Refleksi: Pandangan dan Hal2 Lain yg Gw Pelajari Mengenai Seks

Tulisan gw kali ini bukanlah untuk mengendorse atau mempromokan sex bebas ataupun penyalahgunaan aktifitas sex. Yang saya bagikan disini adalah fenomena yg terjadi di masyarakat dan tidak bertujuan untuk memihak siapapun. Segala penyalahgunaan informasi dari artikel ini adalah tanggung jawab pembaca dan pikiran kotor kalian saja.

Gw akan membuka artikel gw dengan 1 fenomena social yang cukup biasa, namun seringkali masyarakat tidak menyadarinya (atau sengaja ditutupi).

“Apapun berita yang ditempilkan di berbagai media, baik berita politik, bencana alam, prestasi seseorang, ataupun berita hiburan lainnya, TIDAK ADA YANG BISA MENANDINGI rating berita SKANDAL antara 2 public figure apalagi berita SKANDAL SEKS.”

 

Bahkan karena berita seperti ini, pengakuan dari salah seorang internal di TV mengatakan kalau suatu waktu, pemerhati traffic internet internasional agak kebingungan karena traffic internet di Indonesia pernah melonjak sangat tinggi sehingga meskipun tidak diberitakan secara terbuka, sempat dalam beberapa hari, beban server internet di Indonesia menjadi sangat tinggi. Dan penyebabnya apa? Pengguna internet di Indonesia, berbondong – bonding mencari video ketiga setelah Ariel – Luna , Ariel – Cut Tari, yang digosipkan sudah beredar waktu itu.

Tapi artikel ini bukan untuk bahas perilaku public figure ataupun memaki – maki perilaku mayoritas pengguna internet di Indonesia yang ternyata bisa membebani server sangat besar karena nyari bokep. Yang ingin gw bahas disini adalah mengenai mengapa kita lebih penasaran akan berita skandal seks dibandingkan berita – berita lainnya, baik yang hanya ingin sekedar tahu saja, sampai yang berjuang ingin mendapatkan videonya.

 

Seks Sebagai Kebutuhan Dasar Manusia

 

Ada sebuah model kebutuhan manusia yang disebut sebagai Maslow Hierarchy of Needs atau Tingkat kebutuhan Maslow. Model yang berbentuk pyramid tersebut meletakkan kebutuhan manusia yang paling mendasar adalah kebutuhan untuk bertahan hidup. Tentu saja yang dimaksud dengan keperluan bertahan hidup adalah makanan, tempat tinggal, pakaian, dan juga berkembang biak melalui seks. Seringkali di public, berbagai pengetahuan yang diajarkan selalu menekankan kebutuhan dasar manusia adalah sandang (pakaian), pangan (makanan), dan papan (tempat tinggal), namun tidak / jarang sekali menyebutkan kebutuhan untuk berkembang biak. Dengan membuat focus pengetahuan akan kebutuhan manusia agar bisa bertahan hidup tersebut hanya sebatas 3 faktor itu, maka kebutuhan akan seks yang sebenarnya sudah ada di pikiran kita, dari waktu ke waktu menjadi di repress atau ditekan dibawah sadar.

Seperti yang sudah kita ketahui, dan sudah dibahas di artikel gw sebelumnya mengenai shadow side (silahkan cari di daftar artikel gw), sesuatu yang di repress di bawah sadar dalam waktu berkepanjangan, pada waktunya akan meledak dan meletup ketika ada pemicunya. Analogi ini akan sangat pas apabila kita kaitkan dengan masyarakat disekitar kita yang berusaha untuk hidup baik dan 100% menuruti aturan norma masyarakat (baca: menahan nafsu seks), namun di balik itu…..mereka mendadak menjadi seorang yang dengan segala cara mencari video skandal yang digosipkan sudah tersebar di internet.

 

Pandangan Spiritualist Secara Umum Mengenai Seks

 

Bagi orang – orang yang secara pikiran sangat terbuka atau open mind, dan apabila mereka dengan rajinnya mencari berbagai literature untuk meng-update berbagai  perkembangan pengetahuan terutama spiritualitas, maka orang2 tersebut akan menemukan bahwa seks adalah kemampuan manusia yang sangat diapresiasi.

Mengapa demikian? Karena seks yang dianggap perpaduan antara maskulin dan feminism, ketika melakukan hubungan, secara simbolis memang menjadi 1 tubuh yang tidak terpisahkan dan menjadi 0 atau tidak terdefinisi. Karena Tuhan dianggap sebagai penyatuan aspek maskulin dan feminism tersebut, maka melakukan hubungan seks merupakan praktek manusia secara simbolis untuk menjadi serupa dengan Tuhan atau ‘mengalami Tuhan’.

Selain itu, bagi yang sangat suka bermeditasi, orgasm saat berhubungan seks merupakan salah satu cara agar pikiran kita berada dalam kondisi hampa / kosong atau istilah lainnya, deep trance. Ketika seseorang mencapai orgasm, disaat itulah orang2 spiritualist percaya bahwa dirinya terhubung dengan Tuhan meskipun hanya sepersekian detik.

Apa manfaatnya dengan ‘terhubung dengan Tuhan’ selama sepersekian detik tersebut? Kalau anda tahu hukum tarik – menarik dimana kita menarik apa yang kita pikirkan (dibawah sadar kita), maka ketika orgasm dan kemudin mengirimkan perintah ke semesta disaat otak lagi ‘kosong’, merupakan cara yang paling efektif dalam meminta sesuatu, apapun jenis permintaannya. Bagaimana bisa pikiran yang kosong mengirimkan permintaan ke semesta? Simplenya, letakkan gambar atau simbol yang merepresentatifkan permintaan tersebut dan mata tertuju kepada itu simbol ketika orgasm. Dengan demikian, pikiran memang terasa tidak berpikir apa2, namun mata dan bawah sadar mengolah dengan sendirinya apa yang kita lihat.

Selain itu, berkaitan dengan medis, karena setelah berhubungan seks, seseorang mendapatkan hormon rasa nyaman, banyak orang spiritualist melihat bahwa kunci kebahagian seseorang adalah dari sekslifenya. Banyak yang melihat dan meneliti dalam skala terbatas bahwa orang yang memiliki kehidupan seks yang baik, dalam kesehariannya cenderung memancarkan aura yang cerah dan menyenangkan. Bahkan orang yang bahagia dalam kehidupan seksnya seringkali tersungging senyuman di bibirnya tanpa disadari orang tersebut. Well, bahkan orang spiritualist meyakini kunci awet muda salah satunya adalah dengan kehidupan seks yang bahagia.

Mungkin bagi masyarakat Indonesia, orgasm sebagai salah satu sarana untuk mencapai pikiran yang ‘kosong’ merupakan pengetahuan yang benar2 baru, namun diluar, baik Timur maupun Barat itu sudah menjadi pengetahuan umum. Bahkan gagasan tersebut, sepengetahuan saya, pertama kali ditonjolkan oleh orang2 Hindu yang kemudian dikembangkan lagi menjadi aliran Tantric Yoga.

 

Sebagai Kebutuhan Dasar, Banyak Institusi Yang Berusaha Mengendalikan Factor Tersebut

 

Bagaimana dengan insitusi? Sebenarnya sudah banyak institusi yang telah berusaha keras untuk mengatur kebutuhan mendasar tersebut. Sebutlah pemerintah dengan berbagai peraturan daerahnya di beberapa daerah yang agak nyentrik, kemudian beberapa daerah yang masih membatasi perilaku seks dengan pasangan resmi saja, dan masih banyak lagi. Namun dari semua itu, yang paling getol dan terang2an berusaha mengendalikan seks adalah institusi agama. Dari berbagai aliran agama, terutama agama2 mainstream memang sudah berusaha mengatur dari berbagai syarat, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan sampai ke konsekuensi2 di ‘alam sana’ apabila melanggar.

Supaya pembaca lebih mengerti, saya perlu menjelaskan kalau di dunia ini ada sangat banyak agama, bahkan sampai ribuan aliran agama. Namun dari semua itu, bisa kebagi menjadi 2 aliran besar (hanya sebagai istilah saja), yaitu aliran maskulin dan aliran feminim. Aliran maskulin disini menunjukkan kepada agama yang benar2 fokus ke 1 Tuhan atau monotheist, memiliki doktrin/ ajaran khusus yang tersentralisasi alias semua penganutnya mengikuti ajaran yang sama. Sementara aliran feminim cenderung fokus ke 1 Tuhan dengan pembantu2nya yang biasa dalam rupa dewa-dewi, roh alam, dsb2nya. Aliran ini seringkali disangka/ dianggap sebagai multitheist alias lebih dari 1 Tuhan meskipun pada esensinya tetap mengakui 1 Tuhan juga. Yang menarik adalah, agama yg feminim cenderung membebaskan umatnya memiliki interpretasi dan pengalaman spiritual yang berbeda – beda. Dengan demikian, karena tingkat pemahaman tiap penganutnya berbeda, otomatis agama yang feminim cenderung menghormati dan menghargai berbagai ajaran yang berkembang. Contoh dari agama maskulin adalah agama2 mainstream seperti Kristen, Katholik, Islam; sementara contoh dari agama feminim adalah Hindu, Buddha, Pagan, Order of Isis, dsb2nya.

Apakah implikasinya? Karena agama maskulin cenderung mengontrol umatnya, maka seks pun juga dikontrol dengan berbagai aturan2 yang ada. Namun seringkali mengontrol seks dalam agama seperti ini sering disalahtafsirkan oleh pemimpin agamanya sebagai alasan untuk mendiskreditkan atau melecehkan wanita. Ini karena wanita secara sempit dianggap sebagai pemicu kebutuhan seksual yang pada akhirnya bisa membuat umat penganut agama maskulin melakukan seks diluar kontrol / diluar keinginan sistem agama tersebut.

Sudah banyak contoh2 peraturan pemerintahan daerah yang nyentrik di Indonesia yang justru sangat membatasi kebebasan wanita, kemudian banyaknya tindakan pemerkosaan, dan pelarangan suatu bentuk hiburan karena terlalu seksi atau semacamnya. Dan sesuai namanya, yaitu agama maskulin, maka mayoritas pemimpinnya haruslah pria yang sekali lagi, berimplikasi kepada kurangnya penghargaan kepada wanita secara umum.

Kemudian, apa implikasinya bagi agama feminim? Karena pada dasarnya agama feminim menghargai keberagaman opini dan pengalaman spiritual, maka wanita dan pria dianggap sejajar dalam konteks kehidupan secara umum. Ini berimplikasi juga kepada pandangan terhadap wanita bukan sebagai pemicu nafsu seks, melainkan sebagai pasangan untuk mencapai kesempurnaan. Memang tetap ada saja orang yang menyalahgunakan anggapan sempit bahwa seks berasal dari wanita, namun setidaknya dalam aliran ini, hal2 seperti itu sudah berada di taraf minimal. Dari agama2 yg maskulin inilah lahir berbagai pandangan bahwa seks adalah salah satu cara untuk manusia secara simbolis menyerupai Tuhan.

Implikasi lainnya secara tidak langsung, karena agama maskulin cenderung mengontrol, dan agama feminim cenderung memberi kebebasan, lucunya, dari berbagai sejarah selalu menunjukkan agama maskulin cenderung selalu ingin berperang dan konflik dengan agama lain, berbeda dengan agama feminim yang notabene sedikit sekali ada konflik skala besar. Apakah ini ada implikasinya dari seks yang dikontrol berdasarkan aturan agama2 tersebut? Tampaknya masih perlu diteliti lebih lanjut lagi antara korelasi dengan seks yang direpres dengan perilaku destruktif seseorang. Hanya saja, memang dari pengalaman pribadi dan orang2 di sekitar gw, sering terjadi orang yang berperilaku destruktif (main kasar, kekerasan fisik, intimidasi, mudah stress, dsb2nya) seringkali berhubungan dengan kehidupan seksualnya yang kurang baik atau belum tersalurkan.

 

Kesimpulan sementara yg gw dapatkan

 

Dari berbagai aspek yang gw pelajari, memang seks merupakan salah satu faktor utama manusia bertahan hidup. Memang bukan berarti tidak berhubungan seks maka orang akan mati, melainkan kebutuhan disini mencakup 2 kebutuhan sekaligus yaitu kebutuhan biologis dan psikis. Meskipun dalam berhubungan tidak harus menghasilkan janin/ anak alias bisa memakai kontrasepsi, namun dampaknya terhadap perilaku, pola pikir, pandangan hidup, berikut stabilitas emosional ternyata sangat significant. Karena peran yg sangat significant inilah, banyak lembaga, apapun itu, mencoba untuk mengaturnya dengan berbagai dalil agar kehidupan manusia yang berada dibawah lembaga itu bisa diatur secara psikis.

Menutup artikel ini, gw akan mengutip dari ucapan seorang pakar magick yg bagi dirinya adalah sebuah ironi di dunia sekarang, “Apabila anda ingin mengatur kehidupan seseorang, maka aturlah kehidupan seksnya.”

Leave a Reply

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers:

%d bloggers like this: