Archive for October 27, 2014

[Magic Article] Tips For Showmanship: F*CK The Verbal Details!

Inspirasi ini gw dapatkan ketika gw melakukan Friday Tarot Time di Puri Indah Jumat lalu (24 Oktober 2014), dimana ketika gw berbicara dengan teman2 gw yg saat itu lebih banyak pesulapnya, dan melihat berbagai post di FB, gw menemukan 1 hal lucu dari magician2 yang bisa dikatakan (sori banget) masih pemula…

Sebagian besar magician pemula terlalu ‘meributkan’ detail.

 

Contohnya? Kira2 seperti ini….

“Saya punya 1 pack kartu dan berbeda – beda semuanya.”

“Saya punya 1 kantong kosong.”

“Kita belum kenal sebelumnya betul? Siapa nama anda?”

 

Dan lucunya, baik ketika seseorang melakukan table hopping magic (yg sekarang istilahnya berkembang menjadi street magic), ataupun ketika berada di panggung, kebanyakan magician yg jam terbang nya masih sangat minim, justru sangat overdetail mendeskripsikan permainannya, banyak yg mengucapkan kalau kartu nya berbeda – beda, kantongnya kosong, anda yang mengocok dan semua disebutkan secara verbal atau melalui kata2.

Well…, karena gw sendiri adalah seorang mentalist, maka gw justru mempelajari kalau participant mendapat dan menangkap pesan dari apa yang ingin kita sampaikan, justru tidak hanya dari suara, namun dari gerak badan/ gestur, dan dari perawakan kita alias dari visual juga. Terlalu menekankan 1 sisi dalam mengkomunikasikan pesan kita justru menunjukkan kalau kita berada di posisi tidak nyaman.

Dalam konteks ini, apabila seorang magician banyak -mengatakan/ mengucapkan- kalau A ini kosong, B ini sudah acak, belum kenal sebelumnya, dll, justru sang magician sendiri sangat menekankan sisi verbalnya dan itu menunjukkan dia berada di posisi sedang tidak nyaman/ gelisah.

Dan orang yang sedang merasa GELISAH tersebut, di mata orang awam menunjukkan orang tersebut sedang BERBOHONG.

 

Tidak percaya? Silahkan lihat berbagai serial TV, ketika ada adegan seseorang sedang menutupi sesuatu, sang sutradara dengan sengaja menyuruh aktor ber acting gelisah bukan? Memang karena ketika seseorang sedang berbohong/ menutupi sesuatu, seseorang cenderung gelisah dan TERLALU BANYAK BICARA akan DETAIL.

Bagaimana Sebaiknya?

Kalau dari jam terbang gw sendiri, dalam mengkomunikasikan sesuatu, tidak harus selalu menterjemahkannya dengan bahasa verbal saja, namun diseimbangkan dengan aktifitas lain. Sebagai contoh…

Saya punya 1 pack kartu dan berbeda – beda semuanya.”

Bagian ini bisa diganti misalnya menjadi…

 

“Kita gunakan kartu ini” <sambil mengeluarkan 1 pack kartu>

“Mau di kocok?” <sambil menyodorkan 1 pack kartu ke participant, mau dia mengocok atau tidak, tidak masalah juga kok.>

 

<Kemudian, ambil 1 kartu secara acak dan tunjukan ke participant.>

“Ini kartu apa? 5 hati? Bagus.”

<Ambil lagi 1 kartu secara acak dan tunjukkan ke participant.>

“Ini kartu apa? Ah, 2 sekop? Bagus.”

 

“Ok, kita mulai saja permainannya, pilih 1 kartu yang mana saja….”

 

Ketika gw sengaja menanyakan “Ini kartu apa?” sambil mengambil 1 kartu secara acak, sebenarnya gw menyampaikan 2 pesan sekaligus ke participant:

  1. Kartunya sudah dikocok secara acak
  2. Kita memastikan participant mengerti cara baca kartu, karena adakalanya memang participant di Indonesia ada yang belum bisa baca kartu. Dan apabila kalian menemukan, participant yg tidak bisa baca kartu, gw anggap kalian sudah punya plan B berupa permainan yang tidak memerlukan participant membaca ‘bahasa kartu’.

 

Ok, let’s move to the next example

 

Saya punya 1 kantong kosong.”

 

Bisa diganti menjadi…

“Kita gunakan kantong ini saja.” <sambil memasukan tangan kedalam kantong dan membalikkan bagian kantong keluar lalu mengembalikannya lagi ke dalam.>

Boleh percaya atau tidak, ketimbang mengatakan “kantong kosong”, gesture diatas saja sudah lebih meyakinkan participant ketimbang harus mengatakan “kantong kosong” sambil menunjukkan kantong tersebut kalau kosong.

 

Ok, last example…

 

Kita belum kenal sebelumnya, betul? Siapa nama anda?”

Somehow, ini mungkin karena kebanyakan magician kebanyakan nonton aksi sulap di TV dimana tujuan aslinya, untuk mengkomunikasikan ke penonton acara TV tersebut kalau participant yang magician temui memang belum kenal sebelumnya. Sekali lagi, bertujuan untuk mengkomunikasikan ke penonton TV.

Problemnya adalah, sebagian besar dari kita bukanlah main sulap dalam acara TV, melainkan main sulap di lingkungan yang sebenarnya. Dengan demikian, justru kalimat diatas, akan ditangkap oleh participant yang menonton kalau ini semua sudah direkayasa yang artinya:

  1. Anda sudah kenal itu orang
  2. Anda tahu nama itu orang

Dan lepas dari apakah anda sebagai magician pernah ketemu atau belum, dan sudah tahu atau belum nama orang yang anda ajak main, participant sudah menganggap itu semua rekayasa.

 

Salah satu out yg gw lakukan ketika gw mengajak participant bermain adalah dengan sedikit bawa becanda. Kira2 seperti ini apabila participant yg gw ajak adalah seorang wanita…

“Supaya nama anda dikenal oleh semua orang disini, sebutkan nama anda!”

 

Dan adakalanya, gw suka menambahkan, tergantung situasi…

“Ok, status anda? Single, berkeluarga ato gimana?”

 

Kalo dia single…

“Ah…single! Lumayaannn…., woi untuk para cowok2, ni cewek single looohhhh.”

 

Kalo dia berkeluarga….

“Ah…, sudah ada keluarga, mana suami dan anak2nya?”

 

Seringkali participant akan menunjukkan suami/ anak…

“Ah….pinjem dulu ibu nya yah pak/ nak.”

 

Atau kalau tidak datang bersama suami/ anak…

“Whoa…., anda datang sendiri…seorang wanita yang kuat ternyata.”

Dan sisanya anda bisa improvisasi sendiri sebelum melakukan permainan magic.

 

Demikian contoh yg bisa gw berikan. The point of this post is, kita menyebarkan berbagai detail permainan kita ke berbagai aspek….verbal, gesture, visual, dan masih banyak lagi. Dan hindari terlalu banyak menekankan sisi detail permainan ke ucapan saja.

Question And Answer Part 4: About Tarot Reader

00 the fool

Q: Ren, apakah ada seseorang yang menjadi sangat kaya dengan membaca tarot?

A: Sejauh yg gw tau, kalo kaya disini dalam konsteks materi, maka belum ada orang yg menjadi sangat kaya dan punya tabungan milyaran rupiah hanya dengan membaca tarot. Seorang pembaca tarot yg sangat kaya yg gw tahu, ternyata selain pembaca tarot, juga sekaligus seorang pengusaha yang sukses.

Q: Kira2, lebih banyakan mana jumlahnya antara tarot reader pria dengan wanita?

A: Ini agak unik. Diantara tarot reader, kita semua tahu kalau tarot reader pria jauh lebih banyak. Namun karena yang sering masuk TV adalah tarot reader wanita (karena parasnya lebih menjual dan image tarot = wanita gypsy), maka orang awam selalu mengira lebih banyak tarot reader wanita ketimbang pria.

Q: Apakah seorang tarot reader juga harus belajar psikologi?

A: Sebenarnya sih, tidak diwajibkan. Namun alangkah lebih baiknya seorang tarot reader juga belajar psikologi, dengan tujuan agar memiliki empati dan tahu cara mengkomunikasikan akar masalah klien berikut berbagai tips untuk memperbaiki masalah si klien itu sendiri.

Q: Apakah seorang tarot reader perlu belajar dan terus mengupdate ilmunya melalui buku? Ataukah ilmu tarot bisa dipelajari dengan pengalaman?

A: Lebih baik mempelajari seputar tarot dari buku DAN pengalaman. Orang yang mengklaim dirinya belajar tarot murni dari pengalamannya, perkembangan intuisinya, atau semacamnya tanpa baca buku, seringkali hanyalah menjadi pembenaran diri kalau reader tersebut sebenarnya malas baca buku. Sesimple itu.

Q: Buku2 tarot luar pada mahal. Jadi untuk apa saya sebagai pembaca tarot membeli buku mahal tersebut? Masih banyak hal lain yang bisa saya beli dan lebih penting dibandingkan buku tarot.

A: Well…, mindset anda menentukan karir anda. Sesederhana itu. Anda tidak mau mengeluarkan uang sekian ratus ribu untuk membeli buku tarot, tapi anda BERANI menetapkan tarif pembacaan sekian ratus ribu ke klien? Kalau anda tidak menghargai ilmu yang menjadi profesi anda, maka otomatis klien pun juga tidak akan menghargai anda. Sesimple itu.

Q: Apakah seorang tarot reader harus menjadi professional?

A: No. Justru sebagian pembaca tarot hanyalah sebatas hobbyist saja. Meskipun cuma hobi, pembacaan tarot juga efektif sebagai sarana menjaring teman baru alias networking yang tentunya akan berguna untuk karir anda kedepannya, apapun itu.

Q: Apakah dengan belajar tarot, seseorang menjadi tidak religius?
A: Justru di sebagian besar kasus yg gw temuin, seorang tarot reader yang benar2 belajar, justru menjadi sangat objektif dan menghargai agama yg dianut diri sendiri maupun orang lain. Kalau artian religius disini adalah menjadi fanatik dengan agama sendiri, memang kebanyakan tarot reader menjadi tidak religius. Namun mereka justru semakin menghargai semua agama yg ada berikut penganut2nya. Dan gw melihat, sikap saling menghargai dan toleransi yang tinggi itulah yang perlu dicontoh.

Q: Ada beberapa tarot reader yang mengklaim mereka adalah turunan orang ningrat jaman dulu. Apakah itu benar?
A: Gw secara pribadi tidak tahu dan malas untuk mencoba membuktikan kebenarannya.

Ya, bayangannya seperti ini. Apabila seorang keluarga ningrat di tahun 1800an punya 2 anak, sementara rata2 orang menikah adalah setiap 20 tahun DAN ketika menikah, langsung punya anak setahun kemudian…maka dalam jangka waktu antara tahun 1800 sampai 2000 saja MINIMAL sudah ada 10 generasi. Dan secara matematika, jumlah anak yang menjadi keturunan keluarga ningrat tersebut MINIMAL sebanyak 2 pangkat 10, which is ada 1024 ANAK! Dan tentu saja, di jaman dulu, dalam 1 keluarga, mustahil hanya ada 2 anak, melainkan rata2 3-4 anak dan sejumlah kasus malah ada yang diatas 10 anak. Jadi gw biarkan itu hitungan ada di imajinasi kalian, berapa ribu penduduk yang secara statistik ada darah biru nya hanya untuk 1 KELUARGA NINGRAT.

Simple word? Menurut gw, itu hanya kebanggan semu akan masa lalu keturunannya sendiri karena si tarot reader tersebut tidak ada hal lain yg bisa dia banggakan.

About Change: Inisiatif Berubah Atau ‘Dipaksa Berubah’?

13 death

Bisa dikatakan, itulah tema yang menggarisbawahi seharian penuh saat #FridayTarotTime minggu lalu tanggal 17 Oktober 2014. Kenapa demikian? Karena klien yang ada di hari tersebut, baik yang memanfaatkan promo saya tiap Jumat jam 17-21.00 maupun yang berkonsultasi kepada saya dari pagi sampai siang, pertanyaannya memiliki benang merah yang sama: pilihan dalam karir.

Dulu banget, saya sudah pernah menulis hal yang seperti ini di sosial media, dimana intinya, ya kita perlu mengambil pekerjaan, apapun itu, yang memang kita sukai alias memang menjadi passion diri kita sendiri. Dengan alasan yang sudah saya berulang memberi tahu juga, karena apabila kita mengerjakan sesuai dengan passion kita, maka soal rejeki dan semacamnya juga akan mengikuti hidup kita dan berkembang dengan sendirinya.

Dan kalaupun pekerjaan yang sekarang ini belum sesuai dengan keinginan kita, setidaknya, buatlah aktifitas yang sesuai dengan keinginan kita tersebut menjadi aktifitas sampingan yang kita lakukan di waktu luang. Manfaatnya? Sebagai faktor penyeimbang emosi kita dimana apabila kita cukup lelah dengan pekerjaan rutinitas, maka emosional kita kembali pulih dengan aktifitas refreshing tersebut.

Dari sini, muncullah pertanyaan. Ada sebagai besar orang yang saat ini tenggelam dengan rutinitas masing – masing dan bukan rutinitas yang disukai. Dan karena orang tersebut mengaku sudah cukup lelah, maka ketika dia sampai rumah, dia langsung tertidur karena kelelahan. Tidak hanya itu, bahkan ketika hari sabtu dan minggu yang notabene hari libur pun dia isi dengan tidur – tiduran tanpa sedikitpun mengerjakan aktifitas yang dia sukai. Pertanyaannya, apakah ada konsekuensinya?

Dan saya berani menjawab: ada dan konsekuensinya sangat berat.

 

Konsekuensi Atas Tidak Melakukan Aktifitas Sesuai Passion

Sama dengan layaknya berolahraga, apabila kita tidak melakukannya dengan rutin dan malas – malasan, maka tubuh kita akan terasa sangat capai dan bahkan menimbulkan banyak penyakit. Nah, apabila kita tidak mendisiplinkan diri untuk melakukan hal yang menjadi passion kita, secara psikis dan fisik, kita akan menjadi sangat lelah. Fisik yang lelah bisa dipulihkan dengan banyak tidur. Namun psikis yang lelah, ya tidak bisa dipulihkan dengan cara yang sama. Psikis yang kelelahan harus dipulihkan dengan aktifitas yang membuat kita senang dan merasa nyaman.

Dan bayangkan kalau kelelahan psikis ditumpuk terus – menerus, apa yang akan terjadi?

Konsekuensinya akan sangat banyak. Mulai dari emosi kita yang tidak stabil, cenderung emosi/ marah, dan berujung kepada orang – orang menjadi tidak nyaman disekitar kita alias sosialisasi kita menjadi jauh berkurang. Akibat emosi labil dan sosialisasi berkurang? Cepat atau lambat itu akan menghambat karir kita pada akhirnya. Apabila anda seorang pengusaha, sangat jarang pelanggan mau memakai produk anda apabila anda sendiri, sebagai simbol dari usaha anda, bermuka lelah atau cemberut. Apabila anda adalah seorang karyawan kantoran, kantor mana yang nyaman mempekerjakan anda, sesosok pribadi yang tidak menyenangkan? Paling – paling apabila anda terbiasa bekerja dengan psikis lelah, ya posisi anda juga tidak akan naik dalam waktu yang lama, bahkan berbagai peluang karir yang lebih baik diluar sana pun juga anda lewatkan karena sudah terlalu nyaman dengan situasi tidak enak anda.

Berubah Atau Dipaksa Berubah?

Ketika ada klien yang bertanya, apa yang perlu dilakukan? Ya tentu saja jawabannya juga sangat umum, yaitu yang bisa dilakukan adalah dengan merubah diri sendiri. Suatu kalimant yang terdengar klise namun wajib untuk dilakukan. Minimal ya seperti yang saya tulis diatas, alokasikan waktu untuk mengerjakan sesuatu yang memang menjadi passion kita.

Namun seiring dengan waktu, ada beberapa klien yang nyaman dengan situasi tidak enaknya dan saya menjadi tambahkan dengan kalimat dibawah ini…

 

“Lebih baik anda inisiatif berubah lebih disiplin menjalankan passion anda ketimbang anda -dipaksa berubah oleh situasi-.”

 

Apa maksudnya dari dipaksa berubah oleh situasi? Ketika anda merasa nyaman dengan situasi tidak enak tersebut, lucunya seringkali dalam 1 – 2 tahun, ada suatu kejadian yang sangat tidak enak dan ‘menampar’ diri anda dan membuat anda benar – benar shock.

Contoh dari kejadian yang ‘menampar’ tersebut? Bisa bermacam – macam, mulai dari anda mendadak dipecat dari kantor anda, usaha anda mendadak bangkrut, atau mendadak keluarga anda menjadi cerai, dan masih banyak dampak diluar dugaan lainnya. Apabila ada yang mengatakan kejadian tidak mengenakkan itu adalah tanda ujian dari Tuhan kepada anda, maka justru saya mengatakan kejadian yang tidak menyenangkan itu sebagai ‘tamparan Tuhan’ untuk menyadarkan anda akan banyaknya hal – hal esensial yang sudah anda lupakan dalam hidup anda; dan passion adalah salah satu hal essesial tersebut.

Saya teringat dan menulis kembali hal diatas karena mengaca kepada klien – klien yang saya temukan di hari Jumat tersebut. Dimana di hari tersebut, ada klien yang memutuskan untuk merubah dirinya dan telah berhasil dengan membawa segudang cerita seputar perubahan dirinya berikut lingkungan sekitarnya, dan ada juga klien yang tetap keras kepala dan nyaman dengan situasi tidak menyenangkan, dan pada akhirnya ‘tamparan’ itu menimpa dirinya dan memaksa dirinya untuk membuat perubahan rencana hidup sesegera mungkin.

The question is, kalau diri anda berada di situasi seperti klien – klien saya, di situasi yang tidak menyenangkan, anda memilih yang mana? Merubah diri atau menunggu ‘ditampar’ oleh situasi?

 

First #FridayTarotTime, I Get: Ideas For Errata Tarot Combo Game Rules

tarot combo game cover

Overview Of The First Event

Ceritanya, karena gw sendiri dari pagi hingga jam 16.00 nya abis jaga stand tarot nya booth LightGivers di event retro bazaar di Grand Indonesia, jadinya gw memutuskan #FridayTarotTime kemarin diadakan di Grand Indonesia saja, tepatnya di cafe Dataran Tinggi agar tempatnya berdekatan dengan bazaar tersebut.

Bagaimana kesannya untuk event pertama? Jujur untuk gw sendiri mengatakan event pertama ini terbilang cukup berhasil. Cukup berhasil karena selain sharing beberapa hal dan membacakan tarot, ternyata gw juga pulang membawa banyak hal.

Apa yang terjadi di event pertama tersebut? Well, dari awal jam 17.00, gw sendiri iseng nongkrong dengan Russell Rich dan minta diajarin soal mainan Waving The Aces. Yes, itu permainan magic termasuk tinggi tingkat kesulitannya dan sampai sekarang pun gw masih agak kesulitan untuk mengingat urutan permainannya seperti apa. But I’ll still try anyway. In case bagi yang belum tau seperti apakah Waving The Aces itu, silahkan tanya Russell Rich langsung dan minta dia menunjukkan permainannya seperti apa. Dan kalaupun anda sempet belajar rahasianya, u’ll know how hard is that to perform. But it’s rewarding experience isn’t it? Karena sangat menghibur audience mainan itu.

Nah, jam 18.00, ada 2 klien yang sudah membuat janji sebelumnya dan memanfaatkan penawaran dari event tersebut. So, dari jam 18.00 – 19.00, gw ijin sebentar dengan Russell, pindah meja, dan melayani klien tersebut. Tanpa membocorkan masalah masing2 klien, topic mereka tidak jauh2 dari karir dan percintaan serta sedikit bacaan kelebihan dan kekurangan masing2. Mereka pada dasarnya cukup puas meskipun klien pertama memiliki kasus yang cukup kompleks dibandingkan klien rata2.

Setelah jam 19.00 ? Gw kembali ke meja Russell dan sudah ada Emily HappyWise disana. Mulailah kita mencoba permainan tarot combo game. Dan untuk yang penasaran seperti apa, rulesnya bisa dilihat di link ini.

http://rendyfudoh.com/tarot-combo-game/

Dan setelah penjelasan dan mencoba permainan, maka Emily dan Russell memberikan masukan yang membangun. Dimana mereka mengatakan belum ada sense kompetitif secara langsung antar player. Ujung2nya, permainan ini membuat player sibuk sendiri mengumpulkan kartu yang diinginkan untuk mengumpulkan point sebanyak – banyaknya, namun interaksi antar player masih minim. Plus permainan ini untuk 3 player terhitung cepat selesai.

Emily juga memberi masukan lebih detail kalau permainan ini lebih cocok diterapkan ke playing card alias kartu remi, karena pemain lebih fokus ke angka/ nilai di kartu dan gambar di kartu tarot menjadi tidak penting dalam permainan ini.

Lesson I’ve Got

Dari sekian banyak masukan tersebut, apakah yang bisa gw rangkum? Point pertama tentunya adalah, di waktu kedepan gw akan membuat rules permainan combo game ini KHUSUS UNTUK PLAYING CARD. Dengan demikian, bermodalkan playing card alias kartu remi saja, anda juga sudah bisa memainkan permainan yg unik ini.

Point kedua yang gw dapatkan dan masih bisa direvisi di waktu kedepannya adalah, berbagai errata (alias pengembangan aturan) untuk tarot combo game. Pengembangan aturan ini, untuk sementara tak sarankan untuk yang sudah mencoba memainkan dengan aturan dasar dahulu agar lebih mengenal alur permainannya.

  1. Ketika di fase lelang/ auction phase: jumlah kartu yang dilelang adalah sebanyak jumlah pemain.
  2. Ketika fase scoring, ketentuan scorenya berubah menjadi…
  • Nilai tiap tumpukan kartu adalah base score x multiplier
  • Base score adalah kartu tertinggi dari tumpukan 4 kartu yang anda buat (tidak termasuk major arcana)

Ketentuan multiplier adalah sebagai berikut:

  1. Apabila combo 4 kartu itu adalah suite yang sama, maka multipliernya adalah 1
  2. Apabila combo 4 kartu itu adalah ANGKA yang SAMA, maka multipliernya adalah 4!

Contoh:

ace of wands – 4 of wands – 5 of wands – 9 of wands.

  • Karena suite nya sama, multiplier adalah 1
  • Kartu tertinggi di tumpukan tersebut adalah 9 of wands, sehingga angka tertinggi ada lah 9
  • Dengan demikian, score di tumpukan ini adalah 9 x 1 = 9

Ace of Cups – Queen of Cups – The World – 3 of Cups

  • Kartu The World disini adalah proxy alias menjadi kartu apapun, oleh karena itu, kartu ini menjadi kartu cups saja.
  • Suitenya sama (suite of cups), multiplier adalah 1
  • Kartu tertinggi adalah Queen of Cups, sehingga angka tertinggi adalah 13 (page angkanya 11, knight 12, queen 13, king 14). The World meskipun kartu no 21, itu adalah Major Arcana sehingga tidak dihitung angkanya dalam scoring phase.
  • Dengan demikian, score di tumpukan ini adalah 13 x 1 =13

5 of wands – 5 of cups – 5 of swords – 5 of pentacles

  • Kartu tertinggi adalah 5 (karena semuanya adalah angka 5)
  • 4 angka sama karena semuanya angka 5, maka multipliernya adalah 4!
  • Scorenya adalah 5 x 4 = 20!

7 of wands – 7 of cups – 7 of swords – The Fool

  • Dalam kasus ini, The Fool menjadi kartu proxy untuk 7 of pentacles
  • Angka tertinggi adalah 7
  • 4 kartu sama2 7 nilainya, sehingga multiplier 4
  • Scorenya adalah 7 x 4 = 28!

Kenapa multiplier untuk 4 kartu angka sama cukup besar? Karena mencari 4 kartu angka sama itu jauh lebih sulit ketimbang suit nya sama.

Demikian revisi aturan yg gw dapatkan dalam test play di event #FridayTarotTime tersebut. Gw akan mencoba test play lagi di waktu mendatang dan akan membuat berbagai perbaikan2 konstruktif agar semua bisa menikmati permainan Tarot Combo Game ini. :)

#FridayTarotTime , My Newest Event!

Tanpat panjang2 lagi, ini event pribadi terbaru saya. Silahkan dibaca ketentuannya dan kalau anda teliti membacanya, it’s a ‘steal’ 😀

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers:

%d bloggers like this: