About Psychic Attack: Part 1

Kali ini, gw akan mencoba membahas mengenai topic yang sebenarnya sering diutarakan oleh banyak klien gw sendiri, tarot reader, dan orang – orang awam yg berkecimpung di praktek supranatural. Yaitu mengenai serangan gaib, serangan psikis, atau serangan apapun yang bentuknya tidak kelihatan. Untuk pembukaannya, gw akan memberikan 1 statement yang mungkin teman2 akan kaget membacanya:

“Dari 100 kasus orang terkena serangan supranatural, yang bener2 kena serangan tersebut HANYA SEKITAR 5 KASUS saja. Sisanya murni ketakutan dari pikiran.”

Itu kalimat saya ambil inspirasinya dari buku karangan Michael Donald Kraig yg judulnya Modern Magick. Untuk itu, gw akan menjelaskan lebih konkrit terlebih dahulu berbagai factor yang terlibat dalam kinerja pikiran kita.

 

Pikiran dan tubuh manusia seringkali tidak bisa membedakan mana nyata dan mana yang –program dari pikiran- semata.

Konteks hal yang nyata ini akan saya persempit menjadi apa yang kita rasakan saat ini secara fisik. Bukan konteks filosofis yang luas sehingga bisa memperpanjang debat kusir nantinya. Dalam kehidupan sehari – hari, sebenarnya kita sendiri sudah dipengaruhi oleh berbagai factor tidak terlihat seperti:

  • Pesan – pesan iklan akan bentuk tubuh yang ideal, kesehatan yang ‘sehat’
  • Pesan – pesan dari agama masing2 anut seperti halal dan haram suatu makanan, pandangan terhadap gay dan lesbian.
  • Intimidasi ataupun kata2 rayuan dari para salesman, ataupun teman2 kita sendiri.

Hal diatas meskipun tampaknya remeh, namun bisa membentuk pola piker masing2 individu dan tubuh individu juga bereaksi terhadap pola piker tersebut. Sebagai contoh:

  • Wanita cantik itu harus berkulit putih layaknya orang Korea / Jepang di film2 drama (padahal aslinya orang korea coklat kulitnya.)
  • Sebagian kecil orang yang terlalu serius dalam soal halal dan haram makanannya, menjadikan tubuhnya punya mekanisme sendiri untuk memuntahkan makanan yang haram tersebut. Dari yang semula enak dan puas, hanya dalam hitungan detik, semuanya bisa berbalik menjadi mual – mual bahkan sampai sakit, hanya karena vonis itu makanan haram setelahnya (padahal hanya karena –dibilang haram- saja dan dari sisi makanan sendiri BELUM TENTU haram.)
  • Sebagian besar orang lebih percaya akan kualitas barang dengan merk yang bukan Cina (padahal barang bermerk bukan Cina tersebut, dibuatnya juga di Cina).
  • Dan tentunya juga ada banyak kasus dimana saking percayanya pasien akan dokter tertentu, ketika pasian sedang batuk parah dan dokter hanya member tablet gula, pasien tersebut benar-benar sembuh dari batuknya. ( ini sering disebut placebo effect)

Berbagai penyakit yang kita dapat, disamping disebabkan karena factor kebersihan lingkungan, seringkali lebih disebabkan karena tekanan pikiran/ stress saja.

Mungkin banyak teman – teman yang bingung, kenapa orang yang seringkali makan di restaurant mahal, bahkan gaya hidupnya lebih tinggi kelasnya, bahkan ada yang sampai benar2 menjaga pola makannya, ternyata TIDAK LEBIH SEHAT ketimbang orang2 yang makan sehari – harinya di warteg dan jajanan pasar lainnya. Well…. Tubuh kita selain bereaksi terhadap apa yang kita makan dan bagaimana lingkungan sekitar kita sendiri, ternyata juga bereaksi terhadap keadaan pikiran kita sendiri. Lucunya, orang yang menjaga pola makan dan bahkan makan – makanan yang dipercaya sangat bersih dan terjaga kualitasnya, belum tentu bisa menjaga ‘kebersihan’ pikirannya. Kebersihan disini bukanlah dalam arti berpikir bersih (baca: menjadi suci), melainkan tahu waktunya kapan memikirkan masalah, kapan mengesampingkan masalah dan menikmati hidup, kapan waktunya untuk rileks, dan kapan waktunya untuk serius.

Orang yang tidak menjaga pikirannya seringkali memikirkan masalah yang sedang dihadapi terus – menerus tanpa member kesempatan pikiran untuk rileks ataupun istirahat. Banyak orang baik usia remaja maupun yang sudah dewasa sekalipun sangat suka membuat situasi relasi mereka dengan pasangan menjadi sangat kompleks (Baca: sengaja membuat galau). Selain itu, dalam dunia kerja, ada kebiasaan untuk –sengaja menjadi sibuk- dengan cara menunda – nunda pekerjaan sampai mendekati deadline untuk memberikan ilusi bahwa mereka berada dalam situasi pekerjaan yang penting.Sikap – sikap yang sengaja memacu adrenalin secara berlebih inilah yang menjadi sumber penyakit utama tubuh kita.

Jadi, apabila banyak teman2 yang merasa sudah menjaga kesehatan, namun masih saja sering mendapat penyakit2 yang tidak jelas asal – usulnya, maka kemungkinan besar sumber penyakit itu adalah pikiran anda sendiri.

So, dari uraian factor diatas, apa hubungannya dengan psychic attack?

Seperti yang gw tulis sebelumnya, kejadian yang benar2 psychic attack (santet, dan dikerjain jarak jauh lainnya secara supranatural), paling hanya sekitar 5% dari sekian banyak kasus. Dan sisanya? Itu semua PALSU dan bersumber dari pikiran diri sendiri. Bagaimana bisa terjadi banyak kasus orang kena serangan supranatural sementara yg benar2 real adalah 5%? Simplenya gini, sebagian besar kasus orang yang terkena serangan supranatural penyebab aslinya bisa mencakup satu atau lebih dari beberapa factor penyebab dibawah ini:

  • Si korban sedang berselisih/ iri/ dengki dengan seseorang sehingga si korban sendiri takut orang yang dia benci itu akan memakai segala cara untuk menjatuhkan dirinya; termasuk dengan memakai dukun untuk menyerang dirinya. Rasa ketakutan itulah yang membuat fisiknya rentan terkena penyakit.
  • Si korban menganggap dirinya memiliki tingkat sensitifitas yang tinggi terhadap fenomena2 supranatural. Dan dia merasa dirinya mudah terpengaruh oleh kondisi mood orang2 sekitarnya termasuk orang yang menurutnya membenci si korban. Sudah sangat banyak kasus dimana orang yang memiliki tingkat sensitifitas yang tinggi NAMUN tidak memperdalam kemampuannya (alias amatir), mudah terkena sugesti diri kalo dirinya sedang diserang oleh pihak lain.
  • Si korban merasa tahu banyak tentang dunia supranatural, namun karena yang diketahui masih setengah2 dan tidak diimbangi antara logika dengan intuisinya, maka si korban mudah percaya akan keberadaan dan sensasi2 serangan supranatural; padahal belum tentu dia benar2 diserang.
  • Kalimat sederhana namun menohok: rekayasa/ sandiwara si korban belaka agar dirinya lebih diperhatikan orang banyak. Semula hanyalah sandiwara/ dirasa – rasakan saja sensasinya, namun lama – kelamaan menjadi terasa sungguhan (ingat pikiran juga menentukan kondisi tubuh).

 

Kalau demikian, bagaimana bisa membedakan antara yang real dengan imajinasi belaka? Dan Apabila memang benar – benar kena serangan supranatural, bagaiman menghalaunya? Untuk bagian itu, akan gw bahas lebih lanjut di post selanjutnya.

Leave a Reply

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers:

%d bloggers like this: