Tips For Becoming Professional Reader

Setelah sekian tahun gw menjadi tarot reader profesional, ada banyak hal yang gw pelajari  baik dari pengalaman yang menyenangkan maupun pengalaman yang tidak mengenakkan. Saat ini pun gw sendiri masih terus belajar dari naik turunnya kehidupan gw dan juga dari sharing dari temen2 gw baik sesama tarot reader maupun yang bukan. Dari berbagai pengalaman tersebut, kali ini, dalam bentuk tulisan, gw akan membagikan seputar tips yang bisa saja temen2 gunain dalam karir profesionalitas kalian sebagai tarot reader baik yang menjadi profesi utama maupun sekedar hobi. Tentu saja tips yang gw berikan masih perlu untuk dibenahi seiring dengan bertambahnya jam terbang gw dan masukan juga dari teman – teman. Oleh karena itu, segala masukan untuk artikel ini gw terima dengan tangan terbuka.

 

Networking is a Must!

Yup….seperti yang gw tulis diatas, seorang tarot reader WAJIB memiliki jaringan yang luas. Caranya juga bisa macam2. Gw sendiri ngepost thread jasa gw di forum terbesar di Indonesia, memiliki website sendiri, dan dari klien2 yang gw temuin, gw terus follow-up lepas dari apapun latar belakang mereka, posisi karir, dan posisi finansial mereka. Karena kita tidak akan pernah tahu kalau klien yang memakai jasa kita saat ini adalah hanya karyawan staff biasa, setahun kemudian dia sudah jadi direktur.

Di sisi lain, kita juga bisa menambah jaringan orang2 yang kita kenal melalui pertemua2 komunitas yang TIDAK BERKAITAN DENGAN PROFESI kita. Jadi kalau gw seorang tarot reader, cari komunitas lain seperti komunitas sulap, ataupun komunitas orang yang suka makan, atau bahkan aktifitas2 sosial lain yang tidak berhubungan dengan profesi kita secara langsung. Nah…dalam perkumpulan tersebut, selama bukan perkumpulan suatu agama yang fanatik, silahkan anda umumkan diri anda sebagai tarot reader (atau memberitahukan kalau anda juga bisa baca tarot disamping pekerjaan utama anda) dan bagikan kartu nama anda. Believe it or not……, meskipun awal2 anda akan mendapatkan kesan nyinyir atau ekspresi aneh dari lawan bicara, atau anda mendapat senyum yang dipaksakan, pada akhirnya ketika mereka pulang kerumah, mayoritas akan penasaran dengan kemampuan anda. Penasaran itu bia menjadi langkah awal yang bagus untuk mendapatkan klien bukan?

 

Hindari sikap “gw tau segalanya”

Mayoritas tarot reader di Indonesia, terjebak dalam sikap ini dimana mereka merasa tahu akan semua hal . Justru karena seorang Tarot Reader kalau diumpamakan adalah seorang -kounselor jalanan- (alias orang yang menerima konsultasi secara informal), maka lebih baik gunakan sikap mendengarkan yang baik, empati, dan merasa tertarik dengan apa yang sedang dialami klien. Ucapan2 yang bernada negatif seperti “kamu akan putus” , “kamu akan keluar dari kerjaan ini”, dan ucapan lainnya yang menunjukkan reader bener2 tahu nasib seseorang, sama saja dengan membuat klien anda tidak nyaman, segera bayar, pergi, dan PERGI SELAMANYA. Sebagai informasi, mayoritas klien gw sendiri adalah klien yang tidak puas dengan hasil konsultasi mereka dengan beberapa “tarot reader senior serba tahu” tersebut, dan ex-klien tarot reader tersebut malah repeat order dengan diri gw sendiri dalam jangka waktu 1-2 bulan (kalo repeat ordernya seminggu sekali, artinya kita tidak berhasil membantu mereka bukan?).

 

We can’t help ALL PEOPLE

Yup…..seperti yang gw tulis, kita tidak bisa menolong SEMUA ORANG. Adakalanya klien yang berkonsultasi dengan kita, ternyata memiliki kasus yang DILUAR KAPABILITAS kita tanpa mereka sadari. Misalnya, gw sendiri sering menemukan klien yang sering bertengkar dengan pacarnya, namun klien tersebut tetap ingin rujuk dengan pacarnya. Orang yang terus bertahan terhadap siksaan pasangannya, padahal menikah aja belum, didalam ranah psikologis itu sudah termasuk penyakit psikis dan perlu segera diberi therapi. Atau kalau seorang reader menemukan seorang klien memiliki penyakit fisik tertentu dan meminta untuk disembuhkan, kecuali tarot reader memiliki kapabilitas didunia mdis (baca: memang seorang dokter), sebaiknya referensikan dokter yang bisa dipercaya.

Ingat….hindari mencoba menjadi seorang pahlawan untuk sesuatu yang diluar kapabilitas kita dan kalau sewaktu – waktu itu terjadi, lebih baik rujukkan ke orang yang lebih ahli dalam hal tersebut. Anda mungkin mendapatkan uang sejumlah tertentu kalau berlagak menjadi pahlawan bagi mereka, namun konsekuensinya tidak sebanding dengan uang yang anda terima.

 

Empati itu adalah keharusan

Sederhananya, untuk mendapatkan repeat order dari klien atau menjadikan klien tersebut sebagai salah satu teman kita, ya memang kita perlu berempati layaknya seorang sahabat yang mau mendengarkan. Namun untuk klien – klien baru, kemungkinan besar mereka akan membuat dinding psikologis agar kita tidak terlalu tahu dengan urusan mereka. Well….kita memang dianjurkan untuk tidak terlalu ikut campur urusan mereka atau berkewajiban mendobrak dinding psikologis mereka. Namun gw menemukan 1 cara ampuh (yang juga dipakai oleh orang2 lain di bidang komunikasi dan psikolog) agar seseorang mau terbuka atau setidaknya menerima diri kita secara psikologis:

Apabila klien tersebut adalah pekerja atau pemilik usaha tertentu, cukup tanyakan bagaimana ia bisa mencapai posisinya yang sekarang. Apabila klien tersebut bukan pekerja/ pengusaha (ibu rumah tangga, mahasiswa, dsbnya), cukup tanyakan mengapa dia suka akan aktifitas hobinya atau aktifitas2 lain yang dia sukai.

Ini disebabkan, lepas dari apakah dia menikmati atau tidak aktifitas yang dia kerjakan, manusia cenderung menyukai menceritakan dirinya dan langsung menganggap lawan bicaranya sebagai teman dekatnya APABILA diberi kesempatan untuk membicarakan mengenai dirinya. Ga usa munafik, orang -cenderung- mau bekerjasama ataupun menetapkan pilihannya ke orang yang ‘disukai’ , bukan yang berkinerja bagus ataupun bekerja objektif.

 

Kalau mesti memasang tarif, pasanglah tarif sedikit dibawah ‘nilai jasa anda’

Bagian ini memang sangat sensitif karena berhubungan ama duit. Penjelasannya adalah…… klien akan menilai/ mengukur nilai dari konsultasi kita sebesar biaya yang mereka bayar. Memasang tarif yang terlalu tinggi akan membuat ekspektasi klien meningkat sangat tinggi, yang dimana jarang sekali ekspektasi tersebut akan bisa dipenuhi oleh tarot reader. Sementara kalau harga  terlalu rendah, maka klien akan melihat jasa yang tarot reader tersebut adalah jasa yang ‘murahan’. Bagaimanapun kasusnya, memasang harga terlalu tinggi atau terlalu rendah, memang bisa mendapatkan klien yang mampu membayar sesuai tarif kita, namun justru kemungkinan klien repeat order malah semakin kecil. Kasus repeat order semakin kecil lebih sering ditemui apabila seorang tarot reader mematok harga sangat tinggi bagi kliennya.

Pada dasarnya, untuk menetapkan tarif, yang paling ideal adalah kita perlu mengetahui posisi / situasi keuangan klien. Apakah dia adalah seorang direktur, seorang manajer, pengusaha, atau staff, atau lainnya? Dari situ kita bisa memperkirakan tarif wajarnya bagaimana si klien itu memandang jasa kita. Setelah kita tahu, maka kita bisa memasang tarif sedikit lebih rendah dari semestinya. Jadi, misalkan nilai jasa kita dimata klien adalah 300.000 , maka kita bisa memasang tarif 250.000 . Kenapa? Prinsip marketing dimana kita memberi nilai melebihi ekspektasi klien juga berjalan disini terutama untuk mendorong repeat order klien.

Namun itu kalau situasinya si reader bisa menerka – nerka ataupun memang insting seorang reader sangat kuat dalam menilai seorang klien bukan? Bagaimana kalau seorang Tarot Reader pemula ingin menetapkan tarifnya? Di satu sisi dirinya baru beberapa bulan menjadi profesional sementara di sisi lain, seorang tarot reader tidak mau dianggap remeh dengan biaya yang terlalu rendah.

Dari pengalaman gw sendiri, untuk konsultasi private, untuk tarot reader pemula, lebih baik mematok harga SEIKHLASNYA ke klien. Yes…..SEIKHLASNYA. Kenapa? Karena ketika seseorang mematok harga seikhlasnya, bagaimanapun jasa yang kita berikan akan MELEBIHI EKSPEKTASI klien sehingga klien akan membayar nilai jasa kita sesuai kemampuan si klien sekaligus akan melakukan repeat order apabila memang dia membutuhkan konsultasi diwaktu mendatang. Apabila anda sudah memiliki jam terbang yang cukup tinggi dan waktu anda benar2 sangat sibuk, barulah kalian bisa memasang tarif yang anda rasa cocok dengan nilai jasa anda.

 

Gunakan sikap “Anda yang butuh saya, bukan sebaliknya.”

Maksudnya disini bukanlah berarti seorang tarot reader harus sombong didepan klien. Mungkin kata yang lebih tepatnya adalah “Bawa santai” ketika kita sedang negosiasi dengan klien. Dengan demikian, kita kudu bersikap apabila klien tidak suka dengan  kesepakatan kita atau memang tidak menghargai (setelah proses tawar-menawar), ya kita masih ada banyak klien lain yang mau memakai jasa kita kok. Ini disebabkan karena apabila kita mengambil sikap seakan – akan kita tidak terlalu butuh dengan klien tersebut, justru malah menarik rasa penasaran klien dan ketersediaan mereka untuk memakai jaa tarot reader. Layaknya mencari pasangan….seorang individu, baik ce maupun co, kalau sudah punya pacar ya cenderung dikejer/ digebet ama orang lain juga justru karena individu tersebut memang tidak butuh orang lain yang menggebet dia……yang ujung2nya memberikan tantangan kepada orang diluar untuk mengejar/ merebut individu tersebut. Sementara kalau seseorang lagi single, justru malah pasaran jadi sepi karena terkesan desperate butuh pasangan bukan?

Satu hukum utama disini adalah, hindari kita bersikap seakan – akan kita lagi desperate butuh duit. Mengapa? Karena ketika klien mencium gelagat kita sedang desperate, maka 80% kita akan ‘dimainkan’ oleh klien itu. Sisanya 20% ? Klien akan melihat bahwa profesi tarot reader itu profesi orang miskin.

Dari sikap ini, sebenernya berkembang juga sikap lain yang juga mendukung, yaitu sikap “hidup berkecukupan”. Apapun situasinya, selalu syukuri apa yang ada dan tunjukkan bahwa anda hidup berkecukupan. Hindari komplain akan sesuatu yang terlalu mahal harganya atau anda TIDAK MAMPU. Sikap demikian sama saja dengan menunjukkan profesi anda sebagai Tarot Reader tidak mencukupi kebutuhan anda berujung kepada jasa anda tidak dihargai oleh orang lain.

 

Hidup sederhana

Hidup sederhana disini bukan berarti anda harus hidup seadanya atau berhemat. Melainkan alokasikan sedemikan rupa sehingga semua biaya hidup anda persentasenya hanya sebagian kecil dari pendapatan anda. Kalau diumpamakan, biaya hidup anda 20% dari total penghasilan akan jauh lebih baik ketimbang biaya hidup anda yang 40% dari total penghasilan.

Mengapa demikian? Ini untuk memberikan rasa nyaman secara psikologis dimana apabila seorang tarot reader bernegosiasi dengan klien, kalaupun tidak berhasil negosiasinya, ya tarot reader tersebut tetap dapat hidup dengan tenang. Ingat, semakin situasi seorang tarot reader kepepet secara finansial, sikap “Anda yang butuh saya, bukan sebaliknya” , justru semakin sulit digunakan. Karena sehebat – hebatnya kita menyembunyikannya, bawah sadar klien bisa mengetahui kalau kita sedang desperate butuh duit.

 

Sekian dulu share dari gw, semoga bisa membantu. J

7 comments

  1. Atarotboy says:

    sekedar memberi tambahan informasi, kadar seikhlasnya mungkin perlu di sesuaian juga dengan lokasi klien atau lokasi si Tarot reader. misal kalo kita di jakarta dan klien kita di luar kota menginginkan kita untuk datang, seikhlasnya disini tidak termasuk akomodasi dan transportasi. atau di kota2 tertentu, seikhlasnya = konsultasi berjam2 dengan masalah yang berputar2 dengan amplop honor berisi 5ribu perak. percayalah itu nyata karena ini pengalaman pribadi. wkwkwkkwkwkwkw

    • anihikafudoh says:

      Yes…agree….yg ini memang perlu liat situasi dan kondisi juga. :)

    • Narulita Kusuma Ayu says:

      Wkwkwkwk..dan aku hanya diam terpaku menyaksikan tragedi lima ribu perak..

      Anyway, ngomong2 masalah tarif..berdasarkan pengalaman saya sih tarif pada orang tertentu akan menentukan motivasi perubahan perilaku pada diri seseorang. Prinsip secara psikologisnya adalah ketika dia sudah membayar mahal, dia ga akan mau menyia2kan “pengobatannya” dengan gitu aja.. Orang Jawa bilang “wes kadung mbayar larang (sudah terlanjur bayar mahal)”. So bagi orang2 tertentu ini mereka ga mau rugi karena sudah bayar mahal itu tadi..

      Prinsip psikologis kedua adalah tarif emang akan menentukan penilaian kualitas. Salah satu penelitian menemukan bahwa barang yang sama tapi dibandrol beda akan memiliki nilai yang berbeda. Barang yg dibandrol lebih mahal akan dinilai lebih berharga daripada yg dibandrol murah (meski sebenarnya barangnya benar2 sama kualitasnya). Orang Jawa bilang “Ono rego, ono rupo” (Ada harga, ada kualitas). So, sebenernya ketika kita pasang tarif lebih mahal akan mencitrakan kalo kita berkualitas *asal tetap diimbangi dg sikap profesionalitas kita. Efeknya buat kita adalah mereka lebih percaya pada kita, dg begitu lebih mudah dalam berproses dengan mereka.

      Begitu pengalaman saya mas Rendy.

      • anihikafudoh says:

        yes ….itu juga betul. Oleh karena itu….untuk yang sudah profesional memang perlu punya intuisi yg tinggi juga untuk netapin tarif.

        Namun….untuk yang masih pemula, saya rasa masih ok untuk seikhlasnya (asalkan dalam taraf wajar, sekota, jarak ama klien jg ga jauh) karena memang ditekankan untuk nyari pengalamannya ketimbang komersilnya.

        Tapi….untuk yg profesional memang uda waktunya netapin tarif. :)

    • Yuda says:

      Wihhh,Saya Hanya bisa Terdiam dengan Penomena 5 rb perak.hehehehe

  2. awi says:

    wew, terlalu tuh yg ngasih goceng..wkwkwk, bukanx kita matre tp setidaknya hargai usaha reader tarot. Sabar ya kk Atarotboy :-)
    Sebelumx thanks buat sesepuh rendy yang mengilas banyak tentang tarot. Padahal awal belajar kartu tarot hanya iseng & penasaran ingin coba, skrg sodara ane minta melulu dibukain kartu.Padahal ane newbie msh buka contekan, tapi temen2 ama sodara kok sangat menghargai bacaan ane, bingung dah.. Oh iya mengenai sisi pribadi / jalan pikiran temen yg ane baca kok muncul di kartu ya? padahal ane cm iseng bukain kartu :-) pacarnya malah senyum2.. hihihi
    Salam buat para master2, newbie msh mohon petunjuk bimbinganx. Semoga para reader dpt membantu permasalahan bagi banyak orang.

  3. rhysa says:

    pengalaman seiklasnya dengan 5 ribu di amplop juga pernah saya alami, padahal udah berjam-jam dengerin masalah mereka. ditambah lagi saya harus ngluarin duit buat jalan ke cafe tempat kami ketemu. awalnya ngerasa tersingung. tapi balik lagi prinsip saya bantu orang mecahin masalah itu bikin happy. jadi ya…ikhlas aja.

Leave a Reply

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers:

%d bloggers like this: