Refleksi 20 Tahun Pembacaan Tarot: Hal Yang Tidak Saya Sampaikan ke Klien

Tahun 2026 ini adalah tepat 20 tahun saya sudah belajar dan berkarya seputar pembacaan kartu tarot, termasuk melayani konsultasi klien secara profesional. Dalam usia karir 20 tahun ini, saya pun akhirnya mencoba merefleksikan kedalam, dan akhirnya menemukan satu topik yang bisa dikatakan “serba salah”.

Kok serba salah ? Karena topik ini kalau saya sampaikan ke klien secara langusng, terutama klien baru, seringkali bisa tersinggung. Namun, bila kita bersedia membuka hati dan pikiran, apa yang akan saya bagikan ini adalah intisari dari pola yang saya dapatkan selama melayani konsultasi, sekaligus menjadi sebuah “berita optimis”, terlepas dari apapun masalahmu, baik sebagai pembaca ataupun sebagai klien saya nantinya. Saya mencoba membagikan topik ini dalam tulisan blog, instagram, dan thread nantinya, agar memang orang yang “sudah siap”, bisa membaca tulisan saya dan mencernanya dengan hati dan pikiran yang objektif.

Berikut hal yang (seringkali) tidak saya sampaikan ke klien.

Masalahmu bukanlah masalah yang unik; in fact, banyak yang mengalami hal yang sama seperti kamu.

Ketika saya bertemu dengan seorang klien, baik dia wanita ataupun pria, mereka seringkali bertanya tidak jauh dari potensi dan tantangan dirinya, kecocokan bidang yang dia kerjakan hingga sekarang, sampai gambaran “jodoh” yang potensial bagi mereka. Dan biasanya setelah ini, dilanjutkan dengan masalah lebih spesifik seperti gebetan yang sepertinya tidak sadar-sadar sedang didekati, merasa dirinya tidak laku meskipun secara penampilan-status sosial-pendapatan sudah mapan, kinerja yang kurang dihargai oleh atasan, perasaan perlu tanggung jawab ke keluarga dan saudara secara keuangan, dan masih banyak lagi.

Banyak klien saya yang awalnya mengira, masalah yang mereka alami itu, adalah masalah yang khusus hanya spesifik dia saja yang mengalaminya. Masing-masing dari klien saya, mengira hanya dia yang mengalaminya dan adakalanya merasa, “problem saya itu lebih berat dibandingkan orang lain”. Bad newsnya, nyaris semua masalah yang kita alami, juga dialami oleh orang lain. Good newsnya, kamu tidak sendirian mengalami masalah yang mirip, bahkan dalam sejumlah kasus, masalah yang dialami lebih ke masalah yang sifatnya masalah generasional.

Standard usaha menjadi berhasil di jaman sekarang itu jauh lebih rendah; namun juga diikuti oleh usaha orang kebanyakan yang relatif turun tajam.

Mungkin karena di waktu saya menulis artikel ini, sudah banyak berbagai fasilitas yang memudahkan kita menjadi lebih produktif, sehingga berbagai proses bekerjanya kita menjadi relatif cepat dan mudah dalam membuat sesuatu. Teknologi A.I terutama, membuat kita bisa membuat suatu karya dari yang semula memakan waktu 5 jam, hingga hanya menjadi 1 jam misalnya. Meriset berbagai topik, coding programming, analisa data, semua lebih cepat dan mudah. Dan tentu secara tidak langsung membuat penggunanya perlahan-lahan menurun daya juangnya ketika masalah yang datang ternyata “belum bisa disolusikan oleh A.I”, ataupun memakan waktu yang jauh lebih lama dibandingkan biasanya.

Seperti apa contoh dampaknya ? Membaca buku untuk mencari solusi cenderung malas dan kalau bisa segera dirangkum, berolahraga maunya dalam waktu singkat dengan hasil yang cepat dengan berbagai supplement tambahan yang beresiko, sampai malu / gengsi untuk menawarkan produk jasa sendiri secara person-in-person karena takut akan penolakan serta yakin untuk teknis pemasaran bisa disolusikan dengan A.I dan optimisasi SEO, yang padahal secara hasil, tetap jauh lebih baik pemasaran mulut ke mulut.

Dari sini jugalah lahir semacam “nasehat” dimana untuk menjadi sukses di jaman sekarang itu jauh lebih mudah dibandingkan jaman-jaman sebelumnya. Karena jaman sekarang itu, masyarakat lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengeluh ketimbang berusaha menjadi berhasil. Sehingga standard usaha untuk mencapai keberhasilan, relatif jauh lebih rendah dibanidngkan 10-20 tahun yang lalu.

Mencari pasangan di jaman sekarang memang relatif jauh lebih sulit; karena kita terlalu banyak berprasangka.

Dari sekian banyak klien yang saya terima, bisa dikatakan 95% klien yang single, selalu mengeluhkan sulitnya mencari pasangan meskipun katanya sudah berusaha memperbaiki dan mengembangkan diri agar semakin bernilai di mata calon pasangan. Berikut beberapa hal yang menjadi faktor kenapa lebih sulit :

  • Perkembangan informasi yang pesat, membuat distribusi p0rn juga lebih mudah, membuat ekspektasi generasi sekarang akan seorang pasangan juga menjadi terlalu tinggi.
  • Berbagai informasi di internet yang mendukung dan mengelus “ego” kita, dimana kita merasa diri kita adalah sosok yang unik dan spesial.
  • Berbagai asumsi yang sudah basi seperti: wanita agresif dipandang rendah, pria agresif dipandang mau berjuang, wanita hanya mau pria atletis dan juga sebaliknya, dan berbagai asumsi nyeleneh lainnya, thanks ke berbagai serial tv yang kita tonton.
  • Dan secara objektif, frekuensi sosialisasi bertemu fisik memang relatif berkurang tajam karena kita lebih banyak menghabiskan waktu percakapan melalui messaging app ketimbang bertemu langsung. Sehingga kemampuan sosial kita relatif menurun tajam dan belum cukup banyak jam terbang dalam mengambil resiko.

Ujung-ujungnya, akar dari semua ini adalah prasangka buruk ataupun khawatir dianggap buruk di mata orang lain. Prasangka dan ketakutan ini muncul akibat memang dari kitanya yang relatif jarang bergaul dan relatif nyaman dengan prasangka kita ketimbang bertanya / mencari fakta langsung di lapangan.

Kamu hanyalah spesial dimata orang tuamu, dan biasa saja di mata orang lain.

Satu kenyataan objektif dan pahit, yaitu kita perlu menerima kalau paling mentok, kita itu sosok yang unik dan spesial dimata orang tua kita masing-masing. Dan kita adalah sosok yang biasa saja di mata masyarakat umumnya.

Karena kita adalah orang yang biasa-biasa saja, maka sudah sewajarnya kita berusaha dan bekerja MINIMAL sekeras dan secerdas orang-orang disekitar kita. Dan untuk menjadi “spesial” di lingkungan sekitar pun, konsekuensinya kita perlu bekerja lebih cerdas dan keras dibandingkan orang sekitar kita. Dan sepanjang orang tua kita bukan orang tua yang secara ekonomi memang sangat kaya, maka anggapan spesial di mata orang tua pun relatif tidak terpakai/ berguna untuk perkembangan karir kita sendiri.

Dan adakah konsekuensi buruk yang mungkin tidak disadari orang tua sendiri ketika terlalu memperlakukan kita sebagai anak secara spesial ? Sangat ada…, yaitu berpotensi menjadi sangat jarang dalam menghadapi kegagalan.

Begitulah memang, ada beberapa hal yang saya sendiri menahan diri ketika melayani konsultasi dengan berbagai klien yang beragam latar belakang. Dan diharapkan, para pembaca yang membaca ini juga mengerti dan memahami…, kalau kita itu hanyalah 1 manusia diantara berbagai manusia lainnya; sehingga dunia pun tidak berputar mengelilingi kamu saja sebagai individu.

Notes: untuk konsultasi tarot ataupun astrologi, bisa chat ke WhatsApp di +62 8777 200 1885 untuk price list dan atur jadwalnya.

Unknown's avatar

About Rendy Fudoh

Tarot Reader , Astrologer , and Creative Project Maker. Whatsapp: +62 81808034145 / +62 8777 200 1885 Email : RendyFudoh@gmail.com

Posted on April 7, 2026, in article, Fudoh, Tarot and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a comment