[Magic Article] Tips For Showmanship: F*CK The Verbal Details!

Inspirasi ini gw dapatkan ketika gw melakukan Friday Tarot Time di Puri Indah Jumat lalu (24 Oktober 2014), dimana ketika gw berbicara dengan teman2 gw yg saat itu lebih banyak pesulapnya, dan melihat berbagai post di FB, gw menemukan 1 hal lucu dari magician2 yang bisa dikatakan (sori banget) masih pemula…

Sebagian besar magician pemula terlalu ‘meributkan’ detail.

 

Contohnya? Kira2 seperti ini….

“Saya punya 1 pack kartu dan berbeda – beda semuanya.”

“Saya punya 1 kantong kosong.”

“Kita belum kenal sebelumnya betul? Siapa nama anda?”

 

Dan lucunya, baik ketika seseorang melakukan table hopping magic (yg sekarang istilahnya berkembang menjadi street magic), ataupun ketika berada di panggung, kebanyakan magician yg jam terbang nya masih sangat minim, justru sangat overdetail mendeskripsikan permainannya, banyak yg mengucapkan kalau kartu nya berbeda – beda, kantongnya kosong, anda yang mengocok dan semua disebutkan secara verbal atau melalui kata2.

Well…, karena gw sendiri adalah seorang mentalist, maka gw justru mempelajari kalau participant mendapat dan menangkap pesan dari apa yang ingin kita sampaikan, justru tidak hanya dari suara, namun dari gerak badan/ gestur, dan dari perawakan kita alias dari visual juga. Terlalu menekankan 1 sisi dalam mengkomunikasikan pesan kita justru menunjukkan kalau kita berada di posisi tidak nyaman.

Dalam konteks ini, apabila seorang magician banyak -mengatakan/ mengucapkan- kalau A ini kosong, B ini sudah acak, belum kenal sebelumnya, dll, justru sang magician sendiri sangat menekankan sisi verbalnya dan itu menunjukkan dia berada di posisi sedang tidak nyaman/ gelisah.

Dan orang yang sedang merasa GELISAH tersebut, di mata orang awam menunjukkan orang tersebut sedang BERBOHONG.

 

Tidak percaya? Silahkan lihat berbagai serial TV, ketika ada adegan seseorang sedang menutupi sesuatu, sang sutradara dengan sengaja menyuruh aktor ber acting gelisah bukan? Memang karena ketika seseorang sedang berbohong/ menutupi sesuatu, seseorang cenderung gelisah dan TERLALU BANYAK BICARA akan DETAIL.

Bagaimana Sebaiknya?

Kalau dari jam terbang gw sendiri, dalam mengkomunikasikan sesuatu, tidak harus selalu menterjemahkannya dengan bahasa verbal saja, namun diseimbangkan dengan aktifitas lain. Sebagai contoh…

Saya punya 1 pack kartu dan berbeda – beda semuanya.”

Bagian ini bisa diganti misalnya menjadi…

 

“Kita gunakan kartu ini” <sambil mengeluarkan 1 pack kartu>

“Mau di kocok?” <sambil menyodorkan 1 pack kartu ke participant, mau dia mengocok atau tidak, tidak masalah juga kok.>

 

<Kemudian, ambil 1 kartu secara acak dan tunjukan ke participant.>

“Ini kartu apa? 5 hati? Bagus.”

<Ambil lagi 1 kartu secara acak dan tunjukkan ke participant.>

“Ini kartu apa? Ah, 2 sekop? Bagus.”

 

“Ok, kita mulai saja permainannya, pilih 1 kartu yang mana saja….”

 

Ketika gw sengaja menanyakan “Ini kartu apa?” sambil mengambil 1 kartu secara acak, sebenarnya gw menyampaikan 2 pesan sekaligus ke participant:

  1. Kartunya sudah dikocok secara acak
  2. Kita memastikan participant mengerti cara baca kartu, karena adakalanya memang participant di Indonesia ada yang belum bisa baca kartu. Dan apabila kalian menemukan, participant yg tidak bisa baca kartu, gw anggap kalian sudah punya plan B berupa permainan yang tidak memerlukan participant membaca ‘bahasa kartu’.

 

Ok, let’s move to the next example

 

Saya punya 1 kantong kosong.”

 

Bisa diganti menjadi…

“Kita gunakan kantong ini saja.” <sambil memasukan tangan kedalam kantong dan membalikkan bagian kantong keluar lalu mengembalikannya lagi ke dalam.>

Boleh percaya atau tidak, ketimbang mengatakan “kantong kosong”, gesture diatas saja sudah lebih meyakinkan participant ketimbang harus mengatakan “kantong kosong” sambil menunjukkan kantong tersebut kalau kosong.

 

Ok, last example…

 

Kita belum kenal sebelumnya, betul? Siapa nama anda?”

Somehow, ini mungkin karena kebanyakan magician kebanyakan nonton aksi sulap di TV dimana tujuan aslinya, untuk mengkomunikasikan ke penonton acara TV tersebut kalau participant yang magician temui memang belum kenal sebelumnya. Sekali lagi, bertujuan untuk mengkomunikasikan ke penonton TV.

Problemnya adalah, sebagian besar dari kita bukanlah main sulap dalam acara TV, melainkan main sulap di lingkungan yang sebenarnya. Dengan demikian, justru kalimat diatas, akan ditangkap oleh participant yang menonton kalau ini semua sudah direkayasa yang artinya:

  1. Anda sudah kenal itu orang
  2. Anda tahu nama itu orang

Dan lepas dari apakah anda sebagai magician pernah ketemu atau belum, dan sudah tahu atau belum nama orang yang anda ajak main, participant sudah menganggap itu semua rekayasa.

 

Salah satu out yg gw lakukan ketika gw mengajak participant bermain adalah dengan sedikit bawa becanda. Kira2 seperti ini apabila participant yg gw ajak adalah seorang wanita…

“Supaya nama anda dikenal oleh semua orang disini, sebutkan nama anda!”

 

Dan adakalanya, gw suka menambahkan, tergantung situasi…

“Ok, status anda? Single, berkeluarga ato gimana?”

 

Kalo dia single…

“Ah…single! Lumayaannn…., woi untuk para cowok2, ni cewek single looohhhh.”

 

Kalo dia berkeluarga….

“Ah…, sudah ada keluarga, mana suami dan anak2nya?”

 

Seringkali participant akan menunjukkan suami/ anak…

“Ah….pinjem dulu ibu nya yah pak/ nak.”

 

Atau kalau tidak datang bersama suami/ anak…

“Whoa…., anda datang sendiri…seorang wanita yang kuat ternyata.”

Dan sisanya anda bisa improvisasi sendiri sebelum melakukan permainan magic.

 

Demikian contoh yg bisa gw berikan. The point of this post is, kita menyebarkan berbagai detail permainan kita ke berbagai aspek….verbal, gesture, visual, dan masih banyak lagi. Dan hindari terlalu banyak menekankan sisi detail permainan ke ucapan saja.

Leave a Reply

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers:

%d bloggers like this: