Rich Uncle Paradox

Yang gua tulis ini adalah hasil pengamatan gua sendiri yang terjadi secara umum dan (mungkin) akan terkesan menggeneralisir. Namun gua berharap ini bisa menjadi referensi hidup yang bagus karena kemungkinan, sedikit sekali yang mau mengambil topik ini sebagai penelitiannya. Atau….mungkin sudah ada penelitiannya tapi belum sampe kasus rill seperti yang gua tulis.

Salah satu arti dari Paradox itu sendiri (dari google)
A situation, person, or thing that combines contradictory features or qualities.

=============

 

10-coins.jpgApakah pembaca pernah merasa iri sama teman sendiri? Jujur saja…, gua juga pernah iri sama teman sendiri. Dalam kasus ini, gua adakalanya iri sama klien gua (dan gua ucapin itu didepan dia untuk ‘memotivasi’ dirinya) yang secara rejeki, itu lebih ‘beruntung’ daripada gua sendiri.

In short, gua sering menemukan kasus dimana klien – klien gua sendiri secara keuangan itu disupport abis – abisan sama orang lain. Tidak cewek tidak cowok yah. Yang mengsupport biasanya saudaranya ataupun orang lain yang jauh lebih tua dari klien tersebut. Well…..om – om tajir atau tante berduit lah kasarannya.

The thing is, kata klien gua (semuanya), orang yang membantu mereka adalah orang yang sudah mapan di bisnis/ usaha masing – masing dan ingin membantu orang lain agar minimal klien tersebut bisa mandiri. Wujud bantuannya pun macam – macam namun bisa dikategorikan menjadi 2 bagian besar: bantuan materi (duit, barang, dll) dan pendidikan. Most case…, hampir 80% dari klien gua, bantuan yang didapat adalah materi.

Dan khusus bantuan materi ini yang menjadi sangat menarik. Karena disinilah kontradiktifnya atau paradoxnya.

 

‘Syarat’ Menerima Bantuan

Dari banyak cerita klien yang dibantu sama pemodal yang baik hati tersebut, syarat dari para pemodal tersebut (atau timbal baliknya) memang relatif mudah: bantu kerjaan dan urusan remeh temeh mereka. Di sejumlah kasus bahkan tidak perlu membantu / timbal balik sama sekali. Jadi bayangkan…, out of the blue, ada yang mau bantu anda senilai 20- 200 juta sebulan; dan itu semua either didapat dengan cuma – cuma ataupun timbal baliknya dengan membantu pekerjaan remeh temeh orang tersebut seperti mengatur administrasi, ngurusin ini itu soal pajak, bantu transferin uang ke keluarga dekat pemodal tersebut, nemenin ngobrol selama beberapa hari dan hal remeh lainnya.

Surprisingly juga, bantuan tersebut tidak melulu dibayar dengan ‘tidur bersama’. Justru sebagian besar kasus yang gua tangani, tidak melibatkan ‘tidur bersama’ sama sekali. Jadi bagi yang bermindset orang yg dibantu tersebut pasti bayar pakai badan, gua rasa pikir 1000x karena kenyataan dilapangan tidak seperti itu.

Point keduanya, ternyata klien – klien tersebut tampil dengan sosok – perlu dibantu – didepan pemodal tersebut. Bukan dalam artian harus berpakaian miskin atau bernada mengemis minta dikasihani; melainkan justru tampil cantik/ ganteng, terlihat mau bekerja keras, namun berada di situasi kurang beruntung. Misalnya: hanya tamatan SMA, kuliah sedang nunggak uang semesteran, atau bekerja di perkantoran dengan gaji yang relatif ngepas, atau keuangan keluarganya terlihat ngepas.

Dengan kejadian tersebut, idealnya, kita semua akan berpikir nih…, wah tu orang beruntung banget, pasti saat ini dia sudah sukses!

Kenyataannya, tidak seindah itu.

 

Hasil ‘Investasi’

Ada yang memang sukses dan berhasil, cuma kalo boleh diumpamakan, 1-2 dari 100 orang yang beneran bisa berhasil dan menjadi mandiri dengan bantuan dari pemodal tersebut.

Sisanya?

Either menjadi nyaman dengan bantuan yang sama berulang – ulang, bahkan jumlah bantuannya semakin meningkat, atau dilepas sama sekali oleh pemodalnya alias tidak dibantu lagi.

Yang menjadi nyaman, disebabkan karena orang tersebut sudah merasakan mendapat duit dalam jumlah besar tanpa harus bekerja keras. Dengan pikiran, “toh nanti dia akan membantu lagi”, justru semakin membuat orang itu ketergantungan dengan bantuan itu.

Tidak hanya dalam bentuk uang dan barang, namun juga apabila benar – benar dikasih semacam bisnis begitu aja untuk ditangani, kemungkinan besar bisnis tersebut akan gagal. Karena yang dibantu, selain tidak menguasai dasar – dasar bisnis dan bidang bisnis yang dijalankan tersebut, karena resiko bisnisnya tidak dirasakan secara langsung oleh yang dibantu, alhasil ya sebagian besar akan menjalankan bisnis tersebut dengan setengah hati dan cenderung santai.

Sementara itu, ada sebagian orang yang justru menyalahgunakan modal bantuan tersebut untuk senang – senang dan gaya hidup saja sehingga pemodal merasa tertipu. Point ini yang membuat pemodal merasa tidak perlu membantu orang tersebut.

Kesimpulan sementaranya, memang sebagian besar, yang dibantu langsung dan mudah, meskipun jumlah modalnya relatif besar, justru tidak mencetak seorang entrepreneur ataupun orang yang mandiri.

 

Mengapa bukan diri saya yang dibantu?

So…, dari cerita diatas, gua yakin banyak yang akan bertanya, “Kenapa bukan saya saja yang dibantu? Saya ini bekerja keras, karya nyata saya jelas – jelas kelihatan. Dan saya butuh modal lebih untuk ekspansi karya saya. Tapi…kenapa orang – orang itu tidak mau membantu orang seperti saya? Apa yang salah?”

Well…here’s the tricky part….

Loe … ya diri loe yang ngomong kayak kalimat diatas sebenernya tidak ada salah apa – apa.

Tapi…karena loe tau visi kedepannya, karena loe tahu langkah – langkah nya seperti apa, dan karena terbiasa untuk mencari solusi di tengah situasi yang kepepet sekalipun…., justru sebagai konsekuensinya, loe semua (termasuk gue) memancarkan aura mandiri.

Klise memang, tapi aura mandiri itu, atau apapun istilahnya yang terlihat di raut wajah kita, gerak – gerik kita, postur tubuh kita, dll, justru memberi ‘pesan’ ke para pemodal yang murah hati … atau si Rich Uncle itu kalau kita tidak butuh bantuan mereka. Kita memberi ‘pesan’ ke mereka kalau kita bisa mengurus diri kita sendiri meskipun aslinya kita sedang kepepet saat itu. Faktor ini, berlanjut ke point ke-2 yaitu…

Pemodal itu butuh rasa fulfillment ( kepuasan pribadi) kalau dia telah membantu orang yang kesusahan.

Kalau pake teorinya Maslow Hierarchy of Needs atau teori kebutuhan Maslow (silahkan googling) , orang – orang yang duitnya sudah tidak berseri itu, masih ada kebutuhan yang ingin dia penuhi. Kebutuhan tertingginya di teori hirarki tersebut adalah kebutuhan akan aktualisasi diri. Nah salah satu wujudnya adalah dalam bentuk kepuasan pribadi karena telah membantu orang tersebut.

Salah duanya, sebagai tambahan, bentuk lain memenuhi kebutuhan aktualisasi diri tersebut ya dengan menerima pujian (baik langsung maupun tidak langsung) atas keberhasil si pemodal yang sudah mencapai tahap tajir melintir.

That’s why, orang tajir yang suka banget dipuji, end up paling banyak kena tipu.

 

Konklusi?

Rich Uncle suka membantu orang – orang yang terlihat perlu dibantu untuk memenuhi kepuasan pribadi.

Sementara yang dibantu, seringkali menyia-nyiakan bantuannya, bahkan menjadi sangat bergantung dengan bantuan tersebut.

Yang beneran perlu bantuan, justru tidak dilirik oleh Rich Uncle tersebut karena – tidak terlihat – butuh bantuan, sehingga ‘dianggap’ tidak bisa memenuhi kebutuhan aktualisasi dirinya.

It happends most of the time.

And that’s why I called it, Rich Uncle Paradox.

About Rendy Fudoh

Tarot Reader and Creative Project Maker. Whatsapp: 081808034145 / 08777 200 1885

Posted on September 27, 2018, in article, case study, Fudoh, Tarot and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: