Blog Archives

General Career Reading, December 2018

Topik kedua, seputar karir secara umum, apapun bentuk karirnya. 🙂

Karir disini tidak melulu soal pekerjaan rutin kantor yang menghasilkan uang bulanan, melainkan bisa juga seputar aktifitas lainnya yang sesuai dengan passion anda.

Namun, apabila kebanyakan topik bacaan lebih berdasarkan zodiac, maka kali ini gw akan buat sedikit beda, lebih berdasarkan angka tahun kelahiran.

Caranya sederhana, jumlahkan hingga 1 digit tahun kelahiran anda.

Misalnya, tahun kelahiran 1990,

Maka 1 + 9 + 9 + 0 = 19  , 1 + 9 = 10 , 1 + 0 = 1

Maka angka yang anda dapatkan ya angka 1.

Sisanya tinggal cocokan saja angka yang tertera di gambar dibawah ini dengan bacaannya.

Happy reading. 🙂

General Love Reading, December 2018

Well…, akhirnya gw mencoba melakukan hal yang kebanyakan tarot reader lakukan. Memberikan pembacaan umum disetiap bulannya.

Topik pertama, seperti biasa, seputar topik cinta secara umum, berlaku untuk yang sudah punya pasangan maupun yang masih mencari. 🙂

Namun, apabila kebanyakan topik bacaan lebih berdasarkan zodiac, maka kali ini gw akan buat sedikit beda, lebih berdasarkan angka tahun kelahiran.

Caranya sederhana, jumlahkan hingga 1 digit tahun kelahiran anda.

Misalnya, tahun kelahiran 1990,

Maka 1 + 9 + 9 + 0 = 19  , 1 + 9 = 10 , 1 + 0 = 1

Maka angka yang anda dapatkan ya angka 1.

Sisanya tinggal cocokan saja angka yang tertera di gambar dibawah ini dengan bacaannya.

Happy reading. 🙂

Rich Uncle Paradox

Yang gua tulis ini adalah hasil pengamatan gua sendiri yang terjadi secara umum dan (mungkin) akan terkesan menggeneralisir. Namun gua berharap ini bisa menjadi referensi hidup yang bagus karena kemungkinan, sedikit sekali yang mau mengambil topik ini sebagai penelitiannya. Atau….mungkin sudah ada penelitiannya tapi belum sampe kasus rill seperti yang gua tulis.

Salah satu arti dari Paradox itu sendiri (dari google)
A situation, person, or thing that combines contradictory features or qualities.

=============

 

10-coins.jpgApakah pembaca pernah merasa iri sama teman sendiri? Jujur saja…, gua juga pernah iri sama teman sendiri. Dalam kasus ini, gua adakalanya iri sama klien gua (dan gua ucapin itu didepan dia untuk ‘memotivasi’ dirinya) yang secara rejeki, itu lebih ‘beruntung’ daripada gua sendiri.

In short, gua sering menemukan kasus dimana klien – klien gua sendiri secara keuangan itu disupport abis – abisan sama orang lain. Tidak cewek tidak cowok yah. Yang mengsupport biasanya saudaranya ataupun orang lain yang jauh lebih tua dari klien tersebut. Well…..om – om tajir atau tante berduit lah kasarannya.

The thing is, kata klien gua (semuanya), orang yang membantu mereka adalah orang yang sudah mapan di bisnis/ usaha masing – masing dan ingin membantu orang lain agar minimal klien tersebut bisa mandiri. Wujud bantuannya pun macam – macam namun bisa dikategorikan menjadi 2 bagian besar: bantuan materi (duit, barang, dll) dan pendidikan. Most case…, hampir 80% dari klien gua, bantuan yang didapat adalah materi.

Dan khusus bantuan materi ini yang menjadi sangat menarik. Karena disinilah kontradiktifnya atau paradoxnya.

 

‘Syarat’ Menerima Bantuan

Dari banyak cerita klien yang dibantu sama pemodal yang baik hati tersebut, syarat dari para pemodal tersebut (atau timbal baliknya) memang relatif mudah: bantu kerjaan dan urusan remeh temeh mereka. Di sejumlah kasus bahkan tidak perlu membantu / timbal balik sama sekali. Jadi bayangkan…, out of the blue, ada yang mau bantu anda senilai 20- 200 juta sebulan; dan itu semua either didapat dengan cuma – cuma ataupun timbal baliknya dengan membantu pekerjaan remeh temeh orang tersebut seperti mengatur administrasi, ngurusin ini itu soal pajak, bantu transferin uang ke keluarga dekat pemodal tersebut, nemenin ngobrol selama beberapa hari dan hal remeh lainnya.

Surprisingly juga, bantuan tersebut tidak melulu dibayar dengan ‘tidur bersama’. Justru sebagian besar kasus yang gua tangani, tidak melibatkan ‘tidur bersama’ sama sekali. Jadi bagi yang bermindset orang yg dibantu tersebut pasti bayar pakai badan, gua rasa pikir 1000x karena kenyataan dilapangan tidak seperti itu.

Point keduanya, ternyata klien – klien tersebut tampil dengan sosok – perlu dibantu – didepan pemodal tersebut. Bukan dalam artian harus berpakaian miskin atau bernada mengemis minta dikasihani; melainkan justru tampil cantik/ ganteng, terlihat mau bekerja keras, namun berada di situasi kurang beruntung. Misalnya: hanya tamatan SMA, kuliah sedang nunggak uang semesteran, atau bekerja di perkantoran dengan gaji yang relatif ngepas, atau keuangan keluarganya terlihat ngepas.

Dengan kejadian tersebut, idealnya, kita semua akan berpikir nih…, wah tu orang beruntung banget, pasti saat ini dia sudah sukses!

Kenyataannya, tidak seindah itu.

 

Hasil ‘Investasi’

Ada yang memang sukses dan berhasil, cuma kalo boleh diumpamakan, 1-2 dari 100 orang yang beneran bisa berhasil dan menjadi mandiri dengan bantuan dari pemodal tersebut.

Sisanya?

Either menjadi nyaman dengan bantuan yang sama berulang – ulang, bahkan jumlah bantuannya semakin meningkat, atau dilepas sama sekali oleh pemodalnya alias tidak dibantu lagi.

Yang menjadi nyaman, disebabkan karena orang tersebut sudah merasakan mendapat duit dalam jumlah besar tanpa harus bekerja keras. Dengan pikiran, “toh nanti dia akan membantu lagi”, justru semakin membuat orang itu ketergantungan dengan bantuan itu.

Tidak hanya dalam bentuk uang dan barang, namun juga apabila benar – benar dikasih semacam bisnis begitu aja untuk ditangani, kemungkinan besar bisnis tersebut akan gagal. Karena yang dibantu, selain tidak menguasai dasar – dasar bisnis dan bidang bisnis yang dijalankan tersebut, karena resiko bisnisnya tidak dirasakan secara langsung oleh yang dibantu, alhasil ya sebagian besar akan menjalankan bisnis tersebut dengan setengah hati dan cenderung santai.

Sementara itu, ada sebagian orang yang justru menyalahgunakan modal bantuan tersebut untuk senang – senang dan gaya hidup saja sehingga pemodal merasa tertipu. Point ini yang membuat pemodal merasa tidak perlu membantu orang tersebut.

Kesimpulan sementaranya, memang sebagian besar, yang dibantu langsung dan mudah, meskipun jumlah modalnya relatif besar, justru tidak mencetak seorang entrepreneur ataupun orang yang mandiri.

 

Mengapa bukan diri saya yang dibantu?

So…, dari cerita diatas, gua yakin banyak yang akan bertanya, “Kenapa bukan saya saja yang dibantu? Saya ini bekerja keras, karya nyata saya jelas – jelas kelihatan. Dan saya butuh modal lebih untuk ekspansi karya saya. Tapi…kenapa orang – orang itu tidak mau membantu orang seperti saya? Apa yang salah?”

Well…here’s the tricky part….

Loe … ya diri loe yang ngomong kayak kalimat diatas sebenernya tidak ada salah apa – apa.

Tapi…karena loe tau visi kedepannya, karena loe tahu langkah – langkah nya seperti apa, dan karena terbiasa untuk mencari solusi di tengah situasi yang kepepet sekalipun…., justru sebagai konsekuensinya, loe semua (termasuk gue) memancarkan aura mandiri.

Klise memang, tapi aura mandiri itu, atau apapun istilahnya yang terlihat di raut wajah kita, gerak – gerik kita, postur tubuh kita, dll, justru memberi ‘pesan’ ke para pemodal yang murah hati … atau si Rich Uncle itu kalau kita tidak butuh bantuan mereka. Kita memberi ‘pesan’ ke mereka kalau kita bisa mengurus diri kita sendiri meskipun aslinya kita sedang kepepet saat itu. Faktor ini, berlanjut ke point ke-2 yaitu…

Pemodal itu butuh rasa fulfillment ( kepuasan pribadi) kalau dia telah membantu orang yang kesusahan.

Kalau pake teorinya Maslow Hierarchy of Needs atau teori kebutuhan Maslow (silahkan googling) , orang – orang yang duitnya sudah tidak berseri itu, masih ada kebutuhan yang ingin dia penuhi. Kebutuhan tertingginya di teori hirarki tersebut adalah kebutuhan akan aktualisasi diri. Nah salah satu wujudnya adalah dalam bentuk kepuasan pribadi karena telah membantu orang tersebut.

Salah duanya, sebagai tambahan, bentuk lain memenuhi kebutuhan aktualisasi diri tersebut ya dengan menerima pujian (baik langsung maupun tidak langsung) atas keberhasil si pemodal yang sudah mencapai tahap tajir melintir.

That’s why, orang tajir yang suka banget dipuji, end up paling banyak kena tipu.

 

Konklusi?

Rich Uncle suka membantu orang – orang yang terlihat perlu dibantu untuk memenuhi kepuasan pribadi.

Sementara yang dibantu, seringkali menyia-nyiakan bantuannya, bahkan menjadi sangat bergantung dengan bantuan tersebut.

Yang beneran perlu bantuan, justru tidak dilirik oleh Rich Uncle tersebut karena – tidak terlihat – butuh bantuan, sehingga ‘dianggap’ tidak bisa memenuhi kebutuhan aktualisasi dirinya.

It happends most of the time.

And that’s why I called it, Rich Uncle Paradox.

Tarot Time for LightGivers – Tips Untuk Jomblo

Sederhananya, saya masuk sebagai salah satu narasumber untuk video LightGivers’s Tarot Time: Tips Untuk Jomblo.

Cleanse Your Deck

Well, seperti yang sudah saya beritahukan di post sebelumnya, kali ini saya akan membahas mengenai cara membersihkan deck. Mengapa sampai ada tarot reader yang melakukan pembersihan deck? Sederhananya, sebagian tarot reader menganut kalau pikiran tiap individu memancarkan energinya masing – masing sesuai dengan situasi indivitu tersebut saat itu. Nah, klien yang kita bacakan tentunya juga memancarkan energy melalui pikirannya. Kartu tarot yang kita gunakan tentunya merespon terhadap energy yang ada di klien itu sendiri dalam bentuk kartu – kartu yang keluar tersebut. Karena energy klien itu sendirilah, adakalanya 1-2 kartu yang sama suka keluar lebih dari 1 kali meskipun topic pertanyaannya berbeda.

Apabila kartu tarot sudah sering digunakan untuk membacakan klien, kartu tersebut akan menerima banyak energy dari pikiran klien (yang sebagian besar memang energy yang buruk, sesuai dengan masalah yang dibawa oleh sang klien bukan?) yang pada akhirnya membuat kartu tarot menjadi ‘dirasa’ kotor. Gejala – gejala yang dirasa kotor tersebut mulai terjadi apabila si tarot reader merasa decknya sudah tidak akurat lagi dalam membaca klien, si tarot reader merasa tidak menyatu dengan deck tarotnya, atau merasa tidak bisa focus, dan berbagai keluhan lainnya dari tarot reader sendiri.

 

Well,…mengenai keluhan dari berbagai tarot reader sendiri sebenarnya memiliki factor macam – macam mulai dari memang readernya sendiri sedang tidak stabil emosinya, lingkungan kurang mendukung, atau deck tarot yg ‘kotor’, tapi untuk kali ini, saya asumsikan murni deck tarot yang sudah kotor.

Kalau deck tarot sudah terasa kotor, bagaimana membersihkannya? Saya akan berikan berbagai metode yang digunakan oleh tarot reader secara umum dalam pembersihan deck. Tentu saja anda bisa memilih minimal 1 dari sekian banyak cara yang akan saya uraikan. Dan seperti biasa, kalau cara yang saya uraikan anda rasa cocok, gunakanlah; kalau merasa tidak cocok, ya skip dan lihat cara yang lain.

 

1. Mengurutkan kartu

Cara ini bisa dikatakan cara tersingkat dan termudah. Yaitu cukup mengurutkan kartu sesuai dengan urutan aslinya: Major Arcana (0 – 21), kemudian Minor Arcana (Ace sampai 10, kemudian King – Queen – Knight – Page) untuk tiap suit dengan urutan Wands – Cups – Swords – Pentacle

2. Visualisasi

Cara ini bisa digunakan bagi anda yang memang sudah terbiasa bermeditasi. Caranya bermacam – macam; namun yang biasa saya lakukan adalah menenangkan diri terlebih dahulu sampai seluruh badan saya rileks. Letakkan deck tarot didepan, kemudian visualisasikan cahaya putih dari langit turun menerpa deck tarot. Selanjutkan visualisasikan deck tarot yang tersiram cahaya putih tersebut mulai mengeluarkan asap – asap hitam yang mengsimbolkan berbagai ‘energi kotor’  dalam deck tersebut mulai menguap. Pertahankan visualisasi tersebut sampai deck tarot dirasa sudah bersih.

Selain itu, selama proses visualisasi, bisa juga ditambahkan dengan berbagai affirmasi berulang yang menunjukkan bahwa deck tarotnya sudah bersih seperti, “Dengan kekuatan alam, deck tarot saya menjadi bersih dan semakin bersih.” , atau bisa juga dengan affirmasi “Wahai Tuhan yang mahabaik, bersihkanlah deck tarot ini dengan kekuatanmu; biarkan alat ini kembali berfungsi untuk membantu dan menjadi berkat bagi orang lain.” , atau dengan affirmasi lain sesuai dengan selera anda.

3. Dijemur dibawah sinar matahari / bulan

Cara ini juga sederhana. Urutkan kartu tarot seperti point pertama, kemudian letakkan dibalik jendela (bagian dalam) dimana jendelanya bisa menerima sinar matahari atau sinar bulan. Untuk durasi diletakkan dibalik jendela, sesuai dengan keinginan anda. Dari hanya 1 jam sampai seharian penuh pun juga silahkan.

4. Diberi dupa/ diasapi dupa

Untuk cara ini, anda perlu membeli dupa cone atau dupa stick terlebih dahulu; alternatifnya, anda juga bisa memakai aromatherapy yang essence oil. Mengenai aroma yang dipilih, juga sesuai dengan selera anda. Hanya saja kalau anda masih bingung menentukan aroma pilihannya, aroma SAGE atau GRASS bisa dijadikan alternative karena SAGE atau GRASS termasuk aroma yang netral.

Caranya, cukup bakar dupa / aromatherapy anda, ambil deck tarot anda kemudian angka deck anda diatas dupa (supaya terkena asapnya), sambil mengucapkan affirmasi pembersihan seperti “Deck saya kembali menjadi bersih.” , atau “Berbagai energy negative sudah terbawa bersama asap yang melebur dengan alam.” , atau affirmasi lainnya. Setelah itu, cukup letakkan deck tersebut didekat dupa sampai dupanya habis terbakar (Kalau aromatherapy, cukup biarkan 15 menit kemudian dimatikan saja)

5. Meletakkan batu Kristal diatas deck

Untuk cara ini, anda bisa membeli kirstal clear quartz yang memang bersih batunya. Sederhananya, anda urutkan kartu di deck tarot tersebut, letakkan dibalik jendela, kemudian letakkan Kristal clear quartz diatas deck tersebut. Kristal clear quartz dipercaya bisa membersihkan energy negative suatu objek asalkan ditempelkan ke objek tersebut. Dalam kasus ini, objek yang dibersihkan tentu saja deck tarot itu sendiri.

6. Singing bowl

Untuk cara ini, ya anda perlu membeli singing bowl sebelumnya. Sederhana saja, letakkan deck tarot yang sudah diurutkan didalam singing bowl, dan ‘nyanyikan’ singing bowl tersebut sampai anda merasa decknya sudah bersih

 

Sekian dulu artikel saya mengnai pembersihan deck tarot. Semoga membantu untuk teman2 semua.

PS: masih banyak cara lain dalam pembersihan deck, namun yang saya bagikan disini adalah cara yang sering dilakukan oleh tarot reader umumnya.