Blog Archives

Inspirasi Wheel of Fortune : Mengapa Kartu Ini Belum Tentu Berarti Rejeki

Khusus untuk inspirasi Arkana Mayor, saya akan membahas dari berbagai sisi sebuah kartu di tiap postnya. Dan saya akan lebih menekankan sisi ‘melawan arus’nya dari sebuah kartu. Harapan saya, agar pembaca bisa melihat suatu kartu menjadi lebih objektif. Kartu yang sekilas terlihat bagus, juga memiliki makna yang buruk; pun kartu yang sekilas terlihat buruk, juga memiliki makna yang baik.

Ketika dalam sebuah bacaan, muncul kartu Wheel of Fortune, seringkali pembaca tarot langsung mengatakan kalau klien akan mendapatkan hasil/ keberuntungan yang luar biasa. Apapun masalah yang dihadapi oleh klien, apabila keluar Wheel of Fortune, maka dianggap keberuntungan akan datang seakan – akan sangat membantu menyelesaikan masalah tersebut.

Tapi benarkah kemunculan kartu itu 100% akan muncul keberuntungan atau rejeki? Disini saya akan membahas beberapa aspek sebelum berkesimpulan bahwa tidak selalu berarti datangnya keberuntungan tersebut.

Wheel of Fortune Yang Diasosiasikan Dengan Jupiter

Kartu Wheel of Fortune, memang diasosiasikan dengan energi planet Jupiter. Sebuah planet terbesar di tata surya kita dan dikenal sebagai planet pembawa keberuntungan, rejeki, dan ekspansi. Bahkan Jupiter dianggap sebagai greater benefict. Atau bahasa awamnya, planet ‘dermawan’ skala besar. (Lesser benefict ada di planet Venus)

Dalam astrologi pun, posisi planet Jupiter ini sering dicari dan sering menunjukkan ‘posisi keberuntungan’ si penanya.

Masalahnya, seperti dengan kita temui saat membacakan chart lahir astrologi seseorang, secara halus simbol planet Jupiter ini menunjukkan -syarat dimana / apa yang bisa membawa keberuntungan- bagi orang tersebut.

This full-disc image of Jupiter was taken on 21 April 2014 with Hubble’s Wide Field Camera 3 (WFC3).

Keberuntungan yang bersyarat itulah yang seringkali diabaikan baik oleh pembaca tarot ataupun penanya nya sendiri. Yang sering dilihat adalah, “ini bawa hoki gede” dan titik; berhenti sampai situ. Tanpa dijelaskan bagaimana caranya, ataupun sudah dijelaskan namun penanya suka abai akan caranya tersebut.

Faktor Keberuntungan Di Wheel Of Fortune

Apabila kita bersedia untuk meneliti lebih jauh lagi, faktor keberuntungan di Wheel Of Fortune itu bisa kita teliti lagi dari 2 hal, apabila kartu ini muncul dalam bacaan.

Yang pertama, apabila kita sebagai tarot reader juga sedikit mengerti astrologi chart kelahiran, maka kita bisa saja menanyakan tanggal lahir, jam lahir, dan tempat lahir si klien. Singkat cerita, ketika kita mendapatkan informasi tersebut dan kita mendapatkan chart lahir astrologinya, kita bisa lihat posisi planet jupiternya di house ke berapa dan di zona zodiak mana.

Nah, posisi Jupiter itulah yang menurut saya, justru menjadi salah satu syarat utama, bagaimana dia bisa menarik keberuntungan di moment / topik yang klien tanyakan tersebut. Simbol Jupiter di Pisces tentu berbeda dengan Jupiter di Aries’ Jupiter di house ke-2 tentu berbeda dengan Jupiter di house ke -12 misalnya. Apapun jawaban/ syaratnya, saya melihat itu momentum yang tepat untuk dilkerjakan karena energi keberuntungannya cukup besar.

Saya melihat, ketika dalam sesi pembacaan tarot keluar kartu Wheel of Fortune, namun ternyata klien tidak melakukan apapun, justru seringkali momentum keberuntungan itu lewat begitu saja. Alhasil, klien yang sudah menyongsong hari dengan bahagia pun, berakhir dengan merasa kena PHP (Pemberi Harapan Palsu).

Photo by Navneet Shanu on Pexels.com

Alternatif kedua, apabila seorang pembaca tarot belum bisa membaca astrologi chart lahir, kita bisa melihat kartu sebelum dan sesudah kartu Wheel of Fortune tersebut. Dalam konteks ini, kita memperlakukan kartu Wheel of Fortune sebagai fakto “mempercepat situasi klien”.

Jadi misalnya, kartu sebelum WoF nya adalah 9 of Wands (keyword: banyak kerjaan) dan kartu setelah WoF nya adalah Judgement, maka WoF sendiri bisa dikatakan tanda yang positif, karena hasil kerja kerasnya akan segera -dinilai- oleh atasan misalnya.

Namun, bagaikan roda kehidupan yang berputar juga, apabila kartu sebelum WoF nya adalah 10 of pentacles (keyword: sumber daya berkelimpahan, menunggu untuk digunakan), kemudian kartu setelah WoF nya adalah 5 of pentacles (key word: kemiskinan misalnya?), bisa saja ini menunjukkan adanya transisi si penanya dari yang semula kaya/ punya harta, namun secara ‘ajaib’ banyaknya pengeluaran membuat dia kali ini benar – benar kekurangan uang.

Sesuai judul kartunya, Wheel of Fortune lebih menunjukkan roda ‘nasib keberuntungan’, bukan roda kekayaan. Dan namanya juga roda, adakalanya diatas dan adakalanya dibawah. Nah, justru tugas kita sebagai pembaca tarot itu mencari tahu lebih detail, apakah posisi klien berada di atas atau di bawah saat ini.

Kartu Significator? Perlu Kah?

Photo by Danielle Rangel on Pexels.com

Dari beberapa sesi free online+ sharing yang saya lakukan bersama teman – teman, saya menerima masukan untuk kembali membahas seputar kartu significator. Dan cepat / lambat memang pertanyaan seputar significator tersebut akan kembali muncul.

Saya sendiri menggunakan kartu significator itu pada masa awal – awal banget saya belajar tarot reading. Itupun hanya saya lakukan di bacaan yang menggunakan tebaran Celtic Cross. Dan dari pengalaman pribadi, metode menggunakan kartu significator ini, hanya ‘bertahan’ di saya selama 2 bulanan saja. Seterusnya? Uda jarang banget kecuali klien secara spesifik meminta. But hey…, balik ke topik…, apakah significator itu?

Apakah Kartu Significator Itu?

Sederhananya, yang namanya kartu significator adalah kartu yang menunjukkan profil/ situasi yang mewakili klien yang akan kita bacakan. Nah, kartu significator tersebut, adakalanya dipilih dan ditarik duluan sebelum melakukan pembacaan, ataupun juga bisa dengan mengambil 1 kartu acak yang mewakili klien tersebut.

Kalau dulu sih, saya menggunakan metode dengan mengocok kartu dan mengambil 1 kartu secara acak untuk mewakili situasi si klien; baru dilanjutkan dengan bacaan umum sesuai pertanyaan klien.

Namun, ada juga yang menggunakan metode ‘menentukan’ 1 kartu tersebut. Misalnya, apabila klien sedang ada project, ya bisa aja memilih kartu 10 of Pentacles untuk mewakili situasinya. Apabila klien sedang menjelang pernikahan, bisa saja mengambil 1 kartu The Lovers untuk diletakkan di tempat bacaan sebelum memulai pembacaan.

Sebagai tambahan, di sebagian tarot reader, juga membiarkan klien memilih sendiri secara bebas, kartu yang menjadi significatornya.

Namun ada juga yang memilihnya berdasarkan profil, jenis kelamin, dan zodiak si klien itu sendiri. Bagaimana caranya? Ya cukup mengambil 1 kartu Court Card yang merepresentatifkan profil klien tersebut.

Significator List

Berikut daftar pembagian kartu significator berdasarkan profil klien.

Berdasarkan gender dan rentang usia:

  • Page : anak – anak / wanita muda (sampai 18 tahun)
  • Knight : pria muda (bisa berusia 18 – 30an tahun)
  • Queen : wanita dewasa, diatas 18 tahun
  • King : pria dewasa (diatas 40 tahun)

Kemudian zodiak :

  • Wands – simbol api – Aries , Leo , Sagitarius
  • Cups – simbol air – Cancer , Scorpio , Pisces
  • Swords – simbol udara – Gemini , Libra , Aquarius
  • Pentacles – simbol tanah/ bumi – Taurus , Virgo , Capricorn

Sebagai contoh, apabila kliennya adalah seorang wanita berusia 27 tahun dan Sagitarius, maka kartu significatornya adalah Queen of Wands ; apabila kliennya adalah seorang pria berusia 19 tahun dengan zodiak Virgo, maka kartu significatornya adalah Knight of Pentacles.

Apa Manfaat Menggunakan Significator?

Photo by cottonbro on Pexels.com

Tujuan dari penggunaan significator ini tak lain dan tak bukan untuk memperkaya dan personalisasi pembacaan.

Memperkaya disini dalam artian untuk menambah variasi bacaan dan detail – detail bacaan akan suatu pertanyaan klien yang mungkin lebih mudah terbaca apabila menggunakan kartu significator.

Tentunya dengan membaca menggunakan kartu significator tersebut, apapun metodenya, dan tergantung kepada readernya juga, ada yang end up bisa membaca lebih detail dan lebih baik dibandingkan tanpa menggunakan significator.

Sementara, maksud dari personalisasi disini ya untuk membuat bacaannya merasa dia banget. Atau bisa related dengan kartu yang dikeluarkan. Karena memang tidak sedikit ada klien yang merasa ‘nyambung’ dengan kartu yang mewakili dirinya ketika melakukan pembacaan.

Namun balik lagi, pola klien yang kooperatif seperti ini, seringkali baru bisa didapat apabila klien tersebut adalah klien langganan kita; jarang sekali klien yang baru pertama kali dibacakan tarot dan belum ada pengalaman sebelumnya seputar “membaca tarot yang benar”, itu akan membuka pikirannya sampai sekooperatif itu.

Apakah Significator Tersebut Wajib?

Sepanjang saya mengubek – ubek bahan literatur dan dari pengalaman pribadi, pada akhirnya saya justru melihat, penggunaan kartu significator itu adalah sesuatu yang tidak wajib dan ujung – ujungnya, ya sesuai dengan kenyamanan si pembaca tarotnya saja.

Namun lepas dari itu semua, saya tetap menyarankan untuk mempelajari metode penggunaan kartu significator ini. Sederhananya, mungkin metode ini kurang cocok untuk saya pribadi, tapi mungkin cocok untuk beberapa pembaca artikel ini.

Dan pada akhirnya memang metode ini sudah menjadi 1 dari sekian banyak metode baca tarot yang memang wajib diketahui oleh para tarot reader yang kedepannya ada rencana untuk mengajarkan tarot ke orang lain.

Bagi yang berminat untuk melihat e-book saya, bisa klik link ini.

Membaca Sambil Menghargai; Sebuah Pesan Untuk Para Tarot Reader Amatiran

Artikel kali ini gw beri judul yang cukup keras dan ‘mengejek’ karena terinspirasi dari berbagai fenomena yang terjadi belakangan ini disekitar gw. Fenomenanya sebenarnya sudah sering terjadi, namun baru kali ini gw terinspirasi untuk menulisnya.

Bisa dikatakan juga, artikel ini adalah bagian kedua dari artikel sebelumnya yang membicarakan bonafide/ tidaknya tarot reader.

Illustrasi: salah satu buku yang gw baca untuk memperkaya ilmu

Dan gw sengaja menulis ini terutama untuk tarot reader yang baru saja memulai, ataupun tarot reader lama namun masih bermental amatiran. Percayalah, dengan membaca dan menerapkan tulisan ini, niscaya anda semua sudah ratusan langkah lebih maju dan dewasa daripada tarot reader amatir umumnya.

Menghargai Privasi Klien

Hal pertama dan terutama dan sudah menjadi kode etik wajib buat seseorang yang menjadi tarot reader, baik hobi maupun profesional : jaga dan hargai privasi klien.

Saya sudah banyak sekali menemukam contoh kasus dimana tarot reader, melalui media sosial maupun portal berita, membaca ‘drama’ kehidupan seseorang (biasanya selebriti) tanpa ijin dari yang bersangkutan .

Contohnya, pernahkah anda melihat ketika seorang selebriti dilanda kasus perceraian ataupun perselingkuhan, kemudian banyak tarot reader berbondong – bondong membacakan nasib rumah tangga selebriti tersebut? Apakah itu sopan atau bisa dianggap pelanggaran privasi?

Atau contoh lainnya, ada sebuah komunitas tarot yang punya track record -dengan bangga- memamerkan ‘rahasia klien’ ke sesama anggotanya dan kemudian dijadikan bahan gosip bersama. Apakah itu etis?

Saya menemukan berbagai klien yang mengaku kapok berkonsultasi dengan tarot reader tertentu yang namanya sering disebut/ terkenal di media berita ataupun suatu media sosial, karena 1 hal: tidak mau privasinya diumbar secara detail untuk konsumsi publik.

Dan saya cukup banyak mendapat ‘hibahan’ klien dari tarot reader berstatus selebriti tersebut karena blundernya mereka dalam beretika. 😁

Hargai Karya Orang Lain

Tahu lagu Lathi karya putra – putri Indonesia yang cukup viral di internasional? Dan tahukah makna lagu tersebut secara detail ? Gw yakin pasti banyak yang tahu.

Tapi tahukah kamu? Ada cukup banyak tarot reader yang berlomba – lomba membacakan makna dibalik lagu itu versi mereka sendiri, diputarbalikkan, dan kemudian dicap sebagai lagu setan, sesat, atau iblis dan tidak patut didengar?

Dan semua itu, sengaja dilakukan agar nama tarot reader tersebut menjadi naik dan lebih terkenal. Singkatnya lagi, meninggikan nama sendiri dengan menjatuhkan karya orang lain.

Bagi yang sengaja menaikkan namanya dengan cara diatas, seringkali saya amati, justru tarot reader tersebut tetap menjadi tarot reader yang ‘miskin’. Mau sudah berkarir selama belasan ataupun puluhan tahun sekalipun, tetap sangat sulit untuk menaikkan karirnya sendiri.

Bagaimana dirinya mau dihargai, wong karya orang lain saja dia injak – injak?

Hargai Pilihan Klien, Apapun Itu

Kita sebagai tarot reader, tentunya memberikan saran yang menurut kita adalah saran terbaik untuk si klien. Tapi belum tentu saran/ solusi kita didengarkan/ dijalankan oleh mereka.

Disinilah kerendahan hati kita diuji. Yaitu menerima, seakurat apapun bacaan kita dan solusi yang kita berikan, tetap hak prerogatif klien untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Kita perlu menerima dengan lapang dada bila saran kita ‘ditolak’.

Dari pengalaman gw pribadi, faktor nomor 1 repeat order / klien kembali berkonsultasi ke kita, bukan dari akuratnya kita membaca dan memberikan solusi ke klien. Melainkan justru dari seberapa jauh kita bersedia untuk mendengar keluh kesah (baca: curhat) klien secara netral tanpa maksud apapun.

Dan apabila solusi kita belum bisa membantu si klien, maka dengan lapang dada ya menerima, mungkin yang Atas punya rencana lain untuk si klien tersebut. Dan rencana-Nya, memang tidak melibatkan diri kita sebagai tarot reader.

Konklusi…

Beberapa tarot reader, selalu bertanya (dan ada yang mengaku jujur, menjadi iri) ke gw dalam konteks positif: bagaimana bisa mendapatkan klien yang benar – benar high profile secara karir maupun mentalnya? Dari situ, pesan gw cukup sederhana…

Tingkatkan kualitasmu di segala aspek, maka kualitas klien yang datang pun akan mengikuti dengan sendirinya.

– anonim

Tarot Reader Bonafide ? Memang Ada?

Dari pengalaman bertahun-tahun dalam menekuni dunia tarot reading profesional, ternyata memang ada loh tarot reader yang memang bagus DAN ada juga yang benar – benar abal – abal.

Ace of Wands from Encore Tarot

Kok bisa ada yang abal – abal? Memang bisa saja; karena seputar dunia tarot di Indonesia memang belum ada standarisasinya ataupun semacam asosiasi profesi yang punya wewenang menerbitkan surat jaminan kompetensi…, alias blom ada yang bisa nerbitin ijasah lah intinya.

Jadi, kalau memang belum ada, apa yang bisa teman – teman lakuin sebelum melakukan konsultasi ke tarot reader tersebut? Bagaimana cara membedakan yang memang kompeten/ bisa membaca, atau yang abal – abal? Di artikel ini, gw akan share pengalaman gw untuk membantu melihat dan membedakan tarot reader yang seperti itu.

Penilaian Netral

Hal penting dari seorang tarot reader adalah, dia harus netral untuk kasus apapun; sehingga dia tidak memasukkan agenda pribadi ataupun maksud lain yang bisa membuat bacaan melenceng dari semestinya.

Netral disini bisa dilihat dari berbagai cara dia menanggapi kasusmu. Apakah dia akan menanyakan banyak ‘faktor pendukung’ disamping kasus utama yang kamu ceritakan? Apakah dia akan menanyakan background karir, status pernikahan, pendidikan, dan lainnya yang terlibat dalam cerita yang kamu konsultasikan?

Netral disini juga termasuk dalam artian tidak menilai negatif/ judging negatif mengenai apapun yang anda alami.

Misalnya, dia tetap akan netral apabila kamu membuka orientasi sexualmu; entah straight, gay, ataupun bi. Dia juga akan tetap netral apapun situasi rumah tanggamu; dan tentu tetap netral apapun karirmu.

Menghargai Bacaan Orang Lain

Gw seringkali menemukan berbagai klien yang sudah berkonsultasi dengan tarot reader lain sebelum berkonsultasi dengan gw sendiri.

Menurut gw, sepanjang tidak melenceng jauh banget, ada baiknya juga seorang tarot reader tidak mendiskreditkan / menjelekkan bacaan tarot reader sebelumnya. Lucunya, justru ketika gw berusaha mencari benang merah dengan bacaan sebelumnya, malah gw semakin dihargai oleh klien tersebut.

Lihat Media Sosialnya

Cara lain yang cukup sederhana sebelum memutuskan konsultasi ke tarot reader tersebut adalah dengan mengamati media sosialnya. Apa saja yang dia post? Apakah postnya sering mengeluh meminta simpati ataupun menjatuhkan karya/ pribadi orang lain? Kalau iya, lebih baik lihat yang lain deh.

Bagian ini menjadi sangat penting karena gw sendiri sering menemukan tarot reader yang ngepost cerita detail klien tanpa ijin dari klien tersebut, meskipun nama disamarkan dengan inisial. Bahkan ada tarot reader yang menjadikan cerita klien sebagai bahan gosip ke sesama reader.

Berpengetahuan Luas, Tutur Sederhana

Seorang tarot reader memang dituntut berpengetahuan / berwawasan luas; sehingga tarot reader yang bonafide akan selalu dengan sadar untuk terus belajar, lepas dari apapun caranya.

Tarot reader yang berwawasan luas, tidak puas hanya dengan status – status yang dia ‘buat sendiri’ seperti status orang ningrat lah, indigo lah, generasi kristal lah, generasi matahari hijau lah, dan masih banyak lagi. Mau status seheboh apapun, belajar menimba ilmu tetap menjadi prioritas selama menekuni tarot.

Setelah berpengetahuan luas, tentu semua tidak akan berarti kalo tidak bisa mengkomunikasikan pengetahuanmu ke klien bukan? Jadi, gunakan bahasa sesederhana mungkin ketika berkomunikasi sama klien agar mudah dimengerti. Gejala pamer berbagai jargon atau istilah – istilah ribet dalam sesi pembacaan tarot, mengutip pernyataan alm. Bob Sadino , itu tidak lebih daripada onani ilmu .

Konklusi?

Kalau uraian diatas bisa dipersingkat lagi, mungkin bisa direkap dalam 1 kalimat:

Tarot Reader Bonafide akan memperlakukan dan menghargai klien dengan hormat, empati, dan profesional.

– Rendy Fudoh –

Semoga bermanfaat. 🙂

Ramalan Percintaan Bulan Juni 2020

Video untuk sesi ramalan Tarot ” Pick-A-Card” atau “pilih kartu tarotmu” sudah ada di bulan Juni ini.

Dan untuk kali ini, gw membagi jadi 2 video, saran percintaan bagi yang single dan bagi yang sudah berpasangan ( pacaran / menikah )

Berikut saran percintaan untuk yang single.

Berikut saran percintaan untuk yang sudah berpasangan.

Caranya sederhana, cukup pilih 1 tumpukan dari 3 tumpukan yang ada. Dan itulah bacaan untukmu.

Semoga bermanfaat yah. 🙂