Tag Archive for confession of tarot reader

[CTR] Mengapa ‘Cerita’ Prestasi Karena Kerja Keras itu ‘Tidak Laku’

 

Sesuatu Yang (Sengaja) Dilupakan

Berkaca dari pengalaman saya sendiri sebagai tarot reader, ketika ada klien yang datang untuk meminta konsultasi, 99% beranggapan bahwa kemampuan saya dalam membaca kartu tarot adalah sebuah kelebihan yang saya miliki sejak kecil. Mereka memuji saya dan berharap memiliki kelebihan yang saya miliki.

Hal lucunya adalah, setiap kali saya menceritakan bahwa ini bukanlah ‘kelebihan’ yang saya miliki, melainkan hasil dari saya belajar dan latihan terus – menerus sambil tetap menjalankan profesi saya sebagai tarot reader, klien hanya mengiyakan saja akan pengakuan saya tersebut dan seringkali hanya sebatas tertarik ingin belajar tarot.

Namun rasa tertarik ingin belajar tarot pun hanya sebatas wacana saat itu saja. Dan sebulan kemudian, klien yang sama, datang kembali kepada saya untuk konsultasi lanjutan, pun ternyata ia mengulangi hal yang sama: kemampuan saya membaca kartu tarot adalah sebuah kelebihan yang saya miliki sejak kecil dan berharap memiliki kelebihan tersebut.

Yes, mereka lupa akan ‘cerita pengakuan’ saya tersebut.

Pada awalnya, saya berpikir kalau kejadian ini, mungkin hanya berlaku untuk hal – hal yang sekilas berbau mistis. Namun ternyata saya juga salah kira.

Ada seorang teman saya, sebut saja Chandra namanya, dia merintis bisnis kopi. Dia memulainya dari sebuah kedai kopi kecil – kecilan dan bisnis tersebut gagal. Kemudian dia mencoba berbagai variasi bisnis kopi lainnya, dan juga terus – terusan gagal sampai lebih dari 10 kali. Sampai akhirnya, sekitar percobaan dia yang ke 12, dia baru menemukan sela nya dan sekarang sudah memiliki bisnis kopi instan premium yang dijual di berbagai minimarket.

Ada beberapa klien saya yang mengetahui merek kopi instan premium tersebut dan mengatakan betapa beruntungnya pemilik bisnisnya karena berhasil menjual 1 paket isi 2 sachet kopi instant tersebut seharga 1 porsi kecil makan siang di mall kelas menengah. Sementara perusahaan lokal mapan umumnya paling hanya bisa menjual sekitar Rp 2000 untuk 1 sachetnya.

Karena saya mengetahui owner dari produk yang dimaksud, maka saya menceritakan secara singkat akan perjuangan pemilik bisnis tersebut; tak lupa menekankan bagian ‘gagal belasan kali’.

Dan hal menarik kembali terjadi; seminggu kemudian klien yang sama datang kepada saya, sekedar untuk berbagi cerita saja, dan kembali menyinggung bahwa pemilik bisnis kopi instan premium tersebut sangat beruntung. Beruntung karena berhasil menjual 1 paket isi 2 sachet kopi instan seharga 1 porsi kecil makan siang di mall kelas menengah.

Dan klien tersebut mengaku lupa kalau saya pernah menceritakan kegagalan belasan kali ownernya sampai akhirnya berhasil menemukan sela di bisnis kopi tersebut.

 

Mengapa Bisa ‘Lupa’?

Saya sendiri sempat bingung dengan fenomena sosial ini. Bingungnya karena banyak sekali buku – buku inspiratif dan berbagai seminar motivasi yang sekilas tampak banyak sekali peminatnya. Buku – buku dan seminar tersebut merupakan suatu produk dengan angka penjualan yang sangat tinggi. Minimal kalau menurut data penjualan suatu toko buku besar di Indonesia yang saya ‘intip’, penjualan buku berbau motivasi dan inspirasi itu merupakan buku dengan penjualan tertinggi no-2 di Indonesia.

No-1 nya? Buku resep masakan. Dan no-3 nya lebih ke komik/ manga.

Namun lucunya lagi, orang – orang yang pernah membeli buku motivasi dan inspiratif tersebut, ketika saya tanyakan, mereka mengaku sudah membaca sampai habis isi buku tersebut; namun LUPA akan inti detail pesan yang mau disampaikan.

Dan dari sini pula, saya juga berpikir. Banyak orang yang menginvestasikan sebagian kecil penghasilan mereka untuk buku tersebut, namun investasi mereka tampaknya menjadi sia – sia. Karena mereka membaca buku tersebut hanya untuk memenuhi -ilusi telah belajar-nya saja tanpa mencoba menerapkan berbagai pesan yang ingin disampaikan dari buku tersebut.

Sebaliknya, buku – buku novel ringan (atau sering disebut sebagai chicklit atau teenlit) romantis, malah bisa diingat relatif mendetail dalam soal cerita dan konflik dalam novel tersebut. Ada apa ini?

 

Jawaban Yang Datang Dari Sebuah Film Animasi

Pada awalnya, saya hanya bisa mendapat kesimpulan sementara, ya memang karena masyarakat itu cenderung mengingat hasil akhir dan melupakan prosesnya. Titik. Tidak lebih dari itu.

Namun suatu ketika, saya menonton sebuah film animasi Jepang seputar ‘pertempuran memasak’, dan lucunya, saya mendapat jawaban dari film animasi Jepang yang sekilas hanyalah tontonan ‘sekali nonton’ tersebut.

Jawaban yang saya dapat cukup menarik dan bisa menjadi bahan pemikiran pribadi.

 

Berikut percakapan yang saya kutip dari tontonan animasi tersebut yang saya terjemahkan secara bebas.

 

Ketika ada seseorang yang berbakat, kita cenderung memuja dan mengidolakan orang tersebut. Kita menilainya sebagai sosok yang ‘beruntung’ sementara kita bukanlah orang yang seberuntung dia.

Dengan demikian, kita menjadi memaklumi dan memaafkan diri sendiri, kalau kita tidak akan bisa menjadi seperti idola kita.

Namun orang yang baru masuk ke dunia kompetisi memasak ini, bukanlah orang yang berbakat. Dia menjadi ahli dibidangnya  karena bekerja keras dan gagal berkali – kali. Orang baru ini menjadi sosok yang tidak populer dikalangan kita, meskipun dia cukup berprestasi.

Kenapa bisa begitu?
Karena kita tahu, orang baru ini sama dengan kita. Tidak berbakat sama sekali. Kalau kita sampai mengidolakan orang yang tidak berbakat ini, maka kita harus menerima kalau kita sendiri sebenarnya juga bisa berprestasi melalui kerja keras dan latihan terus – menerus.

Dan kita harus menerima kalau kita belum bekerja sekeras dan berlatih serajin dia.

Sederhananya, kalau disimpulkan, kita semua cenderung dengan sadar, melupakan proses perjuangan seseorang menjadi berprestasi, semata – mata karena kita tidak mau mengoreksi kekurangan diri kita sendiri.

[CTR] Apakah Hal Tersulit Yang Dihadapi Seorang Tarot Reader? (part 2)

Contoh kasus kedua, soal kelahiran anak.
Sebut saja misalnya nama kliennya Wanti, bukan nama sebenarnya, dia merupakan pasangan yang baru saja menikah dan berharap untuk segera punya anak. Uniknya, sudah hampir 6 bulan pun mereka belum memiliki anak dengan segala macam program yang sudah mereka jalani.

Wanti pun konsul ke saya soal kemungkinan dia punya anak. Dan saya menarik 2 kartu, keluarnya waktu itu adalah 10 of Wands dan The Lovers.

Dan waktu itu, dengan antusiasnya karena kartu yang sekilas bagus, saya membacakan kalau mereka sudah melakukan usaha yang cukup signifikan (10 of wands) sehingga bisa diharapkan kalau dalam waktu dekat, mereka akan punya anak hasil dari hubungan cinta mereka (The Lovers). Semuanya terlihat sangat baik bukan?

Pada waktu itu, saya ada keinginan untuk sedapat mungkin menyampaikan kabar baiknya saja dan sangat meminimalisir kabar buruknya. Dan tentu saja bacaan saya yang cukup singkat, padat, jelas DAN MENYENANGKAN tersebut membuat klien menutup sesi konsul dengan hati berbunga – bunga.

Namun sikon hati berbunga – bunga tersebut, tidaklah bertahan lama.

Sekitar 4 bulan kemudian, Wanti kembali kepada saya dan mengeluhkan kalau sampai saat itupun mereka belum dikaruniai anak. Saya kembali melihat arsip konsulnya, dan saya kembali teringat akan sikon waktu itu dimana saya menjadi tidak sangat objektif.

Saat itu, saya ingin klien selalu senang dengan hasil bacaan saya; dengan harapan bahwa klien yang sudah senang, akan kembali lagi ke saya untuk kembali berkonsultasi dengan topik yang baru tentunya. Namun, ketika klien yang sama kembali dengan topik yang sama dan belum ada perkembangan apapun, saya berpikir, ada sesuatu yang salah dengan situasi tersebut, dan saya menemukan, diri sendiri yang tidak objektif waktu itu, juga menjadi faktor dimana mereka belum tahu alasan sebenarnya mereka belum memiliki anak.

Lantas setelah klien tersebut kembali ke saya untuk konsultasi, saya (lagi – lagi) meminta maaf dan mengakui kesalahan saya sendiri yang waktu itu cukup sembrono dalam membacakannya. Interpretasi objektifnya yang seharusnya saya bacakan waktu itu:

Anda berdua yang sama – sama bekerja, setelah menikah, anda hanya melakukan bulan madu 2 hari saja sebagai formalitas dan sisanya anda kembali sibuk dengan pekerjaan anda masing – masing (10 of Wands). Alhasil, karena tekanan psikis yang anda berdua alami akibat pekerjaan, memang mengakibatkan anda secara mental memang belum siap untuk memiliki anak. Kesuburan anda pun sangat dipengaruhi oleh tingkat kestabilan emosi anda.

Saran saya, luangkan waktu anda berdua untuk liburan sekitar seminggu, dan pergi liburan sambil menciptakan kembali masa – masa anda pacaran. Buat perjalanan anda selama liburan menjadi perjalanan yang ‘panas dengan cinta’. Dan ketika anda kembali ke rutinitas masing – masing, tetap jaga tingkat intimasi anda tersebut  (The Lovers).

Hindari juga godaan untuk menjadi sangat workaholic dan tetap komitmen untuk saling mencintai.

Setelah itu, Wanti menutup sesi konsulnya. Dan beberapa bulan kemudian, dia memberitahukan ke saya akan kehamilan anak pertamanya. Saya pun mengucapkan selamat atas kehamilan tersebut.

9 bulan kemudian, dia melahirkan anak pertamanya, memberitahukan ke saya. Dan setelah itu, Wanti tidak lagi menghubungi saya untuk konsultasi.

Mungkin memang dia sudah sibuk dengan aktifitasnya sebagai wanita karir dan ibu rumah tangga, dan saya kehilangan 1 klien yang bisa berulang kali konsul ke saya. Namun, akhirnya dia memiliki seorang anak, yang berarti salah satu masalah utamanya sudah selesai, dan memang dia tidak lagi memerlukan konsultasi saya bukan?

Menurut saya, membantu dalam proses menyelesaikan masalah klien dengan konsekuensi MUNGKIN dia tidak akan datang kembali untuk konsultasi, itu jauh lebih baik ketimbang dengan sengaja menginginkan klien untuk bergantung kepada kita terus – menerus hanya supaya kita, tarot reader, mendapat bayaran.

 

Yang ketiga dan yang terakhir sebagai contoh, saya sendiri pernah juga memiliki klien yang bersiap – siap untuk mengikuti pemilihan kepala daerah atau PILKADA untuk suatu daerah di Indonesia. Sebut saja namanya Wawan. Dia menanyakan kemungkinan dia untuk menjadi kepala daerah di daerah pemilihannya tersebut.

Saya sudah jauh lebih objektif daripada sebelum – sebelumnya, sehingga saya mengatakan kalau anggaplah kesempatannya mengikuti Pilkada tersebut sebagai ajang untuk mencari pengalaman dalam dunia politik. Kemungkinan dia menjadi kepala daerah tersebut memang agak kecil mengingat faktor dia belum berpengalaman, ditambah dengan jaringan politisnya yang waktu itu masih ngepas. Saya juga menyarankan untuk tidak melakukan praktek ‘beli suara’ dengan cara memberi amplop berisi uang ke masyarakat sekitarnya dengan harapan mereka mau memilih Wawan karena kemungkinan besar mereka tidak akan memilihnya.

Tentu saja Wawan tidak menerima bacaan tersebut dan cenderung menekankan kalau dia pasti menang karena koneksi politik dia dirasa cukup kencang. Saya memaklumi dan memahaminya saat itu dan mempersilahkan Wawan untuk mencobanya, dengan catatan tanpa menyogok. Karena itu dari bacaan, pasti akan rugi besar.

4 bulan kemudian, Wawan kembali konsultasi dan mengaku kalau dia rugi sebesar puluhan juta rupiah secara percuma. Dia menyogok masyarakat sekitar dengan membagikan amplop berisi uang tersebut. Wawan sendiri mengaku menjadi sangat panas karena didorong oleh rekannya yang mengaku sangat berpengalaman sebagai konsultan politik, untuk membagikan amplop tersebut agar bisa menang pilkada saat itu.

Ternyata memang rakyat sekitar, tetap menerima uang tersebut TANPA memilih dirinya.

Memang dia kecewa, namun dia cukup mendapat pelajaran berharga disana, dan kembali mencoba berpolitik dengan lebih jujur. Untuk beberapa lama, dia pun menjadi klien rutin saya sampai ketika dia menjadi sangat sibuk dengan bisnis barunya.

 

Masih ada banyak contoh lain yang bisa saya bagikan; namun saya rasa, 3 contoh tersebut sudah bisa mengcover semua yang ingin saya tunjukkan.

Contoh pertama itu, lebih menunjukkan kalau karena nilai – nilai pribadi saya sendiri, saya jadi memaksakan nilai pribadi tersebut ke orang lain meskipun jalur hidup orang lain tersebut, sangat berbeda daripada saya.

Contoh kedua, lebih menekankan saya yang dulu berusaha membuat klien senang dengan saya dengan harapan mereka melakukan repeat order meskipun konsekuensinya, masalah mereka tidak selesai – selesai.

Contoh ketiga, menekankan saya yang sudah berusaha lebih objektif, meskipun bacaannya mungkin terkesan tidak menyenangkan untuk didengar, ternyata tidak menjadi faktor utama dalam menentukan klien dalam melakukan repeat order. Bisa saja ketika bacaannya terkesan tidak menyenangkan namun objektif, klien akan mengerti dan justru meminta kita membacakan kembali setelah ada perkembangan lebih lanjut.

 

Kalau saya rekap, selama lebih dari 10 tahun ini, justru saya merasakan, hal tersulit yang dialami oleh Tarot Reader dalam menangani klien itu, justru…

Menjaga ego kita sendiri agar klien dapat memperoleh berbagai alternatif langkah hidupnya secara objektif.

Sounds cheesy, right?

Cuma kenyataannya dilapangan, hal ini menjadi benar – benar sangat penting. Bahkan bisa menentukan, apakah klien mu (dengan bantuan masukan dari Tarot Reader), dapat menemukan berbagai jalur alternatif hidupnya, atau justru ia akan semakin terperosok kedalam masalahnya hanya karena ego pribadimu.

Ego disini yang saya maksudkan adalah nilai – nilai yang kita anut secara pribadi termasuk berbagai prinsip yang kita pegang dan juga hal – hal yang menurut kita pribadi itu wajar untuk dilakukan; termasuk juga hal – hal yang menjadi norma masyarakat umumnya. Bahkan nilai yang kita dapatkan dari iman, ataupun nilai agama yang kita pegang pun, itu termasuk dalam ego kita pribadi juga.

Dan apakah itu dapat mempengaruhi repeat order atau klien yang kembali datang melakukan konsultasi tersebut? Sejauh pengalaman saya, obejktifitas, tidak menjadi faktor penting dalam repeat order. Melainkan empati lah yang bisa menjadi faktor utamanya.

Sisi memahami dan menerima, tanpa menjudge (atau memaksakan nilai pribadi yang kita pegang ke mereka) dan mau mendengarkan klien, saya rasa justru menjadi faktor terpenting dalam repeat order.

 

(selesai)

[CTR] Apakah Hal Tersulit Yang Dihadapi Seorang Tarot Reader? (part 1)

Ada beberapa teman yang baru mulai belajar tarot, bertanya kepada saya,

“Apakah hal tersulit yang dihadapi oleh seorang tarot reader yang sudah berpengalaman seperti kamu?”.

Well…, mungkin kalau dulu banget, saya akan bilang kalo hal tersulit yang dihadapi oleh seorang tarot reader, adalah masalah – masalah yang pelik, yang rumit, dan semacamnya. Katakanlah misalnya kalau klien bertanya seputar karirnya di ekonomi, politik, atau soal bisnis – bisnisnya. Dan ketika saya menjawab itu pada waktu lampau, saya menjawab dengan terbesit rasa bangga terhadap diri sendiri alias setengah pamer karena (bermaksud) menunjukkan, “Gue uda handle klien politisi looooh! Gue uda menangani klien pengusaha gede looohh! Loe belom kan? “
Itu pas di awal – awal banget, sekitar 3-4 tahun lalu lah.

Namun ketika saya sudah berkecimpung didunia tarot yang sudah lebih dari 10 tahun ini, dan disaat yang sama, ada klien yang menanyakan hal yang sama…, pertanyaan yang seringkali saya pelintirkan menjadi ajang pamer prestasi tersebut, justru memiliki jawaban yang jauh berbeda dibandingkan sebelumnya.
Ketika saya melihat kebelakang dan bercermin dengan berbagai keputusan yang saya ambil sebagai Tarot Reader, justru saya merasa ada hal – hal, yang dengan tingkat kedewasaan saya yang sekarang, justru jangan diambil. Karena itu bisa berbalik merugikan orang lain. Menjaga ‘ITU’ agar klien berbalik tidak ‘dirugikan’, ternyata sangat sulit.

Apakah ‘hal ITU’ tersebut?

Well…, akan saya ceritakan dulu soal beberapa pengalaman praktis saya sebelumnya sebagai Tarot Reader agar lebih jelas…

Yang pertama, sekitar tahun ke -3 karir saya didunia tarot, saya termasuk reader yang masi melihat kalau perceraian itu adalah hal yang sedapat mungkin dihindari. Jadi apapun masalah klien, perceraian itu pokoknya bener – bener opsi terakhir deh. Kalo bisa, jangan disinggung lah.

Nah, suatu hari, sebutlah nama kliennya si Juli, bukan nama sesungguhnya, itu konsul ke saya soal sikon rumah tangganya yang memang sangat jauh lah dari ideal. Suaminya selingkuh, dan adakalanya suka melakukan kekerasan fisik ke Juli.

Dan ketika dia konsul ke saya, 3 kartu yang keluar adalah 9 of swords , Death dan ace of cups.

 

 

Interpretasi singkatnya yang seharusnya saya bacakan saat itu:

Juli sudah sampai di tahap dimana dia benar – benar sudah menderita lahir batin (9 of swords), sehingga memang sudah waktunya untuk menyelesaikan relasi yang sekarang (Death), dan memulai relasi baru dengan orang yang baru sesudahnya (ace of cups).

Basically sih, intinya dia disarankan divorce alias cerai.

Cuma karena waktu itu, saya masih termasuk ke orang yang sangat anti divorce, maka saya memodifikasi interpretasinya seperti ini:

Situasinya sudah sangat buruk (9 of swords) sehingga kalau dibiarkan terus, maka hubungan ini bisa tidak bertahan lama (Death), sehingga perlu adanya penyegaran relasi untuk menjaga harmonisnya hubungan (ace of cups).

Oleh karena itu, saya sarankan untuk coba berikan service terbaikmu ke suami. Entah dengan cara memijat dia, melayani dia dgn menyajikan teh misalnya disaat dia pulang kerja, bawa ke saat – saat masih pacaran. Setelah beberapa minggu, silahkan mulai diskusi baik – baik soal hubungan kalian agar bisa dipertahankan.

Dan hasilnya? Klien saya mencoba untuk menjalankan hal tersebut dan semakin lah dia mendapat siksaan fisik bertubi – tubi, ditambah anaknya yang mulai melihat ibunya disiksa tersebut serta semakin dia menambah trauma psikis yang sudah ada (anggap seperti makna di kartu 9 of swords yang semakin parah). Ternyata memang untuk suami si Juli ini, ketika dia semakin melayani dengan baik, justru semakin menjadi sasaran siksaan.

Dan dia konsul ke saya untuk kedua kalinya.

Dan saat itu, saya meminta maaf atas kesalahan saya yang tidak objektif dalam membaca; ketika saya kembali membaca tarotnya pun, tetap intinya sama. DIVORCE supaya hidupnya lebih baik termasuk untuk anaknya juga. Dia memaafkan, namun tetaplah bagi saya, dampak menambah trauma psikis karena ‘peran saya’ menjadi pikiran saya tersendiri waktu itu.

Singkat cerita, setelah cerai, dia justru menjadi single mother dengan anak yang sangat bahagia hidupnya. Banyak pria yang mau sama dia, dan mantan suaminya pun sampai meminta balik dengan dirinya.

Tentu saja dia sudah kapok dengan perilaku mantan suaminya sehingga dia lebih memilih untuk bahagia sebagai single mother. Dan kalau masi memungkinkan, baru dia akan mencari orang baru.

 

(bersambung)

[CTR] Berbagai Mitos Kehidupan Manusia Dan Realitanya Part 1

Tulisan kali ini terinspirasi dari berbagai klien saya yang dari sisi finansial maupun sisi kehidupan secara umum sudah cukup berhasil untuk ukuran orang awam kebanyakan. Saya menekankan untuk ‘ukuran orang awam kebanyakan’ karena dari sisi pribadi si kliennya sendiri masih memiliki berbagai goal hidup yang masih ingin dia capai, namun di mata orang awam, orang yang sama sudah tidak perlu ngapa – ngapain lagi alias tinggal leha – leha. Suatu ironi bukan?

Sekali lagi, tulisan ini juga bukanlah tulisan motivasi, namun sengaja saya tulis untuk mematahkan berbagai anggapan semu dalam formula sukses kehidupan. Oleh karena itu, kesannya saya akan membahas hal yang terkesan random, namun seperti yang saya tuliskan di judul, itulah benang merahnya. Dan tulisan ini akan saya bagi menjadi beberapa bagian yang akan saya update secara rutin.

Well…, tidak perlu berlama – lama, inilah berbagai mitos kehidupan manusia.

Menjadi PNS adalah suatu pekerjaan dengan jenjang karir jaminan yang sangat bagus

Banyak klien saya juga yang menjadi PNS dan memang mendapat jaminan yang cukup menarik. Mulai dari berbagai tunjangan maupun berbagai manfaat pensiun. Lucunya klien saya yang sama juga mengatakan, itu semua tergantung dari dimana anda ditempatkan dan hingga saat tulisan ini saya masukkan ke web saya, penempatan setiap karyawan, 70% masih sangat random atau terkesan acak. Sisanya ya memang sudah ada path karirnya karena sebelumnya memang mengikuti pendidikan yang ditujukan untuk bekerja di departemen tertentu di institusi pemerintahan.

Bagi yang ditempatkan di departemen yang cukup strategis, maka PNS tersebut memang menikmati pekerjaan yang bagus dengan jaminan yang menggiurkan. Hanya saja, apabila PNS tersebut ditempatkan di departemen yang kurang strategis, yang dimana itu terjadi dalam 70% kasus, ya alhasil sebagian besar mindsetnya akan ter-rekondisi menjadi makan gaji namun kerjaan minim.

Apakah itu baik untuk anda? Saya serahkan sepenuhnya kepada motivasi asli anda dalam melamar menjadi PNS, karena saya sudah berkali – kali menemukan kasus seorang PNS kembali melamar kerja di suatu job fair, dimana mereka mau bekerja di tempat lain BERSAMAAN dengan tetap bekerja di institusi negara yang ditempati saat ini. Kok bisa seperti itu? Ternyata banyak kasus dimana PNS tinggal ceklok absend, kemudian keluar jalan – jalan, sehingga pelamar kerja itu merasa ia bisa mengisi waktu dengan bekerja ditempat lain sambil menambah rejeki. Oh, dan yang melamar seperti itu sebagian besar adalah orang paruh baya.

So, mungkin jaminannya tetap menggiurkan apabila menjadi PNS, namun jenjang karir…, sekali lagi jenjang karir, masih dipertanyakan yah.

Pengusaha itu bisa sukses karena bakat bisnisnya.

Well…, sudah banyak artikel dan tulisan berbau motivasi kalau suatu bisnis bisa dicapai dengan kerja keras dan insting bisnis yang bagus. Namun lucunya, para penikmat motivasi bisnis itu secara psikis selalu mengesampingkan suatu fakta kalau pebisnis juga sering menemukan banyak kegagalan bisnis atau bankrut sebelum menemukan bisnis yang berhasil. Dan bentuk denial atas fakta tersebut tercermin dalam anggapan bahwa pengusaha itu sukses karena bakat dan bisa menemukan pasar yang bagus.

Well…, ga usa jauh – jauh dengan contoh Mc Donald ataupun pendiri KFC. Bahkan di Indonesia pun, kasus bisnis yang belum berhasil dan berganti – ganti haluan, juga sering dialami oleh pengusaha Indonesia. Nah, kalau di lingkungan sekitar saya sendiri, itu dialami oleh teman saya seperti:

  • Bapak Habibie Ade yang sekarang berhasil dengan GPS Super Springnya (kalau anda sering membaca berita pencurian kendaraan bermotor bisa ditemukan polisi berkat bantuan GPS, itu dari GPS Super Springnya bapak Habibie). Untuk menemukan GPS, dia perlu gagal 2x dalam bisnis.
  • Chandra Liang dengan kopi instant premiumnya bermerk Esprecielo. Yang sekarang sudah ada di Indomaret, Family Mart, Circle K, Ace Hardware, dan beberapa minimarket lainnya dan bisa juga dipesan online. Untuk anda ketahui, ia harus gagal 9x dulu sebelum menemukan Esprecielo.

Sementara itu, bagaimana pola pikir karyawan yang ingin memulai usaha? Sebagian besar kasus malah menunjukkan, mereka menginginkan ada usaha yang menurut mereka pasti menghasilkan, dengan tujuan ada pasive income yang menarik dikala bisnisnya sudah jalan, dan yang lebih mencengangkan lagi, mereka menginginkan bisnis itu dijamin pasti berhasil (baca: kemungkinan gagal kecil).

Untuk wanita: ingin mendapat pasangan ‘ideal dan berpengaruh’? Carilah seorang polisi, tentara, hakim, dokter, ataupun profesi lain yang punya kekuatan besar.

Saya juga sering mendapatkan klien seorang wanita yang menggebet pria yang memiliki profesi diatas. Dan ini sering terjadi terutama wanita yang bukan dari ras Chinese / Tiongkok dan terutama justru yang menganut agama mayoritas di Indonesia.

Tanpa bermaksud SARA, yang perlu para pembaca ketahui adalah, pria yang memiliki profesi ‘berpengaruh’ diatas juga sadar akan keunggulannya dibandingkan pria – pria lainnya dari sisi karir. Alhasil, pria tersebut juga akan sangat ‘menjual mahal’ kepada wanita – wanita yang mengejarnya. Oleh karena itu, image si pria memiliki pasangan di setiap kota atau memiliki lebih dari 1 pasangan, menjadi pemandangan yang sangat wajar bagi mereka yang memiliki profesi berpengaruh tersebut.

Dengan demikian, untuk para wanita, yang ingin saya tekankan adalah, apabila anda mengejar seseorang yang berpengaruh dan memiliki power dalam profesinya, maka anda juga harus siap dengan konsekuensi anda memiliki sangat banyak saingan dan kompetisinya akan sangat messy, twisted, berantakan, sinting, psycho, dan segala kemungkinan buruk lainnya. Well…, high risk high return bukan?

Untuk pria: wanita dengan karir lebih tinggi dari anda = tidak layak dijadikan pasangan?

Sementara untuk para pria, banyak kasus dimana para pria begitu mengetahui orang yang dia gebet memiliki posisi karir yang lebih tinggi dibandingkan dirinya, justru malah menjadi minder dan mundur perlahan – lahan. Lucunya, dari sisi wanitanya yang notabene juga menjadi klien saya juga, seringkali mengungkapkan mereka sama sekali tidak mempermasalahkan karir si prianya.

Banyak kasus dari klien saya seorang wanita karir, ternyata sebagian besar dari mereka lebih menekankan pria yang bekerja jujur dan berusaha semampunya tanpa memandang posisi mereka. Dan cukup kontrast dengan pandangan umumnya, wanita karir tinggi bisa mengatur diri sendiri yang justru menepis image ‘high maintenance’ yang disematkan oleh para pria minder tersebut. Justru dari yang saya lihat, wanita high maintenance berlaku kepada wanita sosialita yang notabene memang tidak bekerja sama sekali. Sementara wanita berkarir tinggi justru banyak yang tidak masalah apabila mereka makan di warteg atau di pinggir jalan lainnya.

Yang membedakan dibandingkan wanita umumnya, wanita berkarir justru lebih tegas, bisa membuat keputusan dan cukup jarang bergosip serta bisa membagi waktu antara sosialisasi dengan pekerjaan. Suatu kriteria wanita yang sebenarnya cukup ideal untuk dijadikan pasangan, namun seringkali dilewatkan karena -image palsu high maintenance- tersebut.

[CTR] Belajar Bersama Klien

Tulisan ini terinspirasi dari event Tarot Challenge di Mall of Indonesia yang diselenggarakan pada 25 Mei 2014 yang lalu. Ketika itu, saya hanya masuk 8 besar dari sebuah kompetisi tarot tingkat nasional dan disaat tahap 3 besar, kami semua bisa menyaksikan berbagai pertanyaan yang ditanyakan oleh para juri.

Dari pertanyaan tersebut, ada 1 pertanyaan yang cukup unik yang diajukan ke 3 besar kontestan…

 

“Misalnya, dirimu sudah menikah. Kemudian rumah tanggamu juga berada di ambang kehancuran karena 1 dan lain hal. Dan hari ini, ketika dirimu sebagai tarot reader sedang mengkonsultasikan klien dan ternyata klien juga mengalami masalah yang sama saat ini. Apa yang akan kamu lakukan?”

 

Saya sendiri sering berada di situasi yang mirip seperti itu. Meskipun saat artikel ini ditulis, saya masih single, hanya saja setiap kali saya mengalami masalah hidup dalam bidang apapun seperti pekerjaan, keuangan, percintaan, orang tua, dan lain sebagainya, apabila masalahnya cukup pelik, lucunya selalu dibarengi dengan adanya klien yang memiliki situasi masalah yang sama dan bertanya kepada saya solusinya seperti apa.

Dan dari situ, saya mulai bercermin. Ketika diri saya yang dulu menghadapi hal seperti itu, ya saya dipastikan hanya akan membaca tarot, memberikan gambaran situasi yang ada dan berikut solusinya and that’s it. Namun saat ini, saya melihat ada suatu hal yang unik dari pole kejadian seperti itu. Well…, thanks ke Paulo Coelho yang sudah menulis buku The Alchemist dan Witch of Portobelo; karena saya terinspirasi juga dari sana.

Sebuah Becandaan Yang Rese

Saya juga teringat dengan perilaku klien – klien dan teman – teman saya, dimana ketika seseorang sedang dilanda masalah, tentunya hal pertama yang disaranin adalah selalu berdoa meminta petunjuk-Nya. Wah, kalo bagian ini sih, karena berdoa adalah hal yang sangat mudah, kebanyakan orang memang pasti akan melakukannya dengan senang hati.

Jadilah ketika seseorang terkena masalah, dia memanjatkan doa dan minta orang lain disekitarnya juga untuk membantu doanya agar yang Atas, Tuhan, Semesta, Allah, apapun sebutannya membereskan masalah tersebut. Hanya saja, seperti yang kita ketahui bersama, Tuhan sangat jarang sekali membereskan masalah kita. Yang ada palingan Tuhan ngasi tanda atau mengarahkan kita bagaimana caranya menyelesaikan masalah kita.

Dan dalam kasus ini, diri saya sebagai tarot reader, ketika mendapat masalah ya pola nya adalah saya selalu didatangi klien yang juga mengalami masalah yang sama. Dan dalam hati saya selalu bilang, “Wah, yang Atas becanda neh!”. Dan yes, yang Atas suka becanda dan becandanya mayan lebay bahkan sampe menjurus ke becandaan yang rese.

Tarot Reader Yang Belajar Bersama Klien

Dan ketika seorang tarot reader berada disituasi seperti itu, bagaimana sikap seorang tarot reader? Tarot reader umumnya, akan melakukan hal yang sama seperti yang saya lakukan di atas. Bacain, ngasi solusi, and that’s it. Kenapa demikian? Ada semacam tuntutan dalam diri kalau seorang tarot reader harus terlihat ‘lebih baik’ daripada klien atau terlihat ‘lebih hebat’ daripada klien tersebut. Para tarot reader banyak yang beralasan karena kita ini dibayar klien secara professional, maka kita harus memasang ‘pola pikir kita tahu segalanya’.

Hanya saja, terinspirasi dari buku Paulo Coelho diatas, saya melihat itu justru cara Tuhan memberi arahan kepada diri saya dan orang lain mengenai bagaimana mencari solusi yang baik. Kok bisa begitu?

Simplenya adalah ketika klien datang ke kita dengan masalah yang sangat mirip, kita berusaha mencari solusi dan akar masalah dengan saran kartu tarot seobjektif mungkin. Selanjutnya kita pasti akan berdiskusi dengan klien, mendengarkan curhatan klien, dan kita terus bertukar pikiran dengan klien akan berbagai solusi yang ada dan solusi seperti apa yang akan dilakukan oleh klien.  Kita fokus ke klien sampai si klien mengucapkan terima kasih dan membayar kita dan berkata “Sampai ketemu lagi”.

Bedanya adalah, setelah konsultasi tersebut, anda mencari buku catatan, mencatat gambaran situasi klien, dan berikut berbagai tebaran yang keluar dan hasil pembacaan anda tadi. Setelah selesai menulis semua yang diingat, bercerminlah dengan situasi diri sendiri. Bagian mana saja yang mirip dan solusi apa yang anda sarankan ke klien tadi.

And the tricky part is…

 

Solusi yang anda berikan ke klien, anda juga harus melakukannya ke diri sendiri.

 

 

Ya karena seperti yang tertulis di buku Witch of Portobelo, ketika kita menjadi seorang guru, sebenarnya kita bukan menjadi sosok yang diatas muridnya. Kita justru mengajarkan ke murid apa yang tidak kita ketahui dan dengan demikian kita juga belajar bersama sang murid. Dan ketika si murid sudah mendapatkan berbagai ilmu baru, begitu juga sang guru mendapat ilmunya sendiri dari proses mengajar sang murid.

Dan terinspirasi dari The Alchemist, kalau Tuhan memberikan jawabannya dari berbagai tanda alam, maka mungkin…mungkin loh yah, ini adalah cara Tuhan/ Semesta/ Allah, apapun namanya, dalam mendidik kita untuk menyelesaikan masalah diri kita sendiri.

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers:

%d bloggers like this: