Archive for case study

[CTR] Mengapa ‘Cerita’ Prestasi Karena Kerja Keras itu ‘Tidak Laku’

 

Sesuatu Yang (Sengaja) Dilupakan

Berkaca dari pengalaman saya sendiri sebagai tarot reader, ketika ada klien yang datang untuk meminta konsultasi, 99% beranggapan bahwa kemampuan saya dalam membaca kartu tarot adalah sebuah kelebihan yang saya miliki sejak kecil. Mereka memuji saya dan berharap memiliki kelebihan yang saya miliki.

Hal lucunya adalah, setiap kali saya menceritakan bahwa ini bukanlah ‘kelebihan’ yang saya miliki, melainkan hasil dari saya belajar dan latihan terus – menerus sambil tetap menjalankan profesi saya sebagai tarot reader, klien hanya mengiyakan saja akan pengakuan saya tersebut dan seringkali hanya sebatas tertarik ingin belajar tarot.

Namun rasa tertarik ingin belajar tarot pun hanya sebatas wacana saat itu saja. Dan sebulan kemudian, klien yang sama, datang kembali kepada saya untuk konsultasi lanjutan, pun ternyata ia mengulangi hal yang sama: kemampuan saya membaca kartu tarot adalah sebuah kelebihan yang saya miliki sejak kecil dan berharap memiliki kelebihan tersebut.

Yes, mereka lupa akan ‘cerita pengakuan’ saya tersebut.

Pada awalnya, saya berpikir kalau kejadian ini, mungkin hanya berlaku untuk hal – hal yang sekilas berbau mistis. Namun ternyata saya juga salah kira.

Ada seorang teman saya, sebut saja Chandra namanya, dia merintis bisnis kopi. Dia memulainya dari sebuah kedai kopi kecil – kecilan dan bisnis tersebut gagal. Kemudian dia mencoba berbagai variasi bisnis kopi lainnya, dan juga terus – terusan gagal sampai lebih dari 10 kali. Sampai akhirnya, sekitar percobaan dia yang ke 12, dia baru menemukan sela nya dan sekarang sudah memiliki bisnis kopi instan premium yang dijual di berbagai minimarket.

Ada beberapa klien saya yang mengetahui merek kopi instan premium tersebut dan mengatakan betapa beruntungnya pemilik bisnisnya karena berhasil menjual 1 paket isi 2 sachet kopi instant tersebut seharga 1 porsi kecil makan siang di mall kelas menengah. Sementara perusahaan lokal mapan umumnya paling hanya bisa menjual sekitar Rp 2000 untuk 1 sachetnya.

Karena saya mengetahui owner dari produk yang dimaksud, maka saya menceritakan secara singkat akan perjuangan pemilik bisnis tersebut; tak lupa menekankan bagian ‘gagal belasan kali’.

Dan hal menarik kembali terjadi; seminggu kemudian klien yang sama datang kepada saya, sekedar untuk berbagi cerita saja, dan kembali menyinggung bahwa pemilik bisnis kopi instan premium tersebut sangat beruntung. Beruntung karena berhasil menjual 1 paket isi 2 sachet kopi instan seharga 1 porsi kecil makan siang di mall kelas menengah.

Dan klien tersebut mengaku lupa kalau saya pernah menceritakan kegagalan belasan kali ownernya sampai akhirnya berhasil menemukan sela di bisnis kopi tersebut.

 

Mengapa Bisa ‘Lupa’?

Saya sendiri sempat bingung dengan fenomena sosial ini. Bingungnya karena banyak sekali buku – buku inspiratif dan berbagai seminar motivasi yang sekilas tampak banyak sekali peminatnya. Buku – buku dan seminar tersebut merupakan suatu produk dengan angka penjualan yang sangat tinggi. Minimal kalau menurut data penjualan suatu toko buku besar di Indonesia yang saya ‘intip’, penjualan buku berbau motivasi dan inspirasi itu merupakan buku dengan penjualan tertinggi no-2 di Indonesia.

No-1 nya? Buku resep masakan. Dan no-3 nya lebih ke komik/ manga.

Namun lucunya lagi, orang – orang yang pernah membeli buku motivasi dan inspiratif tersebut, ketika saya tanyakan, mereka mengaku sudah membaca sampai habis isi buku tersebut; namun LUPA akan inti detail pesan yang mau disampaikan.

Dan dari sini pula, saya juga berpikir. Banyak orang yang menginvestasikan sebagian kecil penghasilan mereka untuk buku tersebut, namun investasi mereka tampaknya menjadi sia – sia. Karena mereka membaca buku tersebut hanya untuk memenuhi -ilusi telah belajar-nya saja tanpa mencoba menerapkan berbagai pesan yang ingin disampaikan dari buku tersebut.

Sebaliknya, buku – buku novel ringan (atau sering disebut sebagai chicklit atau teenlit) romantis, malah bisa diingat relatif mendetail dalam soal cerita dan konflik dalam novel tersebut. Ada apa ini?

 

Jawaban Yang Datang Dari Sebuah Film Animasi

Pada awalnya, saya hanya bisa mendapat kesimpulan sementara, ya memang karena masyarakat itu cenderung mengingat hasil akhir dan melupakan prosesnya. Titik. Tidak lebih dari itu.

Namun suatu ketika, saya menonton sebuah film animasi Jepang seputar ‘pertempuran memasak’, dan lucunya, saya mendapat jawaban dari film animasi Jepang yang sekilas hanyalah tontonan ‘sekali nonton’ tersebut.

Jawaban yang saya dapat cukup menarik dan bisa menjadi bahan pemikiran pribadi.

 

Berikut percakapan yang saya kutip dari tontonan animasi tersebut yang saya terjemahkan secara bebas.

 

Ketika ada seseorang yang berbakat, kita cenderung memuja dan mengidolakan orang tersebut. Kita menilainya sebagai sosok yang ‘beruntung’ sementara kita bukanlah orang yang seberuntung dia.

Dengan demikian, kita menjadi memaklumi dan memaafkan diri sendiri, kalau kita tidak akan bisa menjadi seperti idola kita.

Namun orang yang baru masuk ke dunia kompetisi memasak ini, bukanlah orang yang berbakat. Dia menjadi ahli dibidangnya  karena bekerja keras dan gagal berkali – kali. Orang baru ini menjadi sosok yang tidak populer dikalangan kita, meskipun dia cukup berprestasi.

Kenapa bisa begitu?
Karena kita tahu, orang baru ini sama dengan kita. Tidak berbakat sama sekali. Kalau kita sampai mengidolakan orang yang tidak berbakat ini, maka kita harus menerima kalau kita sendiri sebenarnya juga bisa berprestasi melalui kerja keras dan latihan terus – menerus.

Dan kita harus menerima kalau kita belum bekerja sekeras dan berlatih serajin dia.

Sederhananya, kalau disimpulkan, kita semua cenderung dengan sadar, melupakan proses perjuangan seseorang menjadi berprestasi, semata – mata karena kita tidak mau mengoreksi kekurangan diri kita sendiri.

[CTR] Apakah Hal Tersulit Yang Dihadapi Seorang Tarot Reader? (part 2)

Contoh kasus kedua, soal kelahiran anak.
Sebut saja misalnya nama kliennya Wanti, bukan nama sebenarnya, dia merupakan pasangan yang baru saja menikah dan berharap untuk segera punya anak. Uniknya, sudah hampir 6 bulan pun mereka belum memiliki anak dengan segala macam program yang sudah mereka jalani.

Wanti pun konsul ke saya soal kemungkinan dia punya anak. Dan saya menarik 2 kartu, keluarnya waktu itu adalah 10 of Wands dan The Lovers.

Dan waktu itu, dengan antusiasnya karena kartu yang sekilas bagus, saya membacakan kalau mereka sudah melakukan usaha yang cukup signifikan (10 of wands) sehingga bisa diharapkan kalau dalam waktu dekat, mereka akan punya anak hasil dari hubungan cinta mereka (The Lovers). Semuanya terlihat sangat baik bukan?

Pada waktu itu, saya ada keinginan untuk sedapat mungkin menyampaikan kabar baiknya saja dan sangat meminimalisir kabar buruknya. Dan tentu saja bacaan saya yang cukup singkat, padat, jelas DAN MENYENANGKAN tersebut membuat klien menutup sesi konsul dengan hati berbunga – bunga.

Namun sikon hati berbunga – bunga tersebut, tidaklah bertahan lama.

Sekitar 4 bulan kemudian, Wanti kembali kepada saya dan mengeluhkan kalau sampai saat itupun mereka belum dikaruniai anak. Saya kembali melihat arsip konsulnya, dan saya kembali teringat akan sikon waktu itu dimana saya menjadi tidak sangat objektif.

Saat itu, saya ingin klien selalu senang dengan hasil bacaan saya; dengan harapan bahwa klien yang sudah senang, akan kembali lagi ke saya untuk kembali berkonsultasi dengan topik yang baru tentunya. Namun, ketika klien yang sama kembali dengan topik yang sama dan belum ada perkembangan apapun, saya berpikir, ada sesuatu yang salah dengan situasi tersebut, dan saya menemukan, diri sendiri yang tidak objektif waktu itu, juga menjadi faktor dimana mereka belum tahu alasan sebenarnya mereka belum memiliki anak.

Lantas setelah klien tersebut kembali ke saya untuk konsultasi, saya (lagi – lagi) meminta maaf dan mengakui kesalahan saya sendiri yang waktu itu cukup sembrono dalam membacakannya. Interpretasi objektifnya yang seharusnya saya bacakan waktu itu:

Anda berdua yang sama – sama bekerja, setelah menikah, anda hanya melakukan bulan madu 2 hari saja sebagai formalitas dan sisanya anda kembali sibuk dengan pekerjaan anda masing – masing (10 of Wands). Alhasil, karena tekanan psikis yang anda berdua alami akibat pekerjaan, memang mengakibatkan anda secara mental memang belum siap untuk memiliki anak. Kesuburan anda pun sangat dipengaruhi oleh tingkat kestabilan emosi anda.

Saran saya, luangkan waktu anda berdua untuk liburan sekitar seminggu, dan pergi liburan sambil menciptakan kembali masa – masa anda pacaran. Buat perjalanan anda selama liburan menjadi perjalanan yang ‘panas dengan cinta’. Dan ketika anda kembali ke rutinitas masing – masing, tetap jaga tingkat intimasi anda tersebut  (The Lovers).

Hindari juga godaan untuk menjadi sangat workaholic dan tetap komitmen untuk saling mencintai.

Setelah itu, Wanti menutup sesi konsulnya. Dan beberapa bulan kemudian, dia memberitahukan ke saya akan kehamilan anak pertamanya. Saya pun mengucapkan selamat atas kehamilan tersebut.

9 bulan kemudian, dia melahirkan anak pertamanya, memberitahukan ke saya. Dan setelah itu, Wanti tidak lagi menghubungi saya untuk konsultasi.

Mungkin memang dia sudah sibuk dengan aktifitasnya sebagai wanita karir dan ibu rumah tangga, dan saya kehilangan 1 klien yang bisa berulang kali konsul ke saya. Namun, akhirnya dia memiliki seorang anak, yang berarti salah satu masalah utamanya sudah selesai, dan memang dia tidak lagi memerlukan konsultasi saya bukan?

Menurut saya, membantu dalam proses menyelesaikan masalah klien dengan konsekuensi MUNGKIN dia tidak akan datang kembali untuk konsultasi, itu jauh lebih baik ketimbang dengan sengaja menginginkan klien untuk bergantung kepada kita terus – menerus hanya supaya kita, tarot reader, mendapat bayaran.

 

Yang ketiga dan yang terakhir sebagai contoh, saya sendiri pernah juga memiliki klien yang bersiap – siap untuk mengikuti pemilihan kepala daerah atau PILKADA untuk suatu daerah di Indonesia. Sebut saja namanya Wawan. Dia menanyakan kemungkinan dia untuk menjadi kepala daerah di daerah pemilihannya tersebut.

Saya sudah jauh lebih objektif daripada sebelum – sebelumnya, sehingga saya mengatakan kalau anggaplah kesempatannya mengikuti Pilkada tersebut sebagai ajang untuk mencari pengalaman dalam dunia politik. Kemungkinan dia menjadi kepala daerah tersebut memang agak kecil mengingat faktor dia belum berpengalaman, ditambah dengan jaringan politisnya yang waktu itu masih ngepas. Saya juga menyarankan untuk tidak melakukan praktek ‘beli suara’ dengan cara memberi amplop berisi uang ke masyarakat sekitarnya dengan harapan mereka mau memilih Wawan karena kemungkinan besar mereka tidak akan memilihnya.

Tentu saja Wawan tidak menerima bacaan tersebut dan cenderung menekankan kalau dia pasti menang karena koneksi politik dia dirasa cukup kencang. Saya memaklumi dan memahaminya saat itu dan mempersilahkan Wawan untuk mencobanya, dengan catatan tanpa menyogok. Karena itu dari bacaan, pasti akan rugi besar.

4 bulan kemudian, Wawan kembali konsultasi dan mengaku kalau dia rugi sebesar puluhan juta rupiah secara percuma. Dia menyogok masyarakat sekitar dengan membagikan amplop berisi uang tersebut. Wawan sendiri mengaku menjadi sangat panas karena didorong oleh rekannya yang mengaku sangat berpengalaman sebagai konsultan politik, untuk membagikan amplop tersebut agar bisa menang pilkada saat itu.

Ternyata memang rakyat sekitar, tetap menerima uang tersebut TANPA memilih dirinya.

Memang dia kecewa, namun dia cukup mendapat pelajaran berharga disana, dan kembali mencoba berpolitik dengan lebih jujur. Untuk beberapa lama, dia pun menjadi klien rutin saya sampai ketika dia menjadi sangat sibuk dengan bisnis barunya.

 

Masih ada banyak contoh lain yang bisa saya bagikan; namun saya rasa, 3 contoh tersebut sudah bisa mengcover semua yang ingin saya tunjukkan.

Contoh pertama itu, lebih menunjukkan kalau karena nilai – nilai pribadi saya sendiri, saya jadi memaksakan nilai pribadi tersebut ke orang lain meskipun jalur hidup orang lain tersebut, sangat berbeda daripada saya.

Contoh kedua, lebih menekankan saya yang dulu berusaha membuat klien senang dengan saya dengan harapan mereka melakukan repeat order meskipun konsekuensinya, masalah mereka tidak selesai – selesai.

Contoh ketiga, menekankan saya yang sudah berusaha lebih objektif, meskipun bacaannya mungkin terkesan tidak menyenangkan untuk didengar, ternyata tidak menjadi faktor utama dalam menentukan klien dalam melakukan repeat order. Bisa saja ketika bacaannya terkesan tidak menyenangkan namun objektif, klien akan mengerti dan justru meminta kita membacakan kembali setelah ada perkembangan lebih lanjut.

 

Kalau saya rekap, selama lebih dari 10 tahun ini, justru saya merasakan, hal tersulit yang dialami oleh Tarot Reader dalam menangani klien itu, justru…

Menjaga ego kita sendiri agar klien dapat memperoleh berbagai alternatif langkah hidupnya secara objektif.

Sounds cheesy, right?

Cuma kenyataannya dilapangan, hal ini menjadi benar – benar sangat penting. Bahkan bisa menentukan, apakah klien mu (dengan bantuan masukan dari Tarot Reader), dapat menemukan berbagai jalur alternatif hidupnya, atau justru ia akan semakin terperosok kedalam masalahnya hanya karena ego pribadimu.

Ego disini yang saya maksudkan adalah nilai – nilai yang kita anut secara pribadi termasuk berbagai prinsip yang kita pegang dan juga hal – hal yang menurut kita pribadi itu wajar untuk dilakukan; termasuk juga hal – hal yang menjadi norma masyarakat umumnya. Bahkan nilai yang kita dapatkan dari iman, ataupun nilai agama yang kita pegang pun, itu termasuk dalam ego kita pribadi juga.

Dan apakah itu dapat mempengaruhi repeat order atau klien yang kembali datang melakukan konsultasi tersebut? Sejauh pengalaman saya, obejktifitas, tidak menjadi faktor penting dalam repeat order. Melainkan empati lah yang bisa menjadi faktor utamanya.

Sisi memahami dan menerima, tanpa menjudge (atau memaksakan nilai pribadi yang kita pegang ke mereka) dan mau mendengarkan klien, saya rasa justru menjadi faktor terpenting dalam repeat order.

 

(selesai)

[CTR] Apakah Hal Tersulit Yang Dihadapi Seorang Tarot Reader? (part 1)

Ada beberapa teman yang baru mulai belajar tarot, bertanya kepada saya,

“Apakah hal tersulit yang dihadapi oleh seorang tarot reader yang sudah berpengalaman seperti kamu?”.

Well…, mungkin kalau dulu banget, saya akan bilang kalo hal tersulit yang dihadapi oleh seorang tarot reader, adalah masalah – masalah yang pelik, yang rumit, dan semacamnya. Katakanlah misalnya kalau klien bertanya seputar karirnya di ekonomi, politik, atau soal bisnis – bisnisnya. Dan ketika saya menjawab itu pada waktu lampau, saya menjawab dengan terbesit rasa bangga terhadap diri sendiri alias setengah pamer karena (bermaksud) menunjukkan, “Gue uda handle klien politisi looooh! Gue uda menangani klien pengusaha gede looohh! Loe belom kan? “
Itu pas di awal – awal banget, sekitar 3-4 tahun lalu lah.

Namun ketika saya sudah berkecimpung didunia tarot yang sudah lebih dari 10 tahun ini, dan disaat yang sama, ada klien yang menanyakan hal yang sama…, pertanyaan yang seringkali saya pelintirkan menjadi ajang pamer prestasi tersebut, justru memiliki jawaban yang jauh berbeda dibandingkan sebelumnya.
Ketika saya melihat kebelakang dan bercermin dengan berbagai keputusan yang saya ambil sebagai Tarot Reader, justru saya merasa ada hal – hal, yang dengan tingkat kedewasaan saya yang sekarang, justru jangan diambil. Karena itu bisa berbalik merugikan orang lain. Menjaga ‘ITU’ agar klien berbalik tidak ‘dirugikan’, ternyata sangat sulit.

Apakah ‘hal ITU’ tersebut?

Well…, akan saya ceritakan dulu soal beberapa pengalaman praktis saya sebelumnya sebagai Tarot Reader agar lebih jelas…

Yang pertama, sekitar tahun ke -3 karir saya didunia tarot, saya termasuk reader yang masi melihat kalau perceraian itu adalah hal yang sedapat mungkin dihindari. Jadi apapun masalah klien, perceraian itu pokoknya bener – bener opsi terakhir deh. Kalo bisa, jangan disinggung lah.

Nah, suatu hari, sebutlah nama kliennya si Juli, bukan nama sesungguhnya, itu konsul ke saya soal sikon rumah tangganya yang memang sangat jauh lah dari ideal. Suaminya selingkuh, dan adakalanya suka melakukan kekerasan fisik ke Juli.

Dan ketika dia konsul ke saya, 3 kartu yang keluar adalah 9 of swords , Death dan ace of cups.

 

 

Interpretasi singkatnya yang seharusnya saya bacakan saat itu:

Juli sudah sampai di tahap dimana dia benar – benar sudah menderita lahir batin (9 of swords), sehingga memang sudah waktunya untuk menyelesaikan relasi yang sekarang (Death), dan memulai relasi baru dengan orang yang baru sesudahnya (ace of cups).

Basically sih, intinya dia disarankan divorce alias cerai.

Cuma karena waktu itu, saya masih termasuk ke orang yang sangat anti divorce, maka saya memodifikasi interpretasinya seperti ini:

Situasinya sudah sangat buruk (9 of swords) sehingga kalau dibiarkan terus, maka hubungan ini bisa tidak bertahan lama (Death), sehingga perlu adanya penyegaran relasi untuk menjaga harmonisnya hubungan (ace of cups).

Oleh karena itu, saya sarankan untuk coba berikan service terbaikmu ke suami. Entah dengan cara memijat dia, melayani dia dgn menyajikan teh misalnya disaat dia pulang kerja, bawa ke saat – saat masih pacaran. Setelah beberapa minggu, silahkan mulai diskusi baik – baik soal hubungan kalian agar bisa dipertahankan.

Dan hasilnya? Klien saya mencoba untuk menjalankan hal tersebut dan semakin lah dia mendapat siksaan fisik bertubi – tubi, ditambah anaknya yang mulai melihat ibunya disiksa tersebut serta semakin dia menambah trauma psikis yang sudah ada (anggap seperti makna di kartu 9 of swords yang semakin parah). Ternyata memang untuk suami si Juli ini, ketika dia semakin melayani dengan baik, justru semakin menjadi sasaran siksaan.

Dan dia konsul ke saya untuk kedua kalinya.

Dan saat itu, saya meminta maaf atas kesalahan saya yang tidak objektif dalam membaca; ketika saya kembali membaca tarotnya pun, tetap intinya sama. DIVORCE supaya hidupnya lebih baik termasuk untuk anaknya juga. Dia memaafkan, namun tetaplah bagi saya, dampak menambah trauma psikis karena ‘peran saya’ menjadi pikiran saya tersendiri waktu itu.

Singkat cerita, setelah cerai, dia justru menjadi single mother dengan anak yang sangat bahagia hidupnya. Banyak pria yang mau sama dia, dan mantan suaminya pun sampai meminta balik dengan dirinya.

Tentu saja dia sudah kapok dengan perilaku mantan suaminya sehingga dia lebih memilih untuk bahagia sebagai single mother. Dan kalau masi memungkinkan, baru dia akan mencari orang baru.

 

(bersambung)

[CTR] Apakah Anda Benar – Benar Belajar?

“Ren, apakah kamu pernah mengenal orang yang…, misalnya dia sudah belajar tarot, sudah ikut seminar sana – sini, sudah ikut berbagai pelatihan, dan juga sudah sering bertemu dengan banyak pembaca tarot yang mumpuni dan berbagi ilmu; tapi kok pembacaannya biasa – biasa saja alias ‘meeeh’ banget?”

“Pernah.”

“Nah, kalau misalnya didunia fotografi, pernahkah nemuin orang yang seperti itu juga?”

“Gw yakin pasti ada orang seperti itu. Jangankan tarot dan fotografi, dunia sulap, akuntansi, design, dan hampir semua bidang yang bisa dijadikan profesi juga gw yakin ada saja orang yang seperti itu.”

“Kok bisa yah?”

 

Beranjak dari percakapan saya dan teman saya itulah, kali ini saya akan sedikit membahas ‘mengapa’nya di artikel ini.

Dari hasil pengamatan saya sendiri dan juga dari berbagai sharing pakar, memang ternyata cara belajar seseorang itu ada 2 macam.

Yang pertama adalah, orang yang saya sebut memang benar – benar belajar. Jadi sebutlah namanya si Andi seorang tarot reader, dia membeli buku paling hanya 3 buku soal tarot selama setahun. Tapi dia membaca buku itu sampai habis dan mencoba menerapkan apa yang ia pelajari dalam pembacaannya sehari – hari. Dalam setahun dia hanya mengikuti 1 saja workshop tarot dan dia juga mencoba menerapkan apa yang dia dapat dari workshop tersebut dalam praktek bacanya sehari – hari.

Alhasil, dari mencoba menerapkan berbagai ilmu yang dia dapat, Andi menemukan metode pembacaan seperti apa yang cocok untuk dia dan mana yang kurang cocok untuk dirinya. Selain itu, dia juga menemukan gaya pembacaan yang cocok untuk dia terapkan ke kliennya sesuai dengan kapabilitas si Andi. Cara belajar seperti ini yang saya sebut sebagai cara belajar yang ideal alias benar – benar belajar: pelajari yang memang perlu dipelajari – coba diterapkan – seleksi mana yang cocok dan yang kurang cocok setelah mencobanya ke diri sendiri.

Sementara yang kedua adalah belajar untuk sekedar –merasa belajar- saja. Yes, yang saya tekankan disini lebih ke sisi orang tersebut merasa seakan – akan dia sudah banyak belajar. Orang seperti ini, sebutlah misalnya Eva, seorang pesulap, dia membeli banyak buku sulap, membeli banyak peralatan sulap, mengikuti banyak workshop sulap, bahkan sampai sering bertukar pikiran dengan para pesulap profesional baik dalam maupun luar negeri.

Namun, saat dia membeli buku, paling buku yang dia baca hanya 1 dari 5 buku. Itupun hanya beberapa halaman sambil meminta orang lain untuk foto dirinya dan di post di media sosial untuk menunjukkan seakan – akan dia sangat rajin belajar sulap. Saat dia membeli banyak peralatan, dia hanya mencoba memainkannya 2-3 kali dan setelah itu masuk kedalam lemari tanpa disentuh kembali. Ketika dia mengikuti workshop, dia hanya duduk dan mencatat 1-2 baris kalimat, mencoba mengikuti semua pelajaran dari workshop tersebut dan 3 hari kemudian, 80% ilmu yang dia dapat dari workshop sudah dia lupakan. Bahkan ketika Eva berbagi ilmu dengan berbagai pesulap profesional, tanpa dia sadari, dia hanya ingin sekedar mengobrol dengan pesulap tersebut, berfoto bersama, dan berbagai tips yang dia dapatkan pun dia lupakan 3 hari kemudian.

Orang yang belajarnya tipe kedua ini (seakan – akan dia sudah banyak belajar) sebenarnya memiliki tujuan untuk mencari perhatian belaka dan tidak sungguh – sungguh ingin belajar bidang tersebut. Modal yang dikeluarkan memang cukup besar, namun itu semua bukan untuk pengembangan dirinya sendiri agar semakin menguasai, melainkan untuk menarik lebih banyak perhatian orang sekitar ke dirinya semata.

Tulisan yang saya buat ini memang terkesan sangat menghakimi dan menggeneralisir; namun percaya deh, banyak sekali orang yang saya lihat, ketika belajar memang seperti tipe kedua ini. Cara membedakannya ya seperti percakapan saya dengan salah satu teman saya tersebut. Dia sudah bertahun – tahun belajar suatu bidang, namun selama bertahun –tahun itu tidak ada perkembangan kemampuan yang berarti dalam dirinya.

Artikel ini saya tutup dengan tips bijak yang saya yakin sering diucapkan para pakar: lebih baik belajar dari sedikit buku dan pelatihan, namun benar – benar anda pelajari isinya; ketimbang mempelajari banyak buku dan pelatihan, tapi tidak ada satupun yang dikuasai isinya.

[CTR] Kenapa Kita Dianjurkan Berperilaku Positif? Untuk SURVIVE!

01 the magician

Sudah lama dan cukup banyak teman – teman saya yang berkomentar kalau saya cenderung berpikir positif. Banyak juga yang bertanya, bagaimana caranya untuk berpikir positif dalam kehidupan sehari- hari.

Dengan tulisan ini, saya juga bermaksud menjelaskan kalau memang berpikir dan berperilaku positif itu, meskipun tentu saja dalam taraf yang moderat, justru sangat diperlukan untuk SURVIVE!

Mengapa bisa begitu? Berikut saya rangkum beberapa alasan kita perlu berpikir dan berperilaku positif. Dan semua yang saya rangkum disini, terjadi di sekeliling saya juga.

 

Positif Atau Masuk Rumah Sakit?

Sudah jadi semacam pengetahuan umum (thanks to social media) bahwa berpikir sekaligus berperilaku positif itu bisa menaikan daya tahan tubuh orang tersebut. Dengan demikian, apabila seseorang sehari – harinya cenderung berpikir negatif atau bahkan selalu ngedrama, sekuat apapun fisiknya sejak lahir, dia akan cenderung sering jatuh sakit.

Seperti apa sakitnya? Jujur saya sendiri tidak bisa memberikan kepastian penyakit yang dialami. Namun polanya selalu sama: penyakit tersebut akan ‘menyerang’ organ tubuh yang terlemah. Jadi bisa saja apabila anda terlalu sering berpikir negatif, anda akan mudah sakit kepala; beda untuk orang lain, bisa saja ada orang lain yang karena seringnya berpikir negatif, dia menjadi mudah sakit perut, dan lain sebagainya.

Dan sehebat apapun anda menjaga pola makan, olahraga, dan lain sebagainya, apabila tidak diimbangi dengan berpikir dan perilaku positif, dampak dari pola makan dan olahraga itu sendiri akan berkurang jauh.  (That’s why banyak juga orang yang mengaku vegetarian namun fisik terlihat dan terkesan sangat tua dibandingkan umurnya).

Positif Atau Anda Kehilangan Banyak Peluang Karir?

Apabila anda adalah seorang karyawan kantoran dimana pendapatan bulanan anda sudah pasti, mungkin perilaku positif bukanlah suatu hal yang penting untuk anda. Namun apabila anda adalah seorang pengusaha, baru mau terjun ke dunia usaha, ataupun berkarir di bidang yang penghasilannya bukanlah penghasilan tetap (termasuk pekerja kantoran bidang marketing misalnya), maka perilaku positif adalah suatu keharusan.

Saya sudah banyak melihat berbagai contoh kasus nyata yang terjadi didepan mata saya, dimana banyak teman saya yang kehilangan calon konsumen karena cara menjawab pertanyaan seseorang dengan -dingin-, “Silahkan kontak manajer saya saja.”. Ada juga kejadian dimana teman saya kehilangan peluang kerjaan yang sangat bagus dengan penghasilan cukup tinggi di suatu gym. Padahal banyak teman – temannya di gym tersebut berusaha merekrut dia secara personal, namun dimentahkan hanya karena mantan pacar teman saya pernah bekerja disana. Sudah bisa ditebak alasannya: takut dikontak sama mantannya tersebut.

Atau ada juga kejadian dimana seorang model yang seharusnya bisa mendapat suatu pekerjaan fotografi, namun semua itu menjadi hilang hanya karena perilaku tidak sabaran dan menghapus kontak manajer event photo tersebut. Padahal setelah event photo tersebut selesai berjalan, semua model yang berpartisipasi, menjadi kebanjiran banyak pekerjaan disana.

Positif Atau Anda Kehilangan Banyak Calon Pasangan

Saya ada banyak sekali teman wanita yang secara wajah dan fisik itu sangat cantik. Sebagian besar dari teman yang cantik tersebut ternyata lebih banyak menghabiskan waktu sebagai jomblo! Bahkan proses PDKT dengan calon pasangannya pun tidak ada yang bertahan lama!

Setelah diselidiki penyebabnya, ternyata ya sederhana juga kok. Banyak pria yang tertarik dengan paras cantik seorang wanita di awal. Namun setelah banyak berinteraksi, ternyata wanita cantik tersebut terlalu banyak drama, meminta perhatian, terlalu banyak mengeluh dan mempermasalahkan banyak hal yang seharusnya bisa diselesaikan dengan sederhana.

“Seharusnya, kalau anda mencinta seseorang, anda harus menerima apa adanya!”, begitulah pesan yang selalu keluar bukan? Namun perlu diingat, dunia ini bukanlah seperti cerita romantis di novel. Kita tidak akan bisa menerima seseorang apa adanya 100%. Banyak pria yang bisa menerima wanita apa adanya dan sebaliknya, wanita pun juga demikian. Namun hanya 1 hal yang seringkali menjadi harga mati dan tidak bisa diterima oleh siapapun cepat atau lambat: perilaku negatif.

 

Sekian dulu tulisan saya kali ini, dan untuk tulisan berikutnya, saya akan membagikan ‘kelanjutan’ dari artikel ini.

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers:

%d bloggers like this: