Tag Archive for refleksi

[CTR] Mengapa ‘Cerita’ Prestasi Karena Kerja Keras itu ‘Tidak Laku’

 

Sesuatu Yang (Sengaja) Dilupakan

Berkaca dari pengalaman saya sendiri sebagai tarot reader, ketika ada klien yang datang untuk meminta konsultasi, 99% beranggapan bahwa kemampuan saya dalam membaca kartu tarot adalah sebuah kelebihan yang saya miliki sejak kecil. Mereka memuji saya dan berharap memiliki kelebihan yang saya miliki.

Hal lucunya adalah, setiap kali saya menceritakan bahwa ini bukanlah ‘kelebihan’ yang saya miliki, melainkan hasil dari saya belajar dan latihan terus – menerus sambil tetap menjalankan profesi saya sebagai tarot reader, klien hanya mengiyakan saja akan pengakuan saya tersebut dan seringkali hanya sebatas tertarik ingin belajar tarot.

Namun rasa tertarik ingin belajar tarot pun hanya sebatas wacana saat itu saja. Dan sebulan kemudian, klien yang sama, datang kembali kepada saya untuk konsultasi lanjutan, pun ternyata ia mengulangi hal yang sama: kemampuan saya membaca kartu tarot adalah sebuah kelebihan yang saya miliki sejak kecil dan berharap memiliki kelebihan tersebut.

Yes, mereka lupa akan ‘cerita pengakuan’ saya tersebut.

Pada awalnya, saya berpikir kalau kejadian ini, mungkin hanya berlaku untuk hal – hal yang sekilas berbau mistis. Namun ternyata saya juga salah kira.

Ada seorang teman saya, sebut saja Chandra namanya, dia merintis bisnis kopi. Dia memulainya dari sebuah kedai kopi kecil – kecilan dan bisnis tersebut gagal. Kemudian dia mencoba berbagai variasi bisnis kopi lainnya, dan juga terus – terusan gagal sampai lebih dari 10 kali. Sampai akhirnya, sekitar percobaan dia yang ke 12, dia baru menemukan sela nya dan sekarang sudah memiliki bisnis kopi instan premium yang dijual di berbagai minimarket.

Ada beberapa klien saya yang mengetahui merek kopi instan premium tersebut dan mengatakan betapa beruntungnya pemilik bisnisnya karena berhasil menjual 1 paket isi 2 sachet kopi instant tersebut seharga 1 porsi kecil makan siang di mall kelas menengah. Sementara perusahaan lokal mapan umumnya paling hanya bisa menjual sekitar Rp 2000 untuk 1 sachetnya.

Karena saya mengetahui owner dari produk yang dimaksud, maka saya menceritakan secara singkat akan perjuangan pemilik bisnis tersebut; tak lupa menekankan bagian ‘gagal belasan kali’.

Dan hal menarik kembali terjadi; seminggu kemudian klien yang sama datang kepada saya, sekedar untuk berbagi cerita saja, dan kembali menyinggung bahwa pemilik bisnis kopi instan premium tersebut sangat beruntung. Beruntung karena berhasil menjual 1 paket isi 2 sachet kopi instan seharga 1 porsi kecil makan siang di mall kelas menengah.

Dan klien tersebut mengaku lupa kalau saya pernah menceritakan kegagalan belasan kali ownernya sampai akhirnya berhasil menemukan sela di bisnis kopi tersebut.

 

Mengapa Bisa ‘Lupa’?

Saya sendiri sempat bingung dengan fenomena sosial ini. Bingungnya karena banyak sekali buku – buku inspiratif dan berbagai seminar motivasi yang sekilas tampak banyak sekali peminatnya. Buku – buku dan seminar tersebut merupakan suatu produk dengan angka penjualan yang sangat tinggi. Minimal kalau menurut data penjualan suatu toko buku besar di Indonesia yang saya ‘intip’, penjualan buku berbau motivasi dan inspirasi itu merupakan buku dengan penjualan tertinggi no-2 di Indonesia.

No-1 nya? Buku resep masakan. Dan no-3 nya lebih ke komik/ manga.

Namun lucunya lagi, orang – orang yang pernah membeli buku motivasi dan inspiratif tersebut, ketika saya tanyakan, mereka mengaku sudah membaca sampai habis isi buku tersebut; namun LUPA akan inti detail pesan yang mau disampaikan.

Dan dari sini pula, saya juga berpikir. Banyak orang yang menginvestasikan sebagian kecil penghasilan mereka untuk buku tersebut, namun investasi mereka tampaknya menjadi sia – sia. Karena mereka membaca buku tersebut hanya untuk memenuhi -ilusi telah belajar-nya saja tanpa mencoba menerapkan berbagai pesan yang ingin disampaikan dari buku tersebut.

Sebaliknya, buku – buku novel ringan (atau sering disebut sebagai chicklit atau teenlit) romantis, malah bisa diingat relatif mendetail dalam soal cerita dan konflik dalam novel tersebut. Ada apa ini?

 

Jawaban Yang Datang Dari Sebuah Film Animasi

Pada awalnya, saya hanya bisa mendapat kesimpulan sementara, ya memang karena masyarakat itu cenderung mengingat hasil akhir dan melupakan prosesnya. Titik. Tidak lebih dari itu.

Namun suatu ketika, saya menonton sebuah film animasi Jepang seputar ‘pertempuran memasak’, dan lucunya, saya mendapat jawaban dari film animasi Jepang yang sekilas hanyalah tontonan ‘sekali nonton’ tersebut.

Jawaban yang saya dapat cukup menarik dan bisa menjadi bahan pemikiran pribadi.

 

Berikut percakapan yang saya kutip dari tontonan animasi tersebut yang saya terjemahkan secara bebas.

 

Ketika ada seseorang yang berbakat, kita cenderung memuja dan mengidolakan orang tersebut. Kita menilainya sebagai sosok yang ‘beruntung’ sementara kita bukanlah orang yang seberuntung dia.

Dengan demikian, kita menjadi memaklumi dan memaafkan diri sendiri, kalau kita tidak akan bisa menjadi seperti idola kita.

Namun orang yang baru masuk ke dunia kompetisi memasak ini, bukanlah orang yang berbakat. Dia menjadi ahli dibidangnya  karena bekerja keras dan gagal berkali – kali. Orang baru ini menjadi sosok yang tidak populer dikalangan kita, meskipun dia cukup berprestasi.

Kenapa bisa begitu?
Karena kita tahu, orang baru ini sama dengan kita. Tidak berbakat sama sekali. Kalau kita sampai mengidolakan orang yang tidak berbakat ini, maka kita harus menerima kalau kita sendiri sebenarnya juga bisa berprestasi melalui kerja keras dan latihan terus – menerus.

Dan kita harus menerima kalau kita belum bekerja sekeras dan berlatih serajin dia.

Sederhananya, kalau disimpulkan, kita semua cenderung dengan sadar, melupakan proses perjuangan seseorang menjadi berprestasi, semata – mata karena kita tidak mau mengoreksi kekurangan diri kita sendiri.

Refleksi: Mengapa Banyak Spell Kekayaan Yang GAGAL?

Di kehidupan sehari – hari, sebenarnya kita sudah menemukan berbagai pelatihan penanaman program bawah sadar untuk ‘menarik’ hal yang sesuai dengan keinginan kita agar bisa terwujud. Katakanlah ada banyak pelatihan bagaimana menarik pekerjaan yang ideal, pasangan yang ideal, kebahagiaan hidup, dan berbagai pelatihan lainnya. Dan dalam konteks ini, dalam dunia sihir – menyihir memang disebut sebagai spell atau sihir itu sendiri. Demi kesederhanaan kosakata, gw akan memakai istilah spell ketimbang ‘program bawah sadar’.

Dari yg gw amati, berbagai program tersebut sebenarnya berlandaskan kepada Law of Attraction atau hukum tarik – menarik. Dan memang LoA tersebut sudah berhasil membahagiakan banyak orang. Lucunya adalah, ketika peserta menginginkan suatu hal secara spesifik, ya mereka mendapatkan apa yg mereka inginkan seperti berwisata, mengingkan suatu barang, atau menginginkan pasangan, dsb2nya. Namun apabila ketika menginginkan uang dalam jumlah tertentu, lucunya, kemungkinan berhasil justru sangat kecil. In short word, spell menarik duit seringkali lebih banyak yg gagal ketimbang berhasilnya dan berujung kepada kekecewaan orang yg melakukan spell tersebut.

Pertanyaannya, mengapa untuk keuangan, lebih banyak yg gagal ketimbang berhasil?

 

Miskonsepsi mengenai kekayaan

 

Semua gw yakin sudah tahu konsepnya Law of Attraction atau hukum tarik – menarik atau LOA. Intinya adalah kita menarik apa yg kita pikirkan dari dalam hati kita yg terdalam atau pikiran kita yg paling mendasar. Dengan demikian, apabila kita menginginkan sesuatu dengan kondisi mental bahagia, maka kita akan menarik hal2 yg bahagia. Hal ini juga berlaku sebaliknya, dimana bila kondisi mental kita serba kekurangan atau sedih, maka kita juga menarik kekurangan dan kesedihan itu dalam kehidupan kita.

Yang menjadi masalah dalam segala bentuk spell kekayaan disini adalah, anggapan umum yang beredar di masyarakat umumnya bahwa kekayaan = harta benda. Dari sisi pola pikir masyarakat umumnya, justru melihat seseorang dianggap kaya apabila orang itu memiliki rumah yg besar diperumahan elit, uang di rekening bank yang mencapai ratusan juta, milyaran, bahkan lebih, atau mobil mewah yang dipakai sehari – hari. Dengan demikian, masyarakat umumnya juga apabila melakukan spell kekayaan, mereka memvisualisasikan uang banyak dan segudang harta benda tersebut dalam pikirannya.

Satu hal yang perlu pembaca ketahui, sebagai referensi…., kita semua tahu kalau didunia ini, orang yang kaya baik materi maupun mentalnya menjadi semakin kaya. Oleh karena itu, kita perlu berpikir layaknya orang kaya agar dalam prosesnya nanti kita menjadi orang kaya juga. The thing is, orang kaya melihat uang, rumah, dan segala macam materi itu sebagai sarana dan bukan tujuan akhir.

Justru pikiran uang, rumah, mobil, dan materi2 lainnya sebagai tujuan akhir adalah pikiran dari orang2 yg kekurangan.

Dengan demikian, ketika kita menciptakan goal dalam spell kekayaan kita dan meletakkan materi itu sebagai tujuan akhir dan bukan sarana, kita menanamkan dalam pikiran kita bahwa kita adalah orang yg berkekurangan. Dan apabila kita menanam dalam pikiran kita kalau kita adalah orang yg berkekurangan, maka kita akan menarik segala kekurangan dalam diri kita bukan?

Lebih sederhananya lagi, apabila kita melakukan spell dengan memvisualisasikan uang sejumlah 100 juta tanpa tujuan yg pasti, maka pada akhirnya ada saja pengeluaran besar yang mengikuti dibelakang itu sehingga ujung2nya mungkin bukannya menikmati 100 juta itu, tapi malah menjadi lebih melarat.

 

Bagaimana semestinya spell kekayaan tersebut?

 

Sederhananya, ada beberapa faktor yang menentukan dalam keberhasilan spell kekayaan.

Faktor pertama adalah, kita melakukan spell tersebut dengan situasi mental yang bahagia dan mensyukuri segala hal yang kita miliki saat ini, sekecil apapun itu. Dengan demikian, kita bisa melakukan spell dan merasakan bahwa kekayaan sudah ada dalam diri kita sendiri.

Faktor kedua adalah tujuan kekayaan tersebut. Misalkan, apabila kita menginginkan uang dalam jumlah 1 milyar misalnya, untuk apa uang tersebut? Misalkan ternyata untuk membeli rumah, kita perlu menanyakan lagi kedalam diri kita sendiri, untuk apa rumah itu? Misalkan jawabannya adalah agar sekeluarga bisa memiliki tempat tinggal dan hidup bahagia, maka lebih baik melakukan spell yang tujuannya adalah mendapat tempat tinggal dan kebahagian keluarga; BUKAN spell uang 1 milyar. Mengapa demikian? Karena alam/ semesta/ Tuhan, apapun namanya, memiliki jalannya sendiri dalam mewujudkan yang kita minta; hindari ‘membatasi pikiran’ kita sendiri kalau kebahagiaan dan tempat tinggal itu hanya bisa diperoleh apabila kita memiliki uang 1 milyar. Dengan demikian, alam bisa mencari alternatif yang terbaik sesuai dengan kondisi kita. Contohnya:

– Bisa saja anda mengenal seorang developer yang ternyata menghadiahkan anda tempat tinggal.

– Bisa saja anda mendapatkan rumah yg anda inginkan dengan harga lebih murah, tidak harus 1 milyar karena satu dan lain hal.

– Bisa saja anda mendapat pekerjaan baru dan rumah adalah kompensasi atas posisi pekerjaan anda

– Bisa saja pasangan anda, dalam karirnya ternyata mendapat kompensasi atas proyek yang besar dan bisa beli tempat tinggal.

– Bisa saja harga saham yang anda invest melambung tinggi dalam waktu singkat sehingga anda bisa beli tempat tinggal

Dan masih banyak kemungkinan lagi yg sekali lagi, tidak akan bisa kita duga sehingga justru dengan fokus ke uang 1 milyar tersebut malah membatasi alam untuk mencari jalan terbaik bagi kita. Ingat, kita membatasi pikiran kita sendiri = membatasi alternatif yang disediakan oleh alam/semesta/Tuhan.

Faktor ketiga yang juga menentukan keberhasilan adalah justru di sikap kehidupan kita sehari – hari: hindari berlagak seperti orang susah. Tentu saja sikap ini bukan berarti kita harus boros dalam mengeluarkan uang kita. Justru orang kaya baik secara materi maupun mental cenderung disiplin dalam mengeluarkan uangnya. Dia memisahkan budget seberapa persentase untuk bersenang – senang dan seberapa persentase untuk investasi ke dirinya sendiri. Sementara orang rata2 justru menyisihkan persentase untuk senang2, keluarga, dan hal2 lain namun JARANG YANG MENGALOKASIKAN UNTUK PERKEMBANGAN DIRI SENDIRI. Apabila kita ingin mendapat banyak rejeki, ya kita perlu siap untuk menginvestasikan sebagian kekayaan kita didepan.

Sebagai contoh, apabila anda adalah seorang karyawan kantoran, maka anda perlu menyisihkan dana untuk mengikuti pelatihan/ seminar yang mendukung karir anda DENGAN ATAU TANPA SUBSIDI KANTOR tempat anda bekerja. Atau apabila anda memang memerlukan suatu gadget seperti laptop agar pekerjaan anda semakin fleksibel dan efektif, maka anda PERLU MEMBELI SENDIRI ketimbang, sekali lagi, MENUNGGU SUBSIDI KANTOR. Hal itulah yang gw maksudkan hindari menjadi kayak orang susah, karena sekali lagi….orang kaya melakukan sesuatu dengan kekuatan yang dia miliki saat ini, bukan menunggu bantuan kantor. 😀

Demikian 3 faktor yg gw lihat dan gw pelajari sangat mendukung dalam keberhasil spell kekayaan tersebut. Gw sendiri sebagai penulis artikel ini, gw belom menjadi orang kaya yang ‘dikategorikan’ masyarakat umumnya. Namun gw sendiri sudah sangat kaya karena gw memiliki karir yang sesuai dengan passion gw. Gw sudah sangat kaya karena gw bisa mengatur sendiri waktu kerjaan dan keran pendapatan gw kapan mengalir dan kapan ditutup terlebih dahulu. Dan hal yang terbaiknya adalah, gw kaya karena gw menjaga keseimbangan antara kekayaan materi dengan kekayaan spiritual gw. I have lots of money, and I can be happy with or without that money.

REFLEKSI: Apakah Kita Masing – Masing Adalah Unik?

Ada suatu penyataan yang cukup menggelitik bagi saya. Dari berbagai nasehat motivasi, berbagai pepatah, dan sumber – sumber lain, selalu berusaha untuk meyakinkan kita bahwa diri kita masing – masing adalah edisi terbatas a.k.a limited edition. Setiap individu adalah unik dan tidak ada dua nya, bahkan anak kembar sekalipun tetap memiliki perbedaan.

Namun dari sekian banyak pesan demi pesan mengenai perlunya kita menyadari keunikan diri kita masing – masing, seiring dengan jam terbang saya sebagai tarot reader, tampaknya kalimat tersebut perlu direvisi. Mungkin memang dari sisi fisik dan potensi dalam diri kita masing – masing, kita memang unik. Namun dalam hal perilaku, pengalaman saya berbicara sebaliknya ternyata. Saya akan memberikan dua contoh yang berasal dari curhatan klien saya (tanpa membongkar identitas tentunya)

Contoh pertama adalah mengenai seorang wanita dan pria yang pacaran. Dalam hal ini, si pria sangat mendominasi dan cenderung mengatur segala hal mengenai pasangan wanitanya. Mulai dari siapa saja yang boleh berteman dengan wanita tersebut, kapan waktu pacaran, kapan si wanita ini perlu melayani si pria, termasuk si wanita dituntut tahu apa saja yang disukai dan tidak disukai si pria dan masih banyak lagi.

Parahnya lagi, si pria juga melakukan kekerasan fisik terhadap si wanita seperti menampar dan membenturkan kepala wanita itu ke dinding. Belum lagi si pria selalu mengintimidasi si wanita, betapa beruntungnya si wanita itu bisa sama dia dan seharusnya dia bersyukur.

Melihat contoh ekstrim diatas, anda merasa si pria memang benar – benar kurang ajar dan apabila anda berada di situasi wanita tersebut, anda yakin akan dengan tekad yang bulat, meninggalkan pria itu bukan?

Tapi dalam kenyataannya, wanita yang berada di situasi tersebut, hampir 100% justru mencari segala cara dan pembenaran agar dia tetap bisa bersama dengan si pria yang melakukan kekerasan fisik dan verbal ini. Terdengar mustahil? Pengalaman saya dan tarot reader lainnya telah membuktikan itu. Dan ternyata, justru dengan memberi kekerasan fisik dan verbal, berdampak adanya ikatan psikis dengan pasangan, meskipun dalam artian yang tidak sehat tentunya. Dan membuat si wanita itu untuk lepas dari pria yang membelenggunya, ternyata bisa memakan waktu berbulan – bulan bahkan bisa sampai tahunan apabila situasinya sampai sedemikian parahnya.

Dan mungkin setiap wanita yang mengalami kejadian diatas baik versi ekstrimnya maupun ‘versi lebih halus’nya akan merasa bahwa dia berada disituasi tanpa solusi dan dia adalah satu – satunya wanita yang mengalami hal seperti itu.

Kenyataannya? Sayang sekali, justru sangat banyak wanita yang mengalami hal diatas dimana si pria sangat mendominasi dan wanita berkewajiban untuk menurut tanpa mempertanyakan keputusan pasangan pria nya.

Untuk contoh keduanya, bagaimana dengan soal pekerjaan?

Saya rasa semua orang sudah tahu kalau anda cukup mampu secara ekonomi, ketika masih muda, anda diwajibkan 3 hal ini:

Mengambil pendidikan setinggi mungkin dan jurusan yang dianggap bermasa depan cerah. Kemudian mencari pekerjaan di perusahaan yang besar (baik gedung maupun namanya). Hidup mapan, menikah, punya anak, dan meninggal dengan tenang.

Masalahnya, dunia bukan sesederhana jalan hidup diatas. Ada banyak faktor disekitar kita yang adakala menuntut kita untuk lebih kreatif dalam menyikapi hidup sehingga jalur diatas bukanlah satu – satunya jalur yang absolut benar.

Namun ternyata, hampir mayoritas klien yang datang ke saya (dan juga ke tarot reader lain tentunya), apabila profesinya adalah karyawan, selalu memiliki pola pikir yang diatas seakan – akan perusahaan besar pasti menjamin hidup mereka dan itu satu – satunya jalan menuju bahagia. Meskipun pada kenyataannya:

“Semakin besar suatu perusahaan, semakin minim perhatian perusahaan kepada kesejahteraan  karyawannya terutama karyawan manajemen menengah kebawah.”

Saya tau saya terkesan menggeneralisir, namun pembaca pasti mengerti maksud saya.

Jadi pertanyaannya adalah…. Apakah fenomena diatas masih meyakinkan anda kalau setiap orang adalah unik?

Mungkin secara potensi masing – masing individu, bentuk dan profil fisik, dan latar belakang memang berbeda – beda. Namun respon kita manusia dalam menanggapi sesuatu, tampaknya terpola sedemikian rupa sehingga ada ilmu yang namanya psikologi yang mampu memetakan pola perilaku manusia tersebut.

Namun bukan berarti kita tidak bisa menjadi pribadi yang unik…, bukan seperti itu. Kita bisa saja menjadi seseorang yang unik dengan konsekuensi menghadapi pengucilan orang – orang yang ‘tidak unik’, menghadapi cemoohan  dan bahkan kekerasan fisik atau verbal dari orang – orang yang memang tidak unik. Tentu saja reward atau hasil yang didapat dari menjadi pribadi yang unik juga jauh lebih besar ketimbang resiko menjadi pribadi unik yang sudah cukup besar.

Jadi, pertanyaannya…., apakah kita masing – masing adalah unik?

Atau lebih spesifiknya, apakah anda adalah orang yang unik?

Refleksi : Tidak Ada Satu Bidang Pendidikan/ Karir Yang Lebih Berprospek Ketimbang Yang Lain

Kembali tulisan ini gw ambil dari hasil evaluasi, observasi, dan ringkasan cerita yang gw dapatkan dari curhat klien tarot gw selama ini. Topik kali ini adalah seputar pendidikan terutama pendidikan kuliah, dan sekaligus karir yang mengikutinya. Sekali lagi, artikel ini hanyalah opini pribadi gw yg dibuat dalam bentuk hipotesa saja karena gw sendiri menganalisisnya dari banyak cerita klien.

90% klien yang datang ke gw, baik pengusaha, pekerja kantoran, sampai mahasiswa, tak terkecuali juga istri yg sangat peduli dengan karir suami, selalu menanyakan seputar, “Karir apa yang cocok?” atau “Karir apa yang berprospek kedepannya?”. Dan setiap kali klien bertanya demikian, setiap kali itu juga gw selalu menjawab “Karir yang cocok untuk anda (atau pasangan anda) adalah karir yang dimana dia menikmati/ suka dalam mengerjakannya dan semua karir memiliki prospek yang bagus.”

Mungkin terdengarnya sangat aneh bagi orang – orang yang sudah terbiasa mendengarkan berbagai wejangan dari para pakar feng shui populer yang bisa dengan sangat spesifik menentukan kerjaan yang cocok untuk seseorang ataupun bisa dengan sangat spesifik menentukan karir yang berprospek saat ini. Namun gw dengan sengaja memang mengarahkan jawaban yang sekilas ambigu tersebut bukan tanpa alasan. Jawaban tersebut dilandaskan pada 2 faktor utama yang bagi gw sendiri menjadi sangat penting.

 

Untuk apa karir yang berhasil kalau pelakunya sendiri tidak bahagia?

Mungkin ini terdengar klise dan sangat naif/ polos kalau tidak bisa dibilang sangat/ terlalu idealis. Namun gw yakin kalian sebagai pembaca akan berpikir berkali – kali ke-naif-an gw kalau gw share sedikit cerita2 klien.

Banyak kasus dimana memang klien2 gw, sebut saja si A, cenderung diarahkan oleh masyarakat atau oleh ortu mereka bahwa si A cocok untuk kerja di bidang tertentu dengan segudang alasan yang sangat meyakinkan bahwa si A benar2 bagus disana. Masalah yang sering muncul adalah, si A memang ahli dibidang yang ditunjuk/ disarankan tersebut. Hanya saja si A ternyata kurang menikmati bidang yang menjadi keahlian karena 1 dan lain hal. Uniknya, bidang yang diminati si A seringkali adalah bidang yang dianggap lemah oleh orang2 sekitarnya ataupun orang tuanya sendiri dimasa itu.

Apakah si A berhasil dan sukses di karirnya? Yes, dia memang sukses di karirnya bahkan menduduki suatu jabatan tertinggi disuatu industri. Bagi orang yang melihat posisi si A, mungkin pada iri dan berharap suatu hari bisa menduduki jabatan seperti itu. Tapi apa yang terjadi? Si A curhat ke gw kalo dari awal dy meniti karir sampai sekarang, dia merasa tidak bahagia. Dia hanya menjalankan apa yang ‘diminta’ oleh lingkungan sekelilingnya dan dia menjalankan tersebut dengan berhasil. Masalahnya, semakin dy berada di puncak, semakin dy merasa sangat kosong dan mempertanyakan untuk apa pencapaiannya semua ini kalau hanya sebatas untuk diakui oleh orang lain? Kalau hanya sebatas untuk membuat orang lain memandang dirinya? Dan dia sampai di satu titik dimana si A sampai kelepasan ngomong kalau bagi dia, lebih enak menjalankan apa yang dia suka dari dulu meskipun dengan konsekuensi karirnya tidak secemerlang sekarang. Karena duit banyak dan posisi yang tinggi ternyata justru melahirkan pertemanan yang cenderung opportunis. Bahkan si A ini sempat berpikir untuk keluar dari pekerjaannya dan membuat bisnis yang dia memang suka.

Itu adalah cerita rekapan dari beberapa klien yang melakukan apa yang tidak dia suka namun berhasil. Bagaimana dengan klien2 yang melakukan apa yang tidak mereka suka dan tidak berhasil? Well, bisa ditebak, mereka menemui sikon yang memang jauh lebih buruk daripada si A ini. Bisa dikatakan sudah mereka tidak berhasil (menurut standard mereka masing2), mereka tidak menikmati pekerjaannya dan melakukannya dengan sangat terbebani (dari sinilah lahir I hate Monday dan anggapan hidup itu hanya dinikmati di hari Sabtu dan Minggu), namun di sisi lain, mereka juga tidak berani keluar dari zona nyamannya dengan berbagai alasan seperti sudah menikah dan menjadi tulang punggung keluarga, fisik yang sudah lelah ketika selesai bekerja, usia sudah tua, dsb2nya.

Orang2 seperti ini, pada akhirnya terjebak dalam lingkaran setannya masing2 dan sangat sedikit yang pada akhirnya mau berjuang lepas dari lingkaran setan yang disebut zona nyaman tersebut. Dari sini, jangan heran kalau banyak yang pada akhirnya orang2 seperti ini mengidap penyakit yang aneh2, termasuk penyakit yang dari histori keluarganya pun tidak ada. Karena seperti yang kita ketahui, stress berkepanjangan justru bisa membawa  berbagai penyakit yang tidak terduga bukan?

Dan pertanyaannya adalah, apakah kalian menginginkan hidup seperti itu?

 

Tidak ada yang bisa memprediksikan prospek suatu karir di masa mendatang

Ada 1 kelemahan yang tidak disadari oleh banyak orang. Yaitu, prospek suatu karir atau pendidikan saat ini ditentukan oleh banyaknya permintaan tenaga kerja di bidang yang bersangkutan SAAT INI. Masalahnya adalah, pendidikan bukanlah suatu proses yang instant; melainkan butuh waktu bertahun – tahun. Anggaplah minimal 3 tahun untuk ekonomi dan bisa lebih panjang lagi untuk bidang lain seperti kedokteran misalnya. Sementara itu, waktu 3-4 tahun adalah waktu yang cukup dimana permintaan suatu industri akan berubah. Apabila saat ini permintaan lulusan ekonomi sangat tinggi, dalam 2-3 tahun bisa saja justru jurusan hukum yang lebih tinggi dan selang beberapa tahun lagi justru fakultas design yang permintaannya tinggi. Memilih suatu bidang perkuliahan hanya karena alasan tuntutan industri sudah terbukti merupakan suatu langkah yang sembrono.

Dari berbagai cerita2 klien gw juga, gw mengambil kesimpulan sementara, memang tidak ada 1 karir yang lebih berprospek ketimbang karir yang lain. Sebagai contoh, banyak orang awam yang melihat profesi dokter adalah profesi yang prestisius dan menghasilkan banyak duit. Itu karena masyarakat cenderung menilai dari dokter2 yang mereka datangi ke rumah sakit dan terkesan mereka hidup makmur. Padahal di lapangan, hanya segelintir dokter yang bisa menikmati hidup mewah dan memiliki tempat praktek sendiri. Segelintir dokter yang bisa menikmati kemewahan pun disebabkan banyak faktor seperti misalnya ‘warisan dari orang tua’ karena orang tuanya juga dokter, atau memang si dokternya sendiri juga telah berjuang secara gigih dan konsisten. Masih banyak dokter lain yang belum memiliki tingkat kehidupan yang layak namun bekerja dengan tingkat resiko yang sangat tinggi.

Dan ada juga profesi seperti animator yang di mata publik terkesan diremehkan, namun kenyataannya, banyak tenaga animator Indonesia yang sudah meniti karirnya hingga keluar negeri dan berhasil.  Dari sekian banyak dinamika, gw sendiri melihat keberhasilan seseorang sama sekali bukan ditentukan dengan profesi ataupun karir yang dia pilih berprospek atau tidaknya. Melainkan apakah orang tersebut mau dengan konsisten mengembangkan karirnya dan tidak hanya duduk terpaku mengharapkan rejeki ataupun peningkatan karir dari langit.

Sebelum gw menutup tulisan ini, gw juga akan membagikan rekap cerita klien gw soal pekerjaan dan karirnya. Intinya, mereka yang telah berhasil, selalu dinilai sebagai pribadi yang hebat, berbakat, pasangan ideal, dan menjadi tolok ukur kesuksesan yang akan diterapkan ke anak2 dari para penilai tersebut. Hanya saja masyarakat yang memandang tinggi klien2 gw, mereka ternyata tidak tahu untuk mencapai kesuksesan seperti mereka,… seberapa keras perjuangannya, berapa banyak kesedihan yang mereka alami, berapa kali mereka menghadapi konflik dengan keluarga dan sahabat sendiri, dan worse of all, seberapa malunya mereka saat dipermalukan orang2 ketika mereka belom menjadi siapa2.

Refleksi: Aktif-Pasif Dari Seorang Wanita

Well,…apabila sebelumnya saya merangkum pembahasan mengenai seorang pria berdasarkan dari cerita2 klien, maka kali ini saya akan mulai membahas seorang wanita.

Page of Cups

Apabila dalam post sebelumnya saya menekankan pria dari sisi ego nya, maka untuk kali ini, saya akan membahas wanita terutama dari sisi perasaannya. Dan sama dengan tulisan sebelumnya, saya membagi menjadi 2 kutub ekstrim: wanita yang bisa memutuskan untuk menjadi aktif dan wanita yang memutuskan menjadi pasif. Sekali lagi, ini hanyalah gambaran umum dan saya tulis berdasarkan pengalaman saya di jakarta. Jadi silahkan bercermin dan mungkin akan ada yang mirip dengan situasi anda saat ini. Kenapa saya lebih menggunakan pasif dan aktif sebagai indikator? Karena budaya di Indonesia cenderung mendorong wanita untuk menjadi pasif dan menunggu nasib saja ketimbang pria yang dituntut untuk aktif setiap saat dalam menjalani hidup. Namun seiring dengan waktu, sudah mulai terjadi perkembangan dimana mulai ada yang mencoba untuk menjalani hidupnya secara aktif dan berusaha tanpa bantuan dari orang lain dan tidak hanya menunggu saja. Khusus untuk topik ini, perlu diingat bahwa apabila seorang wanita aktif dalam 1 hal, belum tentu dia aktif dalam hal lain. Jadi apabila seorang wanita sangat aktif dalam pekerjaan, belum tentu dia juga aktif dalam hal relasi.

Aktif-Pasif Dalam Karir

Untuk hal yang berkaitan dengan karir, seorang wanita cenderung memiliki pandangannya sendiri-sendiri dan sangat beragam. Untuk wanita yang pasif dalam karirnya, maka wanita ini cenderung mencari pekerjaan yang bisa memperoleh penghasilan dan membuat dia cukup sibuk saja. Seringkali wanita seperti ini ujung-ujungnya memang sudah puas apabila meskipun berada di posisi staff dan tidak mengharapkan kenaikan karir seperti pria. Ini lebih disebabkan karena pola pikir wanita seperti ini cenderung menganggap dirinya toh akan menjadi ibu rumah tangga secara full time setelah menikah nanti. Kalaupun masih bekerja, dirinya akan menganggap sebagai penyokong tambahan finansial keluarganya, bukan sebagai sumber finansial utama.

Berbeda dengan wanita yang pasif, wanita yang aktif dalam karir cenderung memiliki ambisi untuk selalu meningkat dalam jenjang karirnya. Oleh karena itu, seringkali wanita yang aktif dalam karir justru mencari pekerjaan yang bisa membuat dia bereksplorasi lebih potensial dirinya. Dengan demikian, wajar apabila wanita seperti ini cenderung tidak hanya ingin menjadi staff yang duduk dibelakang meja saja, melainkan lebih suka memilih pekerjaan yang menuntut dia untuk sering jalan-jalan keluar kantor dan bertemu dengan banyak orang baru diluar sana. Berkaitan dengan pria, wanita seperti ini perlu dimengerti bahwa setelah menikah pun, dia masih ingin beraktifitas sehingga pria yang mendapat wanita seperti ini tidak bisa berharap sepenuhnya si wanita untuk menjadi ibu rumah tangga secara full-time.

Aktif-Pasif Dalam Relasi/ Cinta

Dalam hal percintaan, seringkali saya menemukan jalan hidup yang sangat bertolak belakang dan menjadi tolok ukur dari keseluruhan hidupnya wanita tersebut. Jadi, apabila anda melihat jalan cinta seorang wanita secara garis besar saja, maka anda sudah memiliki gambaran terlengkap bagaimana seorang wanita menjalankan hidupnya.

Wanita yang cenderung pasif dalam cinta cenderung menunggu seorang pria yang menurut dia tepat untuk dirinya. Tepat dalam artian disini adalah seorang pria harus mendekati si wanita dan wanita itu harus menyukai/ tertarik terhadap pria yang mendekatinya itu. Jadi, apabila kita hitung-hitung dengan perumpamaan statistik saja, kemungkinan seorang pria mendekati wanita atau tidak adalah 50%, dan apabila seorang pria memang mendekati wanita itu, kemudian kemungkinan si wanita menyukai pria atau tidak itu adalah 50%, maka kemungkinan TERBESAR dari seorang wanita pasif mendapat pria yang tepat menurut dirinya (pria yang aktif mengejar dia dan disukai si wanita), adalah 50% x 50% alias 25% sebagai hasil akhirnya.

Dengan kemungkinan yang cukup kecil alias 1 berbanding 4 ini (belum dimasukkan faktor lain yang juga ikut memperkecil kemungkinan mendapat pria yang tepat untuk dirinya), maka tidak heran wanita seperti ini cenderung suka melamun mengharapkan hubungan yang ideal dengan seorang pria, namun nyaris tidak melakukan hal apapun yang berarti untuk mendekatkan dirinya kepada pria yang disukainya itu. Dalam banyak kasus, seringkali wanita seperti ini memilih lari ke agama dan menganggap semuanya dia serahkan kepada Tuhan. Saya tidak akan membahas lebih lanjut mengenai sisi agamanya karena akan berbuntut sangat panjang, namun ini bisa menjadi tolak ukur apabila anda melihat seorang wanita yang memasang statusnya entah di facebook atau di twitter, atau dari cara bicaranya sehari-hari selalu mengaitkan jodohnya dengan kuasa Tuhan, bisa dipastikan wanita ini sangat pasif dalam hal percintaan.

Resiko yang cukup besar dari wanita seperti ini adalah apabila wanita ini mendapat pria yang dia idamkan dan kemudian seiring dengan waktu, hubungannya menjadi kandas, maka masa pemulihan emosionalnya dari hubungan yang kandas tersebut bisa memakan cukup banyak waktu, BAHKAN SAMPAI TAHUNAN.  Resiko lainnya adalah kecenderungan wanita tipikal ini untuk lebih banyak menuntut dalam hatinya ketimbang memberi kepada pria yang dia sukai. Ini disebabkan karena wanita seperti ini yang cenderung menunggu saja dan jarang mengeskpresikan apa yang dia inginkan. Jadi pesan untuk para pria diluar sana, pastikan anda benar-benar mencintai wanita tipe seperti ini karena hatinya sangat mudah terluka dan meninggalkan trauma yang berkepanjangan.

Sedangkan wanita yang aktif dalam hal percintaan, bisa dikatakan dia sudah menaikkan kemungkinan memiliki pasangan yang dia inginkan menjadi 50%. Dan tentu saja peluang dia untuk benar-benar menemukan lelaki yang tepat untuk dirinya juga lebih besar ketimbang wanita yang pasif. Justru problem yang sering timbul adalah konflik yang disebabkan karena ego si pria yang tidak mau wanitanya menjadi seimbang posisinya dalam hal relasi. Selain itu, wanita seperti ini bisa dikatakan memiliki standard yang cukup tegas dalam memilih seorang pria yang menjadi pendamping hidupnya. Akibatnya, justru mayoritas pria malah lebih sulit untuk mendapatkan wanita seperti ini dan ini jugalah yang menjadi alasan kenapa wanita yang aktif dalam hal relasi cenderung memiliki banyak teman pria ketimbang wanita: karena memang banyak pria yang menyukai wanita seperti ini. Wanita yang aktif dalam relasi bukan berarti wanita itu sangat agresif, melainkan wanita itu lebih menginginkan pendekatan yang seimbang antara pria dan wanita agar relasinya bisa dinikmati secara seimbang dan dengan harapan wanita juga sebagai pemberi, bukan hanya sebagai pihak penerima saja.

Resiko dari wanita dengan pola relasi yang aktif seperti ini adalah, wanita ini cenderung banyak bergaul dan memiliki banyak teman meskipun memang belum tentu teman dekat. Wanita seperti ini sangat tidak dianjurkan untuk pria yang ego nya masih sangat tinggi dan menginginkan wanita pasangannya hanya memikirkan si pria saja dan belajar untuk mengesampingkan teman2nya. Karena pada akhirnya, si pria sendiri tidak akan bisa memenuhi kebutuhan egonya dari wanita seperti ini. Untuk pria yang memang ingin mencari wanita agar bisa didominasi, silahkan cari wanita yang pasif saja dalam hal relasi.

Aktif – Pasif Dalam Mengejar Rasa Aman Dalam Materi

Kenapa saya masukkan rasa aman sebagai pembahasan? Karena mayoritas wanita memang sangat mengejar rasa aman dan nyaman secara materi. Aman dan nyaman disini dalam artian keinginan memiliki rumah, mobil, bisa berbelanja secara wajar, punya suami yang mapan, dan masih banyak lagi tergantung persepsi si wanita itu sendiri.

Nah, untuk wanita yang cenderung pasif dalam mengejar rasa aman ini, mereka akan cenderung pasrah dari apa yang pasangan mereka berikan kepada dirinya, dan mereka akan berusaha mensyukuri apa yang mereka dapat dari pasangannya. Tentu saja untuk para pria, ini menjadi suatu kabar baik tersendiri dalam mencari pasangan apabila mendapatkan wanita yang pasif dalam mengejar rasa aman secara materi ini.

Sedangkan wanita yang cenderung aktif dalam mengejar rasa aman ini, sebenarnya terbagi lagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu kelompok wanita yang berusaha mengejar sendiri rasa aman itu entah dengan berbisnis, bekerja keras, ataupun usaha lainnya secara mandiri. Sedangkan kelompok yang lain adalah wanita yang mengejar rasa aman itu MELALUI orang lain. Kelompok kedua inilah yang seringkali disebut sebagai wanita matre secara ekstrim. Apabila seorang pria menemukan wanita yang aktif dalam mengejar rasa aman NAMUN dalam taraf wajar dan mereka berusaha memenuhinya secara mandiri, si pria tetap bisa mempertahankan wanita seperti ini karena dengan langkah yang tepat, si wanita dan pasangannya justru bisa saling mendukung entah dengan berbisnis sama2, bekerja sama2, dan bentuk2 aktifitas lainnya yang membuat kedua pihak sama2 diuntungkan.

Yang perlu diperhatikan, justru apabila pria menemukan wanita yang mengejar rasa aman secara materia MELALUI orang lain, si pria betul2 sangat disarankan untuk memerikan apakah dia mampu memenuhi kebutuhan si wanita secara finansial. Ini disebabkan karena wanita seperti ini akan cenderung membandingkan pasangan pria nya dengan pasangan pria teman2nya yang lain. Ambillah contoh ada pasangan x dan pasangan y. Wanita x menceritakan ke wanita y kalo pasangannya, si pria x ini telah memberikan dia sebuah hadiah materi yg sangat mahal. Apabila wanita y ini merupakan orang yg matre, maka wanita y akan meminta pria y nya untuk membelikan materi apapun yg membuat posisi si wanita y ini sebanding dengan wanita x. Hal ini akan sering terjadi dan tidak akan ada habis2nya selama relasi dengan wanita matre ini berlangsung. Jadi apabila anda sebagai pembaca adalah seorang pria, berhati-hatilah dan pastikan finansial anda memang sangat kuat apabila anda menginginkan wanita yang seperti ini.

Sekian uraian ringkas saya mengenai wanita. Comments welcome yah. Hehehehehe

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers:

%d bloggers like this: