Archive for July 17, 2013

Refleksi: Mengapa Banyak Spell Kekayaan Yang GAGAL?

Di kehidupan sehari – hari, sebenarnya kita sudah menemukan berbagai pelatihan penanaman program bawah sadar untuk ‘menarik’ hal yang sesuai dengan keinginan kita agar bisa terwujud. Katakanlah ada banyak pelatihan bagaimana menarik pekerjaan yang ideal, pasangan yang ideal, kebahagiaan hidup, dan berbagai pelatihan lainnya. Dan dalam konteks ini, dalam dunia sihir – menyihir memang disebut sebagai spell atau sihir itu sendiri. Demi kesederhanaan kosakata, gw akan memakai istilah spell ketimbang ‘program bawah sadar’.

Dari yg gw amati, berbagai program tersebut sebenarnya berlandaskan kepada Law of Attraction atau hukum tarik – menarik. Dan memang LoA tersebut sudah berhasil membahagiakan banyak orang. Lucunya adalah, ketika peserta menginginkan suatu hal secara spesifik, ya mereka mendapatkan apa yg mereka inginkan seperti berwisata, mengingkan suatu barang, atau menginginkan pasangan, dsb2nya. Namun apabila ketika menginginkan uang dalam jumlah tertentu, lucunya, kemungkinan berhasil justru sangat kecil. In short word, spell menarik duit seringkali lebih banyak yg gagal ketimbang berhasilnya dan berujung kepada kekecewaan orang yg melakukan spell tersebut.

Pertanyaannya, mengapa untuk keuangan, lebih banyak yg gagal ketimbang berhasil?

 

Miskonsepsi mengenai kekayaan

 

Semua gw yakin sudah tahu konsepnya Law of Attraction atau hukum tarik – menarik atau LOA. Intinya adalah kita menarik apa yg kita pikirkan dari dalam hati kita yg terdalam atau pikiran kita yg paling mendasar. Dengan demikian, apabila kita menginginkan sesuatu dengan kondisi mental bahagia, maka kita akan menarik hal2 yg bahagia. Hal ini juga berlaku sebaliknya, dimana bila kondisi mental kita serba kekurangan atau sedih, maka kita juga menarik kekurangan dan kesedihan itu dalam kehidupan kita.

Yang menjadi masalah dalam segala bentuk spell kekayaan disini adalah, anggapan umum yang beredar di masyarakat umumnya bahwa kekayaan = harta benda. Dari sisi pola pikir masyarakat umumnya, justru melihat seseorang dianggap kaya apabila orang itu memiliki rumah yg besar diperumahan elit, uang di rekening bank yang mencapai ratusan juta, milyaran, bahkan lebih, atau mobil mewah yang dipakai sehari – hari. Dengan demikian, masyarakat umumnya juga apabila melakukan spell kekayaan, mereka memvisualisasikan uang banyak dan segudang harta benda tersebut dalam pikirannya.

Satu hal yang perlu pembaca ketahui, sebagai referensi…., kita semua tahu kalau didunia ini, orang yang kaya baik materi maupun mentalnya menjadi semakin kaya. Oleh karena itu, kita perlu berpikir layaknya orang kaya agar dalam prosesnya nanti kita menjadi orang kaya juga. The thing is, orang kaya melihat uang, rumah, dan segala macam materi itu sebagai sarana dan bukan tujuan akhir.

Justru pikiran uang, rumah, mobil, dan materi2 lainnya sebagai tujuan akhir adalah pikiran dari orang2 yg kekurangan.

Dengan demikian, ketika kita menciptakan goal dalam spell kekayaan kita dan meletakkan materi itu sebagai tujuan akhir dan bukan sarana, kita menanamkan dalam pikiran kita bahwa kita adalah orang yg berkekurangan. Dan apabila kita menanam dalam pikiran kita kalau kita adalah orang yg berkekurangan, maka kita akan menarik segala kekurangan dalam diri kita bukan?

Lebih sederhananya lagi, apabila kita melakukan spell dengan memvisualisasikan uang sejumlah 100 juta tanpa tujuan yg pasti, maka pada akhirnya ada saja pengeluaran besar yang mengikuti dibelakang itu sehingga ujung2nya mungkin bukannya menikmati 100 juta itu, tapi malah menjadi lebih melarat.

 

Bagaimana semestinya spell kekayaan tersebut?

 

Sederhananya, ada beberapa faktor yang menentukan dalam keberhasilan spell kekayaan.

Faktor pertama adalah, kita melakukan spell tersebut dengan situasi mental yang bahagia dan mensyukuri segala hal yang kita miliki saat ini, sekecil apapun itu. Dengan demikian, kita bisa melakukan spell dan merasakan bahwa kekayaan sudah ada dalam diri kita sendiri.

Faktor kedua adalah tujuan kekayaan tersebut. Misalkan, apabila kita menginginkan uang dalam jumlah 1 milyar misalnya, untuk apa uang tersebut? Misalkan ternyata untuk membeli rumah, kita perlu menanyakan lagi kedalam diri kita sendiri, untuk apa rumah itu? Misalkan jawabannya adalah agar sekeluarga bisa memiliki tempat tinggal dan hidup bahagia, maka lebih baik melakukan spell yang tujuannya adalah mendapat tempat tinggal dan kebahagian keluarga; BUKAN spell uang 1 milyar. Mengapa demikian? Karena alam/ semesta/ Tuhan, apapun namanya, memiliki jalannya sendiri dalam mewujudkan yang kita minta; hindari ‘membatasi pikiran’ kita sendiri kalau kebahagiaan dan tempat tinggal itu hanya bisa diperoleh apabila kita memiliki uang 1 milyar. Dengan demikian, alam bisa mencari alternatif yang terbaik sesuai dengan kondisi kita. Contohnya:

– Bisa saja anda mengenal seorang developer yang ternyata menghadiahkan anda tempat tinggal.

– Bisa saja anda mendapatkan rumah yg anda inginkan dengan harga lebih murah, tidak harus 1 milyar karena satu dan lain hal.

– Bisa saja anda mendapat pekerjaan baru dan rumah adalah kompensasi atas posisi pekerjaan anda

– Bisa saja pasangan anda, dalam karirnya ternyata mendapat kompensasi atas proyek yang besar dan bisa beli tempat tinggal.

– Bisa saja harga saham yang anda invest melambung tinggi dalam waktu singkat sehingga anda bisa beli tempat tinggal

Dan masih banyak kemungkinan lagi yg sekali lagi, tidak akan bisa kita duga sehingga justru dengan fokus ke uang 1 milyar tersebut malah membatasi alam untuk mencari jalan terbaik bagi kita. Ingat, kita membatasi pikiran kita sendiri = membatasi alternatif yang disediakan oleh alam/semesta/Tuhan.

Faktor ketiga yang juga menentukan keberhasilan adalah justru di sikap kehidupan kita sehari – hari: hindari berlagak seperti orang susah. Tentu saja sikap ini bukan berarti kita harus boros dalam mengeluarkan uang kita. Justru orang kaya baik secara materi maupun mental cenderung disiplin dalam mengeluarkan uangnya. Dia memisahkan budget seberapa persentase untuk bersenang – senang dan seberapa persentase untuk investasi ke dirinya sendiri. Sementara orang rata2 justru menyisihkan persentase untuk senang2, keluarga, dan hal2 lain namun JARANG YANG MENGALOKASIKAN UNTUK PERKEMBANGAN DIRI SENDIRI. Apabila kita ingin mendapat banyak rejeki, ya kita perlu siap untuk menginvestasikan sebagian kekayaan kita didepan.

Sebagai contoh, apabila anda adalah seorang karyawan kantoran, maka anda perlu menyisihkan dana untuk mengikuti pelatihan/ seminar yang mendukung karir anda DENGAN ATAU TANPA SUBSIDI KANTOR tempat anda bekerja. Atau apabila anda memang memerlukan suatu gadget seperti laptop agar pekerjaan anda semakin fleksibel dan efektif, maka anda PERLU MEMBELI SENDIRI ketimbang, sekali lagi, MENUNGGU SUBSIDI KANTOR. Hal itulah yang gw maksudkan hindari menjadi kayak orang susah, karena sekali lagi….orang kaya melakukan sesuatu dengan kekuatan yang dia miliki saat ini, bukan menunggu bantuan kantor. 😀

Demikian 3 faktor yg gw lihat dan gw pelajari sangat mendukung dalam keberhasil spell kekayaan tersebut. Gw sendiri sebagai penulis artikel ini, gw belom menjadi orang kaya yang ‘dikategorikan’ masyarakat umumnya. Namun gw sendiri sudah sangat kaya karena gw memiliki karir yang sesuai dengan passion gw. Gw sudah sangat kaya karena gw bisa mengatur sendiri waktu kerjaan dan keran pendapatan gw kapan mengalir dan kapan ditutup terlebih dahulu. Dan hal yang terbaiknya adalah, gw kaya karena gw menjaga keseimbangan antara kekayaan materi dengan kekayaan spiritual gw. I have lots of money, and I can be happy with or without that money.

REFLEKSI: Apakah Kita Masing – Masing Adalah Unik?

Ada suatu penyataan yang cukup menggelitik bagi saya. Dari berbagai nasehat motivasi, berbagai pepatah, dan sumber – sumber lain, selalu berusaha untuk meyakinkan kita bahwa diri kita masing – masing adalah edisi terbatas a.k.a limited edition. Setiap individu adalah unik dan tidak ada dua nya, bahkan anak kembar sekalipun tetap memiliki perbedaan.

Namun dari sekian banyak pesan demi pesan mengenai perlunya kita menyadari keunikan diri kita masing – masing, seiring dengan jam terbang saya sebagai tarot reader, tampaknya kalimat tersebut perlu direvisi. Mungkin memang dari sisi fisik dan potensi dalam diri kita masing – masing, kita memang unik. Namun dalam hal perilaku, pengalaman saya berbicara sebaliknya ternyata. Saya akan memberikan dua contoh yang berasal dari curhatan klien saya (tanpa membongkar identitas tentunya)

Contoh pertama adalah mengenai seorang wanita dan pria yang pacaran. Dalam hal ini, si pria sangat mendominasi dan cenderung mengatur segala hal mengenai pasangan wanitanya. Mulai dari siapa saja yang boleh berteman dengan wanita tersebut, kapan waktu pacaran, kapan si wanita ini perlu melayani si pria, termasuk si wanita dituntut tahu apa saja yang disukai dan tidak disukai si pria dan masih banyak lagi.

Parahnya lagi, si pria juga melakukan kekerasan fisik terhadap si wanita seperti menampar dan membenturkan kepala wanita itu ke dinding. Belum lagi si pria selalu mengintimidasi si wanita, betapa beruntungnya si wanita itu bisa sama dia dan seharusnya dia bersyukur.

Melihat contoh ekstrim diatas, anda merasa si pria memang benar – benar kurang ajar dan apabila anda berada di situasi wanita tersebut, anda yakin akan dengan tekad yang bulat, meninggalkan pria itu bukan?

Tapi dalam kenyataannya, wanita yang berada di situasi tersebut, hampir 100% justru mencari segala cara dan pembenaran agar dia tetap bisa bersama dengan si pria yang melakukan kekerasan fisik dan verbal ini. Terdengar mustahil? Pengalaman saya dan tarot reader lainnya telah membuktikan itu. Dan ternyata, justru dengan memberi kekerasan fisik dan verbal, berdampak adanya ikatan psikis dengan pasangan, meskipun dalam artian yang tidak sehat tentunya. Dan membuat si wanita itu untuk lepas dari pria yang membelenggunya, ternyata bisa memakan waktu berbulan – bulan bahkan bisa sampai tahunan apabila situasinya sampai sedemikian parahnya.

Dan mungkin setiap wanita yang mengalami kejadian diatas baik versi ekstrimnya maupun ‘versi lebih halus’nya akan merasa bahwa dia berada disituasi tanpa solusi dan dia adalah satu – satunya wanita yang mengalami hal seperti itu.

Kenyataannya? Sayang sekali, justru sangat banyak wanita yang mengalami hal diatas dimana si pria sangat mendominasi dan wanita berkewajiban untuk menurut tanpa mempertanyakan keputusan pasangan pria nya.

Untuk contoh keduanya, bagaimana dengan soal pekerjaan?

Saya rasa semua orang sudah tahu kalau anda cukup mampu secara ekonomi, ketika masih muda, anda diwajibkan 3 hal ini:

Mengambil pendidikan setinggi mungkin dan jurusan yang dianggap bermasa depan cerah. Kemudian mencari pekerjaan di perusahaan yang besar (baik gedung maupun namanya). Hidup mapan, menikah, punya anak, dan meninggal dengan tenang.

Masalahnya, dunia bukan sesederhana jalan hidup diatas. Ada banyak faktor disekitar kita yang adakala menuntut kita untuk lebih kreatif dalam menyikapi hidup sehingga jalur diatas bukanlah satu – satunya jalur yang absolut benar.

Namun ternyata, hampir mayoritas klien yang datang ke saya (dan juga ke tarot reader lain tentunya), apabila profesinya adalah karyawan, selalu memiliki pola pikir yang diatas seakan – akan perusahaan besar pasti menjamin hidup mereka dan itu satu – satunya jalan menuju bahagia. Meskipun pada kenyataannya:

“Semakin besar suatu perusahaan, semakin minim perhatian perusahaan kepada kesejahteraan  karyawannya terutama karyawan manajemen menengah kebawah.”

Saya tau saya terkesan menggeneralisir, namun pembaca pasti mengerti maksud saya.

Jadi pertanyaannya adalah…. Apakah fenomena diatas masih meyakinkan anda kalau setiap orang adalah unik?

Mungkin secara potensi masing – masing individu, bentuk dan profil fisik, dan latar belakang memang berbeda – beda. Namun respon kita manusia dalam menanggapi sesuatu, tampaknya terpola sedemikian rupa sehingga ada ilmu yang namanya psikologi yang mampu memetakan pola perilaku manusia tersebut.

Namun bukan berarti kita tidak bisa menjadi pribadi yang unik…, bukan seperti itu. Kita bisa saja menjadi seseorang yang unik dengan konsekuensi menghadapi pengucilan orang – orang yang ‘tidak unik’, menghadapi cemoohan  dan bahkan kekerasan fisik atau verbal dari orang – orang yang memang tidak unik. Tentu saja reward atau hasil yang didapat dari menjadi pribadi yang unik juga jauh lebih besar ketimbang resiko menjadi pribadi unik yang sudah cukup besar.

Jadi, pertanyaannya…., apakah kita masing – masing adalah unik?

Atau lebih spesifiknya, apakah anda adalah orang yang unik?

Keterbelakangan Pengetahuan Penyebab Tarot Reader Menjadi ‘Kaku’

Banyak yang mengatakan sekarang jamannya teknologi informasi dimana berbagai informasi dapat tersebar dengan mudahnya. Begitu juga informasi mengenai tarot. Sudah banyak yang beredar di internet dan berbagai media, namun tetap saja banyak tarot reader yang memang lebih suka memaksakan caranya sendiri ke orang lain yang baru belajar tarot. Maksud dari memaksakan disini adalah menetapkan caranya adalah yang paling benar dibandingkan cara yang lain.

Namun kalau diteliti kembali, mengapa banyak tarot reader yang ngotot cara dia adalah paling benar, ternyata jawabannya cukup sederhana. Sebagian besar tarot reader tersebut memang jarang membaca literatur seputar tarot sehingga pengetahuannya pun memang tidak berkembang. Mungkin juga karena pendidikan di Indonesia membuat seseorang terbiasa manut (nurut) dengan “apa kata guru” ketimbang mencari pengetahuan yang baru dan inisiatif mengembangkan metode sendiri/ kreatifitas.

Faktor lain yang juga berkontribusi dalam ‘kaku’nya bacaan dan cara membaca seorang tarot reader adalah faktor ego yang cukup tinggi. Percaya atau tidak, sebagian tarot reader merasa lebih pintar ketimbang orang awam bahkan merasa berada diatas orang – orang umumnya dari sisi mengetahui jalan hidup seseorang. Darisitulah ada semacam ilusi bahwa dirinya adalah orang yang serba tahu dan tentu saja berakibat tidak butuh lagi pengetahuan yang baru. In short word, kebanggaan semu tersebut membuat tarot reader menjadi malas belajar.

Bagaimana kita bisa mengetahui apabila seorang tarot reader memiliki ilmu pengetahuan yang terbelakang? Cukup sederhana, apabila ketika anda baru belajar tarot dan seorang reader yang mengaku senior mewajibkan anda mengikuti metodenya dia tanpa menyertakan alasan yang kuat, atau tanpa boleh mempertanyakan sebab dibalik itu, atau dia menyatakan “metode dia sudah terbukti dan teruji paling benar”, dari situlah sudah ketahuan kalau pengetahuan dia sudah jauh tertinggal. Tarot reading merupakan suatu ilmu yang terus berkembang dari waktu ke waktu, sehingga cara pembacaannya pun memiliki banyak cara dan semua cara adalah benar.

Dan bagaimana kita bisa mengetahui seorang tarot reader memiliki pengetahuan yang bagus? Sederhana juga. Lepas dari apapun pengetahuan yang dia pelajari, dia akan membebaskan murid atau orang yang dibimbing untuk mempelajari tarot dari sumber manapun. Dia akan dengan sangat terbuka berdiskusi mengenai metode – metode yang ditemukan oleh tarot reader lain tanpa melibatkan pandangan subjektif dan tanpa merasa metodenya yang paling benar. Dan satu hal yang sangat penting, tarot reader yang kaya akan ilmu, selalu membiarkan murid/ bimbingannya untuk memacu kreatifitas individu agar menemukan cara membaca mereka sendiri yang nyaman buat diri mereka masing – masing.

Jadi, menyinggung tenkologi informasi, bisa dikatakan internet dan teknologi lainnya hanyalah sarana. Namun faktor kunci dari itu semua agar seorang tarot reader bisa semakin kaya ilmunya, adalah keinginan untuk terus belajar tanpa bosan. Layaknya anak kecil yang senang bermain setiap hari, belajar tarot pun juga merupakan sebuah permainan yang menyenangkan setiap hari.

Simpan Saat Ini, Dipakai Kemudian (Magic Article)

Artikel kali ini lebih menceritakan pengalaman gw di dunia magic (baca: persulapan dan terutama mentalism) dimana gw menemukan berbagai pelajaran hidup juga dalam berbagai pengalaman tersebut. Dan topik kali ini adalah membahas barang – barang yang tidak terpakai.

Awal2, gw ceritakan dulu kebiasaan gw dalam membeli barang yang berhubungan dengan magic. Gw sendiri termasuk orang yang sangat membatasi dalam membeli barang2 tersebut. Karena kalau mengikuti trend barang2 magic yang diliris di pasar, jangankan mengikuti semua cabang magic, mengikuti 1 bidang magic saja, sebenarnya investasinya sangat besar. Mengikuti perkembangan sulap kartu/ cardician? Entah ada berapa dvd yg diliris baik dalam bentuk fisik dan digital download yang diliris per hari nya, entah ada berapa buku yang mulai diterbitkan dan saat ini juga sudah mulai berkembang pesulap2 dari Asia juga mulai meliris buku2nya sendiri. Dan lebih hebatnya lage, kalau kalian seorang maniak main kartu, entah ada berapa deck kartu yang keluar setiap minggunya. Blom lagi deck2 yg edisi terbatas yg kalau untuk membelinya, perlu berlomba – lomba memesan di internet, mantengin laptop sampai subuh agar ketika waktu pre-order dibuka, para penyuka kartu bisa menyerbu server pesanan agar bisa mendapatkan kartu terbatas tersebut. Dan yes, server seringkali akan down karena banyaknya permintaan. Apakah hal2 seperti itu menyenangkan? Yes bagi orang yang menyukai kartu dan mengoleksinya, ada kebanggaan dan tantangan tersendiri untuk mendapatkan kartu terbatas tersebut. Tapi sekali lagi, it’s not me.

Masalahnya dalam belanja barang2 magic di diri gw sendiri adalah, meskipun gw sudah melakukan pertimbangan sematang mungkin sebelum membeli, tetap saja ketika barang datang ke tempat gw dan mencobanya, ada sebagian barang yang saat itu, dirasa belom berguna bagi gw. Sebagai catatan, pertimbangan  yg gw lakukan sebelum membeli adalah memasang mindset belanja barang yang memang, menurut gw sendiri, mendukung performance gw. Kemudian meliat dulu berbagai review di forum magic café untuk meyakinkan diri, melihat video demo nya di murphysmagic.com ataupun di youtube, sampai gw survei ke temen2 sesama magician disekitar gw.

Ketika gw menemukan kalau barang tersebut belum bermanfaat untuk gw saat itu, yg gw lakukan justru malah menyimpannya terdahulu. Ya bagi gw sayang aja kalau harus dilepas atau dijual kembali. Di satu sisi karena harganya pasti jatuh, barang2 yg gw beli sebagian besar (90%) memang barang2 magic ori yang dimana minat para magician2 di Indonesia untuk membeli barang ori masih minim. Dan karena gw sendiri belajar mentalist, maka sebagian besar barang yg gw beli adalah buku2 yg notabene berbahasa inggris. Dan para magician di Indonesia, sebagian besar, masih buta bahasa inggris (atau memang tidak mau capek2 membaca buku berbahasa inggris?).

Dan setelah gw membeli barang2 dengan ‘sensor’ yg seketat itu, bahkan 80% dari barang yg gw beli itu belum berguna dan masuk ke dalam tempat penyimpanan barang2 magic gw dengan label “belum terpakai”.

Namun lucunya adalah, seiring dengan waktu, dengan semakin banyaknya permintaan dari teman2 dan klien2 gw (yg sebagian besar adalah klien tarot) untuk bermain mentalist didepan mereka dan juga di panggung, semakin lama gw sendiri ingin mencoba pelan2 untuk memasukkan materi2 baru dalam permainan gw. Dan ketika ada tuntutan untuk permainan baru karena permintaan klien atau kasus2 khusus lainnya, disaat itulah dus dengan label “belum terpakai’ itu kembali gw buka. Gw keluarkan semua peralatan dan buku2 yg gw beli, meneliti segala kemungkinan permainan yang bisa untuk menjawab kebutuhan klien dalam menyampaikan suatu pesan, kemudian brainstorming sendirian untuk memodifikasi mainan2 yg sudah ada dalam kotak tersebut agar seusai dengan tujuan yg klien mau, dan masih banyak lagi.

The point is, kotak yg berlabel “belum terpakai” itu menjadi senjata penyelamat gw disaat permainan2 rutin gw sendiri belum bisa menjawab kebutuhan permintaan klien atau temen gw sendiri.

Sebagai contoh, ada suatu script permainan yg berkaitan dengan membuat orang lupa akan kartu yg dipilih audience dan orang yg ‘amnesia’ tersebut bisa dibuat ingat kembali akan kartu pilihannya. Script itu gw beli disekitar tahun 2011 dan langsung masuk box “belum terpakai” ketika gw membaca alur presentasi dan cara melakukan dibalik itu. Namun 1 tahun kemudian, di tahun 2012, ada klien yang membutuhkan gw untuk menunjukkan permainan mentalist dimana hanya dengan waktu 3 menit dan tidak melulu soal prediksi, bengkokin sendok, ataupun menggerakkan benda serta sedikit ada nuansa hipnotisnya. Dan disaat itulah gw mencoba kembali mengorek kotak tersebut dan melihat script yang gw beli itu. Lantas gw melatih script tersebut, melakukan modifikasi sana – sini, melakukan percobaan permainannya, dan hingga di hari H, semua berjalan lancar. Bagi yg penasaran, script tersebut ditulis oleh Patrick Redford.

Contoh lainnya, saat gw masi bingung bagaimana gw memainkan permainan mentalism dengan menggunakan kartu tarot, karena orang Indonesia pada umumnya belum mengerti seputar kartu tarot, gw kembali mengorek kotak tersebut. Dan gw menemukan 1 video dari Banacheck yang menunjukkan efek uang yg dimasukkan ke salah satu dari 4 amplop, diacak2 audience dan mentalist menemukan amplop yang berisi uang tersebut. Hebatnya lagi, Banacheck meminta participant yg mengacak – acak amplop tsb untuk memegang amplop yg berisi duit tersebut, mengeluarkan duitnya, sambil berkonsentrasi terhadap nomor seri duit tsb, dan Banacheck berhasil membaca nomor seri uang tsb tanpa melihat ke uang kertas itu ataupun participantnya.

Lucunya, dari situ gw justru mendapat ide kalau permainan tersebut bisa dimodifikasi menjadi permainan dengan kartu tarot dengan ending yg agak2 menyeramkan. Cerita dalam permainannya tentu saja juga berubah. Dari yg semula membaca keberadaan uang kertas dan ‘membaca’ nomor seri, kini menjadi cerita memanggil arwah anak kecil yg membantu gw dalam membacakan kartu tarot yg dipilih oleh participant dan diakhiri dengan munculnya tulisan menyeramkan yg ditulis oleh arwah anak kecil tersebut di kartu tarot pilihan participant.

Dari sharing ini, gw sendiri mendapatkan pelajaran yg mungkin teman2 bisa mempertimbangkan. Yaitu apabila ada barang2 yg berhubungan dengan karir anda (dalam kasus ini, dalam karir magic) ternyata belum terpakai atau belum berguna, simpan saja dulu dan tahan diri keinginan untuk membuang ataupun menjual barang itu. Kita ga akan tahu kapan waktunya barang itu menjadi berguna dan justru malah menjadi kunci keberhasilan karir kita sendiri.

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers:

%d bloggers like this: