[Magic Article] Lesson From IIMS 2013: Audience Needs ‘Visual’

Well, seperti yang kalian tahu, selain sebagai tarot reader, saya sendiri juga melakukan pertunjukan mentalism baik pertunjukan panggung maupun pertunjukkan jarak dekat dikhalayak ramai atau bahasa kerennya adalah Street Magic. Dan berbicara mengenai pertunjukkan, setelah selesai melakukan pertunjukkan di salah satu booth kaca film otomotif di Indonesia International Motor Show 2013 ( IIMS 2013), saya mendapat suatu pelajaran yang sangat berharga.

Pelajaran ini pun saya dapat diawali dengan ego yang tertusuk dalam. Bagaimana bisa? Sederhananya, pertama kali saya melakukan pertunjukkan sulap panggung disana, pertunjukkan tersebut diawali oleh teman satu tim saya bernama Boris Zor-El. Dia memulai pertunjukkan dengan sangat bagus dan mampu mengumpulkan keramaian selama pertunjukkan Boris. Namun ketika giliran saya yang melakukan pertunjukkan, dan karena mentalist seringkali berkutat dengan prediksi dan angka – angka, alhasil di segmen saya, keramaian tersebut langsung bubar dan seakan – akan saya bermain sendiri.

Dari situ kebayang bukan bagaimana tertusuknya ego saya? Lebih parahnya lagi, hal ini terjadi tidak hanya sekali, namun dua kali di kesempatan yang berbeda! Dan dari situlah saya melihat kalau pertunjukkan mentalism yang biasa – biasa saja memang tidak bisa menarik keramaian. Kecuali kalau anda sudah punya nama yang sangat terkenal seperti Deddy Corbuzier atau Romy Rafael, 99% anda melakukan pertunjukan mentalism yang biasa – biasa saja, maka sambutan penonton pun menjadi sangat tidak antusias.

Saya sempat bingung bagaimana melakukan pertunjukkan mentalism yang bisa menarik keramaian. Saya perlu berpikir keras karena memang saya bukanlah seorang magician klasik ataupun yang fokus ke manipulasi seperti permainan coin ataupun menggandakan kain sutra, menggandakan tongkat, atau menunjukkan permainan kartu yang spektakuler. Kebingungan saya semakin diperparah karena pada dasarnya, permainan Boris Zor-El yang notabene adalah seorang magician manipulasi dan klasik ini, berhasil menarik keramaian dengan hal – hal yang sangat visual. Dan permainan visual itu sendiri merupakan KELEMAHAN UTAMA dari permainan mentalism!

Di hari terakhir, saya memiliki kesempatan terakhir untuk melakukan pertunjukkan panggung. Dan saya sempat berpikir bagaimana caranya saya bisa menarik keramaian layaknya teman saya itu. Jadilah setelah berpikir dan mnyusun permainan sederhana, saya memutuskan untuk mengurangi ego saya dan sedikit memberi nilai visual kepada permainan mentalism saya. Dan saya juga merencanakan bermain permainan ilusi sederhana menggunakan tali. Tentu saja semuanya juga ditambah dengan musik latar yang cukup menarik perhatian.

Meskipun konsepnya bisa dikatakan terburu- buru, namun kesempatan terakhir tersebut ternyata membuahkan hasil. Permainan saya yang ada ada unsur visualnya tersebut berhasil menarik keramaian pengunjung di booth tersebut dan membuat semuanya semakin meriah. Kesempatan terakhir di IIMS 2013 itu pun berakhir dengan sangat baik.

Dari situlah saya mendapat pelajaran yang sangat berharga, hasil dari mengorbankan sedikit ego saya. Pelajaran tersebut adalah, apapun pertunjukkannya, penonton membutuhkan pertunjukkan yang ada nilai visualnya. Meskipun namanya pertunjukkan mentalism yang sebenarnya menunjukkan kemampuan luar biasa dari sebuah otak manusia, penonton tidak mau pusing dan berpikir ketika sedang menonton pertunjukkan. Simplenya, penonton umumnya tidak mau menonton pake otak. Cukup menonton saja.

Apa saja dampaknya? Terutama kalau pertunjukkan dilakukan di lingkungan dimana orang berlalu – lalang, permainan mentalism perlu dibuat sederhana dan bahkan bisa dimengerti oleh orang yang baru menonton ditengah pertunjukkan. Dan tentu saja ada objek yang menjadi daya tarik dalam pertunjukkan tersebut. Apabila memang perlu dikombinasikan dengan ilusi sederhana, ataupun dengan hal yang menarik perhatian lainnya seperti wanita sexy, alat dengan warna menyolok, atau apapun yang menarik perhatian mata, memang lebih baik dilakukan saja apabila memang tujuan dari pertunjukkan tersebut adalah untuk menghibur penonton apalagi kalau memang bertujuan untuk menarik keramaian pengunjung.

Dan ketika anda berhasil bermain dengan baik dan menarik pengunjung, lucunya mereka akan menilai anda adalah sosok pribadi yang hebat dan bisa menghibur, namun anda tidak akan dilihat sebagai “mentalist yang hebat”. Toh nama mentalist memang lebih dikenal di kalangan magician/ pesulap ketimbang orang awam itu sendiri. 😀

Leave a Reply

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers:

%d bloggers like this: