Archive for April 14, 2014

[CTR Draft #1] Apa sebenarnya mata ke-3, intuisi, indera ke-6 atau apapun namanya?

notes: CTR Draft adalah sebagian naskah dari buku yang gw tulis perlahan – lahan dan mencicil: Confession of Tarot Reader. Sehingga ketika buku itu terbit, ya anda akan melihat tulisan ini ditambah dengan insight2 baru yg tidak ada di web gw. 

Apa sebenarnya mata ke-3, intuisi, indera ke-6 atau apapun namanya?

Pembahasan pertama akan saya bahas seputar apa yang orang sebut cakra mata ke-3, intuisi, indera ke-6 atau bakat (gift) atau apapun namanya. Lucunya adalah, masyarakat memberikan label/ nama yang berbeda – beda akan kemampuan unik tersebut namun ketika kita melihat secara langsung, ya sama saja ternyata. So, is it real or no? Saya berani menjawab, YES! It’s real! It exist! Masalahnya, keberadaan kemampuan tersebut BUKAN SEPERTI YANG ORANG MENGERTI UMUMNYA.

You see? Semua itu berakar kepada 1 hal: kerja otak. Simplenya, otak manusia selalu belajar dari pengalaman sehari – hari, baik dari pengalaman yang ‘dipelajari’ dari buku – buku, maupun pengalaman yang benar – benar dialami sendiri oleh orang tersebut. Nah, pengalaman yang terkumpul tersebut diolah di otak kita dan jadilah di otak kita terdapat seperangkat pengambilan keputusan dan penilaian yang kita sering menamainya sebagai intuisi.

Contoh sederhananya, taruhlah misalnya diri anda saat ini sama sekali tidak tahu caranya memasak dan anda ingin belajar bagaimana memasak nasi goreng. Pada awal proses belajar, anda akan sangat kesulitan memasak nasi dan memotong bahan – bahan pelengkap untuk nasi gorengnya bukan? Namun dengan usaha keras anda dan latihan secara konsisten, akhirnya anda bisa dengan mudahnya memasak nasi goreng. Asumsi anda setiap hari berlatih masak nasi goreng dari 0, maka dalam waktu 2 minggu, anda sudah menjadi sangat lancar dalam memasak 1 JENIS NASI GORENG.

Apakah anda hanya puas sampai disitu? Tentu saja tidak! Anda bisa mencoba untuk belajar berbagai macam nasi goreng lainnya. Ada nasi goreng yang pakai kecap dan ada yang tidak. Ada yang memakai bahan kari, bawang, cream, dan bahan – bahan khas lainnya. Dan apabila anda berlatih extra lagi selama 2 minggu, maka anda bisa membuat bermacam – macam jenis nasi goreng. Jadilah anda seorang MASTER NASI GORENG! Keren bukan?

Oh, tapi itu belum cukup! Anda masih ingin berlatih lagi dan mulai membuat kreasi nasi goreng terenak menurut anda! Well…, yang namanya belajar memang tidak ada habisnya. Namun seiring dengan waktu setelah 4 minggu itu (2 minggu untuk belajar 1 jenis nasi goreng tambah 2 minggu untuk belajar berbagai jenis nasi goreng), anda memiliki kemampuan ekstra yang tidak anda sadari.

Kemampuan itu adalah, apabila anda melihat nasi goreng buatan orang lain, hanya dengan mencicipinya saja, anda bisa menilai nasi goreng mana yang enak dan yang tidak enak, yang benar – benar dimasak dan setengah matang, bahkan sampai bumbu apa saja yang digunakan. Ajaibnya, anda bisa menilai dan menganalisa bumbu – bumbu dan bahan yang digunakan TANPA MELIHAT PROSES MEMASAKNYA. Apabila anda berlatih secara konsisten kembali, jangankan mencicipi nasi goreng, hanya dengan mengendus baunya saja anda bisa mendapat bayangan bumbu yang digunakan apa saja.

Jadi apakah sebenarnya dari yang orang bilang intuisi atau indera ke-6 atau apapun namanya itu? Sederhananya, itu adalah kemampuan kerja otak kita dalam menilai dan menganalisa suatu hal dengan sangat cepat dan hanya dengan informasi yang sangat minim. Sama seperti dokter yang bisa memberi diagnosa awal penyakit seorang pasien hanya dengan bantuan alat seadanya (stetoscope) atau bahkan dengan menggunakan deteksi tangannya si dokter sendiri.

Peramal juga demikian. Umumnya mereka mengkombinasikan antara intuisi yang mereka miliki dengan media yang dipakai. Umumnya media ramal yang dipakai adalah kartu tarot, bola kristal, tulisan tangan, kartu remi, dan masih banyak lagi alat yang bisa digunakan. Hanya saja, apapun alatnya, tetap faktor intuisi peramal yang berperan penting. Apa yang dianalisa oleh intuisi peramal? Bermacam – macam, mulai dari cerita si klien (saya sendiri selalu meminta klien menceritakan masalahnya), profil wajah si klien, cara dia berpakaian, dan masih banyak faktor lagi yang apabila kalau kita analisa seluruhnya, maka kita bisa membuat 1 buku tebal skripsi untuk 1 orang klien. Namun karena kerja otak kita yang luar biasa, informasi akan klien didepan mata bisa diolah sedemikian cepatnya sehingga kita bisa memberikan analisa akan kasus klien dan solusinya.

Apakah Intuisi Adalah Sesuatu Yang Sempurna?

Pertanyaan ini sangat sering saya jumpai di orang – orang awam yang mempertanyakan keabsahan intuisi. Saya mengerti apabila saya menjawab bahwa intuisi manusia itu sempurna atau pasti benar, maka saya memberi keyakinan kepada orang – orang yang bertanya itu akan sesuatu yang bisa mereka pegang sepanjang waktu. Bahasa kasarnya, mereka menemukan suatu kebenaran absolut seperti yang seringkali dijanjikan oleh para pemuka agama di setiap agama. Ya namanya juga manusia memang ada kecenderungan untuk mencari sesuatu yang pasti – pasti saja bukan?

Namun sayangnya, seperti produk manusia umumnya, intuisi tidak 100% sempurna karena berbagai hal.

Ciri Khas Intuisi

Seperti yang saya bahas diatas, intuisi adalah kumpulan pengalaman yang dialami oleh seseorang dan diproses di otak menjadi seperangkat alur analisa. Nah, karena pengalaman setiap orang berbeda – beda, maka tentu saja intuisi setiap orang juga memiliki keunikannya sendiri.

Sebagai contoh, apabila si A besar dengan menjalankan bisnis seputar fashion, maka intuisi si A menjadi sangat berkembang di hal yang berhubungan dengan fashion. Si A akan tahu dan bisa memprediksi/ meramal, pakaian seperti apa yang akan ngetrend 1 tahun kedepan dan pakaian mana yang hanya sebentar ngetrend nya.

Begitu juga dengan si B, apabila B dibesarkan dengan pekerjaan sebagai pengacara, maka tentunya si B ketika bertemu dengan klien pertama kali dan mendengar sekilas kasus klien tersebut, maka si B sudah akan mendapat gambaran umumnya bagaimana kasus si klien akan mengalir, apa saya halangan yang perlu dilalui dan apa yang bisa klien berikan ke si B apabila B memenangi perkara tersebut.

Simplenya, intuisi seseorang akan berkembang SESUAI DENGAN BIDANG YANG DIKERJAKAN SEHARI – HARI. Sehingga orang yang berprofesi sebagai pengacara sudah dipastikan memiliki intuisi yang bagus dalam bidang hukum. Orang yang berprofesi sebagai fashion consultant memiliki intuisi yang bagus di bidang fashion.

Kelemahan Intuisi

Karena memang intuisi seseorang berkembang sesuai dengan semakin banyaknya pengalaman, maka ciri khas tersebut juga sekaligus menjadi kelemahan dari intuisi.

Sederhananya, apabila seseorang menjadi pengacara dan intuisi di bidang hukum menjadi sangat kuat, maka belum tentu dia memiliki intuisi yang bagus di bidang lain seperti intuisi fotografi misalnya atau intuisi bidang dagang misalnya. Simplenya, kekurangan dari intuisi adalah apa yang TIDAK DIPELAJARI oleh orang tersebut.

Oleh karena itulah, seorang peramal apabila memiliki latar belakang arsitek, dia bisa memberikan solusi yang lebih mengena untuk klien – klien yang juga arsitek. Apabila seorang peramal memiliki latar belakang koki masak, dia bisa memberikan solusi yang lebih jitu untuk klien – klien yang juga seorang chef dan begitu seterusnya.

Implikasi lainnya adalah, apabila ada klien yang menanyakan suatu hal yang tidak dikuasi oleh si peramal, maka tentu saja peramal terbatas hanya bisa memberikan gambaran dan solusi umum mengenai pertanyaan klien tersebut. Apabila itu terjadi, ya memang tugas klien yang menterjemahkan solusi dari seorang peramal untuk di ‘break down’ menjadi langkah – langkah yang konkrit.

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers:

%d bloggers like this: