Tag Archive for klien

[CTR] Apakah Hal Tersulit Yang Dihadapi Seorang Tarot Reader? (part 2)

Contoh kasus kedua, soal kelahiran anak.
Sebut saja misalnya nama kliennya Wanti, bukan nama sebenarnya, dia merupakan pasangan yang baru saja menikah dan berharap untuk segera punya anak. Uniknya, sudah hampir 6 bulan pun mereka belum memiliki anak dengan segala macam program yang sudah mereka jalani.

Wanti pun konsul ke saya soal kemungkinan dia punya anak. Dan saya menarik 2 kartu, keluarnya waktu itu adalah 10 of Wands dan The Lovers.

Dan waktu itu, dengan antusiasnya karena kartu yang sekilas bagus, saya membacakan kalau mereka sudah melakukan usaha yang cukup signifikan (10 of wands) sehingga bisa diharapkan kalau dalam waktu dekat, mereka akan punya anak hasil dari hubungan cinta mereka (The Lovers). Semuanya terlihat sangat baik bukan?

Pada waktu itu, saya ada keinginan untuk sedapat mungkin menyampaikan kabar baiknya saja dan sangat meminimalisir kabar buruknya. Dan tentu saja bacaan saya yang cukup singkat, padat, jelas DAN MENYENANGKAN tersebut membuat klien menutup sesi konsul dengan hati berbunga – bunga.

Namun sikon hati berbunga – bunga tersebut, tidaklah bertahan lama.

Sekitar 4 bulan kemudian, Wanti kembali kepada saya dan mengeluhkan kalau sampai saat itupun mereka belum dikaruniai anak. Saya kembali melihat arsip konsulnya, dan saya kembali teringat akan sikon waktu itu dimana saya menjadi tidak sangat objektif.

Saat itu, saya ingin klien selalu senang dengan hasil bacaan saya; dengan harapan bahwa klien yang sudah senang, akan kembali lagi ke saya untuk kembali berkonsultasi dengan topik yang baru tentunya. Namun, ketika klien yang sama kembali dengan topik yang sama dan belum ada perkembangan apapun, saya berpikir, ada sesuatu yang salah dengan situasi tersebut, dan saya menemukan, diri sendiri yang tidak objektif waktu itu, juga menjadi faktor dimana mereka belum tahu alasan sebenarnya mereka belum memiliki anak.

Lantas setelah klien tersebut kembali ke saya untuk konsultasi, saya (lagi – lagi) meminta maaf dan mengakui kesalahan saya sendiri yang waktu itu cukup sembrono dalam membacakannya. Interpretasi objektifnya yang seharusnya saya bacakan waktu itu:

Anda berdua yang sama – sama bekerja, setelah menikah, anda hanya melakukan bulan madu 2 hari saja sebagai formalitas dan sisanya anda kembali sibuk dengan pekerjaan anda masing – masing (10 of Wands). Alhasil, karena tekanan psikis yang anda berdua alami akibat pekerjaan, memang mengakibatkan anda secara mental memang belum siap untuk memiliki anak. Kesuburan anda pun sangat dipengaruhi oleh tingkat kestabilan emosi anda.

Saran saya, luangkan waktu anda berdua untuk liburan sekitar seminggu, dan pergi liburan sambil menciptakan kembali masa – masa anda pacaran. Buat perjalanan anda selama liburan menjadi perjalanan yang ‘panas dengan cinta’. Dan ketika anda kembali ke rutinitas masing – masing, tetap jaga tingkat intimasi anda tersebut  (The Lovers).

Hindari juga godaan untuk menjadi sangat workaholic dan tetap komitmen untuk saling mencintai.

Setelah itu, Wanti menutup sesi konsulnya. Dan beberapa bulan kemudian, dia memberitahukan ke saya akan kehamilan anak pertamanya. Saya pun mengucapkan selamat atas kehamilan tersebut.

9 bulan kemudian, dia melahirkan anak pertamanya, memberitahukan ke saya. Dan setelah itu, Wanti tidak lagi menghubungi saya untuk konsultasi.

Mungkin memang dia sudah sibuk dengan aktifitasnya sebagai wanita karir dan ibu rumah tangga, dan saya kehilangan 1 klien yang bisa berulang kali konsul ke saya. Namun, akhirnya dia memiliki seorang anak, yang berarti salah satu masalah utamanya sudah selesai, dan memang dia tidak lagi memerlukan konsultasi saya bukan?

Menurut saya, membantu dalam proses menyelesaikan masalah klien dengan konsekuensi MUNGKIN dia tidak akan datang kembali untuk konsultasi, itu jauh lebih baik ketimbang dengan sengaja menginginkan klien untuk bergantung kepada kita terus – menerus hanya supaya kita, tarot reader, mendapat bayaran.

 

Yang ketiga dan yang terakhir sebagai contoh, saya sendiri pernah juga memiliki klien yang bersiap – siap untuk mengikuti pemilihan kepala daerah atau PILKADA untuk suatu daerah di Indonesia. Sebut saja namanya Wawan. Dia menanyakan kemungkinan dia untuk menjadi kepala daerah di daerah pemilihannya tersebut.

Saya sudah jauh lebih objektif daripada sebelum – sebelumnya, sehingga saya mengatakan kalau anggaplah kesempatannya mengikuti Pilkada tersebut sebagai ajang untuk mencari pengalaman dalam dunia politik. Kemungkinan dia menjadi kepala daerah tersebut memang agak kecil mengingat faktor dia belum berpengalaman, ditambah dengan jaringan politisnya yang waktu itu masih ngepas. Saya juga menyarankan untuk tidak melakukan praktek ‘beli suara’ dengan cara memberi amplop berisi uang ke masyarakat sekitarnya dengan harapan mereka mau memilih Wawan karena kemungkinan besar mereka tidak akan memilihnya.

Tentu saja Wawan tidak menerima bacaan tersebut dan cenderung menekankan kalau dia pasti menang karena koneksi politik dia dirasa cukup kencang. Saya memaklumi dan memahaminya saat itu dan mempersilahkan Wawan untuk mencobanya, dengan catatan tanpa menyogok. Karena itu dari bacaan, pasti akan rugi besar.

4 bulan kemudian, Wawan kembali konsultasi dan mengaku kalau dia rugi sebesar puluhan juta rupiah secara percuma. Dia menyogok masyarakat sekitar dengan membagikan amplop berisi uang tersebut. Wawan sendiri mengaku menjadi sangat panas karena didorong oleh rekannya yang mengaku sangat berpengalaman sebagai konsultan politik, untuk membagikan amplop tersebut agar bisa menang pilkada saat itu.

Ternyata memang rakyat sekitar, tetap menerima uang tersebut TANPA memilih dirinya.

Memang dia kecewa, namun dia cukup mendapat pelajaran berharga disana, dan kembali mencoba berpolitik dengan lebih jujur. Untuk beberapa lama, dia pun menjadi klien rutin saya sampai ketika dia menjadi sangat sibuk dengan bisnis barunya.

 

Masih ada banyak contoh lain yang bisa saya bagikan; namun saya rasa, 3 contoh tersebut sudah bisa mengcover semua yang ingin saya tunjukkan.

Contoh pertama itu, lebih menunjukkan kalau karena nilai – nilai pribadi saya sendiri, saya jadi memaksakan nilai pribadi tersebut ke orang lain meskipun jalur hidup orang lain tersebut, sangat berbeda daripada saya.

Contoh kedua, lebih menekankan saya yang dulu berusaha membuat klien senang dengan saya dengan harapan mereka melakukan repeat order meskipun konsekuensinya, masalah mereka tidak selesai – selesai.

Contoh ketiga, menekankan saya yang sudah berusaha lebih objektif, meskipun bacaannya mungkin terkesan tidak menyenangkan untuk didengar, ternyata tidak menjadi faktor utama dalam menentukan klien dalam melakukan repeat order. Bisa saja ketika bacaannya terkesan tidak menyenangkan namun objektif, klien akan mengerti dan justru meminta kita membacakan kembali setelah ada perkembangan lebih lanjut.

 

Kalau saya rekap, selama lebih dari 10 tahun ini, justru saya merasakan, hal tersulit yang dialami oleh Tarot Reader dalam menangani klien itu, justru…

Menjaga ego kita sendiri agar klien dapat memperoleh berbagai alternatif langkah hidupnya secara objektif.

Sounds cheesy, right?

Cuma kenyataannya dilapangan, hal ini menjadi benar – benar sangat penting. Bahkan bisa menentukan, apakah klien mu (dengan bantuan masukan dari Tarot Reader), dapat menemukan berbagai jalur alternatif hidupnya, atau justru ia akan semakin terperosok kedalam masalahnya hanya karena ego pribadimu.

Ego disini yang saya maksudkan adalah nilai – nilai yang kita anut secara pribadi termasuk berbagai prinsip yang kita pegang dan juga hal – hal yang menurut kita pribadi itu wajar untuk dilakukan; termasuk juga hal – hal yang menjadi norma masyarakat umumnya. Bahkan nilai yang kita dapatkan dari iman, ataupun nilai agama yang kita pegang pun, itu termasuk dalam ego kita pribadi juga.

Dan apakah itu dapat mempengaruhi repeat order atau klien yang kembali datang melakukan konsultasi tersebut? Sejauh pengalaman saya, obejktifitas, tidak menjadi faktor penting dalam repeat order. Melainkan empati lah yang bisa menjadi faktor utamanya.

Sisi memahami dan menerima, tanpa menjudge (atau memaksakan nilai pribadi yang kita pegang ke mereka) dan mau mendengarkan klien, saya rasa justru menjadi faktor terpenting dalam repeat order.

 

(selesai)

[Minor Arcana] Angka 1 Yang Melambangkan Peluang (Part 1)

Angka 1 dalam tarot seringkali melambangkan awal mula atau semacam peluang awal. Tergantung dengan bacaan lainnya juga, angka 1 dalam tarot minor arcana bisa berarti bagus dan bisa juga berarti situasi yang kurang menguntungkan.

Ace of Wands

Wands sendiri yang dilambangkan dengan element api, mensimbolkan energi kreatifitas, karir, dan sebuah project yang dapat siap untuk diwujudkan.

Jadi, ace of wands sendiri menunjukkan akan peluang awal dari sebuah karir ataupun sebuah peluang yang bisa dikerjakan. Oleh karena itu, apabila ada klien yang menanyakan seputar pekerjaan yang sudah di apply, apabila keluar ace of wands, itu menandakan kemungkinan besar dia mendapatkan pekerjaan baru. Meskipun pekerjaan baru disini bisa berarti dia diterima di tempat dia melamar itu, ATAU dia mendapat peluang pekerjaan lain.

Kartu ini juga bisa diinterpretasikan sebagai mendapat posisi baru dalam pekerjaan saat ini. Meskipun memang apakah posisi tersebut lebih baik atau sebaliknya, masih harus dibaca lebih lanjut.

Apakah Ace of Wands ada semacam aspek negatifnya dalam bacaan? Yes, memang ada, tergantung posisinya dalam tebaran juga.

Apabila Ace of Wands berada dalam aspek negatif dalam suatu tebaran, seringkali menunjukkan peluang yang disia-siakan oleh klien. Jadi bisa dikatakan sudah cukup banyak peluang karir yang datang ke si klien, namun dia sia-siakan karena 1 dan lain hal. Misalnya, kurang follow-up yang punya pekerjaan, malas/ kurang disiplin akan waktu, dan masih banyak faktor lagi tergantung si kliennya.

Ini juga bisa menunjukkan si klien juga TERLALU CEPAT untuk berpindah – pindah karir. Dalam artian, sebelum si klien menguasai ilmu di pekerjaan dia, dia merasa tidak kuat dan dengan terburu-buru pindah pekerjaan.

Apabila kartu seperti ini muncul dalam bacaan lain yang sekilas tidak nyambung topiknya (seperti percintaan), maka ini bisa mengindikasikan hal – hal yang berhubungan dengan kreatifitas meliputi topik pertanyaan tersebut.

Misalnya, apabila topik pertanyaannya seputar percintaan, maka ace of wands bisa menunjukkan entah klien atau calon pasangannya masih memprioritaskan karir ketimbang percintaan karena 1 dan lain hal. Atau apabila topik berhubungan dengan rejeki, ya bisa berarti rejeki tersebut ada di pekerjaan baru atau si klien harus pindah pekerjaan/ mencari peluang bisnis atau sampingan baru misalnya.

 

Ace of Cups

Cups yang diwakili oleh element air, melambagkan segala aspek emosional. Seringkali cups disini memang lebih mengacu ke hubungan atau relasi; meskipun tidak melulu soal pacaran yah.

Jadi, ace of cups bisa menunjukkan permulaan baru dalam hal relasi atau hubungan.

Dalam aspek positif, memang kartu ini menunjukkan akan adanya relasi baru yang bisa digarap. Mulai dari relasi, gebetan, keluarga, rekan bisnis, rekan kerja, dan masih banyak lagi tergantung dari topik pertanyaannya. Hanya saja, namanya juga sebuah peluang, ya tetap harus inisiatif digarap atau diwujudkan bukan? Peluang tetap hanya akan menjadi peluang belaka apabila tidak diikuti dengan aksi nyata untuk mengembangkan lebih jauh. Dalam sejumlah kasus, juga ini bisa menunjukkan untuk lebih baik move on dari ‘rekan lama’ ke ‘rekan baru’.

Aspek negatifnya? Tergantung dari tebaran kartu, ini juga bisa berarti ada kecenderungan untuk mudah berganti – ganti peluang atau banyak peluang yang terlewatkan dalam hal relasi. Contohnya, gonta – ganti gebetan karena kurangnya inisiatif untuk dikembangkan menjadi lebih dekat, berganti – ganti rekan kerja/ rekan bisnis karena 1 dan lain hal.

Kalau kartu cups berada dalam bacaan yang topiknya sekilas tidak berkaitan dengan relasi/ emosi, bisa saja ada semacam faktor lain yang ikut mempengaruhi topik/ pertanyaan tersebut.

Misalnya, apabila si klien menanyakan topik soal keuangan, tapi yang keluar adalah kartu ace of cups, itu bisa menunjukkan kalau keuangan si klien sangat bergantung kepada banyaknya relasi/ rekan yang bisa dia rubah menjadi suatu peluang untuk mendapatkan rejeki. Jualan snack ke teman – teman sekitar misalnya? Dagang pernak – pernik ke teman kantor misalnya? Semakin banyak rekan – rekan yang dia kenal, semakin tinggi kemungkinan penjualannya bukan?

Atau kalau misalnya, ada klien yang bertanya soal kenapa dia tidak kunjung naik posisi/ jabatan?

Ace of cups bisa menunjukkan waktunya untuk berganti bos atau mencari kantor/ divisi baru dengan bos lebih supportif.

Atau bila dalam tebaran 3 kartu, kartu pertama yang muncul adalah The Hermit, diikuti dengan Ace of Cups dan diakhiri dengan 10 of Cups, maka Ace of Cups disini bisa juga menunjukkan kecenderungan klien sebenarnya bisa saja naik pangkat, namun kemampuan dia untuk dekat dengan orang baru ataupun dekat dengan rekan – rekan kerja masih perlu ditingkatkan. Sekali lagi, tergantung kartu yang keluar dalam tebarannya.

 

(bersambung ke part 2)

[CTR] Kenapa Banyak Pengusaha Yang ‘Ketus’ Gaya Bicaranya?

Saya teringat akan suatu acara workshop seputar dunia usaha, dimana pembicaranya adalah seorang pengusaha yang bisa dikatakan sudah berhasil menjalankan usahanya. Dalam suatu sesi tanya jawab, ada seorang penanya yang sejauh ingatan saya, pertanyaannya seperti ini…

“Namanya Ani, pak.” (bukan nama sebenarnya karena saya juga sudah lupa namanya)

 

“Gini…, saya saat ini sudah punya usaha dagang aksesoris gadget, pak. Awal usaha sih, respon minat pembeli bagus banget. Cuma belakangan ini, pedagang lain banyak yang berani banting harga jauh lebih rendah daripada dagangan saya. Padahal saya ambil barang juga dengan harga pemasok kok. Alhasil penjualan dagangan saya turun drastis karena tidak mampu bersaing. Apakah ada solusinya?”

Nah, si nara sumber workshop ini menjawab…

“Ya evaluasi ulang semua alur daganganmu. Apakah memang anda mengambil untungnya terlalu banyak, ataukah bisa saja anda mendapat harga dari pemasok yang sebenarnya lebih mahal dari harga pemasok lainnya? Ya kalau ternyata harga dari pemasok sudah terlalu mahal ya dirimu cari lagi pemasok lain yang bisa memberi harga lebih murah.”

“Kalau misalnya tidak ketemu pak? Carinya gimana yah?”
“Ya cari sendiri, usaha sendiri. Kalau tidak bisa ya maaf – maaf saja, berarti anda tidak bakat menjadi pengusaha. Bukannya kenapa – kenapa, tapi kalau begitu saja tidak bisa, saya rasa anda kembali bekerja kantoran pun lebih menjamin ketimbang anda dagang seperti sekarang ini.”

Dan seketika itu juga, peserta workshop banyak yang terdiam dan menjadi segan untuk bertanya.

 

Seperti itulah cerita singkat yang pernah saya alami; namun banyak juga para pengusaha yang menjadi klien saya, gaya bicaranya memang gaya biacara yang apa adanya, terang – terangan sehingga terkesan ketus dan kasar.

Pertanyaannya, kenapa bisa sampai seperti itu?

Dan dari klien – klien saya yang seorang pengusaha, ternyata mereka menjadi seperti itu karena mentalnya yang terbentuk dari perjuangan mereka ketika mereka berusaha menjalankan usahanya dari 0.

Persisnya kalau saya rangkum…

  1. Ketika mereka sedang berusaha dari 0, banyak yang mengaku dijauhi teman dan bahkan oleh keluarganya sendiri karena dianggap keputusan yang cukup gila.
  2. Selama proses berkembangnya usahanya itu, hidup mereka terbilang cukup sulit. Semua serba berhemat dan hidupnya pun sangat tidak nyaman. Tapi usahanya tetap dijalankan.
  3. Akhirnya, setelah proses perjuangan yang sulit, mereka bisa mengembangkan usahanya dan mulai ada tanda – tanda peningkatan.
  4. Nah, ketika usahanya mulai meningkat, orang – orang yang dulunya adalah teman, termasuk saudara, justru kembali mendekat.
  5. Mereka yang semula mencaci dan menghakimi, justru berbalik memuji kepandaian dan kelihaian si pengusaha ini.
  6. Dari sinilah, si pengusaha mulai kesal dengan teman atau saudaranya itu. Yang semula meninggalkan dia kini berbalik ‘menjilat’ dia.
  7. Dan untuk -menutupi ketidakmampuan- teman dan saudara yang kembali memuji si pengusaha itu, mereka berkesimpulan bahwa si pengusaha sukses karena BERUNTUNG.

Dari melewati proses seperti itulah, si pengusaha banyak yang sikapnya berubah dari yang semula cukup rendah hati, menjadi terkesan sombong, angkuh, bahkan menjadi ketus. Dan hal itu menjadi semacam byproduct atau resiko dari mental seorang pengusaha yang tertempa di tengah situasi lingkungan sekitarnya yang penuh kepalsuan dan kurang menghargai kerja keras.

Pada akhirnya, kita mudah sekali menilai negatif seseorang dari perilaku luar seseorang saja. Namun ketika kita mengetahui detail proses kenapa seseorang bisa sampai seperti itu, saya rasa, yang akan muncul hanyalah rasa simpati. Sebuah rasa dimana kita memang belum tentu setuju dengan keputusannya, namun kita menghormati dan memahami keputusan yang diambil tersebut.

First #FridayTarotTime, I Get: Ideas For Errata Tarot Combo Game Rules

tarot combo game cover

Overview Of The First Event

Ceritanya, karena gw sendiri dari pagi hingga jam 16.00 nya abis jaga stand tarot nya booth LightGivers di event retro bazaar di Grand Indonesia, jadinya gw memutuskan #FridayTarotTime kemarin diadakan di Grand Indonesia saja, tepatnya di cafe Dataran Tinggi agar tempatnya berdekatan dengan bazaar tersebut.

Bagaimana kesannya untuk event pertama? Jujur untuk gw sendiri mengatakan event pertama ini terbilang cukup berhasil. Cukup berhasil karena selain sharing beberapa hal dan membacakan tarot, ternyata gw juga pulang membawa banyak hal.

Apa yang terjadi di event pertama tersebut? Well, dari awal jam 17.00, gw sendiri iseng nongkrong dengan Russell Rich dan minta diajarin soal mainan Waving The Aces. Yes, itu permainan magic termasuk tinggi tingkat kesulitannya dan sampai sekarang pun gw masih agak kesulitan untuk mengingat urutan permainannya seperti apa. But I’ll still try anyway. In case bagi yang belum tau seperti apakah Waving The Aces itu, silahkan tanya Russell Rich langsung dan minta dia menunjukkan permainannya seperti apa. Dan kalaupun anda sempet belajar rahasianya, u’ll know how hard is that to perform. But it’s rewarding experience isn’t it? Karena sangat menghibur audience mainan itu.

Nah, jam 18.00, ada 2 klien yang sudah membuat janji sebelumnya dan memanfaatkan penawaran dari event tersebut. So, dari jam 18.00 – 19.00, gw ijin sebentar dengan Russell, pindah meja, dan melayani klien tersebut. Tanpa membocorkan masalah masing2 klien, topic mereka tidak jauh2 dari karir dan percintaan serta sedikit bacaan kelebihan dan kekurangan masing2. Mereka pada dasarnya cukup puas meskipun klien pertama memiliki kasus yang cukup kompleks dibandingkan klien rata2.

Setelah jam 19.00 ? Gw kembali ke meja Russell dan sudah ada Emily HappyWise disana. Mulailah kita mencoba permainan tarot combo game. Dan untuk yang penasaran seperti apa, rulesnya bisa dilihat di link ini.

http://rendyfudoh.com/tarot-combo-game/

Dan setelah penjelasan dan mencoba permainan, maka Emily dan Russell memberikan masukan yang membangun. Dimana mereka mengatakan belum ada sense kompetitif secara langsung antar player. Ujung2nya, permainan ini membuat player sibuk sendiri mengumpulkan kartu yang diinginkan untuk mengumpulkan point sebanyak – banyaknya, namun interaksi antar player masih minim. Plus permainan ini untuk 3 player terhitung cepat selesai.

Emily juga memberi masukan lebih detail kalau permainan ini lebih cocok diterapkan ke playing card alias kartu remi, karena pemain lebih fokus ke angka/ nilai di kartu dan gambar di kartu tarot menjadi tidak penting dalam permainan ini.

Lesson I’ve Got

Dari sekian banyak masukan tersebut, apakah yang bisa gw rangkum? Point pertama tentunya adalah, di waktu kedepan gw akan membuat rules permainan combo game ini KHUSUS UNTUK PLAYING CARD. Dengan demikian, bermodalkan playing card alias kartu remi saja, anda juga sudah bisa memainkan permainan yg unik ini.

Point kedua yang gw dapatkan dan masih bisa direvisi di waktu kedepannya adalah, berbagai errata (alias pengembangan aturan) untuk tarot combo game. Pengembangan aturan ini, untuk sementara tak sarankan untuk yang sudah mencoba memainkan dengan aturan dasar dahulu agar lebih mengenal alur permainannya.

  1. Ketika di fase lelang/ auction phase: jumlah kartu yang dilelang adalah sebanyak jumlah pemain.
  2. Ketika fase scoring, ketentuan scorenya berubah menjadi…
  • Nilai tiap tumpukan kartu adalah base score x multiplier
  • Base score adalah kartu tertinggi dari tumpukan 4 kartu yang anda buat (tidak termasuk major arcana)

Ketentuan multiplier adalah sebagai berikut:

  1. Apabila combo 4 kartu itu adalah suite yang sama, maka multipliernya adalah 1
  2. Apabila combo 4 kartu itu adalah ANGKA yang SAMA, maka multipliernya adalah 4!

Contoh:

ace of wands – 4 of wands – 5 of wands – 9 of wands.

  • Karena suite nya sama, multiplier adalah 1
  • Kartu tertinggi di tumpukan tersebut adalah 9 of wands, sehingga angka tertinggi ada lah 9
  • Dengan demikian, score di tumpukan ini adalah 9 x 1 = 9

Ace of Cups – Queen of Cups – The World – 3 of Cups

  • Kartu The World disini adalah proxy alias menjadi kartu apapun, oleh karena itu, kartu ini menjadi kartu cups saja.
  • Suitenya sama (suite of cups), multiplier adalah 1
  • Kartu tertinggi adalah Queen of Cups, sehingga angka tertinggi adalah 13 (page angkanya 11, knight 12, queen 13, king 14). The World meskipun kartu no 21, itu adalah Major Arcana sehingga tidak dihitung angkanya dalam scoring phase.
  • Dengan demikian, score di tumpukan ini adalah 13 x 1 =13

5 of wands – 5 of cups – 5 of swords – 5 of pentacles

  • Kartu tertinggi adalah 5 (karena semuanya adalah angka 5)
  • 4 angka sama karena semuanya angka 5, maka multipliernya adalah 4!
  • Scorenya adalah 5 x 4 = 20!

7 of wands – 7 of cups – 7 of swords – The Fool

  • Dalam kasus ini, The Fool menjadi kartu proxy untuk 7 of pentacles
  • Angka tertinggi adalah 7
  • 4 kartu sama2 7 nilainya, sehingga multiplier 4
  • Scorenya adalah 7 x 4 = 28!

Kenapa multiplier untuk 4 kartu angka sama cukup besar? Karena mencari 4 kartu angka sama itu jauh lebih sulit ketimbang suit nya sama.

Demikian revisi aturan yg gw dapatkan dalam test play di event #FridayTarotTime tersebut. Gw akan mencoba test play lagi di waktu mendatang dan akan membuat berbagai perbaikan2 konstruktif agar semua bisa menikmati permainan Tarot Combo Game ini. :)

[CTR] Berbagai Mitos Kehidupan Manusia Dan Realitanya Part 1

Tulisan kali ini terinspirasi dari berbagai klien saya yang dari sisi finansial maupun sisi kehidupan secara umum sudah cukup berhasil untuk ukuran orang awam kebanyakan. Saya menekankan untuk ‘ukuran orang awam kebanyakan’ karena dari sisi pribadi si kliennya sendiri masih memiliki berbagai goal hidup yang masih ingin dia capai, namun di mata orang awam, orang yang sama sudah tidak perlu ngapa – ngapain lagi alias tinggal leha – leha. Suatu ironi bukan?

Sekali lagi, tulisan ini juga bukanlah tulisan motivasi, namun sengaja saya tulis untuk mematahkan berbagai anggapan semu dalam formula sukses kehidupan. Oleh karena itu, kesannya saya akan membahas hal yang terkesan random, namun seperti yang saya tuliskan di judul, itulah benang merahnya. Dan tulisan ini akan saya bagi menjadi beberapa bagian yang akan saya update secara rutin.

Well…, tidak perlu berlama – lama, inilah berbagai mitos kehidupan manusia.

Menjadi PNS adalah suatu pekerjaan dengan jenjang karir jaminan yang sangat bagus

Banyak klien saya juga yang menjadi PNS dan memang mendapat jaminan yang cukup menarik. Mulai dari berbagai tunjangan maupun berbagai manfaat pensiun. Lucunya klien saya yang sama juga mengatakan, itu semua tergantung dari dimana anda ditempatkan dan hingga saat tulisan ini saya masukkan ke web saya, penempatan setiap karyawan, 70% masih sangat random atau terkesan acak. Sisanya ya memang sudah ada path karirnya karena sebelumnya memang mengikuti pendidikan yang ditujukan untuk bekerja di departemen tertentu di institusi pemerintahan.

Bagi yang ditempatkan di departemen yang cukup strategis, maka PNS tersebut memang menikmati pekerjaan yang bagus dengan jaminan yang menggiurkan. Hanya saja, apabila PNS tersebut ditempatkan di departemen yang kurang strategis, yang dimana itu terjadi dalam 70% kasus, ya alhasil sebagian besar mindsetnya akan ter-rekondisi menjadi makan gaji namun kerjaan minim.

Apakah itu baik untuk anda? Saya serahkan sepenuhnya kepada motivasi asli anda dalam melamar menjadi PNS, karena saya sudah berkali – kali menemukan kasus seorang PNS kembali melamar kerja di suatu job fair, dimana mereka mau bekerja di tempat lain BERSAMAAN dengan tetap bekerja di institusi negara yang ditempati saat ini. Kok bisa seperti itu? Ternyata banyak kasus dimana PNS tinggal ceklok absend, kemudian keluar jalan – jalan, sehingga pelamar kerja itu merasa ia bisa mengisi waktu dengan bekerja ditempat lain sambil menambah rejeki. Oh, dan yang melamar seperti itu sebagian besar adalah orang paruh baya.

So, mungkin jaminannya tetap menggiurkan apabila menjadi PNS, namun jenjang karir…, sekali lagi jenjang karir, masih dipertanyakan yah.

Pengusaha itu bisa sukses karena bakat bisnisnya.

Well…, sudah banyak artikel dan tulisan berbau motivasi kalau suatu bisnis bisa dicapai dengan kerja keras dan insting bisnis yang bagus. Namun lucunya, para penikmat motivasi bisnis itu secara psikis selalu mengesampingkan suatu fakta kalau pebisnis juga sering menemukan banyak kegagalan bisnis atau bankrut sebelum menemukan bisnis yang berhasil. Dan bentuk denial atas fakta tersebut tercermin dalam anggapan bahwa pengusaha itu sukses karena bakat dan bisa menemukan pasar yang bagus.

Well…, ga usa jauh – jauh dengan contoh Mc Donald ataupun pendiri KFC. Bahkan di Indonesia pun, kasus bisnis yang belum berhasil dan berganti – ganti haluan, juga sering dialami oleh pengusaha Indonesia. Nah, kalau di lingkungan sekitar saya sendiri, itu dialami oleh teman saya seperti:

  • Bapak Habibie Ade yang sekarang berhasil dengan GPS Super Springnya (kalau anda sering membaca berita pencurian kendaraan bermotor bisa ditemukan polisi berkat bantuan GPS, itu dari GPS Super Springnya bapak Habibie). Untuk menemukan GPS, dia perlu gagal 2x dalam bisnis.
  • Chandra Liang dengan kopi instant premiumnya bermerk Esprecielo. Yang sekarang sudah ada di Indomaret, Family Mart, Circle K, Ace Hardware, dan beberapa minimarket lainnya dan bisa juga dipesan online. Untuk anda ketahui, ia harus gagal 9x dulu sebelum menemukan Esprecielo.

Sementara itu, bagaimana pola pikir karyawan yang ingin memulai usaha? Sebagian besar kasus malah menunjukkan, mereka menginginkan ada usaha yang menurut mereka pasti menghasilkan, dengan tujuan ada pasive income yang menarik dikala bisnisnya sudah jalan, dan yang lebih mencengangkan lagi, mereka menginginkan bisnis itu dijamin pasti berhasil (baca: kemungkinan gagal kecil).

Untuk wanita: ingin mendapat pasangan ‘ideal dan berpengaruh’? Carilah seorang polisi, tentara, hakim, dokter, ataupun profesi lain yang punya kekuatan besar.

Saya juga sering mendapatkan klien seorang wanita yang menggebet pria yang memiliki profesi diatas. Dan ini sering terjadi terutama wanita yang bukan dari ras Chinese / Tiongkok dan terutama justru yang menganut agama mayoritas di Indonesia.

Tanpa bermaksud SARA, yang perlu para pembaca ketahui adalah, pria yang memiliki profesi ‘berpengaruh’ diatas juga sadar akan keunggulannya dibandingkan pria – pria lainnya dari sisi karir. Alhasil, pria tersebut juga akan sangat ‘menjual mahal’ kepada wanita – wanita yang mengejarnya. Oleh karena itu, image si pria memiliki pasangan di setiap kota atau memiliki lebih dari 1 pasangan, menjadi pemandangan yang sangat wajar bagi mereka yang memiliki profesi berpengaruh tersebut.

Dengan demikian, untuk para wanita, yang ingin saya tekankan adalah, apabila anda mengejar seseorang yang berpengaruh dan memiliki power dalam profesinya, maka anda juga harus siap dengan konsekuensi anda memiliki sangat banyak saingan dan kompetisinya akan sangat messy, twisted, berantakan, sinting, psycho, dan segala kemungkinan buruk lainnya. Well…, high risk high return bukan?

Untuk pria: wanita dengan karir lebih tinggi dari anda = tidak layak dijadikan pasangan?

Sementara untuk para pria, banyak kasus dimana para pria begitu mengetahui orang yang dia gebet memiliki posisi karir yang lebih tinggi dibandingkan dirinya, justru malah menjadi minder dan mundur perlahan – lahan. Lucunya, dari sisi wanitanya yang notabene juga menjadi klien saya juga, seringkali mengungkapkan mereka sama sekali tidak mempermasalahkan karir si prianya.

Banyak kasus dari klien saya seorang wanita karir, ternyata sebagian besar dari mereka lebih menekankan pria yang bekerja jujur dan berusaha semampunya tanpa memandang posisi mereka. Dan cukup kontrast dengan pandangan umumnya, wanita karir tinggi bisa mengatur diri sendiri yang justru menepis image ‘high maintenance’ yang disematkan oleh para pria minder tersebut. Justru dari yang saya lihat, wanita high maintenance berlaku kepada wanita sosialita yang notabene memang tidak bekerja sama sekali. Sementara wanita berkarir tinggi justru banyak yang tidak masalah apabila mereka makan di warteg atau di pinggir jalan lainnya.

Yang membedakan dibandingkan wanita umumnya, wanita berkarir justru lebih tegas, bisa membuat keputusan dan cukup jarang bergosip serta bisa membagi waktu antara sosialisasi dengan pekerjaan. Suatu kriteria wanita yang sebenarnya cukup ideal untuk dijadikan pasangan, namun seringkali dilewatkan karena -image palsu high maintenance- tersebut.

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers:

%d bloggers like this: