In Dept With Darkness Aspect Part 1: Konsep dan Simbol

Topik kali ini memang sedikit nyeleneh dan aneh, terutama bagi orang2 awam yang cenderung mendapat informasi dari media2 populer. Yes….kali ini gw akan membahas sisi gelap dari psikis manusia dan hubungannya dengan tarot itu sendiri. Bagian pertama gw akan lebih membahas konsep sisi gelap dan symbol kegelapan itu sendiri. Di bagian kedua, barulah gw akan jelasin penggunaannya dalam Tarot.

Apabila kita mendengar atau melihat kata ‘sisi gelap’ itu sendiri, yang terlintas seringkali adalah segala sesuatu yang tidak menyenangkan, tidak nyaman, cenderung dirasa mengganggung, sampai berhubungan dengan yang disebut ketakutan. Ketakutan disini bisa dalam artian sederhana seperti takut akan masa depan yang tidak pasti, takut akan konsekuensi pilihan yang kita buat, artian yang lebih ke ‘visual’ seperti takut akan hantu, pocong, tuyul, dan entitas2 tidak napak lainnya.

Di satu sisi, ketakutan dan sisi gelap manusia secara psikis merupakan hasil mekanisme perlindungan diri akan sesuatu yang berbahaya atau dianggap mengancam individu itu sendiri. Yes…., manusia umumnya memang takut akan sesuatu yang berbahaya, tidak nyaman, dan segala sesuatu yang bisa merubah dirinya menjadi lebih buruk. Hanya saja disisi lain, manusia juga secara insting ingin ‘menikmati’ rasa takut tersebut karena berbagai sebab terutama karena rasa adrenalin yang keluar dari ketakutan tersebut, merupakan suatu kenikmatan tersendiri. Dari situlah, makanya sesuatu yang berbau menakutkan dan tidak aman memang seringkali dicari oleh manusia; anggaplah seperti menonton film horror yang menakutkan, ada sekelomopk orang tertentu yang sengaja mengunjungi tempat2 yang lama tidak dihuni dengan harapan ketemu mahluk halus, remaja yang menonton film porno diam2 karena takut ketahuan orang tuanya, dan masih banyak contoh lain.

Basically, kenapa manusia di satu sisi takut akan sisi gelap, namun di sisi lain ‘tertarik’ ingin kesana? Berikut akan gw uraikan secara singkat mengenai konsep sisi gelap itu sendiri.

Dalam psikologi, sisi gelap manusia seringkali disebut sebagai alter-ego, id, atau diri sendiri yang lebih rendah (lower self), bahkan Jung menamai hal tersebut sebagai shadow/ bayangan diri. Jung sendiri mengungkapkan personal shadow atau sisi gelap pribadi seorang manusia, merupakan ‘pikiran lain’ diluar kesadaran kita. Bagaimana itu bisa terbentuk/ ada pikiran lain diluar kesadaran kita?

Ternyata sumbernya tidak lain dan tidak bukan adalah segala bakat, potensi, keinginan, hasrat kita sebagai manusia yang DIPENDAM dengan sengaja atau TERPENDAM tanpa kita sadari karena kondisi lingkungan kita. Ini seirngkali terjadi dan bermula disaat diri kita masing2 sebagai anak2 yang dididik oleh orang tua kita. Ada hal – hal dalam keluarga, keluarga besar, norma masyarakat, dan factor lingkungan manusia lainnya yang membuat potensi kita menjadi dipendam dan menjadi sisi bayangan kita sendiri. Sebagai contoh:

  • Apabila di lingkungan keluarga si A sangat menekankan untuk menghormati apa kata orang tua secara absolute (baca: omongan ortu tidak boleh disanggah sediitpun), maka apabila si A sebenarnya tipikal orang yg berpotensi berbicara dan berpendapat secara vocal, maka potensi public speaking tersebut menjadi sisi gelap si A.
  • Apabila di lingkungan si B sangat menekankan untuk tidak membicarakan sex secara terbuka, padahal si B sangat ingin tahu hal tersebut, maka sisi gairah sex si B menjadi sisi gelap si B.
  • Apabila si C berasal dari keluarga karyawan kantoran dan baik keluarga besar maupun lingkungannya lebih memilih sebagai karyawan kantoran saja, maka apabila si C berpotensi menjadi wiraswasta namun dilarang oleh ortu, maka sisi independen dan sisi pengusaha si C menjadi sisi gelapnya.

Dari situ, bisa dilihat bawah sisi gelap dalam artian psikologis bukanlah suatu sisi yang negative; melainkan suatu sisi yang ditutup/ dipendam semata dan lebih dikategorikan sebagai sisi yang buruk oleh lingkungan sekitar. Dan dari contoh diatas, memang kita bisa melihat bahwa adakalanya sisi gelap seseorang memiliki potensi2 yang sebetulnya konstruktif dan bermanfaat untuk perkembangan diri.

Seringkali, dalam kehidupan seseorang….kita selalu mendengar wejangan atau nasehat ‘orang awam’ untuk menerima sisi terang kita (segala yang dianggap oleh lingkungan adalah baik) dan menolak/ mengubur/ mengurangi sisi gelap kita (segala yang dianggap lingkungan tidak baik). Hanya saja, keputusan untuk mengikuti apa yang lingkungan kehendaki dan berpaku kepada sisi terang – gelap tersebut, seringkali membawa individu menjadi sosok yang ‘tidak seimbang’. Akibat dari psikis yang tidak seimbang tersebut bisa bermacam – macam dan gw rasa temen2 sering menemukan di kehidupan sehari – hari seperti:

  • Pribadi yang benar2 labil ….. hanya ingin menuruti apa kemauan orang lain
  • Orang2 yang munafik… didepan semua omongan bagus dan bijak, namun secara emosional masih meledak – ledak
  • Orang yang sangat tertutup dan jaga image
  • Orang yang selalu memposisikan dirinya sebagai korban dari orang lain
  • Orang yang membullying orang lain, dll

Lalu bagaimana untuk menyeimbangkan kehidupan kita? Simplenya memang kita perlu menerima sisi gelap kita layaknya kita menerima sisi terang kita. Dalam hal ini….. membuka, menghadapi, mempelajari, melatih, dan menerima sisi gelap kita secara moderat dan di lingkungan yang relative aman merupakan salah satu solusi yang efektif. Sebagai contoh:

  • Bagi yang takut hantu, ya dianjurkan memang perlu mempelajari apa itu hantu, penjelasan ilmiahnya, berikut nonton filmnya, serta mendapat informasi hantu yang sebenernya itu seperti apa. (which is seringkali hantu versi film jauh lebih seram ketimbang aslinya)
  • Bagi yang takut berbicara didepan public, ya memang perlu mencari teman – teman/ lingkungan yang menerima opini secara terbuka dan melatih kemampuan public speakingnya di lingkungan2 tersebut
  • Bagi yang takut punya usaha , ya bisa dimulai dari sebuah usaha kecil yang modal minim

Disisi lain, sisi gelap manusia secara psikis juga membawa manusia ke hal yang disebut sebagai ketakutan atau fear. Yang perlu diperhatikan, seringkali karena mekanisme pertahanan diri manusia cukup besar, manusia yang belum terlatih menghadapi rasa takut memiliki kecenderungan:

  • Takut akan sesuatu yang belum pasti atau bahkan sebenarnya hal yang ditakutkan itu tidak pernah kejadian a.k.a fantasi yang dibuat – buat saja.
  • Takut akan suatu scenario terburuk….padahal kalaupun memang beneran kejadian, ternyata tidak seburuk yang dikira.
  • Takut bergerak dari zona nyamannya, meskipun sebenernya semua di kehidupan memang akan selalu berubah dan tidak ada yang fix/ sepenuhnya nyaman.

Dan dengan melatih menghadapi rasa takut itu sendiri, sebenernya bisa membuat seorang individu menjadi lebih bijak (karena bisa mengambil sisi positif dari hal yang tampak negative sekalipun), dan mengembangkan keberanian, keteguhan prinsip, dan kerja keras dari individunya.

 

Beberapa symbol yang identik dengan sisi gelap

Seperti yang kita ketahui, sisi gelap di muka umum seringkali disangkal sebagai sesuatu yang jelek. Bahkan symbol – symbol yang secara bawah sadar mewakili sisi gelap tersebut seringkali juga ditolak mentah – mentah oleh public karena dianggap merupakan symbol setan. Berikut beberapa symbol yang dikategorikan oleh public secara umum sebagai symbol sisi gelap:

Vampire dan darah

Vampire dan darah merupakan symbol yang seringkali menjadi kesatuan dalam film2 vampire romantic. Apabila public sering menganggap vampire sebagai sesuatu yang jahat, pemburu darah manusia, dan masih banyak lagi, dalam psikologi symbol, darah seringkali dikonotasikan sebagai energy kehidupan manusia. Proses pertukaran darah antara vampire dengan manusia, secara sastra juga dianggap sebagai bentuk cinta antar pasangan yang mensimbolkan sebagian dari diri/ kehidupan pasangan ada dalam dirinya sendiri.

Salib terbalik

Salib terbalik dalam agama tertentu seringkali dianggap sebagai salib iblis. Padahal awalmula salib ini terbentuk adalah sebagai wujud penghormatan kepada Santo Petrus (murid Yesus/ Nabi Isa) yang mati disalib secara terbalik karena dia merasa belom pantas mati disalib secara tegak. Simbol ini aslinya dianggap sebagai salah satu symbol martir (mati karena membela kepercayaan).

Bunga mawar berduri

Bunga mawar berduri seringkali dianggap sebagai symbol cinta yang menyakitkan (karena ada durinya tersebut). Hanya saja di sisi lain, memang manusia perlu menerima rasa sakit yang merupakan bagian dari konsekuensi menerima cinta. Publik memang kecenderungannya berfantasi/ mengharapkan suatu situasi ideal dimana cinta bisa didapat dengan mulus tanpa adanya konflik atau sakit hati. Padahal proses cinta itu sendiri adalah suatu proses pembelajaran dimana memang kemungkinan besar juga membawa berbagai konflik dan sakit hati yang perlu disikapi secara dewasa.

Ular

Dalam agama tertetu, ular dianggap sebagai symbol kelicikan ataupun kecerdikan berkonotasi negative. Namun dibalik symbol yang sekilas negative itu, kecerdikan individu memang diperlukan untuk survive dalam lingkungan masyarakat asalkan memang tidak merugikan orang lain yang terlibat. Bahkan dalam dunia kedokteran pun, suatu racun akan penyakit tertentu bisa menjadi obat untuk penyakit lain atau dikenal juga prinsip mengatasi racun dengan racun. Dengan demikian, ular disini juga disimbolkan sebagai sarana saja, namun tujuan penggunaannya lah yang lebih penting.

Simbol Pentagram/ Bintang Segi Lima

Simbol ini juga seringkali dianggap publik sebagai simbol penyihir jahat (karena pengaruh film Hollywood). Namun arti aslinya dari sebuah pentagram adalah simbol perlindungan dari segala energi yang negatif, sekaligus melambangkan panca indera manusia.

Sekian dulu tulisan gw…semoga bisa membantu dan menambah pengetahuan pembaca sekalian. :)

Leave a Reply

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers:

%d bloggers like this: