[CTR] Kecanduan Game = Penyakit? Ngaca Dulu Sebelum Menilai.

Saya terinspirasi menulis artikel ini dari komplain beberapa orang tua yang mengeluhkan anaknya kecanduan bermain game. Lucunya, seringkali kecanduan yang benar – benar parah justru kecanduan dalam bermain Role Playing Game atau game RPG baik online maupun offline. Sangat jarang saya menemukan orang sangat kecanduan bermain game yang bertemakan musik ataupun tembak – tembakan atau bahasa kerennya, First Person Shooter atau FPS meskipun memang tetap ada pada kenyataannya.

Apabila banyak artikel yang beredar didunia maya justru menyudutkan orang – orang yang kecanduan dalam bermain game, justru disini saya ingin mencari sudut pandang yang berbeda. Sudut pandang yang dimana sebagian besar orang tidak mau melihat sampai sejauh itu karena sibuk mempercayai saja apa yang diberitakan oleh berbagai media – media komersil. Dan tentu saja pandangan saya tetap hanyalah sebuah pandangan dan opini. Meskipun begitu, opini, pandangan, dan analisa saya ini didasarkan dari hasil observasi sederhana saya. Jadi apabila ada psikolog maupun peneliti bertemakan psikologis mau menerima ide saya dan meneliti lebih jauh, saya persilahkan dengan tangan terbuka untuk menggunakan ide saya di artikel ini.

 

Apa itu game RPG?

Bagi yang belum mengetahui game RPG seperti apa, saya akan memberikan penjelasan singkat supaya orang yang kurang mengerti video game, akan lebih terbuka wawasannya. Sederhananya, game RPG adalah sebuah bentuk permainan dimana pemain mengambil peran suatu tokoh dalam suatu setting cerita tertentu, mengikuti alur cerita yang sudah dibuat sebelumnya dan selama bermain menjadi tokoh tersebut, pemain berjuang dalam menghadapi semua tantangan yang disediakan dan mencapai akhir cerita yang fantastis. Ada banyak jenis permainan RPG mulai dari permainan papan, kertas dan pen, dan juga video game. Hanya saja, kali ini saya lebih memfokuskan permainan RPG di video game karena memang media video game bisa mengeluarkan seluruh potensi permainan RPG dan media video game RPG inilah yang katanya dinilai paling mengkhawatirkan.

Namanya juga permainan RPG, maka permainan ini kental dengan cerita yang cukup rumit namun menarik dan seringkali bisa membawa emosi bagi para pemainnya. Bayangkan apabila anda suka membaca novel, anda tenggelam dalam cerita di novel tersebut dan emosi anda benar – benar terbawa bersama ceritanya. Atau anda menonton film yang sangat bagus dan emosi anda terbawa bersama cerita di film itu sampai anda merasa lupa waktu? Kalikan perasaan itu 3 kali lipat dan anda akan menemukan itulah yang dialami orang yang bermain game RPG.

Apakah perasaan emosi yang terbawa dalam permainan RPG ini berdampak buruk? Ataukah itu adalah kesalahan orang yang kecanduan? Well…, sebelum anda menilai hal itu, ada baiknya anda mengaca ketika anda suka dengan suatu film atau anda suka dalam cerita suatu novel. Apabila anda menyalahkan rekan, teman, anak, atau siapapun yang dekat dengan anda karena kecanduan main game RPG, namun anda sendiri suka nonton film atau baca novel cerita, maka sama saja anda dengan maling teriak maling. Hakekatnya, bermain RPG sama dengan tenggelam dalam cerita novel atau film tersebut alias tenggelam dalam dunia imajinasi dan fantasi yang disukai. Yang membedakan hanyalah medianya saja.

Keinginan bermain tersebut adalah sama kentalnya dengan keinginan seseorang menonton film atau baca novel. Sesederhana itu.

 

Mengobservasi berita kecanduan lebih jauh

Saya akan sedikit melompat ke bagian sub topik mengenai mengobservasi berita kecanduan game yang dilakukan oleh berbagai media. Kalau anda cukup jeli, memang ada banyak berita seputar orang yang kecanduan game sampai sebegitu parahnya terutama game RPG. Bahkan ada orang yang bermain game Final Fantasy XI Online sampai masuk Rumah Sakit karena belum berhasil mengalahkan bos tersulit dalam permainan tersebut. Terdengar fantastis pengaruhnya untuk sebuah game? Tentu saja!

Tapi yang saya ajak anda lihat lebih teliti adalah, NEGARA MANA yang sering mendapat topik berita kecanduan game? Kalau anda jeli, negara Amerika memiliki jumlah berita yang bisa dikatakan sedang – sedang aja dan justru di negara – negara Asia yang sering mendapat berita soal kecanduan game. Sebutlah selain Indonesia, ternyata negara yang sering mendapat berita kasus kecanduan game adalah negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan China. Ada apa dengan itu semua?

Dan ditengah pertanyaan diatas, justru saya juga sering melihat di berbagai kolom opini, dimana sistem pendidikan Amerika, Eropa, dan Asia ternyata jauh berbeda.  Di Amerika dan Eropa, ternyata orang tua tidak banyak yang terlalu menekan anaknya untuk berprestasi secara akademik. Lepas dari berbagai latar belakang, sistem pendidikan di Asia memang cenderung lebih keras dan menekan anak untuk berprestasi secara akademik. Hal kedua adalah, di berbagai negara yang jarang kecipratan berita kecanduan game, masyarakat lebih saling menghargai dan lebih moderat dalam menilai situasi. Bahkan dalam beberapa kasus, masyarakat lebih terlatih untuk saling menghargai bantuan yang diberikan orang lain dan karya orang lain. Sementara di negara Asia? Sori – sori saja, seringkali justru karena kompetisi yang terlalu ketat, masyarakat cenderung menghalalkan segala cara agar berprestasi. Anak – anak dituntut untuk memuaskan ego orang tuanya dan masyarakat tidak pernah puas dalam menuntut sesuatu ke orang lain.

Apakah ada hubungannya antara masyarakat yang terbiasa menghargai perbuatan dan karya orang lain dengan kecanduan dalam bermain game? Ternyata sangat kuat hubugannya!

 

Sebuah game yang menawarkan realita alternatif

Perlu disadari, karena game RPG ini menawarkan cerita yang menarik, mereka juga memberikan penghargaan yang juga tidak kalah menariknya terutama bagi yang terbiasa memainkan game ini. Apa saja penghargaannya? Meskipun penghargaannya juga hanya terjadi dalam dunia game, namun cukup memberi kepuasan sendiri bagi orang yang memainkannya. Contoh penghargaannya adalah selain bisa menikmati kelanjutan cerita, pemain juga seringkali mendapat benda – benda yang berharga dalam dunia game yang bisa membuat karakternya lebih sakti. Bahkan dalam game tertentu, si karakter pemain bisa memiliki kedekatan emosional yang kuat dengan karakter lain dalam game apabila melakukan usaha pendekatan alias pdkt selama permainan.

Saya memang tidak akan membahas secara detail akan bentuk penghargaannya, namun yang ingin saya sorot disini adalah…

 

Game RPG memberikan suatu penghargaandan hukuman yang sangat adil.

 

Sederhananya, apabila usaha si pemain sudah mencapai goal tertentu, maka sistem dalam game itu akan memberikan penghargaan kepada anda dengan sangat adil. Anda mencapai suatu goal? Anda mendapat penghargaan dan disediakan tantangan berikutnya untuk anda capai. Anda mencapai suatu goal tapi anda jelek, gendut, bantet, atau anda sangat kasar omongannya? Anda TETAP mendapat penghargaan itu. Anda mencapai goal tapi anda punya hobi atau kesukaan yang aneh? Anda TETAP mendapat penghargaan itu.

Bagaimana kalau anda gagal mencapai target? Tentu juga ada hukumannya dari yang tidak mendapat barang tersebut, sampai ke game over. But the good news is…., anda bisa mencoba lagi dan mencari celah – celah strategi yang bisa dilakukan untuk berusaha sampai berhasil.

Terdengar sangat adil bukan? Sayangnya itu hanya terjadi dalam dunia game. Bagaimana dengan dunia realita kehidupan?

Apakah ketika anda menolong seseorang, anda sering mendapat ucapan terima kasih? Apakah ketika anda melakukan sesuatu, katakanlah ujian anda mendapat B, orang tua anda akan memuji anda setulus hati atau justru malah semakin dituntut untuk lebih baik lagi nilainya? Apakah ketika anda melakukan kesalahan, setelah dimarahi abis – abisan anda diberi kesempatan lagi di waktu berikutnya? Atau mau lebih menusuk? Dalam dunia kerja, apabila anda melakukan pekerjaan anda sesuai dengan standard dan kriteria yang berlaku PLUS bekerja melebihi apa yang diminta perusahaan, anda pasti mendapat penghargaan yang SUDAH DIJANJIKAN perusahaan sebelumnya?

 

Kesimpulan: mereka hanya butuh penghargaan dan hukuman yang fair, Cuma itu!

Ketika saya bertanya kepada orang – orang yang suka bahkan cenderung kecanduan bermain game terutama RPG, justru tanpa disadari mereka mengucapkan kata – kata seperti “bos berbohong” , “tidak sesuai janji awal” , “mereka munafik” , dan berbagai kata – kata lainnya yang benang merahnya 1: lingkungan mereka tidak konsisten antara perkataan dengan perbuatan. Orang yang kecanduan game itu justru mengharapkan penghargaan yang jujur dan adil, lepas dari berbagai bias yang ada dan nilai – nilai tersebut tentu kita sering mempelajarinya bukan?

Hanya saja apakah masyarakat mempraktekkan nilai – nilai yang mereka pelajari tersebut seperti menghargai jasa orang lain, melepas stigma akan ras atau hobi tertentu, atau yang paling sederhana saja…., mempraktekkan apa yang mereka omongkan?

Sejumlah orang yang kecanduan game RPG menginginkan keadilan nilai terutama sistem penghargaan dan hukuman yang adil. Hanya saja mereka tidak menemukannya didunia nyata dan menemukannya didunia game.

Dan kalau ditanya lagi, siapa yang salah sekarang ini? Orang yang kecanduan karena tidak bisa menerima kenyataan, ataukah masyarakat sekitarnya yang munafik dalam mempraktekkan moral kemanusiaannya?

Dan artikel ini gw tutup dengan pandangan pribadi gw…..

Tidak ada yang salah…

Hanya saja, orang yang menyalahkan perbuatan orang lain seringkali tidak menyadari kalau mereka sendirilah penyebab terjadinya perbuatan itu.

Leave a Reply

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers:

%d bloggers like this: