[CTR] Apakah Hal Tersulit Yang Dihadapi Seorang Tarot Reader? (part 2)

Contoh kasus kedua, soal kelahiran anak.
Sebut saja misalnya nama kliennya Wanti, bukan nama sebenarnya, dia merupakan pasangan yang baru saja menikah dan berharap untuk segera punya anak. Uniknya, sudah hampir 6 bulan pun mereka belum memiliki anak dengan segala macam program yang sudah mereka jalani.

Wanti pun konsul ke saya soal kemungkinan dia punya anak. Dan saya menarik 2 kartu, keluarnya waktu itu adalah 10 of Wands dan The Lovers.

Dan waktu itu, dengan antusiasnya karena kartu yang sekilas bagus, saya membacakan kalau mereka sudah melakukan usaha yang cukup signifikan (10 of wands) sehingga bisa diharapkan kalau dalam waktu dekat, mereka akan punya anak hasil dari hubungan cinta mereka (The Lovers). Semuanya terlihat sangat baik bukan?

Pada waktu itu, saya ada keinginan untuk sedapat mungkin menyampaikan kabar baiknya saja dan sangat meminimalisir kabar buruknya. Dan tentu saja bacaan saya yang cukup singkat, padat, jelas DAN MENYENANGKAN tersebut membuat klien menutup sesi konsul dengan hati berbunga – bunga.

Namun sikon hati berbunga – bunga tersebut, tidaklah bertahan lama.

Sekitar 4 bulan kemudian, Wanti kembali kepada saya dan mengeluhkan kalau sampai saat itupun mereka belum dikaruniai anak. Saya kembali melihat arsip konsulnya, dan saya kembali teringat akan sikon waktu itu dimana saya menjadi tidak sangat objektif.

Saat itu, saya ingin klien selalu senang dengan hasil bacaan saya; dengan harapan bahwa klien yang sudah senang, akan kembali lagi ke saya untuk kembali berkonsultasi dengan topik yang baru tentunya. Namun, ketika klien yang sama kembali dengan topik yang sama dan belum ada perkembangan apapun, saya berpikir, ada sesuatu yang salah dengan situasi tersebut, dan saya menemukan, diri sendiri yang tidak objektif waktu itu, juga menjadi faktor dimana mereka belum tahu alasan sebenarnya mereka belum memiliki anak.

Lantas setelah klien tersebut kembali ke saya untuk konsultasi, saya (lagi – lagi) meminta maaf dan mengakui kesalahan saya sendiri yang waktu itu cukup sembrono dalam membacakannya. Interpretasi objektifnya yang seharusnya saya bacakan waktu itu:

Anda berdua yang sama – sama bekerja, setelah menikah, anda hanya melakukan bulan madu 2 hari saja sebagai formalitas dan sisanya anda kembali sibuk dengan pekerjaan anda masing – masing (10 of Wands). Alhasil, karena tekanan psikis yang anda berdua alami akibat pekerjaan, memang mengakibatkan anda secara mental memang belum siap untuk memiliki anak. Kesuburan anda pun sangat dipengaruhi oleh tingkat kestabilan emosi anda.

Saran saya, luangkan waktu anda berdua untuk liburan sekitar seminggu, dan pergi liburan sambil menciptakan kembali masa – masa anda pacaran. Buat perjalanan anda selama liburan menjadi perjalanan yang ‘panas dengan cinta’. Dan ketika anda kembali ke rutinitas masing – masing, tetap jaga tingkat intimasi anda tersebut  (The Lovers).

Hindari juga godaan untuk menjadi sangat workaholic dan tetap komitmen untuk saling mencintai.

Setelah itu, Wanti menutup sesi konsulnya. Dan beberapa bulan kemudian, dia memberitahukan ke saya akan kehamilan anak pertamanya. Saya pun mengucapkan selamat atas kehamilan tersebut.

9 bulan kemudian, dia melahirkan anak pertamanya, memberitahukan ke saya. Dan setelah itu, Wanti tidak lagi menghubungi saya untuk konsultasi.

Mungkin memang dia sudah sibuk dengan aktifitasnya sebagai wanita karir dan ibu rumah tangga, dan saya kehilangan 1 klien yang bisa berulang kali konsul ke saya. Namun, akhirnya dia memiliki seorang anak, yang berarti salah satu masalah utamanya sudah selesai, dan memang dia tidak lagi memerlukan konsultasi saya bukan?

Menurut saya, membantu dalam proses menyelesaikan masalah klien dengan konsekuensi MUNGKIN dia tidak akan datang kembali untuk konsultasi, itu jauh lebih baik ketimbang dengan sengaja menginginkan klien untuk bergantung kepada kita terus – menerus hanya supaya kita, tarot reader, mendapat bayaran.

 

Yang ketiga dan yang terakhir sebagai contoh, saya sendiri pernah juga memiliki klien yang bersiap – siap untuk mengikuti pemilihan kepala daerah atau PILKADA untuk suatu daerah di Indonesia. Sebut saja namanya Wawan. Dia menanyakan kemungkinan dia untuk menjadi kepala daerah di daerah pemilihannya tersebut.

Saya sudah jauh lebih objektif daripada sebelum – sebelumnya, sehingga saya mengatakan kalau anggaplah kesempatannya mengikuti Pilkada tersebut sebagai ajang untuk mencari pengalaman dalam dunia politik. Kemungkinan dia menjadi kepala daerah tersebut memang agak kecil mengingat faktor dia belum berpengalaman, ditambah dengan jaringan politisnya yang waktu itu masih ngepas. Saya juga menyarankan untuk tidak melakukan praktek ‘beli suara’ dengan cara memberi amplop berisi uang ke masyarakat sekitarnya dengan harapan mereka mau memilih Wawan karena kemungkinan besar mereka tidak akan memilihnya.

Tentu saja Wawan tidak menerima bacaan tersebut dan cenderung menekankan kalau dia pasti menang karena koneksi politik dia dirasa cukup kencang. Saya memaklumi dan memahaminya saat itu dan mempersilahkan Wawan untuk mencobanya, dengan catatan tanpa menyogok. Karena itu dari bacaan, pasti akan rugi besar.

4 bulan kemudian, Wawan kembali konsultasi dan mengaku kalau dia rugi sebesar puluhan juta rupiah secara percuma. Dia menyogok masyarakat sekitar dengan membagikan amplop berisi uang tersebut. Wawan sendiri mengaku menjadi sangat panas karena didorong oleh rekannya yang mengaku sangat berpengalaman sebagai konsultan politik, untuk membagikan amplop tersebut agar bisa menang pilkada saat itu.

Ternyata memang rakyat sekitar, tetap menerima uang tersebut TANPA memilih dirinya.

Memang dia kecewa, namun dia cukup mendapat pelajaran berharga disana, dan kembali mencoba berpolitik dengan lebih jujur. Untuk beberapa lama, dia pun menjadi klien rutin saya sampai ketika dia menjadi sangat sibuk dengan bisnis barunya.

 

Masih ada banyak contoh lain yang bisa saya bagikan; namun saya rasa, 3 contoh tersebut sudah bisa mengcover semua yang ingin saya tunjukkan.

Contoh pertama itu, lebih menunjukkan kalau karena nilai – nilai pribadi saya sendiri, saya jadi memaksakan nilai pribadi tersebut ke orang lain meskipun jalur hidup orang lain tersebut, sangat berbeda daripada saya.

Contoh kedua, lebih menekankan saya yang dulu berusaha membuat klien senang dengan saya dengan harapan mereka melakukan repeat order meskipun konsekuensinya, masalah mereka tidak selesai – selesai.

Contoh ketiga, menekankan saya yang sudah berusaha lebih objektif, meskipun bacaannya mungkin terkesan tidak menyenangkan untuk didengar, ternyata tidak menjadi faktor utama dalam menentukan klien dalam melakukan repeat order. Bisa saja ketika bacaannya terkesan tidak menyenangkan namun objektif, klien akan mengerti dan justru meminta kita membacakan kembali setelah ada perkembangan lebih lanjut.

 

Kalau saya rekap, selama lebih dari 10 tahun ini, justru saya merasakan, hal tersulit yang dialami oleh Tarot Reader dalam menangani klien itu, justru…

Menjaga ego kita sendiri agar klien dapat memperoleh berbagai alternatif langkah hidupnya secara objektif.

Sounds cheesy, right?

Cuma kenyataannya dilapangan, hal ini menjadi benar – benar sangat penting. Bahkan bisa menentukan, apakah klien mu (dengan bantuan masukan dari Tarot Reader), dapat menemukan berbagai jalur alternatif hidupnya, atau justru ia akan semakin terperosok kedalam masalahnya hanya karena ego pribadimu.

Ego disini yang saya maksudkan adalah nilai – nilai yang kita anut secara pribadi termasuk berbagai prinsip yang kita pegang dan juga hal – hal yang menurut kita pribadi itu wajar untuk dilakukan; termasuk juga hal – hal yang menjadi norma masyarakat umumnya. Bahkan nilai yang kita dapatkan dari iman, ataupun nilai agama yang kita pegang pun, itu termasuk dalam ego kita pribadi juga.

Dan apakah itu dapat mempengaruhi repeat order atau klien yang kembali datang melakukan konsultasi tersebut? Sejauh pengalaman saya, obejktifitas, tidak menjadi faktor penting dalam repeat order. Melainkan empati lah yang bisa menjadi faktor utamanya.

Sisi memahami dan menerima, tanpa menjudge (atau memaksakan nilai pribadi yang kita pegang ke mereka) dan mau mendengarkan klien, saya rasa justru menjadi faktor terpenting dalam repeat order.

 

(selesai)

Leave a Reply

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers:

%d bloggers like this: