Refleksi: Kesimpulan (Sementara) Yang Saya Dapatkan Dari Klien Mengenai Pernikahan

Tulisan gw kali ini memang bukan membahas khusus mengenai tarot, melainkan kumpulan cerita – cerita klien yang ternyata memang kembali ada polanya. Topik yg gw bahas kali ini lebih spesifik, yaitu lebih ke pernikahan setelah beberapa tahun kemudian menikah. Tentu saja ada berita bagus dan berita buruknya dari sini. Bagaimanapun juga, gw minta tolong, bacalah dengan teliti dan dengan kacamata netral dan tanpa bawa2 agama secara spesifik. Artikel ini memang agak sedikit menyentuh aspek agama, namun gw akan coba seminim mungkin. Dan sekali lagi, gw sendiri sebagai penulis memang belom menikah sehingga apa yang gw tuliskan disini lebih sebagai rangkuman pengakuan dari cerita2 klien gw sendiri.

Motivasi ‘terselubung’ dalam pernikahan

Kalau kita menanyakan mengapa si A mau menikahi B, tentu saja jawaban yang keluar semuanya serba manis dan serba indah. Katakanlah si B baik, cocok menjadi pasangan hidup, dan sebagainya – sebagainya. Hal ini memang ada yang terjadi demikian dan memang ada yang benar2 mulus dalam pernikahannya.

Hanya saja, apakah ada motivasi lain dibalik pernikahan itu sendiri? Sebagian pasangan memang merasakan sudah waktunya menikah dan sudah yakin akan pasangannya masing2; namun sebagian lagi ternyata memiliki motivasi yang mungkin bagi masyarakat umumnya, tidak tahu atau bahkan berpura – pura menutupi. Beberapa motivasi itu adalah:

  1. Terutama untuk wanita: dikejar umur
  2. Tuntutan ‘politik’ orang tua (baca: dijodohin ortu namun berlawanan dengan kehendak anak)
  3. Salah satu pasangan (baik pria maupun wanitanya) memiliki finansial sangat mapan a.k.a tajir)

Beberapa motivasi diatas, meskipun di depan publik seringkali disangkal, namun ketika konsultasi, banyak yg mengaku menikah disebabkan karena salah satu dari tiga faktor tersebut. Tentu saja ada faktor karena MBA (married by accident) alias uda hamil duluan sebelum merid, namun gw lebih bahas ke faktor yang ‘terselubung’ saat ini.

Well, apakah seseorang yang menikah karena motivasi salah satu dari 3 diatas, bisa hidup bahagia? Tentu saja ini kembali ke sikap masing2. Hanya saja, klien2 yg datang ke gw, mengaku setelah 2-3 tahun , pernikahannya sudah tidak bahagia. Penyebab tidak bahagianya yang paling besar, ternyata karena salah satu pasangan, baik pria atau wanita, ternyata berubah 180 derajat sikapnya menjadi suka mengeluh, terlalu menuntut tanpa peduli dengan sikon pasangan, bahkan yang paling parah, justru berujung kepada kekerasan fisik atau verbal. Setelah ditelusuri lagi, mereka memang menikah di awal lebih sebagai ‘jalan damai’ karena kedua pihak ortu sudah sama – sama setuju dan menyukai pasangan meskipun di sisi suami istri itu sendiri belum tentu demikian. Dari sini kita bisa melihat ada perbedaan penilaian antara apa yg dicari oleh pasangan dan apa yang diinginkan ortu. Seringkali calon suami/ istri mencari pasangan yang memang bener2 dia ada feel/ perasaan, sementara ortu lebih mencari pasangan/ calon mertua yang memberi rasa aman atau bisa dibanggakan. Perbedaan persepsi yang berujung kepada sang anak mengalah/ cari jalan aman, justru berujung kepada pernikahan yg sebenarnya terpaksa dan justru memberikan tekanan mental tersendiri yang berujung kepada kehidupan pernikahan yang tidak bahagia.

Apalagi implikasinya? Simplenya, karena menikah dengan terpaksa (sekali lagi, ini seringkali disangkal ama orang awam, namun inilah yg bener2 terjadi), justru sering banget berujung kepada perselingkuhan atau minimal ada feeling dengan orang lain. Nah, orang luar yang disukai ini SERINGKALI adalah orang yang memang bener2 disukai/ dicintai alias cinta yang tidak kesampaian karena mesti menikah dengan orang lain.

Dari situ, apakah ada jalan keluar apabila pasangan yang diinginkan berbeda dengan keinginan orang tua? Jujur, gw ga bisa banyak berkomentar dalam hal ini karena ini mengacu kepada nilai masing – masing. Hanya saja, akan lebih baik apabila kita menjadi diri sendiri dan kita akan jauh lebih bahagia menjadi diri sendiri apa adanya ketimbang menjadi diri yang dibentuk oleh permintaan orang lain termasuk orang tua kita sendiri.

 

Sex, factor yang tabu namun menjadi sangat fatal

Salah satu factor utama yang masih cenderung tabu untuk diomongin terutama untuk daerah diluar Jakarta dalam pernikahan adalah sex alias hubungan pasangan suami istri di ranjang. Cukup banyak pasangan (notabene klien2 yg dating ke gw) mengaku mereka bahagia karena kemampuan pasangannya di ranjang. Sementara klien2 gw yg pernikahannya belum bahagia, meskipun pernikahannya dengan motivasi murni sama2 suka dan ingin (tanpa paksaan dari pihak manapun), ternyata juga bisa terjadi konflik semata – mata karena sex.

Sex disini bukan dalam artian sekedar pasangan subur, buat anak, hamil, dan lantas melahirkan. Totally bukan seperti itu, melainkan sex disini lebih ke kebutuhan dasar dalam berekreasi bagi pasutri. Klien2 gw sendiri yang mengaku kehidupan pernikahannya belum bahagia, secara fisik mereka sangat ideal alias fisik cantik ala model (baik cungkring maupun berisi), dan dari prianya juga cukup idean (fitness dan berotot). Namun hal yang sering dikeluhkan oleh pasangan wanita adalah, pria uda ejakulasi dalam waktu tidak lebih dari 5 menit. Dan 5 menit itu SUDAH TERMASUK FOREPLAY!!!!!!

Masalah baru akan benar2 terasa ketika si istri menceritakan keinginan itu ke suaminya dan suami selalu merespon dengan marah2 atau dengan nada tinggi. Alasan kerjaan dan kesibukan karir selalu menjadi senjata utama si suami dan berujung kepada si istri benar2 tidak tahan secara psikis. Mungkin ini terkesan mengada –ada, tapi ya keluarga yang tampak ideal dan bahagia seperti itu pun seringkali menyimpan kisah seperti ini. Si istri mendapat tekanan mental yang numpuk dan ‘tidak tersalurkan’ (well….sex juga memberi hormone rasa nyaman bukan?)  sementara berbagai tugas ibu rumah tangga dan tugas lainnya juga menunggu setiap harinya. Akibatnya? Anggapan wanita selalu terlihat lebih tua 3 tahun dibandingkan usianya, sebenarnya berasal dari kehidupan sex yang belum bagus tersebut.

So? Kenapa sex sebegitu pentingnya? Sex yang benar2 sampai orgasm baik pria maupun wanita memberikan hormone rasa nyaman dan bahagia. Hormon seperti ini, apabila diproduksi secara teratur, justru membantu pikiran untuk selalu bahagia dan memandang sesuatu lebih positif. Otomatis, pola pikir yang positif justru membuat seseorang terlihat lebih dewasa sekaligus lebih cantik/ tampan bukan? Dari alur logika seperti itulah, muncul anggapan aktifitas sex yang tinggi memacu seseorang untuk awet muda.

Tidak ada salahnya apabila bagi pasangan yang sudah menikah untuk terbuka dan mulai belajar soal sex dari sisi seni maupun keahlian2 yang sudah tertuang di berbagai buku2 seni kamasutra. Meskipun di public masi terdengar tabu, namun apabila dilakukan ke pasangan resmi sendiri dan tujuannya untuk kebahagiaan pasangan, why not?

Leave a Reply

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers:

%d bloggers like this: