[CTR] Kenapa Banyak Pengusaha Yang ‘Ketus’ Gaya Bicaranya?

Saya teringat akan suatu acara workshop seputar dunia usaha, dimana pembicaranya adalah seorang pengusaha yang bisa dikatakan sudah berhasil menjalankan usahanya. Dalam suatu sesi tanya jawab, ada seorang penanya yang sejauh ingatan saya, pertanyaannya seperti ini…

“Namanya Ani, pak.” (bukan nama sebenarnya karena saya juga sudah lupa namanya)

 

“Gini…, saya saat ini sudah punya usaha dagang aksesoris gadget, pak. Awal usaha sih, respon minat pembeli bagus banget. Cuma belakangan ini, pedagang lain banyak yang berani banting harga jauh lebih rendah daripada dagangan saya. Padahal saya ambil barang juga dengan harga pemasok kok. Alhasil penjualan dagangan saya turun drastis karena tidak mampu bersaing. Apakah ada solusinya?”

Nah, si nara sumber workshop ini menjawab…

“Ya evaluasi ulang semua alur daganganmu. Apakah memang anda mengambil untungnya terlalu banyak, ataukah bisa saja anda mendapat harga dari pemasok yang sebenarnya lebih mahal dari harga pemasok lainnya? Ya kalau ternyata harga dari pemasok sudah terlalu mahal ya dirimu cari lagi pemasok lain yang bisa memberi harga lebih murah.”

“Kalau misalnya tidak ketemu pak? Carinya gimana yah?”
“Ya cari sendiri, usaha sendiri. Kalau tidak bisa ya maaf – maaf saja, berarti anda tidak bakat menjadi pengusaha. Bukannya kenapa – kenapa, tapi kalau begitu saja tidak bisa, saya rasa anda kembali bekerja kantoran pun lebih menjamin ketimbang anda dagang seperti sekarang ini.”

Dan seketika itu juga, peserta workshop banyak yang terdiam dan menjadi segan untuk bertanya.

 

Seperti itulah cerita singkat yang pernah saya alami; namun banyak juga para pengusaha yang menjadi klien saya, gaya bicaranya memang gaya biacara yang apa adanya, terang – terangan sehingga terkesan ketus dan kasar.

Pertanyaannya, kenapa bisa sampai seperti itu?

Dan dari klien – klien saya yang seorang pengusaha, ternyata mereka menjadi seperti itu karena mentalnya yang terbentuk dari perjuangan mereka ketika mereka berusaha menjalankan usahanya dari 0.

Persisnya kalau saya rangkum…

  1. Ketika mereka sedang berusaha dari 0, banyak yang mengaku dijauhi teman dan bahkan oleh keluarganya sendiri karena dianggap keputusan yang cukup gila.
  2. Selama proses berkembangnya usahanya itu, hidup mereka terbilang cukup sulit. Semua serba berhemat dan hidupnya pun sangat tidak nyaman. Tapi usahanya tetap dijalankan.
  3. Akhirnya, setelah proses perjuangan yang sulit, mereka bisa mengembangkan usahanya dan mulai ada tanda – tanda peningkatan.
  4. Nah, ketika usahanya mulai meningkat, orang – orang yang dulunya adalah teman, termasuk saudara, justru kembali mendekat.
  5. Mereka yang semula mencaci dan menghakimi, justru berbalik memuji kepandaian dan kelihaian si pengusaha ini.
  6. Dari sinilah, si pengusaha mulai kesal dengan teman atau saudaranya itu. Yang semula meninggalkan dia kini berbalik ‘menjilat’ dia.
  7. Dan untuk -menutupi ketidakmampuan- teman dan saudara yang kembali memuji si pengusaha itu, mereka berkesimpulan bahwa si pengusaha sukses karena BERUNTUNG.

Dari melewati proses seperti itulah, si pengusaha banyak yang sikapnya berubah dari yang semula cukup rendah hati, menjadi terkesan sombong, angkuh, bahkan menjadi ketus. Dan hal itu menjadi semacam byproduct atau resiko dari mental seorang pengusaha yang tertempa di tengah situasi lingkungan sekitarnya yang penuh kepalsuan dan kurang menghargai kerja keras.

Pada akhirnya, kita mudah sekali menilai negatif seseorang dari perilaku luar seseorang saja. Namun ketika kita mengetahui detail proses kenapa seseorang bisa sampai seperti itu, saya rasa, yang akan muncul hanyalah rasa simpati. Sebuah rasa dimana kita memang belum tentu setuju dengan keputusannya, namun kita menghormati dan memahami keputusan yang diambil tersebut.

Leave a Reply

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers:

%d bloggers like this: