Archive for May 29, 2013

Poster About Tarot Journey is UP!

Tarot Journey Poster

Refleksi: When People Know –The Secret-

Tulisan ini bukanlah membahas mengenai buku The Secret atau semacamnya. Melainkan lebih membahas sikap atau mentalitas orang apabila orang tersebut sudah mengetahui suatu rahasia. Gw sendiri menjadi teringat akan salah satu aturan wajib dalam dunia persulapan, yaitu agar selalu menjaga rahasia sulapnya dari orang awam, sebagaimanapun menggodanya untuk membongkar rahasia sulap. Ini disebabkan karena sekali orang sudah tahu rahasianya, berbagai keajaiban yang ditawarkan seorang pesulap pun akan hilang seketika.

Aturan diatas memang terkesan hanya dianjurkan ke orang pesulap saja. Namun sebenarnya aturan -sederhana namun wajib- tersebut memberikan petunjuk akan sikap orang awal umumnya dalam mengetahui suatu rahasia….. apapun rahasia tersebut.

Sikap pertama ketika seseorang mengetahui suatu rahasia, maka dia akan menghargainya dan apabila dia cukup ingin menjadi seperti kalian, dia akan mempelajarinya. Sebagai contoh, misalkan kalau seseorang ingin mengetahui rahasia sulap, dia akan menghargai rahasia tersebut, menghargai atas berbagai usaha yang sudah dilakukan oleh seorang pesulap, bahkan kalau orang tersebut ingin menjadi seperti pesulap tersebut, dia akan mulai mempelajarinya dan mempraktekkannya sendiri.

Contoh berikutnya adalah, sebutlah si A tahu rahasia meditasi, menenangkan diri, bahkan berbagai ritual agama dimana bisa saja meditasi itu disebut sebagai latihan menenangkan diri dan membuat sisi ego menjadi padam meskipun cuma sementara, atau misalnya ternyata ritual agama itu kalau dirangkum adalah salah satu bentuk hipnosis massal yang dilakukan dengan nama agama. Atau misalnya si A tahu bahwa Tuhan, malaikat, dewa – dewi, dan banyak wujud2 lainnya adalah simbol. Apabila si A menghargai rahasia tersebut, maka si A akan menghargai si pemberi tahu rahasianya, bahkan kalau ternyata informasi rahasia yang dia ketahui ternyata bisa diaplikasikan ke dirinya sendiri untuk perkembangan dirinya, maka dia akan menerapkan informasi tersebut untuk dirinya sendiri. Dengan kata lain, dia akan semakin rajin bermeditasi, si A mulai lebih mengapresiasi segala ritual keagamaan yang dia anut, simbol2nya, nilai2nya, dan sekaligus menghormati agama2 lainnya.

Apabila orang mempunyai sikap diatas, karena dia bersikap netral dan memiliki mentalitas yg positif, berbagai rahasia tersebut justru dipakai untuk bahan perkembangan dirinya sendiri dan semakin mensyukuri berbagai informasi yang telah dia dapatkan tersebut.

Sikap kedua yang bisa kita temui adalah, sikap menjadi sinis atau berpandangan negatif sehingga kurang menghargai rahasia tersebut. Sebagai contoh juga dalam kasus sulap, orang yg tahu rahasianya, cenderung langsung mencibir rahasianya, melihat sosok pesulap tidak ajaib lagi, bahkan juga menceritakan ke orang2 bahwa pesulap adalah penipu yang tidak boleh dicontoh.

Contoh lainnya dengan berkaitan dengan meditasi dan ritual agama, sebutlah si B, apabila si B tahu rahasianya, maka si B cenderung mencibir meditasi tersebut, menghina atau merendahkan berbagai ritual agama karena dia merasa itu semua hanyalah permainan pikiran belaka. Dia tahu kalau semua itu adalah untuk perkembangan diri masing2, namun karena tahu rahasianya, maka dia merasa lebih tinggi ketimbang rahasia tersebut dan sudah menjadi pribadi yg lebih baik. Ya bisa dikatakan dia sudah tahu rahasia pesulap namun dia merasa dia lebih tinggi ketimbang pesulap tersebut meskipun dia sebenarnya TIDAK BISA BERMAIN SULAP. Yes, mengetahui satu hal adakalnya memberi ilusi bahwa kita sudah menguasai hal tersebut. Knowing something sometimes lead us to believe that we’ve already mastered that thing.

Ada sikap ketiga yang juga adakalanya kita temui apabila seseorang mendapat suatu informasi rahasia. Sikap ketiga ini adalah sikap tidak mau tahu atau sikap ignorant. Sikap ini bisa dikatakan lahir dari 2 hal: antara orang tersebut memang tidak mau tahu karena saking fanatiknya (misalnya orang yg fanatik dengan agama tertentu, fanatik ngefans dengan seseorang, mempelajari secara fanatik ilmu pengetahuan tertentu, dsb) atau orang tersebut tidak mau tahu karena merasa terhibur dengan berbagai misteri yang dia lihat. Apakah sikap ini berdampak bagus atau buruk minimal untuk diri sendiri juga tergantung dengan penyebabnya. Apabila penyebabnya lebih karena sikap fanatik, memang itu menjadi buruk dampaknya minimal bagi diri sendiri karena sikap tersebut berdampak membatasi diri dari berbagai pengetahuan lainnya. Sementara penyebabnya lebih karena merasa terhibur dengan berbagai misteri didepan matanya, maka ini sebenernya berdampak netral bagi diri sendiri namun berdampak baik bagi pemberi misteri. Bisa dikatakan orang yg ignorant karena ingin merasa tetap terhibur adalah orang yang menghargai rahasia tersebut.

Sebagai penutup, mungkin ada yg bingung kenapa gw menulis ini artikel? Artikel ini lebih sebagai artikel esensial mengenai sikap seseorang terhadap informasi yang sifatnya rahasia, apapun bidangnya. Dan memang dari berbagai observasi, ternyata memang tidak hanya didunia persulapan belaka, namun di semua bidang termasuk spiritual, agama, meditasi, segala bentuk perkembangan diri, termasuk skill2 seperti public speaking, pengacara, motivator, konsultan keuangan, konsultan bisnis, dan bisa diaktakan 99% sikap orang terhadap suatu informasi rahasia memang terpola seperti tulisan diatas. So, lebih berhati-hati apabila anda ingin membocorkan rahasia keberhasilan ataupun rahasia kemampuan anda, apapun itu.

About -Bad Feedback- in Tarot Reading

Topik kali ini, gw akan membahas bagaimana seorang klien tarot reader dalam memberi masukan akan sesuatu yg tidak disukai alias memberi komplain akan kinerja suatu tarot reader. Topik ini juga merupakan suatu topik yg memang banyak dibahas di pelajaran marketing, namun lucunya jarang sekali ada yg mau menyinggung atau mengangkat topik ini di kalangan sesama tarot reader.

Why Bad Feedback?

Ok, pertama – tama, gw akan membahas mengenai mengapa bisa timbul komplain ataupun kritik negatif mengenai tarot reader? Dari yg gw survei dari klien2 gw sendiri, cerita2 sesama tarot reader, dan orang dari berbagai kalangan, ternyata bisa dikelompokkan menjadi beberapa penyebab.

Penyebab pertama adalah background story si tarot reader terlalu menyeramkan. Contohlah, misalnya ada seorang tarot reader yang mengatakan kalau dia menguasai tarot itu adalah dengan ritual pengorbanan hewan, atau dia berpuasa sekian hari sekian malam, dan berbagai cerita lain yang menyeramkan mengenai aktifitasnya. Tujuan dari cerita tersebut, lepas dari benar atau cuma karangan si tarot reader semata, sebenarnya bertujuan agar dia mendapat penghormatan ataupun penghargaan dari kliennya karena betapa keras dan sulitnya ‘pengorbanan’ yg dia lakukan. Namun meskipun klien didepan dia akan diam dan manut saja, dibelakang justru dia menceritakan rasa takutnya dia terhadap tarot reader tersebut ke orang lain. Karena cerita ketakutan tersebut tersebar, jadilah seringkali berakhir dengan tarot reader yg sepi klien karena memang sebagian besar orang cenderung menjauhi orang – orang yang menakutkan kecuali kalau memang benar – benar kepepet. Kategori ini jugalah yang paling berperan significant menyebabkan tersebar image buruk seorang tarot reader.

Penyebab kedua adalah masukan yang terlalu intimidatif. Bahasa sederhananya adalah, masukan yang diberikan terlalu men-judge/ menghakimi klien, bahkan ada yang sampai ke taraf menakut-nakuti sehingga klien juga menjadi sangat defensif atau menyangkal akan semua yang tarot reader utarakan. Sebagai contoh, dalam menganalisa situasi pernikahan seseorang dengan tarot, sangat dihindari apabil tarot reader langsung menghakimi kalau pernikahannya akan berakhir cerai tanpa ada solusi ataupun cara untuk mengindarinya. Contoh lainnya adalah, apabila kalian membacakan seorang klien yang ternyata gay atau lesbian, anda akan langsung keluar dari daftar referensi konsultasi si klien apabila anda menghakimi klien tersebut dengan mengatakan gay atau lesbian itu dilarang oleh masyarakat, agama, atau alasan apapun. Kita sebagai tarot reader minimal perlu memahami problem klien, bukan menghakimi.

Penyebab ketiga, dan seringkali ini mengenai ke tarot reader pria, adalah sering menyalahgunakan kemampuannya dalam membaca tarot untuk MENDEKATI WANITA. Dalam kasus ini, seorang tarot reader melihat bahwa pembacaan seorang klien wanita ternyata memang tidak berjalan dengan baik, dan saat itu juga, si tarot reader berusaha mempengaruhi klien agar mengesampingkan masalah klien dengan pasangannya dan memacari si tarot readernya saja. Apabila hal ini dilakukan, kemungkinannya hanya 2. Pertama, klien akan menolak dengan halus saran si tarot reader dan pergi menghilang tanpa adanya follow-up konsultasi. Kedua, klien akan mencoba menuruti saran si tarot reader, memacari dia, namun usia pacarannya hanya akan sementara saja (karena memang motivasinya untuk pelarian belaka) dan si tarot reader berakhir tidak mendapatkan apapun karena kemungkinan besar cepat putus dan si klien juga sudah pasti tidak akan mereferensikan si reader ke orang lain.

Penyebab keempat dan faktor inilah yang memang kita sebagai tarot reader perlu membiarkannya saja atau mengikhlaskan. Faktor keempat adalah memang dari kliennya tidak ada niat untuk benar – benar serius konsultasi dan hanya mencari pembenaran ataupun meyakinkan diri atas apa yang telah/ akan dia perbuat. Klien yang seperti ini seringkali akan beprindah – pindah dari 1 reader ke reader lain dengan tujuan, menemukan reader yang memang mendukung ide keputusan yang akan dia ambil atau membenarkan pola pikir si klien tersebut. Untuk tipikal klien seperti ini, sebenarnya akan sangat sedikit sekali kemungkinan dia ada repeat order karena lepas dari kabarnya baik atau buruk sekalipun klien hanya mencari pembenaran belaka dan dia memiliki banyak daftar tarot reader yang bisa dia hubungi. Sebagai bonus, seringkali memang klien tipikal seperti ini, karena memang banyak preferensi tarot reader dan memang sudah ‘siap’ untuk konsul ke banyak reader, kemungkinan sangat kecil untuk mendapatkan ‘penghargaan’ yang layak atas jasa anda.

Penyebab terakhir adalah hal yang sebenarnya masih bisa sangat diperdebatkan. Yaitu persepsi penilaian seorang klien terhadap tarot reader. Mengacu kepada artikel gw sebelumnya, ada klien yang memang menganggap seorang tarot reader menjadi sangat rendah ataupun murahan apabila si tarot reader sering broadcast mengenai kata2 motivasi ataupun iklan jasanya, namun ada juga yang klien santai2 saja akan itu. Ada juga klien yang melihat, dengan biaya konsultasi yang ‘terlalu murah’ menurut klien tersebut, maka sebegitulah ‘harga profesionalitas’ tarot reader tersebut. Sekali lagi, ini masih bisa diperdebatkan karena standard harga dan perilaku yang bisa diterima oleh setiap klien memang berbeda – beda. Dalam hal ini ada banyak cara yang bisa untuk mengantisipasi penilaian klien yang standardnya beragam. Dan cara tersebut akan gw bahas di artikel2 berikutnya.

How about good feedback?

Apabila gw sudah membahas penyebab klien bisa memberikan feedback yang buruk, kali ini gw akan membahas bagaimana kita bisa membedakan seorang klien telah memberi feedback yang bagus. Ada beberapa cara untuk mengetahui apakah kita sudah menjalankan profesionalitas kita dengan baik.

Yang pertama, dan yang paling mudah adalah komentar positif dari sisi klien langsung setelah sesi pembacaan selesai. Apabila klien merasakan motivasi untuk memperbaiki diri, memberi berbagai inspirasi yang tidak terpikirkan oleh si klien sebelumnya, dan hal2 positif lainnya yang bisa membantu klien mencapai apa yang dia sebenarnya inginkan, maka setelah pembacaan, seringkali klien akan memberikan pujian ataupun terima kasihnya karena sudah dibantu oleh kita. Ingat, klien akan cenderung lebih mudah memberikan pujian dan rasa syukurnya apabila dia merasa sangat terbantu dan akan membicarakan kejelekan anda dibelakang anda apabila anda dianggap tidak membantu dia (atau memang dari sananya si klien merupakan tipe yang seirng complain).

Yang kedua, adalah klien dengan sukarela TANPA kita minta untuk mereferensikan si tarot reader ke teman2nya dan menceritakan sendiri dengan ikhlas bagaimana si klien dibantu dengan bacaan si tarot reader tersebut. Dalam hal ini, kita bisa mengetahui kalau kita direferensikan apabila klien kita mengaku kalo dia tahu dari klien kita sebelumnya.

Yang ketiga, adalah klien akan melakukan repeat order ato minta dibacakan lagi. Tentu saja disini bukan dalam artian minta dibacakan setiap minggu ataupun setiap hari. Namun apabila secara umum klien dalam rentang waktu paling cepat sekitar sebulan sekali atau beberapa bulan sekali melakukan repeat order, maka si klien sudah terlihat kalau dia menyukai anda sebagai tarot reader dalam taraf yang moderat dan profesional.

Yang keempat, adalah klien menginginkan anda menjadi temannya dan menjalin hubungan persahabatan. Dalam hal ini, lepas dari apakah dia akan terus memakai jasa anda ataupun memakai jasa anda dengan sedikit discount tarif, anda telah mendapat seorang marketer seumur hidup sepanjang anda tetap menjaga persahabatan anda dengan ‘mantan klien’ tersebut. Dan percayalah, sahabat anda akan terus membantu anda minimal dalam mencarikan klien secara sukarela.

Demikian tulisan gw yang gw rangkum dari berbagai sumber dan hasil observasi dari berbagai klien dan sharingd ari tarot reader lain. Semoga tulisan ini bisa berguna untuk anda pembaca. 😀

 

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers:

%d bloggers like this: