Mengapa Para Pesulap Lebih Sulit Untuk Belajar Tarot?

Tulisan ini gw maksudkan lebih sebagai referensi kepada orang – orang yang berminat belajar tarot namun memiliki latar belakang sebagai pesulap pada awalnya. Dan sesuai judulnya, emang gw menemukan para tarot reader yang backgroundnya pesulap, suka bingung mengapa ada tarot reader yang bacaannya lebih tepat dibandingkan para pesulap. Mengapa ada banyak tarot reader yang dianggap ‘menipu diri sendiri’ oleh para pesulap, justru lebih bisa membuat klien terpukau.

Mungkin ketika kalian membaca tulisan ini, kesannya gw menjadi menggeneralisir. Yes, memang terkesan menggeneralisir,…hanya saja tujuannya lebih untuk memberikan ide atas apa yang terjadi oleh para pesulap yang belajar baca tarot.

Well, kalau diamati, memang ada 1 rahasia yang kalaupun para pesulap tahu, belum tentu akan memperbaikinya. 1 rahasia dimana para tarot reader umumnya memang menguasai itu setelah sekian lama, sementara para pesulap belum tentu bisa menguasai hal tersebut.

Rahasia itu adalah: EMPATI.

Mengapa saya bisa mengatakan pesulap lebih sulit menerapkan empati? Berikut beberapa faktornya.

Pola Pikir Pesulap: semuanya adalah cold reading

Gw sendiri membaca tarot dengan pendekatan psikologi; dimana gw membaca situasi klien, gambaran kedepan, maupun solusi yang ada berdasarkan simbol – simbol yang tertera di kartu tarot sebagai sarana nya. Alhasil, ketika ada informasi yg gw tidak tahu, gw bertanya langsung ke klien dan klien pun dengan santainya, memberitahukan informasi tersebut. Toh, tujuan dari konsultasi tarot adalah bersama – sama mencari dan mendiskusikan solusi.

Hal ini sangat berbeda apabila pesulap yang baru mulai belajar kartu tarot. Orientasi para pesulap umumnya adalah agar menjadi tarot reader seperti di tv ataupun event2 yg menunjukkan kehebatan si tarot reader. Dan di kalangan pesulap, beredar semacam mekanisme manipulasi psikologis yang kita sebut sebagai cold reading dan hot reading.

Dua metode tersebut merupakan metode manipulasi psikologis dengan tujuan mendapatkan informasi yang dibutuhkan tanpa klien sadari. Tujuan dari hot dan cold reading pada awalnya, tentu saja agar kita para tarot reader ataupun psikolog umumnya, mampu memberikan solusi yang efektif dan mendiskusikan berbagai metode terapi yang cocok untuk klien.

Hanya saja, dua metode ini menjadi menyimpang penggunaannya dikalangan pesulap umumnya. Mereka menggunakan metode ini sebagai ajang pamer kehebatan mereka seakan – akan mereka adalah dukun atau orang yang bisa baca pikiran. Alhasil, jadilah para pemakai hot dan cold reading yang amatir itu menjadikan kemampuan (yang baru dipelajari) tersebut sebagai ajang tebak – tebakan antara pembaca dengan kliennya.

Dan tentu saja ketika ini menjadi ajang tebak – tebakan. Ketika tebakannya benar, klien akan kagum dengan bacaan tersebut. Ketika tebakannya salah, klien langsung tidak simpati, menutup diri, dan dengan segala cara mempertahankan pendapatnya. Dan ujung – ujungnya, ya tidak ada solusi yang didapat dan klien pergi dengan muka masam.

Terbiasa cold reading = bacaan menjadi tidak ada empatinya

1 hal lagi point penting yang juga sering dilewatkan adalah, banyak klien mencari tarot reader itu adalah untuk curhat sebenarnya. Kenapa curhat ke tarot reader? Karena tarot reader dianggap sebagai orang yang netral terhadap suatu permasalahan. Selain itu, karena klien menganggap curhat ke tarot reader sebagai curhat ke orang yang tidak dikenal, maka klien merasa tidak perlu khawatir apabila curhatannya bocor ke orang lain. Dengan kata lain, klien memakai jasa tarot reader itu lebih karena ingin waktu menuangkan isi hatinya; sementara bacaan tarot itu adalah prioritas no.2 nya.

Sementara pesulap yang umumnya sudah terlanjur berpola pikir skeptis seperti “Tarot hanyalah permainan kartu yang dibungkus dalam kegiatan ramal – meramal” atau terlanjur menganggap “Tarot nya ga penting, yang penting pembacanya bisa menebak banyak yang bener dengan segala metode.”, maka bisa dipastikan, pembaca seperti ini tidak memiliki empati dalam membacakan klien.

Bagaimana ciri – cirinya: sederhananya, ketika klien mengecap anda sok tahu itulah anda telah mendapat cap sebagai orang yang tidak punya empati.

Bagaimana ciri – ciri yang lain dari tidak ada empati? Ketika klien menjadi merasa ingin buru – buru meninggalkan konsultasi, ketika klien menjadi sangat gelisah dan memalingkan muka. Maka disaat itu juga ada semacam indikasi anda tidak punya empati saat membacakannya.

Dan apa ciri – ciri paling keliatan kalau kebanyakan tarot reader tidak memiliki empati? Adalah ketika image tarot reader menjadi sangat buruk bahkan dianggap menyeramkan itulah yang menjadi tanda bahwa sebagian besar tarot reader di Indonesia sangat kurang empatinya dan hanya sekedar pamer kemampuan saja.

1 Wejangan untuk orang yang terbiasa hot dan cold reading

Ada beberapa pesulap yang bertanya kepada gw, bagaimana cara belajar tarot yang baik? Dan apakah buku – buku yang bagus untuk menjadi tarot reader?

Maka gw selalu mengatakan, ketika mulai belajar tarot, singkirkan dahulu segala konsep hot reading dan cold reading. Singkirkan dulu semua buku yang membahas seputar tarot untuk hiburan dan pertunjukkan (yang biasanya ada di kategori buku sulap).

Dan setelah itu, gw selalu mengatakan untuk mulai belajar kartu tarot sebagai kartu tarot. Mulai dari cara membacanya, berbagai pendekatan yang digunakan, dinamika klien, sampai sejarahnya apabila emang beneran minat.

In short word….kalau mau belajar tarot, belajarlah sebagai tarot reader beneran, dan bukan sebagai magician.

Leave a Reply

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers:

%d bloggers like this: