Refleksi : Tidak Ada Satu Bidang Pendidikan/ Karir Yang Lebih Berprospek Ketimbang Yang Lain

Kembali tulisan ini gw ambil dari hasil evaluasi, observasi, dan ringkasan cerita yang gw dapatkan dari curhat klien tarot gw selama ini. Topik kali ini adalah seputar pendidikan terutama pendidikan kuliah, dan sekaligus karir yang mengikutinya. Sekali lagi, artikel ini hanyalah opini pribadi gw yg dibuat dalam bentuk hipotesa saja karena gw sendiri menganalisisnya dari banyak cerita klien.

90% klien yang datang ke gw, baik pengusaha, pekerja kantoran, sampai mahasiswa, tak terkecuali juga istri yg sangat peduli dengan karir suami, selalu menanyakan seputar, “Karir apa yang cocok?” atau “Karir apa yang berprospek kedepannya?”. Dan setiap kali klien bertanya demikian, setiap kali itu juga gw selalu menjawab “Karir yang cocok untuk anda (atau pasangan anda) adalah karir yang dimana dia menikmati/ suka dalam mengerjakannya dan semua karir memiliki prospek yang bagus.”

Mungkin terdengarnya sangat aneh bagi orang – orang yang sudah terbiasa mendengarkan berbagai wejangan dari para pakar feng shui populer yang bisa dengan sangat spesifik menentukan kerjaan yang cocok untuk seseorang ataupun bisa dengan sangat spesifik menentukan karir yang berprospek saat ini. Namun gw dengan sengaja memang mengarahkan jawaban yang sekilas ambigu tersebut bukan tanpa alasan. Jawaban tersebut dilandaskan pada 2 faktor utama yang bagi gw sendiri menjadi sangat penting.

 

Untuk apa karir yang berhasil kalau pelakunya sendiri tidak bahagia?

Mungkin ini terdengar klise dan sangat naif/ polos kalau tidak bisa dibilang sangat/ terlalu idealis. Namun gw yakin kalian sebagai pembaca akan berpikir berkali – kali ke-naif-an gw kalau gw share sedikit cerita2 klien.

Banyak kasus dimana memang klien2 gw, sebut saja si A, cenderung diarahkan oleh masyarakat atau oleh ortu mereka bahwa si A cocok untuk kerja di bidang tertentu dengan segudang alasan yang sangat meyakinkan bahwa si A benar2 bagus disana. Masalah yang sering muncul adalah, si A memang ahli dibidang yang ditunjuk/ disarankan tersebut. Hanya saja si A ternyata kurang menikmati bidang yang menjadi keahlian karena 1 dan lain hal. Uniknya, bidang yang diminati si A seringkali adalah bidang yang dianggap lemah oleh orang2 sekitarnya ataupun orang tuanya sendiri dimasa itu.

Apakah si A berhasil dan sukses di karirnya? Yes, dia memang sukses di karirnya bahkan menduduki suatu jabatan tertinggi disuatu industri. Bagi orang yang melihat posisi si A, mungkin pada iri dan berharap suatu hari bisa menduduki jabatan seperti itu. Tapi apa yang terjadi? Si A curhat ke gw kalo dari awal dy meniti karir sampai sekarang, dia merasa tidak bahagia. Dia hanya menjalankan apa yang ‘diminta’ oleh lingkungan sekelilingnya dan dia menjalankan tersebut dengan berhasil. Masalahnya, semakin dy berada di puncak, semakin dy merasa sangat kosong dan mempertanyakan untuk apa pencapaiannya semua ini kalau hanya sebatas untuk diakui oleh orang lain? Kalau hanya sebatas untuk membuat orang lain memandang dirinya? Dan dia sampai di satu titik dimana si A sampai kelepasan ngomong kalau bagi dia, lebih enak menjalankan apa yang dia suka dari dulu meskipun dengan konsekuensi karirnya tidak secemerlang sekarang. Karena duit banyak dan posisi yang tinggi ternyata justru melahirkan pertemanan yang cenderung opportunis. Bahkan si A ini sempat berpikir untuk keluar dari pekerjaannya dan membuat bisnis yang dia memang suka.

Itu adalah cerita rekapan dari beberapa klien yang melakukan apa yang tidak dia suka namun berhasil. Bagaimana dengan klien2 yang melakukan apa yang tidak mereka suka dan tidak berhasil? Well, bisa ditebak, mereka menemui sikon yang memang jauh lebih buruk daripada si A ini. Bisa dikatakan sudah mereka tidak berhasil (menurut standard mereka masing2), mereka tidak menikmati pekerjaannya dan melakukannya dengan sangat terbebani (dari sinilah lahir I hate Monday dan anggapan hidup itu hanya dinikmati di hari Sabtu dan Minggu), namun di sisi lain, mereka juga tidak berani keluar dari zona nyamannya dengan berbagai alasan seperti sudah menikah dan menjadi tulang punggung keluarga, fisik yang sudah lelah ketika selesai bekerja, usia sudah tua, dsb2nya.

Orang2 seperti ini, pada akhirnya terjebak dalam lingkaran setannya masing2 dan sangat sedikit yang pada akhirnya mau berjuang lepas dari lingkaran setan yang disebut zona nyaman tersebut. Dari sini, jangan heran kalau banyak yang pada akhirnya orang2 seperti ini mengidap penyakit yang aneh2, termasuk penyakit yang dari histori keluarganya pun tidak ada. Karena seperti yang kita ketahui, stress berkepanjangan justru bisa membawa  berbagai penyakit yang tidak terduga bukan?

Dan pertanyaannya adalah, apakah kalian menginginkan hidup seperti itu?

 

Tidak ada yang bisa memprediksikan prospek suatu karir di masa mendatang

Ada 1 kelemahan yang tidak disadari oleh banyak orang. Yaitu, prospek suatu karir atau pendidikan saat ini ditentukan oleh banyaknya permintaan tenaga kerja di bidang yang bersangkutan SAAT INI. Masalahnya adalah, pendidikan bukanlah suatu proses yang instant; melainkan butuh waktu bertahun – tahun. Anggaplah minimal 3 tahun untuk ekonomi dan bisa lebih panjang lagi untuk bidang lain seperti kedokteran misalnya. Sementara itu, waktu 3-4 tahun adalah waktu yang cukup dimana permintaan suatu industri akan berubah. Apabila saat ini permintaan lulusan ekonomi sangat tinggi, dalam 2-3 tahun bisa saja justru jurusan hukum yang lebih tinggi dan selang beberapa tahun lagi justru fakultas design yang permintaannya tinggi. Memilih suatu bidang perkuliahan hanya karena alasan tuntutan industri sudah terbukti merupakan suatu langkah yang sembrono.

Dari berbagai cerita2 klien gw juga, gw mengambil kesimpulan sementara, memang tidak ada 1 karir yang lebih berprospek ketimbang karir yang lain. Sebagai contoh, banyak orang awam yang melihat profesi dokter adalah profesi yang prestisius dan menghasilkan banyak duit. Itu karena masyarakat cenderung menilai dari dokter2 yang mereka datangi ke rumah sakit dan terkesan mereka hidup makmur. Padahal di lapangan, hanya segelintir dokter yang bisa menikmati hidup mewah dan memiliki tempat praktek sendiri. Segelintir dokter yang bisa menikmati kemewahan pun disebabkan banyak faktor seperti misalnya ‘warisan dari orang tua’ karena orang tuanya juga dokter, atau memang si dokternya sendiri juga telah berjuang secara gigih dan konsisten. Masih banyak dokter lain yang belum memiliki tingkat kehidupan yang layak namun bekerja dengan tingkat resiko yang sangat tinggi.

Dan ada juga profesi seperti animator yang di mata publik terkesan diremehkan, namun kenyataannya, banyak tenaga animator Indonesia yang sudah meniti karirnya hingga keluar negeri dan berhasil.  Dari sekian banyak dinamika, gw sendiri melihat keberhasilan seseorang sama sekali bukan ditentukan dengan profesi ataupun karir yang dia pilih berprospek atau tidaknya. Melainkan apakah orang tersebut mau dengan konsisten mengembangkan karirnya dan tidak hanya duduk terpaku mengharapkan rejeki ataupun peningkatan karir dari langit.

Sebelum gw menutup tulisan ini, gw juga akan membagikan rekap cerita klien gw soal pekerjaan dan karirnya. Intinya, mereka yang telah berhasil, selalu dinilai sebagai pribadi yang hebat, berbakat, pasangan ideal, dan menjadi tolok ukur kesuksesan yang akan diterapkan ke anak2 dari para penilai tersebut. Hanya saja masyarakat yang memandang tinggi klien2 gw, mereka ternyata tidak tahu untuk mencapai kesuksesan seperti mereka,… seberapa keras perjuangannya, berapa banyak kesedihan yang mereka alami, berapa kali mereka menghadapi konflik dengan keluarga dan sahabat sendiri, dan worse of all, seberapa malunya mereka saat dipermalukan orang2 ketika mereka belom menjadi siapa2.

Leave a Reply

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers:

%d bloggers like this: