Archive for August 23, 2013

[CTR] Survei Mengenai Pengusaha Awal

Kali ini, saya akan membahas mengenai topik yang umum antara orang yang mencoba memulai usaha dan berhasil dan orang yang belum berhasil. Standard memang kesannya, namun karena topik saya bukanlah topik motivasi, ataupun topik ala kuliah yang terlalu konseptual, saya akan membagikan keberhasilan mereka dari sisi hsil survei curhatan klien – klien saya sendiri.

Ada banyak klien saya yang juga sharing mengenai pengalaman mereka melakukan usaha, baik yang sudah tinggal melanjutkan dari orang tuanya, ataupun benar – benar memulai dari awal. Saya akan membahas untuk jangkauan topik mengenai orang yang memulai usaha dari awal dan berhasil. Dan dari hasil sharing dari klien – klien saya, ternyata memang ada beberapa hal yang cukup mengejutkan terutama mungkin sulit dimengerti secara intelektual dan terutama secara ego oleh orang – orang yang terbiasa kerja kantoran. Jadi, saya berharap dengan membaca artikel ini, terutama bagi karyawan kantoran untuk merenungkan ulang niat anda apabila ingin menjadi pengusaha.

Apa saja hal menarik dari pengusaha awal yang berhasil?

Pertama, mereka pada awalnya, sebagian besar menjalankan usaha yang mereka sukai

Simplenya, para pengusaha menjalankan usaha apapun yang memang mereka sukai. Dengan demikian, apabila mereka suka berdagang apapun dagangannya, ya mereka melakukan dengan sepenuh hati. Apabila mereka suka untuk design, mereka juga melakukan dengan senang dan antusias. Kenapa ini sangat penting bagi mereka? Karena kebanyakan klien  saya meliat yang namanya usaha adakalanya ada jatuh bangun dan moment – moment dimana mereka senang dan mereka stress. Setidaknya, segala bentuk tekanan mental akan berkurang dibandingkan yang semestinya karena mereka menikmati apa yang mereka kerjakan.

1 hal yang menjadi faktor utama, menyukai apa yang kita lakukan membuat kita mempelajari seluk – beluk bidang tersebut bukan? Selain melakukan usaha ya kita juga jadi sangat senang mempelajari seluk – beluk bidang tersebut sehingga tanpa disadar, kita terus belajar memperbaiki diri. Banyak orang yang saya lihat terjuan ke dunia usaha langsung jatuh dan menyerah di awal karena mereka berpikir semua proses kerja bisa diserahkan ke tenaga ahli tanpa si bos perlu tahu cara kerjanya. Iming – iming pengusaha bisa ongkang – ongkang kaki karena semua jalan oleh sistem yang mereka buat sendiri membuat mereka merasa tidak perlu mempelajari bidang tersebut dan tinggal mengawasi dan menikmati hasilnya saja.

Kedua, lucunya, motivasi awal seringkali bukan karena duit.

Ini yang membedakan antara pengusaha awal yang pada akhirnya berhasil dengan karyawan kantoran yang mau mencoba berusaha.

Karyawan kantoran sebagian besar pada awalnya ingin mencoba berusaha karena iming – iming dari lingkungan sekitar (which is juga orang kantoran) yang mengatakan menjadi bos bagi diri sendiri itu enak, kemudian dengan memiliki usaha perlahan – lahan duit juga akan bertambah banyak. Dan ketika usahanya sudah mapan, kita sebagai bos tinggal ongkang – ongkang kaki dan semua hal yang remeh – temeh tinggal dikerjakan oleh karyawannya. Dan yang saya lihat, orang yang motivasi awal usahanya karena kenyamanan hidup dan kemalasan, ya 100% tinggal menunggu waktu untuk bankrut.

Kenapa demikian? Karena kecenderungannya orang yang seperti ini akan mencari usaha yang sekali menjual, ya bisa dapat untung dalam jumlah besar dan menjadi perhitungan akan semuanya seperti menghitung modal awal, ongkos produksi, target balik modal, kecenderungan tidak mau merugi sama sekali, dan banyak lagi. Ini bukan berarti kita menjadi ceroboh, hanya saja ketika di awal – awal kita sudah terlalu diribetkan dengan perhitungan rumit keuangan, justru malah membuat kita menjadi banyak mengkhawatirkan hal – hal yang belum perlu dikhawatirkan dan justru tanpa disadari menjauhkan kita dari klien – klien potensial.

Sementara orang yang mencoba berusaha di awal dan berhasil akhirnya, justru ketika dilihat sebenernya karena motivasi awal adalah iseng melakukan hal yang mereka suka. Jadi dari awal mereka hanya melakukan hobi mereka yang sedikit ‘dijual’ hasilnya ke orang sekitar dengan tujuan agar orang lain menikmati hasil karya mereka tanpa mengharapkan keinginan untuk cepat mencari untung banyak. Justru ketika melakukan sesuatu dengan keinginan untuk memuaskan konsumen dan mendapat penghasilan yang wajar sesuai kebutuhan pengusahanya, malah membuat konsumen semakin senang dan ada repeat order dari mereka. Pada prakteknya, mereka sama sekali tidak memikirkan kapan mereka balik modal, sampai kapan mereka melakukan promosi terus – menerus, dan kapan brand mereka akan mapan, dan hal – hal yang belum waktunya untuk dipikirkan tersebut. Mereka hanya fokus ke pelayanan dan pelayanan ke customer sehingga usaha mereka berkembang dengan sendirinya.

Faktor ketiga adalah menerima kegagalan

Hal yang lucu saya perhatikan adalah, karyawan kantoran melihat pengusaha itu sebagai sosok yang hebat. Mereka memulai usaha sekali saja dan sudah ada perkembangan. Kemudian mengembangkan ke bisnis yang lain dengan skala lebih besar dan juga berkembang menjadi lebih hebat lagi. Orang kantoran cenderung melihat pengusaha sebagai sosok yang tidak pernah gagal dalam melakukan usahanya meskipun perjuangannya cukup keras. Memang kesannya pengusaha sukses itu sangat inspiratif.

Namun justru anggapan bawah sadar yang tersebar di masyarakat inilah yang membatasi ruang gerak orang yang baru mau memulai usaha. Mereka takut akan kegagalan sehingga ketika memulai suatu usaha, sekecil apapun, yang dipikirkan adalah bagaimana kalau tidak laku, bagaimana kalau tidak balik modal, bagaimana kalau karyawannya berbuat curang, dan lain sebagainya. Justru pikiran yang pada akhirnya membawa ke khawatiran yang tidak perlu itulah membuat pengusaha yang masih hijau semakin jauh dari keberhasilan.

Sementara orang yang sudah berhasil terjun didunia usaha, dari klien – klien saya pun mengakui ada banyak kegagalan (tidak sedikit tapi dalam jumlah kegagalan yang banyak) telah dialami. Adakalanya disuatu waktu, mereka benar – benar belum berhasil dalam melakukan usaha meskipun mereka sudah melakukan yang terbaik semampu mereka. Dan dari situlah, mereka juga banyak yang sepakat, pada akhirnya lebih ke persoalan trial and error. Dalam artian, mencoba usaha A, kalau benar – benar tidak berhasil ya coba usaha B, kalau tidak berhasil lagi ya coba usaha C, dan terus begitu sampai mereka menemukan ritme dan bidang usaha yang berhasil mereka kelola.

Keempat, mereka memisahkan anggaran untuk makan sehari – hari dengan anggaran untuk usaha

Seringkali orang yang mencoba usaha, masih mencampur adukkan amtara anggaran untuk makan sehari – hari dengan anggaran untuk modal usaha. Dan hal ini yang menjadi faktor utama suatu kegagalan usaha berujung kepada bangkrutnya orang tersebut secara keseluruhan. Mengapa demikian? Bila uang makan dicampur dengan uang usaha, maka kita menjalankan usaha dengan penuh kekhawatiran, takut barang tidak laku, takut usaha gagal, takut klien tidak sepakat dengan tawaran kita, dan masih banyak lagi. Semakin kita khawatir, justru semakin menunjukkan kalau kita butuh klien. Dan masalahnya, secara psikologis klien sudah tahu siapa yang butuh mereka dan siapa yang ‘tidak butuh’ mereka. Dan klien yang sudah tahu akan cenderung menekan pengusaha tersebut agar menjadi sangat menguntungkan bagi si kliennya.

Sedangkan pengusaha yang memisahkan budget untuk usaha dengan uang makan, justru pembawaannya lebih tenang dan objektif. Karena lebih tenang dan objektif, pengusaha bisa membedakan mana tawaran wajar dan mana yang merupakan sinyal bahwa klien hanya mencoba memanfaatkan mereka dalam artian negatif. Dan berbagai strategi bisnis pun bisa dilakukan apabila si pemilik usahanya sendiri melihat seluruh situasi dengan lebih tenang dan objektif.

Sederhananya, menggabungkan budget uang makan dengan usaha mendorong pemilik untuk ‘merendahkan diri sendiri’ yang berujung dimanfaatkan klien mereka, sementara yang memisahkan budget tersebut justru membuat klien lebih sulit bermain – main dengan tawaran si pengusaha.

Kelima dan sangat klise: Less talk, more action

Slogan tersebut kita sudah berkali – kali kita dengar dan lihat dalam berbagai variasinya terutama iklan produk rokok. Namun memang slogan ini, meskipun terbukti efektif, ternyata tidak semua orang mau menerapkannya.

Kebanyakan pengusaha baru akan berbicara apabila mereka ditanya dan mereka berbicara hal – hal yang memang perlu untuk diutarakan. Lucunya, apabila mereka menemui kegagalan, justru yang saya lihat dari klien – klien saya sendiri, mereka mengakui kesalahan mereka termasuk kekurangan mereka selama menjalankan usaha tersebut. Bahkan hebatnya lagi, mereka juga mau memaklumi dan memaafkan apabila orang lain melakukan kesalahan dan mengakuinya didepan mereka .

Berbeda dengan banyak klien yang saya temukan ketika mereka berniat mau memulai satu usaha atau masih baru menjalankan usaha. Lucunya mereka lebih banyak menyusun strategi usahanya TANPA dijalankan atau diimplementasikan. Mereka cenderung lebih banyak berbicara menunjukkan bobroknya usaha baru mereka yang disebabkan oleh karyawan mereka sendiri. Bahkan hal yang wajar seperti “usaha saya jatuh karena ada karyawan yang cuti” pun bisa menjadi pembahasan yang cukup panjang.

Sederhananya, pengusaha yang sudah berhasil dan saya temui, ternyata hanya berbicara saat diperlukan dan lebih ke melakukan tindakan serta mengakui berbagai kekeliruan diri sendiri. Sementara orang yang baru mau memulai usaha dan tidak berhasil lebih suka menyalahkan kekurangan orang lain (terutama karyawannya) ketimbang mengintropeksi diri sendiri dan mengambil pelajaran dari situ.

Masih ada banyak faktor yang bisa saya bahas disini. Namun saya melihat kelima faktor diatas sudah cukup untuk menjadi point penting yang membedakan antara orang mana yang potensi berhasilnya sangat tinggi dengan orang yang kemungkinan memang lebih baik jadi pekerja saja. Dan yang namanya usaha, bukanlah seperti kata para motivator apalage janji muluk para perekrut bisnis MLM umumnya. Menjadi pengusaha merupakan suatu pilihan hidup dengan konsekuensi yang tidak bisa dianggap remeh. Bagi yang mau melakukan usaha karena iming – iming hidup enak dan ongkang – ongkang kaki di masa tua, ya maaf saja, pikirkan kembali niat anda itu.

[CTR] When Motivator Is Seen As Sooth Sayer

CTR (Confession of Tarot Reader) merupakan tag terbaru saya atas artikel yang berisi seputar sharing, kesimpulan, solusi, dan pelajaran yang bisa diambil dari rangkuman curhatan klien – klien saya tanpa membcocorkan identitanys. Karena ini sifatnya sharing, maka tentu saja ada berbagai kenyataan – kenyataan dan solusi yang tidak nyaman/ tidak mengenakkan bagi sebagian pembaca. Oleh karena itu,saya menyarankan anda membaca artikel ini dengan objektif dan dewasa. Dan bagi yang masih meledak – ledak emosinya, saya sarankan anda tutup halaman ini dan silahkan cari artikel lain yang penuh dengan kata – kata mutiara, karena artikel ini bukan untuk anda.

“Motivation is for amateur”

– Benji Bruce, Bussiness Mentality –

 

Ada banyak klien yang juga datang ke saya untuk berkonsultasi, kemudian menceritakan permasalahannya dan meminta saya melihat solusi yang ada dengan media kartu tarot untuk sesi menggarap solusi bersama – sama. Ada klien yang akhirnya memang menerapkan solusi yang sudah disepakati bersama dan ada juga yang ternyata sama sekali tidak menerapkannya atau malas menerapkannya. Seringkali orang seperti ini datang ke saya dan mengaku bahwa dia datang ke tarot reader untuk mencari mendapat motivasi supaya semangatnya naik sehingga hidupnya bisa lebih baik lagi. Dalam hal ini, otomatis seorang tarot reader juga perlu berperan sebagai seorang motivator pribadi klien agar bisa membuat klien lebih bersemangat dalam menjalani hidup.

Hanya saja, ada sedikit kenyataan yang saya sampai sekarang belum berani untuk ngomong langsung didepan klien saya secara terang – terangan. Karena ketika saya mengatakan ini, semangat klien pasti akan turun drastis saat itu. Dan hal terburuk yang bisa tarot reader lakukan adalah membuat psikis klien semakin terpuruk disaat dia juga sedang jatuh – jatuhnya.

Kenyataan tersebut adalah bahwa motivasi, seperti apa yang orang umumnya mengerti, itu paling hanya bertahan maksimal 3 hari. Singkatnya orang akan berapi – api mendengar wejangan yang membangkitkan semangat ataupun kata – kata mutiara yang dilontarkan oleh para motivator, namun setelah itu ya paling kembali ke situasi semula yaitu situasi demotivasi.

Dengan demikian, motivasi, seperti yang orang umumnya mengerti, itu hanyalah penyemangat sementara saja. Kata – kata mutiara memang efektif untuk orang yang sedang turun mentalnya atau moralnya, namun itu hanyalah efek jangka pendek. Layaknya orang yang kelaparan secara mental, motivasi, seperti yang orang umumnya mengerti, adalah motivator memberi ikan dan mengajarkan cara membuat tongkat pancing kepada orang lapar. Ironisnya,  cara membuat tongkat pancing ikan itu terlewatkan oleh orang lapar tersebut.

Misskonsepsi Dalam Motivasi

Saya sudah menulis beberapa kali kalimat: motivasi, seperti yang orang umumnya mengerti,…

Dan saya memang sengaja menulis itu berkali – kali karena memang ada perbedaan pemahaman yang sangat besar antara motivasi yang sebenarnya dengan motivasi yang ditangkap masyarakat umumnya.

Motivasi yang dimengerti masyarakat pada umumnya adalah mendengar berbagai tips dan wejangan yang dilontarkan oleh para motivator. Tips dan wejangan ini seringkali dibungkus dengan kalimat – kalimat yang bagus (kalau tidak bisa dibilang manis) dan membuat pendengarnya merasa bersemangat setelah mendengar berbagai saran – saran dari para motivator. Namun karena bungkusan kalimatnya yang sangat bagus itu, seringkali justru masyarakat mencari motivator hanya demi merasa semangat saja, hanya demi supaya peserta merasa sangat baik dan bersemangat dari dalam dirinya.

Tentu saja para motivator itu juga menjelaskan berbagai cara yang cocok agar mencapai kesuksesan seperti dirinya; sayangnya, esensi itulah yang seringkali diabaikan oleh peserta dan lebih menikmati kata – kata mutiara. Dan kalau mendengar penceramah dengan kata – kata mutiara dan bahasa yang membawa semangat ataupun menenangkan, maaf saja….anda bukan mencari motivator, tapi mencari sooth sayer. Sooth berarti penenang atau pembuat perasaan lega, sementara sayer berarti pengucap/ penceramah. Arti soothsayer memang penceramah yang apabila didengar, harapannya bisa menenangkan batin kita sendiri. Sayangnya belum ada bahasa Indonesia yang secara spesifik memilki makna yang sama dengan soothsayer.

Motivasi yang sebenarnya

Apakah motivasi yang sebenarnya? Saya yakin para motivator juga sudah membeberkan dalam pelatihannya; namun seringkali pembeberannya itu terlewatkan oleh peserta karena bahasa yang manis tersebut. Oleh karena itu, saya akan memaparkan gambaran dasar motivasi yang sebenarnya tanpa adanya kata – kata manis.

1. Maunya apa?

Motivasi itu sendiri bermula dari, anda mau apa? Anda mau menjadi apa? Dan dari situ mulai beranjak ke pertanyaan, apa yang anda sukai? Main gitar kah? Menjual sesuatu kah? Nyanyi kah? Atau yang lainnya?

Interesting fact is, sebagian besar orang kantoran TIDAK TAHU apa yang dia sukai dan yang dia inginkan sebenarnya. Jadi ada baiknya sebelum beranjak ke tahap berikutnya, tetapkan baik – baik MAUNYA APA?

Catat jawaban anda.

2. Mengapa?

Tahap berikutnya ketika sudah mengetahui apa yang diinginkan, adalah mencari tahu MENGAPA ANDA MAU MELAKUKAN HAL ITU? Alasannya bisa macam – maca, bisa karena keluarga, bisa karena ingin berhasil secara finansial, bisa karena ketika menghibur seseorang anda suka melihat wajah penonton yang tersenyum / bahagia menikmati hiburan anda, anything will do. Just find out WHY YOU LOVE TO DO THAT even jawaban seaneh, sesilly apapun itu sudah cukup.

Yang perlu anda ketahui, faktor “mengapa” inilah yang menjadi landasan/ fondasi motivasi anda. Jadi ketika anda sudah mengenal motivasi dari dalam diri anda sendiri, anda sudah lulus tahap motivasi secara teori.

Catat lagi jawaban anda.

3. Situasi anda sekarang seperti apa?

Bagaimana situasi kerjaan/ usaha anda? Bagaimana situasi keuangan anda? Bagaimana situasi keluarga anda, dan hal – hal lain yang mendeskripsikan situasi anda secara singkat dan berkaitan dengan apa yang anda inginkan untuk lakukan. Sebagai contoh:

Mau apa? Saya seorang mentalist dan berjuang menjadi mentalist yang dikenal public tanpa meninggalkan tarot reading saya yang ternyata sangat membantu orang – orang yang butuh 2nd opinion dari seorang tarot reader.

Mengapa? Karena ketika saya berdiri diatas panggung dan menghibur audience, melihat mereka tertawa, tersenyum, dan terhibur itu saja perasaannya saya sangat menyenangkan. Segala bentuk reaksi keterkejutan mereka menjadi pengalaman yang terungkapkan berharganya.

Situasi sekarang seperti apa? Saya sudah 3 tahun profesional di mentalism dan tarot. Sudah berinvestasi sekitar 20 juta untuk semua pengetahuan – pengetahuan yang perlu saya pelajari dan akan terus bertambah. Income saya meskipun naik turun namun rata – rata sekitar 15 juta per bulannya di tahun ke-3 saya professional ini.

Saya sudah masuk TV spot 3 kali, masuk radio 5x, masuk koran sebagai berita 2 halaman 1x, media kecil 3x. Sudah pernah buka stand tarot di kampus – kampus, mall, event internal perusahaan maupun event sosial perusahaan. Selain itu saya sudah perform di café, acara corporat, acara keluarga, dan masih banyak lagi.

Gambaran diatas adalah contoh kasarnya saja dan anda bisa menulisnya sesuai dengan gaya bahasa penulisan anda sendiri. Yang penting adalah: CATAT!

4. Target anda apa ?

Tentu saja anda perlu menulis target yang perlu anda capai baik dalam tahun ini maupun tahun – tahun mendatang. Dan setiap target, namanya juga target ya perlu deadline. Dan tentu saja perlu membuat target yang memacu anda untuk lebih efektif dan aktif dalam mengejarnya. Bagaimana kalau disaat deadline target tidak tercapai? Simplenya, evaluasi kenapa tidak tercapai dan pasang deadline baru. Tidak ada target yang tidak realistis, yang ada adalah deadline yang tidak realistis.

Dan sekali lagi, anda perlu MENCATAT target anda. Karena ketika anda mencatat (dengan pen diatas kertas), pikiran anda menjadi terpacu untuk lebih fokus ke target anda. Memikirkan target tanpa mencatatnya justru akan memperkecil kemungkinan target itu tercapai dan target tersebut hanyalah menjadi harapan semu semata. Jadi, bedanya antara harapan semu dengan target adalah sesederhana itu: tidak dicatat/ dicatatnya saja.

5. Apa saja aktifitasnya?

Apabila anda sudah punya target, tentunya anda juga perlu mencatat aktifitas apa saja yang bisa anda lakukan baik jangka panjang maupun jangka pendek bahkan yang bisa anda lakukan saat ini juga. Catat berbagai aktifitas yang bisa membantu anda mencapai target yang anda tentukan sendiri dan lakukan dari hal – hal yang bisa anda lakukan sekarang ini juga.

Aktifitas riil inilah yang membedakan siapa orang yang hanya murni optimis namun hanya optimis berharap dengan orang yang optimis namun diseimbangkan dengan tindakan nyata. Orang yang hanya optimis tanpa disertai tindakan nyata, ujung – ujungnya hanya menjadi peserta langganan seminar motviasi tiap bulannya sementara orang yang optimis disertai tindakan nyata, paling – paling hanya ke seminar motivasi 1-2 kali dan setelah itu ikut pelatihan lain yang mendukung targetnya.

Motivasi Sejati Ada Dalam Diri Sendiri

Saya yakin langkah – langkah umum dan dasar yang saya uraikan diatas itu sudah sangat basi dan sering anda dengar berulang – ulang. Namun kembali saya tulis di artikel ini untuk mengingatkan pembaca kalau motviasi memang berasal dari dalam diri sendiri dan bermula dari pertanyaan sederhana, “Maunya apa?”.

Ketika kita mendapat motivasi itu dari diri sendiri, ya mau situasi disekeliling kita seburuk apapun, kita tetap bisa menjaga semangat dan mental kita supaya terus berjuang disegala situasi. That means, motivasi yang sebenarnya adalah memiliki sikap yang seimbang antara optimis dan realistis.

Sementara ketika kita justru bergantung dari motivasi orang lain (baca: dari motivator) ya paling kita hanya berteriak “HURAAAAHH!!!!” “LUAR BIASAAA!!!” “SEMANGAT!!!” “SAYA BISAA!!!” “YES I CAN DO IT!!!” dan teriakan – teriakan semangat lainnya, tapi paling hanya bertahan 3 hari dan kembali menjadi ‘orang rata – rata’ setelah itu.

Untuk menutup artikel ini saya juga memberi bocoran dari beberapa klien saya yang ternyata juga motivator:

Kebanyakan mereka di masa lalunya hanya mengikuti seminar motivasi untuk mengetahui ilmu tersebut paling hanya 1-2 kali dalam hidupnya. Sisanya mereka ikut seminar motivasi itu untuk networking saja (kenalan dengan banyak orang dan menyebar kartu nama), bukan karena mereka butuh semangat dari motivator.

Sisanya? Para motivator itu selain menerapkan ilmunya ke kehidupan mereka hingga berhasil, mereka malah membuka seminar motivasi sendiri.

Jadi, para motivator juga ikut seminar motivasi di awalnya, namun BUKAN MENJADI ‘PELANGGAN TETAP’ seminar motivasi. 😀

[CTR] Sebuah Relasi Dengan Kekerasan

CTR (Confession of Tarot Reader) merupakan tag terbaru saya atas artikel yang berisi seputar sharing, kesimpulan, solusi, dan pelajaran yang bisa diambil dari rangkuman curhatan klien – klien saya tanpa membcocorkan identitanys. Karena ini sifatnya sharing, maka tentu saja ada berbagai kenyataan – kenyataan dan solusi yang tidak nyaman/ tidak mengenakkan bagi sebagian pembaca. Oleh karena itu,saya menyarankan anda membaca artikel ini dengan objektif dan dewasa. Dan bagi yang masih meledak – ledak emosinya, saya sarankan anda tutup halaman ini dan silahkan cari artikel lain yang penuh dengan kata – kata mutiara, karena artikel ini bukan untuk anda.

 

Ada banyak wanita yang berkonsultasi ke saya dan menanyakan seputar percintaan. Dan hal yang menarik adalah, ya kira – kira sekitar 30% nya wanita tersebut mengaku mengalami kekerasan dalam relasinya baik kekerasan fisik (baca: sering digampar atau dijedukin ke tembok kepalanya) ataupun kekerasan verbal (baca: dikata-katain wanita murahan, wanita hina, wanita yang seharusnya bersyukur karena sama pasangannya, dan masih banyak lagi). Well, tentu saja ada beberapa kejadian dimana posisinya terbalik: pria yang ‘dijajah’ oleh wanita, namun kasusnya agak berbeda dan saya akan membahas itu dikemudian hari. Dan dari 30% kasus dimana seorang wanita ‘dijajah’ oleh si pria dalam hubungan pacaran ini (yes, you heard me right, masih pacaran!), SEMUA wanita merasa hanya dirinyalah yang mengalami situasi paling menyeramkan tersebut. Jadi 100% dari wanita yang kena kekerasan tersebut yakin bahwa dirinya lah yang paling menderita dan wanita lain tidak ada wanita lain yang mengalami hal tersebut selain dirinya sendiri.

 

Anomali Dalam Kekerasan

Apabila pembaca sedang di-curhat-in oleh seorang teman anda yang mengalami kasus diatas, saya yakin sepenuhnya anda akan menyarankan agar tinggalkan saja pria tersebut. Segudang alasan seperti demi kebaikan wanita itu sendiri, si pria sudah tidak bermoral, dan berbagai alasan lainnya pasti akan terlontar dari mulut anda apalagi karena status hubungannya adalah masih pacaran alias belum menikah.

Hanya saja, satu hal yang seringkali terlewatkan, seseorang menyarankan hal – hal diatas karena orang tersebut baru berpikir sebatas kalau dia berada di posisi wanita tersebut. Yes, baru sebatas berpikir KALAU dia berada di posisi si korban. It’s really different when you actually in her shoes for real.

Apabila dalam situasi riilnya dimana si wanita merasa ‘dijajah’, logikanya memang sudah meneriakkan suara – suara dikepalanya untuk segera meninggalkan pria tersebut karena memang secara logis, pria tersebut sudah keterlaluan tentunya. Namun mengapa tetap saja si wanita sangat sulit meninggalkan pria tersebut? Jawabannya adalah satu faktor utama: emosionalnya sudah terikat.

Ada kepercayaan kalau wanita lebih mengedepankan emosionalnya ketimbang logikanya; dan untuk kasus ini memang itu sangat tepat. Seringkali  ketika wanita mengalami kekerasa fisik ataupun verbal, dia mulai berpikir untuk menjadi sosok wanita yang baik dan mencoba mengarahkan prianya untuk menjadi lebih lurus dan menjadi pasangan yang baik pula. Dengan si wanitanya bersabar dan pelan – pelan mengajarkan nilai kebaikan dan kesabaran ke si pria, dia mengharapkan si prianya bisa menjadi suami yang ideal di masa mendatangnya.

Masalahnya, rencana tersebut seringkali berujung kepada kegagalan. Mengapa? Karena kesabaran si wanita –diterjemahkan- oleh pihak pria sebagai “Oh, ini wanita mau kok gue kasarin.” Atau “Ya ni wanita cinta mati kok sama gue. Mau gue apain dia juga dia nurut kok.”; meskipun secara detail saya terlalu melebih – lebihkan ‘isi pikiran pria’, namun seperti itulah ide dasarnya. Selain itu, wanita cenderung mudah percaya dengan kata – kata pria yang romantis. Dalam hal ini, sisi perasaannya akan ‘tersentuh’ ketika si pria meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Well, apakah pada kenyataannya si pria benar – benar memegang janjinya tersebut? Well, dari sekian banyak kasus klien saya yang sama, 99% si pria tidak menepati janjinya. Bahkan lebih parah lagi, si pria sudah berkali – kali membuat janji ‘palsu’ tersebut.

Kalau dibuat ringkas, beginilah alur ikatan emosional yang terjadi:

  1. Si pria melakukan kekerasan kepada wanita
  2. Si pria melakukan kekerasan (lagi)
  3. Si pria melakukan kekerasan (lagi dan lagi) à ulangi terus sampai si wanita tidak tahan
  4. Wanita tidak terima dan ancaman putus
  5. Si pria minta maaf dan berjanji tidak mengulanginya lagi
  6. Hati wanita ‘tersentuh’ dan sifat keibuannya muncul, memaafkan si pria dan bersabar
  7. Kondisi relasi kembali damai untuk beberapa saat (umumnya maksimal 1 bulan)
  8. Kembali ke kondisi nomor 1

Kondisi tersebut cenderung terjadi berulang – ulang dan tanpa terasa sudah berlalu sampai tahunan dalam suatu relasi. Mengapa bisa demikian? Kalau dalam dunia psikologis, ada istilah yang tidak populer yang disebut sebagai pigeon effect.

 

The Pigeon Effect

Ada sebuah eksperimen sederhana, dimana seekor burung yang dimasukkan kedalam sangkar akan mematuk kayu tunggangannya. Seringkali dalam eksperimen tersebut, burung mematuk kayu tunggangannya sebagai tanda dia lapar dan meminta makan. Lucunya adalah, kalau kita memberikan makan secara teratur, maka burung itu akan sangat jarang mematuk kayu. Namun apabila kita memberi makannya tidak menentu dalam artian, kita tidak memberi makan dalam jadwal yang teratur, lama – lama si burung akan mematuk kayu itu terus – menerus layaknya burung yang sudah gila.

Apa hubungannya dengan manusia? Manusia menyukai hadiah atau penghargaan. Dalam kasus ini apabila kita dipuji, disanjung, dan dihargai orang lain, maka emosi kita terangkat dan kita merasa sangat nyaman. Sementara kalau kita mengalami kekerasan, minimal kekerasa verbal, emosi kita akan merasa tidak nyaman.

Kita sebagai manusia sangat senang dihargai dan selalu berjuang untuk mendapat penghargaan dari orang lain; dan untuk itu, kita cenderung mencari tahu apa yang disukai dan tidak disukai orang lain itu. Kalau kita sudah mendapatkan ‘pola’nya, maka kita dengan mudah tahu kapan mendapat penghargaan dan penghargaan itu pun sudah dirasa tidak penting lagi bagi kita. Seperti burung yang sudah jarang mematuk kayunya karena sudah tahu kapan majikan memberi makan.

Namun ketika kita sebagai manusia, diejek atau minimal disenggol harga dirinya, minimal kita penasaran bagaimana kita bisa membuktikan ke orang yang melecehkan kita bahwa kita adalah orang yang patut diperhitungkan. Alhasil, kita cenderung penasaran, mencari penghargaan dan penerimaan dari orang lain. Situasi ini justru akan semakin mempengaruhi kita apabila orang lain tersebut TIDAK BISA DITEBAK perilakunya (alias moody) dan tanpa kita sadari, sekian tahun usia kita dihabiskan untuk mencari pengakuan dari orang lain tersebut yang datangnya tidak pasti dan tidak bisa diperkirakan. Niat kita yang mencari penghargaan itu pun berbalik menjadi kita mengalami ketergantungan emosional ke orang itu.

Kasus wanita yang terikat secara emosional meskipun mengalami kekerasan itu pun, penjelasannya secara psikis adalah seperti contoh diatas. Namun tentunya dengan skala yang lebih ekstrim. Di ucapan memang terkesan mulia karena menginginkan si pria ‘kembali ke jalan benar’, namun secara psikis ya motivasi ASLINYA adalah seperti diatas: mendapat penghargaan. Sounds weird? Yes, itulah psikis manusia. Apa yang terucap dengan isi hati terdalamnya seringkali tidak sama.

 

Dampak

Apakah ada dampaknya dari wanita yang terkena kekerasa tersebut? Tentu saja ada dan dampak yang paling terlihat adalah, tingkat percaya dirinya yang turun drastis karena pada akhirnya dia menjadi percaya akan kata – kata si pria bahwa dia bukanlah wanita yang bagus, dia bukan wanita yang bernilai, dan segala kalimat intimidasi tersebut, seakan – akan menjadi identitas wanita tersebut.

Secara jangka panjang, wanita yang terlalu lama mengalami kekerasan seperti itu, akan mengalami gangguan psikis. Contoh yang paling mudah terlihat adalah wajahnya yang terlihat sangat pucat (karena stress) dan obsesi yang tidak wajar terhadap pria yang menjadi pacarnya. Bahasa kasarnya, secara mental si wanita itu sudah menjadi budak setia si pria.

 

Solusi

Apakah ada solusi bagi wanita yang terkena kasus seperti ini? Jelas ada, namun membutuhkan waktu yang sangat beragam tergantung dengan situasi mental wanita tersebut dan dukungan dari lingkungannya.

Langkah pertama yang harus dilakukan ada meningkatkan kepercayaan dirinya dengan cara DIPAKSA. Sebagai contoh, apabila wanita ini masih kuliah, dia bisa dipaksa untuk melakukan presentasi didepan teman – temannya seperti dalam project tugas kelompok. Bisa juga dengan mengikuti latihan public speaking atau latihan lain yang bisa meningkatkan kepercayaan dirinya.

Langkah kedua, dekatkan dia dengan lingkungan pertemanan baik wanita maupun pria. Seringkali ketakutan yang muncul dari wanita seperti ini adalah, dia takut tidak ada pria lain yang menyukai dirinya. Dengan mendekatkan dia ke lingkungan yang campur (tidak hanya wanita saja), secara perlahan bisa meningkatkan kepercayaan dirinya apalagi kalau ada pria lain di lingkungan pertemanannya yang juga menyukai dia.

Langkah ketiga, apabila memang sudah benar – benar parah situasinya, si wanita perlu dipindahkan lingkungannya sehingga dia benar – benar jauh dan lebih sulit ketemu dengan si pria yang menindas tersebut. Dengan demikian, memang perlu keterlibatan orang tua ataupun sahabat dekatnya agar waktu untuk berduaan dengan si pria pacarnya ini semakin terbatas dan semakin banyak waktu si wanita bertemu dengan orang lain. Apabila si wanita sudah bekerja, akan lebih bagus kalau dia disibukkan dengan hal – hal produktif yang berkaitan dengan karirnya. Karena seringkali, setiap orang mudah melayang kemana – mana pikirannya ketika dia sedang nganggur. Bahasa kerennya, kita muda galau kalau kita lagi bengong 😀 .

Bagi wanita itu sendiri, yang perlu diketahui adalah, apabila kita berusaha melupakan pasangan, yang ada malah justru semakin ingat. Karena ketika kita berusaha melupakannya, justru pikiran kita malah berfokus kepada pasangan tersebut. Cara terampuh adalah bukannya melupakan, namun mengabaikan pikiran tersebut. Dengan demikian, kita perlu menerima kalau kita masih sayang dengan pasangan, memaafkan, dan langsung fokus ke aktiftias lain seperti pertemanan, hobi, kerjaan, dan sebagainya. Ketika fokus kita dialihkan ke hal lain, tanpa disadari perlahan – lahan emosi kita akan pulih dan bisa mencari pasangan yang lain lagi.

Apabila memang situasi mentalnya sampai sedemikian parahnya, saya sangat menyarankan untuk dibawa ke psikolog dan mendapat terapi yang bisa menyembuhkan gangguan psikisnya.

 

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers:

%d bloggers like this: