[CTR] Sebuah Relasi Dengan Kekerasan

CTR (Confession of Tarot Reader) merupakan tag terbaru saya atas artikel yang berisi seputar sharing, kesimpulan, solusi, dan pelajaran yang bisa diambil dari rangkuman curhatan klien – klien saya tanpa membcocorkan identitanys. Karena ini sifatnya sharing, maka tentu saja ada berbagai kenyataan – kenyataan dan solusi yang tidak nyaman/ tidak mengenakkan bagi sebagian pembaca. Oleh karena itu,saya menyarankan anda membaca artikel ini dengan objektif dan dewasa. Dan bagi yang masih meledak – ledak emosinya, saya sarankan anda tutup halaman ini dan silahkan cari artikel lain yang penuh dengan kata – kata mutiara, karena artikel ini bukan untuk anda.

 

Ada banyak wanita yang berkonsultasi ke saya dan menanyakan seputar percintaan. Dan hal yang menarik adalah, ya kira – kira sekitar 30% nya wanita tersebut mengaku mengalami kekerasan dalam relasinya baik kekerasan fisik (baca: sering digampar atau dijedukin ke tembok kepalanya) ataupun kekerasan verbal (baca: dikata-katain wanita murahan, wanita hina, wanita yang seharusnya bersyukur karena sama pasangannya, dan masih banyak lagi). Well, tentu saja ada beberapa kejadian dimana posisinya terbalik: pria yang ‘dijajah’ oleh wanita, namun kasusnya agak berbeda dan saya akan membahas itu dikemudian hari. Dan dari 30% kasus dimana seorang wanita ‘dijajah’ oleh si pria dalam hubungan pacaran ini (yes, you heard me right, masih pacaran!), SEMUA wanita merasa hanya dirinyalah yang mengalami situasi paling menyeramkan tersebut. Jadi 100% dari wanita yang kena kekerasan tersebut yakin bahwa dirinya lah yang paling menderita dan wanita lain tidak ada wanita lain yang mengalami hal tersebut selain dirinya sendiri.

 

Anomali Dalam Kekerasan

Apabila pembaca sedang di-curhat-in oleh seorang teman anda yang mengalami kasus diatas, saya yakin sepenuhnya anda akan menyarankan agar tinggalkan saja pria tersebut. Segudang alasan seperti demi kebaikan wanita itu sendiri, si pria sudah tidak bermoral, dan berbagai alasan lainnya pasti akan terlontar dari mulut anda apalagi karena status hubungannya adalah masih pacaran alias belum menikah.

Hanya saja, satu hal yang seringkali terlewatkan, seseorang menyarankan hal – hal diatas karena orang tersebut baru berpikir sebatas kalau dia berada di posisi wanita tersebut. Yes, baru sebatas berpikir KALAU dia berada di posisi si korban. It’s really different when you actually in her shoes for real.

Apabila dalam situasi riilnya dimana si wanita merasa ‘dijajah’, logikanya memang sudah meneriakkan suara – suara dikepalanya untuk segera meninggalkan pria tersebut karena memang secara logis, pria tersebut sudah keterlaluan tentunya. Namun mengapa tetap saja si wanita sangat sulit meninggalkan pria tersebut? Jawabannya adalah satu faktor utama: emosionalnya sudah terikat.

Ada kepercayaan kalau wanita lebih mengedepankan emosionalnya ketimbang logikanya; dan untuk kasus ini memang itu sangat tepat. Seringkali  ketika wanita mengalami kekerasa fisik ataupun verbal, dia mulai berpikir untuk menjadi sosok wanita yang baik dan mencoba mengarahkan prianya untuk menjadi lebih lurus dan menjadi pasangan yang baik pula. Dengan si wanitanya bersabar dan pelan – pelan mengajarkan nilai kebaikan dan kesabaran ke si pria, dia mengharapkan si prianya bisa menjadi suami yang ideal di masa mendatangnya.

Masalahnya, rencana tersebut seringkali berujung kepada kegagalan. Mengapa? Karena kesabaran si wanita –diterjemahkan- oleh pihak pria sebagai “Oh, ini wanita mau kok gue kasarin.” Atau “Ya ni wanita cinta mati kok sama gue. Mau gue apain dia juga dia nurut kok.”; meskipun secara detail saya terlalu melebih – lebihkan ‘isi pikiran pria’, namun seperti itulah ide dasarnya. Selain itu, wanita cenderung mudah percaya dengan kata – kata pria yang romantis. Dalam hal ini, sisi perasaannya akan ‘tersentuh’ ketika si pria meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Well, apakah pada kenyataannya si pria benar – benar memegang janjinya tersebut? Well, dari sekian banyak kasus klien saya yang sama, 99% si pria tidak menepati janjinya. Bahkan lebih parah lagi, si pria sudah berkali – kali membuat janji ‘palsu’ tersebut.

Kalau dibuat ringkas, beginilah alur ikatan emosional yang terjadi:

  1. Si pria melakukan kekerasan kepada wanita
  2. Si pria melakukan kekerasan (lagi)
  3. Si pria melakukan kekerasan (lagi dan lagi) à ulangi terus sampai si wanita tidak tahan
  4. Wanita tidak terima dan ancaman putus
  5. Si pria minta maaf dan berjanji tidak mengulanginya lagi
  6. Hati wanita ‘tersentuh’ dan sifat keibuannya muncul, memaafkan si pria dan bersabar
  7. Kondisi relasi kembali damai untuk beberapa saat (umumnya maksimal 1 bulan)
  8. Kembali ke kondisi nomor 1

Kondisi tersebut cenderung terjadi berulang – ulang dan tanpa terasa sudah berlalu sampai tahunan dalam suatu relasi. Mengapa bisa demikian? Kalau dalam dunia psikologis, ada istilah yang tidak populer yang disebut sebagai pigeon effect.

 

The Pigeon Effect

Ada sebuah eksperimen sederhana, dimana seekor burung yang dimasukkan kedalam sangkar akan mematuk kayu tunggangannya. Seringkali dalam eksperimen tersebut, burung mematuk kayu tunggangannya sebagai tanda dia lapar dan meminta makan. Lucunya adalah, kalau kita memberikan makan secara teratur, maka burung itu akan sangat jarang mematuk kayu. Namun apabila kita memberi makannya tidak menentu dalam artian, kita tidak memberi makan dalam jadwal yang teratur, lama – lama si burung akan mematuk kayu itu terus – menerus layaknya burung yang sudah gila.

Apa hubungannya dengan manusia? Manusia menyukai hadiah atau penghargaan. Dalam kasus ini apabila kita dipuji, disanjung, dan dihargai orang lain, maka emosi kita terangkat dan kita merasa sangat nyaman. Sementara kalau kita mengalami kekerasan, minimal kekerasa verbal, emosi kita akan merasa tidak nyaman.

Kita sebagai manusia sangat senang dihargai dan selalu berjuang untuk mendapat penghargaan dari orang lain; dan untuk itu, kita cenderung mencari tahu apa yang disukai dan tidak disukai orang lain itu. Kalau kita sudah mendapatkan ‘pola’nya, maka kita dengan mudah tahu kapan mendapat penghargaan dan penghargaan itu pun sudah dirasa tidak penting lagi bagi kita. Seperti burung yang sudah jarang mematuk kayunya karena sudah tahu kapan majikan memberi makan.

Namun ketika kita sebagai manusia, diejek atau minimal disenggol harga dirinya, minimal kita penasaran bagaimana kita bisa membuktikan ke orang yang melecehkan kita bahwa kita adalah orang yang patut diperhitungkan. Alhasil, kita cenderung penasaran, mencari penghargaan dan penerimaan dari orang lain. Situasi ini justru akan semakin mempengaruhi kita apabila orang lain tersebut TIDAK BISA DITEBAK perilakunya (alias moody) dan tanpa kita sadari, sekian tahun usia kita dihabiskan untuk mencari pengakuan dari orang lain tersebut yang datangnya tidak pasti dan tidak bisa diperkirakan. Niat kita yang mencari penghargaan itu pun berbalik menjadi kita mengalami ketergantungan emosional ke orang itu.

Kasus wanita yang terikat secara emosional meskipun mengalami kekerasan itu pun, penjelasannya secara psikis adalah seperti contoh diatas. Namun tentunya dengan skala yang lebih ekstrim. Di ucapan memang terkesan mulia karena menginginkan si pria ‘kembali ke jalan benar’, namun secara psikis ya motivasi ASLINYA adalah seperti diatas: mendapat penghargaan. Sounds weird? Yes, itulah psikis manusia. Apa yang terucap dengan isi hati terdalamnya seringkali tidak sama.

 

Dampak

Apakah ada dampaknya dari wanita yang terkena kekerasa tersebut? Tentu saja ada dan dampak yang paling terlihat adalah, tingkat percaya dirinya yang turun drastis karena pada akhirnya dia menjadi percaya akan kata – kata si pria bahwa dia bukanlah wanita yang bagus, dia bukan wanita yang bernilai, dan segala kalimat intimidasi tersebut, seakan – akan menjadi identitas wanita tersebut.

Secara jangka panjang, wanita yang terlalu lama mengalami kekerasan seperti itu, akan mengalami gangguan psikis. Contoh yang paling mudah terlihat adalah wajahnya yang terlihat sangat pucat (karena stress) dan obsesi yang tidak wajar terhadap pria yang menjadi pacarnya. Bahasa kasarnya, secara mental si wanita itu sudah menjadi budak setia si pria.

 

Solusi

Apakah ada solusi bagi wanita yang terkena kasus seperti ini? Jelas ada, namun membutuhkan waktu yang sangat beragam tergantung dengan situasi mental wanita tersebut dan dukungan dari lingkungannya.

Langkah pertama yang harus dilakukan ada meningkatkan kepercayaan dirinya dengan cara DIPAKSA. Sebagai contoh, apabila wanita ini masih kuliah, dia bisa dipaksa untuk melakukan presentasi didepan teman – temannya seperti dalam project tugas kelompok. Bisa juga dengan mengikuti latihan public speaking atau latihan lain yang bisa meningkatkan kepercayaan dirinya.

Langkah kedua, dekatkan dia dengan lingkungan pertemanan baik wanita maupun pria. Seringkali ketakutan yang muncul dari wanita seperti ini adalah, dia takut tidak ada pria lain yang menyukai dirinya. Dengan mendekatkan dia ke lingkungan yang campur (tidak hanya wanita saja), secara perlahan bisa meningkatkan kepercayaan dirinya apalagi kalau ada pria lain di lingkungan pertemanannya yang juga menyukai dia.

Langkah ketiga, apabila memang sudah benar – benar parah situasinya, si wanita perlu dipindahkan lingkungannya sehingga dia benar – benar jauh dan lebih sulit ketemu dengan si pria yang menindas tersebut. Dengan demikian, memang perlu keterlibatan orang tua ataupun sahabat dekatnya agar waktu untuk berduaan dengan si pria pacarnya ini semakin terbatas dan semakin banyak waktu si wanita bertemu dengan orang lain. Apabila si wanita sudah bekerja, akan lebih bagus kalau dia disibukkan dengan hal – hal produktif yang berkaitan dengan karirnya. Karena seringkali, setiap orang mudah melayang kemana – mana pikirannya ketika dia sedang nganggur. Bahasa kerennya, kita muda galau kalau kita lagi bengong 😀 .

Bagi wanita itu sendiri, yang perlu diketahui adalah, apabila kita berusaha melupakan pasangan, yang ada malah justru semakin ingat. Karena ketika kita berusaha melupakannya, justru pikiran kita malah berfokus kepada pasangan tersebut. Cara terampuh adalah bukannya melupakan, namun mengabaikan pikiran tersebut. Dengan demikian, kita perlu menerima kalau kita masih sayang dengan pasangan, memaafkan, dan langsung fokus ke aktiftias lain seperti pertemanan, hobi, kerjaan, dan sebagainya. Ketika fokus kita dialihkan ke hal lain, tanpa disadari perlahan – lahan emosi kita akan pulih dan bisa mencari pasangan yang lain lagi.

Apabila memang situasi mentalnya sampai sedemikian parahnya, saya sangat menyarankan untuk dibawa ke psikolog dan mendapat terapi yang bisa menyembuhkan gangguan psikisnya.

 

Leave a Reply

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers:

%d bloggers like this: