Blog Archives
Tanda Kiamat Sebuah Profesi Pembaca Tarot

Dari judulnya saja, terkesannya memang ekstrim negatif dan clicbait. Namun setelah dipikir – pikir, ini menjadi judul yang sangat tepat agar orang mau membaca artikel ini dan mulai untuk mencoba merenungkan dan intropeksi setelah selesai membaca artikel ini.
Dan seputar makna akan kiamat di artikel ini? Saya tidak menggunakan arti kata kiamat dalam arti yang sesungguhnya (that’s for another article), melainkan mungganakan arti kiamat sebagai bencana yang masif dan bisa merusak tatanan profesi yang selama ini sudah mapan.
Sinyal Kiamat 1: Menjamurnya Pelatihan Harga Murah
Ada contoh yang cukup terlihat disekitar kita. Sekitar tahun 2020an, mulai berkembang kursus seputar belajar menjadi Virtual Assistant dengan harga yang terjangkau, bahkan sangat murah. Kursus tersebut konon sangat menjamur dan menjanjikan pendapatan yang relatif tinggi dengan biaya investasi yang terjangkau tersebut. Dan setelah itu? Di tahun 2021 keatas, teknologi A.I yang membantu pekerjaan kita mulai menjamur dan dengan waktu yang relatif cepat, kursus virtual asistant tersebut relatif sunyi.
Ganti kursus menjadi Virtual Assistant tersebut menjadi kursus yang lain seperti Copy Writting, Membuat Laporan Keuangan, Perhitungan Pajak Pribadi, Trading Saham Yang Efisien, Membuat Start Up, Kursus Ilustrasi Fantasi, sampai hal yang sangat dekat dengan sebagian dari kita: Kursus Membaca Tarot Kilat atau Kursus Astrologi atau BaZi Cepat, dan seputar itu.
Ketika berbagai kursus murah tersebut muncul, maka dalam waktu 1-2 tahun kedepan, kemungkinan besar akan ada produk subtitusinya, entah dalam bentuk aplikasi ataupun alat lain yang bisa menggantikan kemampuan tersebut. Sehingga sebelum berbagai kemampuan yang saya contohkan diatas itu menjadi turun nilainya, maka praktisi akan mencoba membuat kursus murah tersebut sebagai cara mereka untuk mengambil keuntungan terakhir kali di fase akhir dari produk benda/ jasa yang mereka selama ini fasih untuk melakukannya.
Karena sebentar lagi, kemampuan mereka mungkin sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan jaman sekarang. Tarot pun juga sama, pada akhirnya trend kursus tarot murah itu muncul karena fungsi mereka sudah digantikan oleh pembacaan generik dari aplikasi.
Sinyal Kiamat 2: Menjamurnya Praktisi Pembaca Tarot Yang Tidak Kompeten
Apabila sebelum tahun 2006, tidak banyak orang yang mau mengakui dirinya berprofesi sebagai pembaca tarot, maka tahun 2010an menjadi momentum mulai muncul orang – orang yang dengan bangga menyatakan membaca tarot sebagai salah satu profesinya. Thanks juga dengan perkembangan media sosial seperti Tik Tok, Instagram, Facebook, X, dan media sosial lainnya, membaca tarot menjadi salah satu profesi yang bisa mendapatkan penghasilan yang menggiurkan semua orang.
Bahkan banyak pesulap yang pada awalnya sangat meremehkan praktek membaca Tarot sebagai bentuk hiburan dan cold reading semata, pada akhirnya beralih sepenuhnya menjadi pembaca tarot sekarang ini. Apakah setelah menjadi pembaca tarot, mereka masih tetap berpikir itu hanyalah cold reading saja, ya itu akan menjadi topik tersendiri di lain waktu.
Masalahnya disini adalah, meskipun terkesan terlalu cepat menghakimi, namun dari survei pribadi saya sendiri pun sudah jelas terlihat bahwa sebagian besar pembaca tarot yang ada di media sosial saat ini, tidak dibekali dengan pengetahuan seputar tarot yang mumpuni.

Kok bisa? Sederhana saja, karena sebagian besar orang yang mengaku pembaca tarot tersebut, memberikan interpretasi kartu yang maknanya berbeda jauh dibandingkan makna dasar dari kartu yang keluar. Misalnya, apabila kartu yang keluar adalah The Fool, makna dasar yang kita tahu adalah seputar permulaan baru ataupun menjalankan sesuatu yang relatif baru dan kita belum akan tahu kedepannya bagaimana. Sementara itu, si orang yang mengaku Tarot Reader ini membaca kartu The Fool sebagai bencana seputar pekerjaan yang datang secara tiba – tiba. Jauh sekali bukan?
Alhasil, semakin banyaknya praktisi pembaca tarot yang sekarang ini muncul, justru juga berdampak dengan semakin banyaknya orang yang mengaku dirinya pembaca tarot, namun dengan harga konsultasi yang sangat murah, diimbangi tingkat kompetensi yang juga rendah.
Ditambah lagi dengan banyak juga pembaca tarot yang nge-halu dia adalah titisan dewa – dewi tertentu, membuat saya berpikir, kondisi industri baca kartu Tarot menjadi sangat mengkhawatirkan.
Sinyal Kiamat 3: Pembaca Tarot Melanggar Etika Privasi Klien
Tidak bisa dipungkiri, banyak pembaca Tarot yang sengaja membuat konten video di media sosial, yang isinya untuk mengkomentari berbagai kondisi seorang selebriti. Meskipun itu adalah area yang abu – abu karena seharusnya kita tidak boleh membaca seseorang tanpa seijin orang terkait, menurut saya, sepanjang tidak menyinggung hal yang sensitif dan analisa yang lebih ke hiburan dan simbolis secara permukaanya saja, seharusnya itu tidak menjadi masalah.
Yang menjadi masalah adalah ketika para pembaca tarot ini, dengan menggunakan kartu tarot mereka, berusaha menganalisa kehidupan pribadi seseorang secara terlalu dalam dan tidak menghargai batas – batas privasi yang wajar, itulah yang menjadi bahaya.

Banyak sekali kejadian ketika seorang selebriti sedang mengalami masalah tertentu, pembaca tarot cenderung membuat konten untuk mengulik masalah selebriti tersebut dan cenderung memberikan pernyataan – pernyataan yang konteksnya sangat negatif bahkan cenderung memfitnah. Seperti menuduh secara langsung siapa yang selingkuh, siapa yang mencuri uangnya, menyatakan korban hilang sudah mati dengan alasan kartu mengatakan demikian (padahal masih hidup), mengalami penyakit kronis tertentu (dan berujung orang yang disebut, tidak sakit sama sekali), dan masih banyak lagi yang sangat berkonotasi negatif.
Dan semua itu tujuannya, ya agar konten dia viral, sehingga publisitas si pembaca tarot ini naik, dan diharapkan ada banyak calon klien yang mau berkonsultasi ke dia… at the cost of membunuh karakter si selebriti tersebut. Suka / tidak suka, itulah yang terjadi saat ini dilakukan oleh sebagian tarot reader: membunuh karakter seseorang agar dirinya menjadi viral dan mendapat banyak calon klien.
Di sisi lain, ada juga beberapa klien saya yang akhirnya bercerita dan mengakui, bahwa pada awalnya mereka tidak suka dengan profesi pembaca tarot itu sendiri. Penyebabnya? Karena di daerah mereka, ada saja pembaca tarot yang datang dan memaksa klien untuk dibacakan kartu tarot. Praktek memaksakan calon klien untuk dibaca langsung, bahkan tanpa persetujuan klien itu sendiri, menurut saya, itu sudah menjadi bentuk pelanggaran etika profesi yang sangat parah.
Solusi Di Tengah Kiamat ?
Meskipun kondisi diatas saat ini sedang terjadi di Indonesia, dan membuat pembaca Tarot seakan – akan menjadi profesi yang secara rejeki biasa saja, namun lebih ke memenuhi ego menarik perhatian si praktisinya, menurut saya, tetap ada beberapa cara agar kita sebagai pembaca tarot, tetap bisa dibayar harga tinggi dan bisa survive ditengah tantangan yang saya jabarkan diatas.
Dalam hal ini, biarkan saja kiamat dalam profesi pembaca Tarot ini, hanya kena ke pembaca Tarot ‘palsu’ ataupun cosplay saja, Sementara kita yang memang sungguh – sungguh menjadi pembaca Tarot, tetap bisa mendapat rejeki yang wajar dari profesi ini, tanpa harus merugikan pihak manapun.
Berikut beberapa solusi yang bisa dipertimbangkan di tengah situasi kiamat para pembaca Tarot.
Human Touch Dalam Setiap Pembacaan
Maksudnya Human Touch disini adalah dengan memberikan pembacaan yang khusus dan sesuai dengan profil klien kita sendiri. Sebagai contoh, apabila klien kita adalah seorang banker ternama dan berkonsultasi ke seorang pembaca Tarot, maka si pembaca dianjurkan juga mengerti dan memakai berbagai istilah umum perbankan.

Tujuannya? Selain menunjukkan kita sedikit banyak mengerti dunia si klien itu sendiri, secara tidak langsung juga menunjukkan ketertarikan kita akan profesi klien itu sendiri. Klien cenderung lebih menghargai kita apabila kita terlebih dahulu menghargai klien dengan cara mengerti dunia yang dijalani klien itu sendiri.
Dan praktek seperti diatas, setidaknya untuk saat ini, masih belum bisa digantikan dengan aplikasi pembacaan tarot umumnya. Alhasil, sesi pembacaan khusus tersebut dimana kita mengerti kondisi si klien secara umum, tentu akan membuat klien lebih menghargai jasa kita.
Nah, karena kita perlu mengerti lebih banyak berbagai latar belakang situasi klien yang beragam, maka solusi selanjutnya adalah…
Perbanyak Membaca Berita Berkualitas
Konteks membaca berita disini, sebenarnya bukanlah sebatas membaca berita pendek dari portal berita saja (karena seringkali netralitas diragukan dan bahasa yang digunakan demi viral, cukup ekstrim); melainkan juga membaca berbagai berita yang sifatnya analisa, opini, ataupun berita yang cukup mendetail pembahasannya.
Oleh karena itu, memang dianjurkan untuk berlangganan 1-2 koran digital secara rutin. Karena untuk berita dengan informasi yang akurat dan berkualitas, setidaknya untuk saat ini, masih dipegang oleh koran digital tersebut. Harga langganan sebulan yang berkisar 100 ribu lebih, menurut saya bukanlah harga yang besar bila dibandingkan dengan biaya konsultasi Tarot yang wajar di jaman sekarang.
Minimal, ketika kita sudah sering dan terbiasa dalam membaca berita, maka kita menjadi mengerti sedikit demi sedikit akan berbagai hal yang terjadi disekitar kita: trend bisnis, trend gaya hidup, sampai kondisi ekonomi dan sosial sekitar yang tentunya membantu agar omongan kita ke klien – klien yang kelas ekonomi atas, juga nyambung.
Mencoba Membahas Selain Percintaan
Kita semua tahu, topik percintaan adalah topik yang sangat populer dimanapun. Semua orang pasti akan selalu ingin tahu seputar relasi romantis. Topik tersebut juga merupakan topik yang paling banyak menarik perhatian audience secara umum sehingga dipastikan menambah kolam calon klien untuk para pembaca tarot.
Hanya saja, karena saking banyaknya topik seputar percintaan dan turunan – turunannya (selingkuh, orang ke-3, CLBK, dll), maka banyak pembaca tarot yang nyaman berkutatnya disana saja. Alhasil, ya karena -hanya bisa- di bidang tersebut, ujung – ujungnya pembaca Tarot umumnya menjadi banting harga agar klien memakai jasa mereka.
Untuk itu, akan jauh lebih mudah bila tidak hanya membaca kartu tarot untuk seputar percintaan saja, namun juga relasi seputar persahabatan, keluarga, dan berbagai topik lain seperti bisnis dan usaha, hukum, investasi, dan masih banyak lagi diluar topik percintaan tersebut.
Ingat, calon klien yang secara ekonomi itu mampu, seringkali tidak hanya sebatas bertanya seputar percintaan saja, namun juga berbagai hal lain yang memang mengusik hidupnya.
Penutup : Kiamat Bagi Pembaca Tarot Yang Malas Beradaptasi
Sederhananya memang seperti itu. Banyak pembaca tarot yang mungkin karena sudah nyaman dengan kondisi dan situasinya, maka ketika teknologi sudah berkembang dan pembaca tarot sudah banyak, maka mereka cenderung membanting harga agar klien bisa memakai jasa dia. Di saat yang sama, karena kebutuhan hidup terus meningkat, maka pada akhirnya pun kualitas hidup si pembaca tarot menjadi menurun.
Mau tidak mau? Ya beradaptasi dengan berbagai tantangan dan perubahan yang ada disetiap waktu apabila kita ingin bisa hidup dari profesi membaca tarot ini.
Dan dari semua berbagai perubahan yang ada di jaman ini, menurut saya, dalam industri membaca tarot ini, tetap ada 1 faktor yang tidak pernah berubah alias tetap diinginkan sampai kapanpun: faktor sentuhan manusianya dalam jasa membaca tarot.