Blog Archives
Membahas Seputar Mitos Praktisi Peramal (Katanya) Selalu Bernasib Buruk.
Ada banyak mitos yang beredar seputar tukang ramal dengan segala medianya yang digunakan, entah kartu tarot (yang paling banyak), astrologi, I-Ching, baca teh atau kopi, Lenormand, Ceki, dan masih banyak lagi, dimana salah satu mitos yang muncul adalah.
Nasib praktisi menjadi buruk setelah membacakan / prediksi nasib seseorang.
— mitos yang beredar
Tentu ada perkembangannya juga dari mitos tersebut, seperti dampaknya keluarganya berantakan, kesehatan menurun drastis, percintaannya kandas, persahabatannya rusak, dan masih banyak lagi dengan alasan si pembaca sudah memaksakan diri untuk membaca tanda – tanda alam sebelumnya.

Dan mitos ini belakangan kembali muncul dari berbagai postingan media sosial disekitar saya. Meskipun artikel ini tidak akan populer, namun saya tetap perlu membuat tulisan ini untuk meluruskan satu mitos utama ini, karena justru akan berdampak buruk di jangka panjangnya di masyarakat apabila mitos ini terus beredar dan dipercaya mentah – mentah.
Untuk mitos praktisi peramal akan selalu bernasib buruk, saya akan bagi menjadi 2 bagian besar: yaitu sanggahan secara psikologis, dan sanggahan secara teknis.
Sanggahan Secara Psikologis
Secara umum, banyak sekali praktisi peramal yang beredar saat ini, lepas dari apapun metode meramalnya. Thanks ke media sosial yang membuat para peramal menjadi semakin menjamur dan populer.
Nah, secara logikanya, apabila memang peramal itu mendapatkan hukuman hidupnya melangsa banget ataupun menjadi berat setelah buka praktek meramal, bagaimana mungkin angka praktisi ramal yang bertambah semakin pesat ? Apalagi setelah pandemi ini, justru banyak orang yang banting setir menjadi peramal modern sebagai salah satu profesinya, dan justru bisa menafkahi keluarganya dengan baik. Bahkan sebagian besar, bisa membantu keluarga besarnya ditengah kondisi ekonomi yang waktu itu sedang turun karena pandemi.
Terus darimana sisi psikologisnya? Seringkali, apabila praktisi mengalami nasib baik, maka ia cenderung akan diam saja. Apakah ada peramal yang pamer ke media sosial ketika dia mendapatkan puluhan sampai ratusan juta sebulannya dari praktek meramal? Kecuali kalau mereka mau dikejar – kejar pajak, ya tentunya mereka akan lebih memilih diam.
Dan ini tidak hanya terjadi di dunia meramal kok, di karir manapun, apabila kita mendapatkan pendapatan bulanan relatif tinggi, kita lebih memilih untuk diam dan tidak mengumbar di media sosial. Selain untuk menghindari dari orang luar yang sirik ataupun dengki, juga untuk menghindari potensi masalah yang tidak perlu.
Justru secara psikologis nih, apabila ada seorang peramal yang terus – terusan mengumbar pendapatan bulanan sekian ratus juta misalnya ke media sosial secara langsung dan lingkungan sekitarnya, secara psikologis ya kita justru perlu berhati – hati dengan orang seperti itu.
Ingat akan polanya, apabila seseorang merendah dengan berbagai pencapaiannya, maka pencapaian aslinya 2-3x lipat lebih besar daripada itu. Sementara bila seseorang terlalu meninggikan/ memamerkan pencapaiannya, maka pencapaian rillnya, hanya 1/2 – 1/3 dari yang dia omongkan.
dari berbagai sumber.
Itu point pertama yah, ketika seseorang mengalami hal yang secara umum, mereka akan diam.
Sementara, bila seseorang mengalami hal yang negatif, nah disinilah seseorang seringkali ingin curhat ke media sosial dan ingin agar ‘penderitaan’ mereka diketahui publik, dan berujung untuk mendapatkan simpati, ataupun sekedar ingin menumpahkan uneg – uneg dia di ruang publik. Ini bukan berarti saya anti dengan orang – orang seperti itu, justru itu merupakan bagian dari reaksi yang wajar terjadi kok.
Nah, masalahnya adalah, apabila ketika hal positif terjadi, secara psikologis orang akan lebih memilih menyimpan dari ranah publik, sementara ketika hal negatif terjadi, orang lebih memilih memberitahukannya di ranah publik, akan sangat wajar bila berbagai berita (nasib) negati tersebut akan jauh lebih banyak ketimbang berita positifnya bukan?
Ditambah, secara psikologis lagi nih, berita negatif jauh lebih menarik perhatian dan lebih mudah viral ketimbang berita positif.
Kok bisa? Karena berita kemalangan seseorang, cenderung membuat kita merasa -lebih diatas- dibandingkan korban di berita tersebut. Sementara berita keberhasilan seseorang, cenderung membuat kita -lebih minder- secara ego, sekaligus membuka kemalasan kita karena belum bisa memiliki pencapaian seperti yang orang itu dapatkan.
Kira – kira seperti itulah penjelasan sanggahan secara psikologisnya: berita negatif lebih sering dipublikasikan dan memang lebih menjual daripada berita positif. Seringkali juga, berita negatif lebih banyak mendapatkan komentar simpati, sementara berita positif bila dipublikasikan, cenderung mengundang banyak komentar negatif yang tidak diperlukan karena iri dan dengki pihak lain.
Sekarang sanggahan dari aspek berikutnya…
Sanggahan Secara Teknis

Nah di bagian ini, sebenarnya lebih semakin tidak enak lagi kedengarannya. Tapi, ya saya akan kasih tau untuk meluruskannya. Intinya, dalam praktek meramal pun, aslinya, semua ada berbagai landasannya ataupun literaturnya, sehingga tidak semua orang bisa menjadi seorang peramal yang betul – betul bisa meramal.
Pada hakikatnya, meramal masa depan ataupun meramal nasib itu sendiri bisa dikatakan praktek membaca tanda alam yang sudah diberikan oleh alam itu sendiri (ataupun oleh Tuhan) dengan berbagai alternatif media yang ada. Secara historis pun, praktek ini sudah berlangsung sejak lama dan catatan tertua, apabila kita kaitkan dengan ilmu astrologi pun, sudah sekitar 2 abad sebelum masehi; sementara untuk catatan tertua seputar meramal di area Tiongkok pun lebih tua dari 2 abad sebelum masehi, mungkin sekitar abad 5-6 sebelum masehi.
Jadi berbagai tanda alam yang didapat itu, sebenarnya sudah tentu sudah ada atas ijin-Nya juga. Kok bisa? Ya tidak ada yang tahu, karena kita manusia kan tidak bisa memikirkan kehendak Tuhan itu sendiri secara mendetail. Lepas dari apapun agama dan budaya nya yah.
Praktek meramal itu sendiri, asumsi praktisinya juga melakukannya dengan benar, sesuai dengan kaidah yang ada, dan masih berpegang kepada kode etik dan moral yang ada, justru akan sangat berguna bagi orang – orang yang bertanya. Bahkan di jaman sekarang pun, secara perlahan – lahan, ada semacam gerakan untuk minimal dalam setiap keluarga besar, memiliki 1 orang peramal ataupun pembaca nasib. Tujuannya? Agar keluarga besar tersebut mendapatkan arahan yang bagus dan wajar dalam memaksimalkan berbagai potensi yang ada dalam diri masing – masing anggota keluarga. Lagipula, siapa sih yang tidak mau kalau keluarga besarnya semua berhasil dan meningkat hidupnya?
Terus dimana sanggahan teknisnya? Nah, karena praktek meramal (terutama menggunakan kartu Tarot) ini sudah mulai menjamur sebagai alternatif mereka dalam mencari rejeki, pada akhirnya muncullah berbagai praktisi yang diantaranya:
- Tidak belajar dengan fondasi dasar yang kuat. Karena dengan alasan mereka sudah punya ‘pembimbing’, sehingga mereka meremehkan/ mengabaikan berbagai teori, konsep, dan berbagai kode moral yang ada. Bahasa kerennya yang beredar di jaman sekarang adalah Tarot Cosplay. Alhasil, untuk bacaan mereka sendiri, meskipun kartu yang keluar sesuai dengan apa yang klien butuhkan, namun interpretasi dari peramal sendiri yang ternyata melenceng jauh dari makna kartu tersebut.
- Membuka praktek dengan luka batin yang masih terbuka lebar. Ini menjadi hal yang sangat buruk dan beresiko untuk para praktisi itu sendiri. Pada dasarnya, banyak juga praktisi yang memiliki luka batin ataupun traumatis yang mendalam, namun masih terbuka lebar dan belum bisa bergerak move-on dari luka batin tersebut. Dalam konteks ini, si peramal bukan berarti harus sembuh sepenuhnya dulu dari luka batin tersebut, melainkan minimal agar si peramal dengan sadar berusaha untuk perlahan – lahan menyembuhkan diri dari luka batin itu dan memetik pelajaran dari sana. Melakukan interpretasi dalam praktek meramal dengan kondisi luka batin masih terbuka lebar, akan beresiko membuat si praktisi menjadi sangat bias dalam pembacaannya. Sehingga hasil yang sebenarnya positif pun akan dibaca / dibuat menjadi negatif demi kepuasan ego si pembaca itu sendiri.
- Disiplin diri yang rendah dalam membersihkan diri secara rutin. Mau dalam praktek apapun, termasuk konsultasi psikologi sekalipun, kita dianjurkan memberikan waktu untuk diri kita sendiri agar bisa memulihkan fisik dan psikis kita setelah selesai konsultasi. Kenapa? Banyak yang percaya bahwa energi klien bercampur dengan diri kita saat sesi konsultasi sehingga berbagai emosi sampah dan buangan dari klien pun masuk ke dalam diri kita. Membersihkan diri secara rutin dari energi negatif ataupun energi bekas pakai tersebut, akan mendorong kita agar secara psikis pun kita lebih stabil ketika kita bersosialisasi dengan pihak manapun. Disiplin diri yang rendah dalam pembersihan diri ini, membuat kita dengan mudah terkena penyakit baik fisik maupun psikis, dan berdampak juga secara negatif ke sekeliling kita. Peramal menjadi lebih mudah marah/ tersinggung setelah selesai mengkonsultasikan klien misalnya?
Nah, bayangkan ketika seseorang peramal membuka praktek ramal dengan 3 hal diatas masih belum diperbaiki: fondasi teori – luka batin – disiplin akan membersihkan diri , bagaimana hasilnya?
Tidak perlu percaya soal adanya karma, bekerja/ berkarir apapun tanpa memperhatikan berbagai faktor keselamatan dan kesehatan yang berlaku di setiap bidang pun, tentu akan lebih memberi dampak buruk ketimbang dampak baiknya.
Hanya saja, memang karena kita secara manusia, egonya suka ketinggian, jadi yang dikambinghitamkan, adalah profesi meramal itu sendiri.
Akhir kata, bukan praktek meramal lah yang membuat kita menjadi apes hidupnya; melainkan si peramalnya yang melakukan praktek ramal dengan sangat sembrono dan berlagak jagoan itulah yang pada akhirnya mengundang berbagai situasi dan kondisi apes ke kehidupannya sendiri.