[CTR] Lapangan Pekerjaan Sulit? Omong kosong . :D

Kali ini memang judulnya cukup provokatif yaitu mengenai situasi lapangan pekerjaan di Indonesia. Well, saya sendiri bukanlah seorang pengamat pekerjaan, ataupun pakar HRD (baca: staff sumber daya manusia yang dikenal sangat sadis dan dingin). Hanya saja, apa yang saya share kali ini berkaitan erat dengan hasil curhatan klien saya selama bertahun – tahun saya menjadi seorang tarot reader. Dan tema dari hal yang saya rekap untuk kali ini adalah mengenai melamar kerja.

Well,….mari kita mulai. Sudah menjadi makanan sehari – hari apabila kita mendengar bahwa semakin kesini, orang semakin sulit dalam mencari pekerjaan. Katanya lapangan kerja menjadi sangat terbatas dan banyak pengangguran intelektual (baca: lulusan S1 yang tidak dapat kerja). Dan katanya juga, saking susahnya mencari pekerjaan, setiap karyawan yang sudah memiliki pekerjaan akan menggunakan segala cara agar dirinya bisa tetap bekerja ditempat kerja yang sekarang. Lebih hebatnya lagi, bahkan demi supaya bisa bertahan di suatu tempat kerja, teman rekan kerja sendiri pun bisa difitnah atau dijebak untuk menutupi kesalahan diri sendiri. Well…..terlalu ekstrim mungkin but IT HAPPENDS A LOT!

Tapi, saya akan kembali ke topik awal dan mengesampingkan faktor – faktor lainnya:

“Apakah sesulit itu dalam mencari kerja?”

Jumlah Lamaran Dalam Seminggu

 

Saya bukanlah seorang peneliti sosial, namun saya akan berbagi rekap pengalaman klien saya yang bertanya seputar bagaimana memperoleh pekerjaan. Meskipun ini bukanlah suatu penelitian yang valid, namun saya harap ini bisa menjadi gambaran umum pandangan masyarakat kita terhadap kerja.

Ketika saya bertemu dengan  seorang klien, dan ketika dia menganggur dan mengeluh mengenai sulitnya mencari pekerjaan di masa sekarang, saya selalu bertanya hal yang sama ke klien saya yang seperti itu. Yang saya tanyakan adalah, “Berapa lamaran yang sudah anda kirimkan?”

Dan anda bisa menebak, mereka menjawab mereka sudah melamar kemana – mana dan belum mendapatkan pekerjaan satupun. Ok, saya tanya sekali lagi, berapa JUMLAH lamaran yang sudah anda kirimkan? Dia menjawab sambil menghitung….jumlahnya 20 lamaran. Ok it’s fine. Lalu saya tanya lagi, itu sudah berapa minggu anda mengirim 20 lamaran tersebut? Dan ternyata kebanyakan klien juga menjawab dengan waktu yang cukup lama. Cukup lama disini dalam artian, sudah 10 MINGGU.

Bayangkan 10 minggu baru mengirim total 20 lamaran. Berarti seminggu hanya mengirimkan 2 lamaran. Terasa sangat sedikit? Bahkan ada banyak kasus ekstrim dimana klien menggantungkan ‘nasibnya’ selama sebulan hanya bermodalkan mengirim 2 lamaran! And it happends!

Bayangkan ada berapa banyak lowongan pekerjaan di koran setiap Sabtu dan Minggu nya, dan di Indonesia ada belasan merek koran disetiap daerahnya. Belum lagi kalau anda mencari di internet terutama di situs – situs pencari kerja. Sangat banyak? Pasti! The good news is, itu hanya 20% dari total lapangan kerja yang tersedia. Karena dari berbagai materi yang saya baca terutama dari buku – bukunya Brian Tracy, ternyata 80% lapangan kerja yang tersedia adalah lapangan kerja ‘tersembunyi’. Dalam artian, peluang tersebut tidak dipampang di koran atau dengan sengaja memasang pengumuman. Melainkan lapangan kerja tersembunyi tersebut bersumber dari rekomendasi dan jaringan pertemanan NYATA (bukan pertemanan maya ala Facebook).

Jadi, dengan semangat mengirim berbagai lamaran kerja dan memanfaatkan jaringan pertemanan yang sudah ada, katakanlah dalam sehari minimal mengirim 4 lamaran kerja sehingga seminggu ada 28 lamaran dan sebulan menjadi 112 lamaran, masa tidak ada panggilan interview satupun?

Melamar sesuai ‘latar pendidikan’? Pikirkan lagi.

 

Hal kedua yang menahan seseorang untuk melamar kerja, terutama bagi orang – orang yang baru lulus adalah, mereka seakan – akan dicuci otaknya oleh para akademisi (baca: dosen di kampus) dan orang tua bahwa melamar pekerjaan itu harus sesuai dengan latar belakang pendidikan. Dengan demikian, apabila anda seorang ekonomi ya harus mencari pekerjaan bidang ekonomi, kalau lulusan hukum ya harus bekerja di kantor hukum, dan seterusnya.

Yang saya temukan dari klien – klien saya adalah, mereka cenderung mudah mendapat kerja dari pekerjaan yang memang mereka sukai dari dalam diri mereka. BUKAN karena latar belakang pendidikan mereka. Jadi apabila pada dasarnya latar belakang pendidikan mereka sesuai dengan passionnya, maka mereka cenderung sudah terarah dengan baik untuk karirnya.

Namun kita juga perlu menyadari kenyataannya bahwa sebagian besar dari kita, mengambil pendidikan tinggi dengan bidang yang direkomendasi oleh orang tua, orang lain, atau yang menurut pandangan masyarakat adalah bidang yang menghasilkan duit atau bidang yang aman. Banyak dari kita yang mengambil pendidikan bukan berdasarkan apa yang kita mau! Ya bayangkan saja, dengan menjalani kuliahnya saja setengah hati, ditambah setelah lulus, bagaimana mencari kerjanya tidak seperempat hati?

Padahal diluar sana, ada banyak jalan untuk mendapat kerjaan yang sesuai dengan kemauan kita. Kemampuan belum memadai untuk mendapatkan pekerjaan tersebut? Banyak kursus atau bahkan bisa belajar sendiri. Kekurangan gelar pendidikan yang berkaitan dengan bidang yang anda suka? Bisa magang terlebih dahulu untuk mendapat kepercayaan dan rekomendasi dari bos dan rekan kerja. Intinya, sebagian besar bidang kerja, sebenarnya masih bisa ditempuh TANPA melalui pendidikan formal sekalipun. Yang dibutuhkan adalah kreatifitas dari diri kita sendiri dan usaha terus – menerus tentunya.

Semakin anda tidak menyukai bidang yang anda ajukan lamarannya, sebenarnya semakin anda akan mensabotase diri sendiri agar anda tidak mendapat pekerjaan itu bukan?

Terlalu Mendengar Omongan Tetangga = Ya Menjadi Seperti Mereka

 

Hal yang sangat fatal menurut saya dalam mencari suatu pekerjaan adalah, terlalu mendengarkan saran – saran orang disekitar kita. Entah dari orang tua sekalipun, saudara – saudara, teman, dan tetangga sekalipun. Ya mereka memang ‘katanya’ berusaha memberikan yang terbaik untuk kita semua. Dan hal ini juga sering diungkapkan oleh klien – klien saya apabila mereka ragu untuk mengajukan lamaran ke tempat kerja yang dianggap tidak biasa atau kontroversial karena imagenya terkesan jelek atau semacamnya.

Lalu apa yang saya ucapkan ke mereka? Sederhananya, saya selalu bilang, kalau terlalu menuruti orang tua ya ujung – ujungnya anda tidak akan lebih hebat daripada orang tua anda. Kalau terlalu menuruti saudara atau omongan orang lain, ya anda jadinya tidak akan lebih hebat dari mereka. Masih mending kalau orang yang memberi saran tersebut adalah pengusaha kelas kakap ataupun karyawan kantor dengan posisi yang sangat tinggi (senior manajer keatas). Lucunya adalah, orang – orang yang memberi saran untuk mencari pekerjaan yang ‘aman’ atau ada prospek menghasilkan uang banyak, sebagian besar adalah orang – orang yang dikehidupannya ya posisinya tidak lebih dari manajer atau malah baru sebatas supervisor. Sederhananya, orang yang menyarankan kerja karena ‘aman’ dan ‘menghasilkan uang banyak’, pada kenyataannya hidup mereka sendiri tidak aman dan tidak punya uang banyak.

Dan lucunya lagi, orang – orang yang berposisi sangat tinggi, selalu menyarankan agar anda mencari kerjaan ataupun berkarir di bidang yang memang disukai dan tidak peduli dengan omongan orang lain. Karena toh semuanya sama – sama bermulai dari bawah dan yang menentukan perkembangan karir seseorang adalah motivasi diri sendiri yang didapat dari rasa cintanya terhadap bidang yang dia inginkan. Oh,….dan kebanyakan orang yang sekarang berposisi tinggi, dulunya juga dicemooh oleh orang sekitar.

 

Kesimpulan

 

So…., di artikel ini, saya tutup dengan kesimpulan sederhana, namun cukup menusuk bagi yang keras kepala. Mencari pekerjaan itu GAMPANG! Yang menghalangi itu cuma pikiran diri kita sendiri yang terlalu malas untuk menjadi kreatif.

Leave a Reply

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers:

%d bloggers like this: