Archive for June 11, 2015

[CTR] Berbagai Mitos Kehidupan dan Realitanya Part 2

Apabila di bagian sebelumnya lebih menunjukkan karir sebagai benang merahnya, kali ini gw akan menunjukkan sisi percintaan/ jodoh sebagai benang merahnya. Dan seperti biasa, tulisan gw terinspirasi dari klien – klien yang bercerita kepada gw; belum ada penelitian validnya, namun setidaknya ini yang terjadi disekitar gw.

 

Wanita harus menikah cepat – cepat atau tidak laku

Hal ini sering sekali terdengar di telinga kita bukan? Seringkali ini disebabkan karena tuntutan keluarga yg ujung2nya memang mereka tidak tahan apabila anaknya menjadi bahan omongan tetangga (biasanya di perkampungan yang memang pola pikirnya berbeda). Dan ditambah banyak faktor lain seperti wanita yg katanya lebih cepat tua dibandingkan pria sehingga takut sudah terlihat tua apabila menikahnya telat.

Kabar mengejutkannya adalah, pembantu dirumah gw yg usia sudah 55, baru saja menikah. Kabar mengejutkan kedua, teman gw yg menikah di usia 23, cerai ga sampai setahun dan pasangannya meninggalkan segudang masalah.

Silahkan dipikirkan kembali, sebenarnya prioritas kalian menikah itu untuk apa. Apabila prioritas kalian menikah no 1 adalah memang anda mencintai pasangan anda dan mau bersusah senang dengan pasangan anda, then by all means, silahkan menikah. Namun bila prioritas no. 1 dari menikahnya adalah karena dikejar umur, dijodohin/ ditekan orang tua, pasangannya sudah mapan, atau alasan lainnya SELAIN CINTA untuk prioritas no. 1 nya, maka simak 2 kalimat saya baik – baik…

“Jumlah pernikahan yang survive karena prioritas no. 1 nya bukan karena cinta, itu relatif sangat sedikit. Seringkali usia pernikahan mereka tidak sampai 3 tahun dan sisanya antara pisah ranjang, cerai, atau tetap serumah namun jalan masing2.”

Mengejutkan? Yes! Tapi ini sering sekali terjadi dan sudah menjadi rahasia umum diantara para tarot reader. Karena kisah2 kehidupan perceraian ini seringkali dianggap tabu oleh masyarakat sehingga disembunyikan dari orang banyak. Bahkan seorang tarot reader pun, karena kode etiknya dalam merahasiakan masalah klien, maka gw sendiri hanya bisa memberi ‘clue’ pernikahan sebatas kalimat diatas.

 

Wanita tidak boleh agresif sama pria, kalau agresif, dianggapnya wanita murahan

Bayangkan anda sebagai seorang wanita menggebet seorang pria, kemudian bersusah payah memberi kode ke pria tersebut karena dirasa wanita tidak boleh agresif atau ngasi pertanda terang2an. Alhasil? Sangat sedikit usaha gebet meng gebet yang berhasil karena wanita terlalu fokus dengan kode dan takut dianggap agresif oleh teman2 sekitarnya.

Nah, dari sini, kita berbicara soal kemungkinan/ probabilitas, pake logika saja yah.

  • A suka B dan B suka A
  • A suka B dan B TIDAK suka A
  • A TIDAK suka B dan B suka A
  • A dan B sama2 tidak saling suka

Pertanyaannya, berapa kemungkinan kalau anda menyukai gebetan anda dan di saat bersamaan gebetan anda juga menyukai anda? Dari logika bodoh diatas aja uda nunjukin kemungkinan hanya 25%! Ini belum memasukkan faktor adanya orang2 agresif diluar sana yang juga mengincar gebetan anda!

Jadi apa yang bisa dilakukan? Kalau kebetulan memang sama2 suka ya selamat, anda cukup beruntung. Kalau ternyata gebetannya belum ada hati dengan anda? Ya BUATLAH supaya gebetan memperhatikan dan menyukai anda. Minimal dengan cara tersebut, anda bisa meningkatkan probabilita pacaran anda bukan?

Dan tentunya, banyak juga wanita yang bertanya ke gw, bagaimana reaksi si cowok apabila wanitanya yg agresif? Apakah mereka akan menganggap wanita itu murahan?

Dari pengamatan gw, co yg memandang wanita agresif sebagai murahan itu relatif sangat sedikit. Sederhananya, dari 10 co yg disodori wanita agresif, paling yg anggap murahan itu Cuma 1. Sisanya? Mereka akan mengamati wanita tersebut terlebih dahulu apakah wanita itu cocok dengan dia dan mereka menghargai akan keberanian kalian para wanita atas usahanya dalam menghadapi hati si pria.

 

Anda juga harus ganteng/ cantik secara fisik untuk mendapatkan pasangan yang cantik/ganteng

Anggapan ini entah kenapa sangat tertanam di bawah sadar orang Indonesia kebanyakan. Dimana apabila ingin memacari orang yang cantik/ ganteng, diri sendiri juga harus demikian. Well…, meskipun sudah banyak berbagai pelatihan yang menunjukkan sebaliknya, biarkan gw jg kembali mengulang apa yang para lembaga pelatihan itu tekankan….

Yes, memang ada wanita/ pria yg matre, harus punya pasangan mapan, punya kriteria fisik yg bagus, dll. Namun orang yg menuntut kriteria seperti itu, relatif sangat sedikit dan ga layak diperjuangin jg. Yg dibutuhkan utamanya, seringkali adalah pola pikir, kepribadian, dan perhatian anda sendiri ke pasangan. Bahasa kerennya: cantik/ ganteng dari dalam.

Jadi jangan heran apabila ada banyak pria dengan segudang pabrik, berusaha mencari perhatian dan deketin wanita yang sangat cantik dan baik tapi SEMUANYA DITOLAK! Justru pria yg sekilas biasa2 saja dimata publik malah bisa mengambil hati wanita cantik tersebut.

Dan jangan heran jg apabila anda menemukan pria yg sangat mapan dan banyak wanita yg ngedeketin, tapi end up malah bersama wanita yg agak gemuk, kulit terbakar matahari dan bukanlah wanita sosialita umumnya.

Mungkin ini juga disebabkan banyak iklan di media yg menciptakan definisi cantik dan ganteng yg ideal sehingga masyarakat pun jadi mengejar sosok ideal tersebut. Namun di sisi lain, kita sendiri justru membutuhkan pasangan ideal yg menurut kebutuhan kita sendiri, dan bukan karena apa yg dikatakan media.

 

That’s all for now. Dan akan gw lanjutkan lagi ketika gw dapet inspirasi. :)

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers:

%d bloggers like this: