[CTR] When Motivator Is Seen As Sooth Sayer

CTR (Confession of Tarot Reader) merupakan tag terbaru saya atas artikel yang berisi seputar sharing, kesimpulan, solusi, dan pelajaran yang bisa diambil dari rangkuman curhatan klien – klien saya tanpa membcocorkan identitanys. Karena ini sifatnya sharing, maka tentu saja ada berbagai kenyataan – kenyataan dan solusi yang tidak nyaman/ tidak mengenakkan bagi sebagian pembaca. Oleh karena itu,saya menyarankan anda membaca artikel ini dengan objektif dan dewasa. Dan bagi yang masih meledak – ledak emosinya, saya sarankan anda tutup halaman ini dan silahkan cari artikel lain yang penuh dengan kata – kata mutiara, karena artikel ini bukan untuk anda.

“Motivation is for amateur”

– Benji Bruce, Bussiness Mentality –

 

Ada banyak klien yang juga datang ke saya untuk berkonsultasi, kemudian menceritakan permasalahannya dan meminta saya melihat solusi yang ada dengan media kartu tarot untuk sesi menggarap solusi bersama – sama. Ada klien yang akhirnya memang menerapkan solusi yang sudah disepakati bersama dan ada juga yang ternyata sama sekali tidak menerapkannya atau malas menerapkannya. Seringkali orang seperti ini datang ke saya dan mengaku bahwa dia datang ke tarot reader untuk mencari mendapat motivasi supaya semangatnya naik sehingga hidupnya bisa lebih baik lagi. Dalam hal ini, otomatis seorang tarot reader juga perlu berperan sebagai seorang motivator pribadi klien agar bisa membuat klien lebih bersemangat dalam menjalani hidup.

Hanya saja, ada sedikit kenyataan yang saya sampai sekarang belum berani untuk ngomong langsung didepan klien saya secara terang – terangan. Karena ketika saya mengatakan ini, semangat klien pasti akan turun drastis saat itu. Dan hal terburuk yang bisa tarot reader lakukan adalah membuat psikis klien semakin terpuruk disaat dia juga sedang jatuh – jatuhnya.

Kenyataan tersebut adalah bahwa motivasi, seperti apa yang orang umumnya mengerti, itu paling hanya bertahan maksimal 3 hari. Singkatnya orang akan berapi – api mendengar wejangan yang membangkitkan semangat ataupun kata – kata mutiara yang dilontarkan oleh para motivator, namun setelah itu ya paling kembali ke situasi semula yaitu situasi demotivasi.

Dengan demikian, motivasi, seperti yang orang umumnya mengerti, itu hanyalah penyemangat sementara saja. Kata – kata mutiara memang efektif untuk orang yang sedang turun mentalnya atau moralnya, namun itu hanyalah efek jangka pendek. Layaknya orang yang kelaparan secara mental, motivasi, seperti yang orang umumnya mengerti, adalah motivator memberi ikan dan mengajarkan cara membuat tongkat pancing kepada orang lapar. Ironisnya,  cara membuat tongkat pancing ikan itu terlewatkan oleh orang lapar tersebut.

Misskonsepsi Dalam Motivasi

Saya sudah menulis beberapa kali kalimat: motivasi, seperti yang orang umumnya mengerti,…

Dan saya memang sengaja menulis itu berkali – kali karena memang ada perbedaan pemahaman yang sangat besar antara motivasi yang sebenarnya dengan motivasi yang ditangkap masyarakat umumnya.

Motivasi yang dimengerti masyarakat pada umumnya adalah mendengar berbagai tips dan wejangan yang dilontarkan oleh para motivator. Tips dan wejangan ini seringkali dibungkus dengan kalimat – kalimat yang bagus (kalau tidak bisa dibilang manis) dan membuat pendengarnya merasa bersemangat setelah mendengar berbagai saran – saran dari para motivator. Namun karena bungkusan kalimatnya yang sangat bagus itu, seringkali justru masyarakat mencari motivator hanya demi merasa semangat saja, hanya demi supaya peserta merasa sangat baik dan bersemangat dari dalam dirinya.

Tentu saja para motivator itu juga menjelaskan berbagai cara yang cocok agar mencapai kesuksesan seperti dirinya; sayangnya, esensi itulah yang seringkali diabaikan oleh peserta dan lebih menikmati kata – kata mutiara. Dan kalau mendengar penceramah dengan kata – kata mutiara dan bahasa yang membawa semangat ataupun menenangkan, maaf saja….anda bukan mencari motivator, tapi mencari sooth sayer. Sooth berarti penenang atau pembuat perasaan lega, sementara sayer berarti pengucap/ penceramah. Arti soothsayer memang penceramah yang apabila didengar, harapannya bisa menenangkan batin kita sendiri. Sayangnya belum ada bahasa Indonesia yang secara spesifik memilki makna yang sama dengan soothsayer.

Motivasi yang sebenarnya

Apakah motivasi yang sebenarnya? Saya yakin para motivator juga sudah membeberkan dalam pelatihannya; namun seringkali pembeberannya itu terlewatkan oleh peserta karena bahasa yang manis tersebut. Oleh karena itu, saya akan memaparkan gambaran dasar motivasi yang sebenarnya tanpa adanya kata – kata manis.

1. Maunya apa?

Motivasi itu sendiri bermula dari, anda mau apa? Anda mau menjadi apa? Dan dari situ mulai beranjak ke pertanyaan, apa yang anda sukai? Main gitar kah? Menjual sesuatu kah? Nyanyi kah? Atau yang lainnya?

Interesting fact is, sebagian besar orang kantoran TIDAK TAHU apa yang dia sukai dan yang dia inginkan sebenarnya. Jadi ada baiknya sebelum beranjak ke tahap berikutnya, tetapkan baik – baik MAUNYA APA?

Catat jawaban anda.

2. Mengapa?

Tahap berikutnya ketika sudah mengetahui apa yang diinginkan, adalah mencari tahu MENGAPA ANDA MAU MELAKUKAN HAL ITU? Alasannya bisa macam – maca, bisa karena keluarga, bisa karena ingin berhasil secara finansial, bisa karena ketika menghibur seseorang anda suka melihat wajah penonton yang tersenyum / bahagia menikmati hiburan anda, anything will do. Just find out WHY YOU LOVE TO DO THAT even jawaban seaneh, sesilly apapun itu sudah cukup.

Yang perlu anda ketahui, faktor “mengapa” inilah yang menjadi landasan/ fondasi motivasi anda. Jadi ketika anda sudah mengenal motivasi dari dalam diri anda sendiri, anda sudah lulus tahap motivasi secara teori.

Catat lagi jawaban anda.

3. Situasi anda sekarang seperti apa?

Bagaimana situasi kerjaan/ usaha anda? Bagaimana situasi keuangan anda? Bagaimana situasi keluarga anda, dan hal – hal lain yang mendeskripsikan situasi anda secara singkat dan berkaitan dengan apa yang anda inginkan untuk lakukan. Sebagai contoh:

Mau apa? Saya seorang mentalist dan berjuang menjadi mentalist yang dikenal public tanpa meninggalkan tarot reading saya yang ternyata sangat membantu orang – orang yang butuh 2nd opinion dari seorang tarot reader.

Mengapa? Karena ketika saya berdiri diatas panggung dan menghibur audience, melihat mereka tertawa, tersenyum, dan terhibur itu saja perasaannya saya sangat menyenangkan. Segala bentuk reaksi keterkejutan mereka menjadi pengalaman yang terungkapkan berharganya.

Situasi sekarang seperti apa? Saya sudah 3 tahun profesional di mentalism dan tarot. Sudah berinvestasi sekitar 20 juta untuk semua pengetahuan – pengetahuan yang perlu saya pelajari dan akan terus bertambah. Income saya meskipun naik turun namun rata – rata sekitar 15 juta per bulannya di tahun ke-3 saya professional ini.

Saya sudah masuk TV spot 3 kali, masuk radio 5x, masuk koran sebagai berita 2 halaman 1x, media kecil 3x. Sudah pernah buka stand tarot di kampus – kampus, mall, event internal perusahaan maupun event sosial perusahaan. Selain itu saya sudah perform di café, acara corporat, acara keluarga, dan masih banyak lagi.

Gambaran diatas adalah contoh kasarnya saja dan anda bisa menulisnya sesuai dengan gaya bahasa penulisan anda sendiri. Yang penting adalah: CATAT!

4. Target anda apa ?

Tentu saja anda perlu menulis target yang perlu anda capai baik dalam tahun ini maupun tahun – tahun mendatang. Dan setiap target, namanya juga target ya perlu deadline. Dan tentu saja perlu membuat target yang memacu anda untuk lebih efektif dan aktif dalam mengejarnya. Bagaimana kalau disaat deadline target tidak tercapai? Simplenya, evaluasi kenapa tidak tercapai dan pasang deadline baru. Tidak ada target yang tidak realistis, yang ada adalah deadline yang tidak realistis.

Dan sekali lagi, anda perlu MENCATAT target anda. Karena ketika anda mencatat (dengan pen diatas kertas), pikiran anda menjadi terpacu untuk lebih fokus ke target anda. Memikirkan target tanpa mencatatnya justru akan memperkecil kemungkinan target itu tercapai dan target tersebut hanyalah menjadi harapan semu semata. Jadi, bedanya antara harapan semu dengan target adalah sesederhana itu: tidak dicatat/ dicatatnya saja.

5. Apa saja aktifitasnya?

Apabila anda sudah punya target, tentunya anda juga perlu mencatat aktifitas apa saja yang bisa anda lakukan baik jangka panjang maupun jangka pendek bahkan yang bisa anda lakukan saat ini juga. Catat berbagai aktifitas yang bisa membantu anda mencapai target yang anda tentukan sendiri dan lakukan dari hal – hal yang bisa anda lakukan sekarang ini juga.

Aktifitas riil inilah yang membedakan siapa orang yang hanya murni optimis namun hanya optimis berharap dengan orang yang optimis namun diseimbangkan dengan tindakan nyata. Orang yang hanya optimis tanpa disertai tindakan nyata, ujung – ujungnya hanya menjadi peserta langganan seminar motviasi tiap bulannya sementara orang yang optimis disertai tindakan nyata, paling – paling hanya ke seminar motivasi 1-2 kali dan setelah itu ikut pelatihan lain yang mendukung targetnya.

Motivasi Sejati Ada Dalam Diri Sendiri

Saya yakin langkah – langkah umum dan dasar yang saya uraikan diatas itu sudah sangat basi dan sering anda dengar berulang – ulang. Namun kembali saya tulis di artikel ini untuk mengingatkan pembaca kalau motviasi memang berasal dari dalam diri sendiri dan bermula dari pertanyaan sederhana, “Maunya apa?”.

Ketika kita mendapat motivasi itu dari diri sendiri, ya mau situasi disekeliling kita seburuk apapun, kita tetap bisa menjaga semangat dan mental kita supaya terus berjuang disegala situasi. That means, motivasi yang sebenarnya adalah memiliki sikap yang seimbang antara optimis dan realistis.

Sementara ketika kita justru bergantung dari motivasi orang lain (baca: dari motivator) ya paling kita hanya berteriak “HURAAAAHH!!!!” “LUAR BIASAAA!!!” “SEMANGAT!!!” “SAYA BISAA!!!” “YES I CAN DO IT!!!” dan teriakan – teriakan semangat lainnya, tapi paling hanya bertahan 3 hari dan kembali menjadi ‘orang rata – rata’ setelah itu.

Untuk menutup artikel ini saya juga memberi bocoran dari beberapa klien saya yang ternyata juga motivator:

Kebanyakan mereka di masa lalunya hanya mengikuti seminar motivasi untuk mengetahui ilmu tersebut paling hanya 1-2 kali dalam hidupnya. Sisanya mereka ikut seminar motivasi itu untuk networking saja (kenalan dengan banyak orang dan menyebar kartu nama), bukan karena mereka butuh semangat dari motivator.

Sisanya? Para motivator itu selain menerapkan ilmunya ke kehidupan mereka hingga berhasil, mereka malah membuka seminar motivasi sendiri.

Jadi, para motivator juga ikut seminar motivasi di awalnya, namun BUKAN MENJADI ‘PELANGGAN TETAP’ seminar motivasi. 😀

Leave a Reply

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers:

%d bloggers like this: