.

Jadi, karena psiklog menggunakan tarot lebih sebagai membaca situasi klien, berikut tata cara yang saya temukan dalam proses pemilihan kartu:

  1. Pisahkan kartu Major Arcana dengan Minor Arcana
  2. Untuk konseling, cukup gunakan kartu MAJOR ARCANA SAJA
  3. Mintalah klien untuk melihat ke 22 kartu Major Arcana tersebut
  4. Pilih 6 kartu secara terbuka, dimana kartu pertama adalah kartu yang klien paling sukai dan kartu keenam adalah kartu yang klien kurang sukai.

Lalu tebarkan kartu tersebut sesuai dengan diagram diatas, berikut makna posisi yang bisa digunakan dalam konseling:

  1. Diri sendiri yang klien HARAPKAN dimasa mendatang/ sikap ideal yang diharapkan klien
  2. Potensi klien yang disadari/ digunakan dalam mencapai sikap tersebut
  3. Situasi klien saat ini/ kondisi klien saat ini, dan keinginan dasar kenapa dia ingin mencapai sikap yang dia harapkan di posisi 1 tersebut.
  4. Potensi terpendam klien yang ada dibawah sadarnya dan sebenarnya juga bisa digunakan dalam mencapai posisi 1 tersebut.
  5. Faktor lingkungan yang membentuk klien sampai saat ini
  6. Faktor lingkungan yang bisa dimanfaatkan KEDEPANNYA untuk membantu klien dalam mencapai sikap klien di posisi kartu no 1 itu.

Dengan tebaran yang proses pembacaannya disesuaikan sebagai konseling ini, memang tebaran ini tidak memberikan solusi (karena psikolog memiliki cara tersendiri tersebut); namun tebaran untuk konseling ini sangat bermanfaat terutama dalam menarik minat klien untuk berinteraksi dengan readernya. Proses pemilihan kartu secara sadar tersebut, dari sudut pandang klien secara psikologis, dirasakan seakan – akan sebagai permainan baca2an belaka. Namun dari sisi permainan itulah, klien menjadi sangat jujur atas dirinya sendiri dan justru memudahkan psikolog untuk membaca diri klien.

 

Semoga article ini bisa membantu teman2.

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers:

%d bloggers like this: