Tag Archive for ctr

[CTR] Mengapa ‘Cerita’ Prestasi Karena Kerja Keras itu ‘Tidak Laku’

 

Sesuatu Yang (Sengaja) Dilupakan

Berkaca dari pengalaman saya sendiri sebagai tarot reader, ketika ada klien yang datang untuk meminta konsultasi, 99% beranggapan bahwa kemampuan saya dalam membaca kartu tarot adalah sebuah kelebihan yang saya miliki sejak kecil. Mereka memuji saya dan berharap memiliki kelebihan yang saya miliki.

Hal lucunya adalah, setiap kali saya menceritakan bahwa ini bukanlah ‘kelebihan’ yang saya miliki, melainkan hasil dari saya belajar dan latihan terus – menerus sambil tetap menjalankan profesi saya sebagai tarot reader, klien hanya mengiyakan saja akan pengakuan saya tersebut dan seringkali hanya sebatas tertarik ingin belajar tarot.

Namun rasa tertarik ingin belajar tarot pun hanya sebatas wacana saat itu saja. Dan sebulan kemudian, klien yang sama, datang kembali kepada saya untuk konsultasi lanjutan, pun ternyata ia mengulangi hal yang sama: kemampuan saya membaca kartu tarot adalah sebuah kelebihan yang saya miliki sejak kecil dan berharap memiliki kelebihan tersebut.

Yes, mereka lupa akan ‘cerita pengakuan’ saya tersebut.

Pada awalnya, saya berpikir kalau kejadian ini, mungkin hanya berlaku untuk hal – hal yang sekilas berbau mistis. Namun ternyata saya juga salah kira.

Ada seorang teman saya, sebut saja Chandra namanya, dia merintis bisnis kopi. Dia memulainya dari sebuah kedai kopi kecil – kecilan dan bisnis tersebut gagal. Kemudian dia mencoba berbagai variasi bisnis kopi lainnya, dan juga terus – terusan gagal sampai lebih dari 10 kali. Sampai akhirnya, sekitar percobaan dia yang ke 12, dia baru menemukan sela nya dan sekarang sudah memiliki bisnis kopi instan premium yang dijual di berbagai minimarket.

Ada beberapa klien saya yang mengetahui merek kopi instan premium tersebut dan mengatakan betapa beruntungnya pemilik bisnisnya karena berhasil menjual 1 paket isi 2 sachet kopi instant tersebut seharga 1 porsi kecil makan siang di mall kelas menengah. Sementara perusahaan lokal mapan umumnya paling hanya bisa menjual sekitar Rp 2000 untuk 1 sachetnya.

Karena saya mengetahui owner dari produk yang dimaksud, maka saya menceritakan secara singkat akan perjuangan pemilik bisnis tersebut; tak lupa menekankan bagian ‘gagal belasan kali’.

Dan hal menarik kembali terjadi; seminggu kemudian klien yang sama datang kepada saya, sekedar untuk berbagi cerita saja, dan kembali menyinggung bahwa pemilik bisnis kopi instan premium tersebut sangat beruntung. Beruntung karena berhasil menjual 1 paket isi 2 sachet kopi instan seharga 1 porsi kecil makan siang di mall kelas menengah.

Dan klien tersebut mengaku lupa kalau saya pernah menceritakan kegagalan belasan kali ownernya sampai akhirnya berhasil menemukan sela di bisnis kopi tersebut.

 

Mengapa Bisa ‘Lupa’?

Saya sendiri sempat bingung dengan fenomena sosial ini. Bingungnya karena banyak sekali buku – buku inspiratif dan berbagai seminar motivasi yang sekilas tampak banyak sekali peminatnya. Buku – buku dan seminar tersebut merupakan suatu produk dengan angka penjualan yang sangat tinggi. Minimal kalau menurut data penjualan suatu toko buku besar di Indonesia yang saya ‘intip’, penjualan buku berbau motivasi dan inspirasi itu merupakan buku dengan penjualan tertinggi no-2 di Indonesia.

No-1 nya? Buku resep masakan. Dan no-3 nya lebih ke komik/ manga.

Namun lucunya lagi, orang – orang yang pernah membeli buku motivasi dan inspiratif tersebut, ketika saya tanyakan, mereka mengaku sudah membaca sampai habis isi buku tersebut; namun LUPA akan inti detail pesan yang mau disampaikan.

Dan dari sini pula, saya juga berpikir. Banyak orang yang menginvestasikan sebagian kecil penghasilan mereka untuk buku tersebut, namun investasi mereka tampaknya menjadi sia – sia. Karena mereka membaca buku tersebut hanya untuk memenuhi -ilusi telah belajar-nya saja tanpa mencoba menerapkan berbagai pesan yang ingin disampaikan dari buku tersebut.

Sebaliknya, buku – buku novel ringan (atau sering disebut sebagai chicklit atau teenlit) romantis, malah bisa diingat relatif mendetail dalam soal cerita dan konflik dalam novel tersebut. Ada apa ini?

 

Jawaban Yang Datang Dari Sebuah Film Animasi

Pada awalnya, saya hanya bisa mendapat kesimpulan sementara, ya memang karena masyarakat itu cenderung mengingat hasil akhir dan melupakan prosesnya. Titik. Tidak lebih dari itu.

Namun suatu ketika, saya menonton sebuah film animasi Jepang seputar ‘pertempuran memasak’, dan lucunya, saya mendapat jawaban dari film animasi Jepang yang sekilas hanyalah tontonan ‘sekali nonton’ tersebut.

Jawaban yang saya dapat cukup menarik dan bisa menjadi bahan pemikiran pribadi.

 

Berikut percakapan yang saya kutip dari tontonan animasi tersebut yang saya terjemahkan secara bebas.

 

Ketika ada seseorang yang berbakat, kita cenderung memuja dan mengidolakan orang tersebut. Kita menilainya sebagai sosok yang ‘beruntung’ sementara kita bukanlah orang yang seberuntung dia.

Dengan demikian, kita menjadi memaklumi dan memaafkan diri sendiri, kalau kita tidak akan bisa menjadi seperti idola kita.

Namun orang yang baru masuk ke dunia kompetisi memasak ini, bukanlah orang yang berbakat. Dia menjadi ahli dibidangnya  karena bekerja keras dan gagal berkali – kali. Orang baru ini menjadi sosok yang tidak populer dikalangan kita, meskipun dia cukup berprestasi.

Kenapa bisa begitu?
Karena kita tahu, orang baru ini sama dengan kita. Tidak berbakat sama sekali. Kalau kita sampai mengidolakan orang yang tidak berbakat ini, maka kita harus menerima kalau kita sendiri sebenarnya juga bisa berprestasi melalui kerja keras dan latihan terus – menerus.

Dan kita harus menerima kalau kita belum bekerja sekeras dan berlatih serajin dia.

Sederhananya, kalau disimpulkan, kita semua cenderung dengan sadar, melupakan proses perjuangan seseorang menjadi berprestasi, semata – mata karena kita tidak mau mengoreksi kekurangan diri kita sendiri.

[CTR] Kenapa Banyak Pengusaha Yang ‘Ketus’ Gaya Bicaranya?

Saya teringat akan suatu acara workshop seputar dunia usaha, dimana pembicaranya adalah seorang pengusaha yang bisa dikatakan sudah berhasil menjalankan usahanya. Dalam suatu sesi tanya jawab, ada seorang penanya yang sejauh ingatan saya, pertanyaannya seperti ini…

“Namanya Ani, pak.” (bukan nama sebenarnya karena saya juga sudah lupa namanya)

 

“Gini…, saya saat ini sudah punya usaha dagang aksesoris gadget, pak. Awal usaha sih, respon minat pembeli bagus banget. Cuma belakangan ini, pedagang lain banyak yang berani banting harga jauh lebih rendah daripada dagangan saya. Padahal saya ambil barang juga dengan harga pemasok kok. Alhasil penjualan dagangan saya turun drastis karena tidak mampu bersaing. Apakah ada solusinya?”

Nah, si nara sumber workshop ini menjawab…

“Ya evaluasi ulang semua alur daganganmu. Apakah memang anda mengambil untungnya terlalu banyak, ataukah bisa saja anda mendapat harga dari pemasok yang sebenarnya lebih mahal dari harga pemasok lainnya? Ya kalau ternyata harga dari pemasok sudah terlalu mahal ya dirimu cari lagi pemasok lain yang bisa memberi harga lebih murah.”

“Kalau misalnya tidak ketemu pak? Carinya gimana yah?”
“Ya cari sendiri, usaha sendiri. Kalau tidak bisa ya maaf – maaf saja, berarti anda tidak bakat menjadi pengusaha. Bukannya kenapa – kenapa, tapi kalau begitu saja tidak bisa, saya rasa anda kembali bekerja kantoran pun lebih menjamin ketimbang anda dagang seperti sekarang ini.”

Dan seketika itu juga, peserta workshop banyak yang terdiam dan menjadi segan untuk bertanya.

 

Seperti itulah cerita singkat yang pernah saya alami; namun banyak juga para pengusaha yang menjadi klien saya, gaya bicaranya memang gaya biacara yang apa adanya, terang – terangan sehingga terkesan ketus dan kasar.

Pertanyaannya, kenapa bisa sampai seperti itu?

Dan dari klien – klien saya yang seorang pengusaha, ternyata mereka menjadi seperti itu karena mentalnya yang terbentuk dari perjuangan mereka ketika mereka berusaha menjalankan usahanya dari 0.

Persisnya kalau saya rangkum…

  1. Ketika mereka sedang berusaha dari 0, banyak yang mengaku dijauhi teman dan bahkan oleh keluarganya sendiri karena dianggap keputusan yang cukup gila.
  2. Selama proses berkembangnya usahanya itu, hidup mereka terbilang cukup sulit. Semua serba berhemat dan hidupnya pun sangat tidak nyaman. Tapi usahanya tetap dijalankan.
  3. Akhirnya, setelah proses perjuangan yang sulit, mereka bisa mengembangkan usahanya dan mulai ada tanda – tanda peningkatan.
  4. Nah, ketika usahanya mulai meningkat, orang – orang yang dulunya adalah teman, termasuk saudara, justru kembali mendekat.
  5. Mereka yang semula mencaci dan menghakimi, justru berbalik memuji kepandaian dan kelihaian si pengusaha ini.
  6. Dari sinilah, si pengusaha mulai kesal dengan teman atau saudaranya itu. Yang semula meninggalkan dia kini berbalik ‘menjilat’ dia.
  7. Dan untuk -menutupi ketidakmampuan- teman dan saudara yang kembali memuji si pengusaha itu, mereka berkesimpulan bahwa si pengusaha sukses karena BERUNTUNG.

Dari melewati proses seperti itulah, si pengusaha banyak yang sikapnya berubah dari yang semula cukup rendah hati, menjadi terkesan sombong, angkuh, bahkan menjadi ketus. Dan hal itu menjadi semacam byproduct atau resiko dari mental seorang pengusaha yang tertempa di tengah situasi lingkungan sekitarnya yang penuh kepalsuan dan kurang menghargai kerja keras.

Pada akhirnya, kita mudah sekali menilai negatif seseorang dari perilaku luar seseorang saja. Namun ketika kita mengetahui detail proses kenapa seseorang bisa sampai seperti itu, saya rasa, yang akan muncul hanyalah rasa simpati. Sebuah rasa dimana kita memang belum tentu setuju dengan keputusannya, namun kita menghormati dan memahami keputusan yang diambil tersebut.

[CTR] Berbagai Mitos Kehidupan Manusia Dan Realitanya Part 1

Tulisan kali ini terinspirasi dari berbagai klien saya yang dari sisi finansial maupun sisi kehidupan secara umum sudah cukup berhasil untuk ukuran orang awam kebanyakan. Saya menekankan untuk ‘ukuran orang awam kebanyakan’ karena dari sisi pribadi si kliennya sendiri masih memiliki berbagai goal hidup yang masih ingin dia capai, namun di mata orang awam, orang yang sama sudah tidak perlu ngapa – ngapain lagi alias tinggal leha – leha. Suatu ironi bukan?

Sekali lagi, tulisan ini juga bukanlah tulisan motivasi, namun sengaja saya tulis untuk mematahkan berbagai anggapan semu dalam formula sukses kehidupan. Oleh karena itu, kesannya saya akan membahas hal yang terkesan random, namun seperti yang saya tuliskan di judul, itulah benang merahnya. Dan tulisan ini akan saya bagi menjadi beberapa bagian yang akan saya update secara rutin.

Well…, tidak perlu berlama – lama, inilah berbagai mitos kehidupan manusia.

Menjadi PNS adalah suatu pekerjaan dengan jenjang karir jaminan yang sangat bagus

Banyak klien saya juga yang menjadi PNS dan memang mendapat jaminan yang cukup menarik. Mulai dari berbagai tunjangan maupun berbagai manfaat pensiun. Lucunya klien saya yang sama juga mengatakan, itu semua tergantung dari dimana anda ditempatkan dan hingga saat tulisan ini saya masukkan ke web saya, penempatan setiap karyawan, 70% masih sangat random atau terkesan acak. Sisanya ya memang sudah ada path karirnya karena sebelumnya memang mengikuti pendidikan yang ditujukan untuk bekerja di departemen tertentu di institusi pemerintahan.

Bagi yang ditempatkan di departemen yang cukup strategis, maka PNS tersebut memang menikmati pekerjaan yang bagus dengan jaminan yang menggiurkan. Hanya saja, apabila PNS tersebut ditempatkan di departemen yang kurang strategis, yang dimana itu terjadi dalam 70% kasus, ya alhasil sebagian besar mindsetnya akan ter-rekondisi menjadi makan gaji namun kerjaan minim.

Apakah itu baik untuk anda? Saya serahkan sepenuhnya kepada motivasi asli anda dalam melamar menjadi PNS, karena saya sudah berkali – kali menemukan kasus seorang PNS kembali melamar kerja di suatu job fair, dimana mereka mau bekerja di tempat lain BERSAMAAN dengan tetap bekerja di institusi negara yang ditempati saat ini. Kok bisa seperti itu? Ternyata banyak kasus dimana PNS tinggal ceklok absend, kemudian keluar jalan – jalan, sehingga pelamar kerja itu merasa ia bisa mengisi waktu dengan bekerja ditempat lain sambil menambah rejeki. Oh, dan yang melamar seperti itu sebagian besar adalah orang paruh baya.

So, mungkin jaminannya tetap menggiurkan apabila menjadi PNS, namun jenjang karir…, sekali lagi jenjang karir, masih dipertanyakan yah.

Pengusaha itu bisa sukses karena bakat bisnisnya.

Well…, sudah banyak artikel dan tulisan berbau motivasi kalau suatu bisnis bisa dicapai dengan kerja keras dan insting bisnis yang bagus. Namun lucunya, para penikmat motivasi bisnis itu secara psikis selalu mengesampingkan suatu fakta kalau pebisnis juga sering menemukan banyak kegagalan bisnis atau bankrut sebelum menemukan bisnis yang berhasil. Dan bentuk denial atas fakta tersebut tercermin dalam anggapan bahwa pengusaha itu sukses karena bakat dan bisa menemukan pasar yang bagus.

Well…, ga usa jauh – jauh dengan contoh Mc Donald ataupun pendiri KFC. Bahkan di Indonesia pun, kasus bisnis yang belum berhasil dan berganti – ganti haluan, juga sering dialami oleh pengusaha Indonesia. Nah, kalau di lingkungan sekitar saya sendiri, itu dialami oleh teman saya seperti:

  • Bapak Habibie Ade yang sekarang berhasil dengan GPS Super Springnya (kalau anda sering membaca berita pencurian kendaraan bermotor bisa ditemukan polisi berkat bantuan GPS, itu dari GPS Super Springnya bapak Habibie). Untuk menemukan GPS, dia perlu gagal 2x dalam bisnis.
  • Chandra Liang dengan kopi instant premiumnya bermerk Esprecielo. Yang sekarang sudah ada di Indomaret, Family Mart, Circle K, Ace Hardware, dan beberapa minimarket lainnya dan bisa juga dipesan online. Untuk anda ketahui, ia harus gagal 9x dulu sebelum menemukan Esprecielo.

Sementara itu, bagaimana pola pikir karyawan yang ingin memulai usaha? Sebagian besar kasus malah menunjukkan, mereka menginginkan ada usaha yang menurut mereka pasti menghasilkan, dengan tujuan ada pasive income yang menarik dikala bisnisnya sudah jalan, dan yang lebih mencengangkan lagi, mereka menginginkan bisnis itu dijamin pasti berhasil (baca: kemungkinan gagal kecil).

Untuk wanita: ingin mendapat pasangan ‘ideal dan berpengaruh’? Carilah seorang polisi, tentara, hakim, dokter, ataupun profesi lain yang punya kekuatan besar.

Saya juga sering mendapatkan klien seorang wanita yang menggebet pria yang memiliki profesi diatas. Dan ini sering terjadi terutama wanita yang bukan dari ras Chinese / Tiongkok dan terutama justru yang menganut agama mayoritas di Indonesia.

Tanpa bermaksud SARA, yang perlu para pembaca ketahui adalah, pria yang memiliki profesi ‘berpengaruh’ diatas juga sadar akan keunggulannya dibandingkan pria – pria lainnya dari sisi karir. Alhasil, pria tersebut juga akan sangat ‘menjual mahal’ kepada wanita – wanita yang mengejarnya. Oleh karena itu, image si pria memiliki pasangan di setiap kota atau memiliki lebih dari 1 pasangan, menjadi pemandangan yang sangat wajar bagi mereka yang memiliki profesi berpengaruh tersebut.

Dengan demikian, untuk para wanita, yang ingin saya tekankan adalah, apabila anda mengejar seseorang yang berpengaruh dan memiliki power dalam profesinya, maka anda juga harus siap dengan konsekuensi anda memiliki sangat banyak saingan dan kompetisinya akan sangat messy, twisted, berantakan, sinting, psycho, dan segala kemungkinan buruk lainnya. Well…, high risk high return bukan?

Untuk pria: wanita dengan karir lebih tinggi dari anda = tidak layak dijadikan pasangan?

Sementara untuk para pria, banyak kasus dimana para pria begitu mengetahui orang yang dia gebet memiliki posisi karir yang lebih tinggi dibandingkan dirinya, justru malah menjadi minder dan mundur perlahan – lahan. Lucunya, dari sisi wanitanya yang notabene juga menjadi klien saya juga, seringkali mengungkapkan mereka sama sekali tidak mempermasalahkan karir si prianya.

Banyak kasus dari klien saya seorang wanita karir, ternyata sebagian besar dari mereka lebih menekankan pria yang bekerja jujur dan berusaha semampunya tanpa memandang posisi mereka. Dan cukup kontrast dengan pandangan umumnya, wanita karir tinggi bisa mengatur diri sendiri yang justru menepis image ‘high maintenance’ yang disematkan oleh para pria minder tersebut. Justru dari yang saya lihat, wanita high maintenance berlaku kepada wanita sosialita yang notabene memang tidak bekerja sama sekali. Sementara wanita berkarir tinggi justru banyak yang tidak masalah apabila mereka makan di warteg atau di pinggir jalan lainnya.

Yang membedakan dibandingkan wanita umumnya, wanita berkarir justru lebih tegas, bisa membuat keputusan dan cukup jarang bergosip serta bisa membagi waktu antara sosialisasi dengan pekerjaan. Suatu kriteria wanita yang sebenarnya cukup ideal untuk dijadikan pasangan, namun seringkali dilewatkan karena -image palsu high maintenance- tersebut.

[CTR] Kecanduan Game = Penyakit? Ngaca Dulu Sebelum Menilai.

Saya terinspirasi menulis artikel ini dari komplain beberapa orang tua yang mengeluhkan anaknya kecanduan bermain game. Lucunya, seringkali kecanduan yang benar – benar parah justru kecanduan dalam bermain Role Playing Game atau game RPG baik online maupun offline. Sangat jarang saya menemukan orang sangat kecanduan bermain game yang bertemakan musik ataupun tembak – tembakan atau bahasa kerennya, First Person Shooter atau FPS meskipun memang tetap ada pada kenyataannya.

Apabila banyak artikel yang beredar didunia maya justru menyudutkan orang – orang yang kecanduan dalam bermain game, justru disini saya ingin mencari sudut pandang yang berbeda. Sudut pandang yang dimana sebagian besar orang tidak mau melihat sampai sejauh itu karena sibuk mempercayai saja apa yang diberitakan oleh berbagai media – media komersil. Dan tentu saja pandangan saya tetap hanyalah sebuah pandangan dan opini. Meskipun begitu, opini, pandangan, dan analisa saya ini didasarkan dari hasil observasi sederhana saya. Jadi apabila ada psikolog maupun peneliti bertemakan psikologis mau menerima ide saya dan meneliti lebih jauh, saya persilahkan dengan tangan terbuka untuk menggunakan ide saya di artikel ini.

 

Apa itu game RPG?

Bagi yang belum mengetahui game RPG seperti apa, saya akan memberikan penjelasan singkat supaya orang yang kurang mengerti video game, akan lebih terbuka wawasannya. Sederhananya, game RPG adalah sebuah bentuk permainan dimana pemain mengambil peran suatu tokoh dalam suatu setting cerita tertentu, mengikuti alur cerita yang sudah dibuat sebelumnya dan selama bermain menjadi tokoh tersebut, pemain berjuang dalam menghadapi semua tantangan yang disediakan dan mencapai akhir cerita yang fantastis. Ada banyak jenis permainan RPG mulai dari permainan papan, kertas dan pen, dan juga video game. Hanya saja, kali ini saya lebih memfokuskan permainan RPG di video game karena memang media video game bisa mengeluarkan seluruh potensi permainan RPG dan media video game RPG inilah yang katanya dinilai paling mengkhawatirkan.

Namanya juga permainan RPG, maka permainan ini kental dengan cerita yang cukup rumit namun menarik dan seringkali bisa membawa emosi bagi para pemainnya. Bayangkan apabila anda suka membaca novel, anda tenggelam dalam cerita di novel tersebut dan emosi anda benar – benar terbawa bersama ceritanya. Atau anda menonton film yang sangat bagus dan emosi anda terbawa bersama cerita di film itu sampai anda merasa lupa waktu? Kalikan perasaan itu 3 kali lipat dan anda akan menemukan itulah yang dialami orang yang bermain game RPG.

Apakah perasaan emosi yang terbawa dalam permainan RPG ini berdampak buruk? Ataukah itu adalah kesalahan orang yang kecanduan? Well…, sebelum anda menilai hal itu, ada baiknya anda mengaca ketika anda suka dengan suatu film atau anda suka dalam cerita suatu novel. Apabila anda menyalahkan rekan, teman, anak, atau siapapun yang dekat dengan anda karena kecanduan main game RPG, namun anda sendiri suka nonton film atau baca novel cerita, maka sama saja anda dengan maling teriak maling. Hakekatnya, bermain RPG sama dengan tenggelam dalam cerita novel atau film tersebut alias tenggelam dalam dunia imajinasi dan fantasi yang disukai. Yang membedakan hanyalah medianya saja.

Keinginan bermain tersebut adalah sama kentalnya dengan keinginan seseorang menonton film atau baca novel. Sesederhana itu.

 

Mengobservasi berita kecanduan lebih jauh

Saya akan sedikit melompat ke bagian sub topik mengenai mengobservasi berita kecanduan game yang dilakukan oleh berbagai media. Kalau anda cukup jeli, memang ada banyak berita seputar orang yang kecanduan game sampai sebegitu parahnya terutama game RPG. Bahkan ada orang yang bermain game Final Fantasy XI Online sampai masuk Rumah Sakit karena belum berhasil mengalahkan bos tersulit dalam permainan tersebut. Terdengar fantastis pengaruhnya untuk sebuah game? Tentu saja!

Tapi yang saya ajak anda lihat lebih teliti adalah, NEGARA MANA yang sering mendapat topik berita kecanduan game? Kalau anda jeli, negara Amerika memiliki jumlah berita yang bisa dikatakan sedang – sedang aja dan justru di negara – negara Asia yang sering mendapat berita soal kecanduan game. Sebutlah selain Indonesia, ternyata negara yang sering mendapat berita kasus kecanduan game adalah negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan China. Ada apa dengan itu semua?

Dan ditengah pertanyaan diatas, justru saya juga sering melihat di berbagai kolom opini, dimana sistem pendidikan Amerika, Eropa, dan Asia ternyata jauh berbeda.  Di Amerika dan Eropa, ternyata orang tua tidak banyak yang terlalu menekan anaknya untuk berprestasi secara akademik. Lepas dari berbagai latar belakang, sistem pendidikan di Asia memang cenderung lebih keras dan menekan anak untuk berprestasi secara akademik. Hal kedua adalah, di berbagai negara yang jarang kecipratan berita kecanduan game, masyarakat lebih saling menghargai dan lebih moderat dalam menilai situasi. Bahkan dalam beberapa kasus, masyarakat lebih terlatih untuk saling menghargai bantuan yang diberikan orang lain dan karya orang lain. Sementara di negara Asia? Sori – sori saja, seringkali justru karena kompetisi yang terlalu ketat, masyarakat cenderung menghalalkan segala cara agar berprestasi. Anak – anak dituntut untuk memuaskan ego orang tuanya dan masyarakat tidak pernah puas dalam menuntut sesuatu ke orang lain.

Apakah ada hubungannya antara masyarakat yang terbiasa menghargai perbuatan dan karya orang lain dengan kecanduan dalam bermain game? Ternyata sangat kuat hubugannya!

 

Sebuah game yang menawarkan realita alternatif

Perlu disadari, karena game RPG ini menawarkan cerita yang menarik, mereka juga memberikan penghargaan yang juga tidak kalah menariknya terutama bagi yang terbiasa memainkan game ini. Apa saja penghargaannya? Meskipun penghargaannya juga hanya terjadi dalam dunia game, namun cukup memberi kepuasan sendiri bagi orang yang memainkannya. Contoh penghargaannya adalah selain bisa menikmati kelanjutan cerita, pemain juga seringkali mendapat benda – benda yang berharga dalam dunia game yang bisa membuat karakternya lebih sakti. Bahkan dalam game tertentu, si karakter pemain bisa memiliki kedekatan emosional yang kuat dengan karakter lain dalam game apabila melakukan usaha pendekatan alias pdkt selama permainan.

Saya memang tidak akan membahas secara detail akan bentuk penghargaannya, namun yang ingin saya sorot disini adalah…

 

Game RPG memberikan suatu penghargaandan hukuman yang sangat adil.

 

Sederhananya, apabila usaha si pemain sudah mencapai goal tertentu, maka sistem dalam game itu akan memberikan penghargaan kepada anda dengan sangat adil. Anda mencapai suatu goal? Anda mendapat penghargaan dan disediakan tantangan berikutnya untuk anda capai. Anda mencapai suatu goal tapi anda jelek, gendut, bantet, atau anda sangat kasar omongannya? Anda TETAP mendapat penghargaan itu. Anda mencapai goal tapi anda punya hobi atau kesukaan yang aneh? Anda TETAP mendapat penghargaan itu.

Bagaimana kalau anda gagal mencapai target? Tentu juga ada hukumannya dari yang tidak mendapat barang tersebut, sampai ke game over. But the good news is…., anda bisa mencoba lagi dan mencari celah – celah strategi yang bisa dilakukan untuk berusaha sampai berhasil.

Terdengar sangat adil bukan? Sayangnya itu hanya terjadi dalam dunia game. Bagaimana dengan dunia realita kehidupan?

Apakah ketika anda menolong seseorang, anda sering mendapat ucapan terima kasih? Apakah ketika anda melakukan sesuatu, katakanlah ujian anda mendapat B, orang tua anda akan memuji anda setulus hati atau justru malah semakin dituntut untuk lebih baik lagi nilainya? Apakah ketika anda melakukan kesalahan, setelah dimarahi abis – abisan anda diberi kesempatan lagi di waktu berikutnya? Atau mau lebih menusuk? Dalam dunia kerja, apabila anda melakukan pekerjaan anda sesuai dengan standard dan kriteria yang berlaku PLUS bekerja melebihi apa yang diminta perusahaan, anda pasti mendapat penghargaan yang SUDAH DIJANJIKAN perusahaan sebelumnya?

 

Kesimpulan: mereka hanya butuh penghargaan dan hukuman yang fair, Cuma itu!

Ketika saya bertanya kepada orang – orang yang suka bahkan cenderung kecanduan bermain game terutama RPG, justru tanpa disadari mereka mengucapkan kata – kata seperti “bos berbohong” , “tidak sesuai janji awal” , “mereka munafik” , dan berbagai kata – kata lainnya yang benang merahnya 1: lingkungan mereka tidak konsisten antara perkataan dengan perbuatan. Orang yang kecanduan game itu justru mengharapkan penghargaan yang jujur dan adil, lepas dari berbagai bias yang ada dan nilai – nilai tersebut tentu kita sering mempelajarinya bukan?

Hanya saja apakah masyarakat mempraktekkan nilai – nilai yang mereka pelajari tersebut seperti menghargai jasa orang lain, melepas stigma akan ras atau hobi tertentu, atau yang paling sederhana saja…., mempraktekkan apa yang mereka omongkan?

Sejumlah orang yang kecanduan game RPG menginginkan keadilan nilai terutama sistem penghargaan dan hukuman yang adil. Hanya saja mereka tidak menemukannya didunia nyata dan menemukannya didunia game.

Dan kalau ditanya lagi, siapa yang salah sekarang ini? Orang yang kecanduan karena tidak bisa menerima kenyataan, ataukah masyarakat sekitarnya yang munafik dalam mempraktekkan moral kemanusiaannya?

Dan artikel ini gw tutup dengan pandangan pribadi gw…..

Tidak ada yang salah…

Hanya saja, orang yang menyalahkan perbuatan orang lain seringkali tidak menyadari kalau mereka sendirilah penyebab terjadinya perbuatan itu.

[CTR] Survei Mengenai Pengusaha Awal

Kali ini, saya akan membahas mengenai topik yang umum antara orang yang mencoba memulai usaha dan berhasil dan orang yang belum berhasil. Standard memang kesannya, namun karena topik saya bukanlah topik motivasi, ataupun topik ala kuliah yang terlalu konseptual, saya akan membagikan keberhasilan mereka dari sisi hsil survei curhatan klien – klien saya sendiri.

Ada banyak klien saya yang juga sharing mengenai pengalaman mereka melakukan usaha, baik yang sudah tinggal melanjutkan dari orang tuanya, ataupun benar – benar memulai dari awal. Saya akan membahas untuk jangkauan topik mengenai orang yang memulai usaha dari awal dan berhasil. Dan dari hasil sharing dari klien – klien saya, ternyata memang ada beberapa hal yang cukup mengejutkan terutama mungkin sulit dimengerti secara intelektual dan terutama secara ego oleh orang – orang yang terbiasa kerja kantoran. Jadi, saya berharap dengan membaca artikel ini, terutama bagi karyawan kantoran untuk merenungkan ulang niat anda apabila ingin menjadi pengusaha.

Apa saja hal menarik dari pengusaha awal yang berhasil?

Pertama, mereka pada awalnya, sebagian besar menjalankan usaha yang mereka sukai

Simplenya, para pengusaha menjalankan usaha apapun yang memang mereka sukai. Dengan demikian, apabila mereka suka berdagang apapun dagangannya, ya mereka melakukan dengan sepenuh hati. Apabila mereka suka untuk design, mereka juga melakukan dengan senang dan antusias. Kenapa ini sangat penting bagi mereka? Karena kebanyakan klien  saya meliat yang namanya usaha adakalanya ada jatuh bangun dan moment – moment dimana mereka senang dan mereka stress. Setidaknya, segala bentuk tekanan mental akan berkurang dibandingkan yang semestinya karena mereka menikmati apa yang mereka kerjakan.

1 hal yang menjadi faktor utama, menyukai apa yang kita lakukan membuat kita mempelajari seluk – beluk bidang tersebut bukan? Selain melakukan usaha ya kita juga jadi sangat senang mempelajari seluk – beluk bidang tersebut sehingga tanpa disadar, kita terus belajar memperbaiki diri. Banyak orang yang saya lihat terjuan ke dunia usaha langsung jatuh dan menyerah di awal karena mereka berpikir semua proses kerja bisa diserahkan ke tenaga ahli tanpa si bos perlu tahu cara kerjanya. Iming – iming pengusaha bisa ongkang – ongkang kaki karena semua jalan oleh sistem yang mereka buat sendiri membuat mereka merasa tidak perlu mempelajari bidang tersebut dan tinggal mengawasi dan menikmati hasilnya saja.

Kedua, lucunya, motivasi awal seringkali bukan karena duit.

Ini yang membedakan antara pengusaha awal yang pada akhirnya berhasil dengan karyawan kantoran yang mau mencoba berusaha.

Karyawan kantoran sebagian besar pada awalnya ingin mencoba berusaha karena iming – iming dari lingkungan sekitar (which is juga orang kantoran) yang mengatakan menjadi bos bagi diri sendiri itu enak, kemudian dengan memiliki usaha perlahan – lahan duit juga akan bertambah banyak. Dan ketika usahanya sudah mapan, kita sebagai bos tinggal ongkang – ongkang kaki dan semua hal yang remeh – temeh tinggal dikerjakan oleh karyawannya. Dan yang saya lihat, orang yang motivasi awal usahanya karena kenyamanan hidup dan kemalasan, ya 100% tinggal menunggu waktu untuk bankrut.

Kenapa demikian? Karena kecenderungannya orang yang seperti ini akan mencari usaha yang sekali menjual, ya bisa dapat untung dalam jumlah besar dan menjadi perhitungan akan semuanya seperti menghitung modal awal, ongkos produksi, target balik modal, kecenderungan tidak mau merugi sama sekali, dan banyak lagi. Ini bukan berarti kita menjadi ceroboh, hanya saja ketika di awal – awal kita sudah terlalu diribetkan dengan perhitungan rumit keuangan, justru malah membuat kita menjadi banyak mengkhawatirkan hal – hal yang belum perlu dikhawatirkan dan justru tanpa disadari menjauhkan kita dari klien – klien potensial.

Sementara orang yang mencoba berusaha di awal dan berhasil akhirnya, justru ketika dilihat sebenernya karena motivasi awal adalah iseng melakukan hal yang mereka suka. Jadi dari awal mereka hanya melakukan hobi mereka yang sedikit ‘dijual’ hasilnya ke orang sekitar dengan tujuan agar orang lain menikmati hasil karya mereka tanpa mengharapkan keinginan untuk cepat mencari untung banyak. Justru ketika melakukan sesuatu dengan keinginan untuk memuaskan konsumen dan mendapat penghasilan yang wajar sesuai kebutuhan pengusahanya, malah membuat konsumen semakin senang dan ada repeat order dari mereka. Pada prakteknya, mereka sama sekali tidak memikirkan kapan mereka balik modal, sampai kapan mereka melakukan promosi terus – menerus, dan kapan brand mereka akan mapan, dan hal – hal yang belum waktunya untuk dipikirkan tersebut. Mereka hanya fokus ke pelayanan dan pelayanan ke customer sehingga usaha mereka berkembang dengan sendirinya.

Faktor ketiga adalah menerima kegagalan

Hal yang lucu saya perhatikan adalah, karyawan kantoran melihat pengusaha itu sebagai sosok yang hebat. Mereka memulai usaha sekali saja dan sudah ada perkembangan. Kemudian mengembangkan ke bisnis yang lain dengan skala lebih besar dan juga berkembang menjadi lebih hebat lagi. Orang kantoran cenderung melihat pengusaha sebagai sosok yang tidak pernah gagal dalam melakukan usahanya meskipun perjuangannya cukup keras. Memang kesannya pengusaha sukses itu sangat inspiratif.

Namun justru anggapan bawah sadar yang tersebar di masyarakat inilah yang membatasi ruang gerak orang yang baru mau memulai usaha. Mereka takut akan kegagalan sehingga ketika memulai suatu usaha, sekecil apapun, yang dipikirkan adalah bagaimana kalau tidak laku, bagaimana kalau tidak balik modal, bagaimana kalau karyawannya berbuat curang, dan lain sebagainya. Justru pikiran yang pada akhirnya membawa ke khawatiran yang tidak perlu itulah membuat pengusaha yang masih hijau semakin jauh dari keberhasilan.

Sementara orang yang sudah berhasil terjun didunia usaha, dari klien – klien saya pun mengakui ada banyak kegagalan (tidak sedikit tapi dalam jumlah kegagalan yang banyak) telah dialami. Adakalanya disuatu waktu, mereka benar – benar belum berhasil dalam melakukan usaha meskipun mereka sudah melakukan yang terbaik semampu mereka. Dan dari situlah, mereka juga banyak yang sepakat, pada akhirnya lebih ke persoalan trial and error. Dalam artian, mencoba usaha A, kalau benar – benar tidak berhasil ya coba usaha B, kalau tidak berhasil lagi ya coba usaha C, dan terus begitu sampai mereka menemukan ritme dan bidang usaha yang berhasil mereka kelola.

Keempat, mereka memisahkan anggaran untuk makan sehari – hari dengan anggaran untuk usaha

Seringkali orang yang mencoba usaha, masih mencampur adukkan amtara anggaran untuk makan sehari – hari dengan anggaran untuk modal usaha. Dan hal ini yang menjadi faktor utama suatu kegagalan usaha berujung kepada bangkrutnya orang tersebut secara keseluruhan. Mengapa demikian? Bila uang makan dicampur dengan uang usaha, maka kita menjalankan usaha dengan penuh kekhawatiran, takut barang tidak laku, takut usaha gagal, takut klien tidak sepakat dengan tawaran kita, dan masih banyak lagi. Semakin kita khawatir, justru semakin menunjukkan kalau kita butuh klien. Dan masalahnya, secara psikologis klien sudah tahu siapa yang butuh mereka dan siapa yang ‘tidak butuh’ mereka. Dan klien yang sudah tahu akan cenderung menekan pengusaha tersebut agar menjadi sangat menguntungkan bagi si kliennya.

Sedangkan pengusaha yang memisahkan budget untuk usaha dengan uang makan, justru pembawaannya lebih tenang dan objektif. Karena lebih tenang dan objektif, pengusaha bisa membedakan mana tawaran wajar dan mana yang merupakan sinyal bahwa klien hanya mencoba memanfaatkan mereka dalam artian negatif. Dan berbagai strategi bisnis pun bisa dilakukan apabila si pemilik usahanya sendiri melihat seluruh situasi dengan lebih tenang dan objektif.

Sederhananya, menggabungkan budget uang makan dengan usaha mendorong pemilik untuk ‘merendahkan diri sendiri’ yang berujung dimanfaatkan klien mereka, sementara yang memisahkan budget tersebut justru membuat klien lebih sulit bermain – main dengan tawaran si pengusaha.

Kelima dan sangat klise: Less talk, more action

Slogan tersebut kita sudah berkali – kali kita dengar dan lihat dalam berbagai variasinya terutama iklan produk rokok. Namun memang slogan ini, meskipun terbukti efektif, ternyata tidak semua orang mau menerapkannya.

Kebanyakan pengusaha baru akan berbicara apabila mereka ditanya dan mereka berbicara hal – hal yang memang perlu untuk diutarakan. Lucunya, apabila mereka menemui kegagalan, justru yang saya lihat dari klien – klien saya sendiri, mereka mengakui kesalahan mereka termasuk kekurangan mereka selama menjalankan usaha tersebut. Bahkan hebatnya lagi, mereka juga mau memaklumi dan memaafkan apabila orang lain melakukan kesalahan dan mengakuinya didepan mereka .

Berbeda dengan banyak klien yang saya temukan ketika mereka berniat mau memulai satu usaha atau masih baru menjalankan usaha. Lucunya mereka lebih banyak menyusun strategi usahanya TANPA dijalankan atau diimplementasikan. Mereka cenderung lebih banyak berbicara menunjukkan bobroknya usaha baru mereka yang disebabkan oleh karyawan mereka sendiri. Bahkan hal yang wajar seperti “usaha saya jatuh karena ada karyawan yang cuti” pun bisa menjadi pembahasan yang cukup panjang.

Sederhananya, pengusaha yang sudah berhasil dan saya temui, ternyata hanya berbicara saat diperlukan dan lebih ke melakukan tindakan serta mengakui berbagai kekeliruan diri sendiri. Sementara orang yang baru mau memulai usaha dan tidak berhasil lebih suka menyalahkan kekurangan orang lain (terutama karyawannya) ketimbang mengintropeksi diri sendiri dan mengambil pelajaran dari situ.

Masih ada banyak faktor yang bisa saya bahas disini. Namun saya melihat kelima faktor diatas sudah cukup untuk menjadi point penting yang membedakan antara orang mana yang potensi berhasilnya sangat tinggi dengan orang yang kemungkinan memang lebih baik jadi pekerja saja. Dan yang namanya usaha, bukanlah seperti kata para motivator apalage janji muluk para perekrut bisnis MLM umumnya. Menjadi pengusaha merupakan suatu pilihan hidup dengan konsekuensi yang tidak bisa dianggap remeh. Bagi yang mau melakukan usaha karena iming – iming hidup enak dan ongkang – ongkang kaki di masa tua, ya maaf saja, pikirkan kembali niat anda itu.

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers:

%d bloggers like this: