REFLEKSI: Apakah Kita Masing – Masing Adalah Unik?

Ada suatu penyataan yang cukup menggelitik bagi saya. Dari berbagai nasehat motivasi, berbagai pepatah, dan sumber – sumber lain, selalu berusaha untuk meyakinkan kita bahwa diri kita masing – masing adalah edisi terbatas a.k.a limited edition. Setiap individu adalah unik dan tidak ada dua nya, bahkan anak kembar sekalipun tetap memiliki perbedaan.

Namun dari sekian banyak pesan demi pesan mengenai perlunya kita menyadari keunikan diri kita masing – masing, seiring dengan jam terbang saya sebagai tarot reader, tampaknya kalimat tersebut perlu direvisi. Mungkin memang dari sisi fisik dan potensi dalam diri kita masing – masing, kita memang unik. Namun dalam hal perilaku, pengalaman saya berbicara sebaliknya ternyata. Saya akan memberikan dua contoh yang berasal dari curhatan klien saya (tanpa membongkar identitas tentunya)

Contoh pertama adalah mengenai seorang wanita dan pria yang pacaran. Dalam hal ini, si pria sangat mendominasi dan cenderung mengatur segala hal mengenai pasangan wanitanya. Mulai dari siapa saja yang boleh berteman dengan wanita tersebut, kapan waktu pacaran, kapan si wanita ini perlu melayani si pria, termasuk si wanita dituntut tahu apa saja yang disukai dan tidak disukai si pria dan masih banyak lagi.

Parahnya lagi, si pria juga melakukan kekerasan fisik terhadap si wanita seperti menampar dan membenturkan kepala wanita itu ke dinding. Belum lagi si pria selalu mengintimidasi si wanita, betapa beruntungnya si wanita itu bisa sama dia dan seharusnya dia bersyukur.

Melihat contoh ekstrim diatas, anda merasa si pria memang benar – benar kurang ajar dan apabila anda berada di situasi wanita tersebut, anda yakin akan dengan tekad yang bulat, meninggalkan pria itu bukan?

Tapi dalam kenyataannya, wanita yang berada di situasi tersebut, hampir 100% justru mencari segala cara dan pembenaran agar dia tetap bisa bersama dengan si pria yang melakukan kekerasan fisik dan verbal ini. Terdengar mustahil? Pengalaman saya dan tarot reader lainnya telah membuktikan itu. Dan ternyata, justru dengan memberi kekerasan fisik dan verbal, berdampak adanya ikatan psikis dengan pasangan, meskipun dalam artian yang tidak sehat tentunya. Dan membuat si wanita itu untuk lepas dari pria yang membelenggunya, ternyata bisa memakan waktu berbulan – bulan bahkan bisa sampai tahunan apabila situasinya sampai sedemikian parahnya.

Dan mungkin setiap wanita yang mengalami kejadian diatas baik versi ekstrimnya maupun ‘versi lebih halus’nya akan merasa bahwa dia berada disituasi tanpa solusi dan dia adalah satu – satunya wanita yang mengalami hal seperti itu.

Kenyataannya? Sayang sekali, justru sangat banyak wanita yang mengalami hal diatas dimana si pria sangat mendominasi dan wanita berkewajiban untuk menurut tanpa mempertanyakan keputusan pasangan pria nya.

Untuk contoh keduanya, bagaimana dengan soal pekerjaan?

Saya rasa semua orang sudah tahu kalau anda cukup mampu secara ekonomi, ketika masih muda, anda diwajibkan 3 hal ini:

Mengambil pendidikan setinggi mungkin dan jurusan yang dianggap bermasa depan cerah. Kemudian mencari pekerjaan di perusahaan yang besar (baik gedung maupun namanya). Hidup mapan, menikah, punya anak, dan meninggal dengan tenang.

Masalahnya, dunia bukan sesederhana jalan hidup diatas. Ada banyak faktor disekitar kita yang adakala menuntut kita untuk lebih kreatif dalam menyikapi hidup sehingga jalur diatas bukanlah satu – satunya jalur yang absolut benar.

Namun ternyata, hampir mayoritas klien yang datang ke saya (dan juga ke tarot reader lain tentunya), apabila profesinya adalah karyawan, selalu memiliki pola pikir yang diatas seakan – akan perusahaan besar pasti menjamin hidup mereka dan itu satu – satunya jalan menuju bahagia. Meskipun pada kenyataannya:

“Semakin besar suatu perusahaan, semakin minim perhatian perusahaan kepada kesejahteraan  karyawannya terutama karyawan manajemen menengah kebawah.”

Saya tau saya terkesan menggeneralisir, namun pembaca pasti mengerti maksud saya.

Jadi pertanyaannya adalah…. Apakah fenomena diatas masih meyakinkan anda kalau setiap orang adalah unik?

Mungkin secara potensi masing – masing individu, bentuk dan profil fisik, dan latar belakang memang berbeda – beda. Namun respon kita manusia dalam menanggapi sesuatu, tampaknya terpola sedemikian rupa sehingga ada ilmu yang namanya psikologi yang mampu memetakan pola perilaku manusia tersebut.

Namun bukan berarti kita tidak bisa menjadi pribadi yang unik…, bukan seperti itu. Kita bisa saja menjadi seseorang yang unik dengan konsekuensi menghadapi pengucilan orang – orang yang ‘tidak unik’, menghadapi cemoohan  dan bahkan kekerasan fisik atau verbal dari orang – orang yang memang tidak unik. Tentu saja reward atau hasil yang didapat dari menjadi pribadi yang unik juga jauh lebih besar ketimbang resiko menjadi pribadi unik yang sudah cukup besar.

Jadi, pertanyaannya…., apakah kita masing – masing adalah unik?

Atau lebih spesifiknya, apakah anda adalah orang yang unik?

Leave a Reply

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers:

%d bloggers like this: