Blog Archives

Refleksi: Aktif-Pasif Dari Seorang Wanita

Well,…apabila sebelumnya saya merangkum pembahasan mengenai seorang pria berdasarkan dari cerita2 klien, maka kali ini saya akan mulai membahas seorang wanita.

Page of Cups

Apabila dalam post sebelumnya saya menekankan pria dari sisi ego nya, maka untuk kali ini, saya akan membahas wanita terutama dari sisi perasaannya. Dan sama dengan tulisan sebelumnya, saya membagi menjadi 2 kutub ekstrim: wanita yang bisa memutuskan untuk menjadi aktif dan wanita yang memutuskan menjadi pasif. Sekali lagi, ini hanyalah gambaran umum dan saya tulis berdasarkan pengalaman saya di jakarta. Jadi silahkan bercermin dan mungkin akan ada yang mirip dengan situasi anda saat ini. Kenapa saya lebih menggunakan pasif dan aktif sebagai indikator? Karena budaya di Indonesia cenderung mendorong wanita untuk menjadi pasif dan menunggu nasib saja ketimbang pria yang dituntut untuk aktif setiap saat dalam menjalani hidup. Namun seiring dengan waktu, sudah mulai terjadi perkembangan dimana mulai ada yang mencoba untuk menjalani hidupnya secara aktif dan berusaha tanpa bantuan dari orang lain dan tidak hanya menunggu saja. Khusus untuk topik ini, perlu diingat bahwa apabila seorang wanita aktif dalam 1 hal, belum tentu dia aktif dalam hal lain. Jadi apabila seorang wanita sangat aktif dalam pekerjaan, belum tentu dia juga aktif dalam hal relasi.

Aktif-Pasif Dalam Karir

Untuk hal yang berkaitan dengan karir, seorang wanita cenderung memiliki pandangannya sendiri-sendiri dan sangat beragam. Untuk wanita yang pasif dalam karirnya, maka wanita ini cenderung mencari pekerjaan yang bisa memperoleh penghasilan dan membuat dia cukup sibuk saja. Seringkali wanita seperti ini ujung-ujungnya memang sudah puas apabila meskipun berada di posisi staff dan tidak mengharapkan kenaikan karir seperti pria. Ini lebih disebabkan karena pola pikir wanita seperti ini cenderung menganggap dirinya toh akan menjadi ibu rumah tangga secara full time setelah menikah nanti. Kalaupun masih bekerja, dirinya akan menganggap sebagai penyokong tambahan finansial keluarganya, bukan sebagai sumber finansial utama.

Berbeda dengan wanita yang pasif, wanita yang aktif dalam karir cenderung memiliki ambisi untuk selalu meningkat dalam jenjang karirnya. Oleh karena itu, seringkali wanita yang aktif dalam karir justru mencari pekerjaan yang bisa membuat dia bereksplorasi lebih potensial dirinya. Dengan demikian, wajar apabila wanita seperti ini cenderung tidak hanya ingin menjadi staff yang duduk dibelakang meja saja, melainkan lebih suka memilih pekerjaan yang menuntut dia untuk sering jalan-jalan keluar kantor dan bertemu dengan banyak orang baru diluar sana. Berkaitan dengan pria, wanita seperti ini perlu dimengerti bahwa setelah menikah pun, dia masih ingin beraktifitas sehingga pria yang mendapat wanita seperti ini tidak bisa berharap sepenuhnya si wanita untuk menjadi ibu rumah tangga secara full-time.

Aktif-Pasif Dalam Relasi/ Cinta

Dalam hal percintaan, seringkali saya menemukan jalan hidup yang sangat bertolak belakang dan menjadi tolok ukur dari keseluruhan hidupnya wanita tersebut. Jadi, apabila anda melihat jalan cinta seorang wanita secara garis besar saja, maka anda sudah memiliki gambaran terlengkap bagaimana seorang wanita menjalankan hidupnya.

Wanita yang cenderung pasif dalam cinta cenderung menunggu seorang pria yang menurut dia tepat untuk dirinya. Tepat dalam artian disini adalah seorang pria harus mendekati si wanita dan wanita itu harus menyukai/ tertarik terhadap pria yang mendekatinya itu. Jadi, apabila kita hitung-hitung dengan perumpamaan statistik saja, kemungkinan seorang pria mendekati wanita atau tidak adalah 50%, dan apabila seorang pria memang mendekati wanita itu, kemudian kemungkinan si wanita menyukai pria atau tidak itu adalah 50%, maka kemungkinan TERBESAR dari seorang wanita pasif mendapat pria yang tepat menurut dirinya (pria yang aktif mengejar dia dan disukai si wanita), adalah 50% x 50% alias 25% sebagai hasil akhirnya.

Dengan kemungkinan yang cukup kecil alias 1 berbanding 4 ini (belum dimasukkan faktor lain yang juga ikut memperkecil kemungkinan mendapat pria yang tepat untuk dirinya), maka tidak heran wanita seperti ini cenderung suka melamun mengharapkan hubungan yang ideal dengan seorang pria, namun nyaris tidak melakukan hal apapun yang berarti untuk mendekatkan dirinya kepada pria yang disukainya itu. Dalam banyak kasus, seringkali wanita seperti ini memilih lari ke agama dan menganggap semuanya dia serahkan kepada Tuhan. Saya tidak akan membahas lebih lanjut mengenai sisi agamanya karena akan berbuntut sangat panjang, namun ini bisa menjadi tolak ukur apabila anda melihat seorang wanita yang memasang statusnya entah di facebook atau di twitter, atau dari cara bicaranya sehari-hari selalu mengaitkan jodohnya dengan kuasa Tuhan, bisa dipastikan wanita ini sangat pasif dalam hal percintaan.

Resiko yang cukup besar dari wanita seperti ini adalah apabila wanita ini mendapat pria yang dia idamkan dan kemudian seiring dengan waktu, hubungannya menjadi kandas, maka masa pemulihan emosionalnya dari hubungan yang kandas tersebut bisa memakan cukup banyak waktu, BAHKAN SAMPAI TAHUNAN.  Resiko lainnya adalah kecenderungan wanita tipikal ini untuk lebih banyak menuntut dalam hatinya ketimbang memberi kepada pria yang dia sukai. Ini disebabkan karena wanita seperti ini yang cenderung menunggu saja dan jarang mengeskpresikan apa yang dia inginkan. Jadi pesan untuk para pria diluar sana, pastikan anda benar-benar mencintai wanita tipe seperti ini karena hatinya sangat mudah terluka dan meninggalkan trauma yang berkepanjangan.

Sedangkan wanita yang aktif dalam hal percintaan, bisa dikatakan dia sudah menaikkan kemungkinan memiliki pasangan yang dia inginkan menjadi 50%. Dan tentu saja peluang dia untuk benar-benar menemukan lelaki yang tepat untuk dirinya juga lebih besar ketimbang wanita yang pasif. Justru problem yang sering timbul adalah konflik yang disebabkan karena ego si pria yang tidak mau wanitanya menjadi seimbang posisinya dalam hal relasi. Selain itu, wanita seperti ini bisa dikatakan memiliki standard yang cukup tegas dalam memilih seorang pria yang menjadi pendamping hidupnya. Akibatnya, justru mayoritas pria malah lebih sulit untuk mendapatkan wanita seperti ini dan ini jugalah yang menjadi alasan kenapa wanita yang aktif dalam hal relasi cenderung memiliki banyak teman pria ketimbang wanita: karena memang banyak pria yang menyukai wanita seperti ini. Wanita yang aktif dalam relasi bukan berarti wanita itu sangat agresif, melainkan wanita itu lebih menginginkan pendekatan yang seimbang antara pria dan wanita agar relasinya bisa dinikmati secara seimbang dan dengan harapan wanita juga sebagai pemberi, bukan hanya sebagai pihak penerima saja.

Resiko dari wanita dengan pola relasi yang aktif seperti ini adalah, wanita ini cenderung banyak bergaul dan memiliki banyak teman meskipun memang belum tentu teman dekat. Wanita seperti ini sangat tidak dianjurkan untuk pria yang ego nya masih sangat tinggi dan menginginkan wanita pasangannya hanya memikirkan si pria saja dan belajar untuk mengesampingkan teman2nya. Karena pada akhirnya, si pria sendiri tidak akan bisa memenuhi kebutuhan egonya dari wanita seperti ini. Untuk pria yang memang ingin mencari wanita agar bisa didominasi, silahkan cari wanita yang pasif saja dalam hal relasi.

Aktif – Pasif Dalam Mengejar Rasa Aman Dalam Materi

Kenapa saya masukkan rasa aman sebagai pembahasan? Karena mayoritas wanita memang sangat mengejar rasa aman dan nyaman secara materi. Aman dan nyaman disini dalam artian keinginan memiliki rumah, mobil, bisa berbelanja secara wajar, punya suami yang mapan, dan masih banyak lagi tergantung persepsi si wanita itu sendiri.

Nah, untuk wanita yang cenderung pasif dalam mengejar rasa aman ini, mereka akan cenderung pasrah dari apa yang pasangan mereka berikan kepada dirinya, dan mereka akan berusaha mensyukuri apa yang mereka dapat dari pasangannya. Tentu saja untuk para pria, ini menjadi suatu kabar baik tersendiri dalam mencari pasangan apabila mendapatkan wanita yang pasif dalam mengejar rasa aman secara materi ini.

Sedangkan wanita yang cenderung aktif dalam mengejar rasa aman ini, sebenarnya terbagi lagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu kelompok wanita yang berusaha mengejar sendiri rasa aman itu entah dengan berbisnis, bekerja keras, ataupun usaha lainnya secara mandiri. Sedangkan kelompok yang lain adalah wanita yang mengejar rasa aman itu MELALUI orang lain. Kelompok kedua inilah yang seringkali disebut sebagai wanita matre secara ekstrim. Apabila seorang pria menemukan wanita yang aktif dalam mengejar rasa aman NAMUN dalam taraf wajar dan mereka berusaha memenuhinya secara mandiri, si pria tetap bisa mempertahankan wanita seperti ini karena dengan langkah yang tepat, si wanita dan pasangannya justru bisa saling mendukung entah dengan berbisnis sama2, bekerja sama2, dan bentuk2 aktifitas lainnya yang membuat kedua pihak sama2 diuntungkan.

Yang perlu diperhatikan, justru apabila pria menemukan wanita yang mengejar rasa aman secara materia MELALUI orang lain, si pria betul2 sangat disarankan untuk memerikan apakah dia mampu memenuhi kebutuhan si wanita secara finansial. Ini disebabkan karena wanita seperti ini akan cenderung membandingkan pasangan pria nya dengan pasangan pria teman2nya yang lain. Ambillah contoh ada pasangan x dan pasangan y. Wanita x menceritakan ke wanita y kalo pasangannya, si pria x ini telah memberikan dia sebuah hadiah materi yg sangat mahal. Apabila wanita y ini merupakan orang yg matre, maka wanita y akan meminta pria y nya untuk membelikan materi apapun yg membuat posisi si wanita y ini sebanding dengan wanita x. Hal ini akan sering terjadi dan tidak akan ada habis2nya selama relasi dengan wanita matre ini berlangsung. Jadi apabila anda sebagai pembaca adalah seorang pria, berhati-hatilah dan pastikan finansial anda memang sangat kuat apabila anda menginginkan wanita yang seperti ini.

Sekian uraian ringkas saya mengenai wanita. Comments welcome yah. Hehehehehe

Reflection: When People Asking Reader, “What I’m Good at?”

Tulisan ini bercermin dari berbagai klien saya, dan juga klien teman-teman saya sesama Tarot reader, yang bertanya “Apa bisnis yang cocok untuk saya?” , atau “Bakat saya dimana, pak?”

Karena saya bukanlah dukun peramal, melainkan seorang ko0nsultan, ujung2nya saya menjawab “Apa yang anda sukai untuk melakukan, itulah bakat anda.”  atau “Bisnis yang cocok untuk anda adalah hal-hal yang anda suka untuk melakukannya.”

Namun dari jawaban itu pula, lahir pertanyaan baru dari klien, “Bagaimana saya menemukan apa yang saya suka?”.

Well…., kalau memang kita amati, di masyarakat memang sudah ada semacam anggapan umum yang dapat dirumuskan menjadi langkah2 yang perlu diambil kalau mau sukses dalam hidup:

  1. Belajarlah di sekolah dengan prestasi yang gemilang di bidang eksakta (matematika, fisika, kimia, dsb dsb nya yang ada itung2annya).
  2. Kuliahlah dengan mengambil jurusan yang prestisius (ekonomi keuangan, bioteknologi, dokter, teknologi pangan, dan semua bidang yang kerjaannya punya jenjang karir struktural)
  3. Ambil pekerjaan yang punya karir struktural
  4. Berusahalah di pekerjaan tersebut sampai menjadi bos dengan segala cara, serta gunakan waktu anda sebanyak-banyaknya untuk perusahaan demi menunjukkan loyalitas.
  5. Bila sudah mapan, menikahlah dan punya anak. Untuk yang wanita, carilah suami yang mapan dan menikahlah secepat mungkin dan punya anak.

Memang masih banyak variasi2 tips2 umum untuk sukses dalam hidup, namun ya intinya tidak berbeda jauh dengan yang saya uraikan diatas. Tentu saja banyak yang melakukan langkah-langkah diatas dengan berbagai alasan seperti agar bisa mapan, agar tidak mengecewakan orang tua, atau alasan lainnya. Lucunya adalah, justru kalau saat manusia melakukan berbagai hal diatas, saya menemukan berbagai kecenderungan dibawah ini:

  1. Orang tersebut melakukan pekerjaan tidak dengan hati, dan ujung2nya jabatan struktural tidak pernah didapat yang berakhir dengan frustasi
  2. Kenapa tidak melakukan pekerjana dengan hati? Karena ternyata pekerjaannya tidak sesuai dengan apa yang dia minati
  3. Kenapa dia melakukan hal yang tidak ia minati? Karena ia melakukan pekerjaan tersebut disebabkan karena latar belakang kuliahnya yg notabene juga hanya menuruti keinginan orang tua atau hanya mencari aman saja.
  4. Ujung2nya? Mulailah di kantor terjadi semacam politik kantor yang saling menjatuhkan orang lain demi materi dan posisi. Kalaupuan tidak melakukan politik, orang tersebut menjalani hidupnya bagaikan robot. Hanya pergi kekantor dan rumah tanpa tujuan dan arah.

Dan ujung2nya lagi, orang tersebut menjadi tidak tahu apa yang sebenarnya dia inginkan sekarang ini. Asalkan dia bisa makan dan hidup aman, dia akan menjalani pekerjaan itu.

Lucunya lagi, sudah tahu kalau cara merintis kehidupan seperti “5 point norma masyarakat diatas”, akan berakhir dengan situasi2 dalam 4 point setelahnya, TETAP SAJA orang lain mendorong sesamanya untuk -terjebak- dilubang yang sama.  Dari hal2 diatas itulah, orang akan berdatangan ke tarot reader ataupun ke bentuk konsultasi lainnya, yang menanyakan bakat dia ataupun bisnis yang cocoknya. Karena masyarakat umumnya ingin mencari solusi untuk keluar dari -lingkaran setan- masing2, namun terbiasa dibimbing tanpa mencoba mencari sendiri kemampuan dia sesungguhnya.

Dengan begitu, apabila anda ingin mengetahui bakat dan minatanda, ketahuilah 1 hal:

Bakat dan minat anda anda adalah apa yang ANDA SUKAI untuk melakukannya, BUKAN yang anda MAHIR untuk melakukannya. Dengan demikian, kalau anda mahir memasak, namun anda tidak suka memasak, bakat anda bukanlah disana.

Apabila anda terbiasa menjalani kehidupan seperti robot (kerja namun tidak jelas tujuannya untuk apa) dan tidak mengetahui apa yang anda sukai, berikut ada tips ringkasnya:

  • Carilah di toko buku dan cari berbagai keterampilan yang menarik perhatian anda. Coba lakukan keterampilan tersebut meskipun anda tidak mahir. Kalau anda menyukainya, tekuni keterampilan tersebut.
  • Hindari rasa takut kalau nantinya anda akan buang-buang waktu untuk belajar hal-hal yang menurut anda tidak berguna. Apabila anda tidka menyukai hal yang anda pelajari tersebut, setidaknya anda tahu kalau anda tidak menyukainya. Seremeh-remehnya hal yang anda pelajari, parsti akan berguna pada waktunya.
  • Dikutip dari saran Renee Suhardono, sediakan waktu untuk memikirkan dan merenungkan apa yang anda sukai untuk melakukannya.
  • Sering bergaul atau mulai menambah jaringan dengan orang2 yang wirausaha atau orang2 yg optimis.
  • Cuek dengan anggapan masyarakat. Ini yang terpenting, kalau anda takut sama anggapan orang2 disekitar anda, justru malah menggiring anda untuk menjadi sama dengan mereka, yaitu sama2 menjadi robot dari pekerjaan sendiri.

Kemudian, untuk mereka yang sudah berkonsultasi ke berbagai konsultan tarot ataupun konsultan lainnya mengenai bakat dan minat anda, saran saya, jadikan saran mereka sebagai referensi dan coba lakukan saran mereka. Kalau suka ya terusin, kalau tidak suka ya cari kegiatan yang lain.  Saran konsultan juga bukan sesuatu yang absolut untuk dituruti.

Sekian sharing saya. Segala masukan dan pertanyaan terbuka disini.

Directing Energies Into Your Goal

Tulisan kali ini lebih menjurus ke arah self-help. Ini terinspirasi dari apa yang terjadi dengan teman-teman saya dari beragam profesi: tarot reader, praktisi magick, orang kantoran, wirausaha, dsb. Umumnya, sebagian dari mereka yang mengenal dunia mistis atau dunia spiritual, pernah melakukan salah satu hal dibawah ini:

  1. Berdoa minta sesuatu dengan kepercayaan mereka masing-masing
  2. Membeli kistal sebagai sumber energi dan diprogram untuk mencapai tujuan tertentu
  3. Membeli spirit vessel dan meminta bantuan spirit untuk mencapai tujuan tertentu
  4. Meminta orang lain untuk mendoakan dia

Nah, setelah melakukan salah satu dari syarat diatas, seringkali orang-orang tersebut cenderung melakukan kegiatan sehari-hari seperti sedia kala, tanpa ada perubahan apa-apa. Dan kemudian semua doa, kristal, spirit vessel, atau apapun metodenya, justru menjadi tidak manjur.

Pertanyaannya adalah, apakah kristal atau spirit vessel atau doa itu tidak mempan?

Sebetulnya, dalam berbagai cara diatas, terdapat 1 benang merah yaitu mengarahkan energi ke tujuang yang kita inginkan . Sehingga, meskipun kita sudah melakukan berbagai cara diatas, namun semua itu bisa memakan waktu sangat lama kalau kita sendiri tidak mengusahakannya secara nyata. Jadi bila hanya berdoa namun tidak ada bentuk usahanya, ya sama saja tidak mempengaruhi apa-apa sebenarnya.

Itu alasan praktisnya; sedangkan kalau ditinjau dari sisi energi, dengan doa dan metode-metode diatas, kita mengirimkan energi ke semesta atau ke dunia astral (atau meminta kepada Tuhan, atau apapun sebutannya sesuai kepercayaannya masing-masing), namun setelah kita belum terlalu membentuk keinginan kita secara detial didunia astral/ semesta tersebut sehingga lebih sulit untuk termaterialisasi/ terwujudkan didunia fisik ini.

Untuk itu, selain dengan doa dan berbagai metode mengarahkan energi seperti diatas, berikut beberapa tips untuk follow-up setelah doa tersebut:

  • Siapkan jurnal, tulis targetnya secara spesifik, dan hal apa saja yang perlu dilakukan untuk mencapai target tersebut. Pecahkan rincian yang perlu dilakukan menjadi hal-hal yang lebih detail dan praktis, serta TENTUKAN DEADLINE alias batas waktunya.

Kenapa ini diperlukan? Karena dengan menulis sampai sedetail mungkin, secara sadar kita mengfokuskan energi kita ke tujuan tersebut. Jadi selain goalnya sudah ada di pikiran kita, kita perlu menunangkannya kebentuk tulisan agar menjadi semakin terfokus.

  • Terus kembangkan jaringan dan cari kelompok orang-orang yang memiliki ketertarikan/ goal yang sama dengan anda

Ini perlu dilakukan karena salah satu kunci terpenting dari keinginan kita bisa terwujud adalah dengan mengenal banyak orang. Semakin banyak orang yang kita kenal, semakin mudah untuk universe mematerialisasikan keinginan kita ke dunia fisik lewat berbagai peluang dan “kebetulan-kebetulan” yang berasa dari orang-orang yang kita kenal.

  • Jauhi/ batasi waktu untuk berinteraksi dengan orang-orang yang berusaha menjauhkan anda dari goal anda

Orang yang meremehkan anda, dan menasihati anda untuk mengurungkan niat anda dalam mencapai tujuan anda sebetulnya adalah orang yang sudah gagal. Karena mereka sudah gagal, maka mereka mencari pembenaran dengan cara menasehati orang lain dengan cerita-cerita mereka agar orang lain juga bernasib sama seperti mereka. Selain itu, orang yang meremehkan anda, sebetulnya juga ada rasa iri dalam diri mereka karena anda bejruang dengan sekuat tenaga, sementara mereka hanya terdiam dan mengeluh. Saya menggaris bawahi untuk membatasi waktu dengan orang-orang seperti ini supaya energi anda tetap terfokus ke tujuan dan tidak terpengaruh oleh pengaruh luar yang bisa membelokkan anda dari tujuan anda. Membatasi waktu disini juga berarti karena kita tidak bisa menghindari bertemu orang-orang seperti ini dikehidupan sosial, maka hal yang bisa kita lakukan adalah mempersingkat waktu untuk berinteraksi dengan orang-orang seperti mereka.

  • Bawa santai apabila ada yang berkomentar tidak enak kepada anda

Apabila ada yg berkomentar tidak enak kepada anda atau menyakitkan anda, anggap saja itu sebagai masukan. Apabila memang komentarnya tidak bernilai sama sekali, maka cukup dengarkan saja dan lupakan itu semua. Semakin kita memikirkan komentar – komentar yang melecehkan tersebut, malah semakin menjauhkan anda dari goal yang anda inginkan.

  • Memberi dan memberi

Memberi dalam hal ini memiliki arti yang luas. Tidak hanya memberi dari sisi materi, namun dari sisi moril dan hal-hal lainnya. Kenapa demikian? Karena didunia ini ada semacam hukum absolut yang berbunyi “Apa yang anda berikan, akan anda terima 3x lipat lebih besar.”. Hukum ini memiliki berbagai perubahan kalimat yang intinya tetap sama seperti isi dari hukum karma, atau kutipan dari sebuah kitab “apa yang kamu tanam, itulah yang kamu tuai.”. Nah, hal ini juga berimplikasi apabila anda memberi dukungan moril kepada orang lain, maka anda juga akan didukung; apabila anda memberi bantuan keuangan, maka pada waktunya keuangan anda juga dibantu; apabila anda membantu karir seseorang, maka karir nada juga dibantu. Sebaliknya apabila anda menggosipkan secara negatif, sumpah-serapah, caci-maki, maka anda pada waktunya juga akan menerima hal tersebut. Lucunya adalah, hukum ini pada saat anda jalani benar-benar serasa ajaib. Jadi jangan heran apabila anda pernah menipu orang lain, anda juga akan ditipu oleh orang yang berbeda dan tidak berhubungan sama sekali dengan orang yang anda tipu sebelumnya. Atau bila anda pernah memberi sedekah ke orang miskin, anda akan menerima bantuan finansial dari bos ataupun orang yang tidak mengenal orang miskin tersebut.

 

Sekian dulu share dari saya. Memang kesannya tips diatas adalah tips yang umum disbeutkan orang-orang motivator. Namun semata-mata ini disebabkan karena dunia spiritual dan logika memiliki benang merah dan saling berhubungan. Yang sekilas rasiona dan irrasional pun sebetulnya memiliki jembatan pengetahuan apabila anda bersedia membuka pikiran dan tidak membatasi diri.

Mengapa Lebih Memilih Tarot Ketimbang Psikolog?

Tulisan ini saya buat bukan untuk mengesampingkan para konsultan psikologi; melainkan untuk membeberkan sebagian besar interpretasi masyarakat akan tarot dan psikolog. Manfaatnya, supaya para tarot reader juga bisa membantu orang sebaik2nya, dan psikolog juga bisa mengoptimalkan kemampuan mereka lebih baik lagi.

Ok, let’s begin.

Sampai saat ini, memang belum ada penelitian resmi yang mengatakan berapa persentase orang yang memiliki masalah akan datang ke psikolog dan berapa persentase yang memilih ke tarot reader. Namun dari observasi saya dan beberapa literatur, untuk yang lebih memilih konsultasi ke tarot, ternyata memiliki berbagai latar belakang alasan ketimbang ke psikolog. Beberapa latar belakang itu adalah….

1. Biaya
Secara umum….biaya konsul untuk ke psikolog itu terkesan lebih besar ketimbang konsul ke tarot reader. Meskipun ini tidak sepenuhnya benar. Namun karena tersebarnya Tarot Reader dengan tarif murah, juga menjadi faktor akan rendahnya biaya untuk berkonsultasi via Tarot. Selain itu, karena psikolog juga memiliki semacam sistem follow-up klien yang membuat klien datang kembali secara langsung untuk melihat perkembangan dari masalah mereka, dibandingkan dengan konsul ke tarot reader dimana klien tidak merasa wajib kembali ke tarot reader tersebut, maka total biaya untuk ke psikolog memang lebih besar.

2. Interpretasi
Sama dengan tarot reader, psikolog juga memiliki metode sendiri dalam menginterpretasikan pribadi dan masalah kliennya. Sebutkanlah warteg test, ink blot test, roshach test, dsb dsb (koreksi kalo tulisannya salah). Menariknya adalah, akurasi dari test psikologi itu juga tidak 100% akurat karena banyak faktor. Ini disebabkan karena manusia memang tidak stabil sifatnya. Manusia yang pemalu pun bisa menjadi semangat dan percaya diri di situasi tertentu. Manusia yg jujur pun juga bisa berbohong. Manusia yang bersemangat mengejar target pun suatu saat juga bisa tidak berambisi. Sedangkan tarot itu sendiri interpretasinya mengikuti keadaan manusia saat itu dan bisa berubah-ubah sesuai dengan perkembangan klien itu sendiri. Beda dengan psikologi (terutama psikologi perusahaan) yang cenderung mengecap karyawan dari test psikologi awal, namun tidak dipantau perkembangannya.

3. Nasehat
Nasehat dari tarot reader, umumnya secara bawah sadar lebih diterima oleh klien. Kenapa? Karena mayoritas klien melihat orang yang menjadi tarot reader itu memiliki kemampuan khusus yang bisa menggali hati si klien itu sendiri (meskipun itu juga tidak semua tarot reader bisa). Jadinya…klien lebih percaya ama kata2 reader itu (meskipun di mulut cuma ngakunya “iseng2 saja”). Beda dengan psikolog yang memang terkesan berlandaskan ilmiah dan penelitian. Selain itu, meskipun masih bisa diperdebatkan, klien yang puas dengan tarot reader banyak yg menilai kalau reader lebih bisa berempati ketimbang psikolog. Meskipun kenyataannya memang balik ke individu masing2.

4. Image
Yang dimaksud dengan image disini adalah image dari klien kalau berkonsultasi. Kalau klien datang ke TR, maka kesannya klien mencari solusi alternatif dan diluar kebiasaan umum. Alhasil, klien juga bisa jujur ke TR. Bagusnya, karena klien menjadi lebih jujur, TR bisa mengidentifikasi hal2 apa yg menjadi bahaya tersembunyi dalam diri klien. Beda dengan psikolog yang apabila klien konsul ke mereka…image yg didapat adalah klien datang ke rumah sakit. Image ke rumah sakit itulah yang membuat klien mengurungkan niatnya karena gengsi kalo dianggap sakit oleh orang lain.

Tentu saja kesannya akan beda apabila klien ngomong ke orang lain…
“Hi guys, saya tadi abis ke Tarot Reader ini loh. Wuah…hasilnya tepat banget.” <—alhasil TR jadi untung karena ada promosi gratis

bandingkan dengan…
“Hi guys, saya tadi abis ke psikolog ini loh. Wah….hasilnya bagus.” <—alhasil….klien dianggap sedang ada masalah dalam dirinya oleh orang lain.

Demikian tulisan saya, saya tutup dengan 1 kalimat….

“Kalau ingin memeras duit orang, lakukan dengan tarot reading; kalau ingin membantu orang, lakukan dengan tarot reading.”

Dan untuk psikolog yang kebetulan baca ni artikel, ane cuma kasi saran untuk mempertimbangkan tarot dari pendekatan psikologi sebagai alat untuk lebih berempati ama klien. Percuma juga kalo banyak teori ini itu dan kesimpulan2 tapi ga diterapkan di lapangan.