Category Archives: article
How To See Your Deck’s Character
Karena melihat karakter deck tarot tampaknya sudah menjadi trend, berikut ane share spread yang berkenaan dengan karakter deck tersebut.
Bentuk formasinya adalah 3 x 4 dimana posisinya adalah
1 2 3
4 5 6
7 8 9
10 11 12
Kartu 1-3: Bagaimana ciri khas energi dari tarot saya?
Kartu 4-6: Apa saja kegunaan tarot ini, dan untuk tema bacaan2 apa saja tarot ini akan sangat tajam?
Kartu 7-9: Apa saja kekurangan dari deck tarot ini berikut tema bacaan2 yg tidak dianjurkan menggunakan deck ini?
Kartu 10-12: apa saja yang perlu saya lakukan sebagai pemilik kartu ini?
Untuk energinya apakah maskulin atau feminim, teman2 bisa liat dari mayoritas kartu yang keluar. Apabila memang lebih banyak wands dan swordsnya ketimbang cups dan pentacles nya, sudah bisa dipastikan deck anda adalah maskulin. Berikut daftar asosiasi singkatnya
wands: masculine, aktif, api, proyek, rencana, rasional
Cups: feminime, pasif, air, otak kanan, intuisi, irrasional
Swords: masculine, aktif, udara, logika, otak kiri, rasional
Pentacles: feminim, pasif, tanah, sumber daya, rejeki, irrasional
Nah untuk perawatan khusus seperti dupa, warna pouch, dan alas, serta aksesoris2 lainnya, sebenernya itu betul2 tergantung intuisi pengguna seiring dengan penggunanya sering memakai deck tarot tersebut. Yang menarik adalah, apa yang diminta oleh deck pasti sesuai dengan barang2 yg kita kenal.
Dengan demikian:
– Misalnya pixelfreax memang berbisnis di kristal dan aromatherapi, maka OTOMATIS berbagai jenis kristal dan aromatherapi dan dupa2 ddikenal baik pixelfereax bukan? Makanya tarot dia dan tarot teman2 yg dia baca mintanya adalah hal2 seputar kristal, dupa, aromatherapi, dan lain lain sesuai ilmu pengetahuan si pixelfreax.
– Nah….apabila teman2 memiliki pengetahuan di bidang lain yang belum tentu sama dengan pixelfreax, maka teman2 ga perlu minder. Gunakan intuisi teman2 dan coba tanyakan ke deck. Tu deck tarot pasti akan meminta sesuatu yang memang teman2 kenal. BUKAN yang asing di pengetahuan teman2.
Jadi misalnya kalo teman2 ada yang suka dan mengenal bahan makanan, bisa saja ketimbang tu deck minta dupa dan kristal, dia akan meminta bahan makanan seperti buah2an yang memang teman2 tahu. Atau juga kalo teman2 memang bisa melakukan ritual pembersihan, tu deck juga bisa saja minat dibersihkan dan dikirim energi dari teman2 sendiri.
Intinya banyak cara untuk melihat apa yg deck tarot mau dan SESUAI dengan pengetahuan teman2.
Kalo untuk wujud spirit dan usia, jujur memang ini tingkat tinggi. Namun teman2 bisa melakukannya dengan cara memandangi terus 1 kartu yang menurut teman2 paling menarik dari seluruh deck. Pandangi terus dan biarkan berbagai imajinasi dan kata2 melayang di pikiran teman2, dan teman2 pasti tahu jadinya tipe spirit kayak apa.
The Importance of Journal
Well…..saya rasa sudah banyak thread2 yg membagi2 ilmu pengetahuan seperti Lucid Dream, Meraga Sukma alias Astral Travel, dan thread2 lainnya yang menekankan akan pentingnya semua pelajar/ murid yg belajar untuk memiliki suatu buku catatan. Dalam Tarot dan magick pun hal memiliki buku catatan juga berlaku dan sangat dianjurkan.
Mengapa sangat dianjurkan?
Faktor paling utama adalah karena manusia memang pada dasarnya mudah lupa dalam menerima sesuatu ilmu. Semua pengetahuan yang kita dapatkan akan lebih mudah diingat apabila pengetahuan itu dicatat. Hal ini sebenarnya ditambah semakin mudah lupanya, karena kita sebagai manusia yg belajar baik tarot maupun magick, seringkali mendapat pengetahuan baru dari hal2 yg tidak terduga seperti:
– Mendapat inspirasi dari kumpul2 alias gathering baik sesama peminat tarot, maupun bidang2 lainnya
– Inspirasi yang didapat dari aktifitas sosial lain seperti jalan2, ketempat ibadah, nelp teman, dsb dsb
– Inspirasi didapat dari mimpi
– Inspirasi yang didapat dari intuisi dan suara2 dikepala kita, dan masih banyak lagi.
Kalau kita tidak mencatatnya, sudah bisa dipastikan memang kita tetap akan mengingat di bawah sadar kita namun sudah pasti 90% kita akan tidak ingat sama sekali di pikiran sadar kita.
Faktor lain yang juga penting adalah bahwa meskipun kita mendapat banyak ilmu pengetahuan dari buku2 dan teman2 lainnya, namun ilmu tersebut tidaklah saklek atau fix atau berlaku untuk semua orang. Ilmu pengetahuan yang kita dapat, seringkali harus kita rubah dan modifikasi sesuai keyakinan dan kepercayaan kita. Nah, disini catatan berperan sangat penting untuk menuliskan ilmu apa yang telah kita dapatkan berikut apa saja perubahan/ modifikasi yang kita buat agar sesuai dengan diri kita.
Percaya atau tidak, seiring dengan waktu, sebuah ilmu pengetahuan akan banyak mengalami modifikasi.
Sebagai contoh, saya sendiri sudah memodifikasi cara pembersihan diri sebelum meditasi sebanyak 5x dengan urutan timeline sebagai berikut:
– Tahun 2008: pembersihan yang saya lakukan berupa menaruh 4 kartu ace di 4 penjuru. Ace of wands didepan saya, cups di kanan, swords di belakang, pentacles di kiri saya.
– Tahun 2010 awal: sedikit perubahan dimana susunannya menjadi Ace of Wands didepan, cups dibelakang, swords di kanan, pentacles di kiri saya
– Tahun 2010 Juni: penambahan ritual dimana setelah meletakkan 4 kartu Ace dari Tarot, saya juga melakukan LBRP
– Tahun 2010 November: penambahan ritual lagi dimana setelah meletakkan 4 kartu Ace dari tarot, saya melakukan visualisasi bola putih, dan setelah itu LBRP.
– Tahun 2010 Desember: saya membagi menjadi 2 versi tergantung kebutuhan….
1. Versi ringkas: pembersihan cukup LBRP sambil digabungkan dengan visualisasi Bola Putih
2. Versi lengkap: pembersihan dengan 4 kartu Ace dari Tarot, LBRP, Visualisasi Bola Putih, dan affirmasi yang terbayang saat itu.
Ini baru hanya sekadar ritual pembersihan saja. Masih banyak bagian2 lain yg juga mengalami modifikasi. Bahkan bagi para tarot reader pun, mencatat hasil bacaan berikut interpretasinya juga menjadi suatu manfaat tersendiri.
Mengapa demikian? Karena baik anda sebagai tarot reader (secara khusus) maupun praktisi magick (secara umum), begitu anda membiasakan diri untuk mencatat dari awal anda memiliki tehnik sampai modifikasi2nya, anda akan melihat perkembangan diri anda sendiri. Anda akan terkejut bahwa ternyata pemahaman anda yang semula sederhana, bisa berkembang menjadi pemahaman yang sangat kompleks namun tetap terarah.
Segini dulu sharingnya. Semoga membantu.
Tarot Reading and Other Divination Tools: Real vs Cold Reading
Bagi yang sudah lama berkecimpung didunia tarot dan berbagai macam bentuk divination lainnya, maka mayoritas pelaku divination melihat apa yang mereka lakukan adalah nyata dan bukan dibuat-buat. Divinator melihat solusi2 yang mereka berikan murni terinspirasi dari segala aspek: bawah sadar, intuisi, dari Atas, dan masih banyak lagi aspek lainnya. Dengan demikian, divinator percaya mereka memang benar-benar bisa membantu klien dan klien sendiri pun benar-benar terbantu dengan keberadaan para divinator.
Oh iya, saya tidak menyebutkan pelaku tarot reading, i-ching, feng shui, dll sebagai tukang ramal atau fortune teller karena saya lebih melihat mereka semua sebagai konsultan yang bertujuan membantu orang, bukan untuk memeras duit orang. Apalagi stigma tukang ramal memang sudah jelek , jadinya saya sendiri membiasakan diri untuk menyebut mereka divinator atau konsultan.
Back to topic,…. disisi lain, ada sudut pandang lain di kalangan para pesulap, magician, terutama para mentalist yang notabene mempelajari psikologi terapan secara cukup mendalam (karena tuntutan profesi mentalist memang berat ke psikologi), justru melihat apa yang para divinator lakukan, itu tidak lebih dari cold reading.
Pertanyaannya, apakah cold reading itu?
Sebenarnya banyak sekali buku yang mengajarkan tentang cold reading, meskipun buku2 tersebut masih buatan diluar Indonesia. Untuk itu, saya akan membeberkan secara singkat saja disini.
Cold reading sendiri merupakan tehnik dimana pelaku cold reading sendiri bisa mengambil beberapa kesimpulan dari diri klien, yang kalau dikelompokkan menjadi 2 cara umum:
– melihat dari petunjuk2 non-verbal dan fisik dari klien sendiri
– memancing klien untuk mengutarakan informasi yang bersifat pribadi dengan pendekatan psikologis
Apabila, para divinator meyakini bahwa mereka bisa mengetahui keadaan klien dari intuisi mereka, maka orang yang menggunakan cold reading sendiri bisa mengetahui keadaan klien menggunakan logika yang diselubungkan seakan-akan mereka memiliki indera ke-6.
Contoh kalimat-kalimat yang menggunakan bahasa cold reading sendiri sebenarnya mudah kita jumpai; dimana yang paling sering kita jumpai adalah di majalah atau tabloid atau koran di bagian zodiak atau feng-shui. Contoh2 yang kita temui di media cetak tersebut bisa dikategorikan sebagai “kalimat umum” atau “generalization sentence” seperti:
Keuangan: anda akan mengalami pengeluaran yang lebih boros di bulan-bulan ini, jadi lakukan penghematan dan alokasikan keuangan anda secara lebih disiplin.
–> Kalau kita teliti lebih lanjut kalimatnya, sebenarnya kalimat ini memiliki 2 kemungkinan makna tersendiri:
1. Kalau orang yang melihat saran diatas MEMANG boros dalam mengeluarkan uang, maka kalimat diatas menjadi bentuk nasehat yang bagus. Karena penulis merasa mengenal pembaca yang perilakunya boros.
2. Kalau orang yang melihat saran diatas TERNYATA DISIPLIN dalam mengeluarkan uang, maka kalimat diatas menjadi bentuk PEMBENARAN kalau dia harus disiplin dalam mengeluarkan uang.
Dengan kata lain, apapun sudut pandangnya, kalimat diatas menjadi semacam win-win solution bagi penulisnya.
Berikut contoh lainnya yang menggunakan cold reading….
Cinta: ujian cinta akan mendatangi anda. Cobalah untuk melihat sisi positifnya ketimbang sisi negatifnya dari perjalanan cinta anda.
–> kalau diteliti lebih lanjut, kalimat ini juga termasuk win-win solution:
1. Apabila pembaca memiliki pacar dan sedang ada masalah dengan pacarnya, maka otomatis mereka melihat kalimat diatas sebagai suatu nasehat yang sangat penting.
2. Apabila pembaca memiliki pacar namun tidak sedang dalam masalah, ATAU pembaca ternyata masih single, maka pembaca melihat hal diatas sebagai naehat agar berjaga-jaga dan menyiapkan mindset positif APABILA ada cobaan dalam cinta.
Sekali lagi, ini menjadi win-win solution bagi penulisnya
Masih banyak metode cold reading yang dimana selain kalimat2 umum, kita bisa mengambil petunjuk2 dari fisik klien. Sebagai contoh:
– Klien yang memakai kacamata, bisa dikatakan klien suka membaca buku atau membaca tulisan2
– Apabila kacamatanya agak miring kekiri (dari sisi klien), bisa dipastikan klien adalah orang yang kidal.
– Kalau ada sedikit gelambir di sisi perut klien (terutama wanita), kemungkinan besar klien suka berolahraga, namun sekaligus juga suka ngemil.
– Kalau klien suka menggigit bibirnya pada saat menyimak kita berbicara, maka secara tidak sadar, klien sedang gelisah atau penasaran akan petunjuk yang kita utarakan.
Dan masih banyak lagi petunjuk yang bisa didapat seiring dengan bertambahnya jam terbang.
Memang bagi kelompok divinator, apa yang mereka lakukan itu mereka percaya adalah real, dan bisa membantu orang. Sedangkan bagi kelompok magician, mereka lebih berpandangan untuk melakukan divination, cukup dengan menggunakan cold reading, maka hasil yang didapat pun juga sama. Masalahnya adalah, karena cold reading menggunakan pendekatan psikologis, para magician mengklaim bahwa apa yang dilakukan para divinator ada bentuk -penipuan-. Kenapa dianggap menipu? Karena umumnya divinator mengaku ilmu yang mereka dapat berdasarkan dari intuisi dan bantuan dari berbagai pihak seperti spirit2, dan entitas2 lainnya……padahal itu semua tidak lebih dari analisa psikologis.
Nah, lebih kurang ajarnya lagi…..justru karena anggapan bahwa apa yang dilakukan divinator itu adalah cold reading, maka banyak sekali buku2 yg berlabel “cara meramal yang baik” yang isinya adalah bagaimana melakukan cold reading yang dibungkus dengan cerita2 supranatural untuk meyakinkan klien. Inilah yang menyebabkan di negara2 modern, divination memiliki image yang buruk. Karena meskipun apa yang kita lakukan adalah real, namun anggapan skeptis magician merusak itu semua. Dan percaya atau tidak, ini juga dilakukan oleh sebagian besar dukun2 amatir di Indonesia untuk menggali informasi dari klien sekaligus memeras duit dari mereka TANPA sedikitpun membantu dari sisi mistisnya.
Nah….dari sini, yang akan saya tekankan adalah, bukan untuk memaksakan diri para divinator agar murni bergantung kepada intuisi dan bantuan2 spirit semata. Namun kita perlu menyadari, setinggi apapun tingkat penguasaan kita terhadap tarot dan apapun alat yang kita gunakan, kita perlu sadar bahwa…
Mengapa kita ujung2nya akan memakai keduanya? Karena ada berbagai hal yang perlu dipertimbangkan:
1. Untuk membuat raport ke klien di awal2, agar klien marasa nyaman berbicara dan lebih terbuka dengan kita, maka kita memang perlu bertanya segala hal secara lebih detail mengenai masalah klien. Hal ini juga membantu kita membuat analisa objektif mengenai klien. Sampai tahap ini, biasanya intuisi kita belom begitu berperan.
2. Intuisi kita TIDAK 100% BERJALAN SETIAP SAAT.
Adakalanya intuisi kita memang tidak berjalan semestinya, entah karena kecapekan psikis, dsb dsb. Oleh karena itu, kadangkala kita memang mesti lari ke cold reading untuk mendapat analisa dari klien, kemudian membandingkan dengan analisa dari kartu tarot (atau alat lainnya), barulah memberi berbagai masukan atau solusi.
3. Adakalanya kita menemukan klien yang tidak kooperatif
Tergantung dari tingkat sensitifitas dan kemampuan divinator, apabila menemukan klien yang tidak kooperatif, maka seringkali intuisi kita menjadi buntu (pengecualian kalau divinatornya sudah tingkat tinggi yah). Maka dari itu, untuk membuat klien lebih terbuka dan kooperatif, mau tidak mau kita perlu melakukan cold reading dahulu agar klien mau lebih terbuka. Apabila kita langsung ‘menghajar’ klien dengan intuisi atau tehnik lainnya, maka hasilnya akan menjadi bagaikan perjudian. Kalau hasilnya benar, klien akan lebih terbuka….kalau salah, maka klien semakin tidak percaya kepada kita. Amat sangat dihindari untuk terjadi ‘pertempuran kemampuan’ antara klien dengan pembaca karena hasilnya memang ga ada yang berakhir bagus:klien merasa divinator nya sangat bodoh dan amatir, divinatornya merasa kliennya tidak mau bekerja sama.
4. Adakalanya kita diminta untuk membaca secara massal (dalam jumlah sangat banyak)
Saya sendiri perna diminta untuk membaca orang secara ringkas dan singkat untuk 5 – 10 orang berturut-turut dalam waktu hanya 10 menit. Dalam situasi ini, kita memang tidak bisa membaca secara detail dan terperinci. Daripada menguras stamina psikis saya yang lebih penting dipakai untuk bacaan yang lebih serius, maka saya lebih lari ke cold reading. Hasilnya, justru mengundang banyak klien untuk diminta dibaca secara lebih mendetail. Disaat itulah baru saya menggunakan intuisi saya dan berbagai faktor pendukung lainnya.
Akhir kata, daripada memusingkan diri dengan ‘melawan’ para magician yang menganggap para divinator adalah ‘penipu’ kelas kakap (padahal magician juga melakukan trik untuk menghibur participant), menurut saya, ambil saja sisi positifnya dimana kita memang memakai kedua hal tersebut (pembacaan real dan cold reading) dalam waktu dan kesempatan yang sesuai.
Sekian dulu tulisan saya, semoga membantu.
Penggunaan Kristal Untuk Tarot
Well…., seiring dengan semakin berpengelamannya seseorang dan semakin tingginya jam terbang seseorang dalam membacakan tarot untuk orang lain, maka akan ada saatnya kartu yang biasa kita gunakan benar-benar terasa tidak seakurat biasanya, ataupun mendadak intuisi dan interpretasi kita serasa tumpul. Biasanya, ini terjadi kalau dalam waktu yang cukup panjang, deck tarotnya dipakai terus-menerus tanpa henti, atau kitanya yang sudah terlalu lelah secara psikis karena membacakan orang.
Salah satu penyebab utamanya adalah disebabkan karena pada saat kita membacakan untuk orang lain, kita juga berempati kepada klien. Adakalanya perasaan kita pun terbawa dengan mereka, yang dimana itu sebenarnya merupakan indikasi sebagian energi kita telah bertukar dengan klien. Dengan kata lain, kita menerima energi dari klien dan klien menerima energi dari kita.
Bayangkan kalau kita menerima berbagai energi dari pikiran-pikiran negatif dari klien dalam jangka waktu yang panjang, umumnya ini akan berimbas kepada emosi kita. Itulah yang kadang-kadang tanpa kita ketahui penyebabnya, emosi kita, tarot reader, menjadi labil setelah sesi pembacaan yang panjang.
Untuk itu, memang bagi yang sering membacakan tarot untuk orang lain, sangat disarankan untuk melakukan pembersihan diri sesering mungkin agar emosi kita kembali stabil dan energi kita kembali positif.
Kendalanya lagi, berbagai tehnik pembersihan yang ada baik tarot maupun diri sendiri, umumnya memang memakan waktu antara 10 – 20 menit, dan kita butuh suasana yang tenang dan tidak diganggu oleh siapapun…..dan kondisi seperti itu belum tentu selalu kita dapatkan setiap harinya.
Oleh karena itu, dari pengalaman saya dan banyak tarot reader lainnya, umumnya kami mengarah ke 1 solusi untuk pembersihan secara cepat dan tidak memakan waktu. Ini biasanya sering kami lakukan apabila kami membacakan klien secara marathon entah karena kami membuka stand tarot reading, atau karena kami berpartisipasi di event-event tertentu.
Untuk itu, solusinya adalah seringkali kami memakai kristal.
Untuk penjelasan kristal dari sisi manfaat dan cara kerjanya secara detail, saya rasa, saya serahkan kepada yang lebih ahli yaitu Pixelfreax. Saya akan mengutarakan secara sekilas saja.
Penggunaan kristal sebagai alternatif pembersihan energi, sering kami lakukan dalam bentuk:
– Pembersihan kartu tarot setelah digunakan untuk membaca
Caranya, cukup letakkan kristal diatas kartu tarot dan biarkan dia menyerap energi negatif klien dari kartu tersebut. Ini sangat penting apabila kita memang membiarkan klien untuk mengocok atau menyentuh kartu kita.
– Pembersihan pikiran kita setelah membaca klien
Tidak bisa dipungkiri, adakalanya kita kedatangan klien yang masalahnya sangat berat. Sehingga saat ia menceritakan masalahnya, energi negatifnya pun bisa mempengaruhi diri kita baik fisik, maupun psikis. Oleh karena itu, tarot reader juga sering mengenakan kristal entah dalam bentuk kalung maupun gelang, untuk menyraing energi tersebut agar tidak terlalu membebani diri kita.
Meskipun kita bisa menggunakan kristal untuk penyaringan energi dan kembali membersihkan energi yang ada dalam diri kita, tentu saja ada kondisi dimana energi negatif sudah terkumpul sangat besar dalam kristal tersebut. Sehingga, kita juga perlu melakukan pembersihan kristal. Pembersihan kristal tersebut nantinya bisa dijelaskan oleh Pixelfreax.
Dengan demikian, bisa dikatakan tarot reader menggunakan kristal, sebagai akesoris sekaligus sebagai penyerap energi negatif dalam diri sendiri maupun klien.
Selain itu, adakalanya kristal juga dipakai untuk memperkuat energi dalam kartu tarot agar lebih kuat dalam pembacaannya untuk hal-hal yang spesifik.Untuk hal ini, biasanya tarot reader memasukkan kristal juga kedalam pouch kartu tarotnya. Sebagai contoh:
– untuk membersihkan energi negatif secara umum di deck, bisa menggunakan clear quartz crystal
– untuk memperkuat deck dalam bacaan2 yg berhubungan dengan finansial, bisa menggunakan citrine
– untuk memperkuat bacaan agar bisa memperoleh informasi2 yg tersembunyi dari klien, bisa menggunakan amethyst
– memperkuat bacaan khusus untuk percintaan, bisa menggunakan rose quartz
Masih banyak jenis2 kristal yang bisa dipakai sesuai kebutuhan untuk memperkuat deck dan kemampuan kita dalam membaca.
Sekian dulu tulisan saya. Semoga membantu
Refleksi: Kok Bisa ada Anggapan Tarot Reader Berat di ‘Jodoh’ ?
Topik berikut ini, saya sengaja bawakan karena seringa sekali beredar pemahaman di orang-orang yang baru mau belajar tarot, dimana untuk belajar tarot itu perlu mengorbankan 1 dari 3 hal dibawah ini:
– Cinta
– Kekayaan
– keluarga
Nah, sekarang yang saya bahas untuk awal-awal adalah mengenai cinta dahulu. Cukup banyak tarot reader yang bilang ke saya, kalau setelah membaca dan menekuni tarot, mereka merasa dalam hal jodoh sangat berat sekali. Mereka merasa ada saja halangan untuk mendapat pasangan yang tepat, dan ada saja alasannya untuk putus sama pacarnya.
Well….saya bukan orang yang percaya jodoh itu ‘turun dari langit’, saya sendiri lebih memilih jodoh itu bisa diusahakan dan dicari. Jodoh bisa dicari dari sekeliling kita…teman2, sahabta, rekan kerja, apapun itu. Sedangkan jodoh juga bisa diusahakan melalui rasa saling menghormati dan mengerti pribadi masing-masing.
Yah, saya tidak akan berpanjang-panjang mengenai cara mendapat jodoh yang baik dan mengutarakan pemikiran saya mengenai jodoh itu sendiri bagaimana. Melainkan yang saya tekankan disini adalah untuk para tarot reader kembali bercermin mengenai kehidupan cinta anda yg merasa berat di jodoh.
Satu hal yang sudah pasti membedakan para tarot reader dengan orang awam adalah pola pikirnya tarot reader yang berbeda dan ‘katanya’ lebih mengerti banyak tentang alam sekitar, mengerti berbagai entitas2 didunia ini, mengerti aliran energi, ngerti tentang astral, dsb dsb…sebutkan saja semuanya, maka kita akan mendapat sekelompok daftar panjang yang membedakan para tarot reader ketimbang orang awam.
Nah, disini masalah utamanya. Seringkali, daftar panjang kemampuan kita yang membuat kita merasa ‘diatas’ orang awam itu, sekaligus menjadi daftar panjang -kesombongan- kita dibandingkan orang awam. Hal ini jarang sekali ditemukan oleh para Tarot Reader yang menggunakan pendekatan psikologi; namun sering sekali ditemukan di Tarot Reader yang menggunakan pendekatan spiritual dan ilmu2 lainnya.
Kalau sudah seperti itu, biasanya seorang tarot reader yang menggunakan pendekatan spiritual, justru semakin merasa bahwa dirinya lah yang benar, orang lain menjadi salah. Hal ini bisa terwujud dari tidak maunya para tarot reader untuk menerima pendapat orang lain dan mencibirkan opini2 orang lain karena merasa pengetahuannya yang lebih banyak dia dapatkan itu.
Nah, ini juga pada akhirnya berpengaruh bagi diri Tarot Reader dalam mencari pasangan. Dimana para Tarot Reader merasa tahu kelebihan dan kekurangan pasangan mereka. Bahaya nya adalah, para Tarot Reader yang mengaku berat jodoh ini, seringkali karena saking tau nya kekurangan dan kelebihan pasangan, dia menjadikan kekurangan pasangannya itu sebagai alasan dia tidak puas/ tidak cocok untuk menjalin hubungan dan nyaris tidak melihat sisi positif dari pasangannya itu. Berawal dari situlah si Tarot reader mulai tidak puas dengan pasangannya, mencari-cari kesalahan, dsb dsb. Sadar atau tidak sadar, seringkali karena kesombongan orang yang mengaku tahu akan banyak hal dari sisi spiritual ini, justru membuat ego dalam dirinya menjadi sangat tinggi. Seakan-akan dunia berputar mengelilingi dirinya….hanya dirinya (dan gurunya/ pembimbingnya) yg benar sementara yg lainnya tidak se-benar dia.
Saya rasa ini sudah cukup menjelaskan kenapa para tarot reader yang yang merasa berat jodoh…..
Bukan karena karma dari membaca tarot
Bukan karena hukuman dari Tuhan
Bukan karena pengaruh dari spirit ini itu
Bukan karena takdir yg kejam
Bukan karena pengaruh dari setan ini itu
Bukan karena pengaruh djin, dsb dsb dsb
TAPI….
Semata-mata karena ego dirinya sendiri yang menjadi lebih tinggi sehingga pasangan menjadi tidak mau dekat-dekat dengan mereka.
Spirit dan semua entitas lainnya memang bisa mempengaruhi emosi manusia dan pikiran manusia. Namun keputusan dalam berbuat sesuatu dan menilai suatu kejadian adalah MURNI keputusan manusia sendiri.
Dan akhir kata….
STOP mengkambinghitamkan berat jodoh itu karena tarot, spirit, djin, atau apapun yang bisa dikambinghitamkan. Karena semua itu munculnya yah…..dari diri sendiri. Hehehehehehehhe
Sekian dulu tulisan saya. Semoga membantu