Blog Archives

Apakah Membaca Tarot Masih Menarik ? 5 Tantangan Dalam Membaca Tarot. (Part 1 dari 2)

Sekitar tahun 2010an, ketika kemampuan untuk upload video ke Youtube menjadi sesuatu yang masih dikatakan mewah, konten tarot dan hal-hal terkait masih bisa dikatakan jarang. Sekarang, setelah 15 tahun lebih sejak itu, kita sudah banyak melihat konten ramalan tarot di berbagai platform dengan beragam topik serta beragam durasi.

Illustrasi sesi konsultasi

Kalau kita membandingkan lagi, dulu membaca Tarot adalah sesuatu aktifitas yang masih dianggap eksklusif, pembacanya pun seringkali dianggap sebagai sosok yang dihormati (atau ditakuti) oleh sebagian besar orang. Jaman sekarang, pembaca tarot baik profesional maupun hobi, menjadi sesuatu yang umum dan bahkan menjadi salah satu pilihan karir seseorang (meskipun orang itu tidak mengutarakannya secara keras di muka publik yah).

Berbagai perubahan tersebut, juga dibarengi oleh ‘keluhan’ para pembaca tarot senior (alias usia tua) yang mengatakan jaman sekarang profesi mereka sudah kurang dihargai, bayaran baca tarot menjadi terlalu murah, bahkan ditambahi dengan bumbu nostalgia dimana ketika jaman mereka melapak baca tarot di jamannya, mereka bisa hidup diatas rata-rata, ekonomi mereka meningkat tajam, bahkan mereka bisa memiliki koneksi dengan orang-orang berpengaruh di jamannya. Sekarang ? Katanya sih sudah susah dan akhirnya menyalahkan generasi muda yang katanya membaca tarot dengan harga layaknya kacang goreng.

Masalahnya, apakah memang industri konsultasi baca tarot ini, benar-benar sudah turun kualitasnya ? Di artikel part 1 dari 2 ini, saya mencoba mengulas singkat 5 point tantangan utama dalam membaca tarot di Indonesia. Sementara dari part 2 di artikel berikutnya, saya membahas 5 peluang dalam membaca tarot yang sebenarnya bisa dimanfaatkan saat ini; tentu dengan syarat dan ketentuan berlaku. Dari situ, baru saya tutup dengan kesimpulan pribadi, apakah membaca tarot masih menjadi industri yang menggiurkan atau tidaknya.

Saya mulai dengan 5 tantangan:

Membaca tarot adalah suatu keterampilan yang sangat mudah dipelajari di awal (meskipun untuk menguasainya tetap memakan waktu).

Tantangan pertama di Tarot itu ya “barrier of entry”nya sangat rendah. Bahkan bahasa kasarnya, bila ada seseorang yang sama sekali tidak mengerti kartu tarot, disuruh untuk membacakan solusi dengan mengocok dan mengeluarkan 1  – 3 kartu pun, kemungkinan besar bacaannya cukup akurat.

Penyebabnya cukup sederhana, karena illustrasi di Tarot, seringkali memang memudahkan diri kita memaknai isi kartu yang keluar dan menterjemahkan makna tersebut menjadi solusi untuk klien.

Illustrasi tebaran kartu tarot

Nah, karena mudahnya seseorang untuk memulai membaca tarot (meskipun tentu tidak akan bisa mendalam), maka orang yang baru belajar ini seringkali merasa dirinya punya kemampuan/ bakat khusus, dan akhirnya mulailah membuat konten / mempromosikan praktek ramalan tarotnya.

Dampak buruk lainnya, karena konten media sosial, khusus untuk tarot memang tidak ada semacam ‘filter’ untuk memisahkan mana interpretasi yang masuk di akal dan mana yang hanya ngasal sesuai keinginan si pembuat konten, maka seringkali makna sebuah kartu tarot yang diutarakan di konten, bisa melenceng jauh dari makna aslinya.

Interpretasi kartu tarot sekarang ini, sangat terbantu dengan teknologi A.I, dan kita tidak bisa mencegah perkembangan itu.

Sederhananya, kita bisa membeli kartu tarot sendiri, mengajukan pertanyaan sendiri, kocok kartu dan mengeluarkan 3 kartu, kemudian kita bisa bertanya ke berbagai alternatif A.I platform seperti META, Chat GPT, Gemini, DeepSeek, dan masih banyak lagi.

Coba saja, misalnya, mau bertanya seputar jodoh, “Apakah saran/ inspirasi untuk percintaan saya hari ini apabila kartu yang keluar adalah The Hermit, 2 of Cups, dan Strength ?” Saya mencoba memasukkannya ke ChatGPT dan ini hasil screenshotnya.

ScreenShot Hasil ChatGPT 4o

Dengan maraknya A.I di jaman sekarang, apabila si pembaca tarot tidak bisa memberikan interpretasi yang lebih personal daripada A.I ini, maka klien pun akan lebih memilih alternatif bertanya ke A.I karena overall lebih murah ongkosnya.

Banting harga sudah marak di jasa baca Tarot.

Lanjutan dengan point diatas, karena konten meramal dengan tarot ini relatif mudah dibuat, ditambah dengan berbagai video bikinan orang lain yang bukan bebas copyright juga bisa diambil dengan mudahnya, maka biaya secara keseluruhan untuk membuat konten tarot pun relatif murah dan bisa dibuat dengan waktu yang sangat cepat.

Alhasil karena semuanya serba cepat, maka jasa baca tarot secara personal pun menjadi sangat banyak alternatifnya. Sehingga untuk memenangi persaingan dalam jasa baca tarot, ada sebagian praktisi yang memakai strategi banting harga dan mengejar kuantitas ketimbang kualitas.

Menggunakan konten orang lain tanpa ijin sebagai materi iklan sendiri untuk baca tarot, pun sudah dianggap wajar.

Agar materi iklannya bisa dibuat dengan cepat, sudah mulai banyak praktisi yang menggunakan konten video dengan cara mengambil konten video orang lain tanpa seijin pemilik aslinya. Meskipun secara etika ini dipertanyakan, kita tidak bisa melawan arus kemudahan teknologi tersebut bukan?

Jangankan meminta ijin, menulis sumber asli konten tersebut pun juga seringkali dengan sadar dan sengaja tidak ditulis. Budaya untuk tidak menghargai karya orang lain namun menuntut karya sendiri dihargai, memang sudah menjadi kebiasaan untuk sebagian pembaca tarot yang suka membanting harga tersebut.

Sebenarnya ini juga menjadi salah satu contoh polemik di hampir semua industri, dimana apabila dalam proses belajar suatu ilmu pengetahuan, tidak dibarengi dengan pendidikan moral dan adab yang baik, jadinya memang si praktisi berpotensi untuk melakukan praktik bisnis yang cenderung ‘kasar’ dan melanggar moral dan norma yang berlaku.

Publik jauh lebih menyukai bacaan yang isinya bencana dan musibah orang lain ketimbang membacakan peluang positif yang bisa dimanfaatkan.

Tantangan terakhir dalam pembacaan tarot, memang sekaligus menjadi tantangan yang dialami oleh semua industri. Berbagai bacaan menggunakan kartu tarot yang terfokus kepada bencana suatu daerah atau musibah yang menimpa orang tertentu, ataupun konten tarot yang digunakan untuk membahas aib seseorang, cenderung jauh lebih populer dan mudah viral.

Bandingkan dengan konten bacaan tarot yang membahas seputar peluang yang bisa dimanfaatkan ataupun perkembangan/ sisi bagus seseorang. Konten tersebut relatif lebih sulit viral dibandingkan konten ramalan bencana di suatu area nantinya.

Fenomena ini juga tidak hanya terjadi dalam sebuah konten bacaan tarot. Dalam praktek konsultasi privat pun juga demikian, klien cenderung lebih tertarik dengan bacaan terkait bencana dan masalah ketimbang berbagai peluang yang bisa ia ambil kedepannya.

Ketertarikan akan berita/ bacaan negatif ini, sebenarnya bersumber dari naluri survival kita sebagai manusia untuk lebih fokus menghindari bencana ketimbang mendekati peluang positif didepan mata. Secara realistis, tentu akan sangat sulit sekali melawan trend seperti itu, sehingga dibutuhkan strategi khusus agar terhindar dari godaan untuk melakukan gaya bacaan Tarot yang terlalu negatif tersebut.

Kesimpulan 5 Tantangan

Jadi, kalau disimpulkan, tantangan dalam industri membaca tarot tersebut yaitu mudahnya seseorang bisa membaca kartu tarot, teknologi A.I yang sangat ‘membantu’, praktek banting harga jasa baca tarot yang sangat marak di jaman sekarang, adab dan etika praktisi yang sebagian sudah turun, serta respond publik yang jauh lebih menerima bacaan bernada negatif ketimbang positif.

Sekian untuk artikel 5 tantangan dalam membaca tarot, dan di artikel selanjutnya, saya akan membahas hal yang lebih sulit: 5 peluang dalam industri membaca tarot.

TAROT Journey: Journal 2012 – 2013

Sempat selama sekitar 2 tahunan, gw bersama temen – temen tarot reader membuat majalah 2 bulanan seputar tarot reading, berjudul TAROT Journey.

Isinya, tentu saja berbagai artikel sharing seputar tarot, dan semuanya free.

Khusus untuk periode tahun 2012 – 2013, sempat gw compile menjadi 1 ebook. Berikut ebook pdfnya bisa didownload disini.

Download PDF Tarot Journey: Journal 2012-2013

Happy reading. 🙂

General Life Reading, December 2018

Topik ketiga, pembacaan kehidupan secara umum. 🙂

Apabila kebanyakan topik bacaan lebih berdasarkan zodiac, maka kali ini gw akan buat sedikit beda, lebih berdasarkan angka tahun kelahiran.

Caranya sederhana, jumlahkan hingga 1 digit tahun kelahiran anda.

Misalnya, tahun kelahiran 1990,

Maka 1 + 9 + 9 + 0 = 19  , 1 + 9 = 10 , 1 + 0 = 1

Maka angka yang anda dapatkan ya angka 1.

Sisanya tinggal cocokan saja angka yang tertera di gambar dibawah ini dengan bacaannya.

Happy reading. 🙂

 

Rich Uncle Paradox

Yang gua tulis ini adalah hasil pengamatan gua sendiri yang terjadi secara umum dan (mungkin) akan terkesan menggeneralisir. Namun gua berharap ini bisa menjadi referensi hidup yang bagus karena kemungkinan, sedikit sekali yang mau mengambil topik ini sebagai penelitiannya. Atau….mungkin sudah ada penelitiannya tapi belum sampe kasus rill seperti yang gua tulis.

Salah satu arti dari Paradox itu sendiri (dari google)
A situation, person, or thing that combines contradictory features or qualities.

=============

 

10-coins.jpgApakah pembaca pernah merasa iri sama teman sendiri? Jujur saja…, gua juga pernah iri sama teman sendiri. Dalam kasus ini, gua adakalanya iri sama klien gua (dan gua ucapin itu didepan dia untuk ‘memotivasi’ dirinya) yang secara rejeki, itu lebih ‘beruntung’ daripada gua sendiri.

In short, gua sering menemukan kasus dimana klien – klien gua sendiri secara keuangan itu disupport abis – abisan sama orang lain. Tidak cewek tidak cowok yah. Yang mengsupport biasanya saudaranya ataupun orang lain yang jauh lebih tua dari klien tersebut. Well…..om – om tajir atau tante berduit lah kasarannya.

The thing is, kata klien gua (semuanya), orang yang membantu mereka adalah orang yang sudah mapan di bisnis/ usaha masing – masing dan ingin membantu orang lain agar minimal klien tersebut bisa mandiri. Wujud bantuannya pun macam – macam namun bisa dikategorikan menjadi 2 bagian besar: bantuan materi (duit, barang, dll) dan pendidikan. Most case…, hampir 80% dari klien gua, bantuan yang didapat adalah materi.

Dan khusus bantuan materi ini yang menjadi sangat menarik. Karena disinilah kontradiktifnya atau paradoxnya.

 

‘Syarat’ Menerima Bantuan

Dari banyak cerita klien yang dibantu sama pemodal yang baik hati tersebut, syarat dari para pemodal tersebut (atau timbal baliknya) memang relatif mudah: bantu kerjaan dan urusan remeh temeh mereka. Di sejumlah kasus bahkan tidak perlu membantu / timbal balik sama sekali. Jadi bayangkan…, out of the blue, ada yang mau bantu anda senilai 20- 200 juta sebulan; dan itu semua either didapat dengan cuma – cuma ataupun timbal baliknya dengan membantu pekerjaan remeh temeh orang tersebut seperti mengatur administrasi, ngurusin ini itu soal pajak, bantu transferin uang ke keluarga dekat pemodal tersebut, nemenin ngobrol selama beberapa hari dan hal remeh lainnya.

Surprisingly juga, bantuan tersebut tidak melulu dibayar dengan ‘tidur bersama’. Justru sebagian besar kasus yang gua tangani, tidak melibatkan ‘tidur bersama’ sama sekali. Jadi bagi yang bermindset orang yg dibantu tersebut pasti bayar pakai badan, gua rasa pikir 1000x karena kenyataan dilapangan tidak seperti itu.

Point keduanya, ternyata klien – klien tersebut tampil dengan sosok – perlu dibantu – didepan pemodal tersebut. Bukan dalam artian harus berpakaian miskin atau bernada mengemis minta dikasihani; melainkan justru tampil cantik/ ganteng, terlihat mau bekerja keras, namun berada di situasi kurang beruntung. Misalnya: hanya tamatan SMA, kuliah sedang nunggak uang semesteran, atau bekerja di perkantoran dengan gaji yang relatif ngepas, atau keuangan keluarganya terlihat ngepas.

Dengan kejadian tersebut, idealnya, kita semua akan berpikir nih…, wah tu orang beruntung banget, pasti saat ini dia sudah sukses!

Kenyataannya, tidak seindah itu.

 

Hasil ‘Investasi’

Ada yang memang sukses dan berhasil, cuma kalo boleh diumpamakan, 1-2 dari 100 orang yang beneran bisa berhasil dan menjadi mandiri dengan bantuan dari pemodal tersebut.

Sisanya?

Either menjadi nyaman dengan bantuan yang sama berulang – ulang, bahkan jumlah bantuannya semakin meningkat, atau dilepas sama sekali oleh pemodalnya alias tidak dibantu lagi.

Yang menjadi nyaman, disebabkan karena orang tersebut sudah merasakan mendapat duit dalam jumlah besar tanpa harus bekerja keras. Dengan pikiran, “toh nanti dia akan membantu lagi”, justru semakin membuat orang itu ketergantungan dengan bantuan itu.

Tidak hanya dalam bentuk uang dan barang, namun juga apabila benar – benar dikasih semacam bisnis begitu aja untuk ditangani, kemungkinan besar bisnis tersebut akan gagal. Karena yang dibantu, selain tidak menguasai dasar – dasar bisnis dan bidang bisnis yang dijalankan tersebut, karena resiko bisnisnya tidak dirasakan secara langsung oleh yang dibantu, alhasil ya sebagian besar akan menjalankan bisnis tersebut dengan setengah hati dan cenderung santai.

Sementara itu, ada sebagian orang yang justru menyalahgunakan modal bantuan tersebut untuk senang – senang dan gaya hidup saja sehingga pemodal merasa tertipu. Point ini yang membuat pemodal merasa tidak perlu membantu orang tersebut.

Kesimpulan sementaranya, memang sebagian besar, yang dibantu langsung dan mudah, meskipun jumlah modalnya relatif besar, justru tidak mencetak seorang entrepreneur ataupun orang yang mandiri.

 

Mengapa bukan diri saya yang dibantu?

So…, dari cerita diatas, gua yakin banyak yang akan bertanya, “Kenapa bukan saya saja yang dibantu? Saya ini bekerja keras, karya nyata saya jelas – jelas kelihatan. Dan saya butuh modal lebih untuk ekspansi karya saya. Tapi…kenapa orang – orang itu tidak mau membantu orang seperti saya? Apa yang salah?”

Well…here’s the tricky part….

Loe … ya diri loe yang ngomong kayak kalimat diatas sebenernya tidak ada salah apa – apa.

Tapi…karena loe tau visi kedepannya, karena loe tahu langkah – langkah nya seperti apa, dan karena terbiasa untuk mencari solusi di tengah situasi yang kepepet sekalipun…., justru sebagai konsekuensinya, loe semua (termasuk gue) memancarkan aura mandiri.

Klise memang, tapi aura mandiri itu, atau apapun istilahnya yang terlihat di raut wajah kita, gerak – gerik kita, postur tubuh kita, dll, justru memberi ‘pesan’ ke para pemodal yang murah hati … atau si Rich Uncle itu kalau kita tidak butuh bantuan mereka. Kita memberi ‘pesan’ ke mereka kalau kita bisa mengurus diri kita sendiri meskipun aslinya kita sedang kepepet saat itu. Faktor ini, berlanjut ke point ke-2 yaitu…

Pemodal itu butuh rasa fulfillment ( kepuasan pribadi) kalau dia telah membantu orang yang kesusahan.

Kalau pake teorinya Maslow Hierarchy of Needs atau teori kebutuhan Maslow (silahkan googling) , orang – orang yang duitnya sudah tidak berseri itu, masih ada kebutuhan yang ingin dia penuhi. Kebutuhan tertingginya di teori hirarki tersebut adalah kebutuhan akan aktualisasi diri. Nah salah satu wujudnya adalah dalam bentuk kepuasan pribadi karena telah membantu orang tersebut.

Salah duanya, sebagai tambahan, bentuk lain memenuhi kebutuhan aktualisasi diri tersebut ya dengan menerima pujian (baik langsung maupun tidak langsung) atas keberhasil si pemodal yang sudah mencapai tahap tajir melintir.

That’s why, orang tajir yang suka banget dipuji, end up paling banyak kena tipu.

 

Konklusi?

Rich Uncle suka membantu orang – orang yang terlihat perlu dibantu untuk memenuhi kepuasan pribadi.

Sementara yang dibantu, seringkali menyia-nyiakan bantuannya, bahkan menjadi sangat bergantung dengan bantuan tersebut.

Yang beneran perlu bantuan, justru tidak dilirik oleh Rich Uncle tersebut karena – tidak terlihat – butuh bantuan, sehingga ‘dianggap’ tidak bisa memenuhi kebutuhan aktualisasi dirinya.

It happends most of the time.

And that’s why I called it, Rich Uncle Paradox.