Blog Archives
Refleksi 20 Tahun Pembacaan Tarot: Hal Yang Tidak Saya Sampaikan ke Klien
Tahun 2026 ini adalah tepat 20 tahun saya sudah belajar dan berkarya seputar pembacaan kartu tarot, termasuk melayani konsultasi klien secara profesional. Dalam usia karir 20 tahun ini, saya pun akhirnya mencoba merefleksikan kedalam, dan akhirnya menemukan satu topik yang bisa dikatakan “serba salah”.
Kok serba salah ? Karena topik ini kalau saya sampaikan ke klien secara langusng, terutama klien baru, seringkali bisa tersinggung. Namun, bila kita bersedia membuka hati dan pikiran, apa yang akan saya bagikan ini adalah intisari dari pola yang saya dapatkan selama melayani konsultasi, sekaligus menjadi sebuah “berita optimis”, terlepas dari apapun masalahmu, baik sebagai pembaca ataupun sebagai klien saya nantinya. Saya mencoba membagikan topik ini dalam tulisan blog, instagram, dan thread nantinya, agar memang orang yang “sudah siap”, bisa membaca tulisan saya dan mencernanya dengan hati dan pikiran yang objektif.
Berikut hal yang (seringkali) tidak saya sampaikan ke klien.
Masalahmu bukanlah masalah yang unik; in fact, banyak yang mengalami hal yang sama seperti kamu.
Ketika saya bertemu dengan seorang klien, baik dia wanita ataupun pria, mereka seringkali bertanya tidak jauh dari potensi dan tantangan dirinya, kecocokan bidang yang dia kerjakan hingga sekarang, sampai gambaran “jodoh” yang potensial bagi mereka. Dan biasanya setelah ini, dilanjutkan dengan masalah lebih spesifik seperti gebetan yang sepertinya tidak sadar-sadar sedang didekati, merasa dirinya tidak laku meskipun secara penampilan-status sosial-pendapatan sudah mapan, kinerja yang kurang dihargai oleh atasan, perasaan perlu tanggung jawab ke keluarga dan saudara secara keuangan, dan masih banyak lagi.
Banyak klien saya yang awalnya mengira, masalah yang mereka alami itu, adalah masalah yang khusus hanya spesifik dia saja yang mengalaminya. Masing-masing dari klien saya, mengira hanya dia yang mengalaminya dan adakalanya merasa, “problem saya itu lebih berat dibandingkan orang lain”. Bad newsnya, nyaris semua masalah yang kita alami, juga dialami oleh orang lain. Good newsnya, kamu tidak sendirian mengalami masalah yang mirip, bahkan dalam sejumlah kasus, masalah yang dialami lebih ke masalah yang sifatnya masalah generasional.
Standard usaha menjadi berhasil di jaman sekarang itu jauh lebih rendah; namun juga diikuti oleh usaha orang kebanyakan yang relatif turun tajam.
Mungkin karena di waktu saya menulis artikel ini, sudah banyak berbagai fasilitas yang memudahkan kita menjadi lebih produktif, sehingga berbagai proses bekerjanya kita menjadi relatif cepat dan mudah dalam membuat sesuatu. Teknologi A.I terutama, membuat kita bisa membuat suatu karya dari yang semula memakan waktu 5 jam, hingga hanya menjadi 1 jam misalnya. Meriset berbagai topik, coding programming, analisa data, semua lebih cepat dan mudah. Dan tentu secara tidak langsung membuat penggunanya perlahan-lahan menurun daya juangnya ketika masalah yang datang ternyata “belum bisa disolusikan oleh A.I”, ataupun memakan waktu yang jauh lebih lama dibandingkan biasanya.
Seperti apa contoh dampaknya ? Membaca buku untuk mencari solusi cenderung malas dan kalau bisa segera dirangkum, berolahraga maunya dalam waktu singkat dengan hasil yang cepat dengan berbagai supplement tambahan yang beresiko, sampai malu / gengsi untuk menawarkan produk jasa sendiri secara person-in-person karena takut akan penolakan serta yakin untuk teknis pemasaran bisa disolusikan dengan A.I dan optimisasi SEO, yang padahal secara hasil, tetap jauh lebih baik pemasaran mulut ke mulut.
Dari sini jugalah lahir semacam “nasehat” dimana untuk menjadi sukses di jaman sekarang itu jauh lebih mudah dibandingkan jaman-jaman sebelumnya. Karena jaman sekarang itu, masyarakat lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengeluh ketimbang berusaha menjadi berhasil. Sehingga standard usaha untuk mencapai keberhasilan, relatif jauh lebih rendah dibanidngkan 10-20 tahun yang lalu.
Mencari pasangan di jaman sekarang memang relatif jauh lebih sulit; karena kita terlalu banyak berprasangka.
Dari sekian banyak klien yang saya terima, bisa dikatakan 95% klien yang single, selalu mengeluhkan sulitnya mencari pasangan meskipun katanya sudah berusaha memperbaiki dan mengembangkan diri agar semakin bernilai di mata calon pasangan. Berikut beberapa hal yang menjadi faktor kenapa lebih sulit :
- Perkembangan informasi yang pesat, membuat distribusi p0rn juga lebih mudah, membuat ekspektasi generasi sekarang akan seorang pasangan juga menjadi terlalu tinggi.
- Berbagai informasi di internet yang mendukung dan mengelus “ego” kita, dimana kita merasa diri kita adalah sosok yang unik dan spesial.
- Berbagai asumsi yang sudah basi seperti: wanita agresif dipandang rendah, pria agresif dipandang mau berjuang, wanita hanya mau pria atletis dan juga sebaliknya, dan berbagai asumsi nyeleneh lainnya, thanks ke berbagai serial tv yang kita tonton.
- Dan secara objektif, frekuensi sosialisasi bertemu fisik memang relatif berkurang tajam karena kita lebih banyak menghabiskan waktu percakapan melalui messaging app ketimbang bertemu langsung. Sehingga kemampuan sosial kita relatif menurun tajam dan belum cukup banyak jam terbang dalam mengambil resiko.
Ujung-ujungnya, akar dari semua ini adalah prasangka buruk ataupun khawatir dianggap buruk di mata orang lain. Prasangka dan ketakutan ini muncul akibat memang dari kitanya yang relatif jarang bergaul dan relatif nyaman dengan prasangka kita ketimbang bertanya / mencari fakta langsung di lapangan.
Kamu hanyalah spesial dimata orang tuamu, dan biasa saja di mata orang lain.
Satu kenyataan objektif dan pahit, yaitu kita perlu menerima kalau paling mentok, kita itu sosok yang unik dan spesial dimata orang tua kita masing-masing. Dan kita adalah sosok yang biasa saja di mata masyarakat umumnya.
Karena kita adalah orang yang biasa-biasa saja, maka sudah sewajarnya kita berusaha dan bekerja MINIMAL sekeras dan secerdas orang-orang disekitar kita. Dan untuk menjadi “spesial” di lingkungan sekitar pun, konsekuensinya kita perlu bekerja lebih cerdas dan keras dibandingkan orang sekitar kita. Dan sepanjang orang tua kita bukan orang tua yang secara ekonomi memang sangat kaya, maka anggapan spesial di mata orang tua pun relatif tidak terpakai/ berguna untuk perkembangan karir kita sendiri.
Dan adakah konsekuensi buruk yang mungkin tidak disadari orang tua sendiri ketika terlalu memperlakukan kita sebagai anak secara spesial ? Sangat ada…, yaitu berpotensi menjadi sangat jarang dalam menghadapi kegagalan.
Begitulah memang, ada beberapa hal yang saya sendiri menahan diri ketika melayani konsultasi dengan berbagai klien yang beragam latar belakang. Dan diharapkan, para pembaca yang membaca ini juga mengerti dan memahami…, kalau kita itu hanyalah 1 manusia diantara berbagai manusia lainnya; sehingga dunia pun tidak berputar mengelilingi kamu saja sebagai individu.
Notes: untuk konsultasi tarot ataupun astrologi, bisa chat ke WhatsApp di +62 8777 200 1885 untuk price list dan atur jadwalnya.
Apakah Membaca Tarot Masih Menarik ? 5 Peluang Dalam Bisnis Baca Tarot (Part 2 dari 2)
Apabila di artikel sebelumnya kita membahas 5 tantangan utama saat ini dalam membaca tarot, maka kali ini kita seimbangkan dengan 5 peluang yang bisa dimanfaatkan dalam bisnis baca tarot ini sendiri.
Dan sebelum kita memulai, saya banyak mendengar dari masyarakat umumnya, yang beropini kalau baca tarot sudah tidak bisa lagi menjadi sumber pendapatan utama, apalagi yang sudah berkeluarga. Disini saya bisa mengatakan, banyak pembaca tarot yang berhasil membangun namanya sendiri, sudah berkeluarga, dan sumber pendapatan utamanya dari membaca tarot.
Saya tidak menyalahkan orang yang beropini sebaliknya dan justru menganggap itu sesuatu yang wajar. Karena sebagian besar orang yang benar-benar berhasil dari membaca tarot, justru bukanlah orang yang sering mermarketingkan dirinya, dan justru relatif kurang aktif di media sosial untuk promosi jasanya.
Tanpa perlu panjang – panjang lagi, berikut 5 peluang yang saya lihat bisa digunakan saat ini.
Menjadi berhasil di Tarot relatif lebih mudah di jaman sekarang; sepanjang praktisinya konsisten.
Kesannya point pertama ini klise, tapi inilah yang terjadi di jaman sekarang; dimana sebagian besar praktisi tarot jaman sekarang sangat rendah konsistensinya. Kok bisa?
Sederhananya, thanks untuk adanya fitur video pendek di berbagai media sosial, dimana di satu sisi kita bisa mendapatkan informasi terupdate dengan waktu yang relatif sangat cepat dan juga bisa mendapat hiburan singkat di sela-sela waktu kesibukan kita. Hanya saja, dengan adanya fenomena fitur video pendek ini juga, membuat masyarakat yang tidak disiplin, justru menjadi sangat melekat dengan video pendek ini. Banyak kejadian (dan godaan) dimana kita melihat video pendek tersebut, mengatakan ke diri sendiri kalau kita melihatnya hanya 5 menit saja di sela-sela kerja, namun ternyata tanpa kita sadari, kita sudah melihatnya hampir 1-2 jam. In short: sebagian besar masyarakat kecanduan media sosial.
Terus apa dampaknya? Dampaknya, sebagian masyarakat sudah memiliki durasi fokus dan disiplin yang sangat pendek. Konon, durasi fokus manusia dalam mengerjakan sesuatu, sudah tidak lebih lama dari 8 detik, sebelum dia sela dengan kegiatan lainnya. Alhasil, daya juang, konsistensi, dan persistensi sebagian besar orang di jaman sekarang, menjadi amat sangat rendah sekali. Perubahan ini terjadi dalam waktu yang amat sangat singkat, tidak sampai 10 tahun.
Jadi bayangkan, apabila kita masih memiliki motivasi dan konsistensi yang sama dengan 10 tahun lalu, dan kita terapkan di jaman sekarang, justru kita lebih mudah berhasil dalam hal apapun yang kita kerjakan, termasuk bisnis baca tarot.
Bukan karena kitanya yang semakin berkembang menjadi berhasil, melainkan standard untuk berhasil itu yang jaman sekarang menjadi turun sangat rendah dibandingkan 10 tahun sebelumnya.

Minat akan spiritual dan sesi self-help yang semakin meningkat.
Tidak bisa dipungkiri, tantangan dalam karir di jaman sekarang juga semakin meningkat, termasuk juga berbagai godaan dari media sosial akan gaya hidup yang ‘layak’ menurut si pembuat konten.
Oleh karena itu, minat akan spiritualitas dan self-help juga semakin tinggi sebagai bentuk penyeimbang dengan berbagai tuntutan materi yang kita rasakan di sekeliling kita. Tujuannya ? Agar kita lebih banyak mensyukuri dengan apa yang sudah kita miliki, menurunkan ekspektasi akan tolak ukur kekayaan pribadi, dan ujung-ujungnya agar kita dapat menjalani hidup kita lebih berbahagia dan tersenyum.
Disinilah sesi konsultasi membaca tarot bisa masuk dan mengisi kebutuhan akan spiritual dan self-help tersebut. Apabila seorang konsultan pembaca tarot, tidak hanya menguasai tarot namun juga menguasai berbagai metode self-help sederhana yang bisa ia bagikan ke kliennya, maka dijamin klien akan lebih repeat order ke pembaca tarot tersebut sesuai dengan kebutuhannya saat itu.

Segmen pasar yang beragam dan seringkali terkotakkan.
Semakin kesini, profil customer untuk baca tarot menjadi sangat beragam dan sangat luas. Dari yang remaja yang masih sekolah kelas 10 keatas, mahasiswa, eksekutif muda, hingga karyawan senior, pengusaha, dan masih banyak lagi.
Tentu setiap profil customer memiliki preferensi topik pertanyaannya masing-masing dari yang memprioritaskan seputar cinta, hingga yang memprioritaskan seputar keluarga, ataupun bisnis. Beragamnya profil customer untuk sesi baca tarot ini, membuat kita memiliki banyak alternatif untuk memilih segment pasar yang mana.
Lalu kenapa saya menulisnya “terkotakkan” ? Sederhananya karena ada perilaku unik dari customer yang saya amati. Dimana untuk pasar pengguna jasa baca tarot yang dari usia muda hingga usia karyawan umumnya, seringkali memilih pembaca tarot yang sudah memiliki testimoni di media sosialnya sebagai bukti kalau bacaannya akurat. Sementara untuk pasar yang seorang pengusaha ataupun memiliki posisi karir yang tinggi, seringkali lebih nyaman membaca tarot yang direkomendasikan secara lisan oleh rekannya, dan tidak posting testimoni di media sosialnya, sebagai penanda kalau privasi klien bisa dia jaga.
Tarot dapat dikombinasikan dengan metode lain.
Tarot menjadi salah satu sarana konsultasi dan divinasi yang relatif fleksibel dan bisa dikombinasikan dengan metode konsultasi lainnya. Salah satu metode konsultasi yang dekat dengan tarot adalah dengan astrologi, baik astrologi dalam konteks membaca chart lahir (natal astrology) ataupun astrologi dalam konteks meramal (horary astrology).
Selain astrologi, tarot juga dapat dikombinasikan dengan metode lain seperti Human Design, berbagai metode meditasi dan visualisasi, dan juga metode konseling psikologi klinis. Karena tidak ada batasan tertentu untuk menggabungkan tarot dengan metode lainnya, membuat para pembaca tarot juga bisa mengkombinasikan berbagai metode yang ia kuasai sehingga membentuk produk jasa yang unik dan inovatif dibandingkan pembaca tarot lainnya.
Sebagian besar pembaca tarot di Indonesia, sangat malas belajar
Kesannya memang judging, namun inilah yang terjadi di Indonesia. Sebagian besar pembaca tarot sudah nyaman dengan merasa sudah bisa menginterpretasi kartu, sehingga malas untuk memperkaya ilmu pengetahuannya dengan memperdalam kartu tarot ataupun belajar ilmu pengetahuan pendukung lainnya.
Karena sebagian besar pembaca tarot di Indonesia memang malas, justru ini menjadi peluang yang sangat bagus bagi para pembaca tarot lainnya untuk menambah ilmu pengetahuan pendukung agar bacaannya semakin akurat, sekaligus bisa memperluas pasar kliennya sendiri agar semakin beragam kliennya.
Para pembaca tarot yang seringkali mengeluh akan kliennya yang sedikit ataupun pendapatannya yang tidak menutupi biaya operasionalnya dia, seringkali ketika saya amati, memang orang tersebut ketika sedang mendapat banyak rejeki, memang malas untuk investasi sebagian pendapatannya tersebut ke ilmu pengetahuan yang bisa mendukung profesinya.
Kesimpulan 5 peluang
Meskipun secara umum, tantangan dalam menjalankan usaha baca tarot terkesan mulai meningkat, namun sebenarnya peluangnya jauh melebihi tantangan yang ada. Bila kita lihat peluang diatas, konsistensi yang lebih dihargai, minat spiritual dan self-help yang meningkat, segmen beragam dan ‘terkotakkan’, dapat dikombinasikan dengan metode lain, dan sebagian besar pembaca tarot adalah pemalas, kita bisa menarik kesimpulan sederhana kenapa peluang baca tarot ini masih sangat bagus:
Peluang jasa baca tarot masih sangat bagus dan bahkan meningkat secara umum apabila si pembaca tarot secara sadar perlahan-lahan berpindah segmen pasar ke pasar yang ekonomi kelas menengah keatas, termasuk orang yang memang suka membayar harga cukup tinggi di segment ini.
Dan apabila seorang pembaca tarot hendak membidik pasar yang menggiurkan ini, tentu bukanlah dengan suatu cara yang instant seperti yang diberitakan di media sosial umumnya. Kelas ekonomi menengah keatas, apalagi keatas membutuhkan proses menuju kesana yang bertahap termasuk memperkaya diri dengan berbagai metode yang bertahap juga.
Bagaimana proses memperkaya diri agar bisa perlahan-lahan masuk ke pangsa pasar kelas ekonomi menengah keatas hingga ke kelas elit tersebut ? Hal ini akan kita bahas di artikel berikutnya.
Kenapa Membaca Tarot Dengan ‘Mindset Mentalist’ itu Merupakan Pendekatan Yang Keliru Untuk Konsultasi Private?
DISCLAIMER
Tulisan ini bukan untuk memojokkan orang yang belajar mentalism. Melainkan untuk memberikan pengertian, bahwa meskipun memang ada penggunaan kartu Tarot untuk hiburan panggung, Ketika sudah menyentuh ranah konsultasi private, justru sangat dianjurkan untuk belajar dengan sungguh – sungguh akan makna setiap kartu dan cara membawa konsultasi tarot private kepada klien. Trust me, pendekatan para mentalist , yang tidak belajar tarot untuk konsultasi secara privat (karena malas dan menggampangi), akan sangat jauh berbeda ketimbang pendekatan yang dilakukan oleh para tarot reader sungguhan.
Saya sendiri, selain belajar tarot, juga belajar mentalism. Dan mungkin saya termasuk satu dari sedikit mentalist yang belajar mentalism itu dari literatur di Indonesia. Kenapa saya berani berkata demikian? Karena Sebagian besar mentalist di Indonesia itu, modalnya ya belajar dari video. Padahal, lucunya, pengetahuan seputar mentalism itu, Sebagian besar itu dari literatur. Alasannya? Sederhana. Sebagian besar mentalist di Indonesia itu malas baca literatur Bahasa Inggris.
Dan dari masa – masa saya belajar 2 bidang ilmu tersebut, justru saya menemukan fenomena yang sering terjadi, dan justru menyimpulkan kalua seorang mentalist, apabila mulai masuk ke ranah baca tarot untuk konsultasi private klien, sebenarnya sangat tidak cocok apalagi cenderung menjadi merugikan klien itu sendiri. Hal ini menjadi sangat kentara apabila orang yang memberi konsultasi tarot secara private, berasal dari background ilmu mentalist dan cenderung ‘malas’ untuk belajar ilmu pengetahuan baca Tarot.
Sambil tetap menjaga etika dunia persulapan, saya akan mencoba membeberkan kenapa pendekatan para mentalist umumnya, berbeda dengan pendekatan tarot reader yang benar – benar belajar tarot.

Pertama, mentalism bertujuan untuk menghibur konsumen, tarot reader bertujuan memberi solusi kepada klien.
Prinsip pertama pertunjukan sulap, terutama mentalism, itu tujuannya memang untuk memberikan hiburan, dan seringkali hiburannya memang menyerempet ke supranatural. Namun sekali lagi, itu dibawa untuk ke ranah hiburan. Sementara, untuk konsultasi klien secara private, mungkin tetap ada factor hiburannya, namun orientasi dari konsultasi tersebut adalah untuk brainstorming masalah klien dan mencari solusi yang bisa klien lakukan untuk memperbaiki hidupnya.
Banyak mentalist, yang karena belum belajar tarot mendalam, terjebak dalam mindset, konsultasi tarot private itu berorientasi memberi hiburan kepada klien, sadar tidak sadar yah. Apapun solusi yang diberikan, itu bukanlah hal penting, sepanjang klien merasa terhibur dengan ‘pertunjukan private’nya.
Kedua, mentalism sudah ‘terlanjur belajar tehnik komunikasi tertentu’, tarot reader di Indonesia, cenderung tidak belajar tehnik tersebut.

Bagian ini agak sensitive, tapi saya akan mencoba menjelaskan sebisa mungkin.
Mentalist pada umumnya, akan diminta belajar tehnik komunikasi psikologis tertentu, minimal ada 2 tehnik dasar yang tidak bisa saya utarakan disini karena alas an etika persulapan. Tehnik tersebut, apabila memang dipelajari dan diterapkan dengan baik, maka akan membuat si pendengar merasa bahwa si mentalist ini, bisa membaca dirinya hingga yang paling pribadi sekalipun.
Masalahnya, tehnik tersebut bertujuan menghibur dan memberi ‘ilusi’ seakan – akan mentalist bisa membaca. Aslinya sih, ya gitu dhe.
Sementara tarot reader, selain menggunakan intuisi dan pengalaman dia sehari – hari dalam menganalisa sikon klien, tentunya mereka benar – benar, membaca makna dari setiap kartu yang ada dan mencoba mencari hubungan dengan sikon klien yang dibacakan.
Apa implikasinya dalam bacaan ? Bacaan yang dibawakan oleh mentalist, seringkali sangat tidak mendetail, di awang – awang, dan kurang akurat dibandingkan dengan bacaan yang dibawakan oleh tarot reader beneran.
Bahkan in some case, mentalist amatiran yang mencoba baca tarot pun, banyak yang terjebak dalam memberikan ‘bacaan yang sama’ kepada klien yang berbeda – beda; lepas dari apapun kartu yang keluar.
Ketiga, dan mungkin menohok Sebagian orang, Sebagian besar mentalist Indonesia, cenderung meremehkan pekerjaan tarot reader dan merasa tidak perlu belajar tarot secara mendalam.

Banyak rekan – rekan saya yang merasa, berbagi tehnik mentalism yang mereka pelajari, sudah cukup sebagai bekal mereka untuk mengadakan konsultasi tarot kepada klien secara private. Dan lucunya entah kenapa, banyak mentalist yang saya temui menganggap membaca tarot itu sangat mudah. Saking mudahnya, dianggap pekerjaan baca tarot adalah pekerjaan mudah dalam mencari uang.
Dan orang yang sama, memutuskan malas untuk baca buku seputar tarot, dengan alas an, ga bis abaca Bahasa Inggris.
Alhasil, karena orang seperti itu menganggap konsultasi tarot adalah sesuatu yang mudah, maka mulai semakin banyak para pesulap mentalist yang banting setir menjadi tarot reader dan membaca kartu dengan ‘kaca mata mentalist’ tersebut, dan hasilnya? Sesuai perkiraan, banyak klien yang justru merasa tidak terbantu dan semakin mumet dengan masalahnya.
Penutup
Siapapun boleh belajar tarot; asalkan belajar dengan sumber yang tepat dan melepaskan berbagai kacamata ilmu yang sudah dipelajari sebelumnya. Berbagai ilmu pengetahuan yang sudah kita pelajari, seringkali juga menjadi penghalang tersendiri untuk mempelajari ilmu pengetahuan yang baru.
Tarot Reader Bonafide ? Memang Ada?
Dari pengalaman bertahun-tahun dalam menekuni dunia tarot reading profesional, ternyata memang ada loh tarot reader yang memang bagus DAN ada juga yang benar – benar abal – abal.

Kok bisa ada yang abal – abal? Memang bisa saja; karena seputar dunia tarot di Indonesia memang belum ada standarisasinya ataupun semacam asosiasi profesi yang punya wewenang menerbitkan surat jaminan kompetensi…, alias blom ada yang bisa nerbitin ijasah lah intinya.
Jadi, kalau memang belum ada, apa yang bisa teman – teman lakuin sebelum melakukan konsultasi ke tarot reader tersebut? Bagaimana cara membedakan yang memang kompeten/ bisa membaca, atau yang abal – abal? Di artikel ini, gw akan share pengalaman gw untuk membantu melihat dan membedakan tarot reader yang seperti itu.
Penilaian Netral
Hal penting dari seorang tarot reader adalah, dia harus netral untuk kasus apapun; sehingga dia tidak memasukkan agenda pribadi ataupun maksud lain yang bisa membuat bacaan melenceng dari semestinya.
Netral disini bisa dilihat dari berbagai cara dia menanggapi kasusmu. Apakah dia akan menanyakan banyak ‘faktor pendukung’ disamping kasus utama yang kamu ceritakan? Apakah dia akan menanyakan background karir, status pernikahan, pendidikan, dan lainnya yang terlibat dalam cerita yang kamu konsultasikan?
Netral disini juga termasuk dalam artian tidak menilai negatif/ judging negatif mengenai apapun yang anda alami.
Misalnya, dia tetap akan netral apabila kamu membuka orientasi sexualmu; entah straight, gay, ataupun bi. Dia juga akan tetap netral apapun situasi rumah tanggamu; dan tentu tetap netral apapun karirmu.
Menghargai Bacaan Orang Lain
Gw seringkali menemukan berbagai klien yang sudah berkonsultasi dengan tarot reader lain sebelum berkonsultasi dengan gw sendiri.
Menurut gw, sepanjang tidak melenceng jauh banget, ada baiknya juga seorang tarot reader tidak mendiskreditkan / menjelekkan bacaan tarot reader sebelumnya. Lucunya, justru ketika gw berusaha mencari benang merah dengan bacaan sebelumnya, malah gw semakin dihargai oleh klien tersebut.
Lihat Media Sosialnya
Cara lain yang cukup sederhana sebelum memutuskan konsultasi ke tarot reader tersebut adalah dengan mengamati media sosialnya. Apa saja yang dia post? Apakah postnya sering mengeluh meminta simpati ataupun menjatuhkan karya/ pribadi orang lain? Kalau iya, lebih baik lihat yang lain deh.
Bagian ini menjadi sangat penting karena gw sendiri sering menemukan tarot reader yang ngepost cerita detail klien tanpa ijin dari klien tersebut, meskipun nama disamarkan dengan inisial. Bahkan ada tarot reader yang menjadikan cerita klien sebagai bahan gosip ke sesama reader.
Berpengetahuan Luas, Tutur Sederhana
Seorang tarot reader memang dituntut berpengetahuan / berwawasan luas; sehingga tarot reader yang bonafide akan selalu dengan sadar untuk terus belajar, lepas dari apapun caranya.
Tarot reader yang berwawasan luas, tidak puas hanya dengan status – status yang dia ‘buat sendiri’ seperti status orang ningrat lah, indigo lah, generasi kristal lah, generasi matahari hijau lah, dan masih banyak lagi. Mau status seheboh apapun, belajar menimba ilmu tetap menjadi prioritas selama menekuni tarot.
Setelah berpengetahuan luas, tentu semua tidak akan berarti kalo tidak bisa mengkomunikasikan pengetahuanmu ke klien bukan? Jadi, gunakan bahasa sesederhana mungkin ketika berkomunikasi sama klien agar mudah dimengerti. Gejala pamer berbagai jargon atau istilah – istilah ribet dalam sesi pembacaan tarot, mengutip pernyataan alm. Bob Sadino , itu tidak lebih daripada onani ilmu .
Konklusi?
Kalau uraian diatas bisa dipersingkat lagi, mungkin bisa direkap dalam 1 kalimat:
Tarot Reader Bonafide akan memperlakukan dan menghargai klien dengan hormat, empati, dan profesional.
– Rendy Fudoh –
Semoga bermanfaat. 🙂
Ramalan Percintaan Bulan Juni 2020
Video untuk sesi ramalan Tarot ” Pick-A-Card” atau “pilih kartu tarotmu” sudah ada di bulan Juni ini.
Dan untuk kali ini, gw membagi jadi 2 video, saran percintaan bagi yang single dan bagi yang sudah berpasangan ( pacaran / menikah )
Berikut saran percintaan untuk yang single.
Berikut saran percintaan untuk yang sudah berpasangan.
Caranya sederhana, cukup pilih 1 tumpukan dari 3 tumpukan yang ada. Dan itulah bacaan untukmu.
Semoga bermanfaat yah. 🙂
