Blog Archives
Directing Energies Into Your Goal
Tulisan kali ini lebih menjurus ke arah self-help. Ini terinspirasi dari apa yang terjadi dengan teman-teman saya dari beragam profesi: tarot reader, praktisi magick, orang kantoran, wirausaha, dsb. Umumnya, sebagian dari mereka yang mengenal dunia mistis atau dunia spiritual, pernah melakukan salah satu hal dibawah ini:
- Berdoa minta sesuatu dengan kepercayaan mereka masing-masing
- Membeli kistal sebagai sumber energi dan diprogram untuk mencapai tujuan tertentu
- Membeli spirit vessel dan meminta bantuan spirit untuk mencapai tujuan tertentu
- Meminta orang lain untuk mendoakan dia
Nah, setelah melakukan salah satu dari syarat diatas, seringkali orang-orang tersebut cenderung melakukan kegiatan sehari-hari seperti sedia kala, tanpa ada perubahan apa-apa. Dan kemudian semua doa, kristal, spirit vessel, atau apapun metodenya, justru menjadi tidak manjur.
Pertanyaannya adalah, apakah kristal atau spirit vessel atau doa itu tidak mempan?
Sebetulnya, dalam berbagai cara diatas, terdapat 1 benang merah yaitu mengarahkan energi ke tujuang yang kita inginkan . Sehingga, meskipun kita sudah melakukan berbagai cara diatas, namun semua itu bisa memakan waktu sangat lama kalau kita sendiri tidak mengusahakannya secara nyata. Jadi bila hanya berdoa namun tidak ada bentuk usahanya, ya sama saja tidak mempengaruhi apa-apa sebenarnya.
Itu alasan praktisnya; sedangkan kalau ditinjau dari sisi energi, dengan doa dan metode-metode diatas, kita mengirimkan energi ke semesta atau ke dunia astral (atau meminta kepada Tuhan, atau apapun sebutannya sesuai kepercayaannya masing-masing), namun setelah kita belum terlalu membentuk keinginan kita secara detial didunia astral/ semesta tersebut sehingga lebih sulit untuk termaterialisasi/ terwujudkan didunia fisik ini.
Untuk itu, selain dengan doa dan berbagai metode mengarahkan energi seperti diatas, berikut beberapa tips untuk follow-up setelah doa tersebut:
- Siapkan jurnal, tulis targetnya secara spesifik, dan hal apa saja yang perlu dilakukan untuk mencapai target tersebut. Pecahkan rincian yang perlu dilakukan menjadi hal-hal yang lebih detail dan praktis, serta TENTUKAN DEADLINE alias batas waktunya.
Kenapa ini diperlukan? Karena dengan menulis sampai sedetail mungkin, secara sadar kita mengfokuskan energi kita ke tujuan tersebut. Jadi selain goalnya sudah ada di pikiran kita, kita perlu menunangkannya kebentuk tulisan agar menjadi semakin terfokus.
- Terus kembangkan jaringan dan cari kelompok orang-orang yang memiliki ketertarikan/ goal yang sama dengan anda
Ini perlu dilakukan karena salah satu kunci terpenting dari keinginan kita bisa terwujud adalah dengan mengenal banyak orang. Semakin banyak orang yang kita kenal, semakin mudah untuk universe mematerialisasikan keinginan kita ke dunia fisik lewat berbagai peluang dan “kebetulan-kebetulan” yang berasa dari orang-orang yang kita kenal.
- Jauhi/ batasi waktu untuk berinteraksi dengan orang-orang yang berusaha menjauhkan anda dari goal anda
Orang yang meremehkan anda, dan menasihati anda untuk mengurungkan niat anda dalam mencapai tujuan anda sebetulnya adalah orang yang sudah gagal. Karena mereka sudah gagal, maka mereka mencari pembenaran dengan cara menasehati orang lain dengan cerita-cerita mereka agar orang lain juga bernasib sama seperti mereka. Selain itu, orang yang meremehkan anda, sebetulnya juga ada rasa iri dalam diri mereka karena anda bejruang dengan sekuat tenaga, sementara mereka hanya terdiam dan mengeluh. Saya menggaris bawahi untuk membatasi waktu dengan orang-orang seperti ini supaya energi anda tetap terfokus ke tujuan dan tidak terpengaruh oleh pengaruh luar yang bisa membelokkan anda dari tujuan anda. Membatasi waktu disini juga berarti karena kita tidak bisa menghindari bertemu orang-orang seperti ini dikehidupan sosial, maka hal yang bisa kita lakukan adalah mempersingkat waktu untuk berinteraksi dengan orang-orang seperti mereka.
- Bawa santai apabila ada yang berkomentar tidak enak kepada anda
Apabila ada yg berkomentar tidak enak kepada anda atau menyakitkan anda, anggap saja itu sebagai masukan. Apabila memang komentarnya tidak bernilai sama sekali, maka cukup dengarkan saja dan lupakan itu semua. Semakin kita memikirkan komentar – komentar yang melecehkan tersebut, malah semakin menjauhkan anda dari goal yang anda inginkan.
- Memberi dan memberi
Memberi dalam hal ini memiliki arti yang luas. Tidak hanya memberi dari sisi materi, namun dari sisi moril dan hal-hal lainnya. Kenapa demikian? Karena didunia ini ada semacam hukum absolut yang berbunyi “Apa yang anda berikan, akan anda terima 3x lipat lebih besar.”. Hukum ini memiliki berbagai perubahan kalimat yang intinya tetap sama seperti isi dari hukum karma, atau kutipan dari sebuah kitab “apa yang kamu tanam, itulah yang kamu tuai.”. Nah, hal ini juga berimplikasi apabila anda memberi dukungan moril kepada orang lain, maka anda juga akan didukung; apabila anda memberi bantuan keuangan, maka pada waktunya keuangan anda juga dibantu; apabila anda membantu karir seseorang, maka karir nada juga dibantu. Sebaliknya apabila anda menggosipkan secara negatif, sumpah-serapah, caci-maki, maka anda pada waktunya juga akan menerima hal tersebut. Lucunya adalah, hukum ini pada saat anda jalani benar-benar serasa ajaib. Jadi jangan heran apabila anda pernah menipu orang lain, anda juga akan ditipu oleh orang yang berbeda dan tidak berhubungan sama sekali dengan orang yang anda tipu sebelumnya. Atau bila anda pernah memberi sedekah ke orang miskin, anda akan menerima bantuan finansial dari bos ataupun orang yang tidak mengenal orang miskin tersebut.
Sekian dulu share dari saya. Memang kesannya tips diatas adalah tips yang umum disbeutkan orang-orang motivator. Namun semata-mata ini disebabkan karena dunia spiritual dan logika memiliki benang merah dan saling berhubungan. Yang sekilas rasiona dan irrasional pun sebetulnya memiliki jembatan pengetahuan apabila anda bersedia membuka pikiran dan tidak membatasi diri.
Penggunaan Kristal Untuk Tarot
Well…., seiring dengan semakin berpengelamannya seseorang dan semakin tingginya jam terbang seseorang dalam membacakan tarot untuk orang lain, maka akan ada saatnya kartu yang biasa kita gunakan benar-benar terasa tidak seakurat biasanya, ataupun mendadak intuisi dan interpretasi kita serasa tumpul. Biasanya, ini terjadi kalau dalam waktu yang cukup panjang, deck tarotnya dipakai terus-menerus tanpa henti, atau kitanya yang sudah terlalu lelah secara psikis karena membacakan orang.
Salah satu penyebab utamanya adalah disebabkan karena pada saat kita membacakan untuk orang lain, kita juga berempati kepada klien. Adakalanya perasaan kita pun terbawa dengan mereka, yang dimana itu sebenarnya merupakan indikasi sebagian energi kita telah bertukar dengan klien. Dengan kata lain, kita menerima energi dari klien dan klien menerima energi dari kita.
Bayangkan kalau kita menerima berbagai energi dari pikiran-pikiran negatif dari klien dalam jangka waktu yang panjang, umumnya ini akan berimbas kepada emosi kita. Itulah yang kadang-kadang tanpa kita ketahui penyebabnya, emosi kita, tarot reader, menjadi labil setelah sesi pembacaan yang panjang.
Untuk itu, memang bagi yang sering membacakan tarot untuk orang lain, sangat disarankan untuk melakukan pembersihan diri sesering mungkin agar emosi kita kembali stabil dan energi kita kembali positif.
Kendalanya lagi, berbagai tehnik pembersihan yang ada baik tarot maupun diri sendiri, umumnya memang memakan waktu antara 10 – 20 menit, dan kita butuh suasana yang tenang dan tidak diganggu oleh siapapun…..dan kondisi seperti itu belum tentu selalu kita dapatkan setiap harinya.
Oleh karena itu, dari pengalaman saya dan banyak tarot reader lainnya, umumnya kami mengarah ke 1 solusi untuk pembersihan secara cepat dan tidak memakan waktu. Ini biasanya sering kami lakukan apabila kami membacakan klien secara marathon entah karena kami membuka stand tarot reading, atau karena kami berpartisipasi di event-event tertentu.
Untuk itu, solusinya adalah seringkali kami memakai kristal.
Untuk penjelasan kristal dari sisi manfaat dan cara kerjanya secara detail, saya rasa, saya serahkan kepada yang lebih ahli yaitu Pixelfreax. Saya akan mengutarakan secara sekilas saja.
Penggunaan kristal sebagai alternatif pembersihan energi, sering kami lakukan dalam bentuk:
– Pembersihan kartu tarot setelah digunakan untuk membaca
Caranya, cukup letakkan kristal diatas kartu tarot dan biarkan dia menyerap energi negatif klien dari kartu tersebut. Ini sangat penting apabila kita memang membiarkan klien untuk mengocok atau menyentuh kartu kita.
– Pembersihan pikiran kita setelah membaca klien
Tidak bisa dipungkiri, adakalanya kita kedatangan klien yang masalahnya sangat berat. Sehingga saat ia menceritakan masalahnya, energi negatifnya pun bisa mempengaruhi diri kita baik fisik, maupun psikis. Oleh karena itu, tarot reader juga sering mengenakan kristal entah dalam bentuk kalung maupun gelang, untuk menyraing energi tersebut agar tidak terlalu membebani diri kita.
Meskipun kita bisa menggunakan kristal untuk penyaringan energi dan kembali membersihkan energi yang ada dalam diri kita, tentu saja ada kondisi dimana energi negatif sudah terkumpul sangat besar dalam kristal tersebut. Sehingga, kita juga perlu melakukan pembersihan kristal. Pembersihan kristal tersebut nantinya bisa dijelaskan oleh Pixelfreax.
Dengan demikian, bisa dikatakan tarot reader menggunakan kristal, sebagai akesoris sekaligus sebagai penyerap energi negatif dalam diri sendiri maupun klien.
Selain itu, adakalanya kristal juga dipakai untuk memperkuat energi dalam kartu tarot agar lebih kuat dalam pembacaannya untuk hal-hal yang spesifik.Untuk hal ini, biasanya tarot reader memasukkan kristal juga kedalam pouch kartu tarotnya. Sebagai contoh:
– untuk membersihkan energi negatif secara umum di deck, bisa menggunakan clear quartz crystal
– untuk memperkuat deck dalam bacaan2 yg berhubungan dengan finansial, bisa menggunakan citrine
– untuk memperkuat bacaan agar bisa memperoleh informasi2 yg tersembunyi dari klien, bisa menggunakan amethyst
– memperkuat bacaan khusus untuk percintaan, bisa menggunakan rose quartz
Masih banyak jenis2 kristal yang bisa dipakai sesuai kebutuhan untuk memperkuat deck dan kemampuan kita dalam membaca.
Sekian dulu tulisan saya. Semoga membantu
Refleksi: Kok Bisa ada Anggapan Tarot Reader Berat di ‘Jodoh’ ?
Topik berikut ini, saya sengaja bawakan karena seringa sekali beredar pemahaman di orang-orang yang baru mau belajar tarot, dimana untuk belajar tarot itu perlu mengorbankan 1 dari 3 hal dibawah ini:
– Cinta
– Kekayaan
– keluarga
Nah, sekarang yang saya bahas untuk awal-awal adalah mengenai cinta dahulu. Cukup banyak tarot reader yang bilang ke saya, kalau setelah membaca dan menekuni tarot, mereka merasa dalam hal jodoh sangat berat sekali. Mereka merasa ada saja halangan untuk mendapat pasangan yang tepat, dan ada saja alasannya untuk putus sama pacarnya.
Well….saya bukan orang yang percaya jodoh itu ‘turun dari langit’, saya sendiri lebih memilih jodoh itu bisa diusahakan dan dicari. Jodoh bisa dicari dari sekeliling kita…teman2, sahabta, rekan kerja, apapun itu. Sedangkan jodoh juga bisa diusahakan melalui rasa saling menghormati dan mengerti pribadi masing-masing.
Yah, saya tidak akan berpanjang-panjang mengenai cara mendapat jodoh yang baik dan mengutarakan pemikiran saya mengenai jodoh itu sendiri bagaimana. Melainkan yang saya tekankan disini adalah untuk para tarot reader kembali bercermin mengenai kehidupan cinta anda yg merasa berat di jodoh.
Satu hal yang sudah pasti membedakan para tarot reader dengan orang awam adalah pola pikirnya tarot reader yang berbeda dan ‘katanya’ lebih mengerti banyak tentang alam sekitar, mengerti berbagai entitas2 didunia ini, mengerti aliran energi, ngerti tentang astral, dsb dsb…sebutkan saja semuanya, maka kita akan mendapat sekelompok daftar panjang yang membedakan para tarot reader ketimbang orang awam.
Nah, disini masalah utamanya. Seringkali, daftar panjang kemampuan kita yang membuat kita merasa ‘diatas’ orang awam itu, sekaligus menjadi daftar panjang -kesombongan- kita dibandingkan orang awam. Hal ini jarang sekali ditemukan oleh para Tarot Reader yang menggunakan pendekatan psikologi; namun sering sekali ditemukan di Tarot Reader yang menggunakan pendekatan spiritual dan ilmu2 lainnya.
Kalau sudah seperti itu, biasanya seorang tarot reader yang menggunakan pendekatan spiritual, justru semakin merasa bahwa dirinya lah yang benar, orang lain menjadi salah. Hal ini bisa terwujud dari tidak maunya para tarot reader untuk menerima pendapat orang lain dan mencibirkan opini2 orang lain karena merasa pengetahuannya yang lebih banyak dia dapatkan itu.
Nah, ini juga pada akhirnya berpengaruh bagi diri Tarot Reader dalam mencari pasangan. Dimana para Tarot Reader merasa tahu kelebihan dan kekurangan pasangan mereka. Bahaya nya adalah, para Tarot Reader yang mengaku berat jodoh ini, seringkali karena saking tau nya kekurangan dan kelebihan pasangan, dia menjadikan kekurangan pasangannya itu sebagai alasan dia tidak puas/ tidak cocok untuk menjalin hubungan dan nyaris tidak melihat sisi positif dari pasangannya itu. Berawal dari situlah si Tarot reader mulai tidak puas dengan pasangannya, mencari-cari kesalahan, dsb dsb. Sadar atau tidak sadar, seringkali karena kesombongan orang yang mengaku tahu akan banyak hal dari sisi spiritual ini, justru membuat ego dalam dirinya menjadi sangat tinggi. Seakan-akan dunia berputar mengelilingi dirinya….hanya dirinya (dan gurunya/ pembimbingnya) yg benar sementara yg lainnya tidak se-benar dia.
Saya rasa ini sudah cukup menjelaskan kenapa para tarot reader yang yang merasa berat jodoh…..
Bukan karena karma dari membaca tarot
Bukan karena hukuman dari Tuhan
Bukan karena pengaruh dari spirit ini itu
Bukan karena takdir yg kejam
Bukan karena pengaruh dari setan ini itu
Bukan karena pengaruh djin, dsb dsb dsb
TAPI….
Semata-mata karena ego dirinya sendiri yang menjadi lebih tinggi sehingga pasangan menjadi tidak mau dekat-dekat dengan mereka.
Spirit dan semua entitas lainnya memang bisa mempengaruhi emosi manusia dan pikiran manusia. Namun keputusan dalam berbuat sesuatu dan menilai suatu kejadian adalah MURNI keputusan manusia sendiri.
Dan akhir kata….
STOP mengkambinghitamkan berat jodoh itu karena tarot, spirit, djin, atau apapun yang bisa dikambinghitamkan. Karena semua itu munculnya yah…..dari diri sendiri. Hehehehehehehhe
Sekian dulu tulisan saya. Semoga membantu
Refleksi: Mengapa diri kita kedatangan lebih banyak klien yang menanyakan suatu topik yang sama ketimbang topik yang lain?
Yah…sudah menjadi pengetahuan umum bagi para tarot reader, apabila klien datang ke kita (apalagi wanita), maka yang paling banyak ditanyakan adalah:
1. cinta
2. karir
3. keluarga
Sedangkan kalo klien yang datang kekita adalah laki-laki, maka yang paling banyak ditanyakan adalah:
1. karir
2. cinta
3. rejeki
Nah, pembahasan kali ini, sebenarnya lebih dalam dari itu. Saya meminta pembaca, terutama yang juga bisa baca tarot untuk bercermin dari keadaan klien yang datang ke diri kita. Dan dari berefleksi itu, mungkin ada yang menemukan klien-klien yang topik pertanyaan 1 lebih banyak ditanyakan ketimbang topik pertanyaan yang lain. Sebagai contoh:
1. TR A, lebih sering mendapatkan topik pertanyaan mengenai cinta ketimbang yang lain.
2. TR B, lebih sering mendapatkan topik pertanyaan mengenai Past Life
3. Ada juga yang lebih sering mendapatkan topik pertanyaan mengenai kita-kiat berurusan ama dukun (gw sendiri perna ngalamin beginian)
Nah, jawaban dari mengapa kita lebih sering kedatangan klien tipikal tertentu dibandingkan klien tipikal lain, mungkin itu juga menunjukkan bagaimana kita sebagai tarot reader memandang/ mempelajari dunia ini secara keseluruhan.
Sebagai contoh:
1. TR A lebih sering mendapatkan topik pertanyaan mengenai cinta. Berarti kemungkinan besar, si A ini dalam kehidupannya saat ini juga mempelajari tentang cinta sekaligus memiliki pengetahuan yang banyak mengenai cinta (bukan berarti A itu romantis yah).
2. TR B lebih sering mendapatkan topik pertanyaan mengenai Past Life, kemungkinan besar si B ini dalam kehidupannya perbah/ sering berhubungan dengan leluhurnya sekaligus memiliki pemahaman yang unik mengenai past life. Makanya knowledge past life dia bisa dikatakan sangat banyak.
3. TR C sering mendapat topik yang berhubungan dengan dukun-dukun lainnya, maka percaya atau tidak….si C ini kemungkinan besar memang sering sekali berurusan sama dukun dan juga banyak belajar dari para dukun (Saya mengkonotasikan dukun sebagai orang yang netral…bukan yang jelek).
Jadi….apabila ada klien datang kekita dan minta dibacakan, sebenarnya tidak hanya kita bisa membantu klien bercermin dari situasi dan kondisi dia saat ini dan memberikan alternatif2 solusi. Melainkan kita juga bisa bercermin mengenai pandangan kita terhadap dunia dari klien-klien yang datang kepada kita.
Ingat hukum tarik-menarik? Ini juga terjadi antara Tarot Reader dengan para kliennya.
Mengapa Lebih Memilih Tarot Ketimbang Psikolog?
Tulisan ini saya buat bukan untuk mengesampingkan para konsultan psikologi; melainkan untuk membeberkan sebagian besar interpretasi masyarakat akan tarot dan psikolog. Manfaatnya, supaya para tarot reader juga bisa membantu orang sebaik2nya, dan psikolog juga bisa mengoptimalkan kemampuan mereka lebih baik lagi.
Ok, let’s begin.
Sampai saat ini, memang belum ada penelitian resmi yang mengatakan berapa persentase orang yang memiliki masalah akan datang ke psikolog dan berapa persentase yang memilih ke tarot reader. Namun dari observasi saya dan beberapa literatur, untuk yang lebih memilih konsultasi ke tarot, ternyata memiliki berbagai latar belakang alasan ketimbang ke psikolog. Beberapa latar belakang itu adalah….
1. Biaya
Secara umum….biaya konsul untuk ke psikolog itu terkesan lebih besar ketimbang konsul ke tarot reader. Meskipun ini tidak sepenuhnya benar. Namun karena tersebarnya Tarot Reader dengan tarif murah, juga menjadi faktor akan rendahnya biaya untuk berkonsultasi via Tarot. Selain itu, karena psikolog juga memiliki semacam sistem follow-up klien yang membuat klien datang kembali secara langsung untuk melihat perkembangan dari masalah mereka, dibandingkan dengan konsul ke tarot reader dimana klien tidak merasa wajib kembali ke tarot reader tersebut, maka total biaya untuk ke psikolog memang lebih besar.
2. Interpretasi
Sama dengan tarot reader, psikolog juga memiliki metode sendiri dalam menginterpretasikan pribadi dan masalah kliennya. Sebutkanlah warteg test, ink blot test, roshach test, dsb dsb (koreksi kalo tulisannya salah). Menariknya adalah, akurasi dari test psikologi itu juga tidak 100% akurat karena banyak faktor. Ini disebabkan karena manusia memang tidak stabil sifatnya. Manusia yang pemalu pun bisa menjadi semangat dan percaya diri di situasi tertentu. Manusia yg jujur pun juga bisa berbohong. Manusia yang bersemangat mengejar target pun suatu saat juga bisa tidak berambisi. Sedangkan tarot itu sendiri interpretasinya mengikuti keadaan manusia saat itu dan bisa berubah-ubah sesuai dengan perkembangan klien itu sendiri. Beda dengan psikologi (terutama psikologi perusahaan) yang cenderung mengecap karyawan dari test psikologi awal, namun tidak dipantau perkembangannya.
3. Nasehat
Nasehat dari tarot reader, umumnya secara bawah sadar lebih diterima oleh klien. Kenapa? Karena mayoritas klien melihat orang yang menjadi tarot reader itu memiliki kemampuan khusus yang bisa menggali hati si klien itu sendiri (meskipun itu juga tidak semua tarot reader bisa). Jadinya…klien lebih percaya ama kata2 reader itu (meskipun di mulut cuma ngakunya “iseng2 saja”). Beda dengan psikolog yang memang terkesan berlandaskan ilmiah dan penelitian. Selain itu, meskipun masih bisa diperdebatkan, klien yang puas dengan tarot reader banyak yg menilai kalau reader lebih bisa berempati ketimbang psikolog. Meskipun kenyataannya memang balik ke individu masing2.
4. Image
Yang dimaksud dengan image disini adalah image dari klien kalau berkonsultasi. Kalau klien datang ke TR, maka kesannya klien mencari solusi alternatif dan diluar kebiasaan umum. Alhasil, klien juga bisa jujur ke TR. Bagusnya, karena klien menjadi lebih jujur, TR bisa mengidentifikasi hal2 apa yg menjadi bahaya tersembunyi dalam diri klien. Beda dengan psikolog yang apabila klien konsul ke mereka…image yg didapat adalah klien datang ke rumah sakit. Image ke rumah sakit itulah yang membuat klien mengurungkan niatnya karena gengsi kalo dianggap sakit oleh orang lain.
Tentu saja kesannya akan beda apabila klien ngomong ke orang lain…
“Hi guys, saya tadi abis ke Tarot Reader ini loh. Wuah…hasilnya tepat banget.” <—alhasil TR jadi untung karena ada promosi gratis
bandingkan dengan…
“Hi guys, saya tadi abis ke psikolog ini loh. Wah….hasilnya bagus.” <—alhasil….klien dianggap sedang ada masalah dalam dirinya oleh orang lain.
Demikian tulisan saya, saya tutup dengan 1 kalimat….
“Kalau ingin memeras duit orang, lakukan dengan tarot reading; kalau ingin membantu orang, lakukan dengan tarot reading.”
Dan untuk psikolog yang kebetulan baca ni artikel, ane cuma kasi saran untuk mempertimbangkan tarot dari pendekatan psikologi sebagai alat untuk lebih berempati ama klien. Percuma juga kalo banyak teori ini itu dan kesimpulan2 tapi ga diterapkan di lapangan.