[CTR] Survei Mengenai Pengusaha Awal

Kali ini, saya akan membahas mengenai topik yang umum antara orang yang mencoba memulai usaha dan berhasil dan orang yang belum berhasil. Standard memang kesannya, namun karena topik saya bukanlah topik motivasi, ataupun topik ala kuliah yang terlalu konseptual, saya akan membagikan keberhasilan mereka dari sisi hsil survei curhatan klien – klien saya sendiri.

Ada banyak klien saya yang juga sharing mengenai pengalaman mereka melakukan usaha, baik yang sudah tinggal melanjutkan dari orang tuanya, ataupun benar – benar memulai dari awal. Saya akan membahas untuk jangkauan topik mengenai orang yang memulai usaha dari awal dan berhasil. Dan dari hasil sharing dari klien – klien saya, ternyata memang ada beberapa hal yang cukup mengejutkan terutama mungkin sulit dimengerti secara intelektual dan terutama secara ego oleh orang – orang yang terbiasa kerja kantoran. Jadi, saya berharap dengan membaca artikel ini, terutama bagi karyawan kantoran untuk merenungkan ulang niat anda apabila ingin menjadi pengusaha.

Apa saja hal menarik dari pengusaha awal yang berhasil?

Pertama, mereka pada awalnya, sebagian besar menjalankan usaha yang mereka sukai

Simplenya, para pengusaha menjalankan usaha apapun yang memang mereka sukai. Dengan demikian, apabila mereka suka berdagang apapun dagangannya, ya mereka melakukan dengan sepenuh hati. Apabila mereka suka untuk design, mereka juga melakukan dengan senang dan antusias. Kenapa ini sangat penting bagi mereka? Karena kebanyakan klien  saya meliat yang namanya usaha adakalanya ada jatuh bangun dan moment – moment dimana mereka senang dan mereka stress. Setidaknya, segala bentuk tekanan mental akan berkurang dibandingkan yang semestinya karena mereka menikmati apa yang mereka kerjakan.

1 hal yang menjadi faktor utama, menyukai apa yang kita lakukan membuat kita mempelajari seluk – beluk bidang tersebut bukan? Selain melakukan usaha ya kita juga jadi sangat senang mempelajari seluk – beluk bidang tersebut sehingga tanpa disadar, kita terus belajar memperbaiki diri. Banyak orang yang saya lihat terjuan ke dunia usaha langsung jatuh dan menyerah di awal karena mereka berpikir semua proses kerja bisa diserahkan ke tenaga ahli tanpa si bos perlu tahu cara kerjanya. Iming – iming pengusaha bisa ongkang – ongkang kaki karena semua jalan oleh sistem yang mereka buat sendiri membuat mereka merasa tidak perlu mempelajari bidang tersebut dan tinggal mengawasi dan menikmati hasilnya saja.

Kedua, lucunya, motivasi awal seringkali bukan karena duit.

Ini yang membedakan antara pengusaha awal yang pada akhirnya berhasil dengan karyawan kantoran yang mau mencoba berusaha.

Karyawan kantoran sebagian besar pada awalnya ingin mencoba berusaha karena iming – iming dari lingkungan sekitar (which is juga orang kantoran) yang mengatakan menjadi bos bagi diri sendiri itu enak, kemudian dengan memiliki usaha perlahan – lahan duit juga akan bertambah banyak. Dan ketika usahanya sudah mapan, kita sebagai bos tinggal ongkang – ongkang kaki dan semua hal yang remeh – temeh tinggal dikerjakan oleh karyawannya. Dan yang saya lihat, orang yang motivasi awal usahanya karena kenyamanan hidup dan kemalasan, ya 100% tinggal menunggu waktu untuk bankrut.

Kenapa demikian? Karena kecenderungannya orang yang seperti ini akan mencari usaha yang sekali menjual, ya bisa dapat untung dalam jumlah besar dan menjadi perhitungan akan semuanya seperti menghitung modal awal, ongkos produksi, target balik modal, kecenderungan tidak mau merugi sama sekali, dan banyak lagi. Ini bukan berarti kita menjadi ceroboh, hanya saja ketika di awal – awal kita sudah terlalu diribetkan dengan perhitungan rumit keuangan, justru malah membuat kita menjadi banyak mengkhawatirkan hal – hal yang belum perlu dikhawatirkan dan justru tanpa disadari menjauhkan kita dari klien – klien potensial.

Sementara orang yang mencoba berusaha di awal dan berhasil akhirnya, justru ketika dilihat sebenernya karena motivasi awal adalah iseng melakukan hal yang mereka suka. Jadi dari awal mereka hanya melakukan hobi mereka yang sedikit ‘dijual’ hasilnya ke orang sekitar dengan tujuan agar orang lain menikmati hasil karya mereka tanpa mengharapkan keinginan untuk cepat mencari untung banyak. Justru ketika melakukan sesuatu dengan keinginan untuk memuaskan konsumen dan mendapat penghasilan yang wajar sesuai kebutuhan pengusahanya, malah membuat konsumen semakin senang dan ada repeat order dari mereka. Pada prakteknya, mereka sama sekali tidak memikirkan kapan mereka balik modal, sampai kapan mereka melakukan promosi terus – menerus, dan kapan brand mereka akan mapan, dan hal – hal yang belum waktunya untuk dipikirkan tersebut. Mereka hanya fokus ke pelayanan dan pelayanan ke customer sehingga usaha mereka berkembang dengan sendirinya.

Faktor ketiga adalah menerima kegagalan

Hal yang lucu saya perhatikan adalah, karyawan kantoran melihat pengusaha itu sebagai sosok yang hebat. Mereka memulai usaha sekali saja dan sudah ada perkembangan. Kemudian mengembangkan ke bisnis yang lain dengan skala lebih besar dan juga berkembang menjadi lebih hebat lagi. Orang kantoran cenderung melihat pengusaha sebagai sosok yang tidak pernah gagal dalam melakukan usahanya meskipun perjuangannya cukup keras. Memang kesannya pengusaha sukses itu sangat inspiratif.

Namun justru anggapan bawah sadar yang tersebar di masyarakat inilah yang membatasi ruang gerak orang yang baru mau memulai usaha. Mereka takut akan kegagalan sehingga ketika memulai suatu usaha, sekecil apapun, yang dipikirkan adalah bagaimana kalau tidak laku, bagaimana kalau tidak balik modal, bagaimana kalau karyawannya berbuat curang, dan lain sebagainya. Justru pikiran yang pada akhirnya membawa ke khawatiran yang tidak perlu itulah membuat pengusaha yang masih hijau semakin jauh dari keberhasilan.

Sementara orang yang sudah berhasil terjun didunia usaha, dari klien – klien saya pun mengakui ada banyak kegagalan (tidak sedikit tapi dalam jumlah kegagalan yang banyak) telah dialami. Adakalanya disuatu waktu, mereka benar – benar belum berhasil dalam melakukan usaha meskipun mereka sudah melakukan yang terbaik semampu mereka. Dan dari situlah, mereka juga banyak yang sepakat, pada akhirnya lebih ke persoalan trial and error. Dalam artian, mencoba usaha A, kalau benar – benar tidak berhasil ya coba usaha B, kalau tidak berhasil lagi ya coba usaha C, dan terus begitu sampai mereka menemukan ritme dan bidang usaha yang berhasil mereka kelola.

Keempat, mereka memisahkan anggaran untuk makan sehari – hari dengan anggaran untuk usaha

Seringkali orang yang mencoba usaha, masih mencampur adukkan amtara anggaran untuk makan sehari – hari dengan anggaran untuk modal usaha. Dan hal ini yang menjadi faktor utama suatu kegagalan usaha berujung kepada bangkrutnya orang tersebut secara keseluruhan. Mengapa demikian? Bila uang makan dicampur dengan uang usaha, maka kita menjalankan usaha dengan penuh kekhawatiran, takut barang tidak laku, takut usaha gagal, takut klien tidak sepakat dengan tawaran kita, dan masih banyak lagi. Semakin kita khawatir, justru semakin menunjukkan kalau kita butuh klien. Dan masalahnya, secara psikologis klien sudah tahu siapa yang butuh mereka dan siapa yang ‘tidak butuh’ mereka. Dan klien yang sudah tahu akan cenderung menekan pengusaha tersebut agar menjadi sangat menguntungkan bagi si kliennya.

Sedangkan pengusaha yang memisahkan budget untuk usaha dengan uang makan, justru pembawaannya lebih tenang dan objektif. Karena lebih tenang dan objektif, pengusaha bisa membedakan mana tawaran wajar dan mana yang merupakan sinyal bahwa klien hanya mencoba memanfaatkan mereka dalam artian negatif. Dan berbagai strategi bisnis pun bisa dilakukan apabila si pemilik usahanya sendiri melihat seluruh situasi dengan lebih tenang dan objektif.

Sederhananya, menggabungkan budget uang makan dengan usaha mendorong pemilik untuk ‘merendahkan diri sendiri’ yang berujung dimanfaatkan klien mereka, sementara yang memisahkan budget tersebut justru membuat klien lebih sulit bermain – main dengan tawaran si pengusaha.

Kelima dan sangat klise: Less talk, more action

Slogan tersebut kita sudah berkali – kali kita dengar dan lihat dalam berbagai variasinya terutama iklan produk rokok. Namun memang slogan ini, meskipun terbukti efektif, ternyata tidak semua orang mau menerapkannya.

Kebanyakan pengusaha baru akan berbicara apabila mereka ditanya dan mereka berbicara hal – hal yang memang perlu untuk diutarakan. Lucunya, apabila mereka menemui kegagalan, justru yang saya lihat dari klien – klien saya sendiri, mereka mengakui kesalahan mereka termasuk kekurangan mereka selama menjalankan usaha tersebut. Bahkan hebatnya lagi, mereka juga mau memaklumi dan memaafkan apabila orang lain melakukan kesalahan dan mengakuinya didepan mereka .

Berbeda dengan banyak klien yang saya temukan ketika mereka berniat mau memulai satu usaha atau masih baru menjalankan usaha. Lucunya mereka lebih banyak menyusun strategi usahanya TANPA dijalankan atau diimplementasikan. Mereka cenderung lebih banyak berbicara menunjukkan bobroknya usaha baru mereka yang disebabkan oleh karyawan mereka sendiri. Bahkan hal yang wajar seperti “usaha saya jatuh karena ada karyawan yang cuti” pun bisa menjadi pembahasan yang cukup panjang.

Sederhananya, pengusaha yang sudah berhasil dan saya temui, ternyata hanya berbicara saat diperlukan dan lebih ke melakukan tindakan serta mengakui berbagai kekeliruan diri sendiri. Sementara orang yang baru mau memulai usaha dan tidak berhasil lebih suka menyalahkan kekurangan orang lain (terutama karyawannya) ketimbang mengintropeksi diri sendiri dan mengambil pelajaran dari situ.

Masih ada banyak faktor yang bisa saya bahas disini. Namun saya melihat kelima faktor diatas sudah cukup untuk menjadi point penting yang membedakan antara orang mana yang potensi berhasilnya sangat tinggi dengan orang yang kemungkinan memang lebih baik jadi pekerja saja. Dan yang namanya usaha, bukanlah seperti kata para motivator apalage janji muluk para perekrut bisnis MLM umumnya. Menjadi pengusaha merupakan suatu pilihan hidup dengan konsekuensi yang tidak bisa dianggap remeh. Bagi yang mau melakukan usaha karena iming – iming hidup enak dan ongkang – ongkang kaki di masa tua, ya maaf saja, pikirkan kembali niat anda itu.

Leave a Reply

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers:

%d bloggers like this: