Archive for Mentalism

[Magic Article] Tips For Showmanship: F*CK The Verbal Details!

Inspirasi ini gw dapatkan ketika gw melakukan Friday Tarot Time di Puri Indah Jumat lalu (24 Oktober 2014), dimana ketika gw berbicara dengan teman2 gw yg saat itu lebih banyak pesulapnya, dan melihat berbagai post di FB, gw menemukan 1 hal lucu dari magician2 yang bisa dikatakan (sori banget) masih pemula…

Sebagian besar magician pemula terlalu ‘meributkan’ detail.

 

Contohnya? Kira2 seperti ini….

“Saya punya 1 pack kartu dan berbeda – beda semuanya.”

“Saya punya 1 kantong kosong.”

“Kita belum kenal sebelumnya betul? Siapa nama anda?”

 

Dan lucunya, baik ketika seseorang melakukan table hopping magic (yg sekarang istilahnya berkembang menjadi street magic), ataupun ketika berada di panggung, kebanyakan magician yg jam terbang nya masih sangat minim, justru sangat overdetail mendeskripsikan permainannya, banyak yg mengucapkan kalau kartu nya berbeda – beda, kantongnya kosong, anda yang mengocok dan semua disebutkan secara verbal atau melalui kata2.

Well…, karena gw sendiri adalah seorang mentalist, maka gw justru mempelajari kalau participant mendapat dan menangkap pesan dari apa yang ingin kita sampaikan, justru tidak hanya dari suara, namun dari gerak badan/ gestur, dan dari perawakan kita alias dari visual juga. Terlalu menekankan 1 sisi dalam mengkomunikasikan pesan kita justru menunjukkan kalau kita berada di posisi tidak nyaman.

Dalam konteks ini, apabila seorang magician banyak -mengatakan/ mengucapkan- kalau A ini kosong, B ini sudah acak, belum kenal sebelumnya, dll, justru sang magician sendiri sangat menekankan sisi verbalnya dan itu menunjukkan dia berada di posisi sedang tidak nyaman/ gelisah.

Dan orang yang sedang merasa GELISAH tersebut, di mata orang awam menunjukkan orang tersebut sedang BERBOHONG.

 

Tidak percaya? Silahkan lihat berbagai serial TV, ketika ada adegan seseorang sedang menutupi sesuatu, sang sutradara dengan sengaja menyuruh aktor ber acting gelisah bukan? Memang karena ketika seseorang sedang berbohong/ menutupi sesuatu, seseorang cenderung gelisah dan TERLALU BANYAK BICARA akan DETAIL.

Bagaimana Sebaiknya?

Kalau dari jam terbang gw sendiri, dalam mengkomunikasikan sesuatu, tidak harus selalu menterjemahkannya dengan bahasa verbal saja, namun diseimbangkan dengan aktifitas lain. Sebagai contoh…

Saya punya 1 pack kartu dan berbeda – beda semuanya.”

Bagian ini bisa diganti misalnya menjadi…

 

“Kita gunakan kartu ini” <sambil mengeluarkan 1 pack kartu>

“Mau di kocok?” <sambil menyodorkan 1 pack kartu ke participant, mau dia mengocok atau tidak, tidak masalah juga kok.>

 

<Kemudian, ambil 1 kartu secara acak dan tunjukan ke participant.>

“Ini kartu apa? 5 hati? Bagus.”

<Ambil lagi 1 kartu secara acak dan tunjukkan ke participant.>

“Ini kartu apa? Ah, 2 sekop? Bagus.”

 

“Ok, kita mulai saja permainannya, pilih 1 kartu yang mana saja….”

 

Ketika gw sengaja menanyakan “Ini kartu apa?” sambil mengambil 1 kartu secara acak, sebenarnya gw menyampaikan 2 pesan sekaligus ke participant:

  1. Kartunya sudah dikocok secara acak
  2. Kita memastikan participant mengerti cara baca kartu, karena adakalanya memang participant di Indonesia ada yang belum bisa baca kartu. Dan apabila kalian menemukan, participant yg tidak bisa baca kartu, gw anggap kalian sudah punya plan B berupa permainan yang tidak memerlukan participant membaca ‘bahasa kartu’.

 

Ok, let’s move to the next example

 

Saya punya 1 kantong kosong.”

 

Bisa diganti menjadi…

“Kita gunakan kantong ini saja.” <sambil memasukan tangan kedalam kantong dan membalikkan bagian kantong keluar lalu mengembalikannya lagi ke dalam.>

Boleh percaya atau tidak, ketimbang mengatakan “kantong kosong”, gesture diatas saja sudah lebih meyakinkan participant ketimbang harus mengatakan “kantong kosong” sambil menunjukkan kantong tersebut kalau kosong.

 

Ok, last example…

 

Kita belum kenal sebelumnya, betul? Siapa nama anda?”

Somehow, ini mungkin karena kebanyakan magician kebanyakan nonton aksi sulap di TV dimana tujuan aslinya, untuk mengkomunikasikan ke penonton acara TV tersebut kalau participant yang magician temui memang belum kenal sebelumnya. Sekali lagi, bertujuan untuk mengkomunikasikan ke penonton TV.

Problemnya adalah, sebagian besar dari kita bukanlah main sulap dalam acara TV, melainkan main sulap di lingkungan yang sebenarnya. Dengan demikian, justru kalimat diatas, akan ditangkap oleh participant yang menonton kalau ini semua sudah direkayasa yang artinya:

  1. Anda sudah kenal itu orang
  2. Anda tahu nama itu orang

Dan lepas dari apakah anda sebagai magician pernah ketemu atau belum, dan sudah tahu atau belum nama orang yang anda ajak main, participant sudah menganggap itu semua rekayasa.

 

Salah satu out yg gw lakukan ketika gw mengajak participant bermain adalah dengan sedikit bawa becanda. Kira2 seperti ini apabila participant yg gw ajak adalah seorang wanita…

“Supaya nama anda dikenal oleh semua orang disini, sebutkan nama anda!”

 

Dan adakalanya, gw suka menambahkan, tergantung situasi…

“Ok, status anda? Single, berkeluarga ato gimana?”

 

Kalo dia single…

“Ah…single! Lumayaannn…., woi untuk para cowok2, ni cewek single looohhhh.”

 

Kalo dia berkeluarga….

“Ah…, sudah ada keluarga, mana suami dan anak2nya?”

 

Seringkali participant akan menunjukkan suami/ anak…

“Ah….pinjem dulu ibu nya yah pak/ nak.”

 

Atau kalau tidak datang bersama suami/ anak…

“Whoa…., anda datang sendiri…seorang wanita yang kuat ternyata.”

Dan sisanya anda bisa improvisasi sendiri sebelum melakukan permainan magic.

 

Demikian contoh yg bisa gw berikan. The point of this post is, kita menyebarkan berbagai detail permainan kita ke berbagai aspek….verbal, gesture, visual, dan masih banyak lagi. Dan hindari terlalu banyak menekankan sisi detail permainan ke ucapan saja.

Baru Belajar Sulap? Some Tips For You

Notes, tulisan yg gw tulis disini akan mengandung spoiler dari berbagai alat yg dipakai dalam sulap sehari – hari. Dan alat yg gw spoiler adalah alat umum yang ada di berbagai toko sulap. Toh yg baca jg sebagian besar adalah para pesulap sehingga mereka juga sudah tahu alatnya. Dan apabila yg baca adalah org awam, 99% mereka akan lupa nama alat yg gw tulis dalam waktu maksimal 2 hari.

Gw memang agak jarang untuk mengpost artikel seputar sulap di web gw. Hanya saja gw yakin ketika gw post suatu artikel, itu adalah artikel yg benar2 gw pikirkan masak – masak lepas dari apakah artikel tersebut kontroversi atau tidaknya. Dan kali ini, tulisan gw menyasar ke orang yang baru saja belajar sulap dan belum sampai 1 tahun dalam belajarnya. Oleh karena itu, dalam menulis artikel ini, gw akan menuliskan terlebih dahulu berbagai perilaku orang2 yg baru belajar sulap -secara garis besar- dan baru kemudian gw menuliskan berbagai tips untuk teman2 yg baru belajar tersebut.

Nah, kalian yang baru memulai belajar sulap, setidaknya akan sangat2 antusias akan dunia sulap itu sendiri. Kalian berusaha untuk belajar sebanyak mungkin dan bertemu dengan para pakar2nya sesering mungkin dan kalian akan end up berada di beberapa point situasi dibawah ini:

Kalian akan ditawari banyak produk oleh toko sulap

Yes, beberapa toko sulap akan menawari anda berbagai alternatif produk dengan efek yg hebat2 dan mendemonstrasikan permainan yg bisa dibawakan melalui tehnik/ gimmick sulap tersebut. Ya, namanya juga toko sulap ya memang perlu mencari untung dengan menjual sebanyak2nya bukan? Sangat wajar apabila kalian akan ditawari banyak alternatif sehingga kalian menjadi bingung.

Sebagian dari kalian akan membawa tas anda dengan 50% isinya gimmick sulap ketimbang perlengkapan lainnya.

Gw sendiri pernah di situasi tersebut dimana ketika gw masih kuliah, 50% berat tas gw adalah karena gimmick sulap ketimbang buku kuliah. Pada waktu itu, gw berpikiran bahwa gw harus bisa bermain sulap sebanyak mungkin dan karena aturan dunia sulap: hindari mengulang trik terhadap orang yg sama, maka gw selalu parno apabila orang yg sama meminta gw main sulap setiap harinya. Alhasil, karena ke parno an gw sendiri, gw end up membawa tas berisi lebih dari 30 trik setiap harinya.

Oh, belum lagi karena waktu itu masi ada celana baggy yg ada 2 kantong masing2 di kiri kanan kaki dan di pantan, maka total 6 kantong itu, selain dmpet gw isi dengan berbagai gimmick cadangan. Benar2 toko sulap berjalan bkn? “P

Kalian akan selalu ada keinginan untuk melakukan pertunjukan sulap kapanpun dan dimanapun.

Nah, namanya juga masi baru, ya kecenderungan orang yg suka akan sulap, cenderung ingin banyak perform dan melakukan pertunjukkan baik panggung maupun kecil – kecilan. Dan untuk soal motivasi, tentu ada beberapa motivasi; diantaranya supaya bisa siap mental dikala diliput oleh media. Lagian siapa yg tidak mau kalau tiba2 ada wartawan atau media yang ‘nyasar di jalan’ dan end up menawarkan anda untuk diliput? Motivasi lainnya? Supaya menunjukkan anda bisa menghibur orang lain dengan keajaiban anda, supaya ada lawan jenis yang tertarik dengan anda, dan masih banyak lagi dimana hanya anda yg tahu.

Kalian akan mendengarkan banyak wejangan dari senior yang mengklaim bahwa saran mereka adalah yg paling akurat.

Ketika masih baru 1 – 2 tahun, kalian aka ada kecenderungan untuk bergaul dengan sesama pesulap dengan tujuan menggali ilmu dan berbagi permainan. Itu adalah hal yang sangat bagus apabila anda pintar membawa diri dan bersedia mendengarkan berbagai saran mereka. Lucunya adalah, kalian akan mendengarkan berbagai klaim bahwa saran dan masukan mereka adalah yg paling baik untuk kalian. Bagaimana cara menyikapinya, sebentar lagi akan gw bahas.

 

Ok, kira2 seperti itulah situasi yg gw rangkum apabila seseorang baru belajar sulap dan gw pun tidak terkecuali masuk dalam 2 – 3 situasi diatas sampai sekarang. Karena gw sendiri sudah mengalami situasi2 diatas, gw menemukan ada hal2 unik dan menarik yg ternyata bisa diterapkan untuk para pemula atau orang2 yg baru belajar sulap. Berikut beberapa hal tersebut untuk memudahkan kalian agar bisa semakin menambah jam terbang kalian:

 

Pelajari lebih banyak permainan yang TIDAK MEMAKAI MEJA

Banyak berbagai toko sulap dan teman2 yg akan menawarkan berbagai alternatif permainan sulap untuk dipelajari. Saran gw adalah, prioritaskan untuk mempelajari permainan yang bisa dilakukan TANPA MEJA atau bisa dilakukan berdiri.

Kok bisa? Begini, untuk pesulap yg baru belajar, mendapatkan sebanyak2nya jam terbang adalah hal yang sangat penting. Nah, jam terbang ini bisa didapat ketika anda bermain dengan teman sekitar, saudara, bahkan sampai orang2 di pinggir jalan. Nah, sebagian situasi tersebut memang mengharuskan anda untuk bermain berdiri. Atau kalaupun sampai main di tempat yg ada meja, ya kemungkinan besar itu di restauran dan tentunya meja restaurant sebagian besar sudah penuh dengan sisa makanan bukan?

Tujuan agar lebih memprioritaskan mainan yang tidak memakai meja adalah supaya kita tetap bisa fleksibel dalam bermain secara spontan diantara audience serta menghindari ngomong “Maaf, saya blom siap mainnya.”

 

Less Gimmick is Powerfull

Gw perna berada di situasi dimana tas gw 50% isinya gimmick dan tentu saja jadinya gw kayak toko sulap berjalan. Justru bukannya kesan bagus yg gw dapatkan, malahan kesannya gw adalah seorang pesulap jalanan yg sekalian jualan alat.

Bayangkan kalau kalian berada disituasi dimana kalian diminta untuk memainkan 1-2 permainan dan tiba2 kalian benar tidak punya gimmick dan terpaksa berkata “Maaf, gw ga siap main.”. Sakitnya dimana? Yup, di HATI cui! Dan lebih sakit lagi terutama harga diri. Oleh karena itu, sebelum belajar berbagai mainan2 aneh2, pastikan kalian menguasai dasar2 sulap dan tehnik2 sulapnya.

Nah, dari berbagai pengalaman, ada beberapa mainan yg memang bisa kita bawa sehari – hari tanpa terlalu banyak bawa gimmick yg aneh2.

Modal 1 note pad alias buku catatan kecil plus alat tulis (atau kalau mau lebih bagus lagi, memakai kartu nama sendiri) :

  • Magician force
  • One ahead
  • Berbagai tehnik peaking

Modal 1 pak kartu: berbagai mainan yang menggunakan skill seperti ambitious card, nyari kartu, prediksi, produksi As, dan lain sebagainya

Tanpa modal sama sekali: berbagai mainan dual reality dimana sebagian besar memakai barang sehari2, dan juga termasuk spoon bending.

Dan kalau emang niat banget bawa gimmick, berbagai mainan yg cukup practical tanpa memakan banyak tempat di kantong: LOOPS, Thumb Tip, dan Sponge Ball. Itu saja sudah kebayang berapa jumlah mainan yg bisa dimainkan bukan?

 

Hanya saja, seiring dengan waktu, gw sendiri hanya bawa kartu nama, note pad, alat tulis, dan 1 pak kartu. Dan bisa ditebak, alat yg sekilas ‘out of place’ dari barang sehari – hari hanyalah 1 pak kartu.

 

Keep Self-Working Trick and (especially) MATH TRICK at minimum to moderate

Para pesulap pemula juga seringkali demi mendapat efek permainan yang sempurna, namun mudah dilakukan, mereka lari ke self-working trick ataupun trik yg berjalan dengan sendirinya. Saran gw, pelajari 1-2 mainan self working saja yang memang benar2 menghibur audience dan akan sering anda mainkan.

Kenapa demikian? Self-working trick punya 1 kelemahan mendasar: harus dilatih dan dimainkan secara terus – menerus dan teratur. Jika tidak? Anda akan lupa caranya!

Kok bisa? Ya karena kebanyakan mainan self-working berkaitan erat dengan hitung2an bukan? Otomatis anda mesti menghapal kartu ke berapa dari atas, kemudian berapa kartu perlu diletakkan dibawah, setelah itu prosedurnya audience mesti memilih angka sekian sampai sekian dan berbagai macam prosedur yg kaku lainnya. Alhasil ketika anda memainkannya selama 1-2 bulan penuh, anda akan bisa mengingat berbagai prosedur tersebut. Tapi percaya deh, ketika 1 bulan uda ga dimainin aja itu trick self -working, kemungkinan besar anda akan lupa sebagian kecil dari prosedur tersebut. Dan ketika anda lupa sebagian kecil saja, kemungkinan besar trik itu tidak bisa dimainkan bukan?

Begitu juga dengan trik matematika atau math magic. Simplenya, audience, apalagi audience Indonesia, sangat suka dihibur tapi malas untuk berpikir rumit2. Dan angka mengsimbolkan kerumitan! Kalau anda bermain sulap yang didominasi oleh tebak2an angka didepan audience, itu akan menjadi permainan yang biasa2 saja karena image ‘sudah ada hitung2annya’. Percaya deh, efek memukaunya masih lebih baik menebak kartu ataupun main prediksi ketimbang menebak angka.

Tentu saja tetap ada permainan sulap yg melibatkan angka yg menghibur audience. Hanya saja, sulap2 menghibur yg melibatkan angka seringkali lebih cocok dibawakan di atas panggung ataupun dalam pembicaraan telepon ketimbang bermain langsung ala street magic/ table hopping.

 

Magician yang baik, tidak akan terus memaksakan opini mereka ataupun keluhan mereka kepada anda!

Banyak pesulap yang baru belajar, dengan semangatnya meminta masukan kepada para pesulap yg lebih berpengalaman. Problemnya adalah, pesulap ‘senior’ yang benar – benar bagus selama ini hanya bisa dihitung dengan jari. Bagaimana membedakannya dan apa konsekuensinya?

Cara membedakannya cukup sederhana: niat para pesulap ‘senior’ itu adalah membimbing anda agar anda bisa menjadi pesulap terbaik SESUAI dengan potensi dan kemampuan anda saat itu. BIMBING atau COACHING adalah menjadi kata kuncinya!

Bagaimana mereka membimbing? Sederhananya, mereka akan memberikan berbagai masukan mengenai apa yang bisa anda lakukan SESUAI KAPASITAS anda saat ini. Mereka akan memberikan masukan2 yg sudah terbukti berhasil karena mereka telah melakukannya sendiri dan kalaupun apa yg menjadi problem anda adalah sesuatu yg diluar scope mereka, mereka tidak akan ragu2 untuk merekomendasikan pesulap yg lebih ahli dibidang yang anda ingin tanyakan.

Dan point terpenting adalah, mereka tidak akan memaksakan opini mereka untuk anda turuti. Jadi ya kalau anda tidak menuruti saran mereka ataupun tidak setuju dengan opini mereka, ya anda tetap bisa berteman dengan mereka.

Dengan demikian, ketika anda menemukan seorang pesulap ‘senior’ yg selalu menekankan kalau cara mereka adalah yg paling benar, selalu menawarkan (cenderung memaksa) berbagai mainan2 baru untuk anda beli, atau selalu mengeluhkan akan situasi dunia persulapan Indonesia termasuk situasi karir sulap di Indonesia, saran gw…, TINGGALKAN ORANG SEPERTI ITU.

Ini ada hubungannya dengan psikologi dimana kita cenderung terpengaruh dengan lingkungan sekitar kita. Jadi, apabila anda mengelilingi diri anda dengan pesulap2 tukang komplain dan mengeluh, maka otomatis tinggal menunggu waktu, anda sebagai pesulap, untuk selevel dengan mereka. Percaya deh, ketika anda selevel dengan mereka, hidup di sulap itu sangat membosankan. Dan apabila anda menemukan lingkungan sulap sekitar anda memang tukang mengeluh, saran gw ada 2:

  1. cari lingkungan yg lebih supportif atau…
  2. Lebih baik anda ‘autis belajar sulap sendiri’ dan bergaul dengan lingkungan supportif yg ga ada hubungannya sama sulap.

Dan sebagai petunjuk, sebagian besar pesulap yg berhasil baik off air maupun on air, cenderung dibenci atau di-sirik-in sama pesulap2 tukang mengeluh.

 

Demikian tips yg bisa gw share untuk pembaca2 yg baru saja belajar sulap. Dan gw memegang kata2 gw diata, silahkan ini dijadikan referensi dan jalani kalau memang nyaman. I’m Rendy Fudoh, and this is one of my contribution for Indonesian’s Magic.

Apakah Tujuan Anda Bermain Sulap?

Tulisan ini merupakan sebuah tanggapan atas politik yang terjadi didunia sulap dan gw rasa juga berguna untuk orang awam yg berkarir di bidangnya masing2. Tidak dimaksudkan untuk menyinggung siapapun; hanya saja apabila yg membaca ini merasa tersinggung, silahkan anda lihat kembali tujuan anda main sulap.

Mulai dari jaman reality show The Master dan The Next Mentalist beberapa waktu lalu, gw menemukan fenomena unik. Dimana ketika reality show tersebut muncul, mulailah berbagai suara sumbang dan komplain akan dunia sulap Indonesia bermunculan. Entah mengatakan dunia sulap di Indonesia sudah hancur, sudah sekarat, tidak tertolong, dan lain sebagainya. Lucunya lagi, ketika reality show tersebut berakhir, semua suara sumbang pun juga berkurang. Well…., gw rasa suara sumbang juga ujung2nya cuma ikut trend.

Tidak hanya itu, didunia sulap pun gw melihat perpolitikan yang cukup sadis gw rasa. Misalnya A yang awalnya sahabat sama si B, kemudian berkumpul dengan teman2 lain yang 1 hobi dan membentuk suatu komunitas dan berkembang. Seiring dengan perkembangannya, A mengalami konflik dengan si B dan mulailah saling mencari kubu atau memihak sehingga komunitas tersebut terpecah.

Atau misalnya A dan B ini adalah seorang pria yang bersahabat. Mereka juga mengumpulkan teman2nya dan membentuk suatu komunitas. Karena suatu hal, A dan B menyukai wanita yang sama dan terjadilah konflik yang berujung kepada komunitas professional tersebut bubar dan seluruh anggotanya terkena imbasnya. It happends hampir di seluruh kota di Indonesia, suatu komunitas sulap bisa bubar karena mencampur adukkan masalah pribadi ke ranah kelompok dan professional.

Atau misalnya lagi, si A merasa senior sementara si B  lebih junior. B bekerja dengan kerasnya dan si A karena egonya, tidak mau menerima perkembangan si B. Jadilah A menggunakan segala cara untuk merusak karir si B.

Dan masih ada banyak lagi contoh lainnya yang dimana gw melihat ‘politik’ didunia sulap juga sama kejamnya dengan politik bidang lain seperti negarawan, hukum, kedokteran, dll. Apa yang hari ini menjadi teman, beberapa tahun kemudian bisa dianggap musuh bebuyutan dan begitu juga sebaliknya.

Dan disaat itu pula, para magician2 baru juga ada yang bertanya kepada gw yg intinya,

“Kok para pesulap2 senior pada setajam itu komentarnya yah?”

“Kok para pesulap2 yg katanya senior tapi selalu komplain dan mengeluh soal dunia sulap Indonesia yah? Jadi capek dengernya lama2.”

“Kok para pesulap di grup itu kerjaannya debat mulu yah?”

Dan masih banyak lagi…

Dan ketika gw dihadapi dengan pertanyaan itu…., gw menanyakan 2 hal….

Hal pertama adalah, “Apa tujuan anda main sulap?”

Hal kedua adalah, “Apa lawannya dari kata –cinta-?”

Apa Tujuan Anda Main Sulap?

Ketika saya menanyakan pertanyaan diatas, sebagian besar pesulap2 yg baru belajar rata2 menjawab 1 dari beberapa kemungkinan jawaban dibawah ini:

  1. Menghibur orang lain
  2. Menggaet lawan jenis
  3. Suka aja dengan sulap

Dan setelah itu, gw selalu menyarankan, apapun tujuan awalnya, tetap konsisten di tujuan tersebut sampai benar – benar terwujud. Dalam artian, apabila memang tujuannya main sulap adalah menghibur orang lain, ya konsentrasilah dengan banyak menghibur. Ketika tujuannya untuk gebet orang, fokuslah sampai gebetan bisa anda dapatkan karena permainan sulap anda. Dan ketika merasa ga jelas dan murni suka aja main sulap, ya lakukan karena anda suka dengan sulap.

Percaya atau tidak, tujuan awal kita main sulap ya ga jauh2 awalnya dari 3 hal diatas. Nah…, seiring dengan kita mulai belajar banyak soal sulap, barulah kita melihat kalau seorang pesulap itu keliatan keren didepan mata orang awam (yg dimana hanya 10% pesulap yg beneran keliatan keren, dan sisanya keliatan SOK KEREN TAPI MENTAL KERE). Setelah kita berlatih dan memperagakan berbagai permainan sulap kita ke orang awam, barulah kita merasa seakan – akan kita lebih baik dibandingkan orang awam tersebut (yang dimana sebagian besar itu hanya ilusi ego semata).

Lucunya, seiring dengan naiknya ego kita sebagai pesulap, tanpa sadar kita mulai menginginkan lebih. Pesulap mulai ada keinginan untuk masuk TV, mulai ada keinginan untuk masuk media, mulai ada keinginan untuk dikenal khalayak ramai, mulai ada keinginan untuk mapan secara finansial, dan lain sebagainya. Which is, it’s a good thing.

Hanya saja, para pesulap itu menjadi lupa, kalau tujuan awalnya adalah menghibur orang ataupun ya memang karena suka main sulap. Mereka sering lupa kalau media seperti TV, media cetak, internet, dan lain sebagainya adalah SARANA untuk meningkatkan karir mereka didunia sulap. Saking tingginya ego seorang pesulap, mereka lupa dan menjadikan semula yang merupakan saran, kini menjadi tujuan dari karir mereka.

Dengan demikian, tujuan mereka dari yang semula bermain sulap adalah untuk menghibur, kini bergeser tujuannya agar bisa masuk TV, agar terkenal, agar menjadi selebriti, dan lain sebagainya. Dan ketika SUATU SARANA BERGESER MENJADI TUJUAN, mulailah terjadi iri, sirik, dengki, dan berbagai keluhan2 seperti “Turut berduka atas hancurnya dunia sulap Indonesia.”; meskipun kata hati yang jujur adalah “Turut berduka karena saya ga masuk TV Indonesia”. Dan ketika itu semua bergeser, lucunya ada saja karir pesulap tersebut menjadi mandeg alias stagnan.

That’s why gw selalu bilang ke teman2 yg baru belajar sulap, “Apa tujuan dirimu main sulap?” Kalau sudah ketemu, sebisa mungkin konsisten dengan tujuan itu. TV, dan media lainnya adalah sarana dan bonus, termasuk dalam hal finansial. Kalau anda rajin main dan menghibur orang lain dan menggunakan media2 yg tersedia didepan anda sebagai sarana promo anda, talent2 scout pasti menemukan anda kok. Minimal untuk show offair, sepanjang anda terus mempromosikan diri anda dengan segala media yg tersedia didepan anda, anda pasti mendapat banyak job kok untuk mencukupi kebutuhan anda. Apa saja media yg tersedia didepan anda? Internet, komputer untuk buat portfolio, kamera untuk dokumentasi, kartu nama, dll….semua bisa didapat dan tinggal kreatifitas dan kerajinan anda yg diuji.

Politik di dunia sulap? Anggap itu sebagai dinamika alias konsekuensi dari karir sulap anda saja. Ingat, tujuan awal dari anda main sulap itu apa? Bukan untuk menjadi raja di perpolitikan sulap bukan? Politik terasa benar2 kejam karena anda dengan sadar dan sengaja melibatkan diri dalam perpolitikan tersebut. Dan politik hanya akan menjadi sekedar dinamika dunia sulap belaka ketika anda tetap fokus di tujuan anda main sulap.

Apa Lawan Dari Kata –Cinta- ?

Pertanyaan kedua ini gw ajukan karena gw sering mendapat curhat dari pesulap2 yang merasa masih junior yg mengeluh kenapa banyak pesulap2 senior yg suka debat kusir. Dan jawabannya, bisa kita tebak, 100% orang akan menjawab lawannya cinta adalah benci.

Well…., secara bahasa Indonesia itu memang benar.

Tapi ditinjau dari sudut pandang psikologis, cinta dan benci adalah hal yang sama. Anda membenci seseorang lawan jenis, anda mengata2in si dia, anda menggosipin si dia di belakang, bahkan anda sering memarahi dia, dll, JUSTRU PADA AKHIRNYA MALAH ANDA MERID SAMA DIA. Atau minimal mala macarin tu orang bukan? Sebagian besar orang bilang cinta dan benci emang setipis kertas bedanya,…. Well for me love or hate is the same thing.

Jadi secara psikologis, apa lawannya cinta?

The opposite of love is indifferent.

Artinya adalah, lawan dari cinta adalah TIDAK PEDULI alias CUEK alias BODO AMAT.

Dari situlah, gw menyarankan ke temen2 gw yg jenuh sama debat kusir para pesulap itu, lebih baik cuekin aja dan ga usa dipeduliin. Kalau suatu grup sulap menganggu karena banyak debat kusirnya, lebih baik keluar saja dari tu grup dan anda fokus ke menghibur orang lain dengan sulap.

Mereka suka berdebat kusir karena secara kejiwaan memang mereka CINTA DEBAT KUSIR. Jadi apabila anda mengambil sikap ga suka / benci debat kusir, percaya deh…ujung2nya anda malah ikut2an debat kusir dan juga kepancing. Best course is, biarkan si tukang debat berada didunia debat kusirnya dan anda berada didunia anda sendiri: menghibur orang lain dengan sulap.

Is it easy to be indifferent? no it’s not. Tapi percaya deh, kalau uda bisa menjadi cuek akan debat kusir, hidup lebih nyaman dan bahagia, kejiwaan lebih stabil dan anda bisa fokus di karir sulap anda. Banyak yang sudah melakukan sikap diatas (sikap cuek tersebut) dan terbukti menghasilkan berbagai karya sulap yang sangat menghibur penontonnya sekaligus mengundang iri para pesulap2 senior yang ga mampu menandingi reputasi orang tersebut.

Mengapa Para Pesulap Lebih Sulit Untuk Belajar Tarot?

Tulisan ini gw maksudkan lebih sebagai referensi kepada orang – orang yang berminat belajar tarot namun memiliki latar belakang sebagai pesulap pada awalnya. Dan sesuai judulnya, emang gw menemukan para tarot reader yang backgroundnya pesulap, suka bingung mengapa ada tarot reader yang bacaannya lebih tepat dibandingkan para pesulap. Mengapa ada banyak tarot reader yang dianggap ‘menipu diri sendiri’ oleh para pesulap, justru lebih bisa membuat klien terpukau.

Mungkin ketika kalian membaca tulisan ini, kesannya gw menjadi menggeneralisir. Yes, memang terkesan menggeneralisir,…hanya saja tujuannya lebih untuk memberikan ide atas apa yang terjadi oleh para pesulap yang belajar baca tarot.

Well, kalau diamati, memang ada 1 rahasia yang kalaupun para pesulap tahu, belum tentu akan memperbaikinya. 1 rahasia dimana para tarot reader umumnya memang menguasai itu setelah sekian lama, sementara para pesulap belum tentu bisa menguasai hal tersebut.

Rahasia itu adalah: EMPATI.

Mengapa saya bisa mengatakan pesulap lebih sulit menerapkan empati? Berikut beberapa faktornya.

Pola Pikir Pesulap: semuanya adalah cold reading

Gw sendiri membaca tarot dengan pendekatan psikologi; dimana gw membaca situasi klien, gambaran kedepan, maupun solusi yang ada berdasarkan simbol – simbol yang tertera di kartu tarot sebagai sarana nya. Alhasil, ketika ada informasi yg gw tidak tahu, gw bertanya langsung ke klien dan klien pun dengan santainya, memberitahukan informasi tersebut. Toh, tujuan dari konsultasi tarot adalah bersama – sama mencari dan mendiskusikan solusi.

Hal ini sangat berbeda apabila pesulap yang baru mulai belajar kartu tarot. Orientasi para pesulap umumnya adalah agar menjadi tarot reader seperti di tv ataupun event2 yg menunjukkan kehebatan si tarot reader. Dan di kalangan pesulap, beredar semacam mekanisme manipulasi psikologis yang kita sebut sebagai cold reading dan hot reading.

Dua metode tersebut merupakan metode manipulasi psikologis dengan tujuan mendapatkan informasi yang dibutuhkan tanpa klien sadari. Tujuan dari hot dan cold reading pada awalnya, tentu saja agar kita para tarot reader ataupun psikolog umumnya, mampu memberikan solusi yang efektif dan mendiskusikan berbagai metode terapi yang cocok untuk klien.

Hanya saja, dua metode ini menjadi menyimpang penggunaannya dikalangan pesulap umumnya. Mereka menggunakan metode ini sebagai ajang pamer kehebatan mereka seakan – akan mereka adalah dukun atau orang yang bisa baca pikiran. Alhasil, jadilah para pemakai hot dan cold reading yang amatir itu menjadikan kemampuan (yang baru dipelajari) tersebut sebagai ajang tebak – tebakan antara pembaca dengan kliennya.

Dan tentu saja ketika ini menjadi ajang tebak – tebakan. Ketika tebakannya benar, klien akan kagum dengan bacaan tersebut. Ketika tebakannya salah, klien langsung tidak simpati, menutup diri, dan dengan segala cara mempertahankan pendapatnya. Dan ujung – ujungnya, ya tidak ada solusi yang didapat dan klien pergi dengan muka masam.

Terbiasa cold reading = bacaan menjadi tidak ada empatinya

1 hal lagi point penting yang juga sering dilewatkan adalah, banyak klien mencari tarot reader itu adalah untuk curhat sebenarnya. Kenapa curhat ke tarot reader? Karena tarot reader dianggap sebagai orang yang netral terhadap suatu permasalahan. Selain itu, karena klien menganggap curhat ke tarot reader sebagai curhat ke orang yang tidak dikenal, maka klien merasa tidak perlu khawatir apabila curhatannya bocor ke orang lain. Dengan kata lain, klien memakai jasa tarot reader itu lebih karena ingin waktu menuangkan isi hatinya; sementara bacaan tarot itu adalah prioritas no.2 nya.

Sementara pesulap yang umumnya sudah terlanjur berpola pikir skeptis seperti “Tarot hanyalah permainan kartu yang dibungkus dalam kegiatan ramal – meramal” atau terlanjur menganggap “Tarot nya ga penting, yang penting pembacanya bisa menebak banyak yang bener dengan segala metode.”, maka bisa dipastikan, pembaca seperti ini tidak memiliki empati dalam membacakan klien.

Bagaimana ciri – cirinya: sederhananya, ketika klien mengecap anda sok tahu itulah anda telah mendapat cap sebagai orang yang tidak punya empati.

Bagaimana ciri – ciri yang lain dari tidak ada empati? Ketika klien menjadi merasa ingin buru – buru meninggalkan konsultasi, ketika klien menjadi sangat gelisah dan memalingkan muka. Maka disaat itu juga ada semacam indikasi anda tidak punya empati saat membacakannya.

Dan apa ciri – ciri paling keliatan kalau kebanyakan tarot reader tidak memiliki empati? Adalah ketika image tarot reader menjadi sangat buruk bahkan dianggap menyeramkan itulah yang menjadi tanda bahwa sebagian besar tarot reader di Indonesia sangat kurang empatinya dan hanya sekedar pamer kemampuan saja.

1 Wejangan untuk orang yang terbiasa hot dan cold reading

Ada beberapa pesulap yang bertanya kepada gw, bagaimana cara belajar tarot yang baik? Dan apakah buku – buku yang bagus untuk menjadi tarot reader?

Maka gw selalu mengatakan, ketika mulai belajar tarot, singkirkan dahulu segala konsep hot reading dan cold reading. Singkirkan dulu semua buku yang membahas seputar tarot untuk hiburan dan pertunjukkan (yang biasanya ada di kategori buku sulap).

Dan setelah itu, gw selalu mengatakan untuk mulai belajar kartu tarot sebagai kartu tarot. Mulai dari cara membacanya, berbagai pendekatan yang digunakan, dinamika klien, sampai sejarahnya apabila emang beneran minat.

In short word….kalau mau belajar tarot, belajarlah sebagai tarot reader beneran, dan bukan sebagai magician.

[Magic Article] Lesson From IIMS 2013: Audience Needs ‘Visual’

Well, seperti yang kalian tahu, selain sebagai tarot reader, saya sendiri juga melakukan pertunjukan mentalism baik pertunjukan panggung maupun pertunjukkan jarak dekat dikhalayak ramai atau bahasa kerennya adalah Street Magic. Dan berbicara mengenai pertunjukkan, setelah selesai melakukan pertunjukkan di salah satu booth kaca film otomotif di Indonesia International Motor Show 2013 ( IIMS 2013), saya mendapat suatu pelajaran yang sangat berharga.

Pelajaran ini pun saya dapat diawali dengan ego yang tertusuk dalam. Bagaimana bisa? Sederhananya, pertama kali saya melakukan pertunjukkan sulap panggung disana, pertunjukkan tersebut diawali oleh teman satu tim saya bernama Boris Zor-El. Dia memulai pertunjukkan dengan sangat bagus dan mampu mengumpulkan keramaian selama pertunjukkan Boris. Namun ketika giliran saya yang melakukan pertunjukkan, dan karena mentalist seringkali berkutat dengan prediksi dan angka – angka, alhasil di segmen saya, keramaian tersebut langsung bubar dan seakan – akan saya bermain sendiri.

Dari situ kebayang bukan bagaimana tertusuknya ego saya? Lebih parahnya lagi, hal ini terjadi tidak hanya sekali, namun dua kali di kesempatan yang berbeda! Dan dari situlah saya melihat kalau pertunjukkan mentalism yang biasa – biasa saja memang tidak bisa menarik keramaian. Kecuali kalau anda sudah punya nama yang sangat terkenal seperti Deddy Corbuzier atau Romy Rafael, 99% anda melakukan pertunjukan mentalism yang biasa – biasa saja, maka sambutan penonton pun menjadi sangat tidak antusias.

Saya sempat bingung bagaimana melakukan pertunjukkan mentalism yang bisa menarik keramaian. Saya perlu berpikir keras karena memang saya bukanlah seorang magician klasik ataupun yang fokus ke manipulasi seperti permainan coin ataupun menggandakan kain sutra, menggandakan tongkat, atau menunjukkan permainan kartu yang spektakuler. Kebingungan saya semakin diperparah karena pada dasarnya, permainan Boris Zor-El yang notabene adalah seorang magician manipulasi dan klasik ini, berhasil menarik keramaian dengan hal – hal yang sangat visual. Dan permainan visual itu sendiri merupakan KELEMAHAN UTAMA dari permainan mentalism!

Di hari terakhir, saya memiliki kesempatan terakhir untuk melakukan pertunjukkan panggung. Dan saya sempat berpikir bagaimana caranya saya bisa menarik keramaian layaknya teman saya itu. Jadilah setelah berpikir dan mnyusun permainan sederhana, saya memutuskan untuk mengurangi ego saya dan sedikit memberi nilai visual kepada permainan mentalism saya. Dan saya juga merencanakan bermain permainan ilusi sederhana menggunakan tali. Tentu saja semuanya juga ditambah dengan musik latar yang cukup menarik perhatian.

Meskipun konsepnya bisa dikatakan terburu- buru, namun kesempatan terakhir tersebut ternyata membuahkan hasil. Permainan saya yang ada ada unsur visualnya tersebut berhasil menarik keramaian pengunjung di booth tersebut dan membuat semuanya semakin meriah. Kesempatan terakhir di IIMS 2013 itu pun berakhir dengan sangat baik.

Dari situlah saya mendapat pelajaran yang sangat berharga, hasil dari mengorbankan sedikit ego saya. Pelajaran tersebut adalah, apapun pertunjukkannya, penonton membutuhkan pertunjukkan yang ada nilai visualnya. Meskipun namanya pertunjukkan mentalism yang sebenarnya menunjukkan kemampuan luar biasa dari sebuah otak manusia, penonton tidak mau pusing dan berpikir ketika sedang menonton pertunjukkan. Simplenya, penonton umumnya tidak mau menonton pake otak. Cukup menonton saja.

Apa saja dampaknya? Terutama kalau pertunjukkan dilakukan di lingkungan dimana orang berlalu – lalang, permainan mentalism perlu dibuat sederhana dan bahkan bisa dimengerti oleh orang yang baru menonton ditengah pertunjukkan. Dan tentu saja ada objek yang menjadi daya tarik dalam pertunjukkan tersebut. Apabila memang perlu dikombinasikan dengan ilusi sederhana, ataupun dengan hal yang menarik perhatian lainnya seperti wanita sexy, alat dengan warna menyolok, atau apapun yang menarik perhatian mata, memang lebih baik dilakukan saja apabila memang tujuan dari pertunjukkan tersebut adalah untuk menghibur penonton apalagi kalau memang bertujuan untuk menarik keramaian pengunjung.

Dan ketika anda berhasil bermain dengan baik dan menarik pengunjung, lucunya mereka akan menilai anda adalah sosok pribadi yang hebat dan bisa menghibur, namun anda tidak akan dilihat sebagai “mentalist yang hebat”. Toh nama mentalist memang lebih dikenal di kalangan magician/ pesulap ketimbang orang awam itu sendiri. 😀

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers:

%d bloggers like this: