Archive for case study

Question And Answer Part 4: About Tarot Reader

00 the fool

Q: Ren, apakah ada seseorang yang menjadi sangat kaya dengan membaca tarot?

A: Sejauh yg gw tau, kalo kaya disini dalam konsteks materi, maka belum ada orang yg menjadi sangat kaya dan punya tabungan milyaran rupiah hanya dengan membaca tarot. Seorang pembaca tarot yg sangat kaya yg gw tahu, ternyata selain pembaca tarot, juga sekaligus seorang pengusaha yang sukses.

Q: Kira2, lebih banyakan mana jumlahnya antara tarot reader pria dengan wanita?

A: Ini agak unik. Diantara tarot reader, kita semua tahu kalau tarot reader pria jauh lebih banyak. Namun karena yang sering masuk TV adalah tarot reader wanita (karena parasnya lebih menjual dan image tarot = wanita gypsy), maka orang awam selalu mengira lebih banyak tarot reader wanita ketimbang pria.

Q: Apakah seorang tarot reader juga harus belajar psikologi?

A: Sebenarnya sih, tidak diwajibkan. Namun alangkah lebih baiknya seorang tarot reader juga belajar psikologi, dengan tujuan agar memiliki empati dan tahu cara mengkomunikasikan akar masalah klien berikut berbagai tips untuk memperbaiki masalah si klien itu sendiri.

Q: Apakah seorang tarot reader perlu belajar dan terus mengupdate ilmunya melalui buku? Ataukah ilmu tarot bisa dipelajari dengan pengalaman?

A: Lebih baik mempelajari seputar tarot dari buku DAN pengalaman. Orang yang mengklaim dirinya belajar tarot murni dari pengalamannya, perkembangan intuisinya, atau semacamnya tanpa baca buku, seringkali hanyalah menjadi pembenaran diri kalau reader tersebut sebenarnya malas baca buku. Sesimple itu.

Q: Buku2 tarot luar pada mahal. Jadi untuk apa saya sebagai pembaca tarot membeli buku mahal tersebut? Masih banyak hal lain yang bisa saya beli dan lebih penting dibandingkan buku tarot.

A: Well…, mindset anda menentukan karir anda. Sesederhana itu. Anda tidak mau mengeluarkan uang sekian ratus ribu untuk membeli buku tarot, tapi anda BERANI menetapkan tarif pembacaan sekian ratus ribu ke klien? Kalau anda tidak menghargai ilmu yang menjadi profesi anda, maka otomatis klien pun juga tidak akan menghargai anda. Sesimple itu.

Q: Apakah seorang tarot reader harus menjadi professional?

A: No. Justru sebagian pembaca tarot hanyalah sebatas hobbyist saja. Meskipun cuma hobi, pembacaan tarot juga efektif sebagai sarana menjaring teman baru alias networking yang tentunya akan berguna untuk karir anda kedepannya, apapun itu.

Q: Apakah dengan belajar tarot, seseorang menjadi tidak religius?
A: Justru di sebagian besar kasus yg gw temuin, seorang tarot reader yang benar2 belajar, justru menjadi sangat objektif dan menghargai agama yg dianut diri sendiri maupun orang lain. Kalau artian religius disini adalah menjadi fanatik dengan agama sendiri, memang kebanyakan tarot reader menjadi tidak religius. Namun mereka justru semakin menghargai semua agama yg ada berikut penganut2nya. Dan gw melihat, sikap saling menghargai dan toleransi yang tinggi itulah yang perlu dicontoh.

Q: Ada beberapa tarot reader yang mengklaim mereka adalah turunan orang ningrat jaman dulu. Apakah itu benar?
A: Gw secara pribadi tidak tahu dan malas untuk mencoba membuktikan kebenarannya.

Ya, bayangannya seperti ini. Apabila seorang keluarga ningrat di tahun 1800an punya 2 anak, sementara rata2 orang menikah adalah setiap 20 tahun DAN ketika menikah, langsung punya anak setahun kemudian…maka dalam jangka waktu antara tahun 1800 sampai 2000 saja MINIMAL sudah ada 10 generasi. Dan secara matematika, jumlah anak yang menjadi keturunan keluarga ningrat tersebut MINIMAL sebanyak 2 pangkat 10, which is ada 1024 ANAK! Dan tentu saja, di jaman dulu, dalam 1 keluarga, mustahil hanya ada 2 anak, melainkan rata2 3-4 anak dan sejumlah kasus malah ada yang diatas 10 anak. Jadi gw biarkan itu hitungan ada di imajinasi kalian, berapa ribu penduduk yang secara statistik ada darah biru nya hanya untuk 1 KELUARGA NINGRAT.

Simple word? Menurut gw, itu hanya kebanggan semu akan masa lalu keturunannya sendiri karena si tarot reader tersebut tidak ada hal lain yg bisa dia banggakan.

About Change: Inisiatif Berubah Atau ‘Dipaksa Berubah’?

13 death

Bisa dikatakan, itulah tema yang menggarisbawahi seharian penuh saat #FridayTarotTime minggu lalu tanggal 17 Oktober 2014. Kenapa demikian? Karena klien yang ada di hari tersebut, baik yang memanfaatkan promo saya tiap Jumat jam 17-21.00 maupun yang berkonsultasi kepada saya dari pagi sampai siang, pertanyaannya memiliki benang merah yang sama: pilihan dalam karir.

Dulu banget, saya sudah pernah menulis hal yang seperti ini di sosial media, dimana intinya, ya kita perlu mengambil pekerjaan, apapun itu, yang memang kita sukai alias memang menjadi passion diri kita sendiri. Dengan alasan yang sudah saya berulang memberi tahu juga, karena apabila kita mengerjakan sesuai dengan passion kita, maka soal rejeki dan semacamnya juga akan mengikuti hidup kita dan berkembang dengan sendirinya.

Dan kalaupun pekerjaan yang sekarang ini belum sesuai dengan keinginan kita, setidaknya, buatlah aktifitas yang sesuai dengan keinginan kita tersebut menjadi aktifitas sampingan yang kita lakukan di waktu luang. Manfaatnya? Sebagai faktor penyeimbang emosi kita dimana apabila kita cukup lelah dengan pekerjaan rutinitas, maka emosional kita kembali pulih dengan aktifitas refreshing tersebut.

Dari sini, muncullah pertanyaan. Ada sebagai besar orang yang saat ini tenggelam dengan rutinitas masing – masing dan bukan rutinitas yang disukai. Dan karena orang tersebut mengaku sudah cukup lelah, maka ketika dia sampai rumah, dia langsung tertidur karena kelelahan. Tidak hanya itu, bahkan ketika hari sabtu dan minggu yang notabene hari libur pun dia isi dengan tidur – tiduran tanpa sedikitpun mengerjakan aktifitas yang dia sukai. Pertanyaannya, apakah ada konsekuensinya?

Dan saya berani menjawab: ada dan konsekuensinya sangat berat.

 

Konsekuensi Atas Tidak Melakukan Aktifitas Sesuai Passion

Sama dengan layaknya berolahraga, apabila kita tidak melakukannya dengan rutin dan malas – malasan, maka tubuh kita akan terasa sangat capai dan bahkan menimbulkan banyak penyakit. Nah, apabila kita tidak mendisiplinkan diri untuk melakukan hal yang menjadi passion kita, secara psikis dan fisik, kita akan menjadi sangat lelah. Fisik yang lelah bisa dipulihkan dengan banyak tidur. Namun psikis yang lelah, ya tidak bisa dipulihkan dengan cara yang sama. Psikis yang kelelahan harus dipulihkan dengan aktifitas yang membuat kita senang dan merasa nyaman.

Dan bayangkan kalau kelelahan psikis ditumpuk terus – menerus, apa yang akan terjadi?

Konsekuensinya akan sangat banyak. Mulai dari emosi kita yang tidak stabil, cenderung emosi/ marah, dan berujung kepada orang – orang menjadi tidak nyaman disekitar kita alias sosialisasi kita menjadi jauh berkurang. Akibat emosi labil dan sosialisasi berkurang? Cepat atau lambat itu akan menghambat karir kita pada akhirnya. Apabila anda seorang pengusaha, sangat jarang pelanggan mau memakai produk anda apabila anda sendiri, sebagai simbol dari usaha anda, bermuka lelah atau cemberut. Apabila anda adalah seorang karyawan kantoran, kantor mana yang nyaman mempekerjakan anda, sesosok pribadi yang tidak menyenangkan? Paling – paling apabila anda terbiasa bekerja dengan psikis lelah, ya posisi anda juga tidak akan naik dalam waktu yang lama, bahkan berbagai peluang karir yang lebih baik diluar sana pun juga anda lewatkan karena sudah terlalu nyaman dengan situasi tidak enak anda.

Berubah Atau Dipaksa Berubah?

Ketika ada klien yang bertanya, apa yang perlu dilakukan? Ya tentu saja jawabannya juga sangat umum, yaitu yang bisa dilakukan adalah dengan merubah diri sendiri. Suatu kalimant yang terdengar klise namun wajib untuk dilakukan. Minimal ya seperti yang saya tulis diatas, alokasikan waktu untuk mengerjakan sesuatu yang memang menjadi passion kita.

Namun seiring dengan waktu, ada beberapa klien yang nyaman dengan situasi tidak enaknya dan saya menjadi tambahkan dengan kalimat dibawah ini…

 

“Lebih baik anda inisiatif berubah lebih disiplin menjalankan passion anda ketimbang anda -dipaksa berubah oleh situasi-.”

 

Apa maksudnya dari dipaksa berubah oleh situasi? Ketika anda merasa nyaman dengan situasi tidak enak tersebut, lucunya seringkali dalam 1 – 2 tahun, ada suatu kejadian yang sangat tidak enak dan ‘menampar’ diri anda dan membuat anda benar – benar shock.

Contoh dari kejadian yang ‘menampar’ tersebut? Bisa bermacam – macam, mulai dari anda mendadak dipecat dari kantor anda, usaha anda mendadak bangkrut, atau mendadak keluarga anda menjadi cerai, dan masih banyak dampak diluar dugaan lainnya. Apabila ada yang mengatakan kejadian tidak mengenakkan itu adalah tanda ujian dari Tuhan kepada anda, maka justru saya mengatakan kejadian yang tidak menyenangkan itu sebagai ‘tamparan Tuhan’ untuk menyadarkan anda akan banyaknya hal – hal esensial yang sudah anda lupakan dalam hidup anda; dan passion adalah salah satu hal essesial tersebut.

Saya teringat dan menulis kembali hal diatas karena mengaca kepada klien – klien yang saya temukan di hari Jumat tersebut. Dimana di hari tersebut, ada klien yang memutuskan untuk merubah dirinya dan telah berhasil dengan membawa segudang cerita seputar perubahan dirinya berikut lingkungan sekitarnya, dan ada juga klien yang tetap keras kepala dan nyaman dengan situasi tidak menyenangkan, dan pada akhirnya ‘tamparan’ itu menimpa dirinya dan memaksa dirinya untuk membuat perubahan rencana hidup sesegera mungkin.

The question is, kalau diri anda berada di situasi seperti klien – klien saya, di situasi yang tidak menyenangkan, anda memilih yang mana? Merubah diri atau menunggu ‘ditampar’ oleh situasi?

 

Saran Spesifik Untuk Para Tarot Reader Professional

Setelah sekian tahun, banyak yang bertanya kepada saya, bagaimana caranya ‘membawa diri’ dalam dunia tarot agar bisa diterima disemua kalangan para tarot reader? Well…, kepada mereka, saya selalu memberikan saran yang sebenarnya sangatlah ‘standard’, yaitu…

Never try to please everybody.

Alias hindarin banget untuk berusaha menyenangkan semua orang. Karena apapun yang kita lakukan, pasti ada saja yang tidak suka dengan seribu satu alasan. Bahasa sederhananya, fokus ke karir diri sendiri sebagai tarot reader, ambil dan ikuti apa yang dirasa dapat membuatmu berkembang baik di tarot maupun di dirimu sendiri, serta hindari membanding – bandingkan dirimu dengan orang lain.

Namun dari sekian banyak saran yang terdengar standard dan universal tersebut, ada banyak orang yang meminta berbagai tips yang khusus untuk para tarot reader yang mencoba memulai karirnya didunia tarot. Well…, berikut akan saya sampaikan beberapa tips versi saya sendiri apabila anda ingin berkarir didunia tarot dan mungkin ini juga bisa menjadi masukan untuk para tarot reader yang juga sudah lama berkarir di bidang ini.

Anggap TEST Sebagai Cara Mereka Berkenalan

Sebagian dari tarot reader akan melancarkan segudang test atau ujian bagi para tarot reader baru seperti ngetest cara kalian membaca kartu, ngetest berbagai pengetahuan kalian, ngetest pengalaman dan cara kalian menghadapi klien, dan lain sebagainya.

Banyak tarot reader baru ataupun yang sudah lama berkecimpung dibidang ini menganggap hal tersebut sebagai bentuk intimidasi dari tarot reader yang merasa dirinya sudah sepuh. Dan saya pun mengalaminya juga kok. Namun lucunya setelah melewati test tersebut, mereka dengan senyum lebar menerima saya dengan tangan terbuka dan memberikan saya berbagai masukan – masukan yang membangun. Sebagian ada yang membangkitkan motivasi dan sebagian lagi tentunya memang tidak enak didengar meskipun itu juga benar.

Namun dari situlah, saya melihat, memang para tarot reader memberi jabat tangan dan ‘salam kenalan’ dalam bentuk test di awal. Jadi asalkan kalian bisa menghadapinya dengan santai dan menjawab sesuai pengetahuan kalian (plus jujur apabila memang ada hal yang belum diketahui), kalian akan diterima dengan senang hati.

Listen To Their Ego, Doesn’t Mean You Need To Follow Them

Artinya dari kalimat diatas adalah, kita cukup mendengar segala curhat dan opini mereka. Sesimple itu; dan bukan berarti kita harus mengikuti apa yang mereka sarankan. Saya sendiri melihat apabila seseorang berdiskusi, seorang tarot reader yang baru cenderung ingin berdebat ‘membela’ berbagai pengetahuan yang mereka dapatkan dimasa mereka masih belajar. Dan berbagai topik yang selalu menjadi perdebatan hangat seringkali tidak jauh – jauh seperti:

  • Menetapkan tarif seikhlasnya dengan menetapkan tarif fix ke klien.
  • Apakah harus menghafal kata kunci atau tidak.
  • Deck mana yang bagus dan mana yang tidak untuk membacakan klien.
  • Apakah perlu memakai tebaran kartu spesifik atau mengikuti sikon membacakan klien.
  • Dan lain sebagainya

Saran saya, apabila anda menemukan pola pikir anda berbeda jauh dengan lawan bicara anda, HINDARI UNTUK MENDEBAT! Cukup dengarkan dan tunjukkan kalau anda mengerti dan akan mempertimbangkan segala masukan dari anda. Kalaupun didebat, yang ada malah anda akan di cap sebagai orang yang sok tahu dan justru anda memnciptakan perselisihan yang tidak perlu sebenarnya.

Ini karena setiap tarot reader memiliki nilai kode etik moral dan pola pikir yang berbeda – beda dan tentunya tidak bisa diseragamkan. Mengingat pengalaman dan lingkungan setiap tarot reader berbeda – beda, wajar saja kalau mereka memiliki penilaian sendiri – sendiri bukan? Dan percaya atau tidak, seringkali mereka hanya ingin ego nya didengar saja kok. Dan setelah lewat beberapa minggu, mereka juga sudah lupa apa saja masukan yang mereka berikan kepada anda. Setidaknya ketika anda mendengarkan mereka, ada kemungkinan kecil dimana mereka melihat anda sebagai teman mereka meskipun memiliki pola pikir yang berbeda dengan mereka.

Dalam Komunitas Yang Bisa Dijadikan Profesi, Akan Selalu Ada Konflik

Bagian ini terinspirasi dari salah satu sahabat saya: Emily Happywise. Saya sempat bertanya kepada dia, kenapa komunitas Star Trek lebih bisa saling membantu dan mendukung dengan ikhlas (baca: tidak terlalu perhitungan soal duit) ? Ternyata jawaban sahabat saya sederhana: “Karena menyukai Star Trek adalah hobi; tidak bisa dijadikan profesi secara langsung.”

Dari situlah Emily melanjutkan, semua komunitas yang dimana kegiatannya bisa dijadikan profesi, seperti tarot, fotografir, make up, melukis, sulap, dan lain sebagainya, pasti akan ada konflik antar anggotanya. Konfliknya pun macam – macam dan ujung – ujungnya sebenarnya mengarah ke satu hal: berebut rejeki.

Berbeda dengan komunitas yang aktifitasnya tidak bisa dijadikan profesi. Karena sudah pasti keluar biaya dan hampir tidak ada cara untuk menarik untung, maka kemungkinan besar anggota komunitasnya juga akan saling membantu dengan tulus.

Dengan demikian, untuk para tarot reader, sangat disarankan untuk mencari komunitas dengan tujuan berbagi pengetahuan dan memperluas jaringan pertemanan. Apabila anda mencari komunitas dengan tujuan mendapat rejeki dari sana sebagai motivasi utama, sudah bisa dipastikan anda akan tercebur dalam konflik, saling iri dengki, dan saling gosip yang ujung – ujungnya justru membuat perkembangan anda menjadi terhambat di tarot.

Biasakan Membaca Dan Terus Belajar MANDIRI!

Tahukan teman – teman, apakah yang membedakan tarot reader galau bin lebay dengan tarot reader yang lebih dewasa dari sisi sikap dan perilaku? Yaitu membaca dan terus belajar sendiri. Ini disebabkan karena dunia tarot reading memang mayoritas didominasi oleh orang – orang yang merasa senior, tapi sebenarnya pengetahuannya akan tarot sangat dangkal. Bayangkan orang – orang seperti itu justru memiliki banyak murid, tentunya karena sebagian besar para murid terbiasa untuk mengikuti 100% apa kata gurunya, maka murid tidak akan lebih pandai daripada gurunya.

Terus terang saja, jumlah tarot reader yang secara sikap dan perilaku sudah sangat dewasa itu jumlahnya sangat sedikit dan bisa dihitung dengan jari. Ini disebabkan karena memang sebagian besar maryarakat Indonesia yang memang malas membaca dan belajar lebih jauh meskipun yang dipelajari adalah bidang yang menjadi karirnya sendiri.

Dikarenakan masih sangat sedikit tarot reader yang dewasa secara mental, maka saya sangat menyarankan untuk membiasakan diri belajar sendiri. Entah dari berbagai literatur, internet, video, dan lain sebagainya. Selain itu, sisihkan sebagian anggaran untuk berinvestasi untuk menambah ilmu pengetahuan anda didunia kartu tarot. Setidaknya, dengan anda tahu banyak seputar tarot, anda tidak akan seperti para pembaca tarot lebay yang sebentar – sebentar mau meninggalkan tarot karena ketakutan ada ‘isi’nya dan beberapa saat kemudian memilih fokus di tarot.

 

Demikian berbagai tips spesifik yang saya tujukan terutama untuk para tarot reader yang baru mau memulai karir professionalnya. Saya sangat yakin ini pasti sangat bermanfaat untuk anda semua. :)

[CTR] Belajar Bersama Klien

Tulisan ini terinspirasi dari event Tarot Challenge di Mall of Indonesia yang diselenggarakan pada 25 Mei 2014 yang lalu. Ketika itu, saya hanya masuk 8 besar dari sebuah kompetisi tarot tingkat nasional dan disaat tahap 3 besar, kami semua bisa menyaksikan berbagai pertanyaan yang ditanyakan oleh para juri.

Dari pertanyaan tersebut, ada 1 pertanyaan yang cukup unik yang diajukan ke 3 besar kontestan…

 

“Misalnya, dirimu sudah menikah. Kemudian rumah tanggamu juga berada di ambang kehancuran karena 1 dan lain hal. Dan hari ini, ketika dirimu sebagai tarot reader sedang mengkonsultasikan klien dan ternyata klien juga mengalami masalah yang sama saat ini. Apa yang akan kamu lakukan?”

 

Saya sendiri sering berada di situasi yang mirip seperti itu. Meskipun saat artikel ini ditulis, saya masih single, hanya saja setiap kali saya mengalami masalah hidup dalam bidang apapun seperti pekerjaan, keuangan, percintaan, orang tua, dan lain sebagainya, apabila masalahnya cukup pelik, lucunya selalu dibarengi dengan adanya klien yang memiliki situasi masalah yang sama dan bertanya kepada saya solusinya seperti apa.

Dan dari situ, saya mulai bercermin. Ketika diri saya yang dulu menghadapi hal seperti itu, ya saya dipastikan hanya akan membaca tarot, memberikan gambaran situasi yang ada dan berikut solusinya and that’s it. Namun saat ini, saya melihat ada suatu hal yang unik dari pole kejadian seperti itu. Well…, thanks ke Paulo Coelho yang sudah menulis buku The Alchemist dan Witch of Portobelo; karena saya terinspirasi juga dari sana.

Sebuah Becandaan Yang Rese

Saya juga teringat dengan perilaku klien – klien dan teman – teman saya, dimana ketika seseorang sedang dilanda masalah, tentunya hal pertama yang disaranin adalah selalu berdoa meminta petunjuk-Nya. Wah, kalo bagian ini sih, karena berdoa adalah hal yang sangat mudah, kebanyakan orang memang pasti akan melakukannya dengan senang hati.

Jadilah ketika seseorang terkena masalah, dia memanjatkan doa dan minta orang lain disekitarnya juga untuk membantu doanya agar yang Atas, Tuhan, Semesta, Allah, apapun sebutannya membereskan masalah tersebut. Hanya saja, seperti yang kita ketahui bersama, Tuhan sangat jarang sekali membereskan masalah kita. Yang ada palingan Tuhan ngasi tanda atau mengarahkan kita bagaimana caranya menyelesaikan masalah kita.

Dan dalam kasus ini, diri saya sebagai tarot reader, ketika mendapat masalah ya pola nya adalah saya selalu didatangi klien yang juga mengalami masalah yang sama. Dan dalam hati saya selalu bilang, “Wah, yang Atas becanda neh!”. Dan yes, yang Atas suka becanda dan becandanya mayan lebay bahkan sampe menjurus ke becandaan yang rese.

Tarot Reader Yang Belajar Bersama Klien

Dan ketika seorang tarot reader berada disituasi seperti itu, bagaimana sikap seorang tarot reader? Tarot reader umumnya, akan melakukan hal yang sama seperti yang saya lakukan di atas. Bacain, ngasi solusi, and that’s it. Kenapa demikian? Ada semacam tuntutan dalam diri kalau seorang tarot reader harus terlihat ‘lebih baik’ daripada klien atau terlihat ‘lebih hebat’ daripada klien tersebut. Para tarot reader banyak yang beralasan karena kita ini dibayar klien secara professional, maka kita harus memasang ‘pola pikir kita tahu segalanya’.

Hanya saja, terinspirasi dari buku Paulo Coelho diatas, saya melihat itu justru cara Tuhan memberi arahan kepada diri saya dan orang lain mengenai bagaimana mencari solusi yang baik. Kok bisa begitu?

Simplenya adalah ketika klien datang ke kita dengan masalah yang sangat mirip, kita berusaha mencari solusi dan akar masalah dengan saran kartu tarot seobjektif mungkin. Selanjutnya kita pasti akan berdiskusi dengan klien, mendengarkan curhatan klien, dan kita terus bertukar pikiran dengan klien akan berbagai solusi yang ada dan solusi seperti apa yang akan dilakukan oleh klien.  Kita fokus ke klien sampai si klien mengucapkan terima kasih dan membayar kita dan berkata “Sampai ketemu lagi”.

Bedanya adalah, setelah konsultasi tersebut, anda mencari buku catatan, mencatat gambaran situasi klien, dan berikut berbagai tebaran yang keluar dan hasil pembacaan anda tadi. Setelah selesai menulis semua yang diingat, bercerminlah dengan situasi diri sendiri. Bagian mana saja yang mirip dan solusi apa yang anda sarankan ke klien tadi.

And the tricky part is…

 

Solusi yang anda berikan ke klien, anda juga harus melakukannya ke diri sendiri.

 

 

Ya karena seperti yang tertulis di buku Witch of Portobelo, ketika kita menjadi seorang guru, sebenarnya kita bukan menjadi sosok yang diatas muridnya. Kita justru mengajarkan ke murid apa yang tidak kita ketahui dan dengan demikian kita juga belajar bersama sang murid. Dan ketika si murid sudah mendapatkan berbagai ilmu baru, begitu juga sang guru mendapat ilmunya sendiri dari proses mengajar sang murid.

Dan terinspirasi dari The Alchemist, kalau Tuhan memberikan jawabannya dari berbagai tanda alam, maka mungkin…mungkin loh yah, ini adalah cara Tuhan/ Semesta/ Allah, apapun namanya, dalam mendidik kita untuk menyelesaikan masalah diri kita sendiri.

Mengapa Para Pesulap Lebih Sulit Untuk Belajar Tarot?

Tulisan ini gw maksudkan lebih sebagai referensi kepada orang – orang yang berminat belajar tarot namun memiliki latar belakang sebagai pesulap pada awalnya. Dan sesuai judulnya, emang gw menemukan para tarot reader yang backgroundnya pesulap, suka bingung mengapa ada tarot reader yang bacaannya lebih tepat dibandingkan para pesulap. Mengapa ada banyak tarot reader yang dianggap ‘menipu diri sendiri’ oleh para pesulap, justru lebih bisa membuat klien terpukau.

Mungkin ketika kalian membaca tulisan ini, kesannya gw menjadi menggeneralisir. Yes, memang terkesan menggeneralisir,…hanya saja tujuannya lebih untuk memberikan ide atas apa yang terjadi oleh para pesulap yang belajar baca tarot.

Well, kalau diamati, memang ada 1 rahasia yang kalaupun para pesulap tahu, belum tentu akan memperbaikinya. 1 rahasia dimana para tarot reader umumnya memang menguasai itu setelah sekian lama, sementara para pesulap belum tentu bisa menguasai hal tersebut.

Rahasia itu adalah: EMPATI.

Mengapa saya bisa mengatakan pesulap lebih sulit menerapkan empati? Berikut beberapa faktornya.

Pola Pikir Pesulap: semuanya adalah cold reading

Gw sendiri membaca tarot dengan pendekatan psikologi; dimana gw membaca situasi klien, gambaran kedepan, maupun solusi yang ada berdasarkan simbol – simbol yang tertera di kartu tarot sebagai sarana nya. Alhasil, ketika ada informasi yg gw tidak tahu, gw bertanya langsung ke klien dan klien pun dengan santainya, memberitahukan informasi tersebut. Toh, tujuan dari konsultasi tarot adalah bersama – sama mencari dan mendiskusikan solusi.

Hal ini sangat berbeda apabila pesulap yang baru mulai belajar kartu tarot. Orientasi para pesulap umumnya adalah agar menjadi tarot reader seperti di tv ataupun event2 yg menunjukkan kehebatan si tarot reader. Dan di kalangan pesulap, beredar semacam mekanisme manipulasi psikologis yang kita sebut sebagai cold reading dan hot reading.

Dua metode tersebut merupakan metode manipulasi psikologis dengan tujuan mendapatkan informasi yang dibutuhkan tanpa klien sadari. Tujuan dari hot dan cold reading pada awalnya, tentu saja agar kita para tarot reader ataupun psikolog umumnya, mampu memberikan solusi yang efektif dan mendiskusikan berbagai metode terapi yang cocok untuk klien.

Hanya saja, dua metode ini menjadi menyimpang penggunaannya dikalangan pesulap umumnya. Mereka menggunakan metode ini sebagai ajang pamer kehebatan mereka seakan – akan mereka adalah dukun atau orang yang bisa baca pikiran. Alhasil, jadilah para pemakai hot dan cold reading yang amatir itu menjadikan kemampuan (yang baru dipelajari) tersebut sebagai ajang tebak – tebakan antara pembaca dengan kliennya.

Dan tentu saja ketika ini menjadi ajang tebak – tebakan. Ketika tebakannya benar, klien akan kagum dengan bacaan tersebut. Ketika tebakannya salah, klien langsung tidak simpati, menutup diri, dan dengan segala cara mempertahankan pendapatnya. Dan ujung – ujungnya, ya tidak ada solusi yang didapat dan klien pergi dengan muka masam.

Terbiasa cold reading = bacaan menjadi tidak ada empatinya

1 hal lagi point penting yang juga sering dilewatkan adalah, banyak klien mencari tarot reader itu adalah untuk curhat sebenarnya. Kenapa curhat ke tarot reader? Karena tarot reader dianggap sebagai orang yang netral terhadap suatu permasalahan. Selain itu, karena klien menganggap curhat ke tarot reader sebagai curhat ke orang yang tidak dikenal, maka klien merasa tidak perlu khawatir apabila curhatannya bocor ke orang lain. Dengan kata lain, klien memakai jasa tarot reader itu lebih karena ingin waktu menuangkan isi hatinya; sementara bacaan tarot itu adalah prioritas no.2 nya.

Sementara pesulap yang umumnya sudah terlanjur berpola pikir skeptis seperti “Tarot hanyalah permainan kartu yang dibungkus dalam kegiatan ramal – meramal” atau terlanjur menganggap “Tarot nya ga penting, yang penting pembacanya bisa menebak banyak yang bener dengan segala metode.”, maka bisa dipastikan, pembaca seperti ini tidak memiliki empati dalam membacakan klien.

Bagaimana ciri – cirinya: sederhananya, ketika klien mengecap anda sok tahu itulah anda telah mendapat cap sebagai orang yang tidak punya empati.

Bagaimana ciri – ciri yang lain dari tidak ada empati? Ketika klien menjadi merasa ingin buru – buru meninggalkan konsultasi, ketika klien menjadi sangat gelisah dan memalingkan muka. Maka disaat itu juga ada semacam indikasi anda tidak punya empati saat membacakannya.

Dan apa ciri – ciri paling keliatan kalau kebanyakan tarot reader tidak memiliki empati? Adalah ketika image tarot reader menjadi sangat buruk bahkan dianggap menyeramkan itulah yang menjadi tanda bahwa sebagian besar tarot reader di Indonesia sangat kurang empatinya dan hanya sekedar pamer kemampuan saja.

1 Wejangan untuk orang yang terbiasa hot dan cold reading

Ada beberapa pesulap yang bertanya kepada gw, bagaimana cara belajar tarot yang baik? Dan apakah buku – buku yang bagus untuk menjadi tarot reader?

Maka gw selalu mengatakan, ketika mulai belajar tarot, singkirkan dahulu segala konsep hot reading dan cold reading. Singkirkan dulu semua buku yang membahas seputar tarot untuk hiburan dan pertunjukkan (yang biasanya ada di kategori buku sulap).

Dan setelah itu, gw selalu mengatakan untuk mulai belajar kartu tarot sebagai kartu tarot. Mulai dari cara membacanya, berbagai pendekatan yang digunakan, dinamika klien, sampai sejarahnya apabila emang beneran minat.

In short word….kalau mau belajar tarot, belajarlah sebagai tarot reader beneran, dan bukan sebagai magician.

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers:

%d bloggers like this: