[CTR] Apakah Anda Benar – Benar Belajar?

“Ren, apakah kamu pernah mengenal orang yang…, misalnya dia sudah belajar tarot, sudah ikut seminar sana – sini, sudah ikut berbagai pelatihan, dan juga sudah sering bertemu dengan banyak pembaca tarot yang mumpuni dan berbagi ilmu; tapi kok pembacaannya biasa – biasa saja alias ‘meeeh’ banget?”

“Pernah.”

“Nah, kalau misalnya didunia fotografi, pernahkah nemuin orang yang seperti itu juga?”

“Gw yakin pasti ada orang seperti itu. Jangankan tarot dan fotografi, dunia sulap, akuntansi, design, dan hampir semua bidang yang bisa dijadikan profesi juga gw yakin ada saja orang yang seperti itu.”

“Kok bisa yah?”

 

Beranjak dari percakapan saya dan teman saya itulah, kali ini saya akan sedikit membahas ‘mengapa’nya di artikel ini.

Dari hasil pengamatan saya sendiri dan juga dari berbagai sharing pakar, memang ternyata cara belajar seseorang itu ada 2 macam.

Yang pertama adalah, orang yang saya sebut memang benar – benar belajar. Jadi sebutlah namanya si Andi seorang tarot reader, dia membeli buku paling hanya 3 buku soal tarot selama setahun. Tapi dia membaca buku itu sampai habis dan mencoba menerapkan apa yang ia pelajari dalam pembacaannya sehari – hari. Dalam setahun dia hanya mengikuti 1 saja workshop tarot dan dia juga mencoba menerapkan apa yang dia dapat dari workshop tersebut dalam praktek bacanya sehari – hari.

Alhasil, dari mencoba menerapkan berbagai ilmu yang dia dapat, Andi menemukan metode pembacaan seperti apa yang cocok untuk dia dan mana yang kurang cocok untuk dirinya. Selain itu, dia juga menemukan gaya pembacaan yang cocok untuk dia terapkan ke kliennya sesuai dengan kapabilitas si Andi. Cara belajar seperti ini yang saya sebut sebagai cara belajar yang ideal alias benar – benar belajar: pelajari yang memang perlu dipelajari – coba diterapkan – seleksi mana yang cocok dan yang kurang cocok setelah mencobanya ke diri sendiri.

Sementara yang kedua adalah belajar untuk sekedar –merasa belajar- saja. Yes, yang saya tekankan disini lebih ke sisi orang tersebut merasa seakan – akan dia sudah banyak belajar. Orang seperti ini, sebutlah misalnya Eva, seorang pesulap, dia membeli banyak buku sulap, membeli banyak peralatan sulap, mengikuti banyak workshop sulap, bahkan sampai sering bertukar pikiran dengan para pesulap profesional baik dalam maupun luar negeri.

Namun, saat dia membeli buku, paling buku yang dia baca hanya 1 dari 5 buku. Itupun hanya beberapa halaman sambil meminta orang lain untuk foto dirinya dan di post di media sosial untuk menunjukkan seakan – akan dia sangat rajin belajar sulap. Saat dia membeli banyak peralatan, dia hanya mencoba memainkannya 2-3 kali dan setelah itu masuk kedalam lemari tanpa disentuh kembali. Ketika dia mengikuti workshop, dia hanya duduk dan mencatat 1-2 baris kalimat, mencoba mengikuti semua pelajaran dari workshop tersebut dan 3 hari kemudian, 80% ilmu yang dia dapat dari workshop sudah dia lupakan. Bahkan ketika Eva berbagi ilmu dengan berbagai pesulap profesional, tanpa dia sadari, dia hanya ingin sekedar mengobrol dengan pesulap tersebut, berfoto bersama, dan berbagai tips yang dia dapatkan pun dia lupakan 3 hari kemudian.

Orang yang belajarnya tipe kedua ini (seakan – akan dia sudah banyak belajar) sebenarnya memiliki tujuan untuk mencari perhatian belaka dan tidak sungguh – sungguh ingin belajar bidang tersebut. Modal yang dikeluarkan memang cukup besar, namun itu semua bukan untuk pengembangan dirinya sendiri agar semakin menguasai, melainkan untuk menarik lebih banyak perhatian orang sekitar ke dirinya semata.

Tulisan yang saya buat ini memang terkesan sangat menghakimi dan menggeneralisir; namun percaya deh, banyak sekali orang yang saya lihat, ketika belajar memang seperti tipe kedua ini. Cara membedakannya ya seperti percakapan saya dengan salah satu teman saya tersebut. Dia sudah bertahun – tahun belajar suatu bidang, namun selama bertahun –tahun itu tidak ada perkembangan kemampuan yang berarti dalam dirinya.

Artikel ini saya tutup dengan tips bijak yang saya yakin sering diucapkan para pakar: lebih baik belajar dari sedikit buku dan pelatihan, namun benar – benar anda pelajari isinya; ketimbang mempelajari banyak buku dan pelatihan, tapi tidak ada satupun yang dikuasai isinya.

Leave a Reply

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers:

%d bloggers like this: