Archive for May 26, 2014

[CTR] Belajar Bersama Klien

Tulisan ini terinspirasi dari event Tarot Challenge di Mall of Indonesia yang diselenggarakan pada 25 Mei 2014 yang lalu. Ketika itu, saya hanya masuk 8 besar dari sebuah kompetisi tarot tingkat nasional dan disaat tahap 3 besar, kami semua bisa menyaksikan berbagai pertanyaan yang ditanyakan oleh para juri.

Dari pertanyaan tersebut, ada 1 pertanyaan yang cukup unik yang diajukan ke 3 besar kontestan…

 

“Misalnya, dirimu sudah menikah. Kemudian rumah tanggamu juga berada di ambang kehancuran karena 1 dan lain hal. Dan hari ini, ketika dirimu sebagai tarot reader sedang mengkonsultasikan klien dan ternyata klien juga mengalami masalah yang sama saat ini. Apa yang akan kamu lakukan?”

 

Saya sendiri sering berada di situasi yang mirip seperti itu. Meskipun saat artikel ini ditulis, saya masih single, hanya saja setiap kali saya mengalami masalah hidup dalam bidang apapun seperti pekerjaan, keuangan, percintaan, orang tua, dan lain sebagainya, apabila masalahnya cukup pelik, lucunya selalu dibarengi dengan adanya klien yang memiliki situasi masalah yang sama dan bertanya kepada saya solusinya seperti apa.

Dan dari situ, saya mulai bercermin. Ketika diri saya yang dulu menghadapi hal seperti itu, ya saya dipastikan hanya akan membaca tarot, memberikan gambaran situasi yang ada dan berikut solusinya and that’s it. Namun saat ini, saya melihat ada suatu hal yang unik dari pole kejadian seperti itu. Well…, thanks ke Paulo Coelho yang sudah menulis buku The Alchemist dan Witch of Portobelo; karena saya terinspirasi juga dari sana.

Sebuah Becandaan Yang Rese

Saya juga teringat dengan perilaku klien – klien dan teman – teman saya, dimana ketika seseorang sedang dilanda masalah, tentunya hal pertama yang disaranin adalah selalu berdoa meminta petunjuk-Nya. Wah, kalo bagian ini sih, karena berdoa adalah hal yang sangat mudah, kebanyakan orang memang pasti akan melakukannya dengan senang hati.

Jadilah ketika seseorang terkena masalah, dia memanjatkan doa dan minta orang lain disekitarnya juga untuk membantu doanya agar yang Atas, Tuhan, Semesta, Allah, apapun sebutannya membereskan masalah tersebut. Hanya saja, seperti yang kita ketahui bersama, Tuhan sangat jarang sekali membereskan masalah kita. Yang ada palingan Tuhan ngasi tanda atau mengarahkan kita bagaimana caranya menyelesaikan masalah kita.

Dan dalam kasus ini, diri saya sebagai tarot reader, ketika mendapat masalah ya pola nya adalah saya selalu didatangi klien yang juga mengalami masalah yang sama. Dan dalam hati saya selalu bilang, “Wah, yang Atas becanda neh!”. Dan yes, yang Atas suka becanda dan becandanya mayan lebay bahkan sampe menjurus ke becandaan yang rese.

Tarot Reader Yang Belajar Bersama Klien

Dan ketika seorang tarot reader berada disituasi seperti itu, bagaimana sikap seorang tarot reader? Tarot reader umumnya, akan melakukan hal yang sama seperti yang saya lakukan di atas. Bacain, ngasi solusi, and that’s it. Kenapa demikian? Ada semacam tuntutan dalam diri kalau seorang tarot reader harus terlihat ‘lebih baik’ daripada klien atau terlihat ‘lebih hebat’ daripada klien tersebut. Para tarot reader banyak yang beralasan karena kita ini dibayar klien secara professional, maka kita harus memasang ‘pola pikir kita tahu segalanya’.

Hanya saja, terinspirasi dari buku Paulo Coelho diatas, saya melihat itu justru cara Tuhan memberi arahan kepada diri saya dan orang lain mengenai bagaimana mencari solusi yang baik. Kok bisa begitu?

Simplenya adalah ketika klien datang ke kita dengan masalah yang sangat mirip, kita berusaha mencari solusi dan akar masalah dengan saran kartu tarot seobjektif mungkin. Selanjutnya kita pasti akan berdiskusi dengan klien, mendengarkan curhatan klien, dan kita terus bertukar pikiran dengan klien akan berbagai solusi yang ada dan solusi seperti apa yang akan dilakukan oleh klien.  Kita fokus ke klien sampai si klien mengucapkan terima kasih dan membayar kita dan berkata “Sampai ketemu lagi”.

Bedanya adalah, setelah konsultasi tersebut, anda mencari buku catatan, mencatat gambaran situasi klien, dan berikut berbagai tebaran yang keluar dan hasil pembacaan anda tadi. Setelah selesai menulis semua yang diingat, bercerminlah dengan situasi diri sendiri. Bagian mana saja yang mirip dan solusi apa yang anda sarankan ke klien tadi.

And the tricky part is…

 

Solusi yang anda berikan ke klien, anda juga harus melakukannya ke diri sendiri.

 

 

Ya karena seperti yang tertulis di buku Witch of Portobelo, ketika kita menjadi seorang guru, sebenarnya kita bukan menjadi sosok yang diatas muridnya. Kita justru mengajarkan ke murid apa yang tidak kita ketahui dan dengan demikian kita juga belajar bersama sang murid. Dan ketika si murid sudah mendapatkan berbagai ilmu baru, begitu juga sang guru mendapat ilmunya sendiri dari proses mengajar sang murid.

Dan terinspirasi dari The Alchemist, kalau Tuhan memberikan jawabannya dari berbagai tanda alam, maka mungkin…mungkin loh yah, ini adalah cara Tuhan/ Semesta/ Allah, apapun namanya, dalam mendidik kita untuk menyelesaikan masalah diri kita sendiri.

Apakah Tujuan Anda Bermain Sulap?

Tulisan ini merupakan sebuah tanggapan atas politik yang terjadi didunia sulap dan gw rasa juga berguna untuk orang awam yg berkarir di bidangnya masing2. Tidak dimaksudkan untuk menyinggung siapapun; hanya saja apabila yg membaca ini merasa tersinggung, silahkan anda lihat kembali tujuan anda main sulap.

Mulai dari jaman reality show The Master dan The Next Mentalist beberapa waktu lalu, gw menemukan fenomena unik. Dimana ketika reality show tersebut muncul, mulailah berbagai suara sumbang dan komplain akan dunia sulap Indonesia bermunculan. Entah mengatakan dunia sulap di Indonesia sudah hancur, sudah sekarat, tidak tertolong, dan lain sebagainya. Lucunya lagi, ketika reality show tersebut berakhir, semua suara sumbang pun juga berkurang. Well…., gw rasa suara sumbang juga ujung2nya cuma ikut trend.

Tidak hanya itu, didunia sulap pun gw melihat perpolitikan yang cukup sadis gw rasa. Misalnya A yang awalnya sahabat sama si B, kemudian berkumpul dengan teman2 lain yang 1 hobi dan membentuk suatu komunitas dan berkembang. Seiring dengan perkembangannya, A mengalami konflik dengan si B dan mulailah saling mencari kubu atau memihak sehingga komunitas tersebut terpecah.

Atau misalnya A dan B ini adalah seorang pria yang bersahabat. Mereka juga mengumpulkan teman2nya dan membentuk suatu komunitas. Karena suatu hal, A dan B menyukai wanita yang sama dan terjadilah konflik yang berujung kepada komunitas professional tersebut bubar dan seluruh anggotanya terkena imbasnya. It happends hampir di seluruh kota di Indonesia, suatu komunitas sulap bisa bubar karena mencampur adukkan masalah pribadi ke ranah kelompok dan professional.

Atau misalnya lagi, si A merasa senior sementara si B  lebih junior. B bekerja dengan kerasnya dan si A karena egonya, tidak mau menerima perkembangan si B. Jadilah A menggunakan segala cara untuk merusak karir si B.

Dan masih ada banyak lagi contoh lainnya yang dimana gw melihat ‘politik’ didunia sulap juga sama kejamnya dengan politik bidang lain seperti negarawan, hukum, kedokteran, dll. Apa yang hari ini menjadi teman, beberapa tahun kemudian bisa dianggap musuh bebuyutan dan begitu juga sebaliknya.

Dan disaat itu pula, para magician2 baru juga ada yang bertanya kepada gw yg intinya,

“Kok para pesulap2 senior pada setajam itu komentarnya yah?”

“Kok para pesulap2 yg katanya senior tapi selalu komplain dan mengeluh soal dunia sulap Indonesia yah? Jadi capek dengernya lama2.”

“Kok para pesulap di grup itu kerjaannya debat mulu yah?”

Dan masih banyak lagi…

Dan ketika gw dihadapi dengan pertanyaan itu…., gw menanyakan 2 hal….

Hal pertama adalah, “Apa tujuan anda main sulap?”

Hal kedua adalah, “Apa lawannya dari kata –cinta-?”

Apa Tujuan Anda Main Sulap?

Ketika saya menanyakan pertanyaan diatas, sebagian besar pesulap2 yg baru belajar rata2 menjawab 1 dari beberapa kemungkinan jawaban dibawah ini:

  1. Menghibur orang lain
  2. Menggaet lawan jenis
  3. Suka aja dengan sulap

Dan setelah itu, gw selalu menyarankan, apapun tujuan awalnya, tetap konsisten di tujuan tersebut sampai benar – benar terwujud. Dalam artian, apabila memang tujuannya main sulap adalah menghibur orang lain, ya konsentrasilah dengan banyak menghibur. Ketika tujuannya untuk gebet orang, fokuslah sampai gebetan bisa anda dapatkan karena permainan sulap anda. Dan ketika merasa ga jelas dan murni suka aja main sulap, ya lakukan karena anda suka dengan sulap.

Percaya atau tidak, tujuan awal kita main sulap ya ga jauh2 awalnya dari 3 hal diatas. Nah…, seiring dengan kita mulai belajar banyak soal sulap, barulah kita melihat kalau seorang pesulap itu keliatan keren didepan mata orang awam (yg dimana hanya 10% pesulap yg beneran keliatan keren, dan sisanya keliatan SOK KEREN TAPI MENTAL KERE). Setelah kita berlatih dan memperagakan berbagai permainan sulap kita ke orang awam, barulah kita merasa seakan – akan kita lebih baik dibandingkan orang awam tersebut (yang dimana sebagian besar itu hanya ilusi ego semata).

Lucunya, seiring dengan naiknya ego kita sebagai pesulap, tanpa sadar kita mulai menginginkan lebih. Pesulap mulai ada keinginan untuk masuk TV, mulai ada keinginan untuk masuk media, mulai ada keinginan untuk dikenal khalayak ramai, mulai ada keinginan untuk mapan secara finansial, dan lain sebagainya. Which is, it’s a good thing.

Hanya saja, para pesulap itu menjadi lupa, kalau tujuan awalnya adalah menghibur orang ataupun ya memang karena suka main sulap. Mereka sering lupa kalau media seperti TV, media cetak, internet, dan lain sebagainya adalah SARANA untuk meningkatkan karir mereka didunia sulap. Saking tingginya ego seorang pesulap, mereka lupa dan menjadikan semula yang merupakan saran, kini menjadi tujuan dari karir mereka.

Dengan demikian, tujuan mereka dari yang semula bermain sulap adalah untuk menghibur, kini bergeser tujuannya agar bisa masuk TV, agar terkenal, agar menjadi selebriti, dan lain sebagainya. Dan ketika SUATU SARANA BERGESER MENJADI TUJUAN, mulailah terjadi iri, sirik, dengki, dan berbagai keluhan2 seperti “Turut berduka atas hancurnya dunia sulap Indonesia.”; meskipun kata hati yang jujur adalah “Turut berduka karena saya ga masuk TV Indonesia”. Dan ketika itu semua bergeser, lucunya ada saja karir pesulap tersebut menjadi mandeg alias stagnan.

That’s why gw selalu bilang ke teman2 yg baru belajar sulap, “Apa tujuan dirimu main sulap?” Kalau sudah ketemu, sebisa mungkin konsisten dengan tujuan itu. TV, dan media lainnya adalah sarana dan bonus, termasuk dalam hal finansial. Kalau anda rajin main dan menghibur orang lain dan menggunakan media2 yg tersedia didepan anda sebagai sarana promo anda, talent2 scout pasti menemukan anda kok. Minimal untuk show offair, sepanjang anda terus mempromosikan diri anda dengan segala media yg tersedia didepan anda, anda pasti mendapat banyak job kok untuk mencukupi kebutuhan anda. Apa saja media yg tersedia didepan anda? Internet, komputer untuk buat portfolio, kamera untuk dokumentasi, kartu nama, dll….semua bisa didapat dan tinggal kreatifitas dan kerajinan anda yg diuji.

Politik di dunia sulap? Anggap itu sebagai dinamika alias konsekuensi dari karir sulap anda saja. Ingat, tujuan awal dari anda main sulap itu apa? Bukan untuk menjadi raja di perpolitikan sulap bukan? Politik terasa benar2 kejam karena anda dengan sadar dan sengaja melibatkan diri dalam perpolitikan tersebut. Dan politik hanya akan menjadi sekedar dinamika dunia sulap belaka ketika anda tetap fokus di tujuan anda main sulap.

Apa Lawan Dari Kata –Cinta- ?

Pertanyaan kedua ini gw ajukan karena gw sering mendapat curhat dari pesulap2 yang merasa masih junior yg mengeluh kenapa banyak pesulap2 senior yg suka debat kusir. Dan jawabannya, bisa kita tebak, 100% orang akan menjawab lawannya cinta adalah benci.

Well…., secara bahasa Indonesia itu memang benar.

Tapi ditinjau dari sudut pandang psikologis, cinta dan benci adalah hal yang sama. Anda membenci seseorang lawan jenis, anda mengata2in si dia, anda menggosipin si dia di belakang, bahkan anda sering memarahi dia, dll, JUSTRU PADA AKHIRNYA MALAH ANDA MERID SAMA DIA. Atau minimal mala macarin tu orang bukan? Sebagian besar orang bilang cinta dan benci emang setipis kertas bedanya,…. Well for me love or hate is the same thing.

Jadi secara psikologis, apa lawannya cinta?

The opposite of love is indifferent.

Artinya adalah, lawan dari cinta adalah TIDAK PEDULI alias CUEK alias BODO AMAT.

Dari situlah, gw menyarankan ke temen2 gw yg jenuh sama debat kusir para pesulap itu, lebih baik cuekin aja dan ga usa dipeduliin. Kalau suatu grup sulap menganggu karena banyak debat kusirnya, lebih baik keluar saja dari tu grup dan anda fokus ke menghibur orang lain dengan sulap.

Mereka suka berdebat kusir karena secara kejiwaan memang mereka CINTA DEBAT KUSIR. Jadi apabila anda mengambil sikap ga suka / benci debat kusir, percaya deh…ujung2nya anda malah ikut2an debat kusir dan juga kepancing. Best course is, biarkan si tukang debat berada didunia debat kusirnya dan anda berada didunia anda sendiri: menghibur orang lain dengan sulap.

Is it easy to be indifferent? no it’s not. Tapi percaya deh, kalau uda bisa menjadi cuek akan debat kusir, hidup lebih nyaman dan bahagia, kejiwaan lebih stabil dan anda bisa fokus di karir sulap anda. Banyak yang sudah melakukan sikap diatas (sikap cuek tersebut) dan terbukti menghasilkan berbagai karya sulap yang sangat menghibur penontonnya sekaligus mengundang iri para pesulap2 senior yang ga mampu menandingi reputasi orang tersebut.

Mengapa Para Pesulap Lebih Sulit Untuk Belajar Tarot?

Tulisan ini gw maksudkan lebih sebagai referensi kepada orang – orang yang berminat belajar tarot namun memiliki latar belakang sebagai pesulap pada awalnya. Dan sesuai judulnya, emang gw menemukan para tarot reader yang backgroundnya pesulap, suka bingung mengapa ada tarot reader yang bacaannya lebih tepat dibandingkan para pesulap. Mengapa ada banyak tarot reader yang dianggap ‘menipu diri sendiri’ oleh para pesulap, justru lebih bisa membuat klien terpukau.

Mungkin ketika kalian membaca tulisan ini, kesannya gw menjadi menggeneralisir. Yes, memang terkesan menggeneralisir,…hanya saja tujuannya lebih untuk memberikan ide atas apa yang terjadi oleh para pesulap yang belajar baca tarot.

Well, kalau diamati, memang ada 1 rahasia yang kalaupun para pesulap tahu, belum tentu akan memperbaikinya. 1 rahasia dimana para tarot reader umumnya memang menguasai itu setelah sekian lama, sementara para pesulap belum tentu bisa menguasai hal tersebut.

Rahasia itu adalah: EMPATI.

Mengapa saya bisa mengatakan pesulap lebih sulit menerapkan empati? Berikut beberapa faktornya.

Pola Pikir Pesulap: semuanya adalah cold reading

Gw sendiri membaca tarot dengan pendekatan psikologi; dimana gw membaca situasi klien, gambaran kedepan, maupun solusi yang ada berdasarkan simbol – simbol yang tertera di kartu tarot sebagai sarana nya. Alhasil, ketika ada informasi yg gw tidak tahu, gw bertanya langsung ke klien dan klien pun dengan santainya, memberitahukan informasi tersebut. Toh, tujuan dari konsultasi tarot adalah bersama – sama mencari dan mendiskusikan solusi.

Hal ini sangat berbeda apabila pesulap yang baru mulai belajar kartu tarot. Orientasi para pesulap umumnya adalah agar menjadi tarot reader seperti di tv ataupun event2 yg menunjukkan kehebatan si tarot reader. Dan di kalangan pesulap, beredar semacam mekanisme manipulasi psikologis yang kita sebut sebagai cold reading dan hot reading.

Dua metode tersebut merupakan metode manipulasi psikologis dengan tujuan mendapatkan informasi yang dibutuhkan tanpa klien sadari. Tujuan dari hot dan cold reading pada awalnya, tentu saja agar kita para tarot reader ataupun psikolog umumnya, mampu memberikan solusi yang efektif dan mendiskusikan berbagai metode terapi yang cocok untuk klien.

Hanya saja, dua metode ini menjadi menyimpang penggunaannya dikalangan pesulap umumnya. Mereka menggunakan metode ini sebagai ajang pamer kehebatan mereka seakan – akan mereka adalah dukun atau orang yang bisa baca pikiran. Alhasil, jadilah para pemakai hot dan cold reading yang amatir itu menjadikan kemampuan (yang baru dipelajari) tersebut sebagai ajang tebak – tebakan antara pembaca dengan kliennya.

Dan tentu saja ketika ini menjadi ajang tebak – tebakan. Ketika tebakannya benar, klien akan kagum dengan bacaan tersebut. Ketika tebakannya salah, klien langsung tidak simpati, menutup diri, dan dengan segala cara mempertahankan pendapatnya. Dan ujung – ujungnya, ya tidak ada solusi yang didapat dan klien pergi dengan muka masam.

Terbiasa cold reading = bacaan menjadi tidak ada empatinya

1 hal lagi point penting yang juga sering dilewatkan adalah, banyak klien mencari tarot reader itu adalah untuk curhat sebenarnya. Kenapa curhat ke tarot reader? Karena tarot reader dianggap sebagai orang yang netral terhadap suatu permasalahan. Selain itu, karena klien menganggap curhat ke tarot reader sebagai curhat ke orang yang tidak dikenal, maka klien merasa tidak perlu khawatir apabila curhatannya bocor ke orang lain. Dengan kata lain, klien memakai jasa tarot reader itu lebih karena ingin waktu menuangkan isi hatinya; sementara bacaan tarot itu adalah prioritas no.2 nya.

Sementara pesulap yang umumnya sudah terlanjur berpola pikir skeptis seperti “Tarot hanyalah permainan kartu yang dibungkus dalam kegiatan ramal – meramal” atau terlanjur menganggap “Tarot nya ga penting, yang penting pembacanya bisa menebak banyak yang bener dengan segala metode.”, maka bisa dipastikan, pembaca seperti ini tidak memiliki empati dalam membacakan klien.

Bagaimana ciri – cirinya: sederhananya, ketika klien mengecap anda sok tahu itulah anda telah mendapat cap sebagai orang yang tidak punya empati.

Bagaimana ciri – ciri yang lain dari tidak ada empati? Ketika klien menjadi merasa ingin buru – buru meninggalkan konsultasi, ketika klien menjadi sangat gelisah dan memalingkan muka. Maka disaat itu juga ada semacam indikasi anda tidak punya empati saat membacakannya.

Dan apa ciri – ciri paling keliatan kalau kebanyakan tarot reader tidak memiliki empati? Adalah ketika image tarot reader menjadi sangat buruk bahkan dianggap menyeramkan itulah yang menjadi tanda bahwa sebagian besar tarot reader di Indonesia sangat kurang empatinya dan hanya sekedar pamer kemampuan saja.

1 Wejangan untuk orang yang terbiasa hot dan cold reading

Ada beberapa pesulap yang bertanya kepada gw, bagaimana cara belajar tarot yang baik? Dan apakah buku – buku yang bagus untuk menjadi tarot reader?

Maka gw selalu mengatakan, ketika mulai belajar tarot, singkirkan dahulu segala konsep hot reading dan cold reading. Singkirkan dulu semua buku yang membahas seputar tarot untuk hiburan dan pertunjukkan (yang biasanya ada di kategori buku sulap).

Dan setelah itu, gw selalu mengatakan untuk mulai belajar kartu tarot sebagai kartu tarot. Mulai dari cara membacanya, berbagai pendekatan yang digunakan, dinamika klien, sampai sejarahnya apabila emang beneran minat.

In short word….kalau mau belajar tarot, belajarlah sebagai tarot reader beneran, dan bukan sebagai magician.

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers:

%d bloggers like this: