Tag Archive for konseling

[CTR] Mengapa ‘Cerita’ Prestasi Karena Kerja Keras itu ‘Tidak Laku’

 

Sesuatu Yang (Sengaja) Dilupakan

Berkaca dari pengalaman saya sendiri sebagai tarot reader, ketika ada klien yang datang untuk meminta konsultasi, 99% beranggapan bahwa kemampuan saya dalam membaca kartu tarot adalah sebuah kelebihan yang saya miliki sejak kecil. Mereka memuji saya dan berharap memiliki kelebihan yang saya miliki.

Hal lucunya adalah, setiap kali saya menceritakan bahwa ini bukanlah ‘kelebihan’ yang saya miliki, melainkan hasil dari saya belajar dan latihan terus – menerus sambil tetap menjalankan profesi saya sebagai tarot reader, klien hanya mengiyakan saja akan pengakuan saya tersebut dan seringkali hanya sebatas tertarik ingin belajar tarot.

Namun rasa tertarik ingin belajar tarot pun hanya sebatas wacana saat itu saja. Dan sebulan kemudian, klien yang sama, datang kembali kepada saya untuk konsultasi lanjutan, pun ternyata ia mengulangi hal yang sama: kemampuan saya membaca kartu tarot adalah sebuah kelebihan yang saya miliki sejak kecil dan berharap memiliki kelebihan tersebut.

Yes, mereka lupa akan ‘cerita pengakuan’ saya tersebut.

Pada awalnya, saya berpikir kalau kejadian ini, mungkin hanya berlaku untuk hal – hal yang sekilas berbau mistis. Namun ternyata saya juga salah kira.

Ada seorang teman saya, sebut saja Chandra namanya, dia merintis bisnis kopi. Dia memulainya dari sebuah kedai kopi kecil – kecilan dan bisnis tersebut gagal. Kemudian dia mencoba berbagai variasi bisnis kopi lainnya, dan juga terus – terusan gagal sampai lebih dari 10 kali. Sampai akhirnya, sekitar percobaan dia yang ke 12, dia baru menemukan sela nya dan sekarang sudah memiliki bisnis kopi instan premium yang dijual di berbagai minimarket.

Ada beberapa klien saya yang mengetahui merek kopi instan premium tersebut dan mengatakan betapa beruntungnya pemilik bisnisnya karena berhasil menjual 1 paket isi 2 sachet kopi instant tersebut seharga 1 porsi kecil makan siang di mall kelas menengah. Sementara perusahaan lokal mapan umumnya paling hanya bisa menjual sekitar Rp 2000 untuk 1 sachetnya.

Karena saya mengetahui owner dari produk yang dimaksud, maka saya menceritakan secara singkat akan perjuangan pemilik bisnis tersebut; tak lupa menekankan bagian ‘gagal belasan kali’.

Dan hal menarik kembali terjadi; seminggu kemudian klien yang sama datang kepada saya, sekedar untuk berbagi cerita saja, dan kembali menyinggung bahwa pemilik bisnis kopi instan premium tersebut sangat beruntung. Beruntung karena berhasil menjual 1 paket isi 2 sachet kopi instan seharga 1 porsi kecil makan siang di mall kelas menengah.

Dan klien tersebut mengaku lupa kalau saya pernah menceritakan kegagalan belasan kali ownernya sampai akhirnya berhasil menemukan sela di bisnis kopi tersebut.

 

Mengapa Bisa ‘Lupa’?

Saya sendiri sempat bingung dengan fenomena sosial ini. Bingungnya karena banyak sekali buku – buku inspiratif dan berbagai seminar motivasi yang sekilas tampak banyak sekali peminatnya. Buku – buku dan seminar tersebut merupakan suatu produk dengan angka penjualan yang sangat tinggi. Minimal kalau menurut data penjualan suatu toko buku besar di Indonesia yang saya ‘intip’, penjualan buku berbau motivasi dan inspirasi itu merupakan buku dengan penjualan tertinggi no-2 di Indonesia.

No-1 nya? Buku resep masakan. Dan no-3 nya lebih ke komik/ manga.

Namun lucunya lagi, orang – orang yang pernah membeli buku motivasi dan inspiratif tersebut, ketika saya tanyakan, mereka mengaku sudah membaca sampai habis isi buku tersebut; namun LUPA akan inti detail pesan yang mau disampaikan.

Dan dari sini pula, saya juga berpikir. Banyak orang yang menginvestasikan sebagian kecil penghasilan mereka untuk buku tersebut, namun investasi mereka tampaknya menjadi sia – sia. Karena mereka membaca buku tersebut hanya untuk memenuhi -ilusi telah belajar-nya saja tanpa mencoba menerapkan berbagai pesan yang ingin disampaikan dari buku tersebut.

Sebaliknya, buku – buku novel ringan (atau sering disebut sebagai chicklit atau teenlit) romantis, malah bisa diingat relatif mendetail dalam soal cerita dan konflik dalam novel tersebut. Ada apa ini?

 

Jawaban Yang Datang Dari Sebuah Film Animasi

Pada awalnya, saya hanya bisa mendapat kesimpulan sementara, ya memang karena masyarakat itu cenderung mengingat hasil akhir dan melupakan prosesnya. Titik. Tidak lebih dari itu.

Namun suatu ketika, saya menonton sebuah film animasi Jepang seputar ‘pertempuran memasak’, dan lucunya, saya mendapat jawaban dari film animasi Jepang yang sekilas hanyalah tontonan ‘sekali nonton’ tersebut.

Jawaban yang saya dapat cukup menarik dan bisa menjadi bahan pemikiran pribadi.

 

Berikut percakapan yang saya kutip dari tontonan animasi tersebut yang saya terjemahkan secara bebas.

 

Ketika ada seseorang yang berbakat, kita cenderung memuja dan mengidolakan orang tersebut. Kita menilainya sebagai sosok yang ‘beruntung’ sementara kita bukanlah orang yang seberuntung dia.

Dengan demikian, kita menjadi memaklumi dan memaafkan diri sendiri, kalau kita tidak akan bisa menjadi seperti idola kita.

Namun orang yang baru masuk ke dunia kompetisi memasak ini, bukanlah orang yang berbakat. Dia menjadi ahli dibidangnya  karena bekerja keras dan gagal berkali – kali. Orang baru ini menjadi sosok yang tidak populer dikalangan kita, meskipun dia cukup berprestasi.

Kenapa bisa begitu?
Karena kita tahu, orang baru ini sama dengan kita. Tidak berbakat sama sekali. Kalau kita sampai mengidolakan orang yang tidak berbakat ini, maka kita harus menerima kalau kita sendiri sebenarnya juga bisa berprestasi melalui kerja keras dan latihan terus – menerus.

Dan kita harus menerima kalau kita belum bekerja sekeras dan berlatih serajin dia.

Sederhananya, kalau disimpulkan, kita semua cenderung dengan sadar, melupakan proses perjuangan seseorang menjadi berprestasi, semata – mata karena kita tidak mau mengoreksi kekurangan diri kita sendiri.

[CTR] Apakah Hal Tersulit Yang Dihadapi Seorang Tarot Reader? (part 2)

Contoh kasus kedua, soal kelahiran anak.
Sebut saja misalnya nama kliennya Wanti, bukan nama sebenarnya, dia merupakan pasangan yang baru saja menikah dan berharap untuk segera punya anak. Uniknya, sudah hampir 6 bulan pun mereka belum memiliki anak dengan segala macam program yang sudah mereka jalani.

Wanti pun konsul ke saya soal kemungkinan dia punya anak. Dan saya menarik 2 kartu, keluarnya waktu itu adalah 10 of Wands dan The Lovers.

Dan waktu itu, dengan antusiasnya karena kartu yang sekilas bagus, saya membacakan kalau mereka sudah melakukan usaha yang cukup signifikan (10 of wands) sehingga bisa diharapkan kalau dalam waktu dekat, mereka akan punya anak hasil dari hubungan cinta mereka (The Lovers). Semuanya terlihat sangat baik bukan?

Pada waktu itu, saya ada keinginan untuk sedapat mungkin menyampaikan kabar baiknya saja dan sangat meminimalisir kabar buruknya. Dan tentu saja bacaan saya yang cukup singkat, padat, jelas DAN MENYENANGKAN tersebut membuat klien menutup sesi konsul dengan hati berbunga – bunga.

Namun sikon hati berbunga – bunga tersebut, tidaklah bertahan lama.

Sekitar 4 bulan kemudian, Wanti kembali kepada saya dan mengeluhkan kalau sampai saat itupun mereka belum dikaruniai anak. Saya kembali melihat arsip konsulnya, dan saya kembali teringat akan sikon waktu itu dimana saya menjadi tidak sangat objektif.

Saat itu, saya ingin klien selalu senang dengan hasil bacaan saya; dengan harapan bahwa klien yang sudah senang, akan kembali lagi ke saya untuk kembali berkonsultasi dengan topik yang baru tentunya. Namun, ketika klien yang sama kembali dengan topik yang sama dan belum ada perkembangan apapun, saya berpikir, ada sesuatu yang salah dengan situasi tersebut, dan saya menemukan, diri sendiri yang tidak objektif waktu itu, juga menjadi faktor dimana mereka belum tahu alasan sebenarnya mereka belum memiliki anak.

Lantas setelah klien tersebut kembali ke saya untuk konsultasi, saya (lagi – lagi) meminta maaf dan mengakui kesalahan saya sendiri yang waktu itu cukup sembrono dalam membacakannya. Interpretasi objektifnya yang seharusnya saya bacakan waktu itu:

Anda berdua yang sama – sama bekerja, setelah menikah, anda hanya melakukan bulan madu 2 hari saja sebagai formalitas dan sisanya anda kembali sibuk dengan pekerjaan anda masing – masing (10 of Wands). Alhasil, karena tekanan psikis yang anda berdua alami akibat pekerjaan, memang mengakibatkan anda secara mental memang belum siap untuk memiliki anak. Kesuburan anda pun sangat dipengaruhi oleh tingkat kestabilan emosi anda.

Saran saya, luangkan waktu anda berdua untuk liburan sekitar seminggu, dan pergi liburan sambil menciptakan kembali masa – masa anda pacaran. Buat perjalanan anda selama liburan menjadi perjalanan yang ‘panas dengan cinta’. Dan ketika anda kembali ke rutinitas masing – masing, tetap jaga tingkat intimasi anda tersebut  (The Lovers).

Hindari juga godaan untuk menjadi sangat workaholic dan tetap komitmen untuk saling mencintai.

Setelah itu, Wanti menutup sesi konsulnya. Dan beberapa bulan kemudian, dia memberitahukan ke saya akan kehamilan anak pertamanya. Saya pun mengucapkan selamat atas kehamilan tersebut.

9 bulan kemudian, dia melahirkan anak pertamanya, memberitahukan ke saya. Dan setelah itu, Wanti tidak lagi menghubungi saya untuk konsultasi.

Mungkin memang dia sudah sibuk dengan aktifitasnya sebagai wanita karir dan ibu rumah tangga, dan saya kehilangan 1 klien yang bisa berulang kali konsul ke saya. Namun, akhirnya dia memiliki seorang anak, yang berarti salah satu masalah utamanya sudah selesai, dan memang dia tidak lagi memerlukan konsultasi saya bukan?

Menurut saya, membantu dalam proses menyelesaikan masalah klien dengan konsekuensi MUNGKIN dia tidak akan datang kembali untuk konsultasi, itu jauh lebih baik ketimbang dengan sengaja menginginkan klien untuk bergantung kepada kita terus – menerus hanya supaya kita, tarot reader, mendapat bayaran.

 

Yang ketiga dan yang terakhir sebagai contoh, saya sendiri pernah juga memiliki klien yang bersiap – siap untuk mengikuti pemilihan kepala daerah atau PILKADA untuk suatu daerah di Indonesia. Sebut saja namanya Wawan. Dia menanyakan kemungkinan dia untuk menjadi kepala daerah di daerah pemilihannya tersebut.

Saya sudah jauh lebih objektif daripada sebelum – sebelumnya, sehingga saya mengatakan kalau anggaplah kesempatannya mengikuti Pilkada tersebut sebagai ajang untuk mencari pengalaman dalam dunia politik. Kemungkinan dia menjadi kepala daerah tersebut memang agak kecil mengingat faktor dia belum berpengalaman, ditambah dengan jaringan politisnya yang waktu itu masih ngepas. Saya juga menyarankan untuk tidak melakukan praktek ‘beli suara’ dengan cara memberi amplop berisi uang ke masyarakat sekitarnya dengan harapan mereka mau memilih Wawan karena kemungkinan besar mereka tidak akan memilihnya.

Tentu saja Wawan tidak menerima bacaan tersebut dan cenderung menekankan kalau dia pasti menang karena koneksi politik dia dirasa cukup kencang. Saya memaklumi dan memahaminya saat itu dan mempersilahkan Wawan untuk mencobanya, dengan catatan tanpa menyogok. Karena itu dari bacaan, pasti akan rugi besar.

4 bulan kemudian, Wawan kembali konsultasi dan mengaku kalau dia rugi sebesar puluhan juta rupiah secara percuma. Dia menyogok masyarakat sekitar dengan membagikan amplop berisi uang tersebut. Wawan sendiri mengaku menjadi sangat panas karena didorong oleh rekannya yang mengaku sangat berpengalaman sebagai konsultan politik, untuk membagikan amplop tersebut agar bisa menang pilkada saat itu.

Ternyata memang rakyat sekitar, tetap menerima uang tersebut TANPA memilih dirinya.

Memang dia kecewa, namun dia cukup mendapat pelajaran berharga disana, dan kembali mencoba berpolitik dengan lebih jujur. Untuk beberapa lama, dia pun menjadi klien rutin saya sampai ketika dia menjadi sangat sibuk dengan bisnis barunya.

 

Masih ada banyak contoh lain yang bisa saya bagikan; namun saya rasa, 3 contoh tersebut sudah bisa mengcover semua yang ingin saya tunjukkan.

Contoh pertama itu, lebih menunjukkan kalau karena nilai – nilai pribadi saya sendiri, saya jadi memaksakan nilai pribadi tersebut ke orang lain meskipun jalur hidup orang lain tersebut, sangat berbeda daripada saya.

Contoh kedua, lebih menekankan saya yang dulu berusaha membuat klien senang dengan saya dengan harapan mereka melakukan repeat order meskipun konsekuensinya, masalah mereka tidak selesai – selesai.

Contoh ketiga, menekankan saya yang sudah berusaha lebih objektif, meskipun bacaannya mungkin terkesan tidak menyenangkan untuk didengar, ternyata tidak menjadi faktor utama dalam menentukan klien dalam melakukan repeat order. Bisa saja ketika bacaannya terkesan tidak menyenangkan namun objektif, klien akan mengerti dan justru meminta kita membacakan kembali setelah ada perkembangan lebih lanjut.

 

Kalau saya rekap, selama lebih dari 10 tahun ini, justru saya merasakan, hal tersulit yang dialami oleh Tarot Reader dalam menangani klien itu, justru…

Menjaga ego kita sendiri agar klien dapat memperoleh berbagai alternatif langkah hidupnya secara objektif.

Sounds cheesy, right?

Cuma kenyataannya dilapangan, hal ini menjadi benar – benar sangat penting. Bahkan bisa menentukan, apakah klien mu (dengan bantuan masukan dari Tarot Reader), dapat menemukan berbagai jalur alternatif hidupnya, atau justru ia akan semakin terperosok kedalam masalahnya hanya karena ego pribadimu.

Ego disini yang saya maksudkan adalah nilai – nilai yang kita anut secara pribadi termasuk berbagai prinsip yang kita pegang dan juga hal – hal yang menurut kita pribadi itu wajar untuk dilakukan; termasuk juga hal – hal yang menjadi norma masyarakat umumnya. Bahkan nilai yang kita dapatkan dari iman, ataupun nilai agama yang kita pegang pun, itu termasuk dalam ego kita pribadi juga.

Dan apakah itu dapat mempengaruhi repeat order atau klien yang kembali datang melakukan konsultasi tersebut? Sejauh pengalaman saya, obejktifitas, tidak menjadi faktor penting dalam repeat order. Melainkan empati lah yang bisa menjadi faktor utamanya.

Sisi memahami dan menerima, tanpa menjudge (atau memaksakan nilai pribadi yang kita pegang ke mereka) dan mau mendengarkan klien, saya rasa justru menjadi faktor terpenting dalam repeat order.

 

(selesai)

[CTR] Apakah Hal Tersulit Yang Dihadapi Seorang Tarot Reader? (part 1)

Ada beberapa teman yang baru mulai belajar tarot, bertanya kepada saya,

“Apakah hal tersulit yang dihadapi oleh seorang tarot reader yang sudah berpengalaman seperti kamu?”.

Well…, mungkin kalau dulu banget, saya akan bilang kalo hal tersulit yang dihadapi oleh seorang tarot reader, adalah masalah – masalah yang pelik, yang rumit, dan semacamnya. Katakanlah misalnya kalau klien bertanya seputar karirnya di ekonomi, politik, atau soal bisnis – bisnisnya. Dan ketika saya menjawab itu pada waktu lampau, saya menjawab dengan terbesit rasa bangga terhadap diri sendiri alias setengah pamer karena (bermaksud) menunjukkan, “Gue uda handle klien politisi looooh! Gue uda menangani klien pengusaha gede looohh! Loe belom kan? “
Itu pas di awal – awal banget, sekitar 3-4 tahun lalu lah.

Namun ketika saya sudah berkecimpung didunia tarot yang sudah lebih dari 10 tahun ini, dan disaat yang sama, ada klien yang menanyakan hal yang sama…, pertanyaan yang seringkali saya pelintirkan menjadi ajang pamer prestasi tersebut, justru memiliki jawaban yang jauh berbeda dibandingkan sebelumnya.
Ketika saya melihat kebelakang dan bercermin dengan berbagai keputusan yang saya ambil sebagai Tarot Reader, justru saya merasa ada hal – hal, yang dengan tingkat kedewasaan saya yang sekarang, justru jangan diambil. Karena itu bisa berbalik merugikan orang lain. Menjaga ‘ITU’ agar klien berbalik tidak ‘dirugikan’, ternyata sangat sulit.

Apakah ‘hal ITU’ tersebut?

Well…, akan saya ceritakan dulu soal beberapa pengalaman praktis saya sebelumnya sebagai Tarot Reader agar lebih jelas…

Yang pertama, sekitar tahun ke -3 karir saya didunia tarot, saya termasuk reader yang masi melihat kalau perceraian itu adalah hal yang sedapat mungkin dihindari. Jadi apapun masalah klien, perceraian itu pokoknya bener – bener opsi terakhir deh. Kalo bisa, jangan disinggung lah.

Nah, suatu hari, sebutlah nama kliennya si Juli, bukan nama sesungguhnya, itu konsul ke saya soal sikon rumah tangganya yang memang sangat jauh lah dari ideal. Suaminya selingkuh, dan adakalanya suka melakukan kekerasan fisik ke Juli.

Dan ketika dia konsul ke saya, 3 kartu yang keluar adalah 9 of swords , Death dan ace of cups.

 

 

Interpretasi singkatnya yang seharusnya saya bacakan saat itu:

Juli sudah sampai di tahap dimana dia benar – benar sudah menderita lahir batin (9 of swords), sehingga memang sudah waktunya untuk menyelesaikan relasi yang sekarang (Death), dan memulai relasi baru dengan orang yang baru sesudahnya (ace of cups).

Basically sih, intinya dia disarankan divorce alias cerai.

Cuma karena waktu itu, saya masih termasuk ke orang yang sangat anti divorce, maka saya memodifikasi interpretasinya seperti ini:

Situasinya sudah sangat buruk (9 of swords) sehingga kalau dibiarkan terus, maka hubungan ini bisa tidak bertahan lama (Death), sehingga perlu adanya penyegaran relasi untuk menjaga harmonisnya hubungan (ace of cups).

Oleh karena itu, saya sarankan untuk coba berikan service terbaikmu ke suami. Entah dengan cara memijat dia, melayani dia dgn menyajikan teh misalnya disaat dia pulang kerja, bawa ke saat – saat masih pacaran. Setelah beberapa minggu, silahkan mulai diskusi baik – baik soal hubungan kalian agar bisa dipertahankan.

Dan hasilnya? Klien saya mencoba untuk menjalankan hal tersebut dan semakin lah dia mendapat siksaan fisik bertubi – tubi, ditambah anaknya yang mulai melihat ibunya disiksa tersebut serta semakin dia menambah trauma psikis yang sudah ada (anggap seperti makna di kartu 9 of swords yang semakin parah). Ternyata memang untuk suami si Juli ini, ketika dia semakin melayani dengan baik, justru semakin menjadi sasaran siksaan.

Dan dia konsul ke saya untuk kedua kalinya.

Dan saat itu, saya meminta maaf atas kesalahan saya yang tidak objektif dalam membaca; ketika saya kembali membaca tarotnya pun, tetap intinya sama. DIVORCE supaya hidupnya lebih baik termasuk untuk anaknya juga. Dia memaafkan, namun tetaplah bagi saya, dampak menambah trauma psikis karena ‘peran saya’ menjadi pikiran saya tersendiri waktu itu.

Singkat cerita, setelah cerai, dia justru menjadi single mother dengan anak yang sangat bahagia hidupnya. Banyak pria yang mau sama dia, dan mantan suaminya pun sampai meminta balik dengan dirinya.

Tentu saja dia sudah kapok dengan perilaku mantan suaminya sehingga dia lebih memilih untuk bahagia sebagai single mother. Dan kalau masi memungkinkan, baru dia akan mencari orang baru.

 

(bersambung)

[Minor Arcana] Two: Yang Melambangkan Dualitas (Part 2)

Two Of Swords

Dualitas dalam kartu ini lebih menunjukkan dualitas dalam sisi komunikasi ataupun rasionalitas. Gambar seorang wanita yang ditutup matanya dan memegang dua bilah pedang dengan sikut terlipat dan kedua pedang disandarkan ke bahu, menunjukkan bahwa pilihan yang dihadapi memang sama – sama memiliki konsekuensi yang tidak kecil. Bisa dikatakan apapun keputusan yang dibuat, memang tidak dapat menyenangkan semua pihak.

Namun gambar mata yang ditutup dengan kain dan adanya bulan sabit di latar belakang justru memberikan suatu pesan penting. Mata yang ditutup menunjukkan agar si penanya dapat memilih ataupun menimbang keputusan tanpa melibatkan emosional sama sekali; yang dimana sisi emosional itu sering terstimulai apabila seseorang ‘melihat’ alternative yang harus dia pilih.

Sementara bulan sabit (dan kombinasi dengan pantai) menunjukkan akan pentingnya menggunakan intuisi (bulan sabit) dalam mengambil keputusan. Toh lagipula, sehebat – hebatnya kita mencari informasi seputar pilihan tersebut, tetap saja aka nada aspek yang tidak akan kita ketahui (dilambangkan dengan pantai dan air laut yang dalam). In short word, ambil keputusan dengan kombinasi intuisi, rasionalitas, dan netral.

Dalam beberapa kasus, tergantung topik dan juga kombinasi kartu yang ada dalam tebaran, ini bias menunjukkan untuk menjaga 2 kepentingan yang berbeda dengan menggunakan intuisi dan rasional, serta tidak melibatkan emosi dalam menjaga berbagai kepentingan tersebut. Bedanya dibandingkan 2 of wands, apabila di wands lebih menekankan 2 kepentingan pekerjaan, maka 2 of swords lebih ke sisi komunikasi. Simplenya, menjaga tata Bahasa agar bias senetral mungkin dalam berbicara terhadap 2 atau lebih pihak yang berbeda.

Aspek negative dari 2 of swords juga mirip dengan uraian sebelumnya, yaitu stagnasi dan tidak mau memilih. Bisa disebabkan karena si penanya takut akan konsekuensi dari masing – masing pilihan, dan bisa juga lebih ke penanya memang minim pengalaman dalam mengambil keputusan sulit.

Di kartu ini, seorang wanita yang memegang kedua pedang tersebut, menyenderkan ke bahunya karena memang pedang tersebut tampak berat sehingga kekuatan 1 tangan saja tidak akan bisa bertahan mengangkat 1 pedang. Itulah sebabnya dia menyenderkan pedang tersebut di bahunya. Ini bisa diinterpretasikan bahwa sekuat – kuatnya seseorang bertahan untuk tidak mengambil keputusan sulit, akan ada waktunya beban situasi itulah yang akan ‘membuat keputusan’ untuk si penanya. In short word, ia harus memilih atau situasilah yang akan menentukan pilihan untuk anda.

 

Two Of Pentacles

Kartu ini lebih menunjukkan seseorang yang sedang melakukan akrobatik dengan pentacles di kedua tangannya. Makna sekilasnya sederhana: menjaga keseimbangan antara 2 atau lebih sumber pendapatan ataupun pengeluaran material. Jadi apabila kartu ini keluar, dan topik pertanyaannya seputar keuangan, maka hampir bisa dipastikan kalau si penanya perlu menjaga keseimbangan antar berbagai sumber pemasukan dan pengeluarannya agar semuanya dapat seimbang. Ini disebabkan karena apabila salah satu saja jebol, situasi keuangan si penanya menjadi sangat tidak stabil.

Makna lainnya, tergantung topik bacaan dan kombinasi kartu yang ada dalam tebaran, juga bisa menunjukkan seseorang mulai memutar alur materi yang dimilikinya. Sebagai contoh, si A mulai memutar uang yang dia dapat dari suatu bisnis yang dimlikinya agar dapat digunakan untuk ekspansi ataupun investasi ke bisnisnya yang lain.

Aspek negative dari kartu ini, tergantung dari kombinasi kartu lainnya juga, bisa menunjukkan ketidakmampuan si penanya dalam mengelola materi yang dia miliki. Sederhananya, dia boros. Atau bisa juga si penanya terlalu banyak berspekulasi dalam memutar materi yang dia miliki.

[Minor Arcana] Angka 1 Yang Melambangkan Peluang (Part 1)

Angka 1 dalam tarot seringkali melambangkan awal mula atau semacam peluang awal. Tergantung dengan bacaan lainnya juga, angka 1 dalam tarot minor arcana bisa berarti bagus dan bisa juga berarti situasi yang kurang menguntungkan.

Ace of Wands

Wands sendiri yang dilambangkan dengan element api, mensimbolkan energi kreatifitas, karir, dan sebuah project yang dapat siap untuk diwujudkan.

Jadi, ace of wands sendiri menunjukkan akan peluang awal dari sebuah karir ataupun sebuah peluang yang bisa dikerjakan. Oleh karena itu, apabila ada klien yang menanyakan seputar pekerjaan yang sudah di apply, apabila keluar ace of wands, itu menandakan kemungkinan besar dia mendapatkan pekerjaan baru. Meskipun pekerjaan baru disini bisa berarti dia diterima di tempat dia melamar itu, ATAU dia mendapat peluang pekerjaan lain.

Kartu ini juga bisa diinterpretasikan sebagai mendapat posisi baru dalam pekerjaan saat ini. Meskipun memang apakah posisi tersebut lebih baik atau sebaliknya, masih harus dibaca lebih lanjut.

Apakah Ace of Wands ada semacam aspek negatifnya dalam bacaan? Yes, memang ada, tergantung posisinya dalam tebaran juga.

Apabila Ace of Wands berada dalam aspek negatif dalam suatu tebaran, seringkali menunjukkan peluang yang disia-siakan oleh klien. Jadi bisa dikatakan sudah cukup banyak peluang karir yang datang ke si klien, namun dia sia-siakan karena 1 dan lain hal. Misalnya, kurang follow-up yang punya pekerjaan, malas/ kurang disiplin akan waktu, dan masih banyak faktor lagi tergantung si kliennya.

Ini juga bisa menunjukkan si klien juga TERLALU CEPAT untuk berpindah – pindah karir. Dalam artian, sebelum si klien menguasai ilmu di pekerjaan dia, dia merasa tidak kuat dan dengan terburu-buru pindah pekerjaan.

Apabila kartu seperti ini muncul dalam bacaan lain yang sekilas tidak nyambung topiknya (seperti percintaan), maka ini bisa mengindikasikan hal – hal yang berhubungan dengan kreatifitas meliputi topik pertanyaan tersebut.

Misalnya, apabila topik pertanyaannya seputar percintaan, maka ace of wands bisa menunjukkan entah klien atau calon pasangannya masih memprioritaskan karir ketimbang percintaan karena 1 dan lain hal. Atau apabila topik berhubungan dengan rejeki, ya bisa berarti rejeki tersebut ada di pekerjaan baru atau si klien harus pindah pekerjaan/ mencari peluang bisnis atau sampingan baru misalnya.

 

Ace of Cups

Cups yang diwakili oleh element air, melambagkan segala aspek emosional. Seringkali cups disini memang lebih mengacu ke hubungan atau relasi; meskipun tidak melulu soal pacaran yah.

Jadi, ace of cups bisa menunjukkan permulaan baru dalam hal relasi atau hubungan.

Dalam aspek positif, memang kartu ini menunjukkan akan adanya relasi baru yang bisa digarap. Mulai dari relasi, gebetan, keluarga, rekan bisnis, rekan kerja, dan masih banyak lagi tergantung dari topik pertanyaannya. Hanya saja, namanya juga sebuah peluang, ya tetap harus inisiatif digarap atau diwujudkan bukan? Peluang tetap hanya akan menjadi peluang belaka apabila tidak diikuti dengan aksi nyata untuk mengembangkan lebih jauh. Dalam sejumlah kasus, juga ini bisa menunjukkan untuk lebih baik move on dari ‘rekan lama’ ke ‘rekan baru’.

Aspek negatifnya? Tergantung dari tebaran kartu, ini juga bisa berarti ada kecenderungan untuk mudah berganti – ganti peluang atau banyak peluang yang terlewatkan dalam hal relasi. Contohnya, gonta – ganti gebetan karena kurangnya inisiatif untuk dikembangkan menjadi lebih dekat, berganti – ganti rekan kerja/ rekan bisnis karena 1 dan lain hal.

Kalau kartu cups berada dalam bacaan yang topiknya sekilas tidak berkaitan dengan relasi/ emosi, bisa saja ada semacam faktor lain yang ikut mempengaruhi topik/ pertanyaan tersebut.

Misalnya, apabila si klien menanyakan topik soal keuangan, tapi yang keluar adalah kartu ace of cups, itu bisa menunjukkan kalau keuangan si klien sangat bergantung kepada banyaknya relasi/ rekan yang bisa dia rubah menjadi suatu peluang untuk mendapatkan rejeki. Jualan snack ke teman – teman sekitar misalnya? Dagang pernak – pernik ke teman kantor misalnya? Semakin banyak rekan – rekan yang dia kenal, semakin tinggi kemungkinan penjualannya bukan?

Atau kalau misalnya, ada klien yang bertanya soal kenapa dia tidak kunjung naik posisi/ jabatan?

Ace of cups bisa menunjukkan waktunya untuk berganti bos atau mencari kantor/ divisi baru dengan bos lebih supportif.

Atau bila dalam tebaran 3 kartu, kartu pertama yang muncul adalah The Hermit, diikuti dengan Ace of Cups dan diakhiri dengan 10 of Cups, maka Ace of Cups disini bisa juga menunjukkan kecenderungan klien sebenarnya bisa saja naik pangkat, namun kemampuan dia untuk dekat dengan orang baru ataupun dekat dengan rekan – rekan kerja masih perlu ditingkatkan. Sekali lagi, tergantung kartu yang keluar dalam tebarannya.

 

(bersambung ke part 2)

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers:

%d bloggers like this: