About Change: Inisiatif Berubah Atau ‘Dipaksa Berubah’?

13 death

Bisa dikatakan, itulah tema yang menggarisbawahi seharian penuh saat #FridayTarotTime minggu lalu tanggal 17 Oktober 2014. Kenapa demikian? Karena klien yang ada di hari tersebut, baik yang memanfaatkan promo saya tiap Jumat jam 17-21.00 maupun yang berkonsultasi kepada saya dari pagi sampai siang, pertanyaannya memiliki benang merah yang sama: pilihan dalam karir.

Dulu banget, saya sudah pernah menulis hal yang seperti ini di sosial media, dimana intinya, ya kita perlu mengambil pekerjaan, apapun itu, yang memang kita sukai alias memang menjadi passion diri kita sendiri. Dengan alasan yang sudah saya berulang memberi tahu juga, karena apabila kita mengerjakan sesuai dengan passion kita, maka soal rejeki dan semacamnya juga akan mengikuti hidup kita dan berkembang dengan sendirinya.

Dan kalaupun pekerjaan yang sekarang ini belum sesuai dengan keinginan kita, setidaknya, buatlah aktifitas yang sesuai dengan keinginan kita tersebut menjadi aktifitas sampingan yang kita lakukan di waktu luang. Manfaatnya? Sebagai faktor penyeimbang emosi kita dimana apabila kita cukup lelah dengan pekerjaan rutinitas, maka emosional kita kembali pulih dengan aktifitas refreshing tersebut.

Dari sini, muncullah pertanyaan. Ada sebagai besar orang yang saat ini tenggelam dengan rutinitas masing – masing dan bukan rutinitas yang disukai. Dan karena orang tersebut mengaku sudah cukup lelah, maka ketika dia sampai rumah, dia langsung tertidur karena kelelahan. Tidak hanya itu, bahkan ketika hari sabtu dan minggu yang notabene hari libur pun dia isi dengan tidur – tiduran tanpa sedikitpun mengerjakan aktifitas yang dia sukai. Pertanyaannya, apakah ada konsekuensinya?

Dan saya berani menjawab: ada dan konsekuensinya sangat berat.

 

Konsekuensi Atas Tidak Melakukan Aktifitas Sesuai Passion

Sama dengan layaknya berolahraga, apabila kita tidak melakukannya dengan rutin dan malas – malasan, maka tubuh kita akan terasa sangat capai dan bahkan menimbulkan banyak penyakit. Nah, apabila kita tidak mendisiplinkan diri untuk melakukan hal yang menjadi passion kita, secara psikis dan fisik, kita akan menjadi sangat lelah. Fisik yang lelah bisa dipulihkan dengan banyak tidur. Namun psikis yang lelah, ya tidak bisa dipulihkan dengan cara yang sama. Psikis yang kelelahan harus dipulihkan dengan aktifitas yang membuat kita senang dan merasa nyaman.

Dan bayangkan kalau kelelahan psikis ditumpuk terus – menerus, apa yang akan terjadi?

Konsekuensinya akan sangat banyak. Mulai dari emosi kita yang tidak stabil, cenderung emosi/ marah, dan berujung kepada orang – orang menjadi tidak nyaman disekitar kita alias sosialisasi kita menjadi jauh berkurang. Akibat emosi labil dan sosialisasi berkurang? Cepat atau lambat itu akan menghambat karir kita pada akhirnya. Apabila anda seorang pengusaha, sangat jarang pelanggan mau memakai produk anda apabila anda sendiri, sebagai simbol dari usaha anda, bermuka lelah atau cemberut. Apabila anda adalah seorang karyawan kantoran, kantor mana yang nyaman mempekerjakan anda, sesosok pribadi yang tidak menyenangkan? Paling – paling apabila anda terbiasa bekerja dengan psikis lelah, ya posisi anda juga tidak akan naik dalam waktu yang lama, bahkan berbagai peluang karir yang lebih baik diluar sana pun juga anda lewatkan karena sudah terlalu nyaman dengan situasi tidak enak anda.

Berubah Atau Dipaksa Berubah?

Ketika ada klien yang bertanya, apa yang perlu dilakukan? Ya tentu saja jawabannya juga sangat umum, yaitu yang bisa dilakukan adalah dengan merubah diri sendiri. Suatu kalimant yang terdengar klise namun wajib untuk dilakukan. Minimal ya seperti yang saya tulis diatas, alokasikan waktu untuk mengerjakan sesuatu yang memang menjadi passion kita.

Namun seiring dengan waktu, ada beberapa klien yang nyaman dengan situasi tidak enaknya dan saya menjadi tambahkan dengan kalimat dibawah ini…

 

“Lebih baik anda inisiatif berubah lebih disiplin menjalankan passion anda ketimbang anda -dipaksa berubah oleh situasi-.”

 

Apa maksudnya dari dipaksa berubah oleh situasi? Ketika anda merasa nyaman dengan situasi tidak enak tersebut, lucunya seringkali dalam 1 – 2 tahun, ada suatu kejadian yang sangat tidak enak dan ‘menampar’ diri anda dan membuat anda benar – benar shock.

Contoh dari kejadian yang ‘menampar’ tersebut? Bisa bermacam – macam, mulai dari anda mendadak dipecat dari kantor anda, usaha anda mendadak bangkrut, atau mendadak keluarga anda menjadi cerai, dan masih banyak dampak diluar dugaan lainnya. Apabila ada yang mengatakan kejadian tidak mengenakkan itu adalah tanda ujian dari Tuhan kepada anda, maka justru saya mengatakan kejadian yang tidak menyenangkan itu sebagai ‘tamparan Tuhan’ untuk menyadarkan anda akan banyaknya hal – hal esensial yang sudah anda lupakan dalam hidup anda; dan passion adalah salah satu hal essesial tersebut.

Saya teringat dan menulis kembali hal diatas karena mengaca kepada klien – klien yang saya temukan di hari Jumat tersebut. Dimana di hari tersebut, ada klien yang memutuskan untuk merubah dirinya dan telah berhasil dengan membawa segudang cerita seputar perubahan dirinya berikut lingkungan sekitarnya, dan ada juga klien yang tetap keras kepala dan nyaman dengan situasi tidak menyenangkan, dan pada akhirnya ‘tamparan’ itu menimpa dirinya dan memaksa dirinya untuk membuat perubahan rencana hidup sesegera mungkin.

The question is, kalau diri anda berada di situasi seperti klien – klien saya, di situasi yang tidak menyenangkan, anda memilih yang mana? Merubah diri atau menunggu ‘ditampar’ oleh situasi?

 

Leave a Reply

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers:

%d bloggers like this: