Blog Archives

Kartu Significator? Perlu Kah?

Photo by Danielle Rangel on Pexels.com

Dari beberapa sesi free online+ sharing yang saya lakukan bersama teman – teman, saya menerima masukan untuk kembali membahas seputar kartu significator. Dan cepat / lambat memang pertanyaan seputar significator tersebut akan kembali muncul.

Saya sendiri menggunakan kartu significator itu pada masa awal – awal banget saya belajar tarot reading. Itupun hanya saya lakukan di bacaan yang menggunakan tebaran Celtic Cross. Dan dari pengalaman pribadi, metode menggunakan kartu significator ini, hanya ‘bertahan’ di saya selama 2 bulanan saja. Seterusnya? Uda jarang banget kecuali klien secara spesifik meminta. But hey…, balik ke topik…, apakah significator itu?

Apakah Kartu Significator Itu?

Sederhananya, yang namanya kartu significator adalah kartu yang menunjukkan profil/ situasi yang mewakili klien yang akan kita bacakan. Nah, kartu significator tersebut, adakalanya dipilih dan ditarik duluan sebelum melakukan pembacaan, ataupun juga bisa dengan mengambil 1 kartu acak yang mewakili klien tersebut.

Kalau dulu sih, saya menggunakan metode dengan mengocok kartu dan mengambil 1 kartu secara acak untuk mewakili situasi si klien; baru dilanjutkan dengan bacaan umum sesuai pertanyaan klien.

Namun, ada juga yang menggunakan metode ‘menentukan’ 1 kartu tersebut. Misalnya, apabila klien sedang ada project, ya bisa aja memilih kartu 10 of Pentacles untuk mewakili situasinya. Apabila klien sedang menjelang pernikahan, bisa saja mengambil 1 kartu The Lovers untuk diletakkan di tempat bacaan sebelum memulai pembacaan.

Sebagai tambahan, di sebagian tarot reader, juga membiarkan klien memilih sendiri secara bebas, kartu yang menjadi significatornya.

Namun ada juga yang memilihnya berdasarkan profil, jenis kelamin, dan zodiak si klien itu sendiri. Bagaimana caranya? Ya cukup mengambil 1 kartu Court Card yang merepresentatifkan profil klien tersebut.

Significator List

Berikut daftar pembagian kartu significator berdasarkan profil klien.

Berdasarkan gender dan rentang usia:

  • Page : anak – anak / wanita muda (sampai 18 tahun)
  • Knight : pria muda (bisa berusia 18 – 30an tahun)
  • Queen : wanita dewasa, diatas 18 tahun
  • King : pria dewasa (diatas 40 tahun)

Kemudian zodiak :

  • Wands – simbol api – Aries , Leo , Sagitarius
  • Cups – simbol air – Cancer , Scorpio , Pisces
  • Swords – simbol udara – Gemini , Libra , Aquarius
  • Pentacles – simbol tanah/ bumi – Taurus , Virgo , Capricorn

Sebagai contoh, apabila kliennya adalah seorang wanita berusia 27 tahun dan Sagitarius, maka kartu significatornya adalah Queen of Wands ; apabila kliennya adalah seorang pria berusia 19 tahun dengan zodiak Virgo, maka kartu significatornya adalah Knight of Pentacles.

Apa Manfaat Menggunakan Significator?

Photo by cottonbro on Pexels.com

Tujuan dari penggunaan significator ini tak lain dan tak bukan untuk memperkaya dan personalisasi pembacaan.

Memperkaya disini dalam artian untuk menambah variasi bacaan dan detail – detail bacaan akan suatu pertanyaan klien yang mungkin lebih mudah terbaca apabila menggunakan kartu significator.

Tentunya dengan membaca menggunakan kartu significator tersebut, apapun metodenya, dan tergantung kepada readernya juga, ada yang end up bisa membaca lebih detail dan lebih baik dibandingkan tanpa menggunakan significator.

Sementara, maksud dari personalisasi disini ya untuk membuat bacaannya merasa dia banget. Atau bisa related dengan kartu yang dikeluarkan. Karena memang tidak sedikit ada klien yang merasa ‘nyambung’ dengan kartu yang mewakili dirinya ketika melakukan pembacaan.

Namun balik lagi, pola klien yang kooperatif seperti ini, seringkali baru bisa didapat apabila klien tersebut adalah klien langganan kita; jarang sekali klien yang baru pertama kali dibacakan tarot dan belum ada pengalaman sebelumnya seputar “membaca tarot yang benar”, itu akan membuka pikirannya sampai sekooperatif itu.

Apakah Significator Tersebut Wajib?

Sepanjang saya mengubek – ubek bahan literatur dan dari pengalaman pribadi, pada akhirnya saya justru melihat, penggunaan kartu significator itu adalah sesuatu yang tidak wajib dan ujung – ujungnya, ya sesuai dengan kenyamanan si pembaca tarotnya saja.

Namun lepas dari itu semua, saya tetap menyarankan untuk mempelajari metode penggunaan kartu significator ini. Sederhananya, mungkin metode ini kurang cocok untuk saya pribadi, tapi mungkin cocok untuk beberapa pembaca artikel ini.

Dan pada akhirnya memang metode ini sudah menjadi 1 dari sekian banyak metode baca tarot yang memang wajib diketahui oleh para tarot reader yang kedepannya ada rencana untuk mengajarkan tarot ke orang lain.

Bagi yang berminat untuk melihat e-book saya, bisa klik link ini.

Membaca Sambil Menghargai; Sebuah Pesan Untuk Para Tarot Reader Amatiran

Artikel kali ini gw beri judul yang cukup keras dan ‘mengejek’ karena terinspirasi dari berbagai fenomena yang terjadi belakangan ini disekitar gw. Fenomenanya sebenarnya sudah sering terjadi, namun baru kali ini gw terinspirasi untuk menulisnya.

Bisa dikatakan juga, artikel ini adalah bagian kedua dari artikel sebelumnya yang membicarakan bonafide/ tidaknya tarot reader.

Illustrasi: salah satu buku yang gw baca untuk memperkaya ilmu

Dan gw sengaja menulis ini terutama untuk tarot reader yang baru saja memulai, ataupun tarot reader lama namun masih bermental amatiran. Percayalah, dengan membaca dan menerapkan tulisan ini, niscaya anda semua sudah ratusan langkah lebih maju dan dewasa daripada tarot reader amatir umumnya.

Menghargai Privasi Klien

Hal pertama dan terutama dan sudah menjadi kode etik wajib buat seseorang yang menjadi tarot reader, baik hobi maupun profesional : jaga dan hargai privasi klien.

Saya sudah banyak sekali menemukam contoh kasus dimana tarot reader, melalui media sosial maupun portal berita, membaca ‘drama’ kehidupan seseorang (biasanya selebriti) tanpa ijin dari yang bersangkutan .

Contohnya, pernahkah anda melihat ketika seorang selebriti dilanda kasus perceraian ataupun perselingkuhan, kemudian banyak tarot reader berbondong – bondong membacakan nasib rumah tangga selebriti tersebut? Apakah itu sopan atau bisa dianggap pelanggaran privasi?

Atau contoh lainnya, ada sebuah komunitas tarot yang punya track record -dengan bangga- memamerkan ‘rahasia klien’ ke sesama anggotanya dan kemudian dijadikan bahan gosip bersama. Apakah itu etis?

Saya menemukan berbagai klien yang mengaku kapok berkonsultasi dengan tarot reader tertentu yang namanya sering disebut/ terkenal di media berita ataupun suatu media sosial, karena 1 hal: tidak mau privasinya diumbar secara detail untuk konsumsi publik.

Dan saya cukup banyak mendapat ‘hibahan’ klien dari tarot reader berstatus selebriti tersebut karena blundernya mereka dalam beretika. šŸ˜

Hargai Karya Orang Lain

Tahu lagu Lathi karya putra – putri Indonesia yang cukup viral di internasional? Dan tahukah makna lagu tersebut secara detail ? Gw yakin pasti banyak yang tahu.

Tapi tahukah kamu? Ada cukup banyak tarot reader yang berlomba – lomba membacakan makna dibalik lagu itu versi mereka sendiri, diputarbalikkan, dan kemudian dicap sebagai lagu setan, sesat, atau iblis dan tidak patut didengar?

Dan semua itu, sengaja dilakukan agar nama tarot reader tersebut menjadi naik dan lebih terkenal. Singkatnya lagi, meninggikan nama sendiri dengan menjatuhkan karya orang lain.

Bagi yang sengaja menaikkan namanya dengan cara diatas, seringkali saya amati, justru tarot reader tersebut tetap menjadi tarot reader yang ‘miskin’. Mau sudah berkarir selama belasan ataupun puluhan tahun sekalipun, tetap sangat sulit untuk menaikkan karirnya sendiri.

Bagaimana dirinya mau dihargai, wong karya orang lain saja dia injak – injak?

Hargai Pilihan Klien, Apapun Itu

Kita sebagai tarot reader, tentunya memberikan saran yang menurut kita adalah saran terbaik untuk si klien. Tapi belum tentu saran/ solusi kita didengarkan/ dijalankan oleh mereka.

Disinilah kerendahan hati kita diuji. Yaitu menerima, seakurat apapun bacaan kita dan solusi yang kita berikan, tetap hak prerogatif klien untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Kita perlu menerima dengan lapang dada bila saran kita ‘ditolak’.

Dari pengalaman gw pribadi, faktor nomor 1 repeat order / klien kembali berkonsultasi ke kita, bukan dari akuratnya kita membaca dan memberikan solusi ke klien. Melainkan justru dari seberapa jauh kita bersedia untuk mendengar keluh kesah (baca: curhat) klien secara netral tanpa maksud apapun.

Dan apabila solusi kita belum bisa membantu si klien, maka dengan lapang dada ya menerima, mungkin yang Atas punya rencana lain untuk si klien tersebut. Dan rencana-Nya, memang tidak melibatkan diri kita sebagai tarot reader.

Konklusi…

Beberapa tarot reader, selalu bertanya (dan ada yang mengaku jujur, menjadi iri) ke gw dalam konteks positif: bagaimana bisa mendapatkan klien yang benar – benar high profile secara karir maupun mentalnya? Dari situ, pesan gw cukup sederhana…

Tingkatkan kualitasmu di segala aspek, maka kualitas klien yang datang pun akan mengikuti dengan sendirinya.

– anonim

Tarot Reader Bonafide ? Memang Ada?

Dari pengalaman bertahun-tahun dalam menekuni dunia tarot reading profesional, ternyata memang ada loh tarot reader yang memang bagus DAN ada juga yang benar – benar abal – abal.

Ace of Wands from Encore Tarot

Kok bisa ada yang abal – abal? Memang bisa saja; karena seputar dunia tarot di Indonesia memang belum ada standarisasinya ataupun semacam asosiasi profesi yang punya wewenang menerbitkan surat jaminan kompetensi…, alias blom ada yang bisa nerbitin ijasah lah intinya.

Jadi, kalau memang belum ada, apa yang bisa teman – teman lakuin sebelum melakukan konsultasi ke tarot reader tersebut? Bagaimana cara membedakan yang memang kompeten/ bisa membaca, atau yang abal – abal? Di artikel ini, gw akan share pengalaman gw untuk membantu melihat dan membedakan tarot reader yang seperti itu.

Penilaian Netral

Hal penting dari seorang tarot reader adalah, dia harus netral untuk kasus apapun; sehingga dia tidak memasukkan agenda pribadi ataupun maksud lain yang bisa membuat bacaan melenceng dari semestinya.

Netral disini bisa dilihat dari berbagai cara dia menanggapi kasusmu. Apakah dia akan menanyakan banyak ‘faktor pendukung’ disamping kasus utama yang kamu ceritakan? Apakah dia akan menanyakan background karir, status pernikahan, pendidikan, dan lainnya yang terlibat dalam cerita yang kamu konsultasikan?

Netral disini juga termasuk dalam artian tidak menilai negatif/ judging negatif mengenai apapun yang anda alami.

Misalnya, dia tetap akan netral apabila kamu membuka orientasi sexualmu; entah straight, gay, ataupun bi. Dia juga akan tetap netral apapun situasi rumah tanggamu; dan tentu tetap netral apapun karirmu.

Menghargai Bacaan Orang Lain

Gw seringkali menemukan berbagai klien yang sudah berkonsultasi dengan tarot reader lain sebelum berkonsultasi dengan gw sendiri.

Menurut gw, sepanjang tidak melenceng jauh banget, ada baiknya juga seorang tarot reader tidak mendiskreditkan / menjelekkan bacaan tarot reader sebelumnya. Lucunya, justru ketika gw berusaha mencari benang merah dengan bacaan sebelumnya, malah gw semakin dihargai oleh klien tersebut.

Lihat Media Sosialnya

Cara lain yang cukup sederhana sebelum memutuskan konsultasi ke tarot reader tersebut adalah dengan mengamati media sosialnya. Apa saja yang dia post? Apakah postnya sering mengeluh meminta simpati ataupun menjatuhkan karya/ pribadi orang lain? Kalau iya, lebih baik lihat yang lain deh.

Bagian ini menjadi sangat penting karena gw sendiri sering menemukan tarot reader yang ngepost cerita detail klien tanpa ijin dari klien tersebut, meskipun nama disamarkan dengan inisial. Bahkan ada tarot reader yang menjadikan cerita klien sebagai bahan gosip ke sesama reader.

Berpengetahuan Luas, Tutur Sederhana

Seorang tarot reader memang dituntut berpengetahuan / berwawasan luas; sehingga tarot reader yang bonafide akan selalu dengan sadar untuk terus belajar, lepas dari apapun caranya.

Tarot reader yang berwawasan luas, tidak puas hanya dengan status – status yang dia ‘buat sendiri’ seperti status orang ningrat lah, indigo lah, generasi kristal lah, generasi matahari hijau lah, dan masih banyak lagi. Mau status seheboh apapun, belajar menimba ilmu tetap menjadi prioritas selama menekuni tarot.

Setelah berpengetahuan luas, tentu semua tidak akan berarti kalo tidak bisa mengkomunikasikan pengetahuanmu ke klien bukan? Jadi, gunakan bahasa sesederhana mungkin ketika berkomunikasi sama klien agar mudah dimengerti. Gejala pamer berbagai jargon atau istilah – istilah ribet dalam sesi pembacaan tarot, mengutip pernyataan alm. Bob Sadino , itu tidak lebih daripada onani ilmu .

Konklusi?

Kalau uraian diatas bisa dipersingkat lagi, mungkin bisa direkap dalam 1 kalimat:

Tarot Reader Bonafide akan memperlakukan dan menghargai klien dengan hormat, empati, dan profesional.

– Rendy Fudoh –

Semoga bermanfaat. šŸ™‚

Ramalan Percintaan Bulan Juni 2020

Video untuk sesi ramalan Tarot ” Pick-A-Card” atau “pilih kartu tarotmu” sudah ada di bulan Juni ini.

Dan untuk kali ini, gw membagi jadi 2 video, saran percintaan bagi yang single dan bagi yang sudah berpasangan ( pacaran / menikah )

Berikut saran percintaan untuk yang single.

Berikut saran percintaan untuk yang sudah berpasangan.

Caranya sederhana, cukup pilih 1 tumpukan dari 3 tumpukan yang ada. Dan itulah bacaan untukmu.

Semoga bermanfaat yah. šŸ™‚

Banyak Wanita Mulai Percaya Diri, Sehingga…

Ini memang murni hasil observasi pribadi gw. Terutama dari klien2 tarot dan juga lingkungan sosial sekitar gw.

Memang belum ada penelitiannya, tapi gw amati memang mulai ada peningkatan yg cukup kerasa akan wanita – wanita di Indonesia (Jakarta khususnya) yang bermindset mandiri.

Mindset mandiri disini tidak hanya sekedar membiayari diri sendiri (dan adakalanya menjadi tulang punggung keluarga juga), namun juga bersedia bertanggung jawab atas keputusan pribadinya sendiri, tanpa terpengaruh oleh nyinyiran/ julidan orang2 sekitarnya.

Sudah ada juga komunitas2 single mother yang bahkan prestasi mereka juga patut diacungi jempol dalam mendidik dan mensupport para single mother yang baru maupun lama.

Jadi baik keputusan cara berpakaian, mengirim konten ke sosmed pribadi, cara bersikap didepan orang (baik pria maupun wanita), cara PDKT, bahkan jalur karir (dan hobi) yang dipilih, semua adalah hasil keputusan sendiri; bukan karena intimidasi pihak lain.

Namun, seiring dengan jumlah wanita yang meningkat rasa percaya dirinya, maka banyak pula pihak2 yang BERUSAHA untuk menekan laju pertumbuhan wanita percaya diri tersebut.

Mulai dari bawa2 agama untuk mendikte cara berpakaian, bersikap, bekerja, sampai ke prinsip pribadi….

Sampai usaha dari para pria2 yang juga sangat masif untuk menekan wanita mandiri dan percaya diri tersebut. Mulai dari pelecehan verbal, seksual fisik, terror, -pentingnya nikah usia muda-, dan masih banyak lagi.

Ada semacam pihak2 yang ingin membuat wanita kembali menjadi warga kelas 2 seperti dulu disini. Agar hanya menjadi ibu rumah tangga abadi, dan seonggok daging pemuas nafsu birahi.

Dan yang paling gampang caranya, ya dengan bawa2 ayat agama.

Banyak wanita yang mulai meningkat percaya dirinya; sehingga gerakan untuk mengembalikan wanita ke warga kelas 2 pun, menjadi lebih masif.

Gw pribadi? Gw meskipun cowok, ya dukung2 aja supaya wanita lebih mandiri. Itu keputusan pribadi masing2 kok.

Habisnya, kebanyakan cowok yang mo balikin wanita ke warga kelas 2, motivasinya cuma 2: harga diri (kepala keluarga) ketohok dan murni sangean aja.