Archive for February 25, 2013

Refleksi : Tidak Ada Satu Bidang Pendidikan/ Karir Yang Lebih Berprospek Ketimbang Yang Lain

Kembali tulisan ini gw ambil dari hasil evaluasi, observasi, dan ringkasan cerita yang gw dapatkan dari curhat klien tarot gw selama ini. Topik kali ini adalah seputar pendidikan terutama pendidikan kuliah, dan sekaligus karir yang mengikutinya. Sekali lagi, artikel ini hanyalah opini pribadi gw yg dibuat dalam bentuk hipotesa saja karena gw sendiri menganalisisnya dari banyak cerita klien.

90% klien yang datang ke gw, baik pengusaha, pekerja kantoran, sampai mahasiswa, tak terkecuali juga istri yg sangat peduli dengan karir suami, selalu menanyakan seputar, “Karir apa yang cocok?” atau “Karir apa yang berprospek kedepannya?”. Dan setiap kali klien bertanya demikian, setiap kali itu juga gw selalu menjawab “Karir yang cocok untuk anda (atau pasangan anda) adalah karir yang dimana dia menikmati/ suka dalam mengerjakannya dan semua karir memiliki prospek yang bagus.”

Mungkin terdengarnya sangat aneh bagi orang – orang yang sudah terbiasa mendengarkan berbagai wejangan dari para pakar feng shui populer yang bisa dengan sangat spesifik menentukan kerjaan yang cocok untuk seseorang ataupun bisa dengan sangat spesifik menentukan karir yang berprospek saat ini. Namun gw dengan sengaja memang mengarahkan jawaban yang sekilas ambigu tersebut bukan tanpa alasan. Jawaban tersebut dilandaskan pada 2 faktor utama yang bagi gw sendiri menjadi sangat penting.

 

Untuk apa karir yang berhasil kalau pelakunya sendiri tidak bahagia?

Mungkin ini terdengar klise dan sangat naif/ polos kalau tidak bisa dibilang sangat/ terlalu idealis. Namun gw yakin kalian sebagai pembaca akan berpikir berkali – kali ke-naif-an gw kalau gw share sedikit cerita2 klien.

Banyak kasus dimana memang klien2 gw, sebut saja si A, cenderung diarahkan oleh masyarakat atau oleh ortu mereka bahwa si A cocok untuk kerja di bidang tertentu dengan segudang alasan yang sangat meyakinkan bahwa si A benar2 bagus disana. Masalah yang sering muncul adalah, si A memang ahli dibidang yang ditunjuk/ disarankan tersebut. Hanya saja si A ternyata kurang menikmati bidang yang menjadi keahlian karena 1 dan lain hal. Uniknya, bidang yang diminati si A seringkali adalah bidang yang dianggap lemah oleh orang2 sekitarnya ataupun orang tuanya sendiri dimasa itu.

Apakah si A berhasil dan sukses di karirnya? Yes, dia memang sukses di karirnya bahkan menduduki suatu jabatan tertinggi disuatu industri. Bagi orang yang melihat posisi si A, mungkin pada iri dan berharap suatu hari bisa menduduki jabatan seperti itu. Tapi apa yang terjadi? Si A curhat ke gw kalo dari awal dy meniti karir sampai sekarang, dia merasa tidak bahagia. Dia hanya menjalankan apa yang ‘diminta’ oleh lingkungan sekelilingnya dan dia menjalankan tersebut dengan berhasil. Masalahnya, semakin dy berada di puncak, semakin dy merasa sangat kosong dan mempertanyakan untuk apa pencapaiannya semua ini kalau hanya sebatas untuk diakui oleh orang lain? Kalau hanya sebatas untuk membuat orang lain memandang dirinya? Dan dia sampai di satu titik dimana si A sampai kelepasan ngomong kalau bagi dia, lebih enak menjalankan apa yang dia suka dari dulu meskipun dengan konsekuensi karirnya tidak secemerlang sekarang. Karena duit banyak dan posisi yang tinggi ternyata justru melahirkan pertemanan yang cenderung opportunis. Bahkan si A ini sempat berpikir untuk keluar dari pekerjaannya dan membuat bisnis yang dia memang suka.

Itu adalah cerita rekapan dari beberapa klien yang melakukan apa yang tidak dia suka namun berhasil. Bagaimana dengan klien2 yang melakukan apa yang tidak mereka suka dan tidak berhasil? Well, bisa ditebak, mereka menemui sikon yang memang jauh lebih buruk daripada si A ini. Bisa dikatakan sudah mereka tidak berhasil (menurut standard mereka masing2), mereka tidak menikmati pekerjaannya dan melakukannya dengan sangat terbebani (dari sinilah lahir I hate Monday dan anggapan hidup itu hanya dinikmati di hari Sabtu dan Minggu), namun di sisi lain, mereka juga tidak berani keluar dari zona nyamannya dengan berbagai alasan seperti sudah menikah dan menjadi tulang punggung keluarga, fisik yang sudah lelah ketika selesai bekerja, usia sudah tua, dsb2nya.

Orang2 seperti ini, pada akhirnya terjebak dalam lingkaran setannya masing2 dan sangat sedikit yang pada akhirnya mau berjuang lepas dari lingkaran setan yang disebut zona nyaman tersebut. Dari sini, jangan heran kalau banyak yang pada akhirnya orang2 seperti ini mengidap penyakit yang aneh2, termasuk penyakit yang dari histori keluarganya pun tidak ada. Karena seperti yang kita ketahui, stress berkepanjangan justru bisa membawa  berbagai penyakit yang tidak terduga bukan?

Dan pertanyaannya adalah, apakah kalian menginginkan hidup seperti itu?

 

Tidak ada yang bisa memprediksikan prospek suatu karir di masa mendatang

Ada 1 kelemahan yang tidak disadari oleh banyak orang. Yaitu, prospek suatu karir atau pendidikan saat ini ditentukan oleh banyaknya permintaan tenaga kerja di bidang yang bersangkutan SAAT INI. Masalahnya adalah, pendidikan bukanlah suatu proses yang instant; melainkan butuh waktu bertahun – tahun. Anggaplah minimal 3 tahun untuk ekonomi dan bisa lebih panjang lagi untuk bidang lain seperti kedokteran misalnya. Sementara itu, waktu 3-4 tahun adalah waktu yang cukup dimana permintaan suatu industri akan berubah. Apabila saat ini permintaan lulusan ekonomi sangat tinggi, dalam 2-3 tahun bisa saja justru jurusan hukum yang lebih tinggi dan selang beberapa tahun lagi justru fakultas design yang permintaannya tinggi. Memilih suatu bidang perkuliahan hanya karena alasan tuntutan industri sudah terbukti merupakan suatu langkah yang sembrono.

Dari berbagai cerita2 klien gw juga, gw mengambil kesimpulan sementara, memang tidak ada 1 karir yang lebih berprospek ketimbang karir yang lain. Sebagai contoh, banyak orang awam yang melihat profesi dokter adalah profesi yang prestisius dan menghasilkan banyak duit. Itu karena masyarakat cenderung menilai dari dokter2 yang mereka datangi ke rumah sakit dan terkesan mereka hidup makmur. Padahal di lapangan, hanya segelintir dokter yang bisa menikmati hidup mewah dan memiliki tempat praktek sendiri. Segelintir dokter yang bisa menikmati kemewahan pun disebabkan banyak faktor seperti misalnya ‘warisan dari orang tua’ karena orang tuanya juga dokter, atau memang si dokternya sendiri juga telah berjuang secara gigih dan konsisten. Masih banyak dokter lain yang belum memiliki tingkat kehidupan yang layak namun bekerja dengan tingkat resiko yang sangat tinggi.

Dan ada juga profesi seperti animator yang di mata publik terkesan diremehkan, namun kenyataannya, banyak tenaga animator Indonesia yang sudah meniti karirnya hingga keluar negeri dan berhasil.  Dari sekian banyak dinamika, gw sendiri melihat keberhasilan seseorang sama sekali bukan ditentukan dengan profesi ataupun karir yang dia pilih berprospek atau tidaknya. Melainkan apakah orang tersebut mau dengan konsisten mengembangkan karirnya dan tidak hanya duduk terpaku mengharapkan rejeki ataupun peningkatan karir dari langit.

Sebelum gw menutup tulisan ini, gw juga akan membagikan rekap cerita klien gw soal pekerjaan dan karirnya. Intinya, mereka yang telah berhasil, selalu dinilai sebagai pribadi yang hebat, berbakat, pasangan ideal, dan menjadi tolok ukur kesuksesan yang akan diterapkan ke anak2 dari para penilai tersebut. Hanya saja masyarakat yang memandang tinggi klien2 gw, mereka ternyata tidak tahu untuk mencapai kesuksesan seperti mereka,… seberapa keras perjuangannya, berapa banyak kesedihan yang mereka alami, berapa kali mereka menghadapi konflik dengan keluarga dan sahabat sendiri, dan worse of all, seberapa malunya mereka saat dipermalukan orang2 ketika mereka belom menjadi siapa2.

Refleksi: Pandangan dan Hal2 Lain yg Gw Pelajari Mengenai Seks

Tulisan gw kali ini bukanlah untuk mengendorse atau mempromokan sex bebas ataupun penyalahgunaan aktifitas sex. Yang saya bagikan disini adalah fenomena yg terjadi di masyarakat dan tidak bertujuan untuk memihak siapapun. Segala penyalahgunaan informasi dari artikel ini adalah tanggung jawab pembaca dan pikiran kotor kalian saja.

Gw akan membuka artikel gw dengan 1 fenomena social yang cukup biasa, namun seringkali masyarakat tidak menyadarinya (atau sengaja ditutupi).

“Apapun berita yang ditempilkan di berbagai media, baik berita politik, bencana alam, prestasi seseorang, ataupun berita hiburan lainnya, TIDAK ADA YANG BISA MENANDINGI rating berita SKANDAL antara 2 public figure apalagi berita SKANDAL SEKS.”

 

Bahkan karena berita seperti ini, pengakuan dari salah seorang internal di TV mengatakan kalau suatu waktu, pemerhati traffic internet internasional agak kebingungan karena traffic internet di Indonesia pernah melonjak sangat tinggi sehingga meskipun tidak diberitakan secara terbuka, sempat dalam beberapa hari, beban server internet di Indonesia menjadi sangat tinggi. Dan penyebabnya apa? Pengguna internet di Indonesia, berbondong – bonding mencari video ketiga setelah Ariel – Luna , Ariel – Cut Tari, yang digosipkan sudah beredar waktu itu.

Tapi artikel ini bukan untuk bahas perilaku public figure ataupun memaki – maki perilaku mayoritas pengguna internet di Indonesia yang ternyata bisa membebani server sangat besar karena nyari bokep. Yang ingin gw bahas disini adalah mengenai mengapa kita lebih penasaran akan berita skandal seks dibandingkan berita – berita lainnya, baik yang hanya ingin sekedar tahu saja, sampai yang berjuang ingin mendapatkan videonya.

 

Seks Sebagai Kebutuhan Dasar Manusia

 

Ada sebuah model kebutuhan manusia yang disebut sebagai Maslow Hierarchy of Needs atau Tingkat kebutuhan Maslow. Model yang berbentuk pyramid tersebut meletakkan kebutuhan manusia yang paling mendasar adalah kebutuhan untuk bertahan hidup. Tentu saja yang dimaksud dengan keperluan bertahan hidup adalah makanan, tempat tinggal, pakaian, dan juga berkembang biak melalui seks. Seringkali di public, berbagai pengetahuan yang diajarkan selalu menekankan kebutuhan dasar manusia adalah sandang (pakaian), pangan (makanan), dan papan (tempat tinggal), namun tidak / jarang sekali menyebutkan kebutuhan untuk berkembang biak. Dengan membuat focus pengetahuan akan kebutuhan manusia agar bisa bertahan hidup tersebut hanya sebatas 3 faktor itu, maka kebutuhan akan seks yang sebenarnya sudah ada di pikiran kita, dari waktu ke waktu menjadi di repress atau ditekan dibawah sadar.

Seperti yang sudah kita ketahui, dan sudah dibahas di artikel gw sebelumnya mengenai shadow side (silahkan cari di daftar artikel gw), sesuatu yang di repress di bawah sadar dalam waktu berkepanjangan, pada waktunya akan meledak dan meletup ketika ada pemicunya. Analogi ini akan sangat pas apabila kita kaitkan dengan masyarakat disekitar kita yang berusaha untuk hidup baik dan 100% menuruti aturan norma masyarakat (baca: menahan nafsu seks), namun di balik itu…..mereka mendadak menjadi seorang yang dengan segala cara mencari video skandal yang digosipkan sudah tersebar di internet.

 

Pandangan Spiritualist Secara Umum Mengenai Seks

 

Bagi orang – orang yang secara pikiran sangat terbuka atau open mind, dan apabila mereka dengan rajinnya mencari berbagai literature untuk meng-update berbagai  perkembangan pengetahuan terutama spiritualitas, maka orang2 tersebut akan menemukan bahwa seks adalah kemampuan manusia yang sangat diapresiasi.

Mengapa demikian? Karena seks yang dianggap perpaduan antara maskulin dan feminism, ketika melakukan hubungan, secara simbolis memang menjadi 1 tubuh yang tidak terpisahkan dan menjadi 0 atau tidak terdefinisi. Karena Tuhan dianggap sebagai penyatuan aspek maskulin dan feminism tersebut, maka melakukan hubungan seks merupakan praktek manusia secara simbolis untuk menjadi serupa dengan Tuhan atau ‘mengalami Tuhan’.

Selain itu, bagi yang sangat suka bermeditasi, orgasm saat berhubungan seks merupakan salah satu cara agar pikiran kita berada dalam kondisi hampa / kosong atau istilah lainnya, deep trance. Ketika seseorang mencapai orgasm, disaat itulah orang2 spiritualist percaya bahwa dirinya terhubung dengan Tuhan meskipun hanya sepersekian detik.

Apa manfaatnya dengan ‘terhubung dengan Tuhan’ selama sepersekian detik tersebut? Kalau anda tahu hukum tarik – menarik dimana kita menarik apa yang kita pikirkan (dibawah sadar kita), maka ketika orgasm dan kemudin mengirimkan perintah ke semesta disaat otak lagi ‘kosong’, merupakan cara yang paling efektif dalam meminta sesuatu, apapun jenis permintaannya. Bagaimana bisa pikiran yang kosong mengirimkan permintaan ke semesta? Simplenya, letakkan gambar atau simbol yang merepresentatifkan permintaan tersebut dan mata tertuju kepada itu simbol ketika orgasm. Dengan demikian, pikiran memang terasa tidak berpikir apa2, namun mata dan bawah sadar mengolah dengan sendirinya apa yang kita lihat.

Selain itu, berkaitan dengan medis, karena setelah berhubungan seks, seseorang mendapatkan hormon rasa nyaman, banyak orang spiritualist melihat bahwa kunci kebahagian seseorang adalah dari sekslifenya. Banyak yang melihat dan meneliti dalam skala terbatas bahwa orang yang memiliki kehidupan seks yang baik, dalam kesehariannya cenderung memancarkan aura yang cerah dan menyenangkan. Bahkan orang yang bahagia dalam kehidupan seksnya seringkali tersungging senyuman di bibirnya tanpa disadari orang tersebut. Well, bahkan orang spiritualist meyakini kunci awet muda salah satunya adalah dengan kehidupan seks yang bahagia.

Mungkin bagi masyarakat Indonesia, orgasm sebagai salah satu sarana untuk mencapai pikiran yang ‘kosong’ merupakan pengetahuan yang benar2 baru, namun diluar, baik Timur maupun Barat itu sudah menjadi pengetahuan umum. Bahkan gagasan tersebut, sepengetahuan saya, pertama kali ditonjolkan oleh orang2 Hindu yang kemudian dikembangkan lagi menjadi aliran Tantric Yoga.

 

Sebagai Kebutuhan Dasar, Banyak Institusi Yang Berusaha Mengendalikan Factor Tersebut

 

Bagaimana dengan insitusi? Sebenarnya sudah banyak institusi yang telah berusaha keras untuk mengatur kebutuhan mendasar tersebut. Sebutlah pemerintah dengan berbagai peraturan daerahnya di beberapa daerah yang agak nyentrik, kemudian beberapa daerah yang masih membatasi perilaku seks dengan pasangan resmi saja, dan masih banyak lagi. Namun dari semua itu, yang paling getol dan terang2an berusaha mengendalikan seks adalah institusi agama. Dari berbagai aliran agama, terutama agama2 mainstream memang sudah berusaha mengatur dari berbagai syarat, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan sampai ke konsekuensi2 di ‘alam sana’ apabila melanggar.

Supaya pembaca lebih mengerti, saya perlu menjelaskan kalau di dunia ini ada sangat banyak agama, bahkan sampai ribuan aliran agama. Namun dari semua itu, bisa kebagi menjadi 2 aliran besar (hanya sebagai istilah saja), yaitu aliran maskulin dan aliran feminim. Aliran maskulin disini menunjukkan kepada agama yang benar2 fokus ke 1 Tuhan atau monotheist, memiliki doktrin/ ajaran khusus yang tersentralisasi alias semua penganutnya mengikuti ajaran yang sama. Sementara aliran feminim cenderung fokus ke 1 Tuhan dengan pembantu2nya yang biasa dalam rupa dewa-dewi, roh alam, dsb2nya. Aliran ini seringkali disangka/ dianggap sebagai multitheist alias lebih dari 1 Tuhan meskipun pada esensinya tetap mengakui 1 Tuhan juga. Yang menarik adalah, agama yg feminim cenderung membebaskan umatnya memiliki interpretasi dan pengalaman spiritual yang berbeda – beda. Dengan demikian, karena tingkat pemahaman tiap penganutnya berbeda, otomatis agama yang feminim cenderung menghormati dan menghargai berbagai ajaran yang berkembang. Contoh dari agama maskulin adalah agama2 mainstream seperti Kristen, Katholik, Islam; sementara contoh dari agama feminim adalah Hindu, Buddha, Pagan, Order of Isis, dsb2nya.

Apakah implikasinya? Karena agama maskulin cenderung mengontrol umatnya, maka seks pun juga dikontrol dengan berbagai aturan2 yang ada. Namun seringkali mengontrol seks dalam agama seperti ini sering disalahtafsirkan oleh pemimpin agamanya sebagai alasan untuk mendiskreditkan atau melecehkan wanita. Ini karena wanita secara sempit dianggap sebagai pemicu kebutuhan seksual yang pada akhirnya bisa membuat umat penganut agama maskulin melakukan seks diluar kontrol / diluar keinginan sistem agama tersebut.

Sudah banyak contoh2 peraturan pemerintahan daerah yang nyentrik di Indonesia yang justru sangat membatasi kebebasan wanita, kemudian banyaknya tindakan pemerkosaan, dan pelarangan suatu bentuk hiburan karena terlalu seksi atau semacamnya. Dan sesuai namanya, yaitu agama maskulin, maka mayoritas pemimpinnya haruslah pria yang sekali lagi, berimplikasi kepada kurangnya penghargaan kepada wanita secara umum.

Kemudian, apa implikasinya bagi agama feminim? Karena pada dasarnya agama feminim menghargai keberagaman opini dan pengalaman spiritual, maka wanita dan pria dianggap sejajar dalam konteks kehidupan secara umum. Ini berimplikasi juga kepada pandangan terhadap wanita bukan sebagai pemicu nafsu seks, melainkan sebagai pasangan untuk mencapai kesempurnaan. Memang tetap ada saja orang yang menyalahgunakan anggapan sempit bahwa seks berasal dari wanita, namun setidaknya dalam aliran ini, hal2 seperti itu sudah berada di taraf minimal. Dari agama2 yg maskulin inilah lahir berbagai pandangan bahwa seks adalah salah satu cara untuk manusia secara simbolis menyerupai Tuhan.

Implikasi lainnya secara tidak langsung, karena agama maskulin cenderung mengontrol, dan agama feminim cenderung memberi kebebasan, lucunya, dari berbagai sejarah selalu menunjukkan agama maskulin cenderung selalu ingin berperang dan konflik dengan agama lain, berbeda dengan agama feminim yang notabene sedikit sekali ada konflik skala besar. Apakah ini ada implikasinya dari seks yang dikontrol berdasarkan aturan agama2 tersebut? Tampaknya masih perlu diteliti lebih lanjut lagi antara korelasi dengan seks yang direpres dengan perilaku destruktif seseorang. Hanya saja, memang dari pengalaman pribadi dan orang2 di sekitar gw, sering terjadi orang yang berperilaku destruktif (main kasar, kekerasan fisik, intimidasi, mudah stress, dsb2nya) seringkali berhubungan dengan kehidupan seksualnya yang kurang baik atau belum tersalurkan.

 

Kesimpulan sementara yg gw dapatkan

 

Dari berbagai aspek yang gw pelajari, memang seks merupakan salah satu faktor utama manusia bertahan hidup. Memang bukan berarti tidak berhubungan seks maka orang akan mati, melainkan kebutuhan disini mencakup 2 kebutuhan sekaligus yaitu kebutuhan biologis dan psikis. Meskipun dalam berhubungan tidak harus menghasilkan janin/ anak alias bisa memakai kontrasepsi, namun dampaknya terhadap perilaku, pola pikir, pandangan hidup, berikut stabilitas emosional ternyata sangat significant. Karena peran yg sangat significant inilah, banyak lembaga, apapun itu, mencoba untuk mengaturnya dengan berbagai dalil agar kehidupan manusia yang berada dibawah lembaga itu bisa diatur secara psikis.

Menutup artikel ini, gw akan mengutip dari ucapan seorang pakar magick yg bagi dirinya adalah sebuah ironi di dunia sekarang, “Apabila anda ingin mengatur kehidupan seseorang, maka aturlah kehidupan seksnya.”

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers:

%d bloggers like this: